Showing posts with label Inferiority Complex. Show all posts
Showing posts with label Inferiority Complex. Show all posts

18 June 2017

MUSLIM KEKINIAN

Fenomena Muslim kekinian, mungkin karena tidak bisa "membangkitkan" dirinya sendiri, akhirnya sebagian Muslim lebih tertarik "membangkitkan" yg diluar dirinya asal masih berhubungan dengan kesamaan "islam" nya.

Penyakit Inferiory Complex memang butuh "suntikan" kebanggaan untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya (baca: kepercayaan diri agama yg dianutnya), lalu diklaim sebagai "pan-islam" dan "ghirah" kebesaran Islam.

Kenapa seperti ini..? Ya karena dalam beberapa tahun terakhir nama Islam banyak "tercoreng" akibat ulah beberapa gelintir oknum dan kelompok yg selalu membawa-bawa nama Islam. Sebagai contoh, ketika kemunculan ISIS pertama kali, langsung euforia "ghirah Islam" mencuat dan banyak orang dan kelompok (yg mengatas-namakan) Islam bersorak mendukung, dalam benak mereka yg buram, dianggaplah ISIS ini pasukan Imam Mahdi. Weks... Kenapa bisa salah, ya karena hawa nafsu yg menutupi "bisikan" hati. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian, barulah para simpatisan ini sadar.. Cuciaan dech.. 😀

Kejadian seperti itu menyebabkan para simpatisan pun "kecewa", dan ketika berulang kali mereka "dikecewakan" (padahal awalnya penuh euforia), lama-kelamaan mereka pun menderita "Inferiority Complex". Dan "penyakit" ini lumayan terobati ketika ada berita ataupun opini yg membuat kebanggaan terhadap agamanya muncul. Saking parahnya terjangkit "Inferiority Complex", sampai akhirnya membabi-buta, bahkan kalau perlu hoax pun ditelan, asal menaikan gengsi keislaman (menurut dirinya), dengan alasan "Inilah semangat, ghirah dan jihad... Allahu Akbar..!"

Akhirnya segala macam diklaim atas nama Islam, dari mulai Sejarah masa lalu sampai Teknologi masa depan.

#KagokEdan lah, sekalian semua diklaim juga dech, bahwa :

- Einstein dan para saintis itu adalah Muallaf,
- Facebook itu aslinya bernama Fasbullah,
- Doraemon itu Durrohman, asalnya dari Arab.
- Patih Gajah Mada itu al-Fatih Gaj Ahmada.
- Dan masih banyak lagi seperti keajaiban-keajaiban bentuk awan, bentuk pohon, buah, dll, sebagai keajaiban Islam.

Memang, sebagian umat butuh yg ajaib-ajaib, maklum mereka sedang menderita Inferiority Complex.. Makin ke sini pun semakin aneh, dimana seorang yg brilian dan punya prestasi dilarikannya ke agama yg dianutnya, padahal di al-Quran pun sudah jelas bahwa mereka bisa seperti itu ya karena usaha keras dirinya, menggunakan akalnya, terlepas agamanya apapun.

Seperti itulah ketika Objektivitas dikalahkan Hawa Nafsu, lalu diberi bumbu "pembenaran" atas nama Ghirah ataupun Jihad. Mereka mungkin lupa bahwa syarat Ghirah maupun Jihad itu "karena Allah" dan bukan "karena nafsu". Jihad fi sabilillah dan bukan "Nafsu rasa Jihad fi sabilillah".

Jadi, mendingan kita banyak introspeksi dan "mengolah diri" saja biar hawa nafsunya berkurang, sehingga bisa membedakan mana hawa nafsu dan mana yg bukan hawa nafsu (baca: cahaya Ruh). Bisa membedakan mana ghirah, mana kebanggaan diri, ego atau eksistensi.

"Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik." (sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw.)

Semoga....

#ombad #ramadhan23

SOMPLAK SYNDROME

Pengidap Somplak Syndrome yg merupakan turunan dari Inferiority Complex Syndrome ini, setelah didiagnosis secara mendalam, dapat disimpulkan punya ciri-ciri :

- Dirinya saja yg boleh ngomong kasar dan itu adalah Iman, Jihad atau Kebenaran. Tetapi orang lain tidak boleh karena itu Arogan dan mulut kotor.

- Dirinya saja yg boleh menyebarkan (hoax/fitnah) keburukan orang lain tanpa "tabayyun" dan itu bukan "ghibah". Tetapi orang lain tidak boleh karena itu "ghibah" dan harus "tabayyun".

- Dirinya saja yg boleh melaporkan ramai² yg dituduh bersalah supaya langsung dipenjara... eh, dikeluarin admin. Tetapi orang lain tidak boleh karena itu fitnah, dzalim dan kriminalisasi.

- Dirinya saja yg boleh mengawal dan bergerombol ke sana kemari. Tetapi orang lain tidak boleh karena itu mengganggu ketertiban umum grup.

- Dirinya saja yg berhak punya dua Aturan Super ini, dimana Aturan Pertama itu dirinya selalu benar, dan Aturan Keduanya jika dirinya salah lihat Aturan Pertama.

Terus, setelah melakukan pengamatan yg terintegrasi, pengidap Somplak Syndrome itu jangan dilawan atau didebat pakai ilmu, pemahaman ataupun dalil², soalnya gak akan ngefek, suka jadi panjang dan ribet. Malah kalo kepepet sukanya nuduh urusan keimanan, seperti: tidak "kembali ke Quran & Sunnah", "syiah", "munafik", bahkan "kafir".

Nah, cara menghadapi mereka sebetulnya mudah kok, cukup gini aja:

"Cie.... cie.... kesurupan Seblak ni yee...!"

Mudah-mudahan tips sederhana tapi cakep ini bisa berguna dunia akhirat...

(Bandung, 07 Feb 2017)

Semoga....
#ombad

CURANG ITU TAK ADIL & TAK OBJEKTIF

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ . الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ . وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ . 

KECELAKAAN BESAR lah bagi orang-orang yg CURANG, (yaitu) orang-orang yg apabila menerima TAKARAN DARI ORANG LAIN mereka MINTA DIPENUHI, dan apabila mereka menimbang atau MENAKAR UNTUK ORANG LAIN, mereka MENGURANGI. ..
QS. Al-Muthaffifin: 1-3 

Ketika pertama kali tahu Surah di atas, para guru ustadz menerangkan tentang timbangan warung, jual-beli. Betul, memang tidak salah. Salah satu hal yg diajarkan surah di atas adalah TIDAK CURANG, atau JUJUR.

Apakah hanya urusan timbangan kiloan dimana 1 kg = 1.000 gram....? Ternyata lebih luas lagi maknanya dari sekedar timbangan kiloan. Apakah itu..?

Menurut sy, ini adalah perintah untuk BERLAKU ADIL dan OBJEKTIF dalam setiap persoalan. Berlaku Adil dan Objektif lah kepada pihak lain walau ada keberpihakan. Memang sulit untuk tidak berpihak, tetapi ini jangan jadi jebakan nafsu, sehingga akibat dari keberpihakan ini malah makin meninggikan rasa Kebencian. Itu mah masuk kategori 'Ashabiyah. Kasarnya, jadi kayak Iblis donk, mengajak membenci sampai akhirnya timbul permusuhan dan perselisihan... dengan dalih Cinta.

"Takaran" dalam ayat di atas bisa luas maknanya, apakah itu pemikiran, pemahaman, pertimbangan akal ataupun pola pandang. Termasuk "tidak melampaui batas" dan/atau berbicara diluar kapasitasnya. Dan selanjutnya berhubungan dengan keseimbangan IQ, EQ dan SQ.

"Mengurangi" atau "Penuhi" dalam ayat di atas adalah Objektivitas dalam menilai sesuatu. Adil dalam menilai sesuatu dan tidak dipengaruhi hawa nafsu. Dan selanjutnya berhubungan dengan "Shiddiqiyah".

Kan malu atuh, masa dari umat/pihak/ kelompok lain pinginnya "dipenuhi takarannya", tapi sebaliknya "mengurangi takaran" ke umat/ pihak/kelompok lain... Faham kan sayank..?

Bagaimana seandainya kalau menurut penilaian Allah, kita ini tidak Adil atau berbuat Dzalim kepada kaum lain, sehingga kaum lain itu merasa teraniaya...? Nah... bisa² Qunut Nazilahnya menghantam diri sendiri... bisa kan seperti itu..? A'udzubillaahi min dzaalik.

Artinya kalau masih begitu, ya lihat ayat selanjutnya Al-Muthaffifin, "Tidakkah orang-orang itu YAKIN.."... Atau kasarnya, ya artinya Kurang Punya IMAN... atau kurang pede... atau Inferiority complex.

Jadi,

“… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak Adil. Berlaku Adillah, karena Adil itu lebih dekat kepada taqwa…” (QS. Al-Maidah: 8)

Share Hoax² dan Bencinya dikurangi eaa...

(Bandung, 09 Des 2016)

Semoga....

#ombad #tasawuf

THE MAJORITY RULES EFFECT

Mungkin karena masih banyak Muslim yg masih minder, demi keamanan, sebaiknya jangan dikritik, ntar ngamuk...

Begitupun mengkritik Ulama, wahh bahaya...! Apalagi mengkritik kumpulan para ulama yg katanya paling tinggi posisinya di Indonesia... wah, paling bahaya... ntar bisa dapat cap Mr. M atau N... Munafik... Neraka.

Ada benarnya dalam hal ini, almukarrom Aher al-hafidz menyarankan BANYAK BERDOA.

Banyak berdoa saja, kalau di Bandung muncul banyak sungai² baru seperti sungai Pasteur, atau sungai Pagarsih, atau danau Bale Endah...

Banyak berdoa saja, jika para pemimpin daerah tidak mampu memecahkan masalah, apalagi kalau pemimpinnya muslim.

Banyak berdoa saja, kalau ada sebagian kelompok yg masih merasa paling benar sehingga kesenangannya memaksakan pendapat sendiri, "Kata gw soto... Soto..!!"

Banyak berdoa saja, kalau ke depan nanti banyak demo-demo yg memaksakan kehendak, menghilang-paksakan "asas praduga tak bersalah". Memaksa jangan diperiksa, langsung dihukum...

Banyak berdoa saja, karena masih banyaknya penderita "inferiority complex" sehingga akan merasa paling jagoan kalau berkelompok. The Majority Rules effect.
 
Iya, banyak berdoa saja, daripada mereka ngamuk bareng-bareng, lalu merusak pot kembang..

Semoga semua makhluk berbahagia...

(Bandung, 10 Nov 2016)

#ombad

BUIH TERAPUNG

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Rasulullah SAW bersabda:

Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan Pemangsa yg memperebutkan makanannya.”

Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita..?”

Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam Hati kalian penyakit Al-Wahan.”

Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu..?”

Rasulullah SAW bersabda: ”CINTA DUNIA dan takut akan kematian.” (HR. Abu Dawud)

Buih yg terapung, terlihat jelas & indah, terlihat banyak apalagi saat ombak datang bergulung, tapi si buih² ini pun yg pertama hilang dan terhempas angin ke udara.

Artinya, Kuantitas sebesar apapun tidak dapat menutupi kelemahan Kualitasnya. Tertipu dengan banyaknya jumlah tapi tidak sebanding dengan kualitasnya. Menurut Rasulullah sendiri, berkualitas rendah.

Perkataan Rasul di atas mengindikasikan bahwa ada masa dimana umat Islam hanya peduli pada jumlah/kuantitas, tetapi lalai dalam peningkatan aspek kualitas SDM nya. Pokoknya tolak ukur yg dipakainya adalah prinsip The Majority Rules (mayoritas yg berkuasa).

Dan dampak yg paling berbahaya (bagi masing² individu) dari kondisi "majority rules" dan "kualitas" ini adalah Inferiority Complex, berupa masalah mental/psikologis dengan kepercayaan diri yg sangat rendah, dan lebih cenderung mudah tersinggung, marah, ngamuk atau agresif.

Btw... CINTA DUNIA itu selain cinta harta, juga cinta status atau eksistensi yaa...?

Oh iya, satu lagi... yg disebut Hadist di atas itu "Cinta Dunia" dulu, bukan "takut mati" dulu... 😀

(Bandung, 06 Nov 2016)

Semoga....

#ombad #tasawuf