14 November 2019
BIDADARI DALAM PEMISALAN
04 May 2019
DIALOG IBN ABBAS VS KHAWARIJ
Ibn Abbas ra. berkata,
“Orang-orang Khawarij memisahkan diri dari Ali ra., berkumpul di satu daerah untuk memberontak kepada Khalifah. Ketika itu, jumlah mereka 6.000 orang. Semenjak Khawarij berkumpul, setiap orang yg mengunjungi 'Ali ra. berkata --mengingatkannya--, “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang Khawarij telah berkumpul untuk memerangimu.”
'Ali bin Abi Thalib kw. menjawab, “Biarkan saja, aku tidak akan memerangi mereka hingga mereka memerangiku, dan pasti mereka akan melakukannya.”
Hingga di suatu hari yg terik, saat masuk waktu dzuhur aku (Ibn Abbas) menjumpai Ali ra. Aku berkata, “Wahai Amirul Mukminin, tunggulah cuaca dingin untuk shalat dzuhur, sepertinya aku akan mendatangi mereka (Khawarij) berdialog.”
'Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Ibn Abbas, sungguh aku mengkhawatirkanmu..!”
Ibn Abbas menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, janganlah kau khawatirkan diriku. Aku bukanlah orang yg berakhlak buruk dan aku tidak pernah menyakiti seorang pun.”
Maka Ali pun mengizinkanku.
“Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di barisan mereka di tengah siang.”
Ibn Abbas ra. melanjutkan,
“Aku benar-benar berada di tengah suatu kaum yg belum pernah kujumpai orang yg sangat bersemangat beribadah seperti mereka. Dahi-dahi mereka penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut unta (kapalan). Wajah-wajah mereka pucat pasi karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.”
Kuucapkan salam pada mereka. Serempak mereka menyambutku, “Selamat datang, wahai Ibn Abbas ra.. Apa gerangan yg membawamu kemari..?”
Aku berkata, “Aku datang pada kalian sebagai perwakilan dari sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar, dan juga dari sisi menantu Rasulullah SAW (yakni 'Ali bin Abi Thalib), kepada para Shahabat-lah al-Quran diturunkan dan merekalah orang-orang yg paling mengerti makna al-Quran daripada kalian.”
Ibn Abbas ra. mengingatkan tentang kedudukan sahabat Muhajirin dan Anshar, serta bagaimana seharusnya prinsip seorang Muslim dalam memahami al-Quran dan Sunnah yaitu mengembalikan kepada pemahaman Sahabat karena kepada merekalah al-Quran diturunkan, dan merekalah orang yg paling mengerti al-Quran dan Sunnah. Ibn Abbas juga menegaskan besarnya kedudukan 'Ali bin Abi Thalib di sisi Allah, yaitu menantu Rasulullah SAW.
Begitu mendengar ucapan Ibn Abbas yg penuh makna dan merupakan prinsip hidup --yg tentunya tidak mereka sukai karena menyelisihi prinsip sesat mereka-- sebagian Khawarij memberi peringatan,
“Jangan sekali-kali kalian berdebat dengan seorang Quraisy (yakni Ibn Abbas ra., pen.). Sesungguhnya Allah SWT berfirman:
“Sebenarnya mereka adalah kaum yg suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58)
Dua atau tiga orang dari mereka berkata, “Biarlah kami yg akan mendebatnya..!”.
Ibn Abbas berkata, “Wahai kaum, beri aku alasan, mengapa kalian membenci menantu Rasulullah SAW beserta sahabat Muhajirin dan Anshar, padahal al-Quran diturunkan kepada mereka, dan tidak ada seorang sahabat pun yg bersama kalian. 'Ali adalah orang yg paling mengerti tentang penafsiran al-Quran.”
Mereka berkata, “Kami punya tiga alasan.”
Ibn Abbas mengatakan, “Sebutkan (tiga alasan kalian).”
“Pertama, sungguh Ali telah menjadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah, padahal Allah berfirman,
“…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah…” (Yusuf: 40)
Hukum manusia tidak ada artinya di hadapan firman Allah Ta’ala." Kata mereka.
Ibn Abbas menanggapi, “Ini alasan kalian yg pertama.. lalu apa lagi..?”
Mereka melanjutkan,
“Kedua, sesungguhnya 'Ali telah berperang dan membunuh, tapi mengapa tidak mau menawan dan mengambil Ghanimah. Kalau mereka (orang-orang yg berperang melawan 'Ali) itu mukmin tentu tidak halal bagi kita memerangi dan membunuh mereka. Tidak halal pula tawanan-tawanannya.”
Ibn Abbas bertanya lagi, “Lalu apa alasan kalian yg ketiga..?”
Kata mereka,
“Ketiga, dia telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya. Kalau dia bukan amirul mukminin (karena menghapus sebutan itu) berarti dia adalah Amirul Kafirin (pemimpin orang-orang kafir).”
Ibn Abbas ra. berkata, “Ada alasan selain ini..?”
Mereka berkata, “Cukup sudah bagi kami tiga perkara ini..!”
Bantahan Ibn Abbas ra. Atas Dangkalnya Pemahaman Khawarij
Lihatlah, bagaimana Khawarij mudah memvonis kafir, dan memberontak sekalipun kpd khalifah ar-Rasyid yg penuh keutamaan dan kemuliaan. Alasan-alasan mereka adalah kerancuan yg sangat lemah dan menunjukkan kedangkalan mereka dalam memahami al-Quran dan Sunnah.
Ibnu Abbas ra. mulai menanggapi,
“Ucapan kalian bahwa Ali ra. telah menjadikan manusia untuk memutuskan perkara (untuk mendamaikan persengketaan antara kaum muslimin -pen), sebagai jawabannya akan kubacakan ayat yg membatalkan kerancuan kalian. Jika ucapan kalian terbantah, maukah kalian kembali (kepada jalan yg benar)..?”
Mereka menjawab, “Ya, tentu kami akan kembali.”
Ibn Abbas ra. berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT telah menyerahkan sebagian hukum-Nya kepada keputusan manusia, seperti dalam menentukan harga kelinci (sebagai tebusan atas kelinci yg dibunuh saat ihram). Allah SWT berfirman,
“Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yg dibunuhnya, menurut putusan (hukum) dua orang yg adil di antara kamu, sebagai hadyu yg dibawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yg dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yg telah lalu. Dan barangsiapa yg kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (QS. Al-Maidah: 95)
Demikian pula dalam perkara perempuan dan suaminya yg bersengketa, Allah SWT juga menyerahkan hukumnya kepada hukum (keputusan) manusia untuk mendamaikan antara keduanya. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kpd suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” (QS. An-Nisa: 35)
Demi Allah, jawablah, apakah diutusnya seorang manusia untuk mendamaikan hubungan mereka dan mencegah pertumpahan darah di antara mereka lebih pantas utk dilakukan, atau hukum manusia perihal darah seekor kelinci dan urusan pernikahan wanita? Menurut kalian manakah yg lebih pantas..?”
Mereka katakan, “Inilah (yakni mengutus manusia utk mendamaikan manusia dari pertumpahan darah) yg lebih pantas.”
Ibn Abbas berkata, “Apakah kalian telah memahami masalah pertama..?”
Mereka berkata, “Ya.”
Ibn Abbas melanjutkan, “Adapun ucapan kalian bahwa Ali radhiallahu ‘anhu telah berperang tapi tidak mau mengambil ghanimah dari yg diperangi dan tidak menjadikan mereka sebagai tawanan, sungguh (dalam alasan kedua ini) kalian telah mencerca ibu kalian (yakni Aisyah).
Demi Allah! Kalau kalian katakan bahwa Aisyah bukan ibu kita, kalian telah keluar dari Islam (karena mengingkari firman Allah SWT). Demikian pula kalau kalian menjadikan Aisyah sebagai tawanan perang dan menganggapnya halal sebagaimana tawanan lainnya (sebagaimana layaknya orang-orang kafir), maka kalian pun keluar dari Islam. Sesungguhnya kalian berada di antara dua kesesatan, karena Allah SW berfirman,
“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)
Ibn Abbas ra. berkata, “Apakah kalian telah memahami masalah ini..?”
Mereka menjawab, “Ya.”
Ibn Abbas berkata lagi,
“Adapun ucapan kalian bahwasanya Ali telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya, maka (sebagai jawabannya) aku akan kisahkan kepada kalian tentang seorang yg kalian ridhai, yaitu Rasulullah SAW. Ketahuilah, bahwasanya beliau di hari Hudaibiyah (6 H) melakukan shulh (perjanjian damai) dengan orang-orang musyrikin, Abu Sufyan dan Suhail bin Amr. Tahukah kalian apa yg terjadi..?
Ketika itu Rasulullah SAW bersabda kepada Ali, “Wahai Ali, tulislah perjanjian utk mereka.” Ali menulis, “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah…”
Orang-orang musyrik berkata, “Demi Allah! Kami tidak tahu kalau engkau Rasul Allah. Kalau kami mengakui engkau sebagai utusan Allah tentu kami tidak akan memerangimu.”
Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah. Wahai 'Ali, tulislah ‘Ini adalah perjanjian antara Muhammad bin Abdilah…’.” (Rasulullah memerintahkan Ali untuk menghapus sebutan Rasulullah dalam perjanjian, pen.)
Ibn Abbas ra. berkata,
“Demi Allah, sungguh Rasulullah SAW lebih mulia dari 'Ali, meskipun demikian Beliau menghapuskan sebutan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah…” (Apakah dengan perintah Rasul menghapuskan kata Rasulullah dalam perjanjian kemudian kalian mengingkari kerasulan beliau..? Sebagaimana kalian ingkari keislaman 'Ali karena menghapus sebutan Amirul Mukminin..?
Ibnu Abbas melanjutkan, “Maka kembalilah 2000 orang dari mereka, sementara lainnya tetap memberontak (dan berada di atas kesesatan), hingga mereka diperangi dalam sebuah peperangan besar (yakni perang Nahrawan).”
(Kitab Talbis Iblis, Ibn Al-Jauzi ra.)
Semoga...
#ombad #khawarij #ibnabbas
03 May 2019
KHAWARIJ AL-QA'DIYAH
“Kelompok Al Qa’diyah ini merupakan sekte Khawarij yang paling berbahaya.” (Riwayat Imam Abu Dawud ra, Masail Ahmad, dari 'Abdullah Adh Dha’if)
والقعدية قوم من الْخَوَارِج كَانُوا يَقُولُونَ بقَوْلهمْ وَلَا يرَوْنَ الْخُرُوج بل يزينونه
"Al-Qa’diyah adalah kelompok sempalan dari Khawârij yang berpandangan tidak perlu memberontak atas penguasa akan tetapi mereka hanya merangsang untuk memberontak." (Ibnu Hajar Al-Asqalani ra., Fathul Baari)
القعدية قوم الخوارج كانوا يقولون بقولهم ولا يرون بالخروج بل يدعون إلى آرائهم ويزينون مع ذلك الخروج ويحسنونه
“Al-Qa’diyah termasuk kaum Khawarij yang bermain dengan kata-kata, dan tidak memandang perlu pemberontakan, akan tetapi mereka mengajak manusia pada opini mereka dan menghasut --untuk memberontak--.” (Syeikh Muhammad As-Sakhawi, Fathul Mughits)
Jika mempelajari diskusi antara Ibn Abbas ra. dengan kelompok Khawarij, dapat diketahui bahwa kesalahan kelompok ini karena tak ada seorang pun Shahabat yg berada di dalam kelompok ini. Artinya pemahaman mereka ini bukan pemahaman para Shahabat dan para Ulama yg mengikuti jalan para Shahabat.
Jadi penyebabnya adalah adanya kesalahan dalam memahami ayat al-Qur’an dimana ayat-ayat itu dipahami tidak pada tempatnya atau salah memahami maksudnya.
Rasulullah SAW bersabda,
الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ
"Khawarij adalah anjing-anjingnya neraka." (HR. Ahmad & Ibn Majah)
“Khawarij itu adalah orang pertama yang mengafirkan kaum Muslimin, mereka mengafirkan lantaran dosa-dosa (yaitu dosa-dosa selain syirik) dan juga mengafirkan siapa yang bertentangan dengan mereka dalam bid’ah mereka itu, menghalalkan darah dan hartanya, begitulah halnya Ahlul bid’ah; mereka mengadakan suatu bid’ah dan mengafirkan siapa yang bertentangan dengan mereka dalam bid’ah itu.” (Ibn Taimiyah ra.)
Kelompok yg seperti ini akan selalu ada, bisa dengan tampilan dan nama apapun, sebutlah Neo-Khawarij. Tanda yg paling terlihat adalah mereka terus-menerus memprovokasi umat untuk menentang penguasa/pemimpinnya. Mereka pun selalu membangun narasi-narasi tertentu (fitnah, hoax) agar ketidak-percayaan umat kepada pemimpinnya makin besar.
Semoga...
#ombad #tasawuf
05 December 2018
IBADAH TANPA ILMU
Tentu berbeda Ibadahnya orang berilmu dengan Ibadah tanpa ilmu, karena dengan didasari ilmu maka ia akan mengetahui hukum tiap amal/perbuatan, seseorang dapat menunaikan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah dengan sebaik-baiknya, termasuk dalam hubungannya secara horizontal dengan lingkungannya.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa Derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah : 11)
Itu makanya secara tersirat Ibn Abbas (Abdullah bin Abbas ra.) mengatakan bahwa perbandingan derajat antara orang yg memiliki ilmu dibanding orang yg tidak memilikinya adalah 700 derajat, dimana derajat pertama ke derajat kedua menempuh perjalanan 500 tahun lamanya.
Syeikh Hasan Al-Bashri ra. berkata,
العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْمَ
“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Pelajarilah ilmu dengan sungguh-sungguh, namun jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, namun jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, namun meninggalkan belajar.”
Jangan sampai karena ketidak-tahuan akan ilmu, mengalami hal seperti ini :
Alkisah, di Maroko pernah hidup seorang ahli ibadah yg dikenal oleh masyarakat sekitarnya sebagai orang shalih. Siang-malam ia isi dengan ibadah. Hari-harinya ia hiasi dengan kegiatan ibadah kepada Allah SWT. Suatu hari ia membeli seekor keledai betina. Anehnya keledai itu tidak ia gunakan sama sekali. Hal ini membuat seorang tetangganya diliputi rasa penasaran, “Tuan, mengapa keledainya tidak dimanfaatkan..?”
Dijawab oleh si ahli ibadah ini, “Memang, aku hanya memanfaatkannya untuk memuaskan nafsu birahiku.”
Setelah diusut, ternyata si ahli ibadah ini betul-betul tidak tahu soal larangan keras menyetubuhi hewan. Ketika ia diberi tahu soal hukum menyetubuhi hewan, ia menangis sejadi-jadinya.. :D
Dan mudah-mudahan penyakit Ujub, Riya, Sum'ah, dsb ketika sedang ibadah tidak memasuki hati kita. Kenapa..?
Karena sifat seperti Riya' ini (memamerkan amal ibadah karena ingin mendapat pujian dari orang lain) dapat merusak keikhlasan. Ikhlas yg sempurna harus dilakukan baik sebelum, sedang, ataupun sesudah ibadah. Sebab ada orang yg ikhlas ketika beribadah, tetapi setelah itu ia terjebak dalam sikap Riya’ (pamer), maka rusaklah nilai ibadahnya.
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang Shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat Riya’.” (QS. Al-Ma’un : 4-6)
Semoga..
#ombad #tasawuf
08 November 2018
KALIMAT THAYYIBAH
Thoyyib itu artinya BAIK. Jadi Kalimat Thayyibah itu artinya Kalimat yang baik, apakah itu terkait dengan kebaikan, kesopanan, tidak kasar, tidak berdusta, tidak hoax, tidak mencaci-maki, dsb.
Itu makanya Kitab Tafsir mendefinisikan Kalimat Thayyibah afalah setiap ucapan yg mengandung Kebenaran dan Kebajikan yg bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, serta mengandung segala perbuatan Ma'ruf dan pencegahan dari perbuatan Munkar. Silakan mau pakai bahasa apapun.. sunda, jawa, indonesia, english, arab.. bahasa isyarat pun boleh lah, seperti senyum doank.. atau wajah berseri-seri.. :D
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan Kalimat Yang Baik (Kalimat Thayyibah) seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim : 24-25)
Ibnu Abbas ra. dalam tafsirnya mengatakan bahwa Pohon Yang Baik adalah gambaran pribadi yg baik, Muslim yang muhlis, yang melahirkan maslahah bagi sesama, dan selalu menjadi teladan/manfaat di lingkungannya.
Itu makanya ada Hadist yg mengisyaratkan bahwa "kalimat thayyibah" itu sangat berhubungan dengan amal atau perbuatan yg baik (ma'ruf).
Rasulullah SAW bersabda,
الكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
"Kalimat Thayyibah itu adalah sedekah." (HR. Bukhari)
Jadi, Kalimat Thayyibah ini ujungnya akan terkait dengan Adab, itu makanya Imam Malik ra. mengatakan,
قَالَ الإِمَامُ مَالِكُ -رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-: (إِنْ رَأَيْتَ الرَّجُلُ يُدَافِعُ عَنِ الْحَقِّ "فَيَشْتُمُ وَيَسُبُّ وَيَغْضَبُ" فَاعْلَمْ أَنَّهُ مَعْلُوْلُ النِّيَّةِ، ِلأَنَّ الْحَقَّ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى هَذَا).
"Jika engkau menyaksikan seseorang sedang membela Kebenaran (al-haq), tetapi lisannya mengeluarkan cacian, makian, sumpah-serapah dan mengobral kemarahan, maka ketahuilah bahwa Niat di Hatinya sudah terkotori, karena Kebenaran (al-haq) tidak membutuhkan semua itu."
Mudah-mudahan beberapa Kalimat Thayyibah di bawah ini bisa dipahami juga esensi dan cara mengaktualisasinya :
1. BASMALAH (Bismillaahir Rahmaanir Rahiim).
2. TA'AWUDZ (A'uudzubillaah, dst).
3. TASBIH (Subhaanallaah, dst).
4. TAHMID (Hamdalah, Alhamdulillaah, dst).
5. TAKBIR (Allaahu Akbar, dst).
6. TAHLIL (Laa Ilaaha illallaah, dst).
7. TARJI’ (Istirja’, Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un, dst).
8. ISTIGHFAR (Astaghfirullaah, dst).
9. HAUQALAH (Laa haula walaa quwwata illaa billaah, dst).
10. SALAM (Assalaamu alaikum, dst).
11. HASBALAH (Hasbunallaah wa ni'mal wakil, dst).
12. TAQDIS (Subbuuhun Qudduusun Rabbunaa wa Rabbul Malaaikati war Ruh).
13. TASYMIT (Yarhamukallaah, dst).
Dan banyak lagi ungkapan-ungkapan lain seperti : Masya Allah, Insya Allah, dsb.
Dan kalimat-kalimat Thayyibah di atas termasuk kalimat DZIKIR, serta bisa dijadikan amalan Dzikir, sampai bisa "menyentuh" kesadaran qalbu. Dan tentunya jika dijadikan bendera, apalagi jadi bendera suatu kelompok teror atau gerakan-gerakan radikal, sulit bagi saya untuk mengakui bahwa itu adalah bendera Thayyibah apalagi bendera Tauhid. Kenapa..?
- Karena itu HANYA SIMBOL dari suatu kelompok atau organisasi.
- Karena tidak ada korelasi dengan proses pembentukan Tauhid di dalam hati.
- Karena bisa jadi "berhala".
- Karena saya belum menemukan Hadist terkait istilah "Bendera Tauhid".
Perlu dicatat bahwa Kalimat Thayyibah itu diamalkan (lisan, hati dan perbuatan) agar makin tinggi kualitas Tauhidnya. Artinya banyak sekali macamnya untuk dijadikan "bendera tauhid".. :D
Pertanyaannya..
- Sejak kapan istilah "Bendera Tauhid" itu muncul..?
- Jika munculnya ternyata bukan di jaman Nabi dan para Sahabat, apakah termasuk Bid'ah..?
Semoga...
#ombad #tasawuf #thayyibah
30 September 2018
HOLISTIK
Seseorang, jika makin paham itu akan makin Moderat, Fleksibel (tidak kaku) dan Holistik. Jadi sangat disayangkan jika ada yg kepedean meski secuil, akhirnya yg belum dia ketahui pun akan disalahkannya.
Mudah-mudahan kisah ini bisa diambil hikmahnya.
Ada seorang lelaki menerobos masuk ke Masjid, di tangannya ada sebilah pedang. Di depan jamaah yg mengelilingi Ibn Abbas, lelaki itu bertanya: “Apakah Allah menerima tobat mereka yg membunuh orang lain..?”
Ibn Abbas menjawab dengan tenang:
“Tentu saja, bukankah Allah itu Maha Pengampun..?!"
Lelaki itu segera berlalu.
Lalu beberapa saat kemudian ada lelaki lain yg tiba-tiba masuk Masjid. Ada pedang di tangan kanannya. Tanpa mempedulikan jamaah yg ketakutan, lelaki itu bertanya kepada Ibn Abbas, “Apakah Allah menerima tobat mereka yg membunuh orang lain..?”
Ibn Abbas dengan tegas menjawab:
“Tidak..! Allah akan mengazab mereka yg membunuh jiwa tak berdosa..!”
Lelaki itu segera berlalu dari Masjid.
Jamaah terpana dengan dua jawaban berbeda dari Ibn Abbas.
“Mengapa anda memberikan fatwa yg berbeda pada pertanyaan yg sama..? Apa dalilnya Ya Syekh..?” tanya seorang murid.
Ibn Abbas menjawab:
“Lihat saja sorot mata kedua lelaki tersebut. Yang pertama, sorot matanya penuh penyesalan. Boleh jadi dia baru saja membunuh orang, dia ingin tahu apakah Allah akan menerima tobatnya setelah apa yg dia lakukan. Tentu saja aku sampaikan padanya bahwa ampunan Allah itu sangat luas. Adapun lelaki kedua sorot matanya penuh amarah. Dengan bertanya padaku boleh jadi dia punya rencana untuk membunuh orang lain. Sebelum peristiwa itu terjadi, aku harus memberikan fatwa yg bisa menghalangi rencana jahatnya.”
Semoga..
#ombad #tasawuf
07 July 2018
IDHTIBA'
Mumpung lagi HOT... masalah IDHTIBA' .. :D
Pakaian ihram ketika kain ihramnya di 'jepit' ketek kanan (dibawah ketek kanan), selendangnya bertumpu di pundak kiri, biasanya disebut IDHTHIBA'..
Idthiba' ini dari kata Dhab'un ... atau IBTH (artinya KETEK alias KETIAK alias KELEK.. :D )
Dari Ibn ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat menunaikan umrah dari Ji’ranah. Mereka melakukan “ramal” (berjalan cepat dengan langkah-langkah yang pendek), dan memasukkan pakaian ihram mereka di bawah ketiak sebelah kanan, sedangkan kedua ujung kain tersebut disematkan di atas bahu sebelah kiri (idhthibaa‘)." (HR. Abu Dawud, no.1884)
Untuk permasalahan Idhthibaa’ ini, ada perbedaan pendapat ulama Madzhab :
1. Madzhab Hanafi berpendapat bahwa idhthibaa‘ itu disunnahkan pada saat thawaf, sedangkan pada saat sa’i tidak disunnahkan. Tidak semua thawaf disunnahkan idhthibaa‘, hanya untuk thawaf yang diikuti dengan sa’i saja. [Haasyiyah Ibn ‘Aabidiin, 2/481, Daar Al-Fikr, Beirut]
2. Madzhab Maliki berpendapat bahwa idhthibaa‘ itu tidak dianjurkan baik pada saat thawaf maupun sa’i. [Fath Al-Baari, no. 1605, 3/534, Daar Al-Hadiits, Kairo]
3. Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa idhthibaa‘ itu disunnahkan baik pada thawaf maupun sa’i. [Al-Majmuu’ Syarhu Al-Muhadzdzab, 8/27, Maktabah Al-Irsyaad, Jeddah]
4. Madzhab Hanbali berpendapat bahwa idhthibaa‘ itu disunnahkan hanya pada saat thawaf, sedangkan pada saat sa’i tidak. Idhthibaa‘ hanya disunnahkan pada saat thawaf qudum saja, baik setelahnya diikuti dengan sa’i ataupun tidak. [Al-Mughni, 3/339, Maktabah Al-Qaahirah, Kairo]
Jadi sunnahnya, ketika thawaf (madzhab Syafi'i, Hanafi & Hanbali), kain ihramnya ber-idthiba'.. Cuma kalo ngambil madzhab Maliki... silahkan2 aja... mau bertelanjang dada, mau kayak diselimuti...
Sunnah lhoo eaaa... bukan wajib.. :D
Semoga...
#ombad
12 March 2018
TENTANG TAKWIL
Allah yang menurunkan Al-Quran, mengetahui seluruh aspek maknanya. Dia juga mengetahui bahwa hamba-hamba-Nya berbeda-beda taraf kemampuan dalam memahami firman-Nya dan dapat menangkap sebatas yang mereka mampu. Maka dari itu, jika seseorang menangkap makna dari suatu ayat – dapat dikatakan, itulah makna yang dimaksud Allah dalam ayat tersebut bagi orang itu.
Banyak ayat Al-Quran yang menisbahkan bagian-bagian tertentu kepada Allah – seperti tangan, mata, jemari, bersemayam, berbicara kepada Musa, dsb. Jika kita memahami ayat ini seadanya (harfiyyah), kita akan terperangkap pada tasybîh (tamsil, penyerupaan) dan tajsîm (penjasmanian). Oleh sebab itu, banyak orang yang keluar dari pendekatan ini dan memilih pendekatan allegoris (kiasan, ibarat).
Sebaiknya tidak hanya pemahaman literal murni saja, kadang membutuhkan pemaknaan lewat Takwil (ta'wil).
Tentunya, penta'wilannya pun TIDAK seperti hal-hal di bawah ini :
1. Ta'wil yang membelokkan makna ayat paradoksial ke arah yang sehaluan dengan prinsip-prinsip logika.
2. Ta'wil atau penafsiran menurut hukum akal atau pertimbangan rasio semata.
3. Ta'wil menurut pendapat pribadi seseorang yang tidak cukup ilmunya.
4. Ta'wil yang tidak didukung oleh kisaran makna lafadzh.
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
"…padahal tidak ada yang mengetahui ta'wîl maknanya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya;..." (QS. Ali Imran:7)
Terkait Takwil ni, ada Hadist yg menerangkannya,
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ ضَمَّنِي رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ إِلَيْهِ وَقَالَ "اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْحِكْمَةَ وَتَأْوِيلَ الْكِتَابِ" .
Dari Ibnu Abbas ra, "Rasulullah SAW memelukku dan berkata, 'Ya Allah, alimkan dia Al-Hikmah dan Ta'wil al-Kitab'." (HR. Ibn Majah)
Hadist di atas diucapkan Rasulullah SAW sambil memeluk ibn Abbas ra.
Dan beberapa tahun sesudahnya, ada suatu bukti tentang Ibn Abbas yg bisa mentakwil, dimana Ibn Abbas memberikan Takwil "yg jauh sekali" dari makna "Idza ja'a nashrullahi wal fath". Ibn Abbas tidak menghubungkannya dengan apa yg akan terjadi atas futuh Mekkah, melainkan ia memberi takwil :
Idza ja'a, "Tatkala datang maut menjemput Nabi," dalam arti, Nabi akan segera wafat setelah orang berbondong-bondong "yadkhuluna fi dinillah."
Inilah kenapa Takwil akhirnya jadi "sedikit" kontroversi, dalam arti, banyak juga yg "menentang" nya. Tidak sembarangan "dibuka" untuk kalangan awam.
Jadi, dari riwayat di atas, bisa diambil kesimpulan, bahwa Takwil itu bisa memberi visi (makna, ilmu, penglihatan) yg lain/berbeda, dan kebenarannya pun sama-sama haqq.
Artinya, "penafsiran" Al-Qur'an itu tidak selalu tekstual, dan bisa lewat pintu pemahaman Takwil lewat Qalbu dan Hikmah.
Dan ingat, penafsiran yg dimaksud di atas bukan dalam konteks Tafsir yg sudah baku dan disepakati para Ulama, tetapi lebih ke Takwil yaa... :D
Sekedar contoh :
[2:1] Alif Lam Mim.
[2:1] Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
[2:3] (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
Kalau boleh sy takwilkan ayat di atas, maka takwil sy begini :
[2:1] Hamba-Nya yang INSAN KAMIL (misalnya, para Nabi dan para Aulia).
[2:1] Karena ketaqwaan hamba-Nya yang Insan Kamil ini, Allah menganugerahkan ilmu-Nya (al-Quran) baik ilmu lahir maupun batin. Anugrah ini dihidayahkan Allah sampai hamba-Nya yang Insan Kamil ini Haqqul Yaqin, yang prosesnya bisa secara lahiriah dan batiniah.
[2:3] Allah juga membukakan hal-hal yang ghaib (batin), sampai Insan Kamil ini haqqul yaqin, karena bisa "melihat" hal-hal yg ghaib (bashirah) dengan Qalbu Sirri-nya. Dalam hidupnya, ia selalu bergantung secara total ke Allah (faqir ke Allah), selalu "menghadapkan wajahnya" ke Allah. Dan ia pun selalu berupaya untuk mengajak dan membantu hamba-Nya yang lain agar berusaha wushul ke alam asalnya..
Wallahu a'lam.
“Wahai Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu.” (QS. 20:114)
Semoga...
#ombad #tasawuf #takwil
22 February 2018
HITAM DI JIDAT...?
".... tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud." (QS. Al-Fath: 29)
Jika tanda yg dimaksud adalah "tanda hitam" di jidat seperti yg diyakini oleh sebagian kelompok, maka yg kasihan adalah para akhwat (wanita). Soalnya walaupun mereka rajin shalat, keningnya tetap aja gak hitam-hitam, malah makin kinclong.. :D
Ada satu kisah, ketika Ibnu Umar ra. bertemu dengan seseorang yg memiliki tanda hitam di dahi, ia pun mengingatkan,
"Bekas apa yg ada di dahimu..? Sungguh aku telah lama bersahabat dengan Rasulullah SAW, Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku..?"
“Siapa yg memperbaiki hatinya, maka Allah akan memperbaiki penampilan lahiriahnya,” ('Umar bin Khatthab ra.)
“Sesuatu yg terpendam dalam jiwa akan terpancar melalui roman muka,” ('Ustman bin Affan ra.)
"Tanda baik yg ada pada wajah, cahaya wajahnya terang seperti bulan purnama." (Ibnu Abbas ra.)
Jadi tidak tepat bahwa tandanya itu hitam di jidat. Justru yg ditakutkan, jidat hitam itu malah jadi Riya' dan mirip kaum Khawarij, seperti yg disebutkan oleh Syaikh Ahmad ash-Shawi al-Maliki ra. dalam kitab Hasyiyah ash-Shawi Ala Tafsir al-Jalalain :
وليس المراد به ما بصنعه بعض الجهلة المرائين من العلامة في الجبهة فانه من فعل الخوارج وفي الحديث اني لابغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود
"Bukanlah yg dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang² Bodoh dan Tukang Riya’, yaitu tanda hitam yg ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas Khawarij. Dalam sebuah hadits disebutkan: 'Sesungguhnya aku benci seseorang yg kulihat diantara kedua matanya terdapat bekas sujud'."
Nah.. kalau yg sudah terlanjur jidatnya hitam harus gimana donk..? Masa harus pakai Ponds White..?
**
Jadi,
Kalo kesukaannya masih membid'ah-bid'ahkan,
Kalo kesenangannya masih menyesat-nyesatkan,
Kalo kecintaannya masih mengkafir-kafirkan,
Itu tandanya,
Baru ingat satu hal, tetapi melupakan yg lainnya,
Baru tahu satu hal, tetapi belum tahu yg lainnya,
Baru tahu ilmu, tetapi belum tahu hikmah,
Baru beranjak pintar, tetapi belum memulai sikap bijak.
Dan titik-titik pun harus bisa disambungkan sehingga membentuk lingkaran yg utuh. Bukankah seperti itu yg namanya Makrifat..?
Semoga....
#ombad #tasawuf #khawarij
14 November 2017
KUNCI KEBAHAGIAAN HIDUP
KUNCI KEBAHAGIAAN HIDUP menurut Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. ada tujuh, yaitu :
1. Jangan membenci siapapun walau ada yg menyalahi hakmu.
2. Jangan pernah bersedih secara berlebihan sekalipun masalah memuncak.
3. Hiduplah dalam kesederhanaan sekalipun serba ada.
4. Jangan memutus doa untuk saudara mukmin.
5. Perbanyaklah memberi walaupun anda sedang susah.
6. Tersenyumlah walau hatimu sedang menangis.
7. Berbuatlah kebaikan walaupun sedang mengalami musibah.
***
INDIKATOR KEBAHAGIAAN HIDUP menurut Ibn Abbas ra. ada tujuh, yaitu :
.
1. QOLBUN SYAKIRUN (hati yg selalu bersyukur), artinya selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yg berlebihan, tidak ada stres. Inilah nikmat bagi hati yg selalu bersyukur.
.
2. AL-AZWAJU SHOLIHAH (pasangan hidup yg sholeh/sholihah). Pasangan hidup yg sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yg sakinah.
.
3. AL-AULADUL ABRAR (anak yg berbakti). Doa anak yg sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah, berbahagialah orang tua yg memiliki anak sholeh. Investasi abadi selamanya.
.
4. AL-BIATU SHOLIHAH (lingkungan sholeh), lingkungan yg kondusif untuk iman kita. Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang sholeh yg selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah.
.
5. AL-MALUL HALAL (harta yg halal), bukan banyaknya harta tapi halalnya harta yg dimiliki. Harta yg halal akan menjauhkan setan dari hati. Hati menjadi bersih, suci dan kokoh sehingga memberi ketenangan dalam hidup.
.
6. TAFAQUH FID-DIEN (semangat untuk memahami agama), dengan belajar ilmu agama, akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta inilah yg akan memberi cahaya bagi hatinya.
.
7. UMUR BAROKAH, artinya umur yg semakin tua semakin sholeh, setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Inilah semangat hidup orang-orang yg barokah umurnya.
Semoga....
#ombad #tasawuf