Showing posts with label Mursyid. Show all posts
Showing posts with label Mursyid. Show all posts

05 August 2019

TASAWUF DALAM THE MATRIX

Masih ingat gak saat Neo dan Morpheus ngobrol di dalam lift yang menuju ruangan The Oracle..?

Neo: “Apakah Oracle ini adalah Oracle penubuwwah..?”
Morpheus: “Ya, dia sangat tua. Dia sudah mengiringi kita sejak awal perlawanan.”
Neo: “Apa yang dia tahu? Segalanya..?”
Morpheus: “Dia akan berkata, bahwa dia hanya mengetahui secukupnya.”
Neo: “Dan dia tak pernah salah..?”
Morpheus: “Cobalah untuk tidak berpikir benar atau salah. Dia seorang pembimbing, Neo. Dia membantu kita untuk menemukan.”
Neo: “Dia menolongmu..?”
Morpheus: “Ya..”
Neo: “Apa yang dikatakannya padamu..?”
Morpheus: “Bahwa aku akan menemukan The One..”
**

The Oracle dalam film The Matrix itu bagai seorang Mursyid dalam sebuah Thariqah (tarekat, jalan, metode).

Seorang Mursyid ini mempunyai metode khusus yang sesuai Sanad (bersambung sampai Rasulullah SAW), dan metode khusus ini dipakai oleh para Murid (dan Murad) dalam menapaki tahapan-tahapan spiritual (maqamat) sebagai seorang salik. "… ia memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.." (QS. al-Ahqaf: 30), karena "sesungguhnya orang-orang kafir dan dzalim, Allah tidak mengampuni dan menunjukkan jalan kepada mereka" (QS. an-Nisa: 168). Bahkan Syeikh Abdul Qadir Jailani qs. dalam Tafsir al-Jailani mentafsirkan bahwa "jalan yang lurus" (shiratal mustaqim) itu adalah "puncak tauhid" (ahadiyah).

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Tasawuf itu merupakan buah dari ber-Thariqah (tarekat), dan Thariqah itu buah dari ber-Syariat. Semuanya saling menyatu dan saling menguatkan, tidak saling melemahkan dan meniadakan. Jadi, tiada Thariqah tanpa Syariat, serta tiada Tasawuf tanpa Thariqah dan Syariat.

Itu makanya dalam kitab Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah disebutkan, “Jenis fitnah itu banyak sekali. Diantara yang banyak merusak seorang hamba adalah pengakuan seseorang menjadi Guru Tarekat dan Wali, bahkan sampai mengaku dirinya Wali Quthb, dan Imam Mahdi, padahal mereka bukan Ahli Syariat.”

Begitupun terkait kemursyidan, banyak yang mengaku-ngaku, abal-abal, bahkan banyak yang merasa sudah "terbebas" dari Syariat, dan akhirnya meninggalkan syariat. Para calon salik pun banyak yang tertipu dengan bungkus, meyakini yang salah karena bungkusnya terlihat sedemikian bagus, dan sebaliknya, yang sejati tetap tersembunyi, bisa "nyumput di nu caang" (sembunyi dalam terang), dengan maksud tertentu, misalnya ia atau muridnya tidak ingin terjebak dalam kesombongan yang samar, ataupun karena berusaha tetap dalam koridor "manusia biasa" yang tidak punya keistimewaan atau diistimewakan. Dan sering membuat orang ragu bahkan salah sangka, seperti halnya Neo sebagai seorang "salik" yang awalnya pun ragu saat melihat penampilan "mursyid" nya, The Oracle.

Oracle: “Kamu tahu mengapa Morpheus membawamu ke sini..? Jadi apa yang kamu pikirkan.. kamu pikir kamulah The One..?"
Neo: “Sejujurnya, saya tidak tau..”
Oracle: “Aku akan beritahumu suatu rahasia. Menjadi The One adalah seperti jatuh cinta. Tak ada yang bisa memberitahumu, melainkan kamu sendiri yang tahu. Jadi, kamu udah siap mengetahuinya.”
Neo: “Mengetahui apa..?”
Oracle: “Bahwa aku tidak akan memberitahumu..”
Neo: “Bahwa saya bukanlah The One.”

Begitulah seorang Mursyid, ia tahu dan paham apa yang terbaik buat Murid, Murad atau Saliknya. Seperti halnya Oracle yang memahami bahwa Neo yang masih terbelenggu jiwanya karena merasa sebagai calon The One, sehingga tanpa sadar dirinya merasa sangat spesial, atau dengan kata lain, kesombongan Neo pun muncul ketika banyak informasi yang mengatakan bahwa ia adalah calon The One.

Dan Neo pun akhirnya bisa menemukan kesejatian jati dirinya, setelah bisa menghancurkan hambatan-hambatan jiwa dan pikirannya akibat dari pandangan dan sikap orang lain.

Neo, ia yang menyelami dirinya diantara dunia realita dan matrix, serta akhirnya bisa mengoptimalkan mind (brainpower) dan jiwanya, dan mengalami pencapaian nilai maksimum kendali kekuatan akal pikirannya, sementara yang lain masih "terhambat" dalam penjara-penjara pikiran alam sadar yang hanya 12%.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

30 July 2019

TASAWUF DALAM SEPIRING CAPCAY

Awal yang indah itu akhirnya tergeletak kotor di tanah bercampur lumpur. Mereka pun diikat bahkan ada yang dikarungin untuk menuju lokasi selanjutnya. Ada yang disukai serta dipilih untuk dibawa, ada juga yang tidak disukai, menjadi makanan para binatang, bahkan ada yang dibiarkan membusuk menjadi sampah.

Mereka yang terpilih pun siap untuk diproses, dicuci, dibilas, dikupas, dipotong-potong bahkan diiris-iris pisau. Dan selanjutnya dipanaskan dengan api yang berkobar di bawah wajan berminyak, dan semakin panas.

Terlihat, para buncis, wortel, kol, brokoli, dan temannya yang lain saling bercampur dalam gerah dan panas. Sebiji buncis yang sedang direbus di atas api pun meronta dan terus melompat hingga hampir melampaui bibir wajan.

“Kenapa kau lakukan ini padaku..?” protes sang buncis.

“Jangan coba-coba melompat ke luar.. kau kira aku sedang menyiksamu..? Aku sedang memberimu cita rasa terbaik..! Sehingga kau layak bersanding dengan rempah dan nasi untuk menjadi gelora kehidupan dalam diri seseorang. Ingatlah saat-saat kau nikmati regukan air hujan di kebun. Saat itu ada untuk saat ini..!” jawab sang Juru Masak sambil menolak sang buncis dan mengembalikannya kembali ke atas wajan yang panas.

Begitupun saat sekerat wortel bertanya, saat brokoli protes, ataupun saat kol marah merajuk pun, jawaban dari sang Juru Masak selalu sama, ya.. untuk cita rasa. Cita rasa akan Keindahan, lalu cita rasa untuk Kenikmatan.

Waktu tetap berjalan, dan akhirnya timbullah sesuatu yang baru dalam diri mereka. Meski melewati saat-saat yang begitu menyiksa, mereka makin lama makin yakin bahwa ini semua terjadi untuk terciptanya kehidupan yang baru, untuk sebuah kenikmatan dari kehidupan, dan untuk memperpanjang kehidupan. Sampai bisa membuat orang-orang pun bersyukur.

Sampai akhirnya, sang buncis bersama para wortel, brokoli dan kol pun berkata pada Sang Juru Masak dengan penuh rasa syukur,

“Rebuslah aku lagi.. hajar aku dengan sendok masakmu, karena aku tak bisa melakukannya sendirian. Engkaulah yang membuatku masak, mematangkanku, engkaulah pawangku, dan engkaulah jalanku menuju cita rasa kesejatian, cita rasa kesempurnaan. Dan aku suka caramu membuat masakan.

Aku tidak ingin seperti binatang yang melamun dan berkhayal tentang di hutan-hutan indahnya yang dulu ditinggalkan. Dan akupun tidak mau tersesat, menjadi sampah, dan menuju tempat sampah karena tidak memperhatikan dan mengikuti arahan dan jalanmu.."

Sambil mematikan api, sang Juru Masak pun berkata,

Ya, dulu aku pun seperti engkau, masih hijau dari atas tanah. Lalu aku direbus matang dalam lamanya waktu, direbus matang dalam jasad. Direbus dalam dua rebusan yang dahsyat.

Jiwa binatang dalam diriku tumbuh kuat, mengikatku bahkan merusak dan mengoyak-ngoyak benih kebaikanku. Kukendalikan dia dengan latihan, lalu aku direbus lagi, dan direbus lagi. Pada satu titik aku melampaui itu semua, dan menjadi gurumu.

Ya, aku sadar, dulu..
AKU MENTAH,
AKU DIMASAK,
AKU TERBAKAR, dan
AKU DALAM KENIKMATAN.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

21 April 2019

KETIKA JOKOWI DIUNDANG KE HUJRAH AS-SYARIF

Para orang suci, meski sudah meninggal, mereka itu masih "hidup".

Rasulullah SAW bersabda :

Para Nabi dan para Wali melakukan shalat di kubur mereka seperti halnya mereka shalat di rumah mereka.”

Jadi ketika Jokowi (serta anak istrinya) bisa masuk ke pasaréan (ruangan makam, al-Hujrah as-Syarif) Rasulullah SAW --yang juga makamnya Abu Bakar Shiddiq ra dan 'Umar bin Khattab ra--, maka sy pribadi meyakini bahwa itu semua karena diundang Rasulullah SAW.
Wallaahu a'lam.

Mungkin saja Rasulullah SAW ingin membahagiakan Jokowi dan keluarganya, karena bagaimanapun Jokowi sekeluarga itu masih umatnya juga, meski seringkali dihujat, difitnah dan dicaci-maki, yang kebetulan pelakunya juga banyak dari umat Beliau SAW.

Atau bisa juga, karena besarnya pahala dari pengabdiannya sebagai orang nomor satu dimana rakyat yg diurusnya juga kebanyakan dari umat Rasulullah SAW sendiri.

Seperti yg Rasulullah SAW katakan :

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِر

Sesungguhnya manusia yg paling dicintai oleh Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang Pemimpin yang adil. Sedangkan orang yg paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang Pemimpin yang dzalim.” (HR. Tirmidzi, dari Abu Sa'id ra.)

Atau bisa juga, Rasulullah SAW memberikan "sesuatu", supaya Jokowi sekeluarga tenteram jiwa dan hatinya, sehingga tetap sabar, kuat dan tegar dalam menghadapi kenakalan sebagian umat Beliau SAW yg masih membencinya, masih dengki, dan masih susah untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Pemimpinnya.
Wallahu a'lam.

Dalam tinjauan Tasawuf, kejadian seperti ini bisa dianggap sebagai suatu kejadian spiritual karena akan punya pengaruh pada dimensi spiritual pelakunya.

Rasulullah SAW adalah pemegang Nubuwah dan Risalah yg merupakan stasion (maqam) tertinggi serta merupakan sumber dari para pemegang Keirsyadan (Mursyid) dan pemegang Walayah (Wali, Aulia).

Jika berbicara Washilah (perantara, sanad), maka setiap ikhwan atau "al-Murid" akan berusaha mengikuti jalur guru Mursyidnya terkait washilah, agar bisa wushul (sampai) ke sumber, secara ilmu. 

Semua Salik (pejalan), sebagai seorang Al-Murid (yang menghendaki) akan melakukan proses Riyadhah dan Muraqabah, sehingga bisa meningkat kualitasnya dan bisa menjadi seorang Al-Murad (yang dikehendaki), dan menjadi Al-Majdzub, yang ditarik/diundang untuk didekatkan.

Cuma satu hal yg harus diingat, ketika seseorang bisa "menembus" Hujrah As-Syarif Rasulullah SAW, insyaAllah ia adalah orang yang mencintai dan dicintai oleh Rasulullah, karena begitu juga jika secara batin pernah bertemu dengan ruh Beliau SAW, khususnya secara Yaqazah.


Semoga...
#ombad #tasawuf

06 December 2018

PALSU VS SEJATI

Kadang dengan berusaha lewat penampilan fisiknya sehingga tampak seperti asli, karena memang sulit dibedakan, bahkan tidak seperti yg diperkirakan.

Kadang dengan berusaha meyakinkan para pengikutnya bahwa ia adalah orang besar pemilik rahasia-rahasia besar yg akan diungkap.

Kadang dengan cara "mengikat" para pengikutnya agar tidak menjauh darinya untuk selama-lamanya, jangan sampai berakhir secepat mungkin, seakan para pengikutnya dihalangi agar bisa merasakan perkembangannya sendiri.

Kadang dengan cara mewajibkan para pengikutnya agar membeli "tiket" setingkat demi setingkat dengan alasan proses pencarian dan pencapaian kualitas ilmu.

Padahal seharusnya membagi cahaya pengetahuan kemanusiaan, bukan menghancurkannya dan dipakai membodohi orang lain. Bisa tetap berbagi tanpa merusak diri sendiri apalagi merusak orang lain. Bisa berlaku seperti Pelita dan tak perlu berlaku seperti Lilin yang membakar dirinya sendiri demi menerangi orang lain.

Dan seorang guru itu memiliki banyak rahasia, tetapi ia harus menjadikan rahasia-rahasia tersebut berkembang dalam diri muridnya, harus berakhir/khatam secepat mungkin, sehingga mereka bisa merasakan perkembangan mereka sendiri dan melanjutkan hidup sebagai orang-orang yg tercerahkan.

Hal ini seperti yg dikatakan Maulana Jalaluddin Rumi :
 
  يوجد معلمون وأساتذة مزيفون في هذا العالم أكثر عددا من النجوم في الكون المرئي. فلا تخلط بين الأشخاص الأنانيين الذين يعملون بدافع السلطة وبين المعلمين الحقيقيين. فالمعلم الروحي الصادق لا يوجه انتباهك إليه ولا يتوقع طاعة مطلقة أو إعجابا تاما منك، بل يساعدك على أن تقدر نفسك الداخلية وتحترمها. إن المعلمين الحقيقيين شفافون كالبلور، يعبر نور الله من خلالهم.

"Para guru dan ustadz palsu yang ada di dunia ini jauh lebih banyak daripada bintang yang tampak di alam semesta. Tapi engkau jangan keliru untuk tahu siapa saja para guru yang Haus Kekuasaan dan Egois, dan siapa saja para Guru Sejati. Seorang guru spiritual sejati tak akan memintamu untuk patuh total kepada dirinya dan memujanya. Tetapi, ia akan membantumu untuk menemukan dan memuliakan dirimu sendiri. Para Guru Sejati bagai cermin bening yang menangkap cahaya Tuhan lalu memancarkannya."

Jadi “kapan kalian berhenti menyembah dan mencintai timbanya..? Kapan kaki mulai mencari airnya..?” Dan tidak terbuai oleh retorika dan busana kesalehan. 

 

Semoga...
#ombad #tasawuf

09 July 2018

MURSYID KAMIL MUKAMMIL

Belajar dzikir itu butuh Mursyid kamil-mukammil, jangan yg abal-abal.. apalagi berbayar.. :D

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

"Wa may yudlil falan tajida lahu Waliyyam Mursyida."

Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalam hidupnya) seorang Wali Mursyid --pemimpin yg dapat memberi petunjuk kepadanya--.” (QS. al-Kahfi : 17)

Dzikir bukan sekedar ucapan di mulut saja, atau bacaan-bacaan untuk tujuan duniawi, tetapi esensi dzikir itu harus bisa menembus hati sampai bisa mencapai kualitas tauhid "Ahadiyah". Esensi dari "Laa Haula wa laa quwwata illa billaah" dan "Inna lillaahi wa inna ilaihi raji'uun".

Dzikir pun harus bisa membersihkan hijab-hijab hati yg berupa keinginan dan segala sesuatu yg bersumber dari nafsu-nafsu rendah (Amarah, Lawamah dan Mulhimah), sampai akhirnya kualitas qalbunya bisa mencapai Fuad, Lubb, bahkan Sirri, atau dengan kata lain, bisa menembus alam ruh serta membersihkan lapisan-lapisan ruh (Qiswah Unsuriyah/Jismani, Sairani Rawani dan Sulthani) sampai akhirnya bisa ber-Musyahadah.

Ada kisah terkait pentingnya proses purifikasi hijab-hijab hati (penyakit-penyakit hati) yg berupa obrolan antara sang Hujjatul Islam (Imam Al-Ghazali ra.) kepada salah seorang muridnya, sebagai berikut:

Seorang murid bertanya kepada Imam Ghazali yg menjadi gurunya, “Syeikh, bukankah dzikir bisa membuat seorang beriman lebih dekat dengan Allah Ta’ala dan syaitan akan berlari jauh darinya..?”

Benar.." jawab Imam Ghazali.

“Namun kenapa ada orang yang semakin rajin berdzikir justeru malah semakin dekat dengan syaitan..?” lanjut sang murid.

Imam Ghazali pun bertutur, “Bagaimana pendapatmu, jika ada orang yg mengusir anjing, namun dia masih menyimpan tulang dan berbagai makanan kesukaan anjing di sekitarnya..?”

“Tentu, anjing itu akan kembali datang setelah diusir.” jawab sang murid.

Imam Ghazali melanjutkan,

"Demikian juga dengan orang-orang yg rajin berdzikir tapi masih menyimpan berbagai penyakit hati dalam dirinya. Syaitan akan terus datang dan mendekat bahkan bersahabat dengannya.
Penyakit-penyakit hati itu seperti kesombongan, iri hati, dengki, syirik, bersikap kasar, riya, merasa sholeh, merasa suci, ghibah, marah dan berbagai penyakit hati lainnya. Ketika penyakit-penyakit itu menghinggapi diri seorang hamba, maka syaitan terlaknat akan senantiasa datang, mengakrabkan diri, kemudian menjadi sahabat karibnya."

Kisah di atas mengandung Hikmah bahwa berdzikir itu harus "lurus" kepada Allah dan bukan diarahkan kepada tujuan-tujuan duniawi, sampai bisa "tidak apapun dalam hati kecuali Allah SWT yg jadi tujuan". Puncak Tauhid.

Dan proses dalam menapaki "jalan yg lurus" ini rentan terhadap godaan, bisa berupa nafsu kepentingan, fenomena maupun bisikannya (al-khatir). Itu makanya dalam thariqah dibutuhkan seorang Mursyid yg kamil-mukammil (yg sudah bermusyahadah dengan ruh qudsinya) sebagai "penunjuk" jalan para salik. Sebutlah, agar "bibit dzikir yg disemai dalam hati ini tidak terdistorsi nafsu" karena langsung dari kondisi ruh qudsi.

Ilahi anta maqsuudi wa ridhooka mathluubi a'tini mahabbataka wa ma'rifataka.

Semoga..
#ombad #tasawuf

15 March 2018

SANAD DALAM TASAWUF

Sanad adalah mata rantai orang-orang yang membawa sebuah disiplin ilmu (Silsilah ar-Rijâl).

Mata rantai ini terus bersambung satu sama lainnya hingga kepada pembawa awal ilmu-ilmu itu sendiri; yaitu Rasulullah. Integritas sanad dengan ilmu-ilmu Islam tidak dapat terpisahkan. Sanad dengan ilmu-ilmu keislaman laksana paket yang merupakan satu kesatuan. Seluruh disiplin ilmu-ilmu Islam dipastikan memiliki sanad.

Dan Sanad inilah yang menjamin keberlangsungan dan kemurnian ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu Islam sesuai dengan yang dimaksud oleh pembuat syari’at itu sendiri; Allah dan Rasul-Nya.

Karena keberadaan sanad inilah, ajaran-ajaran yg dibawa Rasulullah SAW 'tetap kebal' dari berbagai usaha luar yang hendak merusaknya. Hal ini berbeda dengan ajaran-ajaran atau syari’at nabi-nabi sebelumnya.

Adanya berbagai perubahan pada ajaran-ajaran mereka, bahkan mungkin hingga terjadi pertentangan ajaran antara satu masa dengan masa lainnya sepeninggal Nabinya, karena tidak memiliki sanad.

Karena itu para ulama menyatakan bahwa sanad adalah salah satu “keistimewaan” yang dikaruniakan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW, di mana hal tersebut tidak dikaruniakan oleh Allah terhadap umat-umat Nabi sebelumnya. Dengan jaminan sanad ini pula kelak kemurnian ajaran-ajaran Rasulullah akan terus berlangsung hingga datang hari kiamat.

Tentang pentingnya sanad, Imam Ibn Sirin, seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in, berkata:

Sesungguhnya ilmu -agama- ini adalah agama, maka lihatkan oleh kalian dari manakah kalian mengambil agama kalian.”  (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam mukadimah kitab Shahîh-nya).

Imam ‘Abdullah ibn al-Mubarak berkata:

Sanad adalah bagian dari agama, jika bukan karena sanad maka setiap orang benar-benar akan berkata --tentang urusan agama-- terhadap apapun yang ia inginkan.”

Tasawuf tidak berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, ia memiliki sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Dengan demikian, pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa tasawuf adalah sesuatu yang baru, bid’ah sesat, atau ajaran yang tidak pernah dibawa oleh Rasulullah, adalah pendapat yang tidak memiliki dasar sama sekali.

Adanya sanad dapat mempertanggung-jawabkan kebenaran tasawuf ini. Dan keberadaan sanad ini sekaligus sebagai bantahan terhadap pembenci tasawuf, bahwa kebencian mereka tidak lain adalah karena didasarkan kepada hawa nafsu dan karena mereka sendiri tidak memiliki sanad dalam keilmuan dan dalam cara beragama mereka.

Itulah kenapa Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa,

Menemukan Guru Mursyid, itu sulit, dan lebih mudah menemukan sebatang jarum yang disembunyikan di padang pasir yang gelap gulita.”

Mursyid sendiri berasal dari kata “Irsyad” yang artinya petunjuk. Petunjuk yang bersumber dari nur Ilahi. Jika kata “Irsyad” ditambahkan “mim” di depannya maka petunjuk tersebut terdapat pada sesuatu (dimikili oleh sesuatu). Maka “mim” harus diartikan sebagai seseorang yang memegang kualitas irsyad.

Dalam QS. Al-Kahfi ayat 17, ada kata "Waliyyam Mursyidayg secara umum diterjemahkan sebagai “pemimpin”, padahal itu adalah "Wali Mursyid".. karena "petunjuk" jalan lahir maupun batin itu hanya bisa didapat dari hamba-hamba Allah yg sudah mendapat petunjuk melalui "Nur Allah".

Dan Mursyid itu hakikatnya adalah Nur Allah, maka seseorang jika disebut Guru Mursyid, maka ia itu benar-benar mempunyai kualitas sempurna sebagai pembawa washilah (sanad) yg terhubung dari Allah dan Rasulullah SAW, dan bukan sekedar gelar saja.

Ket..
SANAD kalau dalam Tarekat itu adalah Washilah.

Semoga...
#ombad #tasawuf #sanad #mursyid

08 February 2018

KISAH DUA ORANG SALIK

1. Dua orang salik bertemu dan asyik berbincang-bincang. Seseorang yang dari tadi memperhatikan mereka berdua kemudian bertanya: "Di antara kalian berdua, mana yang sebagai mursyid dan siapa yang sebagai murid..?"

2. Yang berbaju hitam menjawab, "Saya lah murid dan yang di sebelahku ini mursyid saya". Yang berbaju putih menukas cepat: "Oh tidak, terbalik itu, saya lah murid dari guru saya ini", sambil menunjuk yang berbaju hitam.

3. Yang berbaju putih meneruskan jawabannya: "Saya tidak pernah menganggap kamu sebagai murid saya. Sebaliknya saya belajar banyak dari obrolan kita soal Allah dan RasulNya."

4. Yang berbaju hitam menoleh sambil tersenyum: "Saya tidak perlu dianggap sebagai murid atau tidak, saya tidak butuh pengakuan itu. Saya sudah mengangkat diri saya sendiri sebagai murid dirimu, terserah mau diakui atau tidak."

5. Yang berbaju putih berkata lagi, "Tapi saya sudah duluan mengangkat dirimu sebagai guru saya, terserah kamu mau menerima saya sebagai murid atau tidak, Yang jelas kamu lah guru saya."

6. Sebelum yang berbaju hitam kembali menjawab, orang yang bertanya tadi itu segera beranjak pergi meninggalkan keduanya. "Dua orang aneh," pikirnya.

Kedua salik ini pun kemudian berpisah meneruskan perjalanan masing-masing.

7. Beberapa waktu kemudian mereka kembali berkomunikasi. Yang berbaju putih mengirimkan surat ditujukan kepada yang berbaju hitam.

8. Yang berbaju hitam menjawab surat tersebut sambil keheranan menanyakan, "Mengapa dalam suratmu semuanya ditulis dengan huruf kecil. Tidak ada huruf besar sedikitpun, lupakah kamu dengan kaidah penulisan yang baik dan benar?"

9. Yang berbaju putih menjawab surat itu: saya sengaja menulis dengan huruf kecil karena bagaimana mungkin saya sanggup mencantumkan huruf besar dalam surat kepada guru saya? huruf besar adalah cermin keangkuhan diri. saya tak pantas melakukannya meski hanya dalam bentuk tulisan.

10. Lama tak ada jawaban dari yang berbaju hitam. Hingga suatu saat yang berbaju putih bermimpi menemui yang berbaju hitam, "Aduhai kemana gerangan dirimu? Saya kangen sekali. Mengapa tak kau jawab surat terakhirku?"

11. Dalam mimpi itu sosok yang berbaju hitam menjawab, "Bagaimana mungkin sanggup ku tuliskan jawaban surat untuk dirimu yang ku anggap sebagai guruku. Semua aksara lenyap. Setiap huruf yang mau kutuliskan --baik huruf kecil maupun besar-- hilang begitu saja...”

12. Yang berbaju hitam melanjutkan, “Jikalau aksara adalah perwakilan diri ini, seakan pena dan kertas tahu bahwa di depan sang mursyid tak ada lagi kata-kata yang layak disampaikan."

13. Sejak saat itu, yang berbaju hitam dan yang berbaju putih, berkomunikasi dalam diam. Mereka memasuki keheningan. Tak ada kata-kata, tak ada aksara, tak ada suara. Tak ada lagi perdebatan. Tak ada lagi pertanyaan.
Hanya hati mereka yang saling berkomunikasi.

14. Tuhanku, dalam diam, ku simak KalamMu jauh lebih jelas dari aksara dan suara. Dalam hening, tinta QalamMu kembali berubah menjadi samudera kedamaian. Hitam-putih melebur dalam cintaMu. Diam itu mengikat hakikat, dan mengingat akhirat..

🙏😍
Tabik,
Nadirsyah Hosen

01 February 2018

TANPA MURSYID....?

Dalam mengarungi lautan spiritual, selalu ada jebakan ilusi/fantasi. Sangat sulit untuk membedakan mana fenomena (pengalaman) yg asli, mana yg palsu.

Ada kemiripan, misal di "posisi" 2.4 dengan di 5.4 atau 6.4 atau 7.4 ... mana yg di 2, di 5, di 6 atau di 7 ..? Pasti membingungkan, malah banyak yg tertipu, menyangka sudah di lantai 7 padahal baru di lantai 3...

Indikator untuk membedakannya sangat bergantung pada Kebeningan Qalbu, dalam hal ini hubungannya dengan Shiddiqiyyah. Atau dengan bahasa lain, membedakan mana yg baik atau mana yg ilusi itu hanya bisa dilihat dari posisi Shiddiqiyyah. Artinya, sebagai seorang pejalan (salik) yg belum memasuki Shiddiqiyyah, akan sangat sulit untuk bisa membedakannya, dan itulah kenapa diperlukan seorang Mursyid sebagai penunjuk jalannya. Kenapa? Karena seorang Mursyid telah mencapai maqam tersebut.

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

"...Barangsiapa yg diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yg mendapat petunjuk; dan barangsiapa yg disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang Wali Mursyid (pemimpin yg dapat memberi petunjuk kepadanya)." (QS. Al-Kahfi: 17)

Jadi, perjalanan spiritual itu bukan sekedar naik saja, tetapi berhubungan dengan terintegrasinya pemahaman baik dalam konteks Syariat, Thariqat, Hakikat maupun Makrifat. Suatu kelengkapan pemahaman secara multidimensi, secara holistik, baik aspek lahiriah maupun batiniah, baik aspek vertikal maupun horizontal.

Secara esensi, aspek integrasi ini "tersirat" dalam ucapan Imam Syafi'i ra. berikut ini:

"Seseorang tidak diperkenankan memberi fatwa kecuali dia mengetahui Al-Quran dan Hadist Nabi secara lengkap, termasuk ayat-ayat yg telah dihapus, dan ayat-ayat yg menghapusnya, dan ayat yang mirip satu sama lain, dan apakah surah itu diturunkan di Mekah atau di Madinah.

Dia harus mengetahui seluruh koleksi Hadist Nabi, baik yg otentik maupun yg palsu. Dia harus memahami bahasa Arab pada masa Nabi beserta gramatika dan keistimewaannya, serta mengetahui puisi-puisi Arab.

Di samping itu, dia harus mengetahui kebudayaan berbagai masyarakat yg tinggal di berbagai tempat. Jika seseorang memiliki seluruh pengetahuan itu dalam dirinya, ia boleh berpendapat bahwa ini halal dan itu haram. Jika tidak, maka ia tidak punya hak untuk mengeluarkan fatwa."

Semoga....
#ombad #tasawuf

24 January 2018

POLIGAMI MENURUT ABAH ANOM

Suatu ketika, ada seorang ustadz yg berpoligami dan masih merasa tidak puas dengan lingkungan sekitarnya yg seolah-olah menyalahkan keputusannya dalam urusan poligami.

Ia pun mendatangi Abah Anom, dengan tujuan mau "membenarkan" keputusan poligaminya. Sebutlah, mengajak berdebat.

Dalil-dalil pun ia kemukakan beserta contoh-contoh tokoh dan para pendahulu di dunia Islam yg berpoligami.

Dan Abah cuma menjawab,

"Ahh.. Abah mah boro-boro punya istri dua, punya satu aja banyak melupakan Allah.."

Sampai akhirnya, ada kejadian yg berhubungan dengan salah satu organ tubuh orang tersebut ketika keluar dari ruangan.

Ada satu kisah lagi tentang seorang ikhwan yg sangat dekat dengan Abah. Suatu hari, ia mau meminta izin Abah untuk menikah lagi. Baru juga masuk ke dalam dan duduk, serta belum sempat menyampaikan keinginannya, Abah pun langsung bercerita,

"Kemarin ada yg datang nemui Abah, terus nanyain kenapa Abah gak nikah lebih dari satu istri seperti ulama lain..?
Terus Abah jawab aja, karena Abah mah bukan Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wasallam (SAW), karena yg memiliki sifat adil itu hanya Rasulullah SAW. Dan istri Abah bukan Siti Aisyah ra. Istri Abah cuma perempuan akhir zaman, yg gak mungkin bisa seikhlas Aisyah ra."

Akhirnya Ikhwan tersebut berpikir, Abah saja seorang Wali dan Mursyid yg kamil mukammil merasa gak mampu, apalagi dirinya yg hanya seorang murid (ikhwan). Dan niat poligaminya pun diurungkan, karena akan banyak yg tersakiti, terbohongi, dan bisa berdampak buruk bagi lahir dan batin.

Dari kedua kisah di atas, Abah Anom sendiri tidak menyalahkan yg berpoligami, Beliau hanya menegaskan bahwa dirinya merasa belum mampu untuk poligami.

Duhh.. Gak jadi dech... 😊

Semoga....
#ombad #tasawuf

19 January 2018

MURSYID

"... Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang Wali Mursyid." (QS. al-Kahfi : 17)

"Barangsiapa yang tidak mempunyai Mursyid, maka Setanlah yang akan menjadi gurunya." (Imam Malik ra.)

"Jika seseorang berjalan tanpa Mursyid, dia akan tersesat. Dia akan menghabiskan umurnya tanpa mencapai apa yang diharapkan." (Ibnu Athaillah ra.)

Dalam Tasawuf, para Salik yg berjalan tanpa bimbingan ruhani dari Mursyid, tidak akan atau sulit untuk membedakan mana bisikan-bisikan lembut (Hawathif) yg datang dari Allah melalui malaikat, dan mana yg dari setan atau jin.
Artinya, tanpa Mursyid sulit untuk Sampai kepada Allah (Wushul).

Dalam kitab al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Ayyad, ditegaskan, -- dengan mengutip ungkapan Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily ra, -- bahwa syarat-syarat seorang Syeikh atau Mursyid yg layak (minimal) ada lima:

1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai.
5. Memiliki matahati yg tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.

Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:

1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan umat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhlak buruk tanpa peduli dengan perilakunya.

Syeikh Abu Madyan ra. menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah SWT, lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang Pendusta Ruhani :

1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan taat kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhluk.
4. Kontra terhadap Ahlullaah.
5. Tidak menghormati sesama umat Islam sebagaimana diperintahkan Allah SWT.

Mursyid itu :

1. Syaikh al-Iradah, yaitu tingkat tertinggi dalam thareqat yg iradahnya (kehendaknya) telah bercampur dan bergabung dengan hukum tuhan, sehingga dari Syaikh itu atau atas pengaruhnya orang yg meminta petunjuk menyerahkan jiwa dan raganya secara total.

2. Syaikh al-Iqtida’, yaitu guru yg tindak tanduknya sebaiknya ditiru oleh murid, demikian pula perkataan dan perbuatannya.

3. Syaikh at-Tabarruk, yaitu guru yg selalu dikunjungi oleh orang-orang yg meminta petunjuk, sehingga berkahnya melimpah kepada mereka.

4. Syaikh al-Intisab, yaitu guru yg atas campur-tangan dan sifat ke-bapak-annya, maka orang yg meminta petunjuknya akan beruntung, lantaran bergantung kepadanya. 

5. Syaikh at-Talqin, yaitu guru ruhani yg mengajar setiap individu anggota thariqat dengan berbagai do’a atau wirid yg selalu harus diulang-ulang.

6. Syaikh at-Tarbiyah, yaitu guru yg melaksanakan urusan-urusan para pemula dari pengamal thariqat.


علمناهذا مقيد بالكتاب والسنة فمن لم يقرأ القران ولم يكتب الحديث ولم يجالس العلماء لايقتدى به فى هذا لشأن


Ilmu kita ini (tarekat) terikat oleh al-Qur'an dan as-Sunnah. Siapa saja yang belum belajar al-Qur'an dan as-Sunnah dan tidak pula pernah duduk di depan para Ulama (untuk menuntut ilmu) orang tersebut tidak boleh diikuti di dalam tingkah laku tarekat ini.” (Syeikh Abu Qasim Junaidi ra.)


ومن شرائط الشيخ ان يكون عالما بالاوامر الشرعية عاملا بهاواقفا على اداب الطريقة سالكا فيهاكاملا فى عرفان الحقيقة وواصلا اليهاومحرصا عن جميع ذلك


Diantara syarat guru Tarekat adalah alim atas perintah-perintah Syara`, mengamalkannya, tegak di atas Adab-adab tarekat serta berjalan di dalamnya, sempurna pengetahuannya tentang Hakekat dan sampai pada hakekat itu serta IKHLAS dalam semua hal tsb." (Syeikh Hasyim Asy'ari ra.)

"Buruk sekali bagi orang yg belum belajar ilmu-ilmu. Belum mengetahui yg Maujud dan Ma'dum. Tidak pula mengerti hukum Islam. Tidak pula mengetahui seluruh hukum-hukum. Juga tidak tentang ketetapan, ilmu Ushuluddin dan Nahwu. Demikian pula tidak mengetahui ilmu al-Qur'an, Pidana dan Burhan. Dan tidak pula mendayakan ilmu Hal. Dan juga tidak mengerti tentang martabat para guru. Serta tidak mengetahui rahasia ilmu Nasakh dan Mansukh. Sungguh buruk sekali orang demikian itu apabila ia menduduki martabat para Syeikh." (Syeikh Ahmad at-Tajibi ra., kitab Mabaahisul Ashliyah)

Syeikh Hasyim Asy`ari mengatakan, betapa buruk gambaran seseorang yg mengaku menjadi guru tarekat, sementara belum mendalami semua ilmu sebagaimana tsb di atas. Beliau menyarankan kepada kita, jika belum menemukan guru seperti kriteria yg telah disebutkan pada syarat di atas, maka seseorang boleh mencukupkan diri dgn mendalami kitab Sullam Taufiq, Safinah, Bidayah dan lainnya.


Semoga...
#ombad #tasawuf #mursyid