Showing posts with label Puasa. Show all posts
Showing posts with label Puasa. Show all posts

30 April 2020

PUASA, SIFAT ALLAH

Dalam sebuah Hadist Qudsi, Rasulullah SAW bersabda, Allah Ta‘ala berfirman, 
 
“Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi imbalannya.” (HR. Muslim) 

Kenapa seperti itu..? 
Hakikat makhluk itu menuntut adanya makanan dan minuman. Sedangkan yang tidak makan dan tidak minum itu Tuhan. Artinya seseorang yang berpuasa itu secara tidak langsung sedang diajari salah satu sifat Allah, meski bukan bagian dari hakikat sifat makhluk-Nya. Makanya disebut "puasa itu milik-Ku". 
 
Jadi puasa itu merupakan sifat Samdaniyyah atau sifat khusus yang hanya menjadi milik Allah SWT (terkait pelepasan dan penyucian dari makanan/minuman). 
 
Seakan-akan Tuhan berkata kepada makhluk-Nya yang sedang berpuasa :
 
“Puasa adalah milik-Ku, bukan milikmu. Karena Akulah yang seharusnya tidak makan dan minum, bukan kamu. Dan jika kamu berpuasa seperti itu karena mentaati ketetapan perintah-Ku, maka Aku sendiri yang akan memberi imbalannya.” 

Semoga...
#ombad #tasawuf #ramadhan 

17 May 2019

PUASA UNTUK MUSYAHADAH

Jika dibandingkan antara Puasa dengan Shalat, maka Puasa itu untuk MUSYAHADAH dan Shalat itu untuk MUNAJAT.

Puasa menghasilkan MUSYAHADAH  (Syahada - Syahida, Penyaksian, bersaksi), pertemuan dengan Allah dengan penyaksian-Nya. Sedangkan Shalat itu MUNAJAT (merahasiakan, mendekati Allah dengan cara berdoa atau berdzikir) dan terdapat hijab/tabir yang menyertainya.

۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗ    اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ

"Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana." (QS. Asy-Syura: 51)

“Wujud Al-Haqq bersama kelenyapanmu (fana'). Salik yang mengalami Muhadharah terikat dengan ayat-ayat-Nya. Salik yang mencapai Mukasyafah dilapangkan dengan sifat-sifat-Nya. Dan salik yang memiliki Musyahadah ditemukan dengan Dzat-Nya. Salik yang Muhadharah akalnya menunjukkannya. Salik yang Mukasyafah ilmunya mendekatkannya. Dan salik yang Musyahadah ma’rifatnya menghapusnya.” (Syeikh Abu Qasim Junaid ra.)

"Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan Mujahadah niscaya Allah akan memperbaiki hatinya dengan Musyahadah." (Imam al-Qusyairi ra.)

Rasulullah SAW bersabda,

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya.”

- "Kebahagiaan saat berbuka" adalah kebahagiaan untuk jiwa hewaninya.

- "Kebahagiaan saat bertemu Tuhannya" adalah kebahagiaan untuk jiwa rasional (an-Nafs an-Natiqah), yaitu al-Latifah ar-Rabbaniyyah.

Allah adalah Dzat yang tak membutuhkan makan dan minum, dan orang yg berpuasa pun berusaha "mendekati" sifat Samdaniyyah (khusus) Allah yaitu tidak makan dan minum. Itulah kenapa pahala puasa langsung disandarkan kepada Allah. Dan tidak ada ibadah yg langsung disandarkan kepada Allah selain puasa.

“Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku Sendiri yang akan memberi imbalannya.” (HR. Muslim)

“Hendaklah kamu berpuasa, karena tidak ada yang serupa dengannya.” (HR. an-Nasa’i)


Semoga...
#ombad #tasawuf 12 #ramadhan 1440 H.

16 May 2019

KHADIJA, RAMADHAN, TAHUN KESEDIHAN

Pada bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Istri tercinta, Khadija rah. sakit menjelang ajal.

Khadija : “Aku memohon maaf kepadamu, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.”

Rasulullah : "Jauh dari itu ya Khadija, engkau telah mendukung dakwah Islam sepenuhnya.”

Kemudian Khadija memanggil Fatima Az-Zahra dan berbisik: “Fatima putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar ayahmu memberikan sorbannya yg biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.”

Mendengar itu Rasulullah SAW berkata:
“Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.”

Ummul Mukminin, Khadija pun menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan suami tercinta, Muhammad Rasulullah SAW. Didekapnya istrinya itu dengan perasaan pilu yg teramat sangat, tumpahlah air mata Rasulullah dan semua orang yg ada di situ.

Rasulullah berkata di dekat jasad istrinya :

"Wahai Khadija istriku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban..?”

Rasulullah semakin sedih mengenang istrinya semasa hidup. Seluruh kekayaan istrinya diserahkan kepadanya untuk perjuangan Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadija. Tetapi ketika Khadija hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yg bisa digunakan untuk menutupi jasadnya, bahkan pakaian yg digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yg sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Rasulullah kemudian berdoa,

“Ya Allah, Ya Ilahi Robbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijaku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam, mempercayaiku pada ketika orang lain menentangku, menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku,  menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijaku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku..?”

Mekkah, 11 Ramadhan tahun ke-10 kenabian.
Istri tercinta, Khadija wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Tahun itu pun disebut sebagai 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan) dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW.

**
 
Suatu hari..
Rasulullah pulang dari berdakwah. Khadija menyambut dan hendak berdiri di depan pintu tapi Rasulullah meminta agar istrinya tetap di tempatnya.

Saat itu Khadija sedang menyusui Fatima yg masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya sehingga ketika Fatima menyusu, bukan air susu yg keluar akan tetapi darah. Darahlah yg masuk dalam mulut Fatima.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatima dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yg lelah berdakwah, menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan istrinya dan tertidur.

Khadija pun membelai kepala suaminya penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadija menetes di pipi suaminya dan membuatnya terjaga.

“Wahai Khadija, mengapa engkau menangis..? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad..?” tanya Rasulullah dengan lembut.

"Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadija bersuamikan aku, Muhammad..?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan. Dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku adalah bangsawan,  kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai, namun engkau tidak memperoleh rakit ataupun jembatan maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam.." kata Khadija.

*
Rasulullah SAW bersabda,

"Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran, Fatima binti Muhammad SAW, Khadija binti Khawailid, dan Asiyah." (HR. Hakim - Muslim)

Allaahumma sholli wa sallim 'ala sayyidina Muhammmad wa 'ala aali sayyidina Muhammad.

Semoga..
#ombad #sejarah #khadija #wafat

FASE MAGHFIRAH

(10 Hari Kedua Ramadhan)

Rasulullah SAW bersabda:

"Awal bulan Ramadhan adalah Rahmat, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya Itqun Minan Naar (pembebasan dari api neraka)."

Fase 10 hari yg Kedua dalam bulan puasa nanti, adalah Fase Maghfirah (ampunan). Maghfirah (Ghafara, Yaghfiru, Maghfiratan), ghafara ini secara harfiah artinya Menutup, maka Maghfirah bisa diartikan sebagai ditutupnya dosa-dosa karena sudah diampuni Allah Ta'ala.

Dalam Tafsir al-Kabir nya Imam ar-Razi ra. disebutkan bahwa Maghfirah itu adalah tertutupinya dosa-dosa sehingga bisa terjaga dari siksaan, rasa malu dan kehinaan. Dan hal ini muncul setelah adanya pemberian Maaf dari Allah al-Afuw, sehingga tertutupi dari dosa dan akibatnya. Prosesnya sesuai dengan ayat,

وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ 

“Beri Maaflah kami; Ampunilah kami; dan Rahmatilah kami." (QS. 2:286)

Artinya, supaya selaras dengan fase Maghfirah, sebaiknya 10 hari pertama itu memperbanyak Istighfar dan berdzikir.

Dalam Tasawuf, ini berhubungan dengan tahap kedua yaitu Shafa (penyucian, esensi dari huruf Shad), tentunya diawali dulu dengan tahap yg pertama, yaitu tahap Taubat (esensi dari huruf Ta). Taubat dengan cara ber-istighfar terus menerus dan berdzikir, sehingga memudahkan untuk memasuki tahapan selanjutnya yaitu Shafa, yg berupa terbilasnya kotoran qalbu. Seperti halnya, tubuh berdaki dan berdebu yg sedang mandi dan membersihkan diri di dalam Samudera Maghfirah, yg dipenuhi jernih dan beningnya air Dzikir dan disabuni dengan harumnya sabun Istighfar.

Dan selanjutnya, mutiara-mutiara yg selalu bercahaya dan yg bersumber dari kedalaman Samudera pun siap menanti untuk menghiasi kebeningan qalbu.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq alaih)

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al-Bazzar)

Semoga.. 
#ombad 11 #ramadhan 1440 H.

15 May 2019

BELAJARLAH BERPUASA

Belajarlah berpuasa kepada Ular, yang berpuasa untuk memperbaharui tubuhnya, mengganti kulit yang sudah usang menjadi kulit yang terbarukan. #taubat #shafa

Belajarlah berpuasa kepada Ulat, yang berpuasa untuk transformasi tubuhnya, sehingga menjadi kupu-kupu yang indah, terbang dan melakukan penyerbukan. #kematian #khalwat

Muutu qabla an tamuutu.
"Matilah sebelum Mati." (Hadist)

Belajarlah berpuasa kepada Burung, yang berpuasa untuk mengerami telur-telurnya, sehingga bisa menetaskan telur jadi anak, menghasilkan pengganti dan generasi penerus dirinya. #kelahirankedua

“Manusia tidak akan mampu masuk ke malakutnya langit, kecuali telah dilahirkan dua kali seperti burung.” (Nabi 'Isa as.)

Belajarlah berpuasa seperti Pohon yang tetap Diam dalam Ketegaran, dalam teriknya siang dan dinginnya malam, dalam keringnya kemarau dan basahnya hujan. Seperti halnya Maryam yang tetap Diam dan Tegar saat membawa putranya Isa as. ke hadapan kaumnya yg mempertanyakan kelahirannya. #istiqamah

"Puasa merupakan perisai selama bohong --fitnah, hoax-- tidak merobeknya." ('Ali bin Abi Thalib kw.)

Dan berpuasalah seperti mereka, yang berpuasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, bukan sekedar pahala, tetapi melakukan perubahan yang lebih baik, bertransformasi baik ke dalam maupun ke luar diri, baik lahir maupun batin. #kebaikan


Semoga..
#ombad #tasawuf 10 #ramadhan 1440 H.

14 May 2019

PUASA, HIDANGAN DARI LANGIT


 
كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به 
 
Kullu ‘amali Ibni Adam lahu illash shiyaam, fainnahu lii wa anaa ajzii bihi.

"Semua amal manusia miliknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari - Muslim)

Ayat ini yg menyebabkan ibadah Puasa itu sangat istimewa. Kenapa?

Pertama, karena ibadah-ibadah lain rentan terhadap RIYA' (pamer).

Shalat, seringkali pelaksanaannya sulit mengelak dari nafsu Pamer, apakah itu ketika menenteng sajadah ke mesjid, dalam berpakaian atau sesudahnya dengan "melirik" dan "memeriksa" tetangganya yg gak ke mesjid. Dan kadang di hatipun sering tercetus, "shalat di mesjid donk".

Begitupun Zakat (dan infak, sedekah), kadang bisa tercetus dalam hati, "Gue kan kaya makanya ngasih".. Belum lagi kalau di belakangnya diomong-omongin, mirip iklan di TV.. 

Apalagi Umrah atau Naik Haji, ketika ditunjang kamera atau hp, "aku sedang umrah yang ke-empat", atau dibarengi budaya sisa feodalisme, bisa-bisa manyun ketika sudah naik haji tidak dipanggil Pak Haji atau Bu Haji oleh para tetangga, "Gimana sich, aku kan udah naik haji, mahal lagi, kamu mah belum".

Kedua, karena lewat puasa kita berusaha "mengosongkan" diri (baca : memperkecil hawa nafsu). Awalnya memang secara lahir dulu, dengan mengosongkan perut dan keinginan lahiriah, oleh karena itu dikatakan dalam Hadits,

"Orang yang puasa meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku." 

Selanjutnya berusaha semakin dalam lagi ke dalam diri, dengan berupaya supaya bisa mengosongkan hati dari berbagai hal yg tidak sejalan dengan keinginan-Nya.

Semakin baik kualitas puasa seseorang maka semakin baik kualitas pengosongan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Secara tersirat, ini disebutkan dalam Hadist :

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

"Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari - Muslim).

Artinya, puasa itu merupakan upaya untuk mendidik diri (melalui rasa lapar, haus dan meredam hawa nafsu), sampai "menyentuh" jiwa dan qalbu, sehingga diharapkan jiwa dan qalbunya mengalami proses "pengosongan" dari hawa nafsu, dan selanjutnya  pada saat yg bersamaan jiwa dan qalbunya pun merasakan dan menikmati santapan lezat ruhani dari-Nya.

Ada puisi dari Maulana Jalaludin Rumi ra. yg menjelaskan bahwa puasa Ramadhan itu bukan hanya untuk penyucian atau pengendalian diri saja, tetapi juga merupakan upaya untuk memberi peluang kepada jiwa mendapatkan hidangan dari langit yg lebih lezat daripada hidangan (makanan) yg berasal dari bumi.

"Bulan puasa telah tiba, larangan raja mulai berlaku.
Jauhkan tanganmu daripada makanan, hidangan ruhani telah disediakan.
Ruh telah bebas dari pengasingan dirinya dan menundukkan tangan tabiat jelek.
Hati yang sesat telah dikalahkan, dan prajurit iman telah sampai.
Bala tentara penidur telah menyerah dan segera ditawan,
Dari bara penyulut api jiwa tiba seraya meratap.
Lembu itu begitu molek, Musa bin Imran muncul;
Melaluinya si mati hidup semula apabila badannya telah melaksanakan upacara qurban;
Puasa ialah upacara qurban kita, yang menghidupi jiwa;
Mari kita qurbankan badan kita, karena jiwa tiba sebagai tamu;
Iman yang teguh ialah awan lembut, Kearifan ialah hujan yang tercurah darinya, karena pada bulan iman inilah al-Qur'an diwahyukan.
Apabila nafsu badani dikawal, ruh akan mi'raj ke langit;
Apabila pintu penjara dirubuhkan maka jiwa akan mencapai pelukan Kekasih.
Hati telah menukar tabir gelapnya dan menggerakkan sayapnya ke angkasa;
Hati, yang menyerupai malaikat, sekali lagi tiba di tengah mereka.
Tangkaplah tali pengikat tubuhnya, di atas perigi berteriaklah, “Yusuf dari Kan'an telah tiba!”
Pada waktu `Isa Almasih terjatuh dari keledainya maka doanya diterima Allah;
Cucilah tanganmu, karena Hidangan langit telah tiba;
Cucilah tangan dan mulutmu, jangan makan atau bercakap-cakap;
Carilah kata dan suapan nasi yang diturunkan untuk dia Si Diam..!"

Dan dalam Hilyat al-Abdaal, Syeikh Muhyidin Ibn 'Arabi ra. menjabarkan ciri hamba yg Puasanya benar adalah dengan semakin tumbuhnya sifat-sifat berikut:

- Rendah hati,
- Meningkat kepatuhannya,
- Sederhana,
- Lembut hati,
- Makin merasa fakir,
- Tidak ada bangga diri,
- Perilaku yg tenang,
- Bebas dari pikiran yg tidak pada tempatnya.

Mudah-mudahan kita bisa "menyantap" jamuan khusus ruhani dari-Nya selama Ramadhan ini.

Stay awake in the night, endure hunger.


Semoga..
#ombad #tasawuf 09 #ramadhan 1440 H.

13 May 2019

TINJAUAN PUASA SECARA UNSUR (ANASIR) TUBUH

Unsur dalam tubuh manusia secara garis besar ada 4 jenis, yaitu : Tanah (QS. 38:71), Air (QS. 25:54), Api (QS. 2:24), dan Angin (QS. 38:72).. dan kalau dalam tasawuf, keempat unsur ini bersumber dari Nur Muhammad.

Ketika tubuh kita berpuasa, artinya pasokan unsur Tanah --lewat makanan-- dan unsur Air --lewat minuman-- akan berkurang.

Secara keseimbangan, maka yang akan naik kadarnya adalah Api dan Angin. Itulah kenapa orang yang berpuasa (lapar dan haus) cepat naik emosinya karena unsur Api lebih dominan, dan sangat mudah "naik" ketika beribadah ataupun bermeditasi karena unsur Angin lebih dominan.

Ketika pengaruh unsur Tanah, Air dan Api ini bisa dikendalikan, maka selanjutnya akan merasakan dominasi pengaruh 'Angin'. Akan ada hubungannya dengan kemudahan dalam "proses" spiritual ketika beribadah karena dukungan unsur tubuh yg mendominasi. Tentu ini gak ada hubungan sama perokok yg rajin ngisep angin.. 😀

Hal ini mirip dengan para rahib Buddha yg hanya makan makanan vegetarian, untuk mengurangi unsur Api yg berasal dari daging, ataupun para ikhwan tarekat yg sedang melakukan khalwat dimana tidak disarankan makan yg berasal dari makanan berjiwa.

Inilah maksud "tersirat" dari ayat/dalil yg menyatakan bahwa bulan Ramadhan ini bulan Rahmat (atau dengan kata lain "Allah lebih dekat")..

**

Secara sekilas, masalah unsur (anasir) tubuh ini disinggung Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs. dalam kitqb Sirrul Asrar, Fasal 11 tentang Bahagia dan Celaka. Dalam bab ini dijelaskan esensi dari Hadist : “Orang yang akan bahagia telah ditetapkan kebahagiaannya dalam perut ibunya. Begitu pun yang celaka telah ditentukan celakanya dalam perut ibunya.”

Maksud dari kata “ibu” di Hadits di atas adalah berkumpulnya empat unsur (Tanah, Air, Api dan Angin) yg merupakan "sumber" kekuatan kemanusiaan, dan bisa menimbulkan Kebahagiaan ataupun Penderitaan (menghancurkan, mematikan).

Berbeda dengan Malaikat yg terbentuk hanya dari unsur cahaya ataupun Jin (Iblis) yg hanya dari unsur Api, Manusia itu terbentuk dari sesuatu yg berlawanan, paradoksial, maka manusia harus bisa mengendalikan serta menyeimbangkan segala sesuatu yg berlawanan dalam tubuhnya. Ibadah puasa adalah salah satu solusinya.

**

Penelitian modern menunjukkan bahwa :

Puasa mampu memicu regenerasi sistem sel dan sistem kekebalan tubuh yg rusak. Hal ini terjadi karena lewat puasa itu bisa "menyeimbangkan" kembali unsur-unsur pembentuk tubuhnya, sebutlah "me-reset" untuk kembali ke posisi "awal".

Inilah kenapa di QS. 2:184-185 diperintahkan bagi orang yg sakit mengganti Puasanya sejumlah hari yg ditinggalkannya (baik untuk pria maupun wanita). Hal ini berbeda dengan ibadah Shalat dimana para wanita yg mens tidak perlu mengganti shalat yg tidak dilakukannya ketika mens.

Dan bisa sy katakan, penelitian di atas merupakan bukti bahwa adanya Fase Rahmat dalam Puasa (Ramadhan), dimana salah satunya adalah rahmat (kasih sayang) Allah agar hamba-Nya bisa sehat dan seimbang kondisi tubuhnya.

Semoga..
#ombad 08 #ramadhan 1440 H.

11 May 2019

PUASALAH, KAMU AKAN SEHAT

Otak, meski hanya 2.5% dari berat badan, tapi otak mengkonsumsi 22% kebutuhan energi total harian. Dalam kondisi normal, suplai energi ini berasal dari glukosa yg diperoleh dari makanan.

Saat berpuasa (saat cadangan glycogen mulai menipis), liver/hati akan menkonversi cadangan lemak menjadi senyawa ketones (beta-hydroxybutyrate/beta-HBA). Senyawa ini dikenal bagaikan ‘super-fuel’ yg lebih powerful/efisien dibanding glukosa.

Analoginya dalam bensin mah, beta-HBA itu pertamax, sedangkan glukosa itu premium..

Keistimewaan beta-HBA diantaranya adalah melindungi sel-sel otak, meningkatkan jumlah sel mitochondrial, dan (yg terpenting) merangsang sel-sel otak baru (neurogenesis); yg semuanya mengarah pada perbaikan fungsi dan kesehatan otak.

"...Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. 2:184)

Itu makanya di negara-negara Barat puasa 10-12 jam juga sudah dijadikan terapi untuk banyak penyakit.

Ada juga penelitian dari Ahli Biologi Salk Institute, California Satchidananda Panda (sebagaimana yg dilansir livescience), dimana kesimpulannya mengatakan bahwa Diet puasa (intermittent fasting) membantu tubuh untuk melakukan peremajaan dan perbaikan sehingga dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Diet puasa juga menyebabkan tubuh merespon berbagai mekanisme atau tanda kerusakan tubuh menjadi lebih baik. Kondisi puasa dapat membuat sel tumor kekurangan bahan makanan untuk berkembang, memperbaiki inflamasi dan menghilangkan sel yg rusak dari dalam tubuh.

Dan dengan berpuasa, tubuh juga akan mengendalikan tekanan darah dan kolesterol secara otomatis karena tubuh melakukan pembakaran lemak lebih efektif saat berpuasa, serta membuat hormon insulin lebih sensitif terhadap makanan.

"Puasalah niscaya kamu akan sehat." (HR. al-Thabrani).

Tapi jangan balas dendam ya kalo pas buka, karena :

"Perut adalah rumah penyakit, dan pengaturan makanan adalah obat utamanya." (HR. Muslim)


Semoga...
#ombad 06 #ramadhan 1440 H.

09 May 2019

MUSLIM AL-WASATH VIA PUASA

Islam itu agama Pertengahan (al-Wasath). Ukuran "pertengahan" ini dasarnya adalah mengambil contoh perbandingan kedua agama pendahulunya, yaitu Yahudi dan Nasrani.

Islam mengandung ajaran hukum dengan orientasi pada masalah perilaku manusia secara Lahiriah seperti pada agama Yahudi, tetapi mengandung juga ajaran keruhanian yang mendalam seperti pada agama Nasrani.

Bahkan antara keduanya tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan. Ketika seorang Muslim dituntut untuk tunduk terhadap suatu hukum perilaku lahiriah, maka diharapkan dan diharuskan, ia juga bisa menerima dengan tulus dan ikhlas dari lubuk hatinya. Seorang Muslim pun harus bisa merasakan bahwa aturan hukum lahiriah itu sebagai sesuatu yg berakar dalam komitmen batin atau spiritualnya.

Kenyataan ini tercermin dalam susunan kitab-kitab fiqh, dimana bab pensucian (Thaharah) lahir selalu jadi bab awal, dan aturan ini pun sebagai awal untuk pensucian batin.

Dalam konteks al-Wasath ini, Ibn Taimiyyah ra. berkata :

"Syari'ah Taurat didominasi oleh KETEGASAN (KERAS), dan Syari'ah Injil didominasi oleh KELEMBUTAN, sedangkan Syari'ah al-Qur'an menengahi dan meliputi keduanya itu."

Jadi, kalau seorang Muslim dominasi dalam urusan hukumnya masih keras dan galak (takfiri, kopar-kapir, susat-sesat, dsb) kepada orang lain, itu lebih mirip siapa..? 😛
Terus, kenapa donk Kelembutannya tidak muncul..? 

Puasa itu sehat dan menyehatkan, dalam arti, berpuasa akan melatih Kekuatan tubuh supaya lebih sehat, atau dengan kata lain, lewat puasa itu bisa memperbaiki aspek "power" tubuh, seperti Kekuatan, Ketegasan, Disiplin, Konsekuen, dsb.

Sementara dari rasa haus dan lapar akibat puasa, seharusnya bisa melatih rasa atau aspek "sensitivitas" tubuh, seperti Kestabilan Emosi, Penurunan Ego, Empati, Kelembutan, dsb.

Jika sifat urat batu atau keras kepalanya masih besar, maka perbanyaklah berlapar-lapar puasa sampai terlewati puncak ego, emosi ataupun marahnya, lalu muncul rasa sabar saat lapar, dan selanjutnya bersiaplah Kelembutan hatinya muncul. Kelembutan ini semakin lama akan dikuatkan dengan rasa Empati dan Kasih Sayang kepada sesama makhluk.

Jadi, puasa bisa menyeimbangkan kedua sisi (Ketegasan dan Kelembutan), atau dengan kata lain, pembentukan karakter al-Wasath bagi seorang Muslim bisa dilatih lewat puasa.


Semoga..
#ombad 04 #ramadhan 1440 H.

11 June 2018

PUASA, MUDIK DAN IDUL FITRI

Setelah melakukan berbagai ibadah (puasa, dll), disertai upaya pembersihan/penyucian diri (Shafa) dan upaya-upaya riyadhoh lainnya, diharapkan diri dan hati kita ada keselarasan dengan Kehendak dan Ketentuan Yang Maha Suci, agar kembali suci.

Dengan persiapan "bekal" seperti yg disebutkan di atas, yg bertujuan untuk mengganti "baju-baju" yg sudah usang, yg robek, terkoyak dan kotor.. Baju-baju jelek di masa lalu akibat perjalanan yg tidak sesuai fitrah.. sampai bisa diperbaharui dan diganti dengan "baju" yg sesuai dengan "baju" yg pertama kali dipakai ketika perjanjian awal "Alastu bi Rabbikum, balaa syahidna..."

Ya, itulah "mudik" yang sesungguhnya, yaitu Wushul (kembali) ke sumber (asal), "mudik" yg sampai ke puncaknya, yaitu Puncak Tauhid (shirath al-mustaqim), al-Ahadiyah.. Rabbul 'Alamin.

Mudik yg diupayakan agar tetap dalam Nyaman (damai, Islam), Aman (Iman) dan Selamat sampai tujuan (Ahadiyah), serta tidak tersesat (adh-Dhaalliin) dan tidak celaka (al-Maghdub).

Sampai akhirnya bisa kembali sesuai dengan dari mana kita berasal, kembali kepada Kesucian. 'Idul Fitri.


Semoga...
#ombad #mudik

01 June 2018

NUZULUL QURAN

QUR'AN berasal dari QARA'A (Membaca), artinya BACAAN atau "Sesuatu yg dibaca berulang-ulang".

Secara batin, al-Quran itu turun sekaligus sewaktu Lailatul Qadar dan "ditanamkan" ke dalam hati Rasulullah SAW, selanjutnya secara "lahir" bertahap ayat demi ayat, selama 22 tahun (lebih).

“Al-Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus, lalu Dia menurunkan secara berangsur-angsur." (HR. at-Thabrani, dari Ibn Abbas ra.)

"... Dialah yg telah menurunkan (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yg terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 97)

Kenapa secara "lahir" turunnya dicicil ayat demi ayat..?

Hikmah turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW :

- Untuk menguatkan dan meneguhkan hati Rasulullah dalam rangka menyampaikan dakwahnya untuk menghadapi celaan orang-orang musyrik. Lihat QS. al-Furqan: 32, Berkatalah orang-orang Kafir, ‘Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja..?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).

- Untuk memudahkan hafalan dan pemahaman karena Al-Quran diturunkan di tengah-tengah umat yg tidak pandai membaca dan menulis.

- Sebagai pendidikan dan ikhtibar bagi umat Islam bahwa Allah pun menggunakan waktu yg relatif lama (23 tahun) dalam menurunkan Al-Quran.

Dalam konteks Tasawuf, kata nazala (turun) di ayat itu, bukan turun dalam konteks dimensi tempat (dari atas ke bawah), tetapi turun dalam konteks martabat atau status, manifestasi (descent), transformasi dari alam batin (ruhani) ke alam lahir (jasad).

Dan kenapa peringatan Nuzulul Quran pada 17 Ramadhan..?

Karena ayat yg pertama turun (ayat "Iqraa", QS. Al-'Alaq:1-5) pada tanggal 17 Ramadhan sewaktu Rasulullah SAW sedang bertahannuts di Gua Hira.

Mungkin akan jadi polemik tentang kapan turunnya Quran kalau hanya melihat ketiga ayat di bawah ini sekedar tekstual :

"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an." (QS. al-Baqarah: 185)

"Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada Malam Kemuliaan." (QS. al-Qadr: 1)

"Sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi." (QS. ad-Dukhan: 3)

Bisa saja bahwa Lailatul Qadar bagi Rasulullah SAW itu bukan hanya malam-malam ganjil likuran Ramadhan, setiap malam pun bisa, lain bulan pun bisa. Dan kalau sy sich yakinnya kapanpun bisa, itu makanya turunnya wahyu ke Rasulullah itu bisa di mana dan kapan saja.

Makna Batin Al-Quran

Selain makna Lahir, Quran menyimpan petunjuk-petunjuk dan makna-makna Batin yg tak terhingga tetapi saling berhubungan. Sebagaimana yg dikatakan Rasulullah SAW :

"Sesungguhnya Al-Quran mempunyai Lahir dan Batin."

"Allah menurunkan Al-Quran dengan sepuluh batin, lebih batin lebih bermanfaat dan lebih menguntungkan, karena batin ini adalah sumber (pusat/ pokok)."

Sayyidina Ja'far ash-Shodiq ra. berkata,

"Sesungguhnya Al-Quran turun dalam empat bentuk, yaitu: IBARAT (ungkapan tekstual) untuk orang awam, ISYARAT (pemisalan) untuk orang khusus (khawas), LATHA'IF (makna-makna yg halus) untuk para Wali, dan HAKIKAT untuk para Nabi."

Jadi al-Quran adalah Firman Allah yg terbuka dan tak terbatas. Tiap huruf, kata dan kalimat yg terkandung di dalamnya memiliki makna yg bertingkat-tingkat, berlapis-lapis.

Dan untuk menghindari kerancuan dalam menafsirkan Al-Quran, seseorang harus menelisik dengan runtut pesan Al-Quran secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong. Sedemikian pentingnya memahami al-Quran secara keseluruhan (terintegrasi), Allah pun melarang memahaminya secara sepotong-sepotong (lihat QS. al-Hijr: 90-91). Hal ini bisa diartikan agar hamba-Nya selalu berupaya mencapai keseimbangan dalam makna lahir maupun makna batinnya.

"Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yg membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yg telah menjadikan Al-Qur’an itu terbagi-bagi." (QS. Al-Hijr : 90-91)

Jadi yg aman itu adalah pelajari juga Tafsir dan Asbabun Nuzul, soalnya bisa 'berbahaya' kalau sekedar memahami terjemahan secara tekstual.

Dan juga dibutuhkan Kebeningan Qalbu untuk bisa "mengakses" keilmuan al-Quran, karena jika hawa nafsu "menunggangi" ayat-ayat al-Quran, maka bisa menyebabkan Kerugian bagi pembacanya. 

"Dan Kami menurunkan dari Al-Qur’an itu sesuatu yg berupa Rahmat bagi orang-orang Mukmin, namun Al-Qur’an itu tidak memberi nilai tambah bagi orang-orang yg Dzalim kecuali kerugian." (QS. Al-Isra : 82)

Kenapa bisa seperti itu..?

Karena Al-Quran itu kitab yg "hidup", kitab yg diturunkan dari Sumber Kesucian. Karena itu agar kita bisa "menghidupkan" ayat-ayatnya, maka kita harus menghubungkan ruh kita dengan "ruh" Al-Quran. Hal ini hanya bisa terjadi apabila hijab hawa nafsu yg menutupi (mengalahkan) ruh kita telah terbuka (diangkat), atau sekurang-kurangnya dibuat tak berdaya sehingga cahaya Ruh Qudsi telah bebas dari distorsi nafsu dan bisa "bertemu" dengan cahaya Al-Qur’an.

Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan seseorang dalam memahami makna Al-Qur’an amat bergantung kepada derajat dan kualitas keruhanian. Artinya kemungkinan untuk menemukan "rahasia-rahasia" di balik teks lahiriah (literal) akan terbuka lebar jika bisa mempersiapkan kesucian wadahnya, yaitu kebeningan Qalbu.

"Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yg disucikan." (QS. al-Waqi'ah: 79)

Itulah kenapa al-Quran bisa jadi Syafa'at, tetapi juga bisa jadi Laknat.

Rasulullah SAW bersabda,

"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi Syafa'at bagi pembacanya." (HR. Muslim, dari Abu Umamah ra.)

Rasulullah SAW bersabda,

القُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

"Al-Quran akan menjadi Hujjah (yg akan membela) engkau atau akan menjadi bumerang yg akan menyerangmu." (HR. Muslim)

Begitupun, dalam Ihya Ulumuddin (Imam Ghazali ra), Anas bin Malik ra berkata,

كم من قارئ للقرآن والقرآن يلعنه

"Betapa banyak orang membaca al-Qur’an, namun al-Qur’an sendiri melaknat pembacanya."

Jadi, selalu beningkan Qalbu, sehingga al-Quran yg kita baca bisa jadi Syafa'at dan bukan Laknat. Dan termasuk juga ayat-ayat Kauniyah yg berserakan di alam semesta ini.

Semoga...
#ombad #ramadhan #17 #nuzul #quran

19 May 2018

FASE RAHMAT

FASE RAHMAT
(10 Hari Pertama Ramadhan)

Fase dalam bulan Ramadhan ini ada tiga, yaitu:

1. Fase RAHMAT : sepuluh hari awal Ramadhan,

2. Fase MAGHFIRAH : sepuluh hari di tengahnya sebagai fase Maghfirah (ampunan), dan

3. Fase ITQUN MINANNAAR  : sepuluh hari di akhir sebagai fase Pembebasan dari api neraka.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:

"Awal bulan Ramadhan adalah Rahmat, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya Itqun Minan Naar (pembebasan dari api neraka)."

Fase 10 hari pertama Ramadhan memang merupakan fase terberat dan tersulit karena merupakan fase peralihan dari kebiasaan pola makan.

Selain adaptasi tubuh, pada fase 10 hari pertama Ramadhan ini, Pikiran dan Jiwa pun berusaha melakukan adaptasi atau penyesuaian, dimana ia harus berusaha Sabar dan Ikhlas dalam menunaikan puasa. Oleh sebab itu pada 10 hari pertama Ramadhan ini, Allah SWT memberikan keistimewaan dengan membukakan Pintu Rahmat yg sebesar-besarnya bagi hamba-Nya yg telah Sabar dan Ikhlas ketika menunaikan puasa.

RAHMAT adalah kasih sayang dan cinta dari Allah SWT kepada makhluk-Nya, khususnya kepada hamba-Nya.

Bagi orang yg beriman, semua hal berujung baik. Jika menerima ujian atau kesusahan kemudian dia bersabar, maka ujungnya baik. Juga jika mendapatkan nikmat kemudian dia bersyukur, maka ujungnya baik pula. Dan semua hal itu dikarenakan Allah SWT memberikan Rahmat (baca: cinta-Nya) kepada hamba-Nya.

Apa ciri orang yg mendapat Rahmat Allah...?

"Dan orang-orang yg Beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yg lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yg ma'ruf, mencegah dari yg mungkar, mendirikan Shalat, menunaikan Zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi Rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. At-Taubah : 71)

Dari ayat di atas, maka ada enam ciri orang yg mendapat Rahmat Allah, yaitu :

1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ketaqwaan itu merupakan pintu pembuka semua kebaikan dunia dan akhirat.

2. Menunaikan Zakat (baca: membantu orang lain, infaq, sedekah).
Dengan memberikan sebagian harta, sesungguhnya kita mengundang Rahmat Allah. Itulah kenapa urusannya akan Allah permudah.

3. Mendirikan Shalat.
"Mendirikan" itu bukan sekedar melakukan atau menunaikan saja, bukan sekedar perrimbangan "kewajiban" saja, tetapi sudah "kebutuhan". Hal ini  berkaitan dengan Hadist :

"Shalat itu mikrajnya mukminin."

4. Gemar melakukan Amar Ma'ruf Nahi Munkar, bukan nyamar ma'ruf nyambi munkar.. :D

5. Gemar menolong sesama, dan bukan suka ditolong.
Orang yg mendapatkan Rahmat Allah selalu tergerak hatinya saat melihat orang lain kesusahan. Dia akan berusaha menolong orang lain dalam bentuk harta, ilmu, tenaga, hingga doa.
Hidupnya tidak menyendiri (eksklusif), ia bersosialisasi baik dengan masyarakat, dan bergaul dalam kebaikan dengan sesama manusia. Orang tersebut memiliki tanggung jawab sosial yg tinggi serta selalu merasa bahagia jika dikelilingi orang-orang yg shaleh. Orang yg gemar menolong orang lain, hidupnya akan jauh dari sifat Kikir, Sombong, Takabur, Hasud, Iri, Dengki, Benci dan Dzalim/merusak, sehingga hatinya akan bersih. Refleksi dari sifat Allah ar-Rahman.
Dan dirinya meyakini bahwa menolong orang itu sama dengan menolong dirinya sendiri. Dan bukankah manusia yg paling baik adalah yg paling bermanfaat bagi sesama..?

6. Derajat Mukmin.

Kenapa urutannya sy balik dari urutan ayat di atas..? Ini ada hubungannya dengan Proses mencapai derajat Mukmin, karena hamba yg Mukmin itu selalu berada dalam Rahmat Allah..

Mudah-mudahan kita semua lulus dari Fase Rahmat, dan selanjutnya bisa memasuki Fase Maghfirah pada sepuluh hari kedua bulan Ramadhan ini.

Semoga...
#ombad #ramadhan #03

17 May 2018

KAPAN NIAT PUASA ?

Dalam hal niat Puasa Wajib (jenis apa saja), para ulama berbagai mazhab sepakat bahwa Niat harus dilaksanakan pada malam hari. Pendapat ini didasarkan pada hadist Rasulullah SAW yg diriwayatkan oleh Sayyidah ‘Aisyah:

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak sah puasanya.”

Lain halnya puasa Sunnah, waktu berniat tidak harus malam hari, tapi bisa dilakukan setelah terbit fajar sampai sebelum tergelincirnya matahari (waktu Dzuhur) dengan syarat ia belum makan/minum sedikitpun sejak Subuh. Bahkan ulama mazhab Hambali, untuk puasa Sunnah, membolehkan berniat setelah waktu Dzuhur.

Kembali ke persoalan, seandainya lupa berniat pada malam hari atau tertidur, bolehkah melakukan niat setelah terbit fajar atau pagi harinya..?

Untuk lebih detailnya, marilah kita ikuti berbagai pendapat berikut ini:

- Madzhab HANAFI
Lebih baik bila Niat puasa (apa saja) dilakukan bersamaan dengan terbitnya fajar, karena saat terbit fajar merupakan awal ibadah. Jika dilaksanakan setelah terbitnya fajar, untuk semua jenis puasa wajib yg sifatnya menjadi tanggungan/hutang (seperti puasa Qadha, puasa Kafarat, puasa karena telah melakukan haji tamattu’ dan qiran –sebagai gantinya denda/dam, dll) maka tidak sah puasanya.

Karena, menurut madzhab ini, puasa-puasa jenis ini niatnya harus dilakukan pada malam hari. Tapi lain dengan Puasa Wajib yg hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti puasa Ramadhan, nazar, dan puasa-puasa Sunnah yg tidak dikerjakan dengan sempurna, maka boleh saja niatnya dilakukan setelah fajar sampai sebelum Dzuhur.

- Madzhab MALIKI
Niat dianggap sah, untuk semua jenis puasa, bila dilakukan pada malam hari atau bersamaan dengan terbitnya fajar. Adapun apabila seseorang berniat sebelum terbenamnya matahari pada hari sebelumnya, atau berniat sebelum tergelincirnya matahari pada hari ia berpuasa maka puasanya tidak sah walaupun puasa Sunnah.

- Madzhab SYAFI’I
Untuk semua jenis puasa Wajib (baik yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu seperti puasa Ramadhan; yg sifatnya menjadi tanggungan seperti Qadha’, nazar, kafarat, dll.) niat harus dilakukan pada malam hari. Adapun puasa Sunnah, niat bisa dilakukan sejak malam hari sampai sebelum tergelincirnya matahari. Karena Nabi SAW suatu hari berkata pada ‘Aisyah: ‘Apakah kamu mempunyai makanan?’
Jawab ‘Aisyah: ‘Tidak punya’.
Terus Nabi bilang: ‘Kalau begitu aku puasa’.
Lantas ‘Aisyah mengisahkan bahwa Nabi pada hari yang lain berkata kepadanya: ‘Adakah sesuatu yang bisa dimakan?’
Jawab ‘Aisyah: ‘Ada’.
Lantas Nabi berkata: ‘Kalau begitu saya tak berpuasa, meskipun saya telah berniat puasa’.

- Mazhab HAMBALI
Tidak beda dari Syafi’iyah, madzhab ini mengharuskan niat dilakukan pada malam hari, untuk semua jenis puasa Wajib. Adapun puasa Sunnah, berbeda dari Syafi’iyah, niat bisa dilakukan walaupun telah lewat waktu Dzuhur (dengan syarat belum makan/minum sedikitpun sejak fajar).

Dan pendapat yg terakhir inilah (bolehnya Niat puasa Sunnah walaupun telah lewat Dzuhur) yg paling kuat.

NIAT Puasa Ramadhan

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shouma ghodin 'an adaa'i fardhi syahri romadhoona hadihis-sanati Lillahi Ta'ala.

“Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta'ala.”

**

Selamat memasuki bulan yg penuh Berkah.. Sy pribadi mohon maaf dari teman-teman semua dari kesalahan yg sengaja ataupun tidak..

Semoga..
#ombad #ramadhan #01

21 June 2017

KETIKA DISURUH FOKUS....?

Ketika sedang mengalami suatu masalah yg menyakitkan, apakah merasa sedang disiksa, ditegur, diperhatikan atau disuruh fokus menghadap...?

Silakan renungkan cerita ini :

Seorang Mandor bangunan yg berada di lt. 5 ingin memanggil pekerjanya yg lagi bekerja di bawah. Setelah sang Mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.

Sang Mandor terus berusaha agar si Pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya Rp. 1.000 yg jatuh tepat di sebelah si Pekerja.

Si Pekerja hanya memungut Rp. 1.000 tsb dan melanjutkan pekerjaannya.

Sang Mandor akhirnya melemparkan Rp. 100.000 dan berharap si Pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas. Akan tetapi si Pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp. 100.000 dan kembali asyik bekerja.

Pada akhirnya sang Mandor melemparkan batu kecil yg tepat mengenai kepala si Pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si Pekerja baru mau menoleh ke atas, dan melakukan komunikasi dengan sang Mandor.

Ketika disuruh berpuasa, maka "siksaan" rasa lapar dan haus harusnya bisa membuat seorang hamba makin terfokus, atau dengan kata lain, kondisi tubuh yg "tersiksa" itu merupakan tanda "sangat diperhatikan" biar lebih terfokus kepada Tuhan.

Itu makanya disebut "Puasa itu (hanya) untuk-Ku.."

"Semua amalan Bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yg akan membalasnya, dan puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan berteriak-teriak..." (Hadist Qudsi)

Semoga....

#ombad #ramadhan26

05 June 2017

FASE RAHMAT

Fase dalam bulan Ramadhan ini ada tiga, yaitu:

1. Fase RAHMAT : sepuluh hari awal Ramadhan,

2. Fase MAGHFIRAH : sepuluh hari di tengahnya sebagai fase Maghfirah (ampunan), dan

3. Fase ITQUN MINANNAAR  : sepuluh hari di akhir sebagai fase Pembebasan dari api neraka.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:

"Awal bulan Ramadhan adalah Rahmah, pertengahannya Maghfirah dan akhirnya Itqun Minan Naar (pembebasan dari api neraka)."

Fase 10 hari pertama Ramadhan memang merupakan fase terberat dan tersulit karena merupakan fase peralihan dari kebiasaan pola makan.

Selain adaptasi tubuh, pada fase 10 hari pertama Ramadhan ini, Pikiran dan Jiwa pun berusaha melakukan adaptasi atau penyesuaian, dimana ia harus berusaha Sabar dan Ikhlas dalam menunaikan puasa. Oleh sebab itu pada 10 hari pertama Ramadhan ini, Allah SWT memberikan keistimewaan dengan membukakan pintu Rahmat yg sebesar-besarnya bagi hamba-Nya yg telah Sabar dan Ikhlas ketika menunaikan puasa.

RAHMAT adalah kasih sayang dan cinta dari Allah SWT kepada makhluk-Nya, khususnya kepada hamba-Nya.

Bagi orang yg beriman, semua hal berujung baik. Jika menerima ujian atau kesusahan kemudian dia bersabar, maka ujungnya baik. Juga jika mendapatkan nikmat kemudian dia bersyukur, maka ujungnya baik pula. Kesemua hal itu dikarenakan Allah SWT memberikan Rahmat alias cinta-Nya kepada hamba-Nya.

Apa ciri orang yg mendapat Rahmat Allah...?

"Dan orang² yg Beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yg lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yg makruf, mencegah dari yg mungkar, mendirikan Shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi Rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. At-Taubah : 71)

Dari ayat di atas, maka ada enam ciri orang yg mendapat Rahmat Allah, yaitu :

1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

2. Menunaikan Zakat (baca: membantu orang lain, infaq, sedekah). Dengan memberikan sebagian harta, sesungguhnya kita mengundang Rahmat Allah. Itulah kenapa urusannya akan Allah permudah.

3. Mendirikan Shalat. "Mendirikan" itu bukan sekedar melakukan/menunaikan saja.

4. Gemar melakukan Amar Ma'ruf Nahi Munkar, bukan nyamar ma'ruf nyambi munkar.. :D

5. Gemar menolong sesama, dan bukan suka ditolong. Orang yg mendapatkan Rahmat Allah selalu tergerak hatinya saat melihat orang lain kesusahan. Dia akan berusaha menolong orang lain dalam bentuk harta, ilmu, tenaga, hingga doa.

Hidupnya tidak menyendiri (eksklusif), ia bersosialisasi baik dengan masyarakat, dan bergaul dalam kebaikan dengan sesama manusia. Orang tersebut memiliki tanggung jawab sosial yg tinggi serta selalu merasa bahagia jika dikelilingi orang-orang yg shaleh. Orang yg gemar menolong orang lain, hidupnya akan jauh dari sifat Kikir, Sombong, Takabur, Hasud, Iri, Dengki, Benci dan Dzalim/merusak, sehingga hatinya akan bersih. Refleksi dari sifat Allah ar-Rahman.

6. Mukmin.

Kenapa urutannya sy balik dari urutan ayat di atas..? Itulah Proses mencapai derajat Mukmin, karena hamba yg Mukmin itu selalu berada dalam Rahmat Allah.. :D

Mudah-mudahan kita semua lulus dari Fase Rahmat, dan selanjutnya bisa memasuki dan lulus di Fase Maghfirah pada sepuluh hari kedua bulan Ramadhan ini.

Semoga...

#ombad #ramadhan10

02 June 2017

PUASA ITU ISTIMEWA

Kullu ‘amali Ibni Adam lahu illash shiyaam, fainnahu lii wa anaa ajzii bihi.

"Semua amal manusia miliknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari - Muslim)

Ayat ini yg menyebabkan ibadah Puasa itu sangat istimewa. Kenapa?

Pertama, karena ibadah-ibadah lain rentan terhadap Riya' (pamer).

Shalat, seringkali pelaksanaannya sulit mengelak dari nafsu Pamer, apakah itu ketika menenteng sajadah ke mesjid, dalam berpakaian atau sesudahnya dengan "melirik" dan "memeriksa" tetangganya yg enggak ke mesjid. Dan kadang di hatipun sering tercetus, "shalat di mesjid donk".

Begitupun Zakat (dan infak, sedekah), kadang bisa tercetus dalam hati, "Gue kan kaya makanya ngasih".. Belum lagi kalo di belakangnya diomong-omongin, mirip iklan di TV.. :D

Apalagi Naik Haji, ketika ditunjang dengan budaya sisa feodalisme, bisa-bisa manyun ketika ada tetangga yg sudah naik haji tidak dipanggil Pak atau Bu Haji, "Gimana sich, sy kan udah naik haji, mahal lagi, kamu mah belum".

Kedua, karena lewat puasa kita berusaha mengosongkan diri. Awalnya memang secara lahir dulu, dengan mengosongkan perut dan keinginan lahiriah, oleh karena itu dikatakan dalam Hadits,

"Orang yang Shaum meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku." 

Selanjutnya berusaha semakin dalam lagi ke dalam diri, dengan berupaya supaya bisa mengosongkan hati dari berbagai hal yang tidak sejalan dengan keinginan-Nya.

Semakin baik kualitas shaum seseorang maka semakin baik kualitas pengosongan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Secara tersirat, ini disebutkan dalam Hadist :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

"Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu." (HR. Bukhari - Muslim).

Artinya, puasa itu merupakan upaya untuk mendidik diri (melalui rasa lapar, haus dan meredam hawa nafsu), sampai "menyentuh" jiwa dan qalbu, sehingga diharapkan jiwa dan qalbunya mengalami proses "pengosongan" dari hawa nafsu, dan selanjutnya pada saat yg bersamaan jiwa dan qalbunya pun merasakan dan menikmati santapan lezat ruhani dari-Nya.

Dalam Hilyat al-Abdaal, Syeikh Muhyidin Ibn 'Arabi ra. menjabarkan ciri hamba yg Shaumnya benar adalah dengan semakin tumbuhnya sifat-sifat sebagai berikut:

- Rendah hati,
- Meningkat kepatuhannya,
- Sederhana,
- Lembut hati,
- Makin merasa fakir,
- Tidak ada bangga diri,
- Perilaku yg tenang,
- Bebas dari pikiran yg tidak pada tempatnya.

Mudah-mudahan kita bisa "menyantap" jamuan khusus ruhani dar-Nya selama Ramadhan ini.

Stay awake in the night, endure hunger.

Semoga....

#ombad #tasawuf #ramadhan07

30 May 2017

RAMADHAN, SUBSTANSI ATAU BUDAYA...?

Semua juga sudah tau, puasa Ramadhan itu wajib.. 😀

Tetapi jika hal-hal di bawah ini terjadi, mungkin anda berpuasa itu hanya jadi "Budaya" dan bukan "Substansi"..

- Belanja harian jadi naik membesar, karena ada perubahan kualitas dan kuantitas menu makanan/minuman. Padahal secara esensi, puasa itu adalah "serba kekurangan" yg sering dialami oleh "Banyak orang yg tidak berpuasa tetapi berpuasa". Jadi dalam hal ini, puasanya malah ikut bantu dalam meningkatkan pola makan.

- Berat badan tetap, malah bertambah di akhir bulan Ramadhan. Mungkin karena "berlapar-lapar" yg seharusnya merupakan nilai "empati" ke sesama (fakir miskin yg terbiasa lapar) dengan mudah "dibalas-dendamkan" ketika beduk Maghrib berkumandang. Jadi dalam hal ini, puasanya malah ikut bantu dalam menambah hawa nafsu.

- Keinginan yg kuat untuk semakin "memanjakan" tubuh dalam hal makanan/minuman tambahan : sirop, kolak, susu, rujak, asinan, dsb. Padahal hal tersebut jarang terpenuhi dalam keseharian. Jadi dalam hal ini, puasanya malah ikut bantu dalam menambah keinginan "memanjakan" tubuh.

- Tingkat kesehatan menurun ketika di akhir Ramadhan. Malah kadar gula darah dan kolesterol meningkat. Ya iya, karena "balas dendam" keinginan ketika sedang berlapar-lapar puasa. Akhirnya bergurih ria.

Jadi kalau tinjauannya "substansi" atau batiniah, seharusnya ketika di suatu keluarga berpuasa selama sebulan, yg biasanya belanja dapur habis (misal) 3jt/bln di bulan-bulan lain, maka di bulan puasa mestinya terjadi penurunan (misalnya habis 2jt/bln), dan sisa yg 1jt itu diberikan kepada orang² yg biasa "berpuasa" karena keterbatasan ekonominya, dan bukan sebaliknya, malah nombok dari uang THR yg harus cepat-cepat dicairkan perusahaan.

Jadi tanpa disadari, bulan puasa Ramadhan itu identik dengan "bulan konsumtif" dan "bulan kemewahan".. dan hal ini jadi "budaya" turun-temurun, sampai akhirnya "substansi" dan esensi berpuasa pun nilainya semakin bias. Empati dan Kepekaan Sosial pun menjadi sesuatu yg sulit terjiwai.

Puasa tidak lagi mengajarkan kita agar berempati pada kaum fakir miskin. Seakan-akan kita sedang mengejek mereka yg kelaparan terus tanpa pernah bertemu Maghrib, sementara kita yg berpuasa "berpesta" makanan di waktu Maghrib dan mereka tidak pernah.

Lihat aja, menu buka puasa pun mirip sesajen.. segala macam ada, lengkap sekali.. 😀 .. sungguh sulit dibayangkan, berbanding terbalik dengan waktu Rasulullah SAW masih hidup, yg hanya berbuka dengan berapa butir kurma dan air putih aja.

Itulah kenapa, "Betapa banyak orang berpuasa yg tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja." (HR. Nasa’i)..

Semoga....

#ombad #tasawuf #ramadhan04 

29 May 2017

CIUM DUYU AHH...

Suatu ketika di bulan Ramadhan, Sayyidina Umar bin Khatthab ra. tak tahan untuk mencium istrinya. Sesaat Umar ingat bahwa ini bulan Ramadhan, maka hebohlah Umar dan bergegas menemui  Rasulullah SAW dan melaporkan:
"Hari ini aku melakukan suatu kesalahan besar, aku telah mencium istriku padahal sedang berpuasa."
Rasulullah kalem aja menanggapi Umar, malah Beliau SAW balik bertanya, "Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian berkumur-kumur..?"
Umar menjawab, "Seperti itu tidak mengapa."
Kemudian Rasulullah bersabda, "Lalu apa masalahnya..?" (HR. Ahmad)

Mungkin karena diajarkan berlogika seperti itu, maka Sayyidina Umar sangat jago dalam IJTIHAD...

Dalam kitab I’anah at-Talibin (karya Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha ad-Dimyathi) pun ada keterangan:

“Jika seorang laki-laki merangkul atau mencium wanita tanpa tejadi persetubuhan badan karena ada sesuatu yg menghalangi keduanya, lalu mengeluarkan sperma, maka puasanya tidak batal, sebagaimana keluar sebab mimpi diwaktu tidur atau keluar sperma sebab memandang atau melamun. Jika seorang laki-laki menyentuh wanita mahramnya, atau rambut seorang wanita, lalu keluarlah sperma, maka puasanya tidak batal, sebab wudlu tidak batal sebab hal itu. Sedangkan keluar air madzi tidak membatalkan puasa, lain halnya dengan pendapat ulama-ulama Malikiyah (yg berpendapat bisa membatalkan puasa).”

ولو ضم امرأة أو قبلها بلا ملامسة بدن بحائل بينهما فأنزل لم يفطر لانتفاء المباشرة كالإحتلام والإنزال بنظو وفكر ولو لمس محرما أو شعر امرأة فأنزل لم يفطر لعدم النقض به ولا يفطر بخروج مذيّ خلافا للمالكية .
 
Tapi lebih bagus jangan dekati eaa.. bisi gak ku.. ku... bahaya bisa kejeblos masuk... batal dech.

😍
Semoga....

#ombad #ramadhan03

28 May 2017

KENAPA KUTIBA...?

Yaa ayyuhal ladziina aamanu KUTIBA ‘alaikumus shiyaamu kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum la’allakum tattaquun..

"Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

"Kutiba" itu artinya "dituliskan" .. Kenapa ayat perintah puasa itu pakai kata KUTIBA (dituliskan)..?

Karena itu merupakan bentuk jaminan dari Allah kepada hamba-Nya, menyiratkan kedekatan Rahmat-Nya yg sangat dekat. Kalau bahasa manusianya, seakan-akan Dia berfirman : "Aku mewajibkan berpuasa kepadamu, karena Aku telah menetapkan/mewajibkan pada diri-Ku untuk memberikan rahmat kepadamu."

Begitupun, Allah ingin menjadikan puasa (Ramadhan) ini sebagai pembentukan karakter yg kuat, terutama sikap Konsekuen (esensi Puasa adalah Konsekuen). Karakter ini yg akan "dituliskan" (ditetapkan) ke dalam "dada" manusia yg beriman, dan inipun insyaAllah sudah "dituliskan" di Lauhil Mahfudz. Ada hubungannya dengan "pembentukan karakter dan perilaku" untuk kebaikan dalam kehidupan hamba-Nya.

Hal ini secara jelas diterangkan dalam sebuah Hadist, dimana Rasulullah SAW bersabda:

“Semua amalan Bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dan puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan berteriak-teriak. Jika ada orang yg mencacinya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’. Dan Demi Allah yg jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yg berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misyk. Orang yg berpuasa mempunyai dua kegembiraan, ia bergembira ketika berbuka, dan ia bergembira ketika bertemu dengan Rabbnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan Allah SWT pun 'menuliskannya' siapa saja hamba-hambaNya yg "lulus" dan "diterima" puasanya secara khusus. Kebahagiaan di dunia, dan kebahagiaan di akhirat ketika bertemu dan melihat wajah Allah.

Semoga....

#ombad #ramadhan02

27 May 2017

RAMADHAN

Ramadhan (bulan ke-9 Hijriah) artinya: Membakar, amat panas. Penyebutan bulan Ramadhan ini sesuai dengan kondisi cuaca pada bulan tersebut.

Kata Ramadhan itu terbentuk dari 5 huruf ( Ra-Ma-Dh-A-N ), dan setiap hurufnya memiliki makna tertentu, yaitu :

1. Ra : Rahmat (rahmat Allah),
2. Mim : Maghfirah (ampunan Allah),
3. Dhod : Dhommanun lil jannah (jaminan untuk menggapai surga),
4. Alif : Amaanun minan naar (terhindar dari neraka)
5. Nun : Nurullaah al-Aziz al-Hakim al-Ghofuur ar-Rahiim (cahaya dari Allah Yang Maha Kuasa dan Bijaksana, Maha Pengampun dan Pengasih).

Rahmat dan Maghfirah bagaikan dua sisi mata uang yg tak terpisahkan, disaat Allah SWT menurunkan Rahmat maka Maghfirah pun turun mengiringi, demikian juga sebaliknya. Ketika Rahmat Allah SWT yg diiringi oleh Maghfirah ini telah mengalir maka peluang mendapatkan Surga pun telah menanti, dan ini artinya terhindar dari Neraka.

Namun hal ini semua, hanya bisa didapat ketika kita memperoleh limpahan Nur Ilahi Yang Maha Agung dan Bijaksana, Maha Pengampun dan Pengasih.

****
Selamat memasuki bulan yg penuh Berkah.... Sy pribadi mohon maaf dari teman² semua dari kesalahan yg sengaja ataupun tidak..

Semoga...
#ombad #ramadhan01