Showing posts with label Hadist. Show all posts
Showing posts with label Hadist. Show all posts

21 June 2022

KDRT

KDRT 

Setelah mendengar dari banyak hal, sy menyimpulkan bahwa lelaki pelaku KDRT itu punya 3 kemungkinan, yaitu :

1. Lelaki Pengecut.
Kalo mau pukul-pukulan mah sesama lelaki donk.. dasar kantong kresek.
2. Punya memory masa lalu buruk.
Mungkin dia sering dipukul oleh ortunya, korban gak jelas ortunya, atau korban bully temen-temennya.
3. Gangguan Jiwa.. 

Agama secara tegas melarang hal seperti ini.. mendidik itu tidak perlu dengan pukulan.. 

"Tidakkah malu orang yang memukul istrinya di awal hari lalu menggaulinya di ujung hari..?" (Hadist) 

Jangan-jangan istrinya itu dianggap Kuda.. dicambuk, dipukul.. terus dinaiki.. sungguh kegilaan yang haqiqi..

Sementara itu korbannya... ahsudahlah.. terlalu banyak hal.. yang pasti, baik pelaku dan korban pun banyak yang mengecap pendidikan tinggi.. S1, S2 bahkan S3.. artinya pendidikan tinggi seseorang itu tidak menjamin orang terbebas dari penyakit kejiwaan.. 🤣

Jadi, 
"Untuk alasan apa kamu masih memukul istrimu padahal kamu masih menggaulinya..?" (HR. Bukhari)

Alasan penyakit jiwa tentunya.. bentuk dari keras dan getasnya hati.. 

إِنَّ اللهَ إِذَا ارَادَ بِاهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِم الرِّفْقَ

Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan bagi sebuah keluarga maka Allah akan memasukkan KELEMBUTAN kepada mereka..” (HR. Ahmad) 

**

Ada satu kisah pada rumah tangga putri Rasulullah SAW yakni Fatima rah dan suaminya Ali bin Abi Thalib kw. Ketika ada percekcokan antara keduanya, 'Ali keluar dari rumahnya dan meninggalkan istrinya, menuju ke mesjid, itikaf dan berbaring di dekat dindingnya.

Datanglah Nabi SAW menyusul 'Ali setelah beliau tidak mendapatinya di rumahnya. Ketika beliau menanyakan keberadaan Ali, orang pun menunjukkan ‘Dia sedang berbaring dekat dinding’. Nabi SAW datang mendekat kepada Ali sementara punggung Ali penuh dengan debu atau tanah. Mulailah Nabi SAW mengusap debu tersebut dari punggung Ali seraya berkata, “Duduklah, wahai Abu Turab!” (HR. Bukhari)

Duduk adalah ajaran yang dicontohkan oleh Nabi SAW ketika sedang merasa marah. Diharapkan, rasa marahnya hilang dengan berdzikir dengan posisi duduk.. bermeditasi. Selain itu, hendaknya suami memikirkan hal positif dari istri agar tidak lagi emosi.

Nabi SAW bersabda: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia membenci satu perangai dari si mukminah, niscaya ia akan ridha dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim) 

Mudah-mudahan kisah ini bisa dipahami.. bagaimana cara mengontrol emosi, bagaimana supaya tidak larut dalam kemarahan, dan bagaimana caranya melembutkan hati. 

** 

Dan lingkar-lingkar karma, 
Berulang dan berputar lama, 
Tersimpan erat di dalam dada, 
Mendekap hal yang tak berbeda. 

Berbahagialah anda yang tidak mengalami atau melakukannya.. 

Semoga.. 
#ombad #tasawuf 

02 October 2020

TASAWUF DALAM SEEKOR ELANG

Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia, bisa mencapai 70 tahun. Tapi untuk mencapai umur itu, seekor elang harus membuat keputusan besar pada umur 40 tahun.

Saat umur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruh menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga menyulitkan saat terbang.

Saat itu, ia hanya mempunyai 2 pilihan, yaitu: Menunggu kematian, atau Menjalani proses transformasi yang menyakitkan selama 150 hari.

Saat melakukan transformasi itu, ia harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung, lalu membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses berlangsung. Menyendiri. 

Pertama, ia harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, dan kemudian menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya, dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yg panjang dan menyakitkan..!

Lima bulan kemudian, bulu-bulu yang baru itu akan tumbuh sempurna, sehingga ia mulai dapat terbang kembali.

Dengan paruh dan cakar baru, ia pun mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi. 

**
 
Bagi para Salik tentu tidak asing dengan istilah "Khalwat" --khususnya bagi para ahli thariqah--. Khalwat ini bisa dilakukan dengan cara "menyendiri dalam keramaian", atau bisa juga dengan cara "menyendiri dalam kesendirian". 

Seperti elang yang bisa melewati "kematian" nya meski harus menderita, begitupun dengan proses Khalwat yang harus bisa menempuh batas "kematian" si pelakunya, lalu melewatinya. Dan "dilahirkan" kembali. Cuma bedanya, kalau si elang itu naluri, kalau si Salik itu "Kecintaan dalam Sabar, Patuh dan Ketundukan".. 

"Matilah sebelum mati.." (Hadist)

"Manusia tidak akan bisa masuk ke (alam) malakutnya langit, kecuali telah dilahirkan dua kali seperti burung." (Nabi Isa as., dalam kitab Sirrul Asrar al-Jailani)

Burung itu dilahirkan dua kali, pertama keluar telur dari induknya, dan kedua, burung menetas dari telurnya. Dan begitupun manusia seharusnya, "dilahirkan" kembali dari "kandungan alam semesta". 
 
Semoga...
#ombad #tasawuf #dalam

11 July 2020

CERDAS, SENSE OF HUMOR

Sense of Humor adalah kemampuan seseorang untuk menangkap adanya sesuatu yang lucu dari sebuah peristiwa. Humor itu muncul karena aspek psikologis meresponnya dengan rasa riang dalam penerimaannya, dan akhirnya jadi SENYUM atau TERTAWA. Semakin mudah seseorang menangkap hal-hal lucu maka semakin tinggi rasa humornya. 
 
Orang yang memiliki rasa humor tinggi pasti CERDAS. Tidak mungkin mereka bodoh. Ketika menghadapi sebuah peristiwa, mereka bisa melihatnya dari berbagai sisi yang berbeda. Itu butuh kecerdasan tersendiri. Semakin cepat dan mudah menemukan sisi lucu dari sebuah kejadian, maka dia semakin cerdas. 

Humor merupakan salah satu bentuk kreativitas paling tinggi yang dimiliki manusia, dan Kreativitas ini merupakan kecerdasan paling tinggi yang dimiliki manusia. Artinya, rasa humor yang tinggi memang terhormat. Ia benar-benar merupakan bukti kecerdasan yang dimiliki seseorang. 
 
Dan ingat, Rasulullah SAW pribadi adalah sosok yang suka humor dan bercanda dengan teman-temannya (para Sahabatnya). Jadi salah jika kita selalu menganggap bahwa sosok Rasulullah itu serius, seram, arogan bahkan pemarah. Memang sih, masih banyak yang sebaliknya, jika kita lihat dari orang-orang yang katanya mengaku pengikutnya dan menjalankan sunnahnya, berperilaku keras getas serta pemarah. 
 
Ada kisah yang menunjukkan bahwa Rasulullah pun suka bercanda : 

Suatu hari..
Rasulullah bersama 'Ali bin Abi Thalib serta para Sahabat yang lain sedang makan kurma bersama-sama. Pada saat makan kurma itu biji kurma bekas 'Ali diletakkan di depan Rasul.
 
Ketika hampir selesai 'Ali berkata, “Ya, Rasulullah, kelihatan engkau sangat lapar karena makan kurma begitu banyak, lihat biji kurma itu banyak di depanmu..”
 
Dan Rasulullah pun menjawab, ”Bukannya engkau yang sangat lapar karena makan kurma bersama biji-bijinya. Lihat, tidak ada biji kurma di depanmu..” 
 
Seperti itulah.. 😁 
Dan postingan ini sebagai renungan juga, bahwa untuk menjalani kehidupan ini, kita perlu selalu ENJOY, RIANG, CERIA, biar bisa tetap BAHAGIA serta tidak stres dalam menghadapi kehidupan yang sebenarnya tidak berat, tapi dibuat berat oleh diri kita sendiri.

WHO LAUGHS LAST, THINKS SLOWEST. 
 
Semoga..
#ombad #hikmah 

15 May 2020

LAILATUL QADAR, SEBUAH PROSES & PUNCAK PENGALAMAN SPIRITUAL

Semua Muslim pasti ingin dan merindukan Lailatur Qadar, yg nilainya sama dengan "1000 bulan", meski kata "seribu" (alfi) dalam bahasa Arab (dulu) itu maknanya bukan sekedar jumlah 1000, tapi juga "hitungan tertinggi", bisa juta, milyar bahkan trilyun. Sebutlah Paling Puncak.

Jika mengganggap Lailatul Qadar sekedar "hadiah yang jatuh dari langit" maka nanti banyak orang yang lebih mementingkan hasil (orientasi hasil), hanya akan rajin ibadah saja di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan melempem lagi di hari-hari biasa.

Dalam beragama, yg harus dipahami oleh seorang hamba adalah istiqamah dalam beribadah. Awalnya Ritual lalu selanjutnya menyentuh perbaikan jiwa dan spiritual. Awalnya terasa berat memenuhi Kewajiban lalu akhirnya terasa ringan karena Kebutuhan. Jadi ada suatu "proses" perbaikan ke dalam diri maupun ke lingkungan sekitar, selaras dengan kata "sholeh" yg artinya "memperbaiki". Hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini.

Jika dianalogikan, Lailatul Qadar itu seperti putaran terakhir dalam pertandingan (misal) lari. Pertandingan yg dimulai sejak awal tahun (bulan Muharram), kemudian makin menguatkan niat pada Nisfu Sya'ban, semakin semangat dan fokus di Ramadhan, sampai memasuki putaran terakhir di akhir Ramadhan. Sampai akhirnya sukses memasuki garis finish menjadi juara, diberi selamat oleh para malaikat serta ruh-ruh orang sholeh, dan bisa naik podium diberi medali "kelahiran kembali", bertemu dengan "fitrah diri".

Jadi Lailatul Qadar itu adalah "suatu rangkaian dalam proses transformasi kesadaran" dan bukan sekedar "hadiah yg jatuh dari langit" ataupun "fenomena alam" yg tinggal ditunggu pada malam tertentu, sementara malam-malam lainnya tidak melakukan proses apa-apa. 

Jika "maqam" Lailatul Qadar itu berada di tingkat 100, maka akan sulit dicapai jika "modal awal" nya hanya di tingkat 20, karena Lailatul Qadar itu seperti "finalisasi" suatu rangkaian proses tahunan atau lebih. Ada rangkaian Sunatullahnya dan bukan merupakan sesuatu yg instan, karena Allah itu Maha Adil.

Allah Maha Adil dan Maha Mematuhi aturan yang dibuat-Nya (sunatullah). Hamba-Nya yang berproses akan lebih dicintai daripada yang tidak. Proses dari -2 ke 6 itu lebih baik daripada 6 ke 8, itu makanya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan berinstrospeksi, serendah apapun awalnya.

Sekali lagi, Lailatul Qadar itu merupakan bentuk dari keseluruhan proses Qurbah (pendekatan kepada Allah), dan bukan hanya sekedar hasil yang mudah didapat dan diraih dalam waktu semalam.

Dan itulah kenapa Rasulullah SAW tak pernah membocorkan kapan Lailatul Qadar terjadi. Rasul hanya memberikan prediksi dan tanda-tanda kedatangannya. 
 
**

Rasulullah SAW bersabda,

Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Siapa yg berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yg meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan. Dan siapa yg memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni'.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk memahami Hadist di atas, harus paham juga bahwa Allah itu tidak terpengaruh dimensi Ruang dan Waktu.

Jadi kata "turun" untuk Allah itu sifat mustahil bagi Allah, karena Allah itu Qiyamuhu bi Nafsihi (berdiri sendiri) tanpa ketergantungan dimensi Ruang dan Waktu baik arah atas, bawah, kiri, kanan, turun ataupun naik.

Secara proses, Hadist-hadist seperti itu harus dipahami sebagai bentuk perintah bagi kita agar kita berproses untuk "naik", bukan naik secara dimensi Ruang, tetapi "menaikkan kesadaran", menaikkan kualitas diri, sehingga kualitas kesadarannya "lebih mendekati" Allah, dan jadi lebih mudah berpeluang untuk mencapainya.

Atau dengan bahasa lain, kesadaran yg awalnya berada di alam Nasut/jasmani, akan berproses menuju Malakut, terus ke Jabarut, sampai akhirnya ke Lahut.

Jadi fokusnya bukan ke "Allah turun ke langit dunia", tetapi bagaimana kita bisa "menyongsong-Nya dari langit dunia" dengan cara menaikkan level "langit" diri. Itu makanya kapan terjadinya "lailatul qadar" pada seseorang merupakan suatu rahasia. Bukan kayak tanggal merah di kalender.. 😀

Berangkat dari pemahaman seperti ini, nanti kita dapat memahami (dan mudah-mudahan dapat mengalami), bahwa yg namanya Lailatur Qadar itu adalah "suatu rangkaian proses transformasi kesadaran" dan bukan sekedar "hadiah yg jatuh dari langit" ataupun "fenomena alam" yg tinggal ditunggu pada malam tertentu, sementara malam-malam lainnya tidak melakukan proses apa-apa. 

Jadi sesuatu yg lucu, jika ada yg koar-koar menjual acara "mencapai Lailatul Qadar" seharga berapa rupiah dalam sekali proses.. suatu pembodohan dan disantapnya pun oleh orang-orang bodoh. 

Dan orang-orang bodoh ini akhirnya berilusi dengan kemerasaan "maqam" kesadarannya. Merasa sedang di kesadaran tinggi, padahal sedang darah tinggi.. Merasa sedang melebur dan Fana', padahal sedang melamun dan terpana. 

Ya memang lucu dan menggelikan, soalnya alam di bawah Malakut pun belum selesai dilaluinya, lalu dengan bangganya merasa mendapatkan Lailatul Qadar dalam semalam. Cuma yg aneh, kenapa Jabarutnya belum kena/terakses, padahal kondisi "Lailatul Qadar" ada di Jabarut.

Jadi analoginya, jika "maqam" Lailatul Qadar ada di tingkat 100, ya sesuatu yg sulit dicapai jika "modal awal" nya hanya di tingkat 20, karena Lailatul Qadar itu seperti "finalisasi" rangkaian proses evolusi kesadaran per tahun atau lebih. Ada rangkaian Sunatullahnya dan bukan merupakan sesuatu yg instan, karena Allah itu Maha Adil. 
  
Sekali lagi, Lailatul Qadar itu merupakan bentuk dari keseluruhan proses Qurbah (Dekat kepada Allah), dan bukan hanya sekedar hasil yg mudah didapat dan diraih dalam semalam. Jadi bisa disebut bahwa Lailatul Qadar itu merupakan puncak pengalaman Spiritual seorang hamba di hadapan Tuhannya. 
 
Semoga.... 
#ombad #tasawuf #ramadhan

23 April 2020

HIKMAH PESAN RASULULLAH SAW MENJELANG RAMADHAN

Sy coba sarikan pesan dari khutbah Rasulullah SAW menjelang memasuki bulan Ramadhan (akhir bulan Sya'ban). Ada 6 pesan penting, yaitu : 
 
1. Pergunakan waktu sebaik-baiknya selama Ramadhan, khususnya dalam hubungan ibadah (transdental) dengan Allah SWT. 

- Penjelasan: Jadi berhubungan dengan fokus, konsisten dan totalitas. Belajar "men-satu-arahkan". Itu makanya ibadah puasa itu privasi antara makhluk dengan Tuhannya. 
 
- Goal: anda merasakan bahwa segala sesuatu menjadi Berkah. Dan puncak keberkahannya adalah "lailatul qadar". 
 
2. Kebajikan yang diaktualisasikan akan mendapat pahala berlipat ganda. 

- Penjelasan: Jika kita melakukan proses sebaik-baiknya, jangan khawatir urusan hasil. Tawakal saja. Sebutlah Pahala ini suatu kebahagiaan, dan ini ukurannya tidak linear karena berupa rasa. Semakin anda bisa khusyu, maka si rasa yang bisa anda terima akan semakin berlipat. Artinya ini berhubungan dengan hati, penyucian hati (thaharatul qulub) dalam kaitannya dengan nafsu-nafsu. Hati sebesar gelas, ya nampungnya cuma segelas, dst. Konteks pahala ini bukan sekedar hitungan logika, kecuali buat anak kecil yang masih suka permen. 
 
- Goal: Ketenangan, ketentraman dan kebeningan hati. Mukasyafatul qulub. 

3. Ingat bahwa bulan Ramadhan itu bulan untuk melatih kesabaran anda. 

Penjelasan: Bukankah rasa lapar dan haus --atau dengan bahasa anasir tubuh-- kekurangan "tanah" dan "air" akan meningkatkan dominasi "api" dan "angin" dalam tubuh..? "Api" dan "angin" ini akan berusaha memporak-porandakan "kestabilan" tanah dan juga "binding" nya fungsi air. Makanya yg kelaparan suka cepet esmosi. 
 
- Goal: Ujian hidup bisa dinikmati dengan penuh keyakinan dan positive thinking ke Allah. 

4. Belajarlah bersimpati/empati kepada orang lain. 

- Penjelasan: Kualitas iman seseorang itu berhubungan dengan kualitas pandangan terhadap sesamanya, makhluk lain dan alam sekitar. Artinya harus bisa menyeimbangkan antara hubungan transedental dan horizontal, antara manusia sebagai makhluk Tuhan dengan manusia sebagai makhluk sosial. 
Dan empati ini merupakan "buah" yang dihasilkan dari pohon ibadah. Seperti halnya pohon yang rindang dan berbuah banyak. Rindangnya meneduhkan orang di sekitarnya (dalam bentuk perbuatan dan perkataan), dan hasil buahnya itu sebagai bentuk empati (memberi kebaikan lahir maupun batin). Allah Mahabaik, jadi contohlah sifat-Nya. 
Betapa pentingnya kebaikan horizontal ini, sampai disebutkan begini, "barangsiapa yang memberi makan untuk berbuka kepada orang lain, maka pahalanya seperti puasanya orang tersebut.
Mudah-mudahan hadist ini bisa dipahami maknanya dan dirasakan esensinya. 
 
- Goal: Dirindukan para penghuni langit. 
 
5. Meningkatkan amal sholeh. 
 
Penjelasan: "Sholeh" itu maknanya memperbaiki, jadi berupa "kata kerja". Tidak statis, tapi dinamis. Artinya ini ada hubungannya dengan kreativitas masing-masing meski tetap dalam batasan koridor yang fix. "Meningkatkan" ini terkait secara kualitas dan kuantitasnya. 

- Goal : Mendapat Rahmat Allah, juga menjadi saluran rahmat. 
 
6. Memperbanyak berdoa dan meminta ampunan. 

- Penjelasan: Ini berhubungan dengan pembersihan diri, taubat, shafa (penyucian hati), dan juga "penerimaan". 

- Goal : kita ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepada kita. Tentu sebelumnya harus melewati tahapan tertentu (ahwal & maqamat). 

** 
Disarankan :
Sebelum memasuki bulan Ramadhan disarankan melakukan Mandi Wajib dan Shalat Taubat, serta Niat yang kuat terkait pengamalan dari ke-6 pesan Rasulullah SAW di atas. 

Semoga... 
#ombad #ramadhan #tasawuf 

07 April 2020

OPTIMIS, BUAH IMAN

Optimisme itu menyertai Kebenaran. Orang yang optimis itu akan berpikir positif, yakin kepada Tuhannya dan juga kepada dirinya sendiri. Dan selanjutnya, ia akan selalu berbaik sangka kepada Tuhannya.

Dalam sebuah Hadist Qudsi, Rasulullah SAW bersabda : 
 
إِنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا يَقُولُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فله. رواه ابن حبان

Allah SWT berfirman, 
Aku itu tergantung prasangka hamba-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Sebaliknya, jika ia berprasangka buruk, maka itulah yang didapatkannya.” (HR. Ibn Hibban, dari Abu Hurairah ra.)
 
Sebuah Hadist riwayat Imam Ahmad ra., 
 
Rasulullah SAW berkata, "Tidak ada perasaan buruk dan kesialan, dan yang lebih baik dari itu adalah rasa optimistis." 
Sahabat bertanya, "Apa yang dimaksud dengan rasa optimistis..?" 
Rasulullah menjawab, "Yaitu Kalimat Baik yang sering didengar oleh salah seorang dari kalian." 

Tumbuhnya sikap optimistis berkaitan erat dengan keimanan, terutama iman kepada Takdir, iman kepada Qadla dan Qadar. Artinya segala sesuatu yang menjadi ketetapan Allah itu akan selalu mengandung Hikmah dan Kebaikan. 
 
Jadi, tetaplah bersikap positif dan optimis, mau mati atau kiamat besok sekalipun..

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
 
Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah benih (tunas), maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari & Ahmad)
 
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah : 5-6)
 
Semoga...
#ombad #tasawuf #optimis 

27 March 2020

TASAWUF DALAM WABAH COVID-19

Corona atau Covid-19 itu wabah, jadi posisinya Sunatullah, sedangkan kematian itu takdir yang bersifat rahasia. Sunatullah adalah "setetes" takdir yang diberitahukan kepada manusia melalui ilmu pengetahuan, sedangkan yang dirahasiakan-Nya tetap bagaikan jumlah tetes air di lautan luas..

Penyakit merupakan salah satu sebab terjadinya kematian adalah benar, namun hakikat kematian itu sendiri adalah takdir yang dirahasiakan-Nya..

Membandingkan antara Sunatullah dan Takdir termasuk analogi yang tidak tepat karena berbeda kedudukan dan sifatnya. Doa itu kan bukan pengganti disinfektan.. 😀.. jadi berdoa dan menjaga kesehatan/berobat harus dijalankan secara bersamaan.. Dan biarlah Takdir kematian itu kita serahkan kepada Yang Maha Memiliki Kehidupan dan Kematian. 
 
Pendekatan agama, sebutlah itu untuk kondisi batin (jiwa), setidaknya akan menguatkan keyakinan, sugesti, kepercayaan diri, bisa membebaskan kekalutan, ketakutan serta perasaan buruk lainnya, sehingga hasilnya (baca: kondisi kejiwaan yang positif) secara tidak langsung akan mempengaruhi secara tidak langsung akan mempengaruhi penguatan pikiran (mind/brain power), lalu si brain power ini bisa mengkoordinir, membentuk dan menguatkan sistem penunjang imunitas tubuh, dan ini salah satu efek positifnya. 
 
Tetapi yang pasti adalah selalu berusaha semaksimal mungkin dalam melakukan metode untuk pencegahan, penyebaran wabah, dan juga terapi khusus bagi penderita (sesuai dengan ilmu kesehatan), sebagai penunjang kesembuhan.. dan inilah Sunatullah. 

Keseimbangan dalam berpikir dan bertindak baik secara lahir maupun batin tentu sangat berhubungan dengan kematangan pemahaman nilai-nilai agama, yang ujungnya adalah nilai-nilai kehidupan. 
 
Bukankah "Kebersihan sebahagian dari iman.." atau "Bersuci itu separuh iman.." dalam konteks agama pun tidak lepas dari dukungan sains dan ilmu kesehatan..? Bukankah alat penunjang Kebersihan juga dibuat berdasar sains, begitu pun pengukuran kualitas air, produk alat kebersihan diri (sabun, disinfektan, dll), tata cara kebersihan lingkungan, penanggulangan wabah, dsb. Bukankan itu semua tidak sekedar "kebersihan batin" yang mungkin bisa didekati dengan doa, ibadah dan dzikir aja..? 
 
Jadi sesuatu yang tidak lucu jika cara menangkal wabah penyakit melalui ritual-ritual ibadah secara bersama-sama (berjamaah) lalu kumpul di tempat yang tidak steril. Itu namanya "suatu perkara yang tidak diserahkan kepada ahlinya maka tunggulah kerusakannya". Bukankah dalam setiap perkara itu penyelesaiannya harus sesuai dengan bidang keilmuannya..? Jadi jangan sampai terbalik donk dalam memposisikan keilmuan sebagai solusi bagi umat. Mau nipu umat ya..? 😀 
 
Ah, padahal tanpa ada wabah penyakit pun seringkali para salik disarankan melakukan "lockdown", atau sementara melakukan "social distance". Iya, mereka ber-uzlah atau ber-khalwat siang dan malam, berhari-hari tanpa tidur sedikitpun, karena "melihat" ke dalam diri, lalu meneliti ke dalam diri itu membutuhkan totalitas dan ketenangan di hadapan Tuhannya.. 
 
Semoga...
#ombad #tasawuf #dalam 

21 March 2020

WABAH PENYAKIT, LOCKDOWN

Pada tahun 18 H, Khalifah 'Umar bin Khatthab ra. dari Madinah berkunjung ke negeri Syam.

Mereka berhenti di daerah perbatasan sebelum memasuki Syam karena dapat informasi bahwa ada wabah penyakit (tha'un) sedang melanda negeri Syam. 
 
Abu Ubaidah yg waktu itu menjabat sebagai Gubernur Syam pun datang ke perbatasan untuk menemui rombongan Khalifah.

Apa yang harus dilakukan terkait wabah penyakit ini..? Meeting pun dilakukan, apakah mereka harus masuk ke Syam atau pulang kembali ke Madinah. 

Perdebatan urusan wabah penyakit ini sangat alot. Pendapat dan saran dari sahabat Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yg ikut Fathul Makkah belum ada kata sepakat, saling berbeda pendapat..

Akhirnya seorang pembesar Quraisy memberi usulan agar 'Umar sebagai Khalifah mengevakuasi orang-orang yang terkena wabah itu dan jangan biarkan rombongan (yang sehat) mendatangi daerah wabah penyakit tersebut. 'Umar pun menyetujui dan menentukan solusinya.

Abu Ubaidah ra sebagai Gubernur Syam waktu itu tetap ingin supaya rombongan khalifah masuk ke Syam, sampai ia bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, apakah ini lari dari takdir Allah..?"

'Umar pun menjawab, 

"Mestinya orang selain engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah. Benar, ini lari atau berpaling dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Tidakkah engkau melihat, seandainya saja engkau memiliki unta dan lewat di suatu lembah, lalu menemukan dua tempat untuk untamu; yang pertama subur dan yang kedua gersang, bukankah ketika engkau memelihara unta itu di tempat yang subur, berarti itu adalah takdir Allah. Demikian juga apabila engkau memeliharanya di tempat yang gersang, apakah itu juga takdir Allah..?"

Dan kebetulan, Abdurrahman bin Auf yang baru datang, memberi keterangan bahwa ia tahu tentang masalah ini karena pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : 

"Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, janganlah kalian mendatanginya." 

Perlu diketahui, 
Wabah ini menyebabkan hampir separuh penduduk Syam meninggal, yaitu sekitar 25 ribu orang. Gubernur Abu Ubaidah pun ikut jadi korban, termasuk sahabat Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr, dll. 

Wabah penyakit di daerah Syam ini mulai bisa ditanggulangi saat Amr bin Ash ra jadi Gubernur Syam, dan salah satu perintahnya adalah, 
 
"Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung."  

Akhirnya wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar.

Semoga...
#ombad #umar #thaun #covid19 

16 December 2019

ADAM DAN MANUSIA PURBA

Dalam tinjauan Al-Quran, klasifikasi manusia itu ada 3 jenis, yaitu : 
 
1. Manusia sebagai AL-BASYAR, yaitu lebih ke "makhluk biologis" seperti halnya hewan, yaitu: ada bentuk atau postur tubuh, anggota badan, mengalami pertumbuhan atau perkembangan jasmani, makan, minum, melakukan hubungan seksual, beranak-pinak, dsb. 
 
2. Manusia sebagai AL-INSAN, yaitu manusia sebagai makhluk istimewa, ber-ilmu pengetahuan, punya nilai moral serta spiritual. Inilah inti dari manusia sebagai khalifah dan pemikul amanah (pemikul al-wilayah al-Ilahiyah).
 
3. Manusia sebagai AN-NAAS, yaitu manusia sebagai makhluk sosial yang harus bisa mengatur kehidupan sosialnya. 

Manusia purba itu poin 1 atau Al-Basyar saja, tetapi Adam adalah "manusia pertama" yang utuh, baik sebagai manusia Al-Basyar, Al-Insan maupun An-Naas. Dalam tasawuf ada istilah Al-Insan Kamil
 
Ibn Khaldun menggambarkan manusia purba ini sebagai alam kera (Alamul Qiradah), yang tidak memiliki kosa kata yang cukup untuk berkomunikasi (lebih ke bahasa isyarat atau simbol), juga penggunaan alat bantu yang sangat terbatas. 

Hal ini berbeda dengan Adam --sebagai "manusia pertama" di bumi-- yang sudah mampu berkomunikasi menggunakan bahasa lisan serta sudah dibekali ilmu pengetahuan.  

"Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, 'Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini jika kamu yang benar'.." (QS. Al-Baqarah: 31)

Artinya Adam, serta generasi selanjutnya sudah memiliki pengetahuan tinggi untuk hidup di dunia. Misal, Nabi Idris telah memiliki kemampuan menulis, 

"Ada seorang Nabi yang menulis di atas pasir." (HR. Muslim)
 
Dalam Hadist lain, 

".. Nabi Idris adalah manusia pertama yang menulis dengan pena.." 

Dalam Al-Quran, kata "An-Naas" lebih banyak dibanding kata "Al-Insan", apalagi dibanding kata "Al-Basyar". 

Hal ini menyiratkan bahwa kualitas manusia itu harus bisa menjadi "An-Naas" dimana ia bisa mengatur aspek-aspek sosial serta budaya di dalam kehidupannya. Hal ini bisa dicapai jika masing-masing diri bisa memunculkan dan menguatkan sifat "Al-Insan" nya, bukan sekedar jadi makhluk biologis "Al-Basyar" saja, karena betapapun primitifnya, manusia itu bisa melakukan segala sesuatu yang dilakukan binatang sehingga seringkali kelewat batas dan tak terkendali. 

Jadi, tinjauan Teori Evolusi itu lebih ke konteks "Al-Basyar" aja, ada "penyesuaian" karena terikat ruang dan waktu. Dan tentunya bisa berbeda jika dalam posisi "Al-Insan" ataupun "An-Naas" karena lebih timeless and spaceless. 

Semoga...
#ombad #tasawuf

16 November 2019

KEBENINGAN

Kebeningan Qalbu itu merupakan hasil dari Kebersihan Hati, sedangkan Kebersihan Hati itu sendiri sangat dipengaruhi kualitas dalam proses "tadzkiyatun nafs". 

Kualitas Kebeningan Qalbu ini mempunyai korelasi dengan kualitas kejelasan "pandangan". Jelas atau tidaknya "pandangan" ini sangat dipengaruhi sedikit atau banyaknya hijab-hijab penghalang dalam hati. Sebutlah "intuitive filtering".
 
Rasulullah SAW bersabda, 

Mimpi orang Beriman itu merupakan seperempat puluh enam dari Kenabian.” (HR. Bukhari & Muslim, dari Anas ra.) 
 
"Mimpi" yang dimaksud di Hadist ini adalah "mimpi afaqi" atau petunjuk melalui Kebeningan Qalbu. Inilah yang disebut "pandangan" baik melalui mimpi ataupun melalui "Yaqazah" (penglihatan langsung dalam kondisi sadar). 
 
Dan juga, karena "jelasnya pandangan" maka semakin Qalbunya Bening, maka akan semakin mudah dalam mendeteksi "noda hitam" yang akan masuk ke hatinya. 
 
Rasulullah SAW bersabda: 

"Fitnah-fitnah akan melekat di hati bagaikan tikar, dengan berulang-ulang. Setiap hati yang termakan fitnah itu, maka pada hatinya akan terdapat bintik hitam dan setiap hati yang menolaknya, maka akan muncul bintik putih. Sehingga hati tersebut menjadi terbagi dua, putih yang bagaikan batu besar, sehingga tidak akan terkena bahaya fitnah, selama masih ada langit dan bumi. Sedangkan bagian yang lain hitam keabu-abuan seperti kuali terbalik, tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, kecuali hanya hawa nafsu yang diserap (hatinya)." (HR. Muslim, dari Hudzaifah ra.)
 
Selanjutnya, semakin Qalbunya Bening, maka akan semakin mudah "memisahkan" mana yang hawa nafsu dan mana yang bukan. 

Semakin Qalbunya Bening, maka akan semakin "jelas" mana yang Baik dan mana yang Buruk, sekalipun Keburukan itu disembunyikan (dibalut) dalam Kebaikan, atau sebaliknya. 

Dan semakin Qalbunya Bening, akan semakin Qana'ah dan Tawadhu baik ke luar maupun ke dalam dirinya untuk lebih bersikap Adil dalam mencari Kebenaran, seperti yg dikatakan Rasulullah SAW: 

“Bangunan yg benar harus di atas yang benar. Membangun kebenaran di atas kebenaran akan benar. Membangun kerusakan di atas kerusakan akan rusak." 

Dari uraian di atas bisa diambil kesimpulan, jika memang qalbunya Bening maka para Ahli Agama, atau para Ulama, atau yang mengaku Orang Beriman itu harusnya tidak bisa "termakan fitnah" dan sulit untuk diadu-domba karena ia lebih jelas dalam memandang, jelas bisa membedakan mana yang benar (haq) dan mana yang tidak. Harap bisa dibedakan antara kata "difitnah" --yang memang merupakan hidangan sehari-hari para Ulama asli--, dengan "termakan fitnah" yaitu ikut terbawa dan bermain dalam "putaran arus" fitnah. 

Jika sebaliknya, ya berarti belum bisa dikelompokkan ke dalam kelompok Orang Beriman meski merasa sebagai Orang Beriman, karena qalbunya masih belum Bening, hatinya masih banyak hijab-hijab nafsu, apakah itu berupa hijab kepentingan pribadi, kepentingan duniawi, kesombongan, ego, emosi, rasa memiliki, eksistensi dan juga keakuan (ananiyah). 
 
Semoga.. 
#ombad #tasawuf 

Ket. Foto.. 
Mesjid Baiturrahman, Banda Atjeh, Hindia Belanda 1893 
 

14 November 2019

BIDADARI DALAM PEMISALAN

Seseorang bertanya, "Om, apakah bidadari ada..?" 
 
Pemisalan atau istilah Arabnya "matsala" dalam kitab suci itu akan selalu ada dan banyak. Pemisalan atau metafor-metafor ini ada karena perlu adanya penyederhanaan makna dari sesuatu yang berada di dimensi tinggi dengan kompleksitas serta rasa yang lebih tinggi. Sementara penerimanya berada di dimensi yang lebih rendah dengan bahasa dan akal yang lebih terbatas. 

Seperti halnya penggambaran surga yang sejuk, berpadang rumput, bersungai banyak dengan air jernih, bahkan air susu. Iya, karena manusia yang dihadapi pada waktu itu kondisi lingkungannya panas, gersang, kurang air sehingga air begitu berharganya, serta air susu pun menjadi minuman sehari-hari yang lebih mudah didapat daripada air tawar.

Ibn Abbas ra. pernah berkata:

لَيْسَ فِى الْجَنَّةِ شَيْءٌ مِمَّا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ الأَسْمَاءَ

"Tidak ada sesuatupun yang ada di surga dari perkara-perkara yang ada di dunia kecuali hanya sekedar nama-nama." 

Begitupun dengan bidadari. Tentu akan lebih mudah menjelaskan tentang "keindahan" dari isi surga dengan sesuatu yang bersifat fisik, apalagi ketika berhadapan dengan karakter orang Timteng (daerah gurun) pada abad 7 M.. 
 
Gimana cara menghadapi orang-orang dengan lingkungan yang buas, peminum minuman keras, penyuka pesta sex, tukang nyulik cewek, tukang rebut cewek, tukang perkosa, bunuh-bunuhan, perang antar suku, saling rebut cewek antar suku, dsb.. 

Pembelajaran seperti apa yang harus diberikan kepada orang-orang di lingkungan keras, lebih preman dari daerah beling seperti itu..?

Ya, salah satunya adalah dengan cara "menggeser waktu" buat bersenang-senang tanpa batas, nanti aja pada waktu akherat, yang penting sekarang itu hidup di dunia ini harus lebih baik, tertib dan beradab. Jadi di dunia sekarang mah jangan dulu seperti itu, nanti aja di akhirat. Pasti akan lebih enak dan nikmat kalo nanti di surga akhirat, nikmatnya pun berkali-kali lipat. 
 
Mau apa.. minum..? Silakan minum apapun yang paling enak.
Mau cewek cantik..? Ada, bahkan lebih cantik berkali-kali lipat kualitasnya, sekelas bidadari. Jumlahnya pun bukan hanya 4 orang, bahkan bisa lebih, untuk awal masuk aja langsung dapat 72 bidadari.. selanjutnya tak terbatas..!

Rasulullah SAW bersabda: 
 
"Tiada mata pernah melihatnya (nikmat surga itu) dan tiada pula telinga pernah mendengarnya, tidak pula pikiran manusia dapat membayangkannya." (HR. Bukhari)

Nah, jika anda punya anak kecil, pasti akan bisa paham apa itu mengiming-imingi, tentu dengan tujuan yang baik, agar karakter anak yang tadinya bandel berubah menjadi lebih baik.. adakalanya dengan mengiming-imingi, adakalanya juga dengan menakut-nakuti.. seperti itulah. Sampai akhirnya kita harus bisa berada diantara Roja' (rasa harap) dan Khauf (rasa takut). 

Dan selanjutnya, ketika aspek "pemisalan" secara fisik ini sudah "terlewati", hadist ini akan lebih mudah untuk diambil hikmahnya :

Rasulullah SAW bersabda :
 
Allah memiliki surga yang tanpa bidadari dan istana serta tanpa madu dan susu. Kenikmatan di surga itu hanya satu, yaitu melihat Dzat Allah.” 
 
Untunglah.. dalam Rukun Iman tidak ada perintah untuk beriman kepada bidadari.. 😂 
 
Semoga..
#ombad #tasawuf 

Ket. Foto
Bidadari Island Beach

21 October 2019

BERAGAMA PALSU

Calon Penghuni Surga yang sebenarnya tentu berbeda dengan yang merasa memiliki surga. Salah satu perbedaannya adalah masalah ADAB, karena Adab ini merupakan hasil beragama (secara esensi). Itu makanya Rasulullah SAW mengatakan, 

Seorang Mukmin bukanlah orang yang suka mencela dan bukan orang yang suka melaknat serta bukan orang yang suka bicara jorok dan kotor..” (HR. Bukhari, dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra.)

Orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafa’at dan tidak pula syuhada pada hari kiamat..” (HR. Muslim)

Jadi yang dibutuhkan oleh mereka itu adalah upaya dalam pembersihan jiwa (nafs) dan hatinya, supaya bisa mendekati derajat para calon penghuni surga, yaitu para Shidiqqun (bening, jelas). Sehingga diharapkan adanya peningkatan kualitas Adab atau budi pekertinya ke arah yang semakin baik sesuai dengan esensi dari hadist ini, 

Tidak sepatutnya bagi seorang Shiddiq menjadi pelaknat.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah ra.) 

Sungguh sangat disayangkan jika selalu membawa agama dan Tuhan bahkan mengatasnamakan-Nya, tetapi gagal dalam beragama dan Kemanusiaan. 
 
Dan sungguh mengkhawatirkan ketika hasil beragama hanya jadi "merasa beriman" lalu secara terang-terangan selalu mengecam bahkan melaknat yang lain yang dianggapnya setan/iblis, sementara dirinya tanpa sadar merupakan temannya setan/iblis ketika dalam Kesunyian.
 
Ya, memang setan di dalam diri itu sulit ditemukan.. meski sudah bisa diketahui "bayangan setan" nya, yaitu Kebencian. 
 
Semoga..
#ombad #tasawuf 

09 September 2019

TASAWUF DALAM KECEMBURUAN

Ahh... memang cemburumu itu lahir dari cinta, karena takut ikatan cintaku melemah dan hilang, seperti halnya ketakutan jika ada yang lain menempati ruang-ruang hati sang Kekasih.

Ohh... kadang kau putuskan setiap tali yang akan mengikatku untuk menjauhimu. Kau putuskan tali yang satu ke tali yang lain dan aku hanya bisa terdiam pasrah, seperti halnya tubuh yang terus-menerus terdesak mundur dan akhirnya punggung pun menempel dinding batu, terpepet dalam kepasrahan.

Kuingat... seringkali kaupaksa agar ketidak-patuhanku kepadamu berujung ambruk dalam keheningan.

Kuakui... seringkali rasa sukamu menggiringku agar tunduk serendah-rendahnya sampai air mata tak dapat kubendung seperti halnya kepatuhan awan untuk menyirami tanah gersang.

Kupaham... seringkali pikiranku dalam kebingungan yang memuncak ketika mempertimbangkan rasa cemburumu dan aku tidak bisa mengelak akibat dari rasa cintamu.

Kurasa... seringkali kaudatang tiba-tiba dengan penuh hasrat dan ketika kupandang cermin, keindahan wajahmu dalam cermin telah menawan diriku, serasa aku mencintai diriku sendiri. Ahh, di cermin itu yang ada hanya gambaran wajahmu.

Kusadar... aku dari bawah ke atas, Engkau dari atas ke bawah. Mendekatimu yang Sendiri, tidak bisa dengan sendiri.

Ahh, Cinta... kecintaanmu kebutuhanku tetapi keinginanku kecemburuanmu. Kecintaanmu kesendirianku tetapi keramaianku kecemburuanmu. Kecintaanmu kelemahanku tetapi kekuatanku kecemburuanmu. Kecintaanmu kebisuanku tetapi perkataanku kecemburuanmu. Kecintaanmu kepasrahanku tetapi tanda-tanyaku kecemburuanmu.

Iya... Engkau memang Pencemburu seperti kata utusanmu.

Dan aku tetap menyelam dalam keheningan mutiara serta kedalaman permata dengan iringan kepakan sayap-sayap rajawali.

**

Aku : "Mengapa aku tidak pernah mendengar suara Tuhan..? Padahal aku sangat rajin berdoa."
Diri : "Karena kamu terlalu sibuk bicara dan tidak memberikan kesempatan Tuhan bicara."
Aku : "Bagaimana mendengar suara Tuhan..?"
Diri : "Tutup kedua telinga, kedua mata dan mulutmu, lalu bukalah pintu hatimu."

"Allah itu pencemburu dan orang beriman juga pencemburu. Cemburu-Nya adalah sifat yang muncul bilamana seorang hamba yang beriman melakukan apa yang telah dilarang-Nya." (HR. Bukhari, Muslim & Tirmidzi, dari Abu Hurairah ra.)


Semoga...
#ombad #tasawuf #dalam

31 August 2019

LIDAH DI BELAKANG HATI

Banyak hal yang tidak tampak (baca: hati, iman) mudah dihukumi oleh orang-orang yang belum paham agamanya. Jauh berbeda dengan para alim ulama yang kualitasnya sudah tidak diragukan lagi, dimana mereka hanya menghukumi hal-hal yang tampak karena hanya Allah yang menguasai hal-hal yang tidak tampak.

Seorang sahabat pun, yaitu Muadz bin Jabal ra. pun pernah mendapat teguran keras dari Rasulullah SAW saat dengan ringannya menuduh "munafik" seorang Muslim. Rasulullah menegurnya dengan kalimat:

اتحب ان تكون فتانا

"Apakah kamu suka menjadi tukang fitnah..?!"

Rasulullah SAW marah karena Muadz tidak punya hak untuk menghakimi seseorang itu pantas disebut sebagai munafik atau tuduhan buruk lainnya.

Jadi, belajarlah menahan ucapan (lidah) ataupun tulisan, jangan mudah menghina ataupun melempar tuduhan-tuduhan yang buruk terhadap sesama karena bisa menyakitkan hati orang lain juga, bukankah “Mereka-mereka itu adalah orang-orang yang hanya Allah yang mengetahui apa yang ada di hati mereka…" (QS. An-Nisa’ : 63)

"Lidah orang berakal berada di belakang Hatinya, sedangkan Hati orang bodoh berada di belakang lidahnya." ('Ali bin Abi Thalib kw.)

Begitupun yang dikatakan Hasan Al-Bashri ra. (lahir 642 M, masa kekhalifahan 'Umar bin Khatthab ra.) :

Sesungguhnya lidah orang beriman berada di belakang hatinya. Apabila ingin bicara tentang sesuatu maka dia merenungkan dengan hatinya terlebih dahulu, kemudian lidahnya menunaikannya. Sedangkan lidah orang munafik berada di depan hatinya. Apabila menginginkan sesuatu maka ia mengutamakan lidahnya daripada memikirkan terlebih dulu dengan hatinya.”


Semoga..
#ombad #tasawuf

24 August 2019

TAK ADA.... JUDUL.

Dalam kekosongan, pikiran akan diam dari segala sesuatu, seperti sebuah tanah kosong yang siap ditanami. Dan benih-benih pun akan tersemai jika "getaran buta dari cinta" dalam kalbu sudah muncul.

Benih-benih ini akan tumbuh dengan subur jika "Awan Ketidaktahuan" semakin membesar, dan akhirnya menurunkan tetesan-tetesan pengetahuan (gnosis, makrifat) dari langit, seperti halnya tetes-tetes hujan yang menumbuhkan benih dan menyuburkan tanah.

Lalu pohon-pohon pun tumbuh berkembang dan nantinya siap untuk dipanen, berbuah kebijaksanaan ('Arifin).

Dan tetap, kemuliaan-Nya akan menempatkan sang diri dalam lekuk batu sambil ditutupi, tetap rahasia serta menjadi misteri, dan "ketidaktahuan" tetaplah "ketidaktahuan".. karena "Ehyeh asyer Ehyeh" (Aku adalah Aku) akan tetap tidak bisa dipahami oleh akal. Ya, di atas akal, jauh melewatinya.

Dan akhirnya yang tersisa adalah al-Hasrah (pilu hati), al-Hairah (rasa kacau), al-Walah (kebingungan) dan al-Haiman (kehausan cinta). Iya, itulah Martabat al-‘Ama’.

**

Menurut Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs,

Martabat Ahadiyah atau disebut juga al-‘Amâ’ adalah martabat yang tidak ada ruang bagi auliya’ dan ulama (untuk menggapainya), melainkan hanya al-hasrah (pilu hati), al-hairah (rasa kacau), al-walah (kebingungan) dan al-haiman (kehausan cinta).

Martabat Ahadiyah merupakan martabat yang menjadi puncak tertinggi pencapaian para nabi dan ujung suluk para wali. Setelah (sampai di martabat) itu, mereka akan 'berjalan' di dalamnya dan pasti akan menuju kepada Allah, hingga mereka semua akan mengalami istighrâq sampai mengalami al-hairah (kebingungan spiritual) dan fana’. Tiada Tuhan selain Dia (laa ilaaha illaa huwa).

Segalanya musnah kecuali Wajah-Nya (kullu syai’ haalik illaa wajhah).

Allah menarik perhatian hamba-Nya untuk selalu bergerak dan berjalan menuju ke jalan-Nya (sebagai bentuk bimbingan dan pengajaran kepada mereka) melalui doa-doa yang dipanjatkan kepada-Nya serta dalam munajat-munajat (dzikir) bersama-Nya. Dalam doa-doa dan munajat-munajat itu, terdapat isyarat akan kembalinya yang banyak menuju tunggal yang sempurna yakni kamal al-wihdah yang mengenyahkan keberbilangan (nihayah al-katsrah).

Artinya, ketika Allah ingin membimbing hamba-hamba-Nya ke Martabat Ahadiyah tersebut, maka hamba-Nya ini akan terdorong hatinya agar mereka selalu ber-tawajuh dan ber-taqarub secara terus-menerus sampai menjadi sebuah kebutuhan.

Proses tawajuh dan taqarub mereka akan berakhir pada ‘isyq dan mahabbah yang paling hakiki (al-haqiqah al-haqqiyyah) saja, hingga menyebabkan runtuhnya penyematan (al-idhafat) yang melahirkan kesan pada keberbilangan atau dualitas terhadap Allah, yang setelah itu, niat mereka menjadi murni dan layak untuk fana'.

Bingung artinya sudah tidak bisa distrukturkan oleh akal, walau akal kulli sekalipun. Sejago-jagonya akal, itu masih ciptaan-Nya. coba hubungkan dengan QS. al-Ikhlas ayat 4, yang esensinya semua makhluk (beserta organ-organ pendukungnya; akal, logika, perasaan) itu tidak akan bisa mendefinisikan Penciptanya.
Kalau masih bisa ditangkap akal, masih disebut karakteristik dualitas, makhluk. Itulah kenapa bingung (al-hairah, al-walah).

Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Ruhku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Cahayaku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Qalam. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Akal.” (HR. Abu Daud)

Dari hadist inipun, tersirat bahwa akal (kulli) menempati peringkat yang paling bontot, dibanding dengan ruh.. seperti yang disebutkan dalam sebuah hadist,

"Aku dari Allah dan orang-orang yang beriman berasal dari diriku."

.
.
Semoga..
#ombad #tasawuf

23 August 2019

MEMINTA MAAF

Kata MAAF itu dari al-Afwu yang berarti menghapus, atau lebih tepatnya menghapus kesalahan-kesalahan..

Tidak mau meminta maaf karena tidak merasa bersalah itu bisa bentuk dari Sombong.. karena :

"Semua anak cucu Adam pernah melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. at-Tirmidzi)

Hidup di dunia itu harus bisa seimbang antara aspek vertikal dengan horizontal. Dalam aspek horizontal (muamalah, sosial), benar atau salah itu bisa relatif, karena belum tentu benar yang diyakini diri sendiri itu kebenaran juga bagi orang lain, dsblk.

Jika menurut diri sendiri benar, tapi yang dianggap benar ini menyakiti orang lain, maka sebaiknya meminta maaf jika memang masih punya sifat rendah hati, dan hatinya ingin ditingkatkan kualitas maupun maqamnya (makin diperlembut).

Mudah-mudahan yang mudah meminta maaf bisa "terbebas" dari "kebangkrutan" seperti yang diterangkan dalam hadist ini :
 
"Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu Mencaci-maki, Menuduh, Makan harta orang lain, serta Membunuh, dan Menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim)

Tuh lihat, "Menyakiti orang lain" ini ada di urutan terakhir, artinya paling berat. Tetapi kalau tetap memilih untuk keukeuh berhati batu.. ya silakan..

"Maka janganlah kamu merasa dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An-Najm : 32)


Semoga..
#ombad

22 August 2019

KEPERCAYAAN

Tuhan menampakkan diri-Nya kepada seorang hamba sesuai dengan Kesiapan dan Kapasitas hamba-Nya dalam pengetahuan (pemahaman) nya. Kapasitas pengetahuan ini tergantung "kesiapan pastikular" masing-masing, sampai akhirnya bisa lengkap (kesiapan universal).

Begitupun, kepercayaan seorang hamba kepada Tuhannya inipun akan dipengaruhi oleh kapasitas pengetahuannya. Dalam konteks tasawuf, tentu berbeda pemahaman antara makrifat asma, af'al, sifat ataupun dzat. Seperti halnya antara air, es, uap air dan molekul H2O.

Jadi bisa disebut bahwa Tuhan yang diketahui oleh seorang hamba itu identik dengan Tuhan dalam kepercayaannya (ilah al-mu’taqad).

Dan karena perbedaan kapasitas, seringkali tidak ada titik temu, lalu akhirnya banyak yang mengambil "jalan pintas" yaitu menganggap kepercayaannya itu sebagai satu-satunya yang benar serta menyalahkan kepercayaan orang lain.

Jadi karena kebodohan, banyak yang memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu adalah Tuhan yang sebenarnya yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai oleh orang lain dan dianggapnya salah.

"Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentu kuda akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai sapi, dan dengan demikian mereka akan mengenakan rupa yang sama kepada tuhan-tuhan seperti terdapat pada mereka sendiri. Orang Etiopia mempunyai tuhan-tuhan hitam dan berhidung pesek, sedangkan orang Trasia mengatakan bahwa tuhan-tuhan mereka bermata biru dan berambut merah." (Xenophanes, 570-480 SM)

** H. Diels W. Kram, Die Fragmente der Vorsokratiker, Griechisch und Deutsch, 3 vol. (Berlin, 1934-1937)

Rasulullah SAW pun pernah bersabda,

Aku melihat Tuhanku dalam rupa pemuda yang sangat elok.”


Semoga..
#ombad #tasawuf

21 August 2019

MADINAH, BUKAN YASTRIB

Sekitar tahun 2600 SM setelah banjir jaman Nabi Nuh as. surut, mereka yang selamat ada yang sampai ke wilayah Madinah, yaitu Yatsrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Iram bin Abil bin Iwadh bin Iram bin Sam bin Nuh as.

Setelah ditemukan oleh Yastrib bin Qaniyah, akhirnya dinamakan YASTRIB, dan selanjutnya daerah ini menjadi tujuan bagi orang-orang yang melarikan diri (eksodus) dari tempat asalnya, entah disebabkan konflik ataupun ekonomi.

Rasulullah SAW pernah berkata ketika mendapat perintah hijrah,

Aku diperintahkan pada sebuah desa yang memakan desa yang lain. Mereka mengatakan Yatsrib, padahal namanya Madinah, (Madinah) itu membersihkan manusia seperti api yang membersihkan kotoran besi.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah ra.)

Rasulullah tidak menyukai penyebutan YASTRIB karena maknanya : "Mencela" dan "Menghardik" (dari Tastrib, lihat surah Yusuf ayat 92). Itu makanya diganti MADINAH, sampai disebutkan dalam sebuah hadist, “Barangsiapa menyebutnya Yastrib dianggap melakukan sebuah dosa.” (HR. Ahmad, dari Isa bin Dinar ra.)

MADINAH, yang akar katanya sama dengan DIN (dal-ya-nun) ini bermakna dasar PATUH, atau bisa dimaknai juga BERADAB.

Pemilihan nama MADINAH oleh Rasulullah SAW ini tentunya terkait visi Beliau dalam pola kehidupan sosial, dimana nilai-nilai yang harus diterapkan untuk membangun sebuah peradaban (islami) itu adalah KEPATUHAN (kesadaran umum untuk patuh kepada peraturan atau hukum), KETERATURAN, KESOPANAN dan kehidupan yang lebih BERADAB.

Dan Allah SWT pun mengabadikan nama Madinah ini lebih dari satu ayat, yaitu Surah at-Taubah (ayat 120), al-Ahzab (ayat 60) dan al-Munafiqun (ayat 8).

Beberapa alasan dipilihnya Madinah sebagai tujuan hijrah :

- Penduduknya memiliki sikap ramah, khususnya suku yang berasal dari Yaman, yaitu suku Aus dan Khazraj.

- Penduduk Madinah memiliki pengalaman berperang, karena Suku Aus, suku Khazraj, dan komunitas Yahudi Madinah sering berperang.

- Rasulullah memiliki hubungan darah dengan penduduk Madinah, yaitu Bani Najjar (saudara dari ibunya).

- Letak Madinah yang strategis, dimana sebelah Timur dan Barat merupakan sebuah wilayah yang terjal, serta hanya dari sisi Utara yang menjadi wilayah terbuka (bagian yang dibikin parit oleh Salman al-Farisi ketika terjadi Perang Khandaq).

Jadi sekali lagi, salah satu visi Rasulullah SAW itu adalah terciptanya suatu peradaban yang didasari Kepatuhan terhadap aturan atau hukum, Keteraturan, Kesopanan dan kehidupan yang lebih Beradab.
 
  .
Semoga..
#ombad #sejarah #madinah

**

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖيَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Pada hari ini tidak ada CERCAAN terhadap kalian. Mudah-mudahan Allah mengampuni kalian, dan dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf : 92)


13 August 2019

BENCI DIANTARA DUA CINTA

"Lebih mudah menghancurkan gunung jadi debu daripada menanam Cinta pada hati yang penuh Kebencian." (Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw.)

Ego, meskipun sulit dihancurkan (baca : dikendalikan), tapi bukan sesuatu yang tidak mungkin hancur. Ketika Ego dibiarkan maka akan makin membuat kesombongan pun menjulang tinggi. Hati pun akan makin keras seperti batu, bahkan lebih keras dari batu. Ego bisa makin kuat karena hatinya makin keras, seperti halnya gunung yang kokoh karena bebatuannya banyak.

Seorang Hamba di hadapan Tuhannya itu seperti sebutir debu yang sangat kecil bahkan lebih kecil lagi, hanya sebutir zarrah.

Debu yang jatuh dan menyatu rata dengan tanah --yang menjadi sumber asalnya-- inilah yang merupakan perwujudan cinta, suatu penyatuan. Tentunya setelah bisa terlepas dari berbagai gangguan dari hembusan angin-angin kebencian.

Angin kebencian selamanya akan berhembus, tetapi tidak akan mampu mempengaruhi hati yang penuh cinta.

Surga itu dikelilingi dengan kebencian-kebencian hawa nafsu, sedangkan neraka itu dikelilingi oleh kesenangan-kesenangan hawa nafsu.” (HR. Muslim)

Kondisi seperti ini sebutlah sebagai "Baqa sesudah Fana dalam lingkup Mahabbah". Seperti halnya seekor laron yang mendekati cahaya lalu terbakar dalam cahaya tersebut dan akhirnya musnah karena kecintaannya kepada cahaya.

Dan sang laron pun bisa tumbuh kedua sayapnya setelah ia bisa mengikis kebencian dalam dirinya. Cinta lah yang menumbuhkan kedua sayap tersebut dimana sayap yang pertama adalah kecintaan pada aturan-Nya, dan sayap yang kedua adalah perwujudan dari hakikat penciptaan yang bersumber dari segala sumber, Sang Maha Cinta.

Suatu hari, sekumpulan tawanan dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Ada seorang tawanan wanita diantaranya, tiba-tiba wanita tadi menemukan seorang bocah kecil --anaknya yang semula lepas dari pelukannya--, lalu ia menggendongnya dan disusuinya. Melihat kejadian itu, Rasulullah berkata kepada para sahabat: "Bagaimana menurut kalian, mungkinkah wanita itu tega mencampakkan anaknya ke dalam kobaran api..?"

Para sahabat menjawab: "Tidak, demi Allah."

Rasulullah lalu berkata:

"Sungguh, kasih sayang Allah kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada kasih sayang wanita itu kepada anaknya." (HR. Bukhari - Muslim, dari 'Umar ra.)

Semoga...
#ombad #tasawuf

01 August 2019

WANITA DALAM QURBAH

Semua yang ada di dunia ini merupakan cerminan (tajalli) Tuhan, termasuk di dalam diri manusia pun tercermin Pantulan Tuhan, khususnya dalam diri seorang wanita. Bagi seorang lelaki, wanita adalah tempat paling sempurna sebagai tajalli Tuhan.

"Cinta wanita adalah milik Kesempurnaan Makrifat." (Ibn Arabi ra.)

Manusia (baca : wanita) merupakan miniatur semesta atau mikrokosmos, yang dalam dirinya tercermin bagian-bagian dari jagat raya. Dia mampu mengaktifkan imajinasi kreatif calon pecinta, dan bisa jadi "tangga" dalam mengoptimalkan kecintaan seorang hamba-Nya, lalu sang diri pun bisa "menyerap" sifat-sifat dibalik setiap nama-Nya.

"Wanita adalah tipe leluhur dari keindahan di bumi, namun keindahan di bumi ini tak ada artinya kecuali menjadi manifestasi dan pantulan dari sifat-sifat Ilahi." (Maulana Rumi, Mastnawi)

Menurut para sufi, wanita merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan derajat kewaliannya, karena kualitas derajat ini ada hubungannya dengan kualitas rasa dalam mencintai dan menyayangi.

Itu makanya Syeikh Ibn Arabi ra. mengatakan,

Barangsiapa yang ingin menjadi Sufi, hendaknya menjadi perempuan dulu. Maksudnya, hatinya harus Lembut dan didominasi Kasih Sayang.”

Begitu juga, Hadist ini mengandung esensi yang sangat dalam dalam konteks mencapai Mahabbah (cinta kepada Tuhan),

Rasulullah SAW bersabda,

حبب إليّ من دنياكم ثلاث : الطيب ، والنساء , وجعلت قرة عيني في الصلاة

Tiga hal dari dunia ini yang aku cintai, yaitu: Wangi-wangian, kaum Wanita dan kesejukan mataku ketika Shalat." (HR. Ibn Majah)

Jadi jangan melihat wanita sebagai sumber maksiat, tetapi sebagai "sarana" mencapai Tuhan dan tetap dalam koridor "janganlah sampai anak istrimu jadi fitnah bagimu". Bukankah inti dari bertasawuf itu kebersihan hati dalam upaya mencapai kedekatan dengan Tuhan..?

Dalam proses "pendekatan" (qurbah) kepada Tuhannya, seperti halnya cinta seorang laki-laki kepada wanitanya, maka begitupun kepada Tuhannya, ada kerinduan untuk "bersatu dengan-Nya", karena penyatuan ini adalah simbol kerinduan, kecintaan dan kasih sayang seorang hamba kepada Tuhannya, dan begitu juga sebaliknya.

Kenapa proses dalam pendekatan kepada Tuhan ini lebih dominan dalam sisi Jamaliah (keindahan, kelembutan) atau dengan kata lain dominan aspek Feminin..? Karena keberlangsungan alam ini terkait dengan kegiatan menciptakan, menumbuhkan yang baru, regenerasi, atau cerminan sifat Tuhan Al-Warist (pewarisan).

Wanita dipilih Tuhan menjadi salah satu cermin-Nya, karena segala sesuatu di alam semesta (manusia) ini bersumber dari rahim seorang wanita, seperti halnya segala penciptaan yang bersumber dari Tuhan. Iya, aspek Feminin lah yang mampu menerima tindakan "maskulin", menyimpan benih, menumbuhkan dan terlibat dalam kegiatan penciptaan.

Jadi jangan menyangka bahwa wanita itu sebagai makhluk yang lemah atau nomor dua, justru wanita itu jauh lebih kuat ketimbang laki-laki, buktinya sih sederhana, bukankah hanya laki-laki aja yang butuh obat kuat..?


Semoga..
#ombad #tasawuf