Showing posts with label Abah Anom. Show all posts
Showing posts with label Abah Anom. Show all posts

29 August 2019

TRANSFORMASI IKHLAS

IKHLAS itu sangat sulit, bahkan paling sulit. Apalagi dari pola pendidikan yang kita terima sejak kecil "tanpa disadari" selalu berkutat pada orientasi Hasil (baca: untung, pamrih).

Dalam hal ibadah pun, selalu ujungnya memakai "imbalan" atau "pamrih". Menguntungkan, jika ke surga, dan tidak merugi ke neraka. Dan "dibuatlah" aturan-aturan, lengkap dengan kata-kata "dilarang" atau "diharamkan", disarankan atau diperbolehkan, dihalalkan, bahkan diwajibkan. Tentunya supaya ada semangat dan motivasi untuk mengikutinya, serta tak lupa juga disertai bumbu penarik hati, yaitu aspek "reward & punishment".

Bukankah begitu juga ketika menerapkan urusan pendidikan (sekolah) ke anak..? Rajin belajar biar jadi dokter, dan ujungnya agar supaya bisa kaya. Biar jadi insinyur, agar makmur. Bahkan urusan zakat, sedekah serta infaq pun dibikin menarik supaya bertambah kaya dan makmur berkali-kali lipat. 

Salahkah seperti itu..? Tentu tidak, karena "kesadaran" terluar sangat berhubungan dengan Keinginan dan nafsu-nafsu, yang notabene berhubungan semua dengan kesenangan secara lahir.

Aktualisasi aturan yang awalnya didasari "kewajiban yang pamrih" --butuh balasan-- ini akan bertransformasi menjadi "kewajiban tanpa pamrih" --terserah mau ada balasan atau tidak, yang penting melakukan sebaik-baiknya--. Dan tahapan selanjutnya adalah menjadi suatu "kebutuhan", karena sudah terbiasa melakukannya. Jika sudah seperti ini, akan ada sesuatu yang hilang saat tidak melakukannya, perasaan dan hati pun menjadi tidak tenang. Dan kedamaian dan ketentraman akan muncul saat bisa melakukannya, sebutlah ini "surga".

Akhirnya, ketika aspek "kebutuhan" ini sudah bisa melewati "ketidak-inginan" dan "keinginan" maka diharapkan akan lebih mudah dalam menapaki tahapan selanjutnya, yaitu "Keikhlasan" dan "Keridhaan". Perlu diketahui, dalam konteks transedental, Keikhlasan itu "satu arah" sementara Keridhaan itu "dua arah".

Sehubungan dengan proses transformasi ikhlas ini, Abah Anom (TQN Suryalaya) pernah memberi nasehat dalam tausiahnya, 10 April 1970 sebagai berikut :

"Dalam melaksanakan ibadah, tidak bisa langsung ikhlas, biasanya dilaksanakan pada awalnya karena Pamrih Ingin ini dan itu. TIDAK APA-APA UNTUK SEMENTARA. Teruslah laksanakan ibadah tersebut untuk melatih diri, untuk melatih agar menjadi biasa, untuk melatih Ridha dan Ikhlas karena perintah Allah Ta'ala. Alat latihannya supaya hati bisa menjadi Ikhlas dan Lillaah (karena Allah) adalah rajin berdzikir mengucapkan kalimat Thayyibah (Laa ilaaha illallaah), sampai terasa menetap di dalam Rasa."

Jadi ada suatu proses dalam mengedepankan sesuatu, apakah mau mengedepankan segala bentuk ciptaan atau mengedepankan sang Penciptanya. Dan ujungnya harus bisa mengedepankan Sang Pencipta tanpa tergiur segala sesuatu yang diciptakan-Nya, serta hanya hati yang bisa memilih dan merasakannya.

"Dalam diriku Kau tumbuhkan: terkadang duri, terkadang mawar. Dan kucium bau mawar, dan kucabut duri. Kalau memang Kau biarkan aku begitu, begitulah aku. Kalau Kau biarkan aku begini, begini pulalah aku." (Rumi)

Semoga...
#ombad #tasawuf

04 May 2019

ABAH ANOM, GUSDUR & JOKOWI

Pengalaman DIZHALIMI orang itu sangat tidak enak, menyesakkan dan pedih. Mungkin kita semua pernah mengalaminya, apakah di lingkungan kerja, karir, bisnis, pertemanan, dsb, bahkan pelakunya bisa orang yg paling dekat dan sangat dipercaya sebelumnya.

Saat didzalimi, siapapun ingin rasanya untuk membalas, apalagi jika punya kemampuan untuk membalasnya, baik secara halus maupun kasar. Tapi, bagi saya pribadi seakan-akan Hadist ini menyuruh agar lebih mengingat Allah dan tidak melakukan tindakan pembalasan.

Rasulullah SAW bersabda :

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah.” (HR. Muslim, kitab Iman, dari Mu’adz bin Jabal ra.)

Dan ada kisah yg selalu menginspirasi sy agar selalu bisa untuk memaafkan yg mendzalimi, walau memang sangat sulit sekali.

Beberapa hari sebelum Muktamar NU ke-29 di Cipasung Tasikmalaya 1994, Gusdur sowan ke Pondok Pesantren Suryalaya menghadap Abah Anom (KH. Shohibul Wafa Tajul Arifin), hendak memohon doa dan restu dari pengasuh PP Suryalaya dan juga Mursyid TQN (Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah).

Baru saja Gusdur mau cium tangan, Abah Anom sudah berpesan:

"Kyai, andai Kyai (Gusdur) BISA MEMAAFKAN orang-orang yang mendzalimi Kyai, jangankan jadi Ketua NU jadi Presiden pun Kyai bisa."

Dan 5 tahun kemudian, ucapan Abah Anom ini pun terbukti.

Begitupun yg terjadi pada Jokowi, saat acara “Njejegake Sakaguru Nusantara” (Menegakkan Kembali Sokoguru Nusantara) di Solo pada tanggal 8 Januari 2006.

Saat itu Gusdur bersama sejumlah tokoh agama mengadakan pertemuan di Solo. Sewaktu Gusdur mampir di rumah dinas Walikota Solo (yaitu Jokowi, yang baru 6 bulan menjabat Walikota), terjadilah percakapan Gusdur dengan Mbah Liem (KH. Moeslim Rifa’i Imampuro).

“Njenengan harus jadi presiden lagi Gus..” kata Mbah Liem sambil menepuk pundak Gusdur.

“Mboten ngaten (tidak begitu), Mbah. Siapapun yang dikehendaki rakyat, termasuk Pak Jokowi ini, kalau dia jadi Walikota yang BAGUS, kelak juga bisa jadi Presiden..” jawab Gusdur.

Meski Gusdur tidak mengatakan urusan didzalimi, tetapi fakta mencatat bahwa Jokowi bahkan keluarganya banyak didzalimi lewat fitnah dan hoax.

Dan 8 tahun kemudian, ucapan Gusdur ini pun terbukti.


Semoga...
#ombad #abahanom #gusdur #jokowi

17 March 2019

TASAWUF DALAM NARASI KEBENCIAN

Aksi-aksi terorisme itu terbentuk bukan dalam waktu yg pendek, butuh proses pembentukan dan pengembangannya.

Jika diibaratkan dengan pohon, maka :

- Akarnya adalah KEBODOHAN.
- Batangnya adalah KEBENCIAN.
- Rantingnya adalah PERBEDAAN.
- Daunnya adalah PEMBENARAN.
- Buahnya adalah PERMUSUHAN.

KEBODOHAN akan menutupi jika dipicu oleh KEBENCIAN, dan sebaliknya, jika ditanami Kasih Sayang, maka Kebodohan akan berubah jadi Tercerahkan (Hidayah).

Hasilnya bisa jadi dua macam ; Pertama, jika melihat PERBEDAAN dengan hati bersih dan kasih sayang, maka Perbedaan tersebut akan jadi Petunjuk bagi dirinya dan inilah yg disebut Rahmat. Kedua, jika melihat PERBEDAAN dengan hati kotor, penuh Kebencian dan merasa paling benar/beriman, maka Perbedaan tersebut akan memicu Pembenaran dalam dirinya, menguatkan syahwat Permusuhan, dan inilah yg disebut Thoghut.

"Thoghut itu bahasa Arab. Menurut Mufasirin artinya adalah 'tempat-tempat berhala'. Tetapi menurut istilah Arab artinya adalah 'Setiap ajakan kepada permusuhan, ajakan kepada pemberontakan, ajakan kepada ketidak-benaran, ajakan kepada ketidak-beresan adalah thoghut'. Jadi ketika kita mengajak kepada ketidak-benaran artinya sedang dipimpin oleh thoghut." (Abah Anom TQN Suryalaya)

Contoh dari PERBEDAAN yg dapat memicu PEMBENARAN (meski seagama) adalah seperti tuduhan di bawah ini (dari yg paling ringan sampai berat) :

"Dasar Ahli Bidengah..!"
"Dasar Kuburiyun...!"
"Liberal, Kapitalis..!"
"Dasar Syiah..!"
"Syiah bukan Islam..!"
"Dasar Munafik..!
"Dasar Kafir..!"

Dan akhirnya jadilah PERMUSUHAN, karena "darahnya jadi halal".. dalam ilusinya "jika beda dengan dirinya maka jadilah musuh, jadilah Kafir dan boleh dibunuh.."

Narasi Kebencian seperti di atas prosesnya butuh waktu lama, dan pupuk-pupuknya bisa bermacam-macam : apakah itu terkait agama dimana adanya dalil-dalil ayat suci yg salah ditafsirkan, isu "keunggulan" Ras, isu ketimpangan ekonomi, dsb.

Pupuk-pupuk ini yg membuat si Pohon Kebencian makin tumbuhkembang, lalu panen Permusuhan, sampai akhirnya berakibat Kerusakan, Kehancuran, Peperangan dan Pembunuhan.

Jadi gak lucu kan.. jika ada seorang Ustat yg mengecam Teroris NZ karena bunuh orang di mesjid tetapi dia biasa Takfiri ke kelompok lain sambil teriak "Kafiiir.. halal darahnya.." atau teriak rasis "osang-aseng.." Masa Pak Ustat ini gak sadar bahwa ia ikut mengajak jamaahnya untuk membenci, memperbesar Kebencian dan ikut menebar benih terorisme..?

Sama saja kan.. Teroris atas nama Agama menteror orang yg beda agama dengan Teroris atas nama Ras menteror orang yg beda ras..?

Dan tambah gak lucu.. saat di New Zealand dan Australia, para orang tua mengajak anak-anak mereka ke mesjid-mesjid, meletakkan bunga serta kartu turut belasungkawa, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka sedang mengajari dan menumbuhkan nilai Kemanusiaan, bukan Kebencian. Dan sementara di sini, di Indonesia, anak-anak diajak nonton video pembantaian sambil bilang kalo umat muslim didzalimi.

اِرْحَمْ مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكَ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu." (HR. ath-Thabrani)

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

09 July 2018

SYEIKH AHMAD KHOTIB SAMBAS

SANTRI NUSANTARA PASTI NYAMBUNG SILSILAH GURUNYA

SILSILAH NASAB ILMU ULAMA NUSANTARA:

Syeikh Ahmad Khotib Sambas Guru Para Ulama Nusantara

Syeikh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama yang mendirikan perkumpulan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Perkumpulan Tarekat ini merupakan penyatuan dan pengembangan terhadap metode dua Tarekat sufi besar. yakni Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah.

Syekh Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat.

Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.

Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M.

Guru-gurunya:

1. H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.
2. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
3. Syekh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Mekkah)
4. Syekh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Mekkah)
5. Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami
6. Syekh Ahmad al-Marzuqi
7. Syekh Syamsudin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah.

Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air.

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani yg masyhur disebut sayyid ulama hijaz(tuannya ulama makkah)  adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.

Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas.

Syeikh Ahmad Khotib Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainny seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara.

Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Peranan Dan Karyanya

Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini.

Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab FATHUL ARIFIN yang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. Kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.

Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini.

Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.

Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir.

Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa'id al-'Amudi dan Ahmad Ali.

Murid-Muridnya antara lain:

1. Syekh Nawawi Al Bantani
2. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan Madura
3. Syekh Abdul Karim Banten
4. Syekh Tolhah Cirebon

Syekh Nawawi Al Bantani dan Syekh Muhammad Kholil selain berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas juga berguru kepada Syekh Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafii di Masjidil Haram Mekkah.

Sepeninggal Syekh Ahmad Khatib Sambas, Imam Nawawi Al Bantani ditunjuk meneruskan mengajar di Madrasah beliau di Mekkah tapi tidak diberi hak membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Sedangkan Syekh Muhammad Kholil, Syekh Abdul Karim dan Syekh Tolhah diperintahkan pulang ke tanah Jawa dan ditunjuk sebagai Khalifah yang berhak menyebarkan dan membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Murid murid Syekh Ahmad Khatib Sambas diatas adalah guru para Ulama-Ulama Nusantara generasi berikutnya yang dikemudian hari menjadi ulama yang mendirikan pondok pesantren dan biasa dipanggil dan digelari sebagai KYAI, Tuan Guru, Ajengan, dsb.

Sebagai contoh, Syekh Muhammad Kholil Bangkalan Madura mempunyai murid-murid antara lain:

1. KH. Hasyim Asy’ar : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional punya murid Kh chudori magelang punya putra kh abdurrahman chudori guru alfaqir.
2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri.
3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).
4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
5. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah
6. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon.
7. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.
8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia.
9. KH. Zaini Mun’im : Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah.
10. KH. Abdullah Mubarok : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren SURYALAYA, kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis.
11. KH. Asy’ari : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.
12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep.
13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf.
14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.
15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan
16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep.
17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.
18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.
21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat.
22. KH. Abdul Hadi : Lamongan.
23. KH. Zainudin : Nganjuk
24. KH. Maksum : Lasem
25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung
26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo.
27. KH. Munajad : Kertosono
28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang
29. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang
30. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura
31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi
32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura.
33. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso
34. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat
35. KH. Raden Fakih Maskumambang : Gresik
36. KH. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.

Semoga...
#tasawuf #thariqah

15 June 2018

SAKTI

Dulu, sewaktu Abah Anom masih hidup, banyak ikhwan (murid TQN) yg sowan ke Suryalaya untuk mengadu berbagai masalah yg menimpa dirinya, tetapi Abah Anom hanya menjawab:

"Teruskan dzikirmu.."

Kadang banyak yg mengalami fenomena "ketika berdzikir badannya bisa terangkat dari lantai", bahkan sampai melayang-layang di udara (terbang), dan sejak jaman Abah Sepuh pun fenomena seperti ini ya biasa. Tetapi ketika mereka mengadu ke Abah Anom perihal fenomenanya, Abah hanya menjawab:

"Teruskan dzikirmu, karena itu belum sempurna..!"

Memang selalu ada saja diantara ikhwan itu yg menyukai ilmu Kesaktian, Kanuragan ataupun Kadigdayaan, namanya juga manusia.. :D .. Tetapi kepada mereka yg seperti itu, Abah selalu berpesan:

"Letakkan dulu keilmuan yg telah engkau pelajari kemarin dan amalkanlah dzikir Laa ilaaha illaalloh karena dzikir ini ibarat nasi, kalau sudah matang tinggal mencari lauk pauknya." 

Dan ilmu Kesaktian, "keparanormalan", Kedigdayaan ataupun Kanuragan itu hanya merupakan ilmu permainan "anak kecil" saja, paling banter hanya bisa menembus alam jin, tetapi tidak akan bisa melewati alam Malakut, Jabarut apalagi Lahut. :D

Bahkan Karomah pun dalam konteks Kewalian itu hanya tahap awal saja. Meskipun seseorang memiliki kemampuan luar biasa seperti: terbang, tubuh menjadi seratus atau bahkan seribu dalam satu waktu, berjalan di atas air, dsb, belumlah dianggap mencapai kesempurnaan kalau belum berma’rifat kepada Allah.

Dalam kitab Sirrur Asrar (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs.) pun diterangkan bahwa seorang Wali itu adalah orang yg diperkuat dengan Karomah, tetapi mereka tertutup dalam Karomah, mereka tidak diberi izin untuk menjelaskannya, karena menjelaskan rahasia ketuhanan adalah kufur.

Orang-orang yg memiliki Karomah itu "tertutup" dan Karomah itu "haidnya seorang lelaki". Seorang Wali memiliki seribu maqam. Maqam yg pertama adalah Karomah. Orang yg telah menyelesaikan tingkatan Karomah akan naik lagi ke tingkat yg lain, dan jika tersendat (terganggu, tergiur) dalam Karomah, maka tidak akan mampu melanjutkannya.

Jadi memang, Istiqomah itu lebih baik daripada seribu Karomah.

Semoga....
#ombad #tasawuf #karomah

23 April 2018

ASAP ROKOK VS TRUK

Sewaktu mudanya, Abah Anom Suryalaya disuruh oleh ayahnya (Abah Sepuh) untuk melakukan perjalanan jalan kaki dari Suryalaya ke Cirebon. Perjalanan ini didampingi oleh teman nyantrinya yaitu ajengan Aang Cianjur (waktu mudanya biasa dipanggil Oo karena namanya Sirojudin) dan Simri.

Baru sampai di daerah Palimanan mereka sudah kecapean, dan kaki ketiganya pun bengkak-bengkak. Dan mereka pun memutuskan untuk istirahat dulu di tempat itu, yg merupakan sebuah hutan yg sunyi dan jarang dilewati orang.

“Tenang, O, sebentar lagi akan ada mobil truk yg lewat." Kata Abah Anom kepada Aang, meski saat itu sama sekali tidak ada tanda-tanda kendaraan mau lewat, baik dari suaranya, apalagi bekas asapnya.

Ternyata terbukti, karena tidak berapa lama, lewatlah sebuah mobil truk perkebunan milik Belanda. Dan mereka pun melambaikan tangan menghentikan truk tersebut, untuk ikut menumpang. Tapi sayang, supir truk tetap tancap gas, tetap melaju kencang dan tidak mau berhenti.

Abah Anom lalu berkata, "Tenang, O, kita bikin truk itu seperti asap rokok ini.."

Abah lalu menghisap rokoknya. Dan… truk yg sedang melaju kencang itu tertarik mundur bergerak ke belakang. Seperti asap rokok yg dihisap Abah, lalu berhenti di depan mereka. Abah langsung menancapkan rokoknya ke tanah dan rokoknya digencet dengan batu. Maka walaupun truk itu digas kencang berkali-kali, tapi truk itu tetap tidak bisa melaju ke depan.

Rupanya sopir truk itu segera menyadari keadaannya. Sopirnya adalah seorang pribumi pegawai Belanda. Lalu dia turun sambil berkata, "Maaf, Raden, tadi saya tidak melihat Raden bertiga. Kalau Raden bertiga mau ikut naik truk, silakan Raden.."

Tapi mereka bertiga malah berlagak jual mahal, sambil mempersilakan sopir truk itu melanjutkan perjalanannya. Padahal kalau rokok Abah masih digencet batu sampai kapan pun truk itu tidak akan bisa jalan.

Dan sopir truk itu tidak berani kembali ke mobilnya sebelum mereka bertiga mau ikut dengannya. Akhirnya mereka pun mengatakan mau ikut naik truknya.

Lalu sambil berjalan menuju ke truk itu. Abah berkata, "O, cabut rokoknya, O.."

Maka Aang pun segera mencabut rokok Abah yg digencet batu itu, dan Truk kembali bisa berjalan normal seperti sebelumnya.

(Kisah ini diceritakan oleh KH. Aang Muhaiminul Aziz, Ponpes Darul Falah Cianjur)


Kesimpulannya..

Abah Anom lagi muda juga dulu mah perokok dan... agak jail juga ya..?

:D

Semoga..
#ombad #biografi #abahanom

12 March 2018

TRANSFORMASI IKHLAS

IKHLAS itu sangat sulit, bahkan paling sulit. Apalagi pola pendidikan yg kita terima sejak kecil "tanpa disadari" selalu berkutat pada orientasi Hasil (baca: untung).

Dalam hal ibadah pun, selalu ujungnya memakai "imbalan" atau "pamrih". Menguntungkan, ke surga. Tidak merugi ke neraka. Dengan aturan yg diwajibkan agar supaya semangat dan termotivasi. Aspek "reward & punishment".

Bukankah begitu juga ketika menerapkan urusan pendidikan (sekolah) ke anak (kecil) ? Rajin belajar biar jadi dokter, supaya bisa kaya. Biar jadi insinyur, agar makmur. Sedekah pun supaya tambah kaya dan makmur... :D

Salahkah seperti itu? Tentu tidak, karena "kesadaran" terluar sangat berhubungan dengan Keinginan (baca: hawa nafsu).

Selanjutnya, aktualisasi Kewajiban yg didasari "pamrih" ini akan bertransformasi menjadi Kewajiban "tanpa pamrih", lalu menjadi suatu "Kebutuhan" dan mudah²an akhirnya memasuki "Keikhlasan" & "Keridhaan".

Sehubungan dengan proses transformasi ikhlas ini, Abah Anom (TQN Suryalaya) pernah memberi nasehat dalam tausiahnya, 10 April 1970 :

"Dalam melaksanakan ibadah, tidak bisa langsung ikhlas, biasanya dilaksanakan pada awalnya karena Pamrih ingin ini dan itu. TIDAK APA-APA UNTUK SEMENTARA. Teruslah laksanakan ibadah tersebut untuk melatih diri, untuk melatih agar menjadi biasa, untuk melatih Ridha dan Ikhlas karena perintah Allah Ta'ala. Alat latihannya supaya hati bisa menjadi Ikhlas dan Lillaah (karena Allah) adalah rajin berdzikir mengucapkan kalimat Thayyibah (Laa ilaaha illallaah), sampai terasa menetap di dalam Rasa."


Semoga....
#ombad #tasawuf

20 February 2018

NAKAL MEMBAWA BUYAR

Sekitar lima tahun yg lalu, sy mengantarkan terjemahan Tafsir Syeikh Abdul Qadir al-Jailani kepada seorang wakil talqin TQN Suryalaya dari Serawak, yg kebetulan sedang berada di Suryalaya Tasik, yaitu Bpk. Mohamed Trang.

Beliau merupakan salah satu wakil talqin senior karena sejak thn 1978 sudah diangkat menjadi wakil talqinnya Abah Anom.

Tadinya sy mau sebentar saja, hanya mengantar buku tafsir, tetapi ternyata malah ngobrol lama, sampai curhat-curhatan.. :D .. mungkin dari rasa kedekatan, walaupun baru pertama kali ketemu.

Kata Beliau, suatu ketika di tahun 70-an, ia dipanggil Abah Anom dan diberi pinjam sebuah kitab tipis yg langka, yg berisi doa-doa khusus. Syaratnya, silahkan hapalkan sebanyak mungkin selama di dalam ruangan. Sesudah itu, Abah pun keluar karena ada keperluan lain.

Namanya masih berdarah muda, kenakalannya pun muncul... :D.. Karena kesulitan menghapal, akhirnya ia buru-buru keluar lingkungan pesantren dan mencari tempat fotocopy yg memang masih jarang pada waktu itu, hanya ada di kota Tasik. Tidak seperti sekarang, beberapa langkah dari gerbang pesantren pun ada tempat fotocopy.

Dan apa yg terjadi...?
Ternyata hampir semua tempat fotocopy yg ia datangi di kota Tasik tidak bisa memfotocopy...! Eits.. alasannya bukan karena si mesin fotocopynya mendadak ngadat, tapi.... karena waktu itu semuanya sedang mati listrik... :D

Dan ketika balik lagi ke pesantren, kitab langka tsb udah ditunggu pemiliknya... Ah.... nasib katanya.. coba kalau sejak dipinjemin buru-buru dihafal, kan lumayan bisa dapat satu atau dua doa.

Gara-gara nakal semua buyar... :D

Semoga....
#ombad #tasawuf #tqn #suryalaya

14 February 2018

THARIQAH ITU USAHA, BUKAN TUJUAN

Pada pengajian tanggal 11 Muharam 1391 H. Mursyid TQN Suryalaya yaitu Abah Anom  (KH. A. Shohibul Wafa' Tajul Arifin) mengatakan :

"Thoriqoh bukan merupakan tujuan, tetapi merupakan 'usaha' untuk mencapai suatu keberhasilan agar mencapai tujuan.

Adapun gerak (ibadah lahir) telah diajarkan oleh ilmu fiqh, tasawuf dan ushuluddin, sedangkan jiwa diobati oleh dzikir agar 'kemauannya' timbul, sebab bukan tidak mampu untuk menggarap tani, menggarap dagang, bukan tidak ingin memberikan pertolongan kepada orang lain, tetapi 'kemauannya' yang tidak ada dikarenakan sedang datang 'malas'.

Apakah yang menyebabkan malas..? Dikarenakan sedang ada godaan syetan dan bujukan nafsu. Adapun godaan syetan dan bujukan nafsu berada pada perut.

Oleh karena itu dzikrullah berguna untuk memperhalus diri, untuk melepaskan kemalasan, untuk mengajarkan diri agar menjadi manusia 'yang mempunyai kemauan'. Tanpa dzikir tidak akan bisa, dikarenakan manusia diarahkan untuk menta'ati Allah dan Rosul-Nya kepada arah Lillaahi Ta'ala.

Itulah sebabnya Nabi mengajarkan ketika kita akan memulai suatu pekerjaan yang baik harus diawali dengan membaca 'bismillah'. Setiap perbuatan yang baik apabila tidak diawali dengan membaca bismillah, maka perbuatan tersebut dianggap tidak berguna.."

Semoga...
#ombad #tasawuf

24 January 2018

POLIGAMI MENURUT ABAH ANOM

Suatu ketika, ada seorang ustadz yg berpoligami dan masih merasa tidak puas dengan lingkungan sekitarnya yg seolah-olah menyalahkan keputusannya dalam urusan poligami.

Ia pun mendatangi Abah Anom, dengan tujuan mau "membenarkan" keputusan poligaminya. Sebutlah, mengajak berdebat.

Dalil-dalil pun ia kemukakan beserta contoh-contoh tokoh dan para pendahulu di dunia Islam yg berpoligami.

Dan Abah cuma menjawab,

"Ahh.. Abah mah boro-boro punya istri dua, punya satu aja banyak melupakan Allah.."

Sampai akhirnya, ada kejadian yg berhubungan dengan salah satu organ tubuh orang tersebut ketika keluar dari ruangan.

Ada satu kisah lagi tentang seorang ikhwan yg sangat dekat dengan Abah. Suatu hari, ia mau meminta izin Abah untuk menikah lagi. Baru juga masuk ke dalam dan duduk, serta belum sempat menyampaikan keinginannya, Abah pun langsung bercerita,

"Kemarin ada yg datang nemui Abah, terus nanyain kenapa Abah gak nikah lebih dari satu istri seperti ulama lain..?
Terus Abah jawab aja, karena Abah mah bukan Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wasallam (SAW), karena yg memiliki sifat adil itu hanya Rasulullah SAW. Dan istri Abah bukan Siti Aisyah ra. Istri Abah cuma perempuan akhir zaman, yg gak mungkin bisa seikhlas Aisyah ra."

Akhirnya Ikhwan tersebut berpikir, Abah saja seorang Wali dan Mursyid yg kamil mukammil merasa gak mampu, apalagi dirinya yg hanya seorang murid (ikhwan). Dan niat poligaminya pun diurungkan, karena akan banyak yg tersakiti, terbohongi, dan bisa berdampak buruk bagi lahir dan batin.

Dari kedua kisah di atas, Abah Anom sendiri tidak menyalahkan yg berpoligami, Beliau hanya menegaskan bahwa dirinya merasa belum mampu untuk poligami.

Duhh.. Gak jadi dech... 😊

Semoga....
#ombad #tasawuf