Showing posts with label Ibn Athaillah. Show all posts
Showing posts with label Ibn Athaillah. Show all posts

13 June 2019

KOSONG

Mau jadi gelas, teko, bak, kolam, danau atau laut..? Itu semua tergantung Keluasan Hati/Qalbunya. Dan Keluasannya ini sangat bergantung dari "Kekosongan" nya.

"Kosong" yang dimaksud ini seperti firman Allah SWT kepada Nabi Daud as.:

"Wahai, Daud. Kosongkan untuk-Ku sebuah rumah, agar Aku dapat tinggal di dalamnya."

Karena Nabi Daud as. belum memahami perintah ini, maka Daud as. pun bertanya kepada Allah : "Bagaimana caranya, wahai Tuhanku..?"

Allah SWT menjawab : "Kosongkan hatimu hanya untuk-Ku."

Jika bisa "kosong" maka bisa menampung "ketidak-terbatasan", infinity. seperti yang disebutkan dalam sebuah Hadist Qudsi :

"Tiada yang sanggup menampung-Ku, baik di bumi maupun di langit-Ku. Hanya hati hamba-Ku yang Mukmin yang dapat menampung-Ku."

Dalam konteks tasawuf, ketika bisa memasuki "kosong" maka bisa dikatakan seorang salik sedang memasuki alam makrifat, dan selanjutnya dianugrahi "ketidak-terbatasan" pandangan karena hatinya sudah memiliki "keluasan" yang tidak berbatas. Ini seringkali dianalogikan dengan "laut".

Syeikh Ibrahim bin Adham ra. berkata:

"Qalbu orang-orang yang sudah Makrifat kepada Allah Ta'ala mempunyai banyak mata, sehingga dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh yang lain. Pada qalbu mereka ada beberapa sayap sehingga dapat terbang menghadap ke Hadrat Rabbul 'Alamin dan menikmati keindahan dan kenikmatan surga serta dapat meminum air samudera Hikmah." 

Dan seperti itulah makrifat, dan ujungnya akan terkait dengan ilmu, dan "keluasan" ilmu ini tergantung dari "wadah" nya, apakah wadahnya ini luas atau tidak. Dan "wadah" ini adalah Qalbu.

Qalbu yang setiap saat bisa "meminum" air samudera Hikmah karena berada di dalam Samudera hikmah. Qalbu yang setiap saat tersinari cahaya Tuhannya karena selalu terhubung kepada Tuhannya. Tuhan Pemilik Cahaya, Cahaya di atas Cahaya (Nuurun 'alaa Nuur) yang memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang dikehendaki dan dipilih-Nya.

Rasulullah SAW bersabda,

"Ketahuilah, bahwa ilmu adalah cahaya (Nuur)."

"Kosongkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, maka Allah akan memenuhinya dengan Makrifat dan Rahasia." (Ibn Athaillah ra., Al-Hikam)


Semoga..
#ombad #tasawuf

**

۞ اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ  اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ  اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ  نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ 

"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

(QS. An-Nur, 24 : 35)

10 June 2019

KACAMATA HATI

Kekotoran (dalam diri) akan cenderung untuk menghakimi betapa kotornya orang lain, betapa salahnya mereka dibanding dirinya, betapa munafiknya orang lain. Dorongan ini muncul karena cermin hatinya kotor, dan ujungnya pikirannya pun kotor.

Artinya, ketika memandang sesuatu yang belum diketahui, kecenderungan "sikap" diri terhadap pandangan tersebut bisa dijadikan tolak ukur dalam memperbaiki diri.

Jika dalam melihat sesuatu yang belum diketahui itu cenderung negatif, biasanya kandungan negatif dalam diri kita lebih banyak, dan begitu pun sebaliknya jika cenderung positif, maka kandungan positifnya mungkin lebih banyak.

Itu makanya seseorang yg dikasih hidayah untuk bertaubat akan selalu "menggali" dirinya sendiri. Misal, ketika melihat orang lain ada "kesalahan" maka kesadarannya akan selalu mencerminkan ke dirinya sendiri, apakah si diri ini punya "kesalahan" seperti yang terlihat tersebut.

Ketika sudah bisa berproses seperti ini maka akan sulit untuk bisa menghakimi orang lain, apalagi terkait keimanan dan ketakwaan, karena kesadarannya sendiri sering memberitahu bahwa dirinya masih penuh dosa, atau dengan kata lain belum beriman dan bertakwa.

Jadi segala sesuatu yang terlihat di luar diri itu akan menjadi pengingat untuk selalu berintrospeksi.

Rasulullah SAW bersabda:

”أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ“

Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, yang jika ia baik maka baiklah seluruh anggota tubuhnya, dan jika ia buruk, maka buruklah seluruh anggota tubuhnya, ia adalah qalbu/hati.” (Muttafaq alaihi)

Ibn Athaillah ra. dalam al-Hikam mengibaratkan hati itu bagaikan cermin.

كيف يشرف قلب، صور الأكوان منطبقة في مرآته

أم كيف يرحل إلى الله وهو مكبل بشهواته

أم كيف يطمع أن يدخل حضرة الله وهو لم يتطهر من جنابة غفلانهه

"Bagaimana bisa hati dapat bersinar, sedangkan gambaran-gambaran duniawi masih menutupi cermin hati..?
Atau bagaimana bisa hati dapat mengadakan perjalanan menuju Allah, sedangkan hati terikat oleh nafsu syahwatnya..?
Atau bagaimana bisa hati berharap dapat memasuki hadirat Allah sedangkan hati tidak dibersihkan dari kelalaian..?"

Jika Tuhan ingin menunjukkan kepedulian-Nya kepada seorang hamba, maka Dia akan Menyibukkan hati dan pikirannya dengan rahasia-rahasia ketuhanan, dan melepaskan dia dari ikatan-ikatan obyek material yang gelap. Sebaliknya, jika Tuhan ingin Merendahkan derajat seorang hamba, maka Dia akan Menyibukkan hati dan pikirannya dengan obyek-obyek material yang gelap itu hingga akhirnya hati dan pikirannya gelap.” (Ibn Ajibah ra.)


Semoga..
#ombad #tasawuf

17 May 2019

SAKIT HATI YES, SAKIT JIWA NO

Melawan Pemerintah yg sah itu termasuk BUGHOT dan itu BUKAN JIHAD. Bughot itu sangat dilarang dalam Islam, haramnya juga Haram Mugholladhoh.. 😛

Alasan Jihad pun harus jelas, dimana fatwanya itu tidak sembarangan, harus dari seorang Mujtahid, karena Jihad itu harus fi sabilillah (lurus dalam "jalan" Allah) dan tidak tercampur hawa nafsu yg paling samar sekalipun. Dan yg mewakili Allah itu adalah para Rasul-Nya yg sudah jelas ma'sum dan dijamin surga, serta juga para Ulama yg sudah jelas Ulama Warosatul Anbiya, bukan yg ulama-ulamaan.

Lha ini.. ngapain juga mengatas-namakan Jihad untuk bela orang yg gak jelas (gak dijamin) masuk surga..? Mendukung kok sampai sedemikian fanatiknya, bukankah 'Ashobiyah (ta'ashub) itu dilarang dalam agama..?

Ini tentang 'Ashobiyah :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10202400194871103&id=1380159371

Belajar agama di mana sih.. udah tua kok masih mau dibutakan urusan politik..? Sikap fanatik seperti itu bisa merugikan diri sendiri lho.. banyak contohnya yg sudah kena kasus hukum, ujaran kebencian, kena UU ITE.. itu kan namanya mendzalimi diri sendiri.

Mendingan belajar ke Luna Maya aja deh. Luna, meskipun selama 5 tahun yakin akan jadi istri Reino, tapi ketika KUA mengumumkan secara resmi bahwa Reino berpasangan dengan Syahrini, Luna tidak pernah menuduh KUA curang. Luna juga tidak pernah berniat mendemo KUA, bahkan tidak mau menggalang teman-temannya melakukan People Power untuk menjatuhkan pasangan Reino - Syahrini. Kalah itu memang menyakitkan, tapi Luna legowo, dan mungkin itu yang terbaik bagi Luna Maya.

Bolehlah kalau mau mendukung sepenuh hati, setidaknya jika jagoannya kalah paling banter juga Sakit Hati, tetapi janganlah sampai mendukung sepenuh jiwa, soalnya nanti kalau jagoannya kalah bisa jadi Sakit Jiwa..!

Tapi yg lebih baik itu,

"Cintailah sekedarnya dan Bencilah sekedarnya. Sungguh ada orang-orang yang berlebihan mencintai orang lain, sehingga mereka menjadi hancur. Dan ada orang yang berlebihan membenci orang lain, dan merekapun akan hancur. Engkau jangan berlebihan dalam cinta juga dalam kebencian." (Ibn Atha'illah ra.)

Rasulullah SAW bersabda,

"Cintailah yang kamu cintai sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi yang kamu cintai." (HR. Tirmidzi)

😛

Semoga..
#ombad #lunamaya

25 May 2018

PINTU HINA DINA & RASA BUTUH

Aku mendatangi semua pintu Allah Azza wa-Jalla, dan yang kudapati penuh sesak, namun ketika aku datangi 'Pintu Hina Dina dan Rasa Butuh', rasanya begitu sunyi. Ketika aku masuki melalui pintu tersebut, tiba-tiba aku sudah berada di paling depan mendahului kaum sufi dan aku tinggalkan mereka yang berdesak-desak memasuki pintu-pintu-Nya yang lain.” (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs)

Dalil di atas merupakan "sindiran halus" bagi yg suka "membanggakan amal" dan "mengklaim amal".

Ketika kita beramal ibadah seperti shalat, puasa, dzikir, dsb, tanpa disadari sering muncul pengakuan (klaim) sehubungan dengan amal ibadahnya, dan hal ini bisa merusak pahala, karena bisa dikategorikan Riya' (riya' khafi?). Hal ini akan mendistorsi ubudiyahnya (rasa penghambaannya ke Allah) karena merasa amalnya itu atas usaha sendiri. Inilah pemaknaan dari Pintu HINA DINA.

Sedangkan tentang Pintu BUTUH, Ibnu Athaillah (dalam al-Hikam) sering menyebutnya FAAQOH, kebutuhan yang sangat mendesak. Ini merupakan sifat substansial hamba. Sering terjadi ketika melihat diri sedang serba salah dan serba gagal. Dan dari Rasa Butuh yang mendesak ini membuat si hamba "terputus" dari yang lain, dan mengembalikannya hanya kepada Allah.

Ibnu Athaillah berkata,

Datangnya kebutuhan yang mendesak, merupakan pesta raya para penempuh jalan.”

Kenapa disebut sebagai "pesta raya" ? Karena ia menikmati buah dari Musyahadah kepada-Nya.

Ada kisah, seseorang datang menjumpai salah seorang Syeikh, dan ketika melihat Syeikh menangis, dia bertanya, “Mengapa anda menangis..?”

Syeikh menjawab, “Aku lapar.”

Dia mencela, “Seorang seperti anda ini menangis karena lapar..?!”

Syeikh balas menjawab, “Diamlah. Engkau tidak mengetahui bahwa tujuan-Nya menjadikan aku lapar adalah agar aku menangis.”

Makna kisah di atas, bahwa Allah SWT itu sangat mencintai hamba-Nya yg selalu menjerit atau "menangis" kepada-Nya.

Perlu diingat, "lapar" yg dimaksud di sini bukan dalam arti menyiksa diri.. tapi berhubungan dengan "rasa butuh". Jadi menjeritlah kepada Allah SWT jika sedang butuh, dengan perasaan "miskin" ataupun "faqir".

Dan Puasa Ramadhan merupakan salah satu "metode" untuk menggapai kualitas "faqir" di hadapan Allah dengan "rasa butuh".


Semoga...
#ombad #ramadhan #09

23 May 2018

WAJIBNYA BEKERJA & BERUSAHA

Dalam Hikamnya Ibn 'Athaillah :

"Kehendakmu agar BERTAJRID (meninggalkan urusan duniawi, sebab semata² hendak beribadah) padahal Allah sudah menempatkan dirimu sebagai golongan ASBAB (orang-orang yg harus berusaha untuk mendapatkan kehidupan dunia sehari-hari), maka keinginan seperti itu termasuk Syahwat yg samar."

Sy tidak akan membahas yg sudah di maqam Tajrid... krn itu mah bagi orang² yg sudah Fana'.

Berdiam diri itu perbuatan yg tidak baik, sebuah bentuk kemalasan, walau alasannya bisa setinggi langit ataupun pakai bahasa-bahasa langit. Selalu yg dijadikan alasan adalah Sabar tetapi tanpa sadar suka lupa, apa itu makna Tawakal. Atau alasan Takdir, tapi suka lupa urusan usaha (nasib). Merasa sudah di maqam Tajrid, padahal masih masih di maqam Asbab.

Masa tidak malu dan tidak mau mencontoh Seekor Burung? Pagi-pagi sudah terbang utk mencari makan walau tanpa kepastian apakah berhasil atau tidak. Setidak-tidaknya 'terbang' dulu lah, pergi dan keluar dari rumah, jangan sampai karena melihat kita diam terus di rumah, anak istri jadi khawatir dan susah, baik lahir maupun batinnya. Dan kalau ekonomi jadi memburuk, jangan salahkan istri yaa kalo sampai marah dan cemberut (atas dan bawahnya).

"Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung." (QS. Al-Jum’ah : 10)

Watak Mukmin itu, tidak meninggalkan dunia karena akhirat, dan jg tidak meninggalkan akhirat karena dunia. Jadi ada hubungan yg positif antara aspek Dunia dan Akhirat, saling menunjang. Dan Zuhud itu aspek batin, keterikatan batin thd duniawi, bukan lahiriah. Suatu Keseimbangan yg Harmoni.

Coba renungkan ayat di bawah ini,

Dan kami jadikan malam sebagai pakaian (penutup). Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. an-Naba : 10-11)

Jadi kalau mau Tajrid-tajridan mah di malam hari aja, kalo siang hari mah Asbab-asbaban aja yaa...

Bekerja & berusaha..!
Gak usah lebay... :D

Semoga...
#ombad #ramadhan #07

19 April 2018

DOA ITU TAWAJUH

Bagi para Wali dan Ahli Makrifat, Doa itu merupakan bentuk manifestasi dari kehambaan mereka dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan. Dan ini berbeda dengan kebanyakan orang bahwa doa itu merupakan sebab atas pemberian-Nya. Kalau perlu Allah pun harus seperti "pembantu ke majikannya".

لا يكن طلبك تسبباً إلى العطاء منه فيقل فهمك عنه .وليكن طلبك لإظهار العبودية وقياماً بحقوق الربوبية

Jangan maknai permintaanmu sebagai sebab atas pemberian Allah yang itu menunjukkan kekurang-pengertianmu terhadap-Nya. Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah pernyataan kehambaan dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan.” (Syeikh Ibn 'Athaillah, Hikam)

Artinya, Doa itu sebagai bentuk penghambaan dan "pernyataan" bahwa diri itu hina, lemah, tak kuasa dan dhaif. Kenapa..? Karena sifat ketuhanan itu berhubungan dengan kehinaan, kerendahan, ketundukan dan kefakiran para hamba-Nya.

Itu makanya Rasulullah SAW bersabda,

"Sebaik-baik do'a adalah Istighfar --memohon ampunan--." (HR. Hakim)

Penjelasan Hadist di atas ( lihat : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10207583537451428&id=1380159371 )

Dimana ber-Istighfar itu merupakan :

1. Pengakuan eksistensi kehambaan dihadapan Allah SWT, karena hakikat hamba itu tanpa daya dan tanpa kekuatan dari terjaminnya niat, ucapan dan tindakan yg salah dan lalai.

2. Bentuk eliminasi/pemupusan ke-ego-an hamba. Bukankah apapun prestasi yg sudah dicapai, ujungnya mah karena Anugrah dan Rahmat-Nya.

3. Pengakuan seorang hamba terhadap tajallinya Allah dalam (Asma') Keagungan-Nya. Suatu manifestasi dari Kemahaagungan-Nya sebagai al-Ghafar dan al-Ghafur.

4. Bentuk kefanaan seorang hamba, "sirna/lebur" dalam eksistensi Keagungan-Nya. Kefanaan dari sifat-sifat tercela, kesirnaan dosa-dosa, kehancuran nafsu-nafsu buruk.

5. Proses menuju Ketauhidan, karena pada akhirnya istighfarnya seseorang itu akan mengarah "murni ke Allah" dari segala hal selain-Nya yg memasuki jiwanya, walau awalnya berupa istighfar dari perbuatan dosa dan kelalaian (dari dzikir).

6. Perbuatan yg sangat dicintai Allah dan Rasulullah SAW. Istighfar akan menumbuhkan kerinduan kepada Allah. "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yg bertaubat dan orang-orang yg mensucikan diri." (QS. 2:222)

7. Secara hubungan sosial horizontal, akan membuahkan Kedamaian. Bukankah banyak istighfar yg memohonkan ampunan untuk sesama hamba Allah.

Jadi, segala bentuk Ibadah dan Amal Saleh termasuk Doa itu (dapat dipahami) sebagai bentuk TAWAJUH seorang hamba kepada-Nya.

"Hendaklah engkau jadikan pintamu itu lebih banyak berisi permintaan ampun, kesehatan kekal dalam urusan agama, dunia dan akhirat. Terimalah ini niscaya engkau tercukupi. Jangan engkau menimbang-nimbang Allah dan jangan pula berbesar diri, karena perbuatan itu merupakan perapuhan jiwamu." (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Fathur Rabbani)

Dan itulah kenapa, saat tidak diberi (dikabulkan) menjadi tidak bersyukur..


Semoga..
#ombad #tasawuf #hikam

04 February 2018

TENTANG MAHABBAH

"Yaa Allah, anugerahkanlah kami cinta-Mu,
Dan cinta kepada siapapun yg mencintai-Mu,
Dan amalan yg akan membimbing kami kepada cinta-Mu."
(Doa Rasulullah SAW)

Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yg secara harfiah berarti ‘mencintai secara mendalam’.  Mahabbah dapat pula berarti al-wadud  (yang sangat kasih atau penyayang).

"Mahabbah adalah merupakan hal (keadaan) jiwa yg mulia yg bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakkan) Allah SWT oleh hamba, selanjutnya yg dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yg dikasihi-Nya dan yg seorang hamba mencintai Allah SWT." (Al-Qusyairi ra)

Menurut Al-Qusyairi, mahabbah Allah kepada hamba merupakan nikmat khusus kepada siapa saja yg Allah kehendaki. Jika kehendak tersebut diperuntukkan secara umum untuk semua hamba-Nya, ini dinamakan Rahmat; jika Kehendak Allah ini berkaitan dengan adzab, maka disebut dengan murka (ghadlab).

Artinya Mahabbah itu merupakan Rahmat yg dilimpahkan Allah SWT secara khusus kepada hamba-Nya, merupakan kehendak-Nya, sebagaimana kasih sayang-Nya bagi hamba adalah kehendak pelimpahan nikmat-Nya.

Sedangkan Rahmat itu merupakan Kehendak-Nya dalam 'menyampaikan' pahala dan nikmat kepada si hamba. Sedangkan Mahabbah merupakan bentuk kehendak-Nya untuk mengkhususkan hamba-Nya, suatu kedekatan (qurbah) dan 'ihwal' (jamak dari Haal) keluhuran/kemuliaan ruhani.

Jadi, Mahabbah itu lebih khusus daripada Rahmat.

Abu Nasr as Sarraj at-Tusi seorang tokoh sufi terkenal membagi mahabbah kepada tiga tingkat :

1. Mahabbah ORANG BIASA, yaitu orang yg selalu mengingat Allah SWT dengan dzikir dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan-Nya serta senantiasa memuji-Nya.

2. Mahabbah orang SHIDDIQ (orang jujur, orang benar) yaitu orang yg mengenal Allah tentang kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya. Mahabbah orang siddiq ini dapat menghilangkan hijab, sehingga dia menjadi kasyaf, terbuka tabir yg memisahkan diri seseorang dari Allah SWT. Mahabbah tingkat kedua ini sanggup menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri, sebab hatinya penuh dgn rindu dan cinta kepada Allah.

3. Mahabbah orang ‘ARIF, yaitu cintanya orang yg telah penuh sempurna makrifatnya dengan Allah SWT. Mahabbah orang ‘Arif ini, yg dilihat dan dirasakannya bukan lagi cinta, tetapi diri yg dicintai. Pada akhirnya sifat-sifat yg dicintai masuk ke dalam diri yg mencintai. Cinta pada tingkat ketiga inilah yg menyebabkan mahabbah orang ‘Arif ini dapat berdialog dan menyatu dengan kehendak Allah SWT.

Menurut IbnAthaillah (dalam kitab Lathaif al-Minan), ada empat tingkatan Mahabbah :

1. Cinta untuk Allah; mengutamakan Allah ketimbang selain-Nya.

2. Cinta karena Allah; mencintai Wali Allah karena Allah.

3. Cinta dengan Allah; mencintai orang atau sesuatu tanpa hawa nafsu.

4. Cinta dari Allah; Dia menarikmu dari segala sesuatu sehingga hanya Dia yg kau cintai.

Awalnya adalah cinta untuk Allah dan akhirnya cinta dari Allah; MURID (yg menginginkan) menjadi MURAD (yg diinginkan).

Jadi, terjadinya (baca: dipilihnya) seorang untuk Mahabbah kepada Allah SWT itu merupakan Rahmat yg khusus agar hamba-Nya ini mulia lewat Sirr.

Rahasia Sirr sendiri adalah sesuatu yg tidak bisa terungkap oleh makhluk-Nya, kecuali oleh Allah Yang Haqq. Artinya hanya Allah yg berhak membuka rahasia Sirr hamba-Nya.

Itu makanya jika  sudah terbuka Sirr nya, maka hamba-Nya yg sudah dipilih-Nya ini bisa bermusyahadah kepada-Nya, karena Sirr merupakan tempat Musyahadah, sebagaimana Ruh yg merupakan tempat Mahabbah dan Qalbu yg merupakan tempat Ma’rifat.

Semoga...
#ombad #tasawuf #mahabbah

19 January 2018

MURSYID

"... Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang Wali Mursyid." (QS. al-Kahfi : 17)

"Barangsiapa yang tidak mempunyai Mursyid, maka Setanlah yang akan menjadi gurunya." (Imam Malik ra.)

"Jika seseorang berjalan tanpa Mursyid, dia akan tersesat. Dia akan menghabiskan umurnya tanpa mencapai apa yang diharapkan." (Ibnu Athaillah ra.)

Dalam Tasawuf, para Salik yg berjalan tanpa bimbingan ruhani dari Mursyid, tidak akan atau sulit untuk membedakan mana bisikan-bisikan lembut (Hawathif) yg datang dari Allah melalui malaikat, dan mana yg dari setan atau jin.
Artinya, tanpa Mursyid sulit untuk Sampai kepada Allah (Wushul).

Dalam kitab al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Ayyad, ditegaskan, -- dengan mengutip ungkapan Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily ra, -- bahwa syarat-syarat seorang Syeikh atau Mursyid yg layak (minimal) ada lima:

1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai.
5. Memiliki matahati yg tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.

Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:

1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan umat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhlak buruk tanpa peduli dengan perilakunya.

Syeikh Abu Madyan ra. menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah SWT, lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang Pendusta Ruhani :

1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan taat kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhluk.
4. Kontra terhadap Ahlullaah.
5. Tidak menghormati sesama umat Islam sebagaimana diperintahkan Allah SWT.

Mursyid itu :

1. Syaikh al-Iradah, yaitu tingkat tertinggi dalam thareqat yg iradahnya (kehendaknya) telah bercampur dan bergabung dengan hukum tuhan, sehingga dari Syaikh itu atau atas pengaruhnya orang yg meminta petunjuk menyerahkan jiwa dan raganya secara total.

2. Syaikh al-Iqtida’, yaitu guru yg tindak tanduknya sebaiknya ditiru oleh murid, demikian pula perkataan dan perbuatannya.

3. Syaikh at-Tabarruk, yaitu guru yg selalu dikunjungi oleh orang-orang yg meminta petunjuk, sehingga berkahnya melimpah kepada mereka.

4. Syaikh al-Intisab, yaitu guru yg atas campur-tangan dan sifat ke-bapak-annya, maka orang yg meminta petunjuknya akan beruntung, lantaran bergantung kepadanya. 

5. Syaikh at-Talqin, yaitu guru ruhani yg mengajar setiap individu anggota thariqat dengan berbagai do’a atau wirid yg selalu harus diulang-ulang.

6. Syaikh at-Tarbiyah, yaitu guru yg melaksanakan urusan-urusan para pemula dari pengamal thariqat.


علمناهذا مقيد بالكتاب والسنة فمن لم يقرأ القران ولم يكتب الحديث ولم يجالس العلماء لايقتدى به فى هذا لشأن


Ilmu kita ini (tarekat) terikat oleh al-Qur'an dan as-Sunnah. Siapa saja yang belum belajar al-Qur'an dan as-Sunnah dan tidak pula pernah duduk di depan para Ulama (untuk menuntut ilmu) orang tersebut tidak boleh diikuti di dalam tingkah laku tarekat ini.” (Syeikh Abu Qasim Junaidi ra.)


ومن شرائط الشيخ ان يكون عالما بالاوامر الشرعية عاملا بهاواقفا على اداب الطريقة سالكا فيهاكاملا فى عرفان الحقيقة وواصلا اليهاومحرصا عن جميع ذلك


Diantara syarat guru Tarekat adalah alim atas perintah-perintah Syara`, mengamalkannya, tegak di atas Adab-adab tarekat serta berjalan di dalamnya, sempurna pengetahuannya tentang Hakekat dan sampai pada hakekat itu serta IKHLAS dalam semua hal tsb." (Syeikh Hasyim Asy'ari ra.)

"Buruk sekali bagi orang yg belum belajar ilmu-ilmu. Belum mengetahui yg Maujud dan Ma'dum. Tidak pula mengerti hukum Islam. Tidak pula mengetahui seluruh hukum-hukum. Juga tidak tentang ketetapan, ilmu Ushuluddin dan Nahwu. Demikian pula tidak mengetahui ilmu al-Qur'an, Pidana dan Burhan. Dan tidak pula mendayakan ilmu Hal. Dan juga tidak mengerti tentang martabat para guru. Serta tidak mengetahui rahasia ilmu Nasakh dan Mansukh. Sungguh buruk sekali orang demikian itu apabila ia menduduki martabat para Syeikh." (Syeikh Ahmad at-Tajibi ra., kitab Mabaahisul Ashliyah)

Syeikh Hasyim Asy`ari mengatakan, betapa buruk gambaran seseorang yg mengaku menjadi guru tarekat, sementara belum mendalami semua ilmu sebagaimana tsb di atas. Beliau menyarankan kepada kita, jika belum menemukan guru seperti kriteria yg telah disebutkan pada syarat di atas, maka seseorang boleh mencukupkan diri dgn mendalami kitab Sullam Taufiq, Safinah, Bidayah dan lainnya.


Semoga...
#ombad #tasawuf #mursyid