Showing posts with label Sirrur Asrar. Show all posts
Showing posts with label Sirrur Asrar. Show all posts

13 May 2019

TINJAUAN PUASA SECARA UNSUR (ANASIR) TUBUH

Unsur dalam tubuh manusia secara garis besar ada 4 jenis, yaitu : Tanah (QS. 38:71), Air (QS. 25:54), Api (QS. 2:24), dan Angin (QS. 38:72).. dan kalau dalam tasawuf, keempat unsur ini bersumber dari Nur Muhammad.

Ketika tubuh kita berpuasa, artinya pasokan unsur Tanah --lewat makanan-- dan unsur Air --lewat minuman-- akan berkurang.

Secara keseimbangan, maka yang akan naik kadarnya adalah Api dan Angin. Itulah kenapa orang yang berpuasa (lapar dan haus) cepat naik emosinya karena unsur Api lebih dominan, dan sangat mudah "naik" ketika beribadah ataupun bermeditasi karena unsur Angin lebih dominan.

Ketika pengaruh unsur Tanah, Air dan Api ini bisa dikendalikan, maka selanjutnya akan merasakan dominasi pengaruh 'Angin'. Akan ada hubungannya dengan kemudahan dalam "proses" spiritual ketika beribadah karena dukungan unsur tubuh yg mendominasi. Tentu ini gak ada hubungan sama perokok yg rajin ngisep angin.. 😀

Hal ini mirip dengan para rahib Buddha yg hanya makan makanan vegetarian, untuk mengurangi unsur Api yg berasal dari daging, ataupun para ikhwan tarekat yg sedang melakukan khalwat dimana tidak disarankan makan yg berasal dari makanan berjiwa.

Inilah maksud "tersirat" dari ayat/dalil yg menyatakan bahwa bulan Ramadhan ini bulan Rahmat (atau dengan kata lain "Allah lebih dekat")..

**

Secara sekilas, masalah unsur (anasir) tubuh ini disinggung Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs. dalam kitqb Sirrul Asrar, Fasal 11 tentang Bahagia dan Celaka. Dalam bab ini dijelaskan esensi dari Hadist : “Orang yang akan bahagia telah ditetapkan kebahagiaannya dalam perut ibunya. Begitu pun yang celaka telah ditentukan celakanya dalam perut ibunya.”

Maksud dari kata “ibu” di Hadits di atas adalah berkumpulnya empat unsur (Tanah, Air, Api dan Angin) yg merupakan "sumber" kekuatan kemanusiaan, dan bisa menimbulkan Kebahagiaan ataupun Penderitaan (menghancurkan, mematikan).

Berbeda dengan Malaikat yg terbentuk hanya dari unsur cahaya ataupun Jin (Iblis) yg hanya dari unsur Api, Manusia itu terbentuk dari sesuatu yg berlawanan, paradoksial, maka manusia harus bisa mengendalikan serta menyeimbangkan segala sesuatu yg berlawanan dalam tubuhnya. Ibadah puasa adalah salah satu solusinya.

**

Penelitian modern menunjukkan bahwa :

Puasa mampu memicu regenerasi sistem sel dan sistem kekebalan tubuh yg rusak. Hal ini terjadi karena lewat puasa itu bisa "menyeimbangkan" kembali unsur-unsur pembentuk tubuhnya, sebutlah "me-reset" untuk kembali ke posisi "awal".

Inilah kenapa di QS. 2:184-185 diperintahkan bagi orang yg sakit mengganti Puasanya sejumlah hari yg ditinggalkannya (baik untuk pria maupun wanita). Hal ini berbeda dengan ibadah Shalat dimana para wanita yg mens tidak perlu mengganti shalat yg tidak dilakukannya ketika mens.

Dan bisa sy katakan, penelitian di atas merupakan bukti bahwa adanya Fase Rahmat dalam Puasa (Ramadhan), dimana salah satunya adalah rahmat (kasih sayang) Allah agar hamba-Nya bisa sehat dan seimbang kondisi tubuhnya.

Semoga..
#ombad 08 #ramadhan 1440 H.

10 May 2019

PUASA SECARA HOLISTIK 2

Puasa secara Syariat adalah menahan diri dari makanan, minuman, dan bersetubuh di waktu siang. Puasa seperti ini menyehatkan fisik.

Puasa secara Batiniah (Thariqah) adalah menahan seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan yg diharamkan dan dilarang, juga menjauhi sifat-sifat tercela, seperti ujub, riya', takabur, dsb, baik secara lahir maupun batin, baik siang maupun malam. Bila melakukan hal-hal tersebut tadi, maka batallah puasa batinnya. Puasa seperti ini untuk membersihkan penyakit hati, pengendalian hawa nafsu, serta peningkatan kesehatan mental dan spiritual.

Puasa secara Syariat mempunyai waktu tertentu, sedangkan puasa secara Thariqah itu selama hidup.

Rasulullah SAW bersabda:

Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. an-Nasa’i, Ibn Majah)

Banyak yang berpuasa, tetapi berbuka. Banyak yang berbuka, tetapi berpuasa.”

"Banyak yg berbuka tapi berpuasa" yaitu orang yg perutnya tidak berpuasa, tetapi ia menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan terlarang, serta selalu mengolah kalbunya.

Puasa secara Hakikat adalah menjaga hati dari selain Allah dan menjaga rasa agar tidak mencintai selain Allah.

Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya.” (Hadist Qudsi)

Sirr itu dari Nur Allah, maka orang yang di tingkat ini tidak akan cenderung kepada selain Allah. Tidak ada yang dicintai, diingini, dan dicari selain Allah di dunia maupun di akhirat. Bila hati terjatuh pada mencintai selain Allah, maka batallah Puasa Hakikatnya dan ia harus melakukan qadha dengan kembali mencintai Allah dan menemuinya di dunia dan akhirat, sesuai firman Allah:

Puasa itu bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.”

Ketika seseorang mampu berpuasa dari segala sesuatu selain Allah serta mampu menahan diri untuk tidak bergantung kepada selain-Nya, maka di saat itulah orang tersebut akan memiliki kualitas ketauhidan yang lurus.

Pelaku puasa yg seperti ini, keimanan dan ketauhidan mereka tidak bercabang, tidak terkotori oleh apapun, hanya menuju Allah semata, Tauhid Ahadiyah. Orang-orang seperti inilah yg akan fasih mengetahui rahasia-rahasia keilahian serta rahasia dari segala ibadah yg dilakukannya.

Kosongkan perutmu! Merataplah seperti sebuah kecapi dan sampaikan keinginanmu kepada Tuhan. Kosongkan perutmu dan bicaralah tentang misteri-misteri bagai ilalang..” (Maulana Rumi)

**

Ket..

- Sirri = rasa (di qalbu terdalam)...
- Pandangan Sirri biasa disebut Bashirah.. esensi dari ayat : “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri karena memandang kepada Tuhan-Nya”. (QS. Al-Qiyamah : 22-23)


Semoga...
#ombad 05 #ramadhan 1440 H.

22 May 2018

PUASA SECARA HOLISTIK

Puasa secara Syariat adalah menahan diri dari makanan, minuman, dan bersetubuh di waktu siang.

Puasa secara Batiniah (Thariqah) adalah menahan seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan yg diharamkan dan dilarang, juga menjauhi sifat-sifat tercela, seperti ujub, riya', takabur, dsb, baik secara lahir maupun batin, baik siang maupun malam. Bila melakukan hal-hal tersebut tadi, maka batallah puasa batinnya.

Puasa secara Syariat mempunyai waktu tertentu, sedangkan puasa secara Thariqah itu selama hidup.

Rasulullah SAW bersabda:

Banyak orang yang berpuasa hasilnya hanyalah lapar dan dahaga.”

Banyak yang berpuasa, tetapi berbuka. Banyak yang berbuka, tetapi berpuasa.”

"Banyak yg berbuka tapi berpuasa" yaitu orang yg perutnya tidak berpuasa, tetapi ia menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan2 terlarang dan menyakiti orang lain.

Puasa secara Hakikat adalah menjaga hati dari selain Allah dan menjaga rasa agar tidak mencintai selain Allah.

Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya.” (Hadist Qudsi)

Sirr itu dari Nur Allah, maka orang yang di tingkat ini tidak akan cenderung kepada selain Allah. Tidak ada yang dicintai, diingini, dan dicari selain Allah di dunia maupun di akhirat.

Bila hati terjatuh pada mencintai selain Allah, maka batallah puasa hakikatnya dan ia harus melakukan qadha dengan kembali mencintai Allah dan menemuinya di dunia dan akhirat,

Sesuai firman Allah:

Puasa itu bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.”

Sumber :
Kitab Sirrul Asrar (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ra)

Semoga...
#ombad #ramadhan #06