Showing posts with label Washilah. Show all posts
Showing posts with label Washilah. Show all posts

20 August 2018

WASHILAH ATAU GHAYAH ?

Suatu hari para Kyai NU kumpul di sebuah pondok pesantren. Saat itu Gus Mus ingin menerangkan tentang awal mula kesalahan beragama.

Beliau melemparkan pertanyaan, "PPP, PDI dan Golkar itu Washilah atau Ghayah..?"

Para Kyai pun serempak menjawab dengan mantap, "Washilah (Jalan)..!"

Ada yg saking mantapnya, jadi malah setengah berteriak.

Gus Mus pun memberikan pujian, "Nilai 100 untuk bapak-bapak Kyai."

"NU, Muhammadiyah, dan semacamnya itu Washilah atau Ghayah ?" Gus Mus bertanya lagi.

Para Kyai kemudian menjawab pelan agak ragu-ragu, "Washilah...”

Beliau hanya tersenyum mendengar nada jawaban para Kyai yg mulai terasa berubah.

Gus Mus pun bertanya kembali, "Islam, Katolik, Hindu, dan semacamnya itu Washilah atau Ghayah (Tujuan)..?"

Seketika itu pula ruangan menjadi hening. Tidak ada Kyai yg menjawab. Gus Mus sampai mengulangi pertanyaannya tiga kali, para Kyai tersebut tetap hanya diam.

Ghayah itu artinya tujuan akhir. Washilah itu artinya sarana menuju.

Kemudian ada Kyai yg balik bertanya, “Kalau pendapat Gus Mus sendiri bagaimana..?”

Dengan mantap beliau menjawab, "Agama Islam adalah Washilah."

Para Kyai kemudian ribut sendiri, “Lho, bagaimana bisa agama Islam adalah Washilah..?!”

Sekali lagi, dengan mantap, Gus Mus menjawab, “Karena Ghayah-nya (tujuannya) adalah Allah."

Seketika itu pula, semua Kyai di ruangan tersebut kembali diam semua.

Gus Mus lantas membuat pengandaian (analogi). Kalau Anda ingin ke Jakarta memakai mobil, bus, atau kereta api, tidak akan sampai. Karena Jakarta sedang banjir, maka melalui jalan darat tidak mungkin bisa sampai. Hanya bisa sampai ke Jakarta melalui pesawat terbang. Meski satu-satunya sarana transportasi yg bisa menjangkau Jakarta, pesawat terbang ini tetaplah hanya Washilah (sarana menuju).

Maka dari itu, di berbagai kesempatan, Gus Mus menasehati Nahdliyyin untuk selalu menghormati umat beragama lain. Bagaimanapun juga, umat beragama lain pada dasarnya sama seperti umat Muslim, yaitu sedang berusaha menuju-Nya. Semua pilihan orang lain harus dihargai, seperti diri kita ingin dihargai memilih Washilah agama Islam.

Jadi, awal mula kesalahan beragama adalah menganggap agama Islam seperti partai politik. Ditambah salah menetapkan apa yg menjadi Washilah dan apa yang menjadi Ghayah dalam agama Islam.

Akhirnya, bisa tumbuh sikap berlebih-lebihan dalam beragama Islam, dan pada akhirnya menjadi sibuk “kampanye” atribut agama Islam yg disertai kebencian terhadap umat beragama lain. Sehingga justru lupa kepada tujuan pokok agama Islam. Mirip perilaku para anggota partai politik masa kini.


Semoga..
#ombad #tasawuf

09 August 2018

NABI AWALNYA SESAT...?!

Kata ngustat (212) Evie Effendi :

“Setiap orang itu sesat awalnya, dhallan fa hadza, Muhammad termasuk. Maka kalau ada yang muludan, apanya yang diperingati..?”

Kayaknya cuma lihat terjemahan doank.. :D

"Wa wajadaka dhoollan fa hadaa."

"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (QS. Ad-Dhuha : 7)

Maksudnya (menurut Tafsir) adalah :

"Ku-temukan engkau (Muhammad) dalam keadaan tidak punya pegangan syariat, maka kemudian kami beri petunjuk dengan diwahyukannya syariat kepadamu."

Pada Tafsir lain : "tidak/belum mengetahui keseluruhan al-Quran.."

"Tidak punya pegangan syariat" itu artinya BUKAN SESAT atau Kesesatan, bukannya ada syariat sebelumnya (Yahudi & Nasrani). Jadi maksudnya lebih ke "sepi dari syariat".

Jadi bukan bermakna "sesat" layaknya orang-orang macam kita, yg dulunya suka dugem, gank motor, nusuk orang, dipenjara 3 bulan, "belajar" shalat dan agama selama dipenjara, lalu "hijrah" dan kemudian jadi penceramah.

Dan ternyata modal ngebacot itu lebih enak, bisa disukai dan dihormati emak-emak, amplopnya tebal, tentu lebih nikmat daripada jadi gank motor.. :D
 
Apakah Muhammad waktu kecilnya itu Sesat...? Hadist ini mudah-mudahan bisa dipahami :

Rasulullah bersabda,

"Aku dari Allah dan orang-orang beriman berasal dariku."

Dan banyak hadist lain yg terkait kemuliaan Beliau SAW, apalagi hadist-hadist tentang "Haqiqatul Muhammadiyah" dan "Nur Muhammad".

Kalau melihat kasus ngustat seperti di atas, itu menjadi salah satu bukti bahwa betapa sangat pentingnya SANAD dalam keilmuan agama, sampai ilmunya betul-betul tersambung dan sampai ke Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa menguraikan al-Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa Benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan.” (HR. Ahmad)

Semoga...
#ombad

SANAD

Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa menguraikan al-Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa Benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan.” (HR. Ahmad)

Ibnul Mubarak ra. berkata :

SANAD merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena Sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yg mau dengan apa saja yg diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim ra. dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47)

Imam Syafi’i ra. mengatakan :

Tiada ilmu tanpa Sanad.

Imam Abu Yazid al-Bustami ra. (makna tafsir QS. al-Kahfi 60, dalam Tafsir Ruhul-Bayan juz 5) :

Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan.”

**

Dan seperti yg kita tahu, tipikal Syetan itu adalah Ujub, Riya & Takabur (Sombong), dan Sombong dalam hal ilmu adalah Merasa Paling Pintar dan Paling Benar sedunia dan akhirat.. :D

Semua dan hal apapun di luar dirinya pun dianggap salah, dan hanya dirinya saja yg pantas masuk surga, sendirian.. :D

Padahal ilmu itu sangat erat hubungannya dgn Instropeksi, karena agama itu untuk diri sendiri, dan hubungan yg sangat pribadi dengan Dia Yang Maha Sendiri..

Semoga...
#ombad #sanad

PEWARISAN ILMU

Ilmu yg diwariskan Nabi itu melalui dua cara, yaitu:

1. ILMUN FIL AURAQ, atau ilmu Syariah yg tertuang dalam tulisan (buku, kitab) yg diperoleh dengan cara membaca dan mengaji, at-Ta’allum wad Dirasah. Tanpa membaca, ilmu tidak akan diperoleh.

Jenis yg pertama ini bisa anda dapatkan lewat tulisan di kitab, buku, artikel, google, dsb. Dalam konteks tasawuf, ini biasa disebut sebagai "kulit" ilmu. Bisa dipakai untuk Dakwah, tetapi belum tentu Dakwah bil Hikmah. Jadi masih berpeluang menyebabkan adanya jebakan kesalahan pemikiran dan menimbulkan permusuhan.

2. ILMUN FIL ADZWAQ (ilmu rasa, Batin, Sirr, Mahabbah, dsb).

Jenis kedua ini yg dimaksud sebagai SANAD Keilmuan (dalam konteks ilmu lahir, Syariat) ataupun WASHILAH (dalam konteks ilmu batin, tasawuf). Keduanya (Sanad & Washilah) sama-sama ujungnya tersambung sampai ke Rasulullah SAW. Orang saleh yg memiliki keterkaitan spiritual dengan gurunya, gurunya dengan gurunya, terus bersambung kepada Rasulullah SAW. Hal ini biasa disebut sebagai As-Suluk as-Suhbah, persahabatan yg memberi dampak kepada perilaku lahir batin si murid. Dan keterhubungan jenis ilmu kedua ini lebih dikarenakan adanya "keterhubungan Ruh".

Seperti halnya Rumi yg menemukan potensi ruhaninya setelah mendapatkan bimbingan Syamsuddin Tabriz, ataupun cerita Bima dengan guru hakikatnya, Dewa Ruci.

Dalam konteks edukasi, mereka adalah Murabbi, sang pendidik, dan dalam konteks yg religius (batin, ruh), mereka adalah penunjuk atau Mursyid.

Dan mereka inilah yg dimaksud sebagai Pewaris Sempurna Para Nabi (Warasatul Anbiya), dan bukan sekedar ilmu lahir saja, yg dengan cara lain pun mudah didapat, seperti lewat baca buku/kitab ataupun google.
 
Rasulullah SAW bersabda, 

Ada ilmu yg seperti tiram (tersembunyi). Hanya orang-orang yg mengenal Allah yg mengetahuinya....”

Ilmun fil Adzwaq ini "tersimpan" dalam Sirr atau qalbu terdalam para ’Arifin yg merupakan titipan serta punya keterhubungan dengan Qalbu Rasulullah SAW, dan Rasul tidak memberikannya kepada orang awam, tetapi hanya diberikan kepada para sahabatnya yg terdekat, para "Ashabus Suffah", para penerusnya. Dan lewat barakah Sirr tersebut, Syariat pun bisa berdiri hingga hari kiamat.

Para Ulama Pewaris yg tulen ini akan berdakwah (mengajak beriman kepada Allah) dengan Dakwah dan Hikmah.

Rasulullah SAW bersabda,

Kamu sekalian harus mau bergabung dengan Ulama dan mendengarkan pembicaraan Ahli Hikmah. Allah menghidupkan Hati dengan cahaya Hikmah, seperti menghidupkan bumi dengan air hujan.”

Semoga....
#ombad #tasawuf

15 March 2018

SANAD DALAM TASAWUF

Sanad adalah mata rantai orang-orang yang membawa sebuah disiplin ilmu (Silsilah ar-Rijâl).

Mata rantai ini terus bersambung satu sama lainnya hingga kepada pembawa awal ilmu-ilmu itu sendiri; yaitu Rasulullah. Integritas sanad dengan ilmu-ilmu Islam tidak dapat terpisahkan. Sanad dengan ilmu-ilmu keislaman laksana paket yang merupakan satu kesatuan. Seluruh disiplin ilmu-ilmu Islam dipastikan memiliki sanad.

Dan Sanad inilah yang menjamin keberlangsungan dan kemurnian ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu Islam sesuai dengan yang dimaksud oleh pembuat syari’at itu sendiri; Allah dan Rasul-Nya.

Karena keberadaan sanad inilah, ajaran-ajaran yg dibawa Rasulullah SAW 'tetap kebal' dari berbagai usaha luar yang hendak merusaknya. Hal ini berbeda dengan ajaran-ajaran atau syari’at nabi-nabi sebelumnya.

Adanya berbagai perubahan pada ajaran-ajaran mereka, bahkan mungkin hingga terjadi pertentangan ajaran antara satu masa dengan masa lainnya sepeninggal Nabinya, karena tidak memiliki sanad.

Karena itu para ulama menyatakan bahwa sanad adalah salah satu “keistimewaan” yang dikaruniakan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW, di mana hal tersebut tidak dikaruniakan oleh Allah terhadap umat-umat Nabi sebelumnya. Dengan jaminan sanad ini pula kelak kemurnian ajaran-ajaran Rasulullah akan terus berlangsung hingga datang hari kiamat.

Tentang pentingnya sanad, Imam Ibn Sirin, seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in, berkata:

Sesungguhnya ilmu -agama- ini adalah agama, maka lihatkan oleh kalian dari manakah kalian mengambil agama kalian.”  (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam mukadimah kitab Shahîh-nya).

Imam ‘Abdullah ibn al-Mubarak berkata:

Sanad adalah bagian dari agama, jika bukan karena sanad maka setiap orang benar-benar akan berkata --tentang urusan agama-- terhadap apapun yang ia inginkan.”

Tasawuf tidak berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, ia memiliki sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Dengan demikian, pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa tasawuf adalah sesuatu yang baru, bid’ah sesat, atau ajaran yang tidak pernah dibawa oleh Rasulullah, adalah pendapat yang tidak memiliki dasar sama sekali.

Adanya sanad dapat mempertanggung-jawabkan kebenaran tasawuf ini. Dan keberadaan sanad ini sekaligus sebagai bantahan terhadap pembenci tasawuf, bahwa kebencian mereka tidak lain adalah karena didasarkan kepada hawa nafsu dan karena mereka sendiri tidak memiliki sanad dalam keilmuan dan dalam cara beragama mereka.

Itulah kenapa Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa,

Menemukan Guru Mursyid, itu sulit, dan lebih mudah menemukan sebatang jarum yang disembunyikan di padang pasir yang gelap gulita.”

Mursyid sendiri berasal dari kata “Irsyad” yang artinya petunjuk. Petunjuk yang bersumber dari nur Ilahi. Jika kata “Irsyad” ditambahkan “mim” di depannya maka petunjuk tersebut terdapat pada sesuatu (dimikili oleh sesuatu). Maka “mim” harus diartikan sebagai seseorang yang memegang kualitas irsyad.

Dalam QS. Al-Kahfi ayat 17, ada kata "Waliyyam Mursyidayg secara umum diterjemahkan sebagai “pemimpin”, padahal itu adalah "Wali Mursyid".. karena "petunjuk" jalan lahir maupun batin itu hanya bisa didapat dari hamba-hamba Allah yg sudah mendapat petunjuk melalui "Nur Allah".

Dan Mursyid itu hakikatnya adalah Nur Allah, maka seseorang jika disebut Guru Mursyid, maka ia itu benar-benar mempunyai kualitas sempurna sebagai pembawa washilah (sanad) yg terhubung dari Allah dan Rasulullah SAW, dan bukan sekedar gelar saja.

Ket..
SANAD kalau dalam Tarekat itu adalah Washilah.

Semoga...
#ombad #tasawuf #sanad #mursyid