Showing posts with label Abdul Qadir al-Jailani. Show all posts
Showing posts with label Abdul Qadir al-Jailani. Show all posts

06 November 2019

HATI YANG TERCERAI

Sewaktu Syeikh Abu Sa’ad Al-Muharrimi ra. menyerahkan madrasahnya kepada muridnya yaitu Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani ra, kondisi Baghdad sedang kacau dimana umat sedang terpecah-belah, saling berebut pengaruh kepentingan kelompoknya, serta para tokoh agama menjadikan khutbah Jum’at sebagai ajang untuk saling menjelekkan, menyesatkan bahkan mengkafirkan. 
 
Melihat kondisi seperti ini, maka Syeikh Abdul Qadir pun berniat untuk mempersatukan kembali umat yang sedang terpecah dan saling bermusuhan. Perpecahan diantara umat adalah akar masalah pertama yg harus segera dibenahi. Ilmu (agama) tidak pada posisinya yang benar jika hanya digunakan sebagai dalih untuk saling menyesatkan diantara sesama saudara.

Lalu Beliaupun menemui setiap tokoh dari masing-masing kelompok. Meski hampir semua yang dikunjunginya menolak, mengusir bahkan berbalik memusuhinya, Beliau tetap sabar dan istiqamah.

Disamping itu, melalui madrasahnya, Beliaupun mulai melakukan penerimaan murid dengan tanpa melihat nama atau asal kelompok juga status agamanya.

Kesabarannya ini membuahkan hasil yang menggembirakan, tampak perubahan dari para tokoh agama (Islam) yang secara rutin ia temui. Nasihat-nasihatnya yang lembut dan santun membuat para tokoh yang sering ditemuinya ini balik berkunjung ke madrasah yang diasuhnya, padahal usia mereka rata-rata lebih tua dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, bahkan perbedaannya ada yang sampai 40 tahun lebih tua.

Hasil ini belum memuaskan Syeikh Abdul Qadir karena permusuhan antar kelompok (Islam) ini masih tetap berlangsung. Akhirnya Beliau pun berinisiatif untuk mengundang para tokoh Islam di madrasahnya. 
 
Dalam pertemuan ini, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani berkata:

“Kalian ber-Tuhan satu, bernabi satu, berkitab satu, berkeyakinan satu, tapi kenapa dalam berkehidupan kalian bercerai-berai..? Ini menunjukkan bahwa qalbu (hati) memang tidak mudah menghadap kepada Allah.”

Ucapan ini begitu "menampar" jiwa dan hati para tokoh Islam. Sontak seluruh tamu saling meminta maaf karena merasa bersalah. Dan akhirnya, terwujudlah yang dicita-citakan Beliau yaitu Kebersamaan, Persatuan, dan bukan perpecahan antar kelompok. 
 
**
  
Jadi inget waktu kecil ketika ikut shalat berjamaah di mesjid, meski saya di barisan paling depan di samping Bapak, namanya juga anak kecil, saya masih bisa menoleh ke belakang dan melihat anak-anak yang lain saling berebut mainan, saling dorong, bahkan saling sikut menyikut. 

Dan sangat disayangkan ternyata kelakuan anak-anak kecil berebut mainan saat shalat seperti itupun dicontoh juga oleh para bangkotan yang keras kepala, meski mainannya sudah bukan berupa gasing atau robot-robotan, tetapi Eksistensi, Ego, Ashobiyah, dan juga Kepentingan pribadi (kelompok).. tentu atas nama agama. 
 
Ternyata berjalan bersama itu sedemikian sulit, padahal bacaan awal sesudah takbiratul ihram dalam shalat pun sama, yaitu "inni wajjahtu wajhiya..."
 
Kondisi seperti ini --dalam kitab Ihya Imam Ghazali ra.-- adalah Kejahilan atau Kebodohan yang paling berat, dan disebut sebagai Kekacauan Ilmu (confusion of knowledge). 

Hal ini terjadi bukan karena kurang ilmu atau tidak sekolah, tetapi karena pemahaman yang salah, kacau-balau, rusak, terkotak-kotak dan tidak terintegrasi. Pemahaman yang rusak ini salah satunya dilatar-belakangi oleh kurangnya pondasi dalam ilmu (syariat, aqidah, Tadzkiyatun Nafs), sehingga pemahaman akal lebih dikedepankan dari pemahaman hati (iman). Kekacauan Ilmu ini akan mengantarkan kepada kebimbangan, keraguan, pembangkangan, su'ul adab, ego dan KEAKUAN. 
 
Semoga... 
#ombad #tasawuf

24 August 2019

TAK ADA.... JUDUL.

Dalam kekosongan, pikiran akan diam dari segala sesuatu, seperti sebuah tanah kosong yang siap ditanami. Dan benih-benih pun akan tersemai jika "getaran buta dari cinta" dalam kalbu sudah muncul.

Benih-benih ini akan tumbuh dengan subur jika "Awan Ketidaktahuan" semakin membesar, dan akhirnya menurunkan tetesan-tetesan pengetahuan (gnosis, makrifat) dari langit, seperti halnya tetes-tetes hujan yang menumbuhkan benih dan menyuburkan tanah.

Lalu pohon-pohon pun tumbuh berkembang dan nantinya siap untuk dipanen, berbuah kebijaksanaan ('Arifin).

Dan tetap, kemuliaan-Nya akan menempatkan sang diri dalam lekuk batu sambil ditutupi, tetap rahasia serta menjadi misteri, dan "ketidaktahuan" tetaplah "ketidaktahuan".. karena "Ehyeh asyer Ehyeh" (Aku adalah Aku) akan tetap tidak bisa dipahami oleh akal. Ya, di atas akal, jauh melewatinya.

Dan akhirnya yang tersisa adalah al-Hasrah (pilu hati), al-Hairah (rasa kacau), al-Walah (kebingungan) dan al-Haiman (kehausan cinta). Iya, itulah Martabat al-‘Ama’.

**

Menurut Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs,

Martabat Ahadiyah atau disebut juga al-‘Amâ’ adalah martabat yang tidak ada ruang bagi auliya’ dan ulama (untuk menggapainya), melainkan hanya al-hasrah (pilu hati), al-hairah (rasa kacau), al-walah (kebingungan) dan al-haiman (kehausan cinta).

Martabat Ahadiyah merupakan martabat yang menjadi puncak tertinggi pencapaian para nabi dan ujung suluk para wali. Setelah (sampai di martabat) itu, mereka akan 'berjalan' di dalamnya dan pasti akan menuju kepada Allah, hingga mereka semua akan mengalami istighrâq sampai mengalami al-hairah (kebingungan spiritual) dan fana’. Tiada Tuhan selain Dia (laa ilaaha illaa huwa).

Segalanya musnah kecuali Wajah-Nya (kullu syai’ haalik illaa wajhah).

Allah menarik perhatian hamba-Nya untuk selalu bergerak dan berjalan menuju ke jalan-Nya (sebagai bentuk bimbingan dan pengajaran kepada mereka) melalui doa-doa yang dipanjatkan kepada-Nya serta dalam munajat-munajat (dzikir) bersama-Nya. Dalam doa-doa dan munajat-munajat itu, terdapat isyarat akan kembalinya yang banyak menuju tunggal yang sempurna yakni kamal al-wihdah yang mengenyahkan keberbilangan (nihayah al-katsrah).

Artinya, ketika Allah ingin membimbing hamba-hamba-Nya ke Martabat Ahadiyah tersebut, maka hamba-Nya ini akan terdorong hatinya agar mereka selalu ber-tawajuh dan ber-taqarub secara terus-menerus sampai menjadi sebuah kebutuhan.

Proses tawajuh dan taqarub mereka akan berakhir pada ‘isyq dan mahabbah yang paling hakiki (al-haqiqah al-haqqiyyah) saja, hingga menyebabkan runtuhnya penyematan (al-idhafat) yang melahirkan kesan pada keberbilangan atau dualitas terhadap Allah, yang setelah itu, niat mereka menjadi murni dan layak untuk fana'.

Bingung artinya sudah tidak bisa distrukturkan oleh akal, walau akal kulli sekalipun. Sejago-jagonya akal, itu masih ciptaan-Nya. coba hubungkan dengan QS. al-Ikhlas ayat 4, yang esensinya semua makhluk (beserta organ-organ pendukungnya; akal, logika, perasaan) itu tidak akan bisa mendefinisikan Penciptanya.
Kalau masih bisa ditangkap akal, masih disebut karakteristik dualitas, makhluk. Itulah kenapa bingung (al-hairah, al-walah).

“Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Ruhku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Cahayaku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Qalam. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Akal.” (HR. Abu Daud)

Dari hadist inipun, tersirat bahwa akal (kulli) menempati peringkat yang paling bontot, dibanding dengan ruh.. seperti yang disebutkan dalam sebuah hadist,

"Aku dari Allah dan orang-orang yang beriman berasal dari diriku."

.
.
Semoga..
#ombad #tasawuf

13 May 2019

TINJAUAN PUASA SECARA UNSUR (ANASIR) TUBUH

Unsur dalam tubuh manusia secara garis besar ada 4 jenis, yaitu : Tanah (QS. 38:71), Air (QS. 25:54), Api (QS. 2:24), dan Angin (QS. 38:72).. dan kalau dalam tasawuf, keempat unsur ini bersumber dari Nur Muhammad.

Ketika tubuh kita berpuasa, artinya pasokan unsur Tanah --lewat makanan-- dan unsur Air --lewat minuman-- akan berkurang.

Secara keseimbangan, maka yang akan naik kadarnya adalah Api dan Angin. Itulah kenapa orang yang berpuasa (lapar dan haus) cepat naik emosinya karena unsur Api lebih dominan, dan sangat mudah "naik" ketika beribadah ataupun bermeditasi karena unsur Angin lebih dominan.

Ketika pengaruh unsur Tanah, Air dan Api ini bisa dikendalikan, maka selanjutnya akan merasakan dominasi pengaruh 'Angin'. Akan ada hubungannya dengan kemudahan dalam "proses" spiritual ketika beribadah karena dukungan unsur tubuh yg mendominasi. Tentu ini gak ada hubungan sama perokok yg rajin ngisep angin.. 😀

Hal ini mirip dengan para rahib Buddha yg hanya makan makanan vegetarian, untuk mengurangi unsur Api yg berasal dari daging, ataupun para ikhwan tarekat yg sedang melakukan khalwat dimana tidak disarankan makan yg berasal dari makanan berjiwa.

Inilah maksud "tersirat" dari ayat/dalil yg menyatakan bahwa bulan Ramadhan ini bulan Rahmat (atau dengan kata lain "Allah lebih dekat")..

**

Secara sekilas, masalah unsur (anasir) tubuh ini disinggung Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs. dalam kitqb Sirrul Asrar, Fasal 11 tentang Bahagia dan Celaka. Dalam bab ini dijelaskan esensi dari Hadist : “Orang yang akan bahagia telah ditetapkan kebahagiaannya dalam perut ibunya. Begitu pun yang celaka telah ditentukan celakanya dalam perut ibunya.”

Maksud dari kata “ibu” di Hadits di atas adalah berkumpulnya empat unsur (Tanah, Air, Api dan Angin) yg merupakan "sumber" kekuatan kemanusiaan, dan bisa menimbulkan Kebahagiaan ataupun Penderitaan (menghancurkan, mematikan).

Berbeda dengan Malaikat yg terbentuk hanya dari unsur cahaya ataupun Jin (Iblis) yg hanya dari unsur Api, Manusia itu terbentuk dari sesuatu yg berlawanan, paradoksial, maka manusia harus bisa mengendalikan serta menyeimbangkan segala sesuatu yg berlawanan dalam tubuhnya. Ibadah puasa adalah salah satu solusinya.

**

Penelitian modern menunjukkan bahwa :

Puasa mampu memicu regenerasi sistem sel dan sistem kekebalan tubuh yg rusak. Hal ini terjadi karena lewat puasa itu bisa "menyeimbangkan" kembali unsur-unsur pembentuk tubuhnya, sebutlah "me-reset" untuk kembali ke posisi "awal".

Inilah kenapa di QS. 2:184-185 diperintahkan bagi orang yg sakit mengganti Puasanya sejumlah hari yg ditinggalkannya (baik untuk pria maupun wanita). Hal ini berbeda dengan ibadah Shalat dimana para wanita yg mens tidak perlu mengganti shalat yg tidak dilakukannya ketika mens.

Dan bisa sy katakan, penelitian di atas merupakan bukti bahwa adanya Fase Rahmat dalam Puasa (Ramadhan), dimana salah satunya adalah rahmat (kasih sayang) Allah agar hamba-Nya bisa sehat dan seimbang kondisi tubuhnya.

Semoga..
#ombad 08 #ramadhan 1440 H.

14 April 2019

MUKASYAFAH

Mukasyafah (kasyafa) adalah tersingkap atau terbukanya hijab atau rahasia. Imam Al-Ghazali ra. menyebutkan kondisi ini sebagai Fauqa Thuril 'Aqli, ilmu yg berada di puncak atas akal, melampaui kekuatan pengetahuan dalam taraf jangkauan akal manusia.

Menurut Imam Ghazali, Mukasyafah terdiri dari 2 jenis :

1. Mukasyafah RUBBIYAH.

Mukasyafah Rubbiyah ini merupakan pengalaman keteringkapan tirai sifat Ketuhanan. Dalam kondisi ini, seorang hamba mampu mengetahui rahasia-rahasia Al-Haq, bahkan pada puncaknya seorang hamba akan mampu melihat-Nya. Ini merupakan puncak dari semua ilmu karena  berhubungan dengan hati, ruh, jiwa dan pensucian jiwa. Mukasyafah Rubbiyah atau biasa disebut Bashirah ini dibukakan untuk para Shiddiqin dan Muqarrabin, karena mereka bisa berdzikir secara sirr (rahasia).

Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan, 

"Maka terbukalah hijab atau tutup, lalu mereka melihat kepada- Nya. Demi Allah tidak pernah memberikan kepada mereka sesuatu yg amat menyenangkan mereka kecuali penglihatan itu (mukasyafah)."

"Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yg dalam tentang Alquran dan Sunnah) kepada siapa yg Dia kehendaki. Dan barangsiapa yg dianugerahi al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yg banyak.." (QS. Al-Baqarah : 269)

2. Mukasyafah GHAIBAH.

Mukasyafah ini sebenarnya tidak mempunyai kaitan dengan Mukasyafah Rubbiyah dan tidak bisa dianggap sebagai anugrah suci yg merupakan rahmat bagi orang-orang sholeh. Jenis Mukasyafah ini lebih kepada persoalan bakat, seperti halnya penglihatan mistik atau hal ghaib (paranormal). Bahkan jenis ini bisa diupayakan dengan usaha (riyadhah) tertentu untuk mengasah ketajaman bakatnya.

**

Seseorang yg telah terbuka Mukasyafah Rubbiyah (Bashirah) nya itu tidak akan sembarangan "membuka" penglihatannya karena terikat dengan "etika tasawuf".

Bisa menafsirkan mimpi (mimpi Afaqi) seperti Nabi Yusuf as. pun termasuk Mukasyafah Rubbiyah, dan terjamin kebenarannya.

Dalam kitab Sirrur Asrar (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs) disebutkan bahwa para Wali Allah itu adalah orang-orang yg diperkuat dengan Karamah, tetapi mereka tertutup dalam Karamah, mereka tidak diberi izin untuk menjelaskannya, karena menjelaskan rahasia ketuhanan adalah kufur. Jadi, mereka tertutup karena Karamah itu haidnya seorang lelaki.

Dan ini tentu berbeda dengan Mukasyafah Ghaibiyah yg bisa bebas diberitahukan kepada siapapun, bahkan dijadikan acara di TV, dipublikasikan, dan tentunya belum tentu benar.

Jadi jika di depan publik ada seseorang yg mengaku memperoleh mukasyafah ataupun isyarat-isyarat kasyaf, anggaplah itu mukasyafah Ghaibah, anggaplah paranormal.. atau anggaplah itu untuk motivasi aja.. 😀

Itu makanya Syeikh Abul Hasan Syadzili ra. mengingatkan,

"Jika Kasyaf bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah Kasyaf dan berpeganglah pada Al-Qur’an dan Sunnah. Katakan pada dirimu : Sesungguhnya Allah SWT menjamin keselamatan saya dalam kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya dari kesalahan, bukan dari Kasyaf, Ilham, maupun Musyahadah sebelum mencari Kebenarannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah terlebih dahulu."

Semoga...
#ombad #tasawuf #mukasyafah

13 February 2019

TAFSIR ALA RG


يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ

"Allah menganugerahkan al-Hikmah  kepada siapa yg dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yg dianugerahi Hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yg banyak. Dan hanya orang-orang yg berakallah yg dapat mengambil pelajaran." (QS. Al-Baqarah : 269)

Kitab-kitab Tafsir menjelaskan bahwa AL-HIKMAH adalah Kefahaman yang (sangat) dalam tentang Al-Quran dan As-Sunnah, termasuk keselarasan dalam perbuatan (amal) nya. Salah satu bentuk Al-Hikmah ini adalah ilmu/pemahaman rahasia syari'at Agama (makna, filosofi, irfan, gnosis, self knowledge, hudhuri, dll) beserta integrasinya dengan ilmu dzahir (hushuli).

Siapakah yg dimaksud ULUL ALBAB yg menerima karunia al-Hikmah ini..?

Dalam Tafsir Al-Jailani disebutkan bahwa Ulul Albab ini adalah para Ahl Al-Lubb, yaitu :

"Orang-orang yg sudah mencapai LUBB (inti tauhid) dan sudah terlepas dari qasyr-nya sama sekali. Mereka adalah orang-orang yg mengingat Allah Yang Mahatunggal dalam Dzat-Nya, di semua keadaan mereka, sambil berdiri, duduk atau berbaring/bersandar."

(Penjelasan lengkapnya : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10211672575954835&id=1380159371 )

Sedangkan Tafsir ala Rocky Gerung :

“Ada satu ayat di dalam Alquran, surah Al Baqarah ayat 269, yang mengatakan bahwa Tuhan memberi AKAL SEHAT pada mereka yang dipilih, bukan memberikan akal sehat dan tidak mungkin ditolak kecuali oleh orang yang tidak ingin berpikir."

Jadi, emang sih "Kitab Suci itu fiksi".. menurut dan dalam dirinya.. karena "Tuhan bersemayam di kampus, sebelum ia menciptakan hal yang paling ia sesali : Agama."

Tetapi tetap ada Hikmahnya dengan munculnya RG terkait Tafsir Al-Baqarah 269, yaitu.. masih banyak umat Islam yg dangkal pemahamannya tentang Al-Qur'an.. dan itu PR bagi kita semua.

Semoga..
#ombad

29 August 2018

VERTIKAL < HORIZONTAL

Al-Quran itu tidak melulu bicara hukum, apalagi kalo sekedar Halal atau Haram.

Masalah Hukum yg tertulis di Quran itu jumlahnya sekitar 200 ayat, sedangkan sisanya, lebih dari 6000 ayat itu adalah Sejarah (kisah-kisah), soal keimanan, Akhlak (adab, etika, tata-krama), Muamalah (interaksi sosial), dsb.

Salah satu contoh, lihat aja, perintah Shalat disandingkan dengan perintah Zakat. Hal ini mengindikasikan bahwa aspek Hablum Minallaah (ibadah vertikal) itu merupakan bentuk "latihan" agar bisa Hablum Minannaas (ibadah horizontal). Begitupun dengan pahala 27 derajat jika shalat berjamaah. Ini menunjukkan bahwa begitu pentingnya Hablum Minannaas, bukan sekedar "hablum minallaah" shalat sendirian yg cuma 1 derajat.

Anggap aja, ibadah Vertikal itu sebagai tanda pencapaian IMAN dan ibadah Horizontal itu sebagai tanda pencapaian IHSAN (Baik). Atau dengan kata lain, sesudah Iman itu harus Baik (Bageur lahir batin). Sesudah aspek Keilahian itu harus berkembang juga aspek Kemanusiaannya.

"Aku telah meneliti semua amal saleh, dan tidak ada yang melebihi keutamaan amal MEMBERI MAKAN." (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs.)

Tapi mungkin masih banyak Muslim yg merefleksikan kandungan Al-Quran ini secara "terbalik", dimana aspek hukum yg cuma 3% ini lebih dikedepankan sehingga terlihat "menakutkan", dan 3% pun terasa bagai 100%. Seperti halnya 3 polisi bersenjata yg sedang menakuti dan mengancam 100 pedagang di pasar, sementara yg 97 orang polisi melindungi dan mengayomi para pedagang tersebut.. :D

Saking ramainya para unyu-unyu ini ikut mem-blow-up kandungan yg 3% ini, terlebih lagi terlalu ber-cemmuguudh, akhirnya kandungan yg 97% pun sedikit terlupakan. Dan ujungnya, yg nampak terlihat dan "tergambar" adalah wajah Islam yang Pemarah bukan Peramah, Keras, Kaku,  Getas, Laknat-laknatan, Siksa-siksaan, Bunuh-bunuhan, Kafir-kafiran, dst.. pokoknya yg sadis-sadis dech.. yg gak sadisnya mungkin 70-an bidadari surga yg aduhai.. :D

Tidak salah ucapan Gusmus, banyak yg berhenti di Bab Ghadhab, berhenti di Kemarahan & Penistaan.. :D

Kalau teliti, bisa dilihat, diraba dan diterawang (kayak uang aja.. :D ), dari komposisi huruf dan kata-kata dari setiap ayat Quran itu sangat berseni tinggi (dimana gayanya seperti puisi atau prosa).

Artinya apa jika Allah Yang Maha Kuasa saja dalam menyampaikan Kalam-Nya itu memakai seni yg sangat tinggi, sehingga bisa membuat kerasnya hati Umar bin Khattab jadi "mencair"..?

Jadi gak lucu jika melantunkan adzan gak merdu, soalnya pakai Toa.. juga jika menyampaikan "ayat" Quran ini disampaikan dengan teriak-teriak, marah, paksaan dan pukulan. Kebalikan dari Dakwah bil hikmah :

"Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan Hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. an-Nahl, 16: 125).

Rasulullah SAW bersabda,

"Sayangilah yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

Semoga...
#ombad #tasawuf

14 August 2018

MEMPERKECIL EGO

Salah satu cara memperkecil Ego adalah selalu berusaha agar bisa Positive Thinking.

Kenapa harus bisa ber-Positive Thinking..?

Segala kejadian yg kita "tangkap", baik dari dalam maupun dari luar diri akan selalu 'disertai' dan dianalisa dengan menyertakan "pembanding" yg sudah "tersimpan" dalam memori atau pikiran kita. Pembanding ini bisa benar dan bisa jg salah. Masih relatif, belum tentu sebuah Kebenaran.

Ketika kita kurang menyadari kondisi seperti di atas, maka kondisi tersebut bisa menyebabkan munculnya perasaan Merasa Benar, merasa paling Baik, Kesadarannya paling tinggi dan  paling beriman.. Sebuah Kesombongan.

Tanpa kita sadari, Nafsu pun ikut "bermain" dan mendistorsi hati dan pikiran. Makin memperbesar Ego.

Dengan selalu menjaga Positive Thinking, maka diri kita akan selalu "terkondisikan" dan "terarahkan" (baca: Sadar) untuk melakukan Instropeksi secara terus-menerus dan mengurangi sifat "menghakimi" baik secara perbuatan, pikiran maupun rasa.

Ada cara untuk "menjinakkan" Ego yg karakter dasarnya selalu ingin membesar. Mudah-mudahan ucapan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs. yang tercantum dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syeikh Nawawi al-Bantani ra. ini bisa dijadikan pelajaran untuk mengenali, meminimalisasi dan mengontrol ego : 

"Jika engkau bertemu dengan seseorang maka engkau harus berpikir positif dengan menduga dia memiliki keutamaan yang lebih tinggi darimu, barangkali dia lebih baik dariku di sisi Allah.

Jika engkau bertemu dengan anak kecil, maka engkau harus menduga bahwa anak itu belum pernah melakukan maksiat, sementara engkau sungguh telah melakukan maksiat. Jadi, dia pasti lebik baik dariku.

Jika bertemu dengan seseorang yang lebih tua darimu, maka engkau harus menduga bahwa dia lebih dulu melakukan ibadah kepada Allah daripada aku.

Jika engkau bertemu dengan orang yang ‘alim (pintar ilmu agama), maka engkau menduga bahwa dia mengetahui tentang apa-apa yang tak engkau ketahui dan dia beramal dengan ilmunya.

Jika engkau bertemu dengan orang yang bodoh, maka engkau harus menduga bahwa dia melakukan maksiat dengan/karena kebodohannya sementara engkau melakukan maksiat dengan pengetahuanmu.

Jika engkau bertemu non muslim, maka engkau harus menduga bahwa barangkali dia masuk islam di akhir hidupnya dan mati dengan membawa amal baik. Dan barangkali engkau kafir di akhir hayatmu dan mati dalam keadaan beramal buruk."

Dan salah satu makhluk yg terkenal dengan tingkat egonya yg besar dan maksimum serta gak bisa turun adalah Iblis.

Semoga...
#ombad #tasawuf

07 July 2018

IBN TAIMIYAH ITU BERTHARIQAH

Banyak orang/kelompok yg anti tasawuf (thariqah) 'menyerang' tasawuf bahkan sampai membid'ahkan dan mengkafirkan dengan memakai ucapan-ucapannya Ibn Taimiyah ra. terutama cuplikan dari kitab-kitab awalnya.. :D

Mereka belum tau, atau kurang baca kitab-kitab Beliau yg lainnya, khususnya kitab-kitab tentang tasawuf, semisal Majmu al-Fatawa.

Sebetulnya, Ibn Taimiyah itu adalah pengamal tarekat, dan tarekatnya adalah Qadiriyah (Syeikh Abdul Qadir Jailani).

Ini perkataan Beliau :

"Tarekat yang paling agung (ajall al-thuruq) adalah tarekat majikanku (sayyidî) ‘Abdul Qâdir al-Jîli (al-Jîlâni), semoga Allah memberikan rahmat kepadanya.

Aku mengenakan khirqah (mantel sufi) yang diberkati dari ‘Abdul Qâdir, antara beliau denganku ada dua syekh (labist al-khirqat al-mubârakata li al-syaikh ‘Abd al-Qâdir wa bainî wa bainahû itsnâni)."

Dan termasuk jg muridnya Ibn Taimiyah yaitu Ibn Qayyim al-Jawziyyah.

Ini silsilah (sanad) tarekatnya:

1. ‘Abd al-Qâdir al-Jîlâni (w. 561H)
2. Abu `Umar Ibn Qudâmah (w. 607H) & Muwaffaq al-Dîn Ibn Qudâmah (w. 620H)
3. Ibn Abi `Umar Ibn Qudâmah (w. 682H)
4. Ibn Taymîyah (w. 728H)
5. Ibn Qayyîm al-Jawziyyah (w. 751H)
6. Ibn Rajab (w. 795H)


Semoga...
#ombad #tasawuf

15 June 2018

SAKTI

Dulu, sewaktu Abah Anom masih hidup, banyak ikhwan (murid TQN) yg sowan ke Suryalaya untuk mengadu berbagai masalah yg menimpa dirinya, tetapi Abah Anom hanya menjawab:

"Teruskan dzikirmu.."

Kadang banyak yg mengalami fenomena "ketika berdzikir badannya bisa terangkat dari lantai", bahkan sampai melayang-layang di udara (terbang), dan sejak jaman Abah Sepuh pun fenomena seperti ini ya biasa. Tetapi ketika mereka mengadu ke Abah Anom perihal fenomenanya, Abah hanya menjawab:

"Teruskan dzikirmu, karena itu belum sempurna..!"

Memang selalu ada saja diantara ikhwan itu yg menyukai ilmu Kesaktian, Kanuragan ataupun Kadigdayaan, namanya juga manusia.. :D .. Tetapi kepada mereka yg seperti itu, Abah selalu berpesan:

"Letakkan dulu keilmuan yg telah engkau pelajari kemarin dan amalkanlah dzikir Laa ilaaha illaalloh karena dzikir ini ibarat nasi, kalau sudah matang tinggal mencari lauk pauknya." 

Dan ilmu Kesaktian, "keparanormalan", Kedigdayaan ataupun Kanuragan itu hanya merupakan ilmu permainan "anak kecil" saja, paling banter hanya bisa menembus alam jin, tetapi tidak akan bisa melewati alam Malakut, Jabarut apalagi Lahut. :D

Bahkan Karomah pun dalam konteks Kewalian itu hanya tahap awal saja. Meskipun seseorang memiliki kemampuan luar biasa seperti: terbang, tubuh menjadi seratus atau bahkan seribu dalam satu waktu, berjalan di atas air, dsb, belumlah dianggap mencapai kesempurnaan kalau belum berma’rifat kepada Allah.

Dalam kitab Sirrur Asrar (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs.) pun diterangkan bahwa seorang Wali itu adalah orang yg diperkuat dengan Karomah, tetapi mereka tertutup dalam Karomah, mereka tidak diberi izin untuk menjelaskannya, karena menjelaskan rahasia ketuhanan adalah kufur.

Orang-orang yg memiliki Karomah itu "tertutup" dan Karomah itu "haidnya seorang lelaki". Seorang Wali memiliki seribu maqam. Maqam yg pertama adalah Karomah. Orang yg telah menyelesaikan tingkatan Karomah akan naik lagi ke tingkat yg lain, dan jika tersendat (terganggu, tergiur) dalam Karomah, maka tidak akan mampu melanjutkannya.

Jadi memang, Istiqomah itu lebih baik daripada seribu Karomah.

Semoga....
#ombad #tasawuf #karomah

25 May 2018

PINTU HINA DINA & RASA BUTUH

“Aku mendatangi semua pintu Allah Azza wa-Jalla, dan yang kudapati penuh sesak, namun ketika aku datangi 'Pintu Hina Dina dan Rasa Butuh', rasanya begitu sunyi. Ketika aku masuki melalui pintu tersebut, tiba-tiba aku sudah berada di paling depan mendahului kaum sufi dan aku tinggalkan mereka yang berdesak-desak memasuki pintu-pintu-Nya yang lain.” (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs)

Dalil di atas merupakan "sindiran halus" bagi yg suka "membanggakan amal" dan "mengklaim amal".

Ketika kita beramal ibadah seperti shalat, puasa, dzikir, dsb, tanpa disadari sering muncul pengakuan (klaim) sehubungan dengan amal ibadahnya, dan hal ini bisa merusak pahala, karena bisa dikategorikan Riya' (riya' khafi?). Hal ini akan mendistorsi ubudiyahnya (rasa penghambaannya ke Allah) karena merasa amalnya itu atas usaha sendiri. Inilah pemaknaan dari Pintu HINA DINA.

Sedangkan tentang Pintu BUTUH, Ibnu Athaillah (dalam al-Hikam) sering menyebutnya FAAQOH, kebutuhan yang sangat mendesak. Ini merupakan sifat substansial hamba. Sering terjadi ketika melihat diri sedang serba salah dan serba gagal. Dan dari Rasa Butuh yang mendesak ini membuat si hamba "terputus" dari yang lain, dan mengembalikannya hanya kepada Allah.

Ibnu Athaillah berkata,

”Datangnya kebutuhan yang mendesak, merupakan pesta raya para penempuh jalan.”

Kenapa disebut sebagai "pesta raya" ? Karena ia menikmati buah dari Musyahadah kepada-Nya.

Ada kisah, seseorang datang menjumpai salah seorang Syeikh, dan ketika melihat Syeikh menangis, dia bertanya, “Mengapa anda menangis..?”

Syeikh menjawab, “Aku lapar.”

Dia mencela, “Seorang seperti anda ini menangis karena lapar..?!”

Syeikh balas menjawab, “Diamlah. Engkau tidak mengetahui bahwa tujuan-Nya menjadikan aku lapar adalah agar aku menangis.”

Makna kisah di atas, bahwa Allah SWT itu sangat mencintai hamba-Nya yg selalu menjerit atau "menangis" kepada-Nya.

Perlu diingat, "lapar" yg dimaksud di sini bukan dalam arti menyiksa diri.. tapi berhubungan dengan "rasa butuh". Jadi menjeritlah kepada Allah SWT jika sedang butuh, dengan perasaan "miskin" ataupun "faqir".

Dan Puasa Ramadhan merupakan salah satu "metode" untuk menggapai kualitas "faqir" di hadapan Allah dengan "rasa butuh".


Semoga...
#ombad #ramadhan #09

22 May 2018

PUASA SECARA HOLISTIK

Puasa secara Syariat adalah menahan diri dari makanan, minuman, dan bersetubuh di waktu siang.

Puasa secara Batiniah (Thariqah) adalah menahan seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan yg diharamkan dan dilarang, juga menjauhi sifat-sifat tercela, seperti ujub, riya', takabur, dsb, baik secara lahir maupun batin, baik siang maupun malam. Bila melakukan hal-hal tersebut tadi, maka batallah puasa batinnya.

Puasa secara Syariat mempunyai waktu tertentu, sedangkan puasa secara Thariqah itu selama hidup.

Rasulullah SAW bersabda:

“Banyak orang yang berpuasa hasilnya hanyalah lapar dan dahaga.”

“Banyak yang berpuasa, tetapi berbuka. Banyak yang berbuka, tetapi berpuasa.”

"Banyak yg berbuka tapi berpuasa" yaitu orang yg perutnya tidak berpuasa, tetapi ia menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan2 terlarang dan menyakiti orang lain.

Puasa secara Hakikat adalah menjaga hati dari selain Allah dan menjaga rasa agar tidak mencintai selain Allah.

“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya.” (Hadist Qudsi)

Sirr itu dari Nur Allah, maka orang yang di tingkat ini tidak akan cenderung kepada selain Allah. Tidak ada yang dicintai, diingini, dan dicari selain Allah di dunia maupun di akhirat.

Bila hati terjatuh pada mencintai selain Allah, maka batallah puasa hakikatnya dan ia harus melakukan qadha dengan kembali mencintai Allah dan menemuinya di dunia dan akhirat,

Sesuai firman Allah:

“Puasa itu bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.”

Sumber :
Kitab Sirrul Asrar (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ra)

Semoga...
#ombad #ramadhan #06

19 April 2018

DOA ITU TAWAJUH

Bagi para Wali dan Ahli Makrifat, Doa itu merupakan bentuk manifestasi dari kehambaan mereka dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan. Dan ini berbeda dengan kebanyakan orang bahwa doa itu merupakan sebab atas pemberian-Nya. Kalau perlu Allah pun harus seperti "pembantu ke majikannya".

لا يكن طلبك تسبباً إلى العطاء منه فيقل فهمك عنه .وليكن طلبك لإظهار العبودية وقياماً بحقوق الربوبية

“Jangan maknai permintaanmu sebagai sebab atas pemberian Allah yang itu menunjukkan kekurang-pengertianmu terhadap-Nya. Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah pernyataan kehambaan dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan.” (Syeikh Ibn 'Athaillah, Hikam)

Artinya, Doa itu sebagai bentuk penghambaan dan "pernyataan" bahwa diri itu hina, lemah, tak kuasa dan dhaif. Kenapa..? Karena sifat ketuhanan itu berhubungan dengan kehinaan, kerendahan, ketundukan dan kefakiran para hamba-Nya.

Itu makanya Rasulullah SAW bersabda,

"Sebaik-baik do'a adalah Istighfar --memohon ampunan--." (HR. Hakim)

Penjelasan Hadist di atas ( lihat : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10207583537451428&id=1380159371 )

Dimana ber-Istighfar itu merupakan :

1. Pengakuan eksistensi kehambaan dihadapan Allah SWT, karena hakikat hamba itu tanpa daya dan tanpa kekuatan dari terjaminnya niat, ucapan dan tindakan yg salah dan lalai.

2. Bentuk eliminasi/pemupusan ke-ego-an hamba. Bukankah apapun prestasi yg sudah dicapai, ujungnya mah karena Anugrah dan Rahmat-Nya.

3. Pengakuan seorang hamba terhadap tajallinya Allah dalam (Asma') Keagungan-Nya. Suatu manifestasi dari Kemahaagungan-Nya sebagai al-Ghafar dan al-Ghafur.

4. Bentuk kefanaan seorang hamba, "sirna/lebur" dalam eksistensi Keagungan-Nya. Kefanaan dari sifat-sifat tercela, kesirnaan dosa-dosa, kehancuran nafsu-nafsu buruk.

5. Proses menuju Ketauhidan, karena pada akhirnya istighfarnya seseorang itu akan mengarah "murni ke Allah" dari segala hal selain-Nya yg memasuki jiwanya, walau awalnya berupa istighfar dari perbuatan dosa dan kelalaian (dari dzikir).

6. Perbuatan yg sangat dicintai Allah dan Rasulullah SAW. Istighfar akan menumbuhkan kerinduan kepada Allah. "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yg bertaubat dan orang-orang yg mensucikan diri." (QS. 2:222)

7. Secara hubungan sosial horizontal, akan membuahkan Kedamaian. Bukankah banyak istighfar yg memohonkan ampunan untuk sesama hamba Allah.

Jadi, segala bentuk Ibadah dan Amal Saleh termasuk Doa itu (dapat dipahami) sebagai bentuk TAWAJUH seorang hamba kepada-Nya.

"Hendaklah engkau jadikan pintamu itu lebih banyak berisi permintaan ampun, kesehatan kekal dalam urusan agama, dunia dan akhirat. Terimalah ini niscaya engkau tercukupi. Jangan engkau menimbang-nimbang Allah dan jangan pula berbesar diri, karena perbuatan itu merupakan perapuhan jiwamu." (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Fathur Rabbani)

Dan itulah kenapa, saat tidak diberi (dikabulkan) menjadi tidak bersyukur..


Semoga..
#ombad #tasawuf #hikam

09 April 2018

PUNCAK SPIRITUAL

Seseorang tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya :

1. Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang Sattar (menutup aib) dan Ghaffar (pemaaf).

2. Dua karakter dari Rasulullah SAW yaitu Penyayang dan Lembut.

3. Dua karakter dari Abu Bakar yaitu Jujur dan Amanah (dapat dipercaya).

4. Dua karakter dari 'Umar yaitu Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

5. Dua karakter dari 'Utsman yaitu Dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.

6. Dua karakter dari 'Ali yaitu 'Alim (cerdas/intelek) dan Pemberani.

Bila lima perkara tidak terdapat dalam diri seorang syeikh maka ia adalah Dajjal yg mengajak kepada kesesatan.

Dia harus sangat mengetahui hukum-hukum syariat zhahir, mencari ilmu hakikat dari sumbernya.

(Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs.)


Semoga....
#ombad #tasawuf

23 March 2018

KETEGUHAN DALAM PENERIMAAN

(Antara Usaha & Takdir)

“Orang yg mengukuhkan keesaan Tuhan akan mengalami PENYATUAN (man wahhada tawahhada). Orang yg mencari (menuntut ilmu) dan berjuang sungguh-sungguh maka akan MENDAPATKAN hasil (man thalaba wa jadda wajada). Jika seseorang menyerahkan dirinya dan tunduk serta patuh kepada-Nya, maka orang itu akan AMAN & SELAMAT (man aslama wa taslama, salima). Jika seseorang menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya, dia akan dibantu untuk BERHASIL (man wafaqa wuffiqa). Namun, jika seseorang 'bertengkar' dengan takdir (qadar), dia akan dipukul hingga binasa."
(Jala' al-Khathir, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs.)

Ungkapan yg tertulis di atas bisa dijadikan "penghubung" agar kita bisa memahami dua konsep yg berbeda, yaitu "Usaha" dan "Takdir". Usaha dan Takdir itu merupakan satu paket, satu kesatuan. Jadi bisa saja sy sebut, "Takdir itu ada didalam Usaha", dan "Usaha pun ada didalam Takdir".

Ketika sayyidina 'Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah ditanya :

"Kenapa anda lari dari takdir..?"

Beliau menjawab :

"Saya berpindah dari dinding yang rapuh, menuju dinding yang lebih kokoh."

Antara Usaha dan Takdir itu ada aspek "Keteguhan" dan aspek "Penerimaan", dimana Keteguhan (sungguh-sungguh) dalam berusaha dan Penerimaan (tawakkal) sesudah berusaha (baca: takdir).

Dan ketika berbicara tentang "sukses" (berhasil), jangan dikotomi sebatas aspek materi saja, hanya aspek fisik saja, karena segala sesuatu itu selalu Holistik (wholeness) dimana selain aspek lahiriah (fisik) juga ada aspek batin (rasa, spiritual), dunia dan akhirat.

Sayangnya, masih banyak (yg menurut dirinya "gagal") seringkali menyalahkan takdir. Kondisi seperti ini bisa sy anggap sebagai ciri dari "lemah mental" kemudian "membela diri" dengan mengatas-namakan "takdir".
"Ah, gimana lagi sudah takdirnya.."
"Takdir sy memang gak bagus.."

Padahal dalam satu hari, lewat speaker mesjid sering terdengar "Hayya 'alal Falah".. "Marilah menuju Kemenangan".. dalam arti ibadah shalat itu bisa sebagai bentuk "latihan" fisik, mental dan spiritual untuk melatih kedisiplinan, totalitas dan konsistensi yg dibutuhkan dalam setiap perjuangan hidup, sampai akhirnya setiap individu memperoleh "kemenangan" lahir dan batinnya.

"Kemenangan" yg dimaksud adalah Sehat, Aman, Sejahtera, Selamat dan Bahagia baik lahir maupun batinnya. Dan ini adalah "kenikmatan".

Jadi, seseorang seharusnya berusaha sekuat tenaganya mendapatkan Kebaikan, meski ia tidak akan bisa menetapkan keberhasilannya. Do the best.

“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)

Semoga...
#ombad #tasawuf

10 March 2018

MERESAHKAN...?

Suatu ketika, Imam Ahmad bin Hanbal ra. bertanya pada muridnya yg datang dari Mesir,
"Apa yg kamu lakukan di Mesir..?"

Muridnya menjawab,
"Masyarakat Mesir bermadzhab Maliki dan Syafi'i. Saya berusaha mengubah mereka mengikuti madzhabmu."

Imam Ahmad seketika marah,

"Kamu yg harus belajar madzhab mereka..! Bukan mengajak mereka pada madzhabmu. Jangan membuat keresahan di masyarakat..!!"

Kisah di atas diaktualisasikan oleh Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ra. dengan "cara" yg lain. Dimana waktu itu penduduk Baghdad hampir semuanya meninggalkan madzhab Hanbali, atau dengan kata lain, madzhab Hanbali ini tidak ada pengikutnya dan hampir hilang dari peredaran.

Akhirnya, karena kecintaannya kepada para Imam Madzhab, Syeikh Abdul Qadir yg dikenal sebagai Fuqaha (ahli Fiqih) yg menguasai dua mazhab (yaitu mazhab Syafi'i dan Hanbali), mulai menghidupkan kembali madzhab Hanbali. Dimana yg pertama dilakukannya adalah berwudhu dengan cara madzhab Hanbali, terlihat oleh para muridnya dan diikuti.

Dan akhirnya, pengikut madzhab Hanbali pun berkembang membesar lagi.

Nah, seperti itulah jika derajat ilmunya sekelas Mujtahid..


Semoga....
#ombad #tasawuf

SETETES

Suatu hari, ada seorang lelaki yg mengaku dapat melihat Allah SWT dengan mata kepalanya. Maka bertanyalah Syeikh Abdul Qadir al-Jailani kepadanya, "Benarkah demikian..?"

“Ya benar.." jawab lelaki itu.

Maka Syeikh Abdul Qadir pun menghardiknya, dan menasehatinya agar jangan berkata demikian. Akhirnya orang itu berjanji untuk tidak mengulangi lagi perkataannya itu.

Dalam majelis pengajian, Syeikh Abdul Qadir Jailani menceritakan perihal yg diucapkan lelaki tersebut. Beliau mengatakan,

“Perkataan lelaki itu benar, akan tetapi diragukan atas pandangannya. Yang sebenarnya adalah bahwa ia melihat Keindahan-Nya (sifat Jamaliah) dengan Mata Hatinya. Dari Mata Hati menuju ke mata kepala. 'Sedikit Keindahan' yg tadi ia lihat lewat Mata Hatinya, sedang mata hati berhubungan dengan 'Nur Syuhud', maka ia mengira mata kepalanya yg melihatnya, padahal penglihatan itu dengan Mata Hati. Tegasnya, ia melihat mata kepalanya dengan Mata Hatinya."

Kalo bahasa sekarang mah, lebaay... :D
Baru jg "setitik cahaya" dianggap "Penciptanya"..
Baru jg "huruf" nya dianggap "Dia"..
Baru jg "Sifat" dianggap "Dzat"..


Semoga....
#ombad #tasawuf

09 March 2018

JALAN YANG LURUS

Setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah Ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan.

"(Ya Allah).. Tunjukilah kami jalan yang Lurus.” (QS. Al-Fatihah : 6).

Menurut Tafsirnya Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, yaitu al-Fawâtih, maknanya adalah "Tunjukilah kami dengan Kelembutan-Mu, Jalan yang Lurus yang dapat mengantarkan kami kepada Puncak Tauhid-Mu".

Dan di tafsir ayat selanjutnya, Syeikh Abdul Qadir menjelaskan bahwa golongan yg diberi Nikmat adalah para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang Saleh. Golongan yang Dimurkai adalah orang-orang yg ragu dan lari dari jalan Kebenaran yg terang karena mengikuti akal yg penuh dengan ilusi. Dan golongan yg Sesat adalah orang-orang yg mengikuti fatamorgana dunia yg hina dan godaan setan yg menyimpang dari jalan kebenaran dan hujjah yg meyakinkan.

Sedangkan menurut Tafsirnya Syeikh Muhyiddin Ibn 'Arabi, al-Quranul Karim, maknanya "Jalan yang Lurus" adalah Tetapkanlah kami ke jalan hidayah, dan tempatkanlah kami dalam istiqamah di jalan kesatuan (Wahdah).

Jalan istiqamah di dalam kesatuan (wahdah) adalah jalan orang-orang yg dilimpahi nikmat dan karunia Allah melalui kenikmatan tertentu yg sangat khusus, yaitu nikmat Rahimiyyah (nikmat Allah di akhirat) atau nikmat kasih sayang, yaitu nikmat Ma'rifat dan Mahabbah.

Sedangkan keteguhan Hidayah itu adalah Hidayah Hakiki dan bersifat substantif yg diberikan pada para Nabi dan Syuhada, Shiddiqin dan Auliya, yaitu mereka yg menyaksikan-Nya pada Yang Maha Awal dari Maha Akhir, Dzahir dan Bathin, di mana mereka telah sirna dalam penyaksiannya dengan munculnya Wajah Yang Abadi (Baqa) dari segala wujud pandang yg Fana’ atau sirna.

Jalan inilah yg ditempuh para Sufi, jalan Hakikat. Jalan "menyatu" dengan Allah, yg diteguhkan oleh Realita dan Kebenaran, bahwa yg ada hanyalah Allah, yg abadi hanyalah Wajah Allah, dan segala hal selain Allah adalah batil dan hancur.

Jalan menuju kepada Allah, sebagaimana terlimpahkan kepada para Nabi dan Rasul, Wali dan Syuhada yg senantiasa menyaksikan Allah di mana-mana dan tidak di mana-mana. Penyaksian Ubudiyah hamba terhadap Rububiyah Allah. Respon yg interaktif dan terus-menerus serta tidak putus dengan-Nya, yg kelak sirna dan tenggelam dalam samudera Ma‘rifah dan Mahabbah.

Rasulullah SAW bersabda:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً صِرَاطاً مُسْتَقِيماً وَعَلَى جَنْبَتَىِ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعاً وَلاَ تَتَفَرَّجُوا وَدَاعِى يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُفْتَحَ شَيْئاً مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لاَ تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ وْالصَّرِاطُ الإِسْلاَمُ وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ تَعَالَى وَالأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ تَعَالَى وَذَلِكَ الدَّاعِى عَلِى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِى مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِى قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ
 

“Allah telah membuat perumpamaan berupa sebuah jalan yg lurus. Di kedua sisi jalan itu ada dinding yg padanya terdapat beberapa pintu yg terbuka. Pada pintu-pintu itu terdapat tirai yg dilabuhkan.
Sementara di atas pintu gerbang jalan tersebut ada penyeru yg berkata: ‘Wahai manusia, laluilah jalan ini sampai ke ujung dan janganlah kalian berbelok-belok'.
Sementara itu ada lagi penyeru lain di atas jalan tersebut yg berkata ketika manusia bermaksud membuka salah satu dari pintu-pintu itu: ‘Celaka, jangan engkau membukanya, sebab bila engkau membukanya, engkau pasti akan terperosok masuk ke dalamnya'.
Jalan di sini maksudnya Islam; dinding maksudnya hukum-hukum Allah; pintu-pintu yg terbuka maksudnya hal-hal yang diharamkan Allah; penyeru di atas gerbang maksudnya al-Qur’an: penyeru di atas jalan maksudnya nasihat dari Allah yg ada di dalam hati setiap muslim.”
(HR. Ahmad dan Muslim)

Ternyata dalam beragama itu butuh "menggali makna" ya.. tidak harfiah, tidak tekstual saja, dan Rasulullah SAW sendiri yg mencontohkannya lewat salah satu hadist di atas.

Dan apa yg menyebabkan "berbelok" dari "jalan yang lurus" seperti yg disimbolkan dari Hadist di atas..? Penyebabnya adalah Thaghut.


THAGHUT adalah segala sumber yang menyebabkan seseorang melampaui batas dalam kemaksiatan, menyesatkan (dari jalan yang lurus), kedurhakaan dan kekufuran; baik yang berasal dari dalam maupun pengaruh dari luar dirinya. 

 

Maksud 'Melampaui Batas' itu apa? 

Setiap apa saja yang melampaui batas-batas hukum yang digariskan oleh Allah SWT untuk para hamba-Nya di muka bumi ini. Segala macam kebatilan, baik dalam bentuk berhala, pemberhalaan, ide-ide yang sesat, manusia durhaka atau siapa pun yang mengajak kepada perbuatan yang menyesatkan. 


Ada wejangan dari Abah Anom yang mesti kita renungkan: 

 

"Thogut teh basa Arab. Ari numutkeun ahli mufasirin mah hartosna: 'tempat-tempat berhala'. Namung upami numutkeun istilah Arab mah hartosna: 'saban-saban nu nyandak pasea, nu ngajak barontak, nu ngajak teu bener teu beres, eta teh thogut'. 

Jadi dimana urang ngajak-ngajak teu bener teh nyaeta keur dipingpin ku thogut." 

Artinya, 

"Thogut itu bahasa arab. Menurut mufasirin artinya adalah 'tempat-tempat berhala'. Tetapi menurut istilah arab artinya adalah 'Setiap ajakan kepada permusuhan, ajakan kepada pemberontakan, ajakan kepada ketidak-benaran, ajakan kepada ketidak-beresan adalah thogut.' 

Jadi ketika kita mengajak kepada ketidak-benaran artinya sedang dipimpin oleh thogut."


"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama-Nya, (tetaplah atas) fitrah Allah, Yang telah menciptakan manusia, menurut fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS.30:30) 

 

Semoga....
#ombad #tasawuf

01 March 2018

GHIRAH TANPA ILMU

Apa yg menyebabkan seseorang bisa menganggap para pembuat hoax, fitnah dan kebohongan itu sebagai Pejuang Agama..? Karena GHIRAH TANPA ILMU.

Satu sisi sy merasa lucu, dan di sisi lain merasa ngenes.. Sy tidak terlalu mempersoalkan para pembuat hoax nya, karena Setan Iblis mah seumur-umur juga akan ada dan tersedia, meski berbentuk manusia.

Yang jadi perhatian sy adalah masalah Ghirah dari orang-orang yg merasa punya "ghirah" Islam tersebut. Banyak yg ikut-ikutan dengan alasan "ghirah" demi agamanya. Padahal yg kayak gitu mah bukan Ghirah tetapi "Nafsu berjubah Ghirah". Kenapa..?

Karena Nafsu identik dengan hal-hal kotor, sulit untuk disaring kebersihannya dan "kesucian" nya, serta bisa mengakibatkan makin berkembang hal-hal buruk, seperti : kebencian, permusuhan, pertengkaran, kekacauan, dsb.

Sedangkan Ghirah identik dengan hal-hal suci dan berkah sehingga semakin menumbuh-kembangkan ilmu, pemahaman dan keyakinan seseorang dalam agamanya.

Dan ilmu itu berbanding terbalik dengan ego (emosi), dimana semakin berilmu seseorang maka semakin mudah orang tersebut menahan/mengontrol ego/emosinya. Semakin tidak mudah marah, apalagi sampai teriak-teriak "bunuh" meski sambil bertakbir. Jadi wajar saja jika semakin membuat stigma bahwa Islam itu beringas dan garang, bukan lembut dan kasih sayang.

Ghirah yg merupakan "semangat cinta agama" pun bisa berubah jadi "ghirah" yg obsesif kompulsif penuh nafsu kemarahan dan kebencian, dan akhirnya bisa merusak diri sendiri serta tatanan umum, bahkan meluluh-lantakkan suatu negara dan bangsa.

Dan bukan termasuk kategori Ghirah jika menimbulkan kerusakan dan kekejian.


“Ketika qalbu bertindak sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi, maka ia menjadi dekat kepada Rabb-nya. Dan, ketika ia telah dekat, maka ia akan memperoleh pengetahuan. Kini qalbu dapat membedakan mana yg benar-benar menjadi milik-Nya dan apa yg dituntut darinya; apa yg menjadi milik Allah dan apa yg menjadi milik selain-Nya; apa yg termasuk Kebenaran (haqq) dan apa yg termasuk Kebatilan. Sebab, seorang Mukmin dianugerahi cahaya yg dengannya dia bisa melihat, demikian pula halnya dengan sang Pejuang Kebenaran yg dekat dengan Allah, ash-Shiddîq al-Muqarrab. Orang Mukmin memiliki cahaya yang dengannya dia bisa melihat, dan itulah sebabnya Nabi SAW memperingatkan kita agar berhati-hati terhadap firasat orang Mukmin." (Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, kitab Jala Al-Khatir)

Mudah-mudahan bisa "menggali" esensi yg tersembunyi dalam ayat ini :

"Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu Shalat, sedang kamu dalam Keadaan Mabuk, sehingga kamu mengerti apa yg kamu ucapkan." (QS. An-Nisa: 43)


"Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yg banyak bersumpah lagi hina, yg banyak mencela, yg kian kemari menghambur fitnah..." (QS. Al-Qalam: 10-11)


Semoga...
#ombad #tasawuf

24 February 2018

DAKWAH ITU BENING HATI

Suatu hari Syeikh 'Abdul Qadir Al-Jailani qs. ingin mendidik anaknya, "Wahai anakku, berdiri dan berceramahlah."

Si anak kemudian berceramah dgn sangat bagus. Namun, tidak ada seorang pun yg menangis dan merasa khusyu'. Mereka bahkan bosan mendengar ceramahnya.

Setelah anaknya selesai berceramah Syeikh 'Abdul Qadir naik ke mimbar lalu berkata, "Para hadirin, tadi malam, isteriku, ummul fuqoro menghidangkan ayam panggang yg sangat lezat, tapi tiba-tiba seekor kucing datang dan memakannya."

Mendengar ucapan ini, para hadirin menangis, bahkan sampai ada yg histeris.

Si anak berkata, "Aneh..., aku bacakan kepada mereka ayat-ayat Quran, Hadits-hadist Nabi, Syair dan berbagai Akhbar, tak ada seorang pun yg menangis. Tapi, ketika ayahku menyampaikan ucapan yg tidak ada artinya, mereka justru menangis. Sungguh aneh, apa sebabnya..?"

**

Inti dari dakwah/ceramah (baca: ilmu) itu bukan terletak pada susunan kalimat, tapi pada Kesucian dan Kebeningan Hati yg didasari oleh sifat Shiddiq si pembicaranya.

Ucapan atau tulisan hanya alat, bagus tidaknya bukan jaminan 'tembusi' qalbu. Ilmu itu komunikasi dari qalbu ke qalbu, bukan sekedar otak ke otak, pikiran ke pikiran. Dan iImu itu bukan sekedar pengetahuan.

Banyak 'makna' dan 'esensi' yg sulit diutarakan dengan keterbatasan ucapan dan tulisan, hanya bisa lewat 'komunikasi' secara batiniah antar qalbu.

Kalau dalam tasawuf, seperti halnya istilah Dzikir Sirr, dzikir tanpa huruf tanpa kata. Sulit bahkan tidak bisa diterangkan secara verbal.
 
Rasulullah SAW bersabda:

"Ilmu adalah cahaya (nur)."

Jadi dalam konteks qalbu, menjadi sebuah kesia-siaan jika qalbu yg menjadi sumber ilmunya (cahaya) masih sifat-sifat Kegelapan, seperti adanya unsur riya, ujub, takabur (sombong) dan merasa dirinya paling benar, sekalipun kata-kata yg dikeluarkan bersumber dari Kitab Suci.

Mudah-mudahan bisa "menemukan makna dibalik bentuk", dan juga bisa menjadi orang berilmu tapi tidak bodoh dalam menyampaikan ilmu.


Semoga..
#ombad #tasawuf

SIFAT BAWAAN IBLIS

Dalam kitab Bidayah al-Hidayah, Imam Al-Ghazali ra. mengatakan :

"Janganlah engkau memvonis Syirik, Kafir atau Munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yg mengetahui apa yg tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT. Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : 'Mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu..? Mengapa engkau diam saja tentang dia..?'
Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggung-jawabannya oleh Allah SWT)."

Tukang vonis keimanan orang itu sudah marak sejak dulu (abad 11 M), bahkan sebelumnya juga. Jadi kalau yg seperti itu ada sekarang artinya ada suatu tahapan kesadaran dalam dirinya yg "salah belok", seperti halnya Iblis yg awalnya merupakan sesosok hamba Allah yg Taat, tapi berujung sesat. Itu makanya seorang ulama sekaliber Imam al-Ghazali pun mewanti-wanti agar menjauhi sifat seperti itu.

Dan tipikal seperti itu akan selalu ada sebagai ujian bagi hamba-hamba Allah yg dituduhnya agar selalu ber-introspeksi untuk meningkatkan kualitasnya. Menjadi "pengingat" bagi dirinya dan juga agar tidak mencontoh sifat "menghakimi" keimanan orang seperti itu.

Tukang vonis yg merasa paling beriman sedunia akhirat ini selalu meyakini bahwa hanya mereka saja yg mendapatkan petunjuk (hidayah) dari Allah SWT, sehingga jika ada yg berbeda pendapat dan beda pemahaman dengan mereka, maka mereka akan menganggap sedang melawan Allah dan Rasul-Nya. Tanpa disadari mereka sedang mengikuti sifat-sifat kaum Khawarij.

Terkait sifat bawaan Iblis ini, ada ucapan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs. yg bisa dijadikan acuan, yaitu :

"Puncak dari mempertuhankan hawa nafsu adalah mempertuhankan diri sendiri.."

Dimana makhluk jenis manusia yg bisa dijadikan contoh adalah Firaun, yg merasa paling benar, bahkan sampai mengaku dirinya Tuhan.

Mudah-mudahan kita dijauhkan dari sifat bawaan Iblis seperti itu...


Semoga....
#ombad #tasawuf