Showing posts with label Ruh Qudsi. Show all posts
Showing posts with label Ruh Qudsi. Show all posts

01 June 2019

TASAWUF DALAM MUDIK LEBARAN

MUDIK akan diinginkan oleh semua orang karena fitrah manusia itu mencintai sumbernya atau asal-usulnya. Manusia akan berusaha untuk mengingat perjalanan hidupnya, dan selanjutnya bisa berterima kasih dan mensyukuri segala sesuatu yang berhubungan dengan sumber "hidup" nya.

Ibu adalah sumber pertama, dimana rahimnya itu jadi tempat tinggal pertama, air ketubannya jadi teman bermain pertama, bahkan darahnya pun jadi teman pertamanya yang mengantar ke alam dunia.

Dan selanjutnya pengisian memori pikiran awal dalam pembentukan pribadi pun dimulai, apakah itu terkait manusia (orang tua, saudara, teman, dsb); terkait sifat (kedekatan, ketergantungan, dsb); terkait lingkungan (tempat tinggal, tempat main, dsb); dan juga terkait ilmu/pengetahuan (sekolah, ngaji, dsb).

Ingatan adalah bagian dari Akal yang "ditanam" dalam Fitrah. Dan "ingatan" inipun yang mendorong para pemudik melakukan perjalanan, sejauh dan seberat apapun.

Begitupun dalam hubungan makhluk dengan Tuhannya, meskipun "ingatan" pertemuan di Awal Penciptaan sewaktu di alam lahut (alam ruh) "ditutup", tetapi fitrahnya akan selalu "mendorong" untuk mendekati dan mengenali Tuhannya. Dalam hal ini agama menjadi salah satu sarananya.

Tuhan menyuruh makhluk-Nya sebagai seorang "salik" untuk "napak tilas" ke Awal Penciptaannya (wushul, kembali). Makhluk-Nya diwajibkan memenuhi janjinya ketika di alam lahut untuk menemui-Nya kembali dalam kondisi terbaiknya yaitu ruh qudsi-nya. "Bukankah Aku ini Tuhanmu..? Mereka menjawab: 'Betul, Engkau Tuhan kami, kami menjadi Saksi'." (Alastu bi Rabbikum.. Bala Syahidna - QS. al-A'raf 172).

Perjanjian di Awal Penciptaan ini merupakan kewajiban makhluk-Nya supaya bisa menemui-Nya dan mengenal-Nya kembali selama perjalanan hidupnya di dunia, yang tanpa disadari semakin memperbanyak hijab atau penutupnya.

Itu makanya Imam Syafi'i ra. dalam kitabnya al-Fiqh al-Akbar, Bab Mukaddimah, mengatakan :

"Setiap Mukallaf itu diperintahkan untuk Ma'rifat kepada Allah. Arti Ma'rifat adalah mengetahui apa yang ingin diketahui dalam wujud yang sebenar-benarnya, tanpa ada sesuatu pun diantara sifat-sifat dari sesuatu yang ingin diketahui itu yang tersembunyi baginya. Hanya dengan perkiraan atau taklid saja, pengetahuan dan Ma'rifat seperti itu tak mungkin bisa diperoleh. Sebab, perkiraan berarti menerima kemungkinan adanya dua hal, sedangkan arti taklid adalah menerima pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber pendapat itu, dan yang demikian itu tentu saja tidak bisa disebut dengan mengetahui."

Seperti halnya perjalanan mudik lebaran yang membutuhkan kondisi tubuh sehat, kendaraan prima, rute yang baik dan bekal yang cukup, begitupun perjalanan wushul dalam mengenal-Nya, akan membutuhkan niat/riyadhoh yang kuat, waliyyam muryida yang ridha, "jalan" yang baik/lurus, dan dzikir yang banyak. Keselamatan lahir batin adalah segalanya. Dan seperti itulah Mudik yang hakiki.

Ya, itulah "mudik" yang sesungguhnya, yaitu Wushul (kembali) ke sumber (asal), "mudik" yg sampai ke puncaknya, yaitu Puncak Tauhid (shirath al-mustaqim), al-Ahadiyah.. Rabbul 'Alamin.

Mudik yg diupayakan agar tetap dalam Nyaman (damai, Islam), Aman (Iman) dan Selamat sampai tujuan (Ahadiyah), serta tidak tersesat (adh-Dhaalliin) dan tidak celaka (al-Maghdub).

Mengapa dikatakan 'id (kembali)..? Karena perayaan itu kembali setiap tahunnya dengan beragam Kebahagiaan yang baru." (Muhyiddin Ibn Arabi ra.)

Selamat mudik, lahir maupun batin. Ttdj.. 😍

Semoga..
#ombad 27 #ramadhan 1440 H.
#tasawuf #imamsyafii #ibnarabi

19 October 2018

TENTANG TIFLUL MA'ANI

Wa ayyadnaahu bi Ruuhil Qudusi..

Ku-perkuat manusia dengan Ruh al-Qudsi.” (QS. 2 : 87)

Ruh al-Qudsi menunjukkan kondisi ruh ketika di alam awal melakukan perjanjian kepada Tuhannya. 'Alastu bi rabbikum?` Qaalu, bala syahidna..’

Bukankah Aku ini Tuhanmu?”
Mereka menjawab : “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (QS.7 : 172).

Suatu kondisi dimana ruh-ruh bisa ‘melihat wajah’ Tuhannya dengan berhadapan. Hal ini diperjelas juga dengan ayat,

"Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat." (QS. 75 : 22-23).

Ruh al-Qudsi ini menunjukkan suatu kualitas ruh seseorang, dalam arti kualitas ini adalah semua hijab-hijab Qudsiyyah-nya terbuka. Ruh yang paling halus dibanding ruh-ruh lainnya. Yang selalu mengajak kembali kepada Allah SWT (Wushul). Ruh yang ‘tidak dimiliki’ (terbukakan) oleh sembarang orang dan hanya orang-orang khawash yang berhak memilikinya.

Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman :

Hai hamba-Ku, bila engkau ingin masuk ke Haramil-Ku (Haramil Qudsiyah), maka engkau jangan tergoda oleh Mulki, Malakut, Jabarut karena alam Mulki adalah setan bagi orang Alim, Alam Malakut adalah setan bagi orang Arif dan Alam Jabarut adalah setan bagi orang yang akan masuk ke Alam Qudsiyah.” (Hadist Qudsi)

Perlu diketahui, Wushul secara umum diartikan kembali kepada Allah SWT, tetapi dalam makna yang lebih khusus, Wushul kepada Allah adalah lepas dari selain Allah, tidak dekat dan tidak jauh, tanpa arah dan berhadapan, tanpa bertemu dan berpisah. Maha Suci Allah yang penampakan diri-Nya dalam ketertutupan-Nya. 

Hal ini seperti ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. :

Sesungguhnya Tuhanku tidak disifati dengan jauh, bergerak, diam, berdiri, datang dan pergi. Dia berada di dalam segala sesuatu tetapi tidak bercampur. Dia di luar segala sesuatu, tetapi tidak berpisah. Dia di atas segala sesuatu dan tidak sesuatupun berada di atas-NYA. Dia di depan segala sesuatu, tetapi tidak dapat dikatakan bahwa dia berada di depan. Dia berada di dalam segala sesuatu, tetapi tidak seperti sesuatu di dalam sesuatu. Dia di luar sesuatu, tetapi tidak seperti sesuatu di luar sesuatu.”

Banyak juga ulama tasawuf yang mendefinisikan ini sebagai ‘al-Insan al-Haqiqi’ di Qalbu yang terdalam (Sirri). Karena berasal dari makna-makna yang suci (al-Ma’nawiyyat al-Qudsiyah), al-Insan al-Haqiqi ini juga sering dinamakan Thiflul Ma’ani (Bayi Ma’nawi).

Dasar dari pemberian nama Thiflul Ma’ani (yang bermakna Bayi) untuk Ruh al-Qudsi ini karena :

- Ia ‘lahir’ dari qalbu dan dirawat qalbu seperti bayi yang lahir dari rahim ibunya dan dirawat ibunya sampai tumbuh menjadi dewasa.

- Ia diajari berbagai hal tentang makrifat seperti anak-anak yang juga diajari berbagai hal.

- Ia bersih dari syirik, ghaflah (lalai kepada Allah) dan dosa-dosa pikiran, seperti bayi atau anak kecil yang juga bersih dari dosa.

- Ia disimbolkan seperti rupa anak yang tampan sebagaimana bersihnya jiwa seorang anak. Allah menyifati ahli surga dengan anak-anak (QS.52 : 24).

- Thiflul Ma’ani bersifat halus dan suci.

- Kiasan karena keindahannya.

Thiflul Ma’ani ini ‘muncul’ setelah melewati tahapan dzikir ke-4, al-Haqq. Seperti kita ketahui Tahapan dzikir dalam proses penyucian ini terdiri dari 12 tahapan (Laa Ilaaha Illallah, Allah, Hu, al-Haqq, al-Hayyun, al-Qayyum, al-Qahhar, al-Wahhab, al-Fattah, al-Wahid, al-Ahad  & ash- Shamad).

Thiflul Ma’ani adalah al-Insan al-Haqiqi karena ia bisa merasakan nikmatnya Musyahadah langsung kepada Allah SWT. Ia selalu ada di alam al-Qudrah dan menyaksikan Dzat Allah di alam Hakikat dan tidak berpaling pada selain Allah.

"Kalian akan melihat Tuhan kalian, seperti kalian melihat bulan pada malam purnama.” (HR. Bukhari)

(Bandung  21 Juni 2013, 20.09 WIB)

Semoga..
#ombad #tasawuf