Showing posts with label Damai. Show all posts
Showing posts with label Damai. Show all posts

29 August 2019

TRANSFORMASI IKHLAS

IKHLAS itu sangat sulit, bahkan paling sulit. Apalagi dari pola pendidikan yang kita terima sejak kecil "tanpa disadari" selalu berkutat pada orientasi Hasil (baca: untung, pamrih).

Dalam hal ibadah pun, selalu ujungnya memakai "imbalan" atau "pamrih". Menguntungkan, jika ke surga, dan tidak merugi ke neraka. Dan "dibuatlah" aturan-aturan, lengkap dengan kata-kata "dilarang" atau "diharamkan", disarankan atau diperbolehkan, dihalalkan, bahkan diwajibkan. Tentunya supaya ada semangat dan motivasi untuk mengikutinya, serta tak lupa juga disertai bumbu penarik hati, yaitu aspek "reward & punishment".

Bukankah begitu juga ketika menerapkan urusan pendidikan (sekolah) ke anak..? Rajin belajar biar jadi dokter, dan ujungnya agar supaya bisa kaya. Biar jadi insinyur, agar makmur. Bahkan urusan zakat, sedekah serta infaq pun dibikin menarik supaya bertambah kaya dan makmur berkali-kali lipat. 

Salahkah seperti itu..? Tentu tidak, karena "kesadaran" terluar sangat berhubungan dengan Keinginan dan nafsu-nafsu, yang notabene berhubungan semua dengan kesenangan secara lahir.

Aktualisasi aturan yang awalnya didasari "kewajiban yang pamrih" --butuh balasan-- ini akan bertransformasi menjadi "kewajiban tanpa pamrih" --terserah mau ada balasan atau tidak, yang penting melakukan sebaik-baiknya--. Dan tahapan selanjutnya adalah menjadi suatu "kebutuhan", karena sudah terbiasa melakukannya. Jika sudah seperti ini, akan ada sesuatu yang hilang saat tidak melakukannya, perasaan dan hati pun menjadi tidak tenang. Dan kedamaian dan ketentraman akan muncul saat bisa melakukannya, sebutlah ini "surga".

Akhirnya, ketika aspek "kebutuhan" ini sudah bisa melewati "ketidak-inginan" dan "keinginan" maka diharapkan akan lebih mudah dalam menapaki tahapan selanjutnya, yaitu "Keikhlasan" dan "Keridhaan". Perlu diketahui, dalam konteks transedental, Keikhlasan itu "satu arah" sementara Keridhaan itu "dua arah".

Sehubungan dengan proses transformasi ikhlas ini, Abah Anom (TQN Suryalaya) pernah memberi nasehat dalam tausiahnya, 10 April 1970 sebagai berikut :

"Dalam melaksanakan ibadah, tidak bisa langsung ikhlas, biasanya dilaksanakan pada awalnya karena Pamrih Ingin ini dan itu. TIDAK APA-APA UNTUK SEMENTARA. Teruslah laksanakan ibadah tersebut untuk melatih diri, untuk melatih agar menjadi biasa, untuk melatih Ridha dan Ikhlas karena perintah Allah Ta'ala. Alat latihannya supaya hati bisa menjadi Ikhlas dan Lillaah (karena Allah) adalah rajin berdzikir mengucapkan kalimat Thayyibah (Laa ilaaha illallaah), sampai terasa menetap di dalam Rasa."

Jadi ada suatu proses dalam mengedepankan sesuatu, apakah mau mengedepankan segala bentuk ciptaan atau mengedepankan sang Penciptanya. Dan ujungnya harus bisa mengedepankan Sang Pencipta tanpa tergiur segala sesuatu yang diciptakan-Nya, serta hanya hati yang bisa memilih dan merasakannya.

"Dalam diriku Kau tumbuhkan: terkadang duri, terkadang mawar. Dan kucium bau mawar, dan kucabut duri. Kalau memang Kau biarkan aku begitu, begitulah aku. Kalau Kau biarkan aku begini, begini pulalah aku." (Rumi)

Semoga...
#ombad #tasawuf

22 June 2019

AGAMA DAMAI

Semua agama yang ada di muka bumi ini mengajarkan Kebaikan dan Kedamaian hidup manusia. Buddha mengajarkan kesederhanaan, Kristen mengajarkan cinta kasih, Konfusianisme mengajarkan kebijaksanaan, dan Islam mengajarkan kasih sayang bagi seluruh alam.

Islam, dilihat dari segi namanya saja merupakan agama yang unik, karena ia berarti “Keselamatan”, “Kedamaian”, atau “Penyerahan diri secara total kepada Tuhan". Inilah sesungguhnya makna firman Allah, "Inna diina indallaahil Islam" --Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam-- (QS. Ali Imran: 19). Jika "Islam" diterjemahkan menjadi “Perdamaian”, maka terjemahan ayat tersebut menjadi : “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Agama Damai".

Dengan demikian, seorang Muslim adalah orang yang menganut Agama Damai kepada seluruh umat manusia. Para Nabi sejak Nabi Adam as. sampai Nabi Muhammad SAW menganut agama damai itu. Pernyataan Nabi Ibrahim misalnya “La syarika lahu wabi dzalika umirtu wa ana awwalul muslimin“ --Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikian itu diperintahkan kepadaku dan aku adalah golongan orang-orang pertama yang menganut agama damai-- (QS. Al-An'am: 163).

Dalam menyebarkan ajaran agama, para Nabi itu menyebarkannya secara damai, kecuali bila sangat terpaksa, mempertahankan diri dari sifat ofensif, pedang dilawan dengan pedang. Namun demikian, meskipun terjadi peperangan, karakter Islam sebagai agama damai tidak hilang, Islam tetap merupakan agama damai yang mengajarkan kasih sayang bagi segenap alam, "Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil 'alamin"  --Dan tidaklah Aku utus Engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi  rahmat/kasih sayang bagi segenap alam-- (QS. Al-Anbiya: 108). 

Artinya tujuan luhur manusia atau kemanusiaan itu selaras dengan tujuan ajaran semua agama yaitu Kedamaian dan Anti-Kekerasan. Tidak ada dalam lingkup Kemanusiaan yang menginginkan ancaman, permusuhan, perang, pertumpahan darah dan pembantaian, apalagi terhadap anak-anak dan wanita.

Rasulullah SAW bersabda,

"Rekreasi dan bermainlah..! Aku tidak suka agama kalian dilihat sebagai agama yang Kaku dan Garang.."

Bukankah sesudah Ahlus Sunnah pun harus wal Jama'ah..?

Semoga..
#ombad #tasawuf

10 April 2018

TENTANG AS-SILMI

Dalam QS. Al-Baqarah 208, kata AS-SILMI ini diterjemahkan menjadi "Islam".

Ada 3 ayat yg mengandung kata As-Silmi, yaitu : QS. al-Baqarah 208, Muhammad 35 dan al-Anfal 61. Dan hanya di al-Baqarah saja yg diterjemahkan jadi "agama Islam", sedangkan di dua ayat lainnya diterjemahkan "Perdamaian". Aneh kan..?

Kalau merujuk arti kata as-Silmi, menurut mufassir Ibnu 'Asyur, baik kata AS-SILMI, AS-SALMI & AS-SALAM itu sama aja, hanya beda dialek. Artinya secara makna pada ayat al-Baqarah 208, "udkhuluu fis silmi kaaffah" (masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan), seharusnya dimaknai "BERDAMAILAH SECARA TOTAL".

Secara logika bahasa pun ayat di atas adalah kata perintah (fi'il amar), masa udah beragama Islam harus masuk Islam lagi. Padahal kata perintah ini dipakai untuk sesuatu yg belum dilakukan oleh umat Islam, dan dalam hal ini adalah "berdamai" atau "damai" ataupun "perdamaian".

Nah, sekarang mari kita lihat Asbabun Nuzul ayat Baqarah 208 tersebut. Ayat 190-208 surah al-Baqarah ini diturunkan di antara peristiwa "Perdamaian Hudaibiyah".

Pada thn 6 Hijriah bulan Dzul Qa’dah, Umat Muslim ingin melaksanakan ibadah umrah. Saat tiba di wilayah Hudaibiyah, Rasulullah SAW pun mengutus sahabat 'Ustman ke Mekkah, untuk menjelaskan kepada kaum kafir Quraisy bahwa umat Muslim ke Mekkah itu untuk beribadah bukan untuk perang. Jarak antara Mekah dan Hudaibiyah kurang lebih mencapai 22 km.

Saat 'Utsman bergegas menuju Mekkah, ada desas-desus bahwa 'Ustman dibunuh kafir Quraisy. Umat Muslim sudah siap mengangkat pedang dan berperang melawan musuh  Namun demikian, isu terbunuhnya Ustman itu tidak benar.

Lalu turunlah ayat ini. Rasulullah SAW pun menahan emosi para Sahabat untuk tetap tenang dan menjaga perdamaian. Sampai akhirnya terkenal lah peristiwa "Perdamaian Hudaibiyah".

Jadi kalau merujuk uraian di atas, harusnya al-Baqarah 208 itu bisa dimaknai :

Ummat (Muhammad) yg beriman, berdamailah terus secara total, dan jangan sampai kalian terjebak bujuk rayuan setan, karena sebenarnya dialah musuh yg nyata bagi kalian.”

Dan makna di atas itu selaras dengan dua ayat lainnya (QS. Muhammad 35 & al-Anfal 61).

Seperti juga pendapat Gusdur :

"Di sini terletak perbedaan pendapat sangat fundamental di antara kaum Muslimin. Kalau kata 'al-Silmi' diterjemahkan menjadi kata Islam, dengan sendirinya harus ada sebuah entitas Islam formal, dengan keharusan menciptakan sistem yg islami.
Sedangkan mereka yg menterjemahkan kata tersebut dengan kata sifat kedamaian, menunjuk pada sebuah entitas universal, yg tidak perlu dijabarkan oleh sebuah sistem tertentu, termasuk sistem islami." (Gusdur, 2006, "Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi.") 

Jadi esensi "udkhuluu fis Silmi kaaffaah" itu apa..?

Menurut sy, adalah Jagalah Perdamaian Bangsa (ummat).

Itu makanya mayoritas Muslim perang terus, "udkhuluu fis silmi kaaffaah" nya mayoritas dimaknai "agama islam".. Harusnya, apakah sesudah jadi muslim itu bisa merasa damai atau merasa terancam..? Bisa menciptakan rasa damai ke sekitar atau malah menciptakan rasa tidak aman ke sekitar..?

Nanti ayat di atas itu "merangkai" nya ke ayat thoghut (yg ngajak permusuhan) dan "perangi terus"..

Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla meridhai kalian atas tiga hal dan benci dari tiga hal; (yaitu) Allah meridhai kalian untuk beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, hendaknya kalian semua berpegang teguh kepada tali Allah dan jangan berpecah-belah, dan kalian taat kepada orang yg telah Allah amanatkan urusan kalian. Dan Allah membenci kalian dari bergosip, menghambur-hamburkan harta, dan banyak bertanya --yg tidak bermanfaat--.” (Musnad Ahmad no. 8444 dan Shahih Muslim no. 3236)

Semoga...
#ombad #tasawuf