Showing posts with label Ibn Khaldun. Show all posts
Showing posts with label Ibn Khaldun. Show all posts

16 December 2019

ADAM DAN MANUSIA PURBA

Dalam tinjauan Al-Quran, klasifikasi manusia itu ada 3 jenis, yaitu : 
 
1. Manusia sebagai AL-BASYAR, yaitu lebih ke "makhluk biologis" seperti halnya hewan, yaitu: ada bentuk atau postur tubuh, anggota badan, mengalami pertumbuhan atau perkembangan jasmani, makan, minum, melakukan hubungan seksual, beranak-pinak, dsb. 
 
2. Manusia sebagai AL-INSAN, yaitu manusia sebagai makhluk istimewa, ber-ilmu pengetahuan, punya nilai moral serta spiritual. Inilah inti dari manusia sebagai khalifah dan pemikul amanah (pemikul al-wilayah al-Ilahiyah).
 
3. Manusia sebagai AN-NAAS, yaitu manusia sebagai makhluk sosial yang harus bisa mengatur kehidupan sosialnya. 

Manusia purba itu poin 1 atau Al-Basyar saja, tetapi Adam adalah "manusia pertama" yang utuh, baik sebagai manusia Al-Basyar, Al-Insan maupun An-Naas. Dalam tasawuf ada istilah Al-Insan Kamil
 
Ibn Khaldun menggambarkan manusia purba ini sebagai alam kera (Alamul Qiradah), yang tidak memiliki kosa kata yang cukup untuk berkomunikasi (lebih ke bahasa isyarat atau simbol), juga penggunaan alat bantu yang sangat terbatas. 

Hal ini berbeda dengan Adam --sebagai "manusia pertama" di bumi-- yang sudah mampu berkomunikasi menggunakan bahasa lisan serta sudah dibekali ilmu pengetahuan.  

"Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, 'Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini jika kamu yang benar'.." (QS. Al-Baqarah: 31)

Artinya Adam, serta generasi selanjutnya sudah memiliki pengetahuan tinggi untuk hidup di dunia. Misal, Nabi Idris telah memiliki kemampuan menulis, 

"Ada seorang Nabi yang menulis di atas pasir." (HR. Muslim)
 
Dalam Hadist lain, 

".. Nabi Idris adalah manusia pertama yang menulis dengan pena.." 

Dalam Al-Quran, kata "An-Naas" lebih banyak dibanding kata "Al-Insan", apalagi dibanding kata "Al-Basyar". 

Hal ini menyiratkan bahwa kualitas manusia itu harus bisa menjadi "An-Naas" dimana ia bisa mengatur aspek-aspek sosial serta budaya di dalam kehidupannya. Hal ini bisa dicapai jika masing-masing diri bisa memunculkan dan menguatkan sifat "Al-Insan" nya, bukan sekedar jadi makhluk biologis "Al-Basyar" saja, karena betapapun primitifnya, manusia itu bisa melakukan segala sesuatu yang dilakukan binatang sehingga seringkali kelewat batas dan tak terkendali. 

Jadi, tinjauan Teori Evolusi itu lebih ke konteks "Al-Basyar" aja, ada "penyesuaian" karena terikat ruang dan waktu. Dan tentunya bisa berbeda jika dalam posisi "Al-Insan" ataupun "An-Naas" karena lebih timeless and spaceless. 

Semoga...
#ombad #tasawuf

24 January 2019

TASAWUF DALAM SEEKOR ULAT

Lihatlah, saat seekor ulat dengan begitu tekun, tanpa mengeluh, memakan sedikit demi sedikit setiap bagian dedaunan. Semua dilakukan meski dengan segenap keterbatasan yg dimilikinya. Setiap bagian dedaunan perlahan dipotong, lalu dikunyah dengan lembut, hingga menjadi sangat halus. Seakan begitu menikmati seluruh tugas dan pekerjaan dalam hidupnya.

Sampai akhirnya tiba pada suatu fase dimana semua makanan ini dijadikan bahan dasar dalam pembuatan rangkaian benang halus yg terjalin sedemikian rupa dan terbentuklah sebuah Kepompong. Sebuah Media dan sekaligus dijadikan sebagai Tempat transformasi dirinya, untuk menanti jawaban dan sekaligus janji Tuhan, khususnya dalam kehidupan selanjutnya.

"Diam" dan hanya bisa "terdiam" di balik penantian dalam Kesabaran dan Keyakinan, bahwa akan ada sesuatu yg indah, menanti di balik perjuangan yg dijalani. Hingga tiba masanya dimana perjuangan dan pengabdian tersebut dijawab oleh Tuhan.

Seekor Ulat pun menjelma menjadi seekor Kupu-kupu, dia telah membuat siapapun yg memandangnya terpesona atas keindahan sepasang sayapnya. Seperti halnya kesiapan seorang Salik untuk "terbang" dengan dua sayap ilmunya sehingga bisa untuk memasuki Haramil Qudsiyah dengan aman dan ridha-Nya. Keterpaduan antara Ilmu Dzahir dan ilmu Batin.

Sungguh, begitu juga halnya kita, sebagai manusia, ada kalanya kita harus berhenti sejenak disela-sela kesibukan, kegiatan dan rutinitas kehidupan. Berhenti sesaat bukan untuk menyerah, namun itulah waktu yg tepat untuk menunjukkan seberapa besar manusia sebagai salah satu makhluk-Nya ini punya rasa tunduk, patuh dan ikhlas kepada Tuhannya.

Kadang pohon-pohon pun memberi petunjuk bahwa dalam diam, tidak ke mana-manapun ada aktivitas yg tidak terkira nilainya, berkembang dan memberi manfaat buat makhluk di sekitarnya.

Dan pada kenyataannya, meski menginginkan untuk tetap bangun dan bergiat terus dalam melaksanakan aktivitas, ada kalanya Tuhan pun menginginkan makhluk-Nya untuk berdiam diri dan bertotalitas kepada-Nya.

Seperti itulah Diam dan Terdiamnya orang-orang yg berthoriqoh, dalam Uzlah dan Khalwat.

"Adab paling tinggi adalah engkau diam mendengarkan orang membicarakan sesuatu yg engkau tahu dengan baik, sementara dia tidak tahu." (Ibn Khaldun)

Semoga..
#ombad #tasawuf