03 December 2019
TUKANG CACI MAKI
28 February 2019
BEDA PENDAPAT... TERTAWALAH
Antar teman, bahkan antara Murid dengan Guru itu bisa Beda Pendapat, tetapi gak jadi musuh-musuhan.
Begitupun antara Imam Syafi'i ra. yg merupakan murid dari Imam Malik ra. ada perbedaan pendapat dengan gurunya terkait Rejeki.
Dalam sebuah majlis, Imam Malik menerangkan tentang Rejeki :
"Sesungguhnya Rejeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan Tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan memberikan Rejeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya."
Sementara sang murid, Imam Syafi'i berpendapat lain, bahwa :
"Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan Rejeki."
Guru dan Murid bersikukuh pada pendapatnya.
Sampai pada suatu hari, Imam Syafi'i ketika sedang di luar pondok melihat serombongan orang tengah memanen anggur, maka Beliau pun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.
Imam Syafi'i girang, bukan karena dapat anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya "jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rejeki", maka jika ia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.
Lalu bergegaslah Beliau menjumpai gurunya. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia menceritakan "pekerjaan" memanen anggur. Imam Syafi'i sedikit mengeraskan bagian kalimat “seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”
Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan,
“Sehari ini aku memang tidak ke luar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rejeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan Tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rejeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”
Sang Guru dan Murid ini pun akhirnya tertawa.
Dan seperti itulah Ulama sekaliber Mujtahid Mutlak dengan kedalaman pemahaman baik secara lahir maupun batin dalam menyikapi perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja, karena masing-masing memahami dalam mengambil dua hukum yang berbeda meski dari Hadits yang sama.
Semoga..
#ombad #tasawuf
06 December 2018
CACI MAKI
Suatu ketika Sayyidina Hasan bin 'Ali bin Abi Thalib ra. (cucu Rasulullah SAW) dicaci maki oleh orang yang tidak suka padanya. Beliau dicaci maki habis-habisan di depan putranya, tapi Beliau hanya diam saja tidak membalas.
Putranya kemudian bertanya,
“Kenapa Ayah tidak membalas caciannya..? Bukankah Ayah tidak seperti itu..?”
Sayyidina Hasan menjawab,
“Ayahku ('Ali bin Abi Thalib), Ibuku (Fatimah Az-Zahra), dan Kakekku (Muhammad SAW), mereka semua tidak pernah mengajariku bagaimana cara mencaci-maki. Jadi aku bingung dan tidak tahu bagaimana caranya membalas..”
**
Jadi sebetulnya keturunan siapa yg suka membenci dan mencaci maki..?
Karena Imam Malik ra. pun mengatakan,
قَالَ الإِمَامُ مَالِكُ -رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-: (إِنْ رَأَيْتَ الرَّجُلُ يُدَافِعُ عَنِ الْحَقِّ "فَيَشْتُمُ وَيَسُبُّ وَيَغْضَبُ" فَاعْلَمْ أَنَّهُ مَعْلُوْلُ النِّيَّةِ، ِلأَنَّ الْحَقَّ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى هَذَا).
"Jika engkau menyaksikan seseorang sedang membela Kebenaran (al-haq), tetapi lisannya mengeluarkan cacian, makian, sumpah-serapah dan mengobral kemarahan, maka ketahuilah bahwa Niat di Hatinya sudah terkotori, karena Kebenaran (al-haq) tidak membutuhkan semua itu."
Semoga..
#ombad #tasawuf
08 November 2018
KALIMAT THAYYIBAH
Thoyyib itu artinya BAIK. Jadi Kalimat Thayyibah itu artinya Kalimat yang baik, apakah itu terkait dengan kebaikan, kesopanan, tidak kasar, tidak berdusta, tidak hoax, tidak mencaci-maki, dsb.
Itu makanya Kitab Tafsir mendefinisikan Kalimat Thayyibah afalah setiap ucapan yg mengandung Kebenaran dan Kebajikan yg bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, serta mengandung segala perbuatan Ma'ruf dan pencegahan dari perbuatan Munkar. Silakan mau pakai bahasa apapun.. sunda, jawa, indonesia, english, arab.. bahasa isyarat pun boleh lah, seperti senyum doank.. atau wajah berseri-seri.. :D
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan Kalimat Yang Baik (Kalimat Thayyibah) seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim : 24-25)
Ibnu Abbas ra. dalam tafsirnya mengatakan bahwa Pohon Yang Baik adalah gambaran pribadi yg baik, Muslim yang muhlis, yang melahirkan maslahah bagi sesama, dan selalu menjadi teladan/manfaat di lingkungannya.
Itu makanya ada Hadist yg mengisyaratkan bahwa "kalimat thayyibah" itu sangat berhubungan dengan amal atau perbuatan yg baik (ma'ruf).
Rasulullah SAW bersabda,
الكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
"Kalimat Thayyibah itu adalah sedekah." (HR. Bukhari)
Jadi, Kalimat Thayyibah ini ujungnya akan terkait dengan Adab, itu makanya Imam Malik ra. mengatakan,
قَالَ الإِمَامُ مَالِكُ -رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-: (إِنْ رَأَيْتَ الرَّجُلُ يُدَافِعُ عَنِ الْحَقِّ "فَيَشْتُمُ وَيَسُبُّ وَيَغْضَبُ" فَاعْلَمْ أَنَّهُ مَعْلُوْلُ النِّيَّةِ، ِلأَنَّ الْحَقَّ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى هَذَا).
"Jika engkau menyaksikan seseorang sedang membela Kebenaran (al-haq), tetapi lisannya mengeluarkan cacian, makian, sumpah-serapah dan mengobral kemarahan, maka ketahuilah bahwa Niat di Hatinya sudah terkotori, karena Kebenaran (al-haq) tidak membutuhkan semua itu."
Mudah-mudahan beberapa Kalimat Thayyibah di bawah ini bisa dipahami juga esensi dan cara mengaktualisasinya :
1. BASMALAH (Bismillaahir Rahmaanir Rahiim).
2. TA'AWUDZ (A'uudzubillaah, dst).
3. TASBIH (Subhaanallaah, dst).
4. TAHMID (Hamdalah, Alhamdulillaah, dst).
5. TAKBIR (Allaahu Akbar, dst).
6. TAHLIL (Laa Ilaaha illallaah, dst).
7. TARJI’ (Istirja’, Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un, dst).
8. ISTIGHFAR (Astaghfirullaah, dst).
9. HAUQALAH (Laa haula walaa quwwata illaa billaah, dst).
10. SALAM (Assalaamu alaikum, dst).
11. HASBALAH (Hasbunallaah wa ni'mal wakil, dst).
12. TAQDIS (Subbuuhun Qudduusun Rabbunaa wa Rabbul Malaaikati war Ruh).
13. TASYMIT (Yarhamukallaah, dst).
Dan banyak lagi ungkapan-ungkapan lain seperti : Masya Allah, Insya Allah, dsb.
Dan kalimat-kalimat Thayyibah di atas termasuk kalimat DZIKIR, serta bisa dijadikan amalan Dzikir, sampai bisa "menyentuh" kesadaran qalbu. Dan tentunya jika dijadikan bendera, apalagi jadi bendera suatu kelompok teror atau gerakan-gerakan radikal, sulit bagi saya untuk mengakui bahwa itu adalah bendera Thayyibah apalagi bendera Tauhid. Kenapa..?
- Karena itu HANYA SIMBOL dari suatu kelompok atau organisasi.
- Karena tidak ada korelasi dengan proses pembentukan Tauhid di dalam hati.
- Karena bisa jadi "berhala".
- Karena saya belum menemukan Hadist terkait istilah "Bendera Tauhid".
Perlu dicatat bahwa Kalimat Thayyibah itu diamalkan (lisan, hati dan perbuatan) agar makin tinggi kualitas Tauhidnya. Artinya banyak sekali macamnya untuk dijadikan "bendera tauhid".. :D
Pertanyaannya..
- Sejak kapan istilah "Bendera Tauhid" itu muncul..?
- Jika munculnya ternyata bukan di jaman Nabi dan para Sahabat, apakah termasuk Bid'ah..?
Semoga...
#ombad #tasawuf #thayyibah
11 March 2018
BERMADZHAB ATAU TIDAK...?
Imam al-Ghazali ra. pernah ditanya soal air. Lalu Beliau menjawab:
"Menurutku pendapat Imam Malik lebih tepat dalam hal ini. Tetapi aku tetap menggunakan pendapat Imam Syafi’i."
Lihatlah, seseorang yg mempunyai derajat ilmu sekelas al-Imam saja masih bermadzhab. Meski Imam Ghazali tahu bahwa pendapat Imam Malik lebih tepat dalam suatu hal, tetap saja beliau berpegang kepada madzhab Syafi'i.
Berbeda dengan orang-orang atau kelompok tertentu yg mungkin masih jauh dibawah derajat ilmu Imam Ghazali, yg berkata, "Oh, dalam hal ini Imam Malik lah yg benar menurut kami, jadi kami berpegang kepada Imam Malik dalam hal ini. Tapi kalau dalam hal yg itu, pendapat Imam Syafi’i itulah yg benar, jadi kami berpegang kepada Imam Syafi'i dalam hal itu."
Parahnya, mereka menggunakan beberapa madzhab dalam satu bab yg sama. Misal dalam bab Thaharah, mereka berwudhu dengan wudhunya Imam Syafi’i dan mereka batal dengan batalnya Imam Maliki. Kalau mereka Thaharah dengan madzhab Maliki dan Shalat dengan madzhab Syafi’i sich masih mending. Tapi yg bagus adalah sikap Imam Ghazali.
Memang tak ada perintah wajib bermadzhab secara sharih, namun bermadzhab wajib hukumnya, karena kaidah syariah ini:
ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
Maa laa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa waajib.
"Perkara yg menjadi penyempurna dari perkara Wajib, hukumnya juga Wajib."
Misalnya kita membeli air, apa hukumnya..? Tentunya Mubah saja, tapi jika akan shalat fardhu, air tidak ada dan harus beli, serta kita punya uang, maka hukumnya membeli air itu berubah, yg tadinya Mubah berubah menjadi Wajib, karena perlu untuk shalat wajib.
Demikian juga dalam syariah, tidak wajib mengikuti madzhab, namun karena kita tak mengetahui samudra syariah seluruh madzhab, dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul SAW, maka kita tidak mengenal hukum ibadah kecuali menelusuri fatwa yg ada dari para Imam Muhaddits terdahulu, maka bermadzhab pun menjadi wajib, karena kita tak bisa beribadah hal-hal yg fardhu (wajib) kecuali dengan mengikuti salah satu madzhab itu. Itu makanya bermadzhab menjadi wajib hukumnya.
Semoga....
#ombad
23 February 2018
ETIKA BERSOSMED
Masih ingat kan ucapan Imam Malik ra. kepada seorang pemuda Quraisy,
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
“Pelajarilah ADAB sebelum mempelajari suatu ILMU.”
Mari kita bahas bahwa ucapan itu termasuk suatu kebenaran juga dalam dunia sosmed.
Komunikasi secara fisik dengan komunikasi via sosmed itu sesuatu yg berbeda. Seorang teman yg akrab secara fisik, tidak akan jadi masalah ketika di sosmed berkasar ria, wong udah saling mengetahui dan kenal satu sama lain. Tetapi jika komen-komennya dilihat orang/teman sosmed yg belum akrab secara fisik, bisa jadi sesuatu yg negatif, jadi negative thinking. Kenapa? Karena mereka "tidak tahu" kepribadian yg komennya, sehingga ukuran penilaiannya hanya mengacu kepada dirinya, tanpa "menyertakan" pribadi yg komennya.
Dan setiap orang berhak menilai apapun berdasar penglihatannya, khususnya dari aktivitas sosmed kita.
Ada suatu cerita, seorang bos sebuah perusahaan yg mengadakan penerimaan karyawan baru. Selain melihat CV dan interview, ia juga melakukan pengamatan di sosmed. Dan akhirnya ia memutuskan untuk tidak menerima salah seorang lulusan dari universitas bergengsi setelah ia mengamati oranh tersebut via sosmed, dimana gayanya sarkartis dan sering membully, walaupun orangnya pintar. Alasannya, karena orang yg tiap harinya ngamuk melulu di sosmed itu karakternya ya tukang ngamuk, karena ekspresi di sosmed itu salah satu indikasi karakter pribadi. Karakter dasarnya jadi terlihat jelas, walau dalam kesehariannya "tersembunyi".
Nah, artinya "ekspresi" yg dikeluarkan itu sangat berhubungan dengan karakter asli dalam dirinya. Sedangkan karakter ini merupakan output dari "adab" (etika). Ilmu boleh tinggi, tapi jika "adab" nya jongkok, siap-siap aja menerima sesuatu yg buruk (hinaan, hujatan, tuduhan, dsb), bahkan UU ITE pun siap menanti dan menjerat.
Jadi, analogi dunia sosmed itu seperti kita yg sedang bertamu di rumah orang, sehingga harus selalu mengontrol diri, hati-hati, waspada dan tepa salira. Setiap saat harus selalu bisa "meredam" emosi ekstrim, menahan ketidak-sukaan, mengurangi kemarahan, atau tidak mengedepankan kebencian akut terhadap suatu hal, biar tetap aman sentosa.
Hal ini mirip dengan adanya sorotan "kamera cctv" yg selalu meliput diri kita tanpa kita sadari dalam waktu dan lokasi di manapun kita berada.
Akhirnya, kedewasaan sikap dalam konteks "adab" pun harus bisa diajarkan ke jari-jari tangan, biar tidak asal jeplak, tidak asal tulis ataupun komen.
Be Positive...!
Semoga....
#ombad #tasawuf #sosmed
19 January 2018
MURSYID
"... Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang Wali Mursyid." (QS. al-Kahfi : 17)
"Barangsiapa yang tidak mempunyai Mursyid, maka Setanlah yang akan menjadi gurunya." (Imam Malik ra.)
"Jika seseorang berjalan tanpa Mursyid, dia akan tersesat. Dia akan menghabiskan umurnya tanpa mencapai apa yang diharapkan." (Ibnu Athaillah ra.)
Dalam Tasawuf, para Salik yg berjalan tanpa bimbingan ruhani dari Mursyid, tidak akan atau sulit untuk membedakan mana bisikan-bisikan lembut (Hawathif) yg datang dari Allah melalui malaikat, dan mana yg dari setan atau jin.
Artinya, tanpa Mursyid sulit untuk Sampai kepada Allah (Wushul).
Dalam kitab al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Ayyad, ditegaskan, -- dengan mengutip ungkapan Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily ra, -- bahwa syarat-syarat seorang Syeikh atau Mursyid yg layak (minimal) ada lima:
1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai.
5. Memiliki matahati yg tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.
Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:
1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan umat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhlak buruk tanpa peduli dengan perilakunya.
Syeikh Abu Madyan ra. menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah SWT, lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang Pendusta Ruhani :
1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan taat kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhluk.
4. Kontra terhadap Ahlullaah.
5. Tidak menghormati sesama umat Islam sebagaimana diperintahkan Allah SWT.
Mursyid itu :
1. Syaikh al-Iradah, yaitu tingkat tertinggi dalam thareqat yg iradahnya (kehendaknya) telah bercampur dan bergabung dengan hukum tuhan, sehingga dari Syaikh itu atau atas pengaruhnya orang yg meminta petunjuk menyerahkan jiwa dan raganya secara total.
2. Syaikh al-Iqtida’, yaitu guru yg tindak tanduknya sebaiknya ditiru oleh murid, demikian pula perkataan dan perbuatannya.
3. Syaikh at-Tabarruk, yaitu guru yg selalu dikunjungi oleh orang-orang yg meminta petunjuk, sehingga berkahnya melimpah kepada mereka.
4. Syaikh al-Intisab, yaitu guru yg atas campur-tangan dan sifat ke-bapak-annya, maka orang yg meminta petunjuknya akan beruntung, lantaran bergantung kepadanya.
5. Syaikh at-Talqin, yaitu guru ruhani yg mengajar setiap individu anggota thariqat dengan berbagai do’a atau wirid yg selalu harus diulang-ulang.
6. Syaikh at-Tarbiyah, yaitu guru yg melaksanakan urusan-urusan para pemula dari pengamal thariqat.
علمناهذا مقيد بالكتاب والسنة فمن لم يقرأ القران ولم يكتب الحديث ولم يجالس العلماء لايقتدى به فى هذا لشأن
“Ilmu kita ini (tarekat) terikat oleh al-Qur'an dan as-Sunnah. Siapa saja yang belum belajar al-Qur'an dan as-Sunnah dan tidak pula pernah duduk di depan para Ulama (untuk menuntut ilmu) orang tersebut tidak boleh diikuti di dalam tingkah laku tarekat ini.” (Syeikh Abu Qasim Junaidi ra.)
ومن شرائط الشيخ ان يكون عالما بالاوامر الشرعية عاملا بهاواقفا على اداب الطريقة سالكا فيهاكاملا فى عرفان الحقيقة وواصلا اليهاومحرصا عن جميع ذلك
“Diantara syarat guru Tarekat adalah alim atas perintah-perintah Syara`, mengamalkannya, tegak di atas Adab-adab tarekat serta berjalan di dalamnya, sempurna pengetahuannya tentang Hakekat dan sampai pada hakekat itu serta IKHLAS dalam semua hal tsb." (Syeikh Hasyim Asy'ari ra.)
"Buruk sekali bagi orang yg belum belajar ilmu-ilmu. Belum mengetahui yg Maujud dan Ma'dum. Tidak pula mengerti hukum Islam. Tidak pula mengetahui seluruh hukum-hukum. Juga tidak tentang ketetapan, ilmu Ushuluddin dan Nahwu. Demikian pula tidak mengetahui ilmu al-Qur'an, Pidana dan Burhan. Dan tidak pula mendayakan ilmu Hal. Dan juga tidak mengerti tentang martabat para guru. Serta tidak mengetahui rahasia ilmu Nasakh dan Mansukh. Sungguh buruk sekali orang demikian itu apabila ia menduduki martabat para Syeikh." (Syeikh Ahmad at-Tajibi ra., kitab Mabaahisul Ashliyah)
Syeikh Hasyim Asy`ari mengatakan, betapa buruk gambaran seseorang yg mengaku menjadi guru tarekat, sementara belum mendalami semua ilmu sebagaimana tsb di atas. Beliau menyarankan kepada kita, jika belum menemukan guru seperti kriteria yg telah disebutkan pada syarat di atas, maka seseorang boleh mencukupkan diri dgn mendalami kitab Sullam Taufiq, Safinah, Bidayah dan lainnya.
Semoga...
#ombad #tasawuf #mursyid
05 January 2018
KETIKA DANGKAL BERBUAH TEKSTUAL
Saking luas dan "berlapis-lapis" nya dimensi makna al-Quran maka tidak usah heran jika ada satu ayat Quran yg dipakai, tetapi pemahaman bisa beda. Boro-boro bahasa Arab yg bertingkat-tingkat, "menterjemahkan" kalimat dalam bahasa Indonesia yg tingkatnya sangat sederhana saja bisa salah, seperti "haram nikah sama cewek sekampung".. :D
Jadi karena kedangkalan ilmunya maka ada yg sekedar tekstual pemahamannya, padahal selain makna Lahir, ayat-ayat al-Quran pun menyimpan petunjuk-petunjuk dan makna-makna Batin yg tak terhingga tetapi saling berhubungan. Tahunya beras itu hanya jadi nasi, padahal bisa jadi ketupat, kerupuk, cendol, tape, arak, dan masih banyak lagi.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Al-Quran mempunyai Lahir dan Batin."
"Allah menurunkan Al-Quran dengan sepuluh batin, lebih batin lebih bermanfaat dan lebih menguntungkan, karena batin ini adalah sumber (pusat/ pokok)."
Apalagi kalau memahaminya sekedar lewat terjemahan, wah bisa berabe.. semisal "Allah bersemayam di Arasy", sehingga mengakibatkan munculnya pemahaman-pemahaman aneh terkait Allah dalam konteks fisik. Ataupun terkait ayat-ayat "jihad" sehingga banyak memunculkan aksi-aksi terorisme. Begitupun dengan ayat "bumi terhampar dan didatarkan".. yg menyebabkan banyak Muslim yg meyakini bumi datar. Dan yg lebih pelik, jika mereka memelintir ayat Al-Quran seenak udelnya, padahal mereka tanpa didasari ilmu terkait al-Quran, bahkan mereka pun tidak tahu bahwa beberapa abad yg lalu justru ilmuwan Islam bernama al-Biruni yg mengukur bulatnya Bumi.
Itu makanya Sahabat Anas bin Malik ra. mengingatkan,
كم من قارئ للقرآن والقرآن يلعنه
"Betapa banyak orang membaca al-Qur’an, namun al-Qur’an sendiri melaknat pembacanya."
Memang suatu kewajaran jika ada perbedaan pendapat, karena dasar pemahamannya ada yg berbeda. Tetapi yg tidak wajar itu jika pendapatnya itu tidak didasari disiplin ilmu-ilmu yg terkait (al-Quran) atau sekedar pendapat dari pikirannya belaka. Apalagi jika salah syarat utama dalam urusan mentafsirkan suatu ayat al-Quran nya tidak dipenuhi, seperti Objektivitas dan bersihnya hati (masih banyak penyakit hatinya). Seperti yg diisyaratkan oleh Ibn Taimiyah ra.:
"Penyakit yg dibawa oleh ilmu pengetahuan adalah Kesombongan (merasa paling pintar) dan penyakit yg dibawa oleh orang yg beribadah adalah Riya (merasa paling beriman)."
Semoga....
#ombad #tasawuf
09 November 2017
HIKMAH & KEBENINGAN HATI
Ada nasehat dari Imam Malik ra. :
قَالَ الإِمَامُ مَالِكُ -رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-: (إِنْ رَأَيْتَ الرَّجُلُ يُدَافِعُ عَنِ الْحَقِّ "فَيَشْتُمُ وَيَسُبُّ وَيَغْضَبُ" فَاعْلَمْ أَنَّهُ مَعْلُوْلُ النِّيَّةِ، ِلأَنَّ الْحَقَّ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى هَذَا).
"Jika engkau menyaksikan seseorang sedang membela Kebenaran (al-haq), tetapi lisannya mengeluarkan cacian, makian, sumpah-serapah dan mengobral kemarahan, maka ketahuilah bahwa Niat di Hatinya sudah terkotori, karena Kebenaran (al-haq) tidak membutuhkan semua itu."
Apakah nasehat Imam Malik di atas berhubungan dengan ayat ini?
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Hikmah dan Pelajaran yg Baik, dan Bantahlah mereka dengan cara yg Baik...." (QS. An-Nahl: 125)
Soalnya Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. pernah mengatakan :
لاَ شَرَفَ مَعَ سُوْءِ أَدَبٍ
"Tidak ada kemuliaan yg disertai dengan adab yg buruk."
Dan ucapan Imam 'Ali ini mirip seperti yg dikatakan Imam Abdullah bin Mubarak ra..:
لاَ يَنْبُلُ الرَّجُلُ بِنَوْعٍ مِنْ الْعِلْمِ مَا لَمْ يُزَيِّنْ عَمَلَهُ بِالأَدَبِ
"Seseorang itu tidak akan mencapai kemuliaan dengan salah satu macam ilmu selama dia tidak menghiasi amalnya dengan Adab."
Di kitab Hilyatul Awliya pun Imam Malik mewanti-wanti :
تَعَلَّمِ اْلأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
"Pelajarilah Adab sebelum engkau mempelajari ilmu."
Berarti kalau gitu... ada hubungan yg erat antara : Hikmah, Kehalusan Hati, Adab, Kebeningan Hati (Niat) dan ilmu... dan ini semua akan berpengaruh terhadap pemilihan suatu cara/metode dalam menyeru atau mengajak kepada Kebaikan... Amar ma'ruf Nahi munkar... Begitu kah?
Itu makanya Kaidah dasar dalam ber-amar ma'ruf nahi munkar adalah :
"Amar ma'ruf lah dengan cara yg ma'ruf, dan nahi munkar lah dengan cara yg tidak munkar.."
Semoga....
#ombad #tasawuf
22 September 2017
TASAWUF SALAH...?
Kalau ilmu baru secuil, ya berlakulah seperti hamba Allah yg baik, yaitu pelajari ilmu yg tidak dikuasainya. Jangan asal sesat menyesatkan sesuatu yg tidak dipahaminya.. kan malu atuh sama ulat yg berada di kepompong.. :D
Masa mau kayak Ibn Taimiyah, dimana waktu mudanya banyak bikin tulisan/buku yg menyalah-nyalahkan Tasawuf, sampai akhirnya diujung umurnya baru paham, lalu Beliau pun ikut bertasawuf, jadi pengamal Tarekat Qadiriyah.. Masih kalah kan urusan keilmuan fiqh/syariat kalau dibanding Ibn Taimiyah...? :D
Atau keilmuannya mau dibandingkan dengan para Imam Madzhab..? Para Imam Madzhab pun adalah para Pengamal Tasawuf. Itu makanya mereka banyak berpendapat tentang Tasawuf, bahkan menulis juga buku-buku tentang Tasawuf dalam hubungannya dengan Fiqih. Dan perkataan para imam madzhab, diantaranya:
“Orang yg mengamalkan Tasawuf tanpa mempelajari Fiqih, ia merusak imannya, sedangkan orang yg memahami Fiqih tanpa menjalankan Tasawuf ia merusak dirinya sendiri. Hanya orang yg MEMADUKAN KEDUANYA lah yg menemukan KEBENARAN --man tashawwafa wa lam yatafaqqah fa qad tazandaqa waman tafaqqaha wa lam yatashawwaf faqad tafassaqa wa man jama`a baina humâ fa qad tahaqqaqa--." (Imam Malik ra.)
”Berusahalah engkau menjadi seorang yg mempelajari ilmu Fiqih --menjalani Syariat-- dan juga menjalani Tasawuf, dan janganlah engkau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya Demi Allah aku benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yg hanya mempelajari ilmu Fiqih --menjalani syariat-- tapi tidak mau menjalani Tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan taqwa. Sedangkan orang yg hanya menjalani Tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu Fiqih --menjalani Syariat--, maka bagaimana bisa dia menjadi Baik/Ihsan..?” (Imam Syafi’i ra.)
Btw, jadi inget cerita dari seorang teman..
Ada seekor KERA yg baru menemukan beberapa buah manggis yg sudah matang. Lalu si Kera mengambil buah manggis tersebut dan coba menggigitnya satu persatu. Ternyata semua buah manggis yg ia gigit rasanya pahit semua. Akhirnya si Kera berteriak-teriak memberitahu teman-temannya untuk tidak memakan buah manggis, dengan alasan bahwa buah tersebut pahit. Dan setiap kali kera menemukan buah manggis tidak ada yg mau mendekatinya, bahkan kera-kera itu selalu berkata pada teman-temannya,
"Jangan makan buah itu, karena selain hitam, buah itu pun pahit..!"
Masih banyak hal yg belum kita fahami.. Itu makanya seorang Musa as. yg Nabi sekalipun, harus belajar hal-hal lain ke Khidir as...
:D
Semoga....
#ombad #tasawuf