Showing posts with label Kuantum. Show all posts
Showing posts with label Kuantum. Show all posts

09 August 2019

TASAWUF DALAM PARALLEL UNIVERSE

Jin, setan, iblis, malaikat, bahkan Tuhan pun bagi sebagian besar manusia masih berada di dunia "paralel" (ghaib, nonfisik). Meski ada juga  hamba-Nya yang bisa "melihat" seperti halnya sebuah realita, dimana ia bisa membuka portal dimensi lain.

Ada sebagian kecil manusia yang bisa menembus batasan ruang dan waktu meski pendekatannya bukan atas nama sains (fisika, matematika, dsb), dan seringkali mereka dianggap aneh dan disebut sebagai Mistik (myth). Mungkin nanti ada saatnya portal terbuka dan bisa dibuktikan dengan ilmu pengetahuan (sains), serta bisa menghubungkan kedua term "myth" dan "math" sampai akhirnya "math" = "myth". Karena bagaimanapun penemuan dalam aspek "math" itu seringkali idenya bersumber dari aspek "myth", dan begitu juga sebaliknya, "myth" pun hanya sebatas keyakinan saja jika tidak bisa dijelaskan lewat "math".

Pengalaman Isra Mi'raj Rasulullah SAW yang terbuka portal ke dimensi lain bisa jadi salah satu acuan, meski umatnya hanya sebatas meyakini saja, belum bisa membuktikannya, atau bahkan "dipaksa" mempercayainya.

Bagaimana seorang manusia di tahun 600 M bisa bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal beratus-ratus tahun sebelumnya, bisa menembus portal dimensi dan mengarunginya tanpa batasan ruang dan waktu (spaceless & timeless).

Perlu diketahui, gagasan para fisikawan terkait dunia paralel ini bisa dibilang akibat "ketidaksengajaan" saat mereka sedang mengukur waktu yang diperlukan partikel neutron untuk terurai menjadi proton begitu dikeluarkan dari inti atom, pada tahun 1990. Dari dua eksperimen yang terpisah memperlihatkan bahwa neutron terurai pada tingkat yang berbeda, serta terjadi dilatasi waktu yang membingungkan para ilmuwan. Sampai akhirnya mereka berasumsi bahwa ada keberadaan dunia paralel soalnya ada dua masa hidup neutron yang terpisah, serta bisa jadi 1% neutron melintasi kesenjangan antara dunia realitas saat ini dengan dunia paralel, sebelum menyeberang kembali lalu memancarkan proton yang terdeteksi.

Dan terkait dunia paralel ini, para ilmuwan di Ridge National Laboratory pun ingin membuktikan eksistensi dunia paralel. Eksperimen untuk mengungkap “dunia bayangan tersembunyi yang aneh”.

Eksperimen terbaru para fisikawan ini akan menembakkan seberkas neutron pada dinding yang tidak bisa ditembus. Pada sisi lain dinding, detektor neutron akan dipasang. Jika detektor bisa mencatat keberadaan neutron, maka secara teori, si neutron tersebut telah berhasil melewati dinding dengan "ber-osilasi" ke dunia paralel lalu muncul kembali ke alam semesta ini.           

Tentunya ada "katalis" medan magnet pada dua sisi dinding untuk membantu "memberi" kekuatan tertentu kepada si neutron agar lebih mudah dalam osilasi partikelnya.

Dan tetap, keberadaan dunia paralel masih sulit dibuktikan dengan ilmu pengetahuan, sementara di luar galaksi sana sinar kosmik berenergi tinggi tetap eksis dan memancar.

Ya, kita masih harus tetap menunggu dalam ruang dan waktu yang berbatas, karena dunia sains masih belum "ketemu" dengan dunia spiritual, dan "myth" pun belum bisa dibuktikan dengan "math", serta kuantum pun masih sebatas teori, yang sekedar dijadikan hiburan lewat film fiksi ilmiah.

Jadi kapan donk mau lihat malaikat.. masa pas sekarat doank.. 😂

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam


21 July 2019

TASAWUF DALAM KETIDAKPASTIAN HEISENBERG

Banyak yang berbicara sesuatu meski pembicaraan tersebut tidak dipahaminya. Sebutlah sesuatu ini hanya baru diketahui, tetapi belum dipahami, apalagi sampai dialami. Sesuatu ini masih berupa misteri bagi dirinya. Misteri-misteri seperti ini seringkali dijelaskan dalam ceramahnya seorang ustadz, meski ia sendiri tidak menguasainya.  Begitupun hal seperti ini bisa muncul dalam khotbahnya seorang pendeta, bahkan para saintis, fisikawan, dll pun bisa melakukan hal yang sama.

Memang betul seperti yang dikatakan Heisenberg tentang asas Ketidakpastian, bahwa adanya keterbatasan manusia baik dalam melihat, mendengar ataupun merasa, termasuk keterbatasan dalam pemikiran dan pemahaman, maka akan terbatas juga dalam memberi konfirmasi yang lebih meyakinkan tentang segala sesuatu.

Seperti halnya indera penglihatan manusia yang hanya mampu melihat dalam batas spektrum kasat mata (visible spectrum), dalam batas gelombang cahaya tampak, spektrum elektromagnetik dengan panjang gelombang antara 400–700 nm.

Ada sesuatu yang tak terbatas dan sulit untuk diketahui serta dibuktikan dengan keterbatasan alat-alat pengukur atau pengamatan. Dan sang waktu tetap menunggu keberhasilan upaya dalam "menerobos" dunia mikrokosmos yang lebih dalam, seiring dengan perkembangan alat-alat pengukuran.

Dan keterbatasan ini tetap akan menyisakan suatu misteri. Sayangnya, misteri ini seringkali ditafsirkan seenaknya sendiri oleh mereka yang susah untuk mengakui bahwa mereka itu sebenarnya tidak paham, dan hanya menebak-nebak saja disesuaikan dengan pikirannya.

Hikmah itu --perbendaharaan-- yang hilang dari kaum Mukmin. Di mana pun ia ditemukan, ia berhak --diambil-- untuk itu.” (HR. Turmudzi & Ibn Majah, dari Abu Hurairah ra.)

Itulah, betapa sulitnya untuk berlaku Jujur dan Adil meski dalam pemikiran. Seperti halnya terjebak dalam samarnya Kesombongan yang selalu mengaku sebagai suatu Keikhlasan. 

"Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan." (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 1975)

Ya gimana lagi, ketika kita melihat atau mendengar yang seperti itu, jika belum bisa cuek, ya berusaha "menerima" saja meskipun terasa janggal, karena mereka hanya melontarkan bungkusnya dan bukan isinya. Bukankah nada-nada dalam alat musik pun akan terdengar sumbang jika yang memainkannya tidak kompeten. Begitupun, lagu yang indah pun akan terasa memuakkan jika penyanyinya buruk.

Akhirnya, berusahalah untuk tetap tersenyum, dan ikuti saja seperti yang dikatakan sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. :

"Perhatikan apa ucapannya, bukan siapa yang mengucapkan."

Dan tetaplah teliti karena gradasi intelektual pun makin bertebaran di bumi fallacy.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam