21 June 2022
KDRT
11 July 2020
CERDAS, SENSE OF HUMOR
03 December 2019
TUKANG CACI MAKI
31 August 2019
LIDAH DI BELAKANG HATI
Banyak hal yang tidak tampak (baca: hati, iman) mudah dihukumi oleh orang-orang yang belum paham agamanya. Jauh berbeda dengan para alim ulama yang kualitasnya sudah tidak diragukan lagi, dimana mereka hanya menghukumi hal-hal yang tampak karena hanya Allah yang menguasai hal-hal yang tidak tampak.
Seorang sahabat pun, yaitu Muadz bin Jabal ra. pun pernah mendapat teguran keras dari Rasulullah SAW saat dengan ringannya menuduh "munafik" seorang Muslim. Rasulullah menegurnya dengan kalimat:
اتحب ان تكون فتانا
"Apakah kamu suka menjadi tukang fitnah..?!"
Rasulullah SAW marah karena Muadz tidak punya hak untuk menghakimi seseorang itu pantas disebut sebagai munafik atau tuduhan buruk lainnya.
Jadi, belajarlah menahan ucapan (lidah) ataupun tulisan, jangan mudah menghina ataupun melempar tuduhan-tuduhan yang buruk terhadap sesama karena bisa menyakitkan hati orang lain juga, bukankah “Mereka-mereka itu adalah orang-orang yang hanya Allah yang mengetahui apa yang ada di hati mereka…" (QS. An-Nisa’ : 63)
"Lidah orang berakal berada di belakang Hatinya, sedangkan Hati orang bodoh berada di belakang lidahnya." ('Ali bin Abi Thalib kw.)
Begitupun yang dikatakan Hasan Al-Bashri ra. (lahir 642 M, masa kekhalifahan 'Umar bin Khatthab ra.) :
“Sesungguhnya lidah orang beriman berada di belakang hatinya. Apabila ingin bicara tentang sesuatu maka dia merenungkan dengan hatinya terlebih dahulu, kemudian lidahnya menunaikannya. Sedangkan lidah orang munafik berada di depan hatinya. Apabila menginginkan sesuatu maka ia mengutamakan lidahnya daripada memikirkan terlebih dulu dengan hatinya.”
Semoga..
#ombad #tasawuf
13 August 2019
BENCI DIANTARA DUA CINTA
"Lebih mudah menghancurkan gunung jadi debu daripada menanam Cinta pada hati yang penuh Kebencian." (Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw.)
Ego, meskipun sulit dihancurkan (baca : dikendalikan), tapi bukan sesuatu yang tidak mungkin hancur. Ketika Ego dibiarkan maka akan makin membuat kesombongan pun menjulang tinggi. Hati pun akan makin keras seperti batu, bahkan lebih keras dari batu. Ego bisa makin kuat karena hatinya makin keras, seperti halnya gunung yang kokoh karena bebatuannya banyak.
Seorang Hamba di hadapan Tuhannya itu seperti sebutir debu yang sangat kecil bahkan lebih kecil lagi, hanya sebutir zarrah.
Debu yang jatuh dan menyatu rata dengan tanah --yang menjadi sumber asalnya-- inilah yang merupakan perwujudan cinta, suatu penyatuan. Tentunya setelah bisa terlepas dari berbagai gangguan dari hembusan angin-angin kebencian.
Angin kebencian selamanya akan berhembus, tetapi tidak akan mampu mempengaruhi hati yang penuh cinta.
”Surga itu dikelilingi dengan kebencian-kebencian hawa nafsu, sedangkan neraka itu dikelilingi oleh kesenangan-kesenangan hawa nafsu.” (HR. Muslim)
Kondisi seperti ini sebutlah sebagai "Baqa sesudah Fana dalam lingkup Mahabbah". Seperti halnya seekor laron yang mendekati cahaya lalu terbakar dalam cahaya tersebut dan akhirnya musnah karena kecintaannya kepada cahaya.
Dan sang laron pun bisa tumbuh kedua sayapnya setelah ia bisa mengikis kebencian dalam dirinya. Cinta lah yang menumbuhkan kedua sayap tersebut dimana sayap yang pertama adalah kecintaan pada aturan-Nya, dan sayap yang kedua adalah perwujudan dari hakikat penciptaan yang bersumber dari segala sumber, Sang Maha Cinta.
Suatu hari, sekumpulan tawanan dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Ada seorang tawanan wanita diantaranya, tiba-tiba wanita tadi menemukan seorang bocah kecil --anaknya yang semula lepas dari pelukannya--, lalu ia menggendongnya dan disusuinya. Melihat kejadian itu, Rasulullah berkata kepada para sahabat: "Bagaimana menurut kalian, mungkinkah wanita itu tega mencampakkan anaknya ke dalam kobaran api..?"
Para sahabat menjawab: "Tidak, demi Allah."
Rasulullah lalu berkata:
"Sungguh, kasih sayang Allah kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada kasih sayang wanita itu kepada anaknya." (HR. Bukhari - Muslim, dari 'Umar ra.)
Semoga...
#ombad #tasawuf
21 July 2019
TASAWUF DALAM KETIDAKPASTIAN HEISENBERG
Banyak yang berbicara sesuatu meski pembicaraan tersebut tidak dipahaminya. Sebutlah sesuatu ini hanya baru diketahui, tetapi belum dipahami, apalagi sampai dialami. Sesuatu ini masih berupa misteri bagi dirinya. Misteri-misteri seperti ini seringkali dijelaskan dalam ceramahnya seorang ustadz, meski ia sendiri tidak menguasainya. Begitupun hal seperti ini bisa muncul dalam khotbahnya seorang pendeta, bahkan para saintis, fisikawan, dll pun bisa melakukan hal yang sama.
Memang betul seperti yang dikatakan Heisenberg tentang asas Ketidakpastian, bahwa adanya keterbatasan manusia baik dalam melihat, mendengar ataupun merasa, termasuk keterbatasan dalam pemikiran dan pemahaman, maka akan terbatas juga dalam memberi konfirmasi yang lebih meyakinkan tentang segala sesuatu.
Seperti halnya indera penglihatan manusia yang hanya mampu melihat dalam batas spektrum kasat mata (visible spectrum), dalam batas gelombang cahaya tampak, spektrum elektromagnetik dengan panjang gelombang antara 400–700 nm.
Ada sesuatu yang tak terbatas dan sulit untuk diketahui serta dibuktikan dengan keterbatasan alat-alat pengukur atau pengamatan. Dan sang waktu tetap menunggu keberhasilan upaya dalam "menerobos" dunia mikrokosmos yang lebih dalam, seiring dengan perkembangan alat-alat pengukuran.
Dan keterbatasan ini tetap akan menyisakan suatu misteri. Sayangnya, misteri ini seringkali ditafsirkan seenaknya sendiri oleh mereka yang susah untuk mengakui bahwa mereka itu sebenarnya tidak paham, dan hanya menebak-nebak saja disesuaikan dengan pikirannya.
“Hikmah itu --perbendaharaan-- yang hilang dari kaum Mukmin. Di mana pun ia ditemukan, ia berhak --diambil-- untuk itu.” (HR. Turmudzi & Ibn Majah, dari Abu Hurairah ra.)
Itulah, betapa sulitnya untuk berlaku Jujur dan Adil meski dalam pemikiran. Seperti halnya terjebak dalam samarnya Kesombongan yang selalu mengaku sebagai suatu Keikhlasan.
"Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan." (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 1975)
Ya gimana lagi, ketika kita melihat atau mendengar yang seperti itu, jika belum bisa cuek, ya berusaha "menerima" saja meskipun terasa janggal, karena mereka hanya melontarkan bungkusnya dan bukan isinya. Bukankah nada-nada dalam alat musik pun akan terdengar sumbang jika yang memainkannya tidak kompeten. Begitupun, lagu yang indah pun akan terasa memuakkan jika penyanyinya buruk.
Akhirnya, berusahalah untuk tetap tersenyum, dan ikuti saja seperti yang dikatakan sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. :
"Perhatikan apa ucapannya, bukan siapa yang mengucapkan."
Dan tetaplah teliti karena gradasi intelektual pun makin bertebaran di bumi fallacy.
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
09 July 2019
POLIGAMI
ANTARA BENCI DAN INGIN.. 😂
Pertanyaan tentang poligami ini sering menghantui saya sejak umur 5 tahun, dan sering saya tanyakan ke Ibu.
Pertanyaan saya waktu itu, "Mak, kalo poligami boleh..?"
Dan Ibu cuma menjawab, "Dalam keluarga kita tidak ada yang berpoligami."
Dan waktu pun berjalan, sampai akhirnya saya pribadi berkeyakinan bahwa Poligami itu TIDAK BOLEH (khusus saya pribadi), meski banyak juga yang menyetujui poligami dengan bersandar atas nama dalil dan (katanya) Sunnah.
Ijtihad saya terkait hal ini ada tiga pertimbangan, yaitu :
1. Rasulullah SAW berpoligami setelah istrinya (Khadija rah.) meninggal.
2. Setelah istri tercintanya meninggal, banyak yang belum tahu bahwa Rasulullah berpoligami untuk menyelesaikan persoalan sosial waktu itu, dimana kebanyakan dari istri-istri Nabi adalah janda (tua) yang ditinggal mati syahid suaminya, beranak banyak lagi.
3. Ada Hadist ini :
Rasulullah SAW marah ketika mendengar kabar bahwa putrinya (Fatima rah.) akan dipoligami 'Ali bin Abi Thalib kw. Rasulullah pun langsung menuju masjid dan naik mimbar, lalu berseru,
"Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan 'Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan kecuali 'Ali bin Abi Thalib menceraikan Putriku, kupersilahkan mengawini putri mereka. Ketahuilah. Putriku itu bagian dariku, apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga." (Jami' al-Ushul, juz XII, 162, No. 9026)
Jadi keywords-nya kenapa (bagi saya) TIDAK BOLEH adalah :
- Mengganggu perasaan (istri).
- Menyakiti hati (istri).
Dan kedua hal ini selaras dengan esensi serta hasil dalam beragama, yaitu Kemanusiaan.
Nah.. ini mah buat saya pribadi, jadi jangan ditiru ataupun ikut-ikutan eaa.. 😂
Semoga..
#ombad #poligami
26 June 2019
TAUBAT VS HIJRAH
Saya lebih menyukai kata "taubat" dibanding kata "hijrah", karena kata "taubat" asosiasinya lebih ke diri sendiri tanpa harus dibandingkan bahkan menyalahkan orang lain.
Hal ini berbeda dengan kata "hijrah" yg sudah jadi sebuah fenomena jaman now, dimana sang diri yang sudah "hijrah" merasa lebih baik dan lebih beriman, sementara ketika si diri melihat orang yang belum "hijrah" suka dianggap salah bahkan disalahkan, seperti halnya dulu dimana Mukmin Muhajirin pindah ke Madinah meninggalkan Mekkah yang berisi Kafir Musyrikin.
Stigma "hijrah" jaman now ini bisa jadi jebakan dalam ego dan eksistensi, bahkan dalam kasus yang ekstrim itu hanya sekedar mempertontonkan kulit terluar saja dengan cara mencari pembanding di luar dirinya, dan bukannya fokus dalam memperbaiki kualitas isi tanpa harus mencari pembanding luar dirinya.
"Janganlah mencela iblis di keramaian sedangkan engkau berteman dengannya dalam kesunyian." ('Ali bin Abi Thalib kw.)
Jadi, ukurlah kebaikan anda sendiri dengan kesalahan diri sendiri dan belajar "menutup mata" terhadap kesalahan orang lain. Gunakan kacamata Syariat ketika melihat diri sendiri supaya rajin ibadah, tetapi pakailah kacamata Hakikat ketika melihat orang lain supaya tidak berprasangka buruk.
Dan tentunya berbeda antara makna "memperbaiki" ketika taubat dengan makna "pindah" ketika hijrah.. apalagi dalam konteks menjalankan Rukun Islam dan Rukun Iman yang sama seperti dulu.
**
Rasulullah SAW bersabda,
“Sungguh Allah lebih bahagia dengan Taubat seorang hamba ketika dia bertaubat dari (bahagianya) seorang di antara kalian, yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di padang pasir yang luas. Tiba-tiba hewan tunggangannya itu hilang darinya padahal di sana ada perbekalan makan dan minumannya. Hingga ia putus asa. Lalu ia menghampiri sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya. Sungguh ia telah putus asa untuk menemukan kembali hewan tunggangannya. Kemudian dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangan itu sudah berada di sisinya. Maka ia segera meraih tali kekangnya seraya berkata karena sangat bahagianya, 'Wahai Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu'. Keliru berkata-kata karena sangat bahagia." (HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik ra.)
Semoga..
#ombad #tasawuf
02 June 2019
CINTA DALAM KELUARGA
Perjalanan sebuah keluarga merupakan contoh pembelajaran dalam menguatkan ikatan cinta dan kasih sayang, meski ada hal lain di luar itu, yaitu perceraian dan perselingkuhan dengan berbagai alasannya.
Hari ini Indonesia berduka kembali dengan wafatnya Ibu Ani Yudhoyono, sosok Ibu Negara yang sedemikian mencintai keluarganya, baik saat masih di bawah maupun sudah di atas. Seperti halnya Ibu Negara kita sebelumnya, yaitu Bu Ainun Habibie.
Wanita, khususnya seorang istri, tentu besar sekali peranannya bagi suaminya meski banyak orang yang tidak mengetahui detilnya. Dan sangat wajar jika suami dan anak-anaknya akan sangat mencintainya, begitupun saat seorang istri meninggal, kedukaan dan kehilangan pun akan sangat terasa sekali.
Ada pengalaman di orang tua saya, waktu itu tahun 2005. Ibu sakit keras sampai tidak bisa bangun dari kasurnya. Semua sudah menyarankan ke rumah sakit tetapi Ibu tetap tidak mau. Akhirnya Bapak saya pontang-panting karena sudah terbiasa ada yang melayani dalam semua urusan rumah, seperti urusan makan, pakaian, dsb.
Setelah sebulan Ibu sakit dan gak bisa bangun dari tempat tidurnya, akhirnya Bapak "menyerah" lalu ngomong ke Ibu,
"Mak, Bapa ripuh, teu kuat.. ripuh gening teu diurus ku Emak mah.. urang tukeran wé jeung Bapa.. keun wé Bapa nu maot.."
Terjemah:
"Mak, Bapak repot, gak kuat.. repot ternyata gak diurus sama Emak itu.. kita tukaran aja sama Bapa.. biar aja Bapa yang meninggal.."
Aneh bin ajaib, besoknya Ibu langsung bangun dan sehat wal afiat, tidak seperti orang yang habis sakit. Dan tiga hari kemudian, Bapak meninggal dunia jam 9 pagi bertepatan dengan Idul Adha, Jumat 21 Januari 2005. Iya, Bapak meninggal tanpa sakit dulu, inginnya tetap duduk sambil berdzikir meski bagian kaki dan perut udah tidak bergerak. Lalu akhirnya dibaringkan saat mencapai dada, dan tak lama kemudian meninggal dengan satu hembusan napas.
Pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian ini adalah.. sebuah KECINTAAN. Kecintaan ini bisa melampaui apapun, baik harta, tahta maupun jiwa atau nyawa sekalipun. Dan Kecintaan ini adalah wujud dari rasa terima kasih kepada seseorang yang sudah mengurus, memperhatikan dan melayani secara ikhlas dirinya maupun anak-anaknya.
Setelah Bapak dikuburkan, ada acara tahlilan 7 hari yang dilaksanakan ba'da Asar.
Karena pada hari Sabtu dan Minggunya sy ada kegiatan di Bandung yang tidak bisa ditinggalkan, akhirnya sy minta izin Ibu, mau berangkat ke Bandung, dan Senin sy janji mau pulang lagi ke Garut.
Dari pandangan matanya sy tahu Ibu tidak mengijinkan, tapi akhirnya diperbolehkan meski hatinya mungkin tidak mengijinkan.
Akhirnya Sabtu pagi sy berangkat ke Bandung pakai motor.
Dan keanehan terjadi, baru juga 2 atau 3 km dari rumah, sy nyetir motor kayak orang mabok, bolak-belok sampai ngambil ruas jalan yg sebelahnya (arah berlawanan). Dan motor seperti sangat sulit dikendalikan. Untung waktu itu jalanan sedang kosong, jika tidak mungkin akan terjadi kecelakaan, tabrakan.
Akhirnya sy berhenti dan memutuskan pulang lagi ke rumah Ibu.
Mungkin tarikan "kecintaan" Ibu ini yg bisa menarik sy tidak bisa berangkat, dan akhirnya sy pun memutuskan untuk kembali pulang dan ikut tahlilan selama 7 hari di rumah orang tua.
Jadi, sesakti-saktinya sy.. masih kalah jauh sama Ibu.. 😂
Dan dalam keikhlasannya, Ibu saya pun menyusul suaminya 8 tahun kemudian, tepatnya 04 Maret 2013.. tanpa sakit juga.
**
”Janganlah istrimu menjadi makhluk yang paling menderita karena perbuatanmu. Jika engkau nanti mengucapkan kalimat yang merendahkan kehormatan istrimu; Jika engkau mengumbar kata-kata yang melukai hatinya; Jika engkau mengumbar kehormatan istrimu; Jika engkau mengumbar kata-kata yang menyakiti hatinya; Jika engkau mengecilkan dan menganggap tidak berarti segala pengkhidmatannya; Jika engkau mengacuhkan, membiarkan, menelantarkan dan menyengsarakannya, engkau akan berhadapan dengan pengadilan Ilahi. Istrimu akan menggiring dan menghempaskanmu di hadapan Tuhan dengan mengadukan segala kedzalimanmu. Bekal yang paling buruk untuk Hari Akhir adalah berbuat dzalim kepada hamba Allah, apalagi perbuatan dzalim itu dilakukan kepada orang yang telah ditakdirkan Allah untuk mendampingi hidupmu." ('Ali bin Abi Thalib kw.)
Semoga..
#ombad 28 #ramadhan 1440 H.
31 May 2019
ART OF THINKING
BIJAK dalam hal ilmu (dan juga dalam kehidupan) itu seperti menyetel senar gitar. Terlalu kencang, bisa menyebabkan senarnya putus, dan terlalu kendor juga menyebabkan senarnya tidak berbunyi sebagaimana mestinya.
Apalagi ketika berhadapan dengan pengguna medsos yg majemuk. Membicarakan terigu pun bisa dianggap tapioka, atau tepung beras, bahkan ditafsirkan bubuk kapur, gara-gara anggapannya karena sama-sama berwarna putih.. 😀
Bukankah imam Syafi'i ra. pun demikian ketika berhadapan dengan sekelompok penduduk di sebuah daerah di Mesir. Beliau sesuaikan materi ilmunya setelah ia pahami dulu kondisi pemikiran dari sebagian besar penduduknya. Dan Beliau pun berkata, "Aku turun, turun, turun dan turun lagi..."
Karena bijak dalam ilmu itu ukurannya bukan tinggi, tetapi fungsional, lalu selanjutnya bisa menyatukan antara Kebutuhan, Pengamalan dan Pemahaman. Dengan bahasa lain, bisa menyederhanakannya sehingga mudah dicerna dan diaplikasikan.
"Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya." ('Ali bin Abi Thalib kw.)
Artinya, Kebodohan yg dimaksud berhubungan dengan kemampuan mengontrol diri, lahir maupun batin. Hal ini berhubungan dengan aspek Kesadaran dalam mengenal diri sendiri sehingga bisa mengendalikannya. Kondisi inilah yg bisa membawa manusia dari dunia gelap ke dunia terang, dari peradaban Jahiliyah ke peradaban Insaniyyah (humanity), dari saling menyakiti dan merendahkan ke saling menghargai dan empati.
Jadi belajarlah memposisikan sesuatu pada tempatnya, maka niscaya hidup itu akan terasa indah. Dan seperti itulah "art" atau seni, khususnya "Art of Thinking".
"Semesta telah memberikan kita dua telinga, dua mata, tetapi dengan satu lidah. Artinya kita harus lebih banyak mendengar dan melihat daripada berbicara." (Socrates)
Semoga...
#ombad 26 #ramadhan 1440 H.
29 May 2019
DAN SUJUDPUN TERLALU PENDEK
SUJUD merupakan "berkah" yg diberikan Allah kepada hamba-Nya, dimana hamba-Nya diberi kesempatan agar bisa mengikis ego, kesombongan dan keangkuhan. Artinya, hamba Allah yg sering bersujud, seharusnya tidak lagi memelihara sikap Ego (Ananiyyah) dan Ujub (Inniyyah).
Sehebat apapun manusia akan kembali ke tanah dan ketika sudah kembali menyatu dengan tanah, tanahnya sama saja, tidak bisa dibedakan, apakah si tanah itu berasal dari tubuh bangsawan, rakyat, kulit putih, sawo matang ataupun hitam, laki-laki ataupun perempuan, orang kaya ataupun miskin. Semuanya jadi sama dan kembali menjadi satu (baca: tanah).
Dalam kehidupan lahiriah pun ada kesamaan yaitu munculnya cahaya bekas sujudnya (atsar as-Sujud), apakah itu dalam wajah ataupun penampilan, baik penampilan fisik, psikologis maupun spiritualnya.
Dalam konteks tasawuf, ini bisa dimaknai "Kita berasal dari-Nya dan kepada-Nya kita kembali." (QS. 2:156), ketika awalnya berbeda-beda, tapi di akhir perjalanannya bisa menjadi satu, dan menyatu dengan Yang Mahasatu.
Apakah sujud kita sudah bisa menyentuh nilai hakikatnya bahwa :
- Sujud itu bentuk pengakuan kerendahan diri dan pada saat yg sama mengakui Kemahatinggian Sang Pencipta.
- Sujud itu untuk mendahulukan hati dibandingkan pikiran, sehingga pikiran kita selalu dituntun oleh nurani seperti halnya posisi kepala yg lebih rendah daripada dada ketika bersujud.
- Sujud itu bentuk pengintegrasian segala upaya untuk mencapai kesempurnaan penghambaan di hadapan Sang Pencipta seperti halnya posisi sujud yg ditopang oleh tujuh anggota badan.
- Sujud itu bentuk "Penyerahan" seorang hamba sambil selalu mengingat-Nya dan tidak ada penyerahan jika masih ada hijab Ananiyyah dan Inniyyah. "Kepada-Mu lah aku mengabdi dan kepada-Mu lah aku meminta pertolongan".
- Sujud itu bentuk pengingat akan Awal dan Akhir manusia, berasal dari tanah dan berakhir dalam tanah, seperti halnya sujud dalam shalat yg jumlahnya 2x lebih banyak dibanding gerakan lainnya. Sampai akhirnya mencapai tujuan "Kita berasal dari-Nya dan kepada-Nya kita kembali".
Itu makanya sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. ketika ditanya tentang makna Sujud Pertama, Beliau menjawab, "Allahumma innaka minha khalaqtana" (Ya Allah sesungguhnya Engkau menciptakan kami dari tanah). Makna bangkit dari Sujud Pertama adalah "Wa minha akhrajtana" (Dan daripadanya engkau mengeluarkan kami). Makna Sujud Kedua adalah "Wa ilaina tu'iduna" (Dan kepadanya Engkau akan mengembalikan kami). Dan makna bangkit dari Sujud Kedua adalah "Wa minha takhrujna taratan ukra" (Dan daripadanya Engkau akan membangkitkan lagi).
Syeikh Muhyiddin Ibn 'Arabi ra. juga menerangkan dalam kitab Futuhat Makiyyah, bahwa Sujud adalah simbolisasi terhadap asal-usul penciptaan manusia yg berasal dari tanah.
Rasulullah SAW bersabda,
"Hendaklah kamu memperbanyak sujud. Sesungguhnya jika kamu sujud satu kali saja karena Allah, maka Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan kesalahanmu." (HR. Muslim, dari Tsauban Abu Abdullah ra.)
"Saat dimana seorang hamba paling dekat kepada Tuhannya, Allah Azza Wajalla, adalah ketika dia bersujud..” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah ra.)
Semoga...
#ombad 24 #ramadhan 1440 H.
#tasawuf #sujud
28 May 2019
DAJJAL DALAM DIRI 2
(Benar Itu Aku, Salah Itu Kamu)
Ketika berita ditikamnya sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. dalam keadaan sujud sudah diketahui oleh sebagian penduduk Syam yang hidup dibawah kekuasaan Dinasti Bani Umayyah, mereka berseru keheranan :
"Apakah 'Ali bin Abi Thalib itu shalat..?!"
Fenomena seperti ini akan terulang oleh sebagian Muslim dan penyebabnya bisa bermacam-macam, diantaranya :
- Narasi kebencian dan hoax menyebabkan kemudahan dalam berprasangka buruk.
- Merasa mudah mengukur tingkat keimanan dan ketaqwaan orang lain padahal itu semua rahasia Allah.
- Merasa benar dengan dirinya sampai akhirnya merasa sebagai Pemilik Kebenaran sehingga akan dianggap Kekufuran atau Kesesatan jika berbeda kubu/kelompok dengan dirinya.
Walaupun niatnya menyampaikan ilmu tetapi jika yg disampaikannya itu ternyata jadi "tamparan" dan "penolakan" bagi suatu kelompok maka akan dianggap musuh oleh kelompok tersebut, meski kelompok tersebut memang salah jika menurut aturan agama.
"Ketika orang berilmu diam atas suatu kebatilan, pelaku kebatilan akan menyangka mereka berada dalam Kebenaran." ('Ali bin Abi Thalib kw.)
Hal ini mirip kejadian terhadap Imam Syafi'i ra. yg mengalami pemukulan dan pengeroyokan --padahal sudah sepuh-- sampai akhirnya wafat karena luka-lukanya.
Kebencian yg begitu tinggi kepada Syiah menyebabkan mereka mempersekusi Imam Syafi'i karena Beliau mengeluarkan Qoul Jadid dalam pemikiran-pemikirannya. Qoul Jadid ini membuat sebagian orang menjadi buruk sangka, bahkan muridnya sendiri yaitu Imam Hambali beranggapan bahwa gurunya sudah dipengaruhi oleh pemikiran madzhab Syiah.
Akhirnya Imam Syafi'i dianggap mendukung Syiah terutama oleh seorang Fuqoha Fanatik yg bernama Fityan, yg sangat marah, meski dibalik itu semua pemicunya karena Fityan masih sakit hati dan dendam setelah kalah debat sebelumnya.
Fityan ini teman seperguruan Imam Syafii, sama-sama murid Imam Malik, akan tetapi wataknya suka mengungkit-ngungkit masalah Khilafiyah, seperti masalah Qunut dan tidak Qunut dalam shalat subuh, masalah Bid’ah dalam agama dan pembagiannya, dsb.
Seperti itulah gambaran betapa berbahayanya pembentukan opini dan pemutar-balikkan fakta dengan hoax, akibat dari kebencian. Dan akhirnya sampai tega menghilangkan nyawa seorang Imam Mujtahid seperti Imam Syafi'i, ataupun seorang Sahabat yg jadi rujukan ilmu, dimuliakan penduduk langit, serta sudah dijamin surga seperti Ali bin Abi Thalib kw.
Betapa "Dajjal" telah membutakan mata, pikiran dan hati, mengiming-imingi dengan surga padahal sebenarnya neraka, menakut-nakuti dengan neraka padahal sebenarnya surga. Dan ujungnya, sesuatu yang Haq akan dituduh Batil sementara yang Batil akan dianggap Haq. Seperti halnya para teroris yang bersikeras dengan keyakinan ghirah dan jihadnya.
Dajjal dalam dirinya yg mengatakan "benar itu aku, salah itu kamu". Dan "Dajjal dalam diri" ini hanya bisa dilepaskan jika sudah mengalami "kiamat dalam diri" seperti yg tersirat dalam Surah Al-Kahfi.
Semoga..
#ombad 23 #ramadhan 1440 H.
#dajjal #alibinabithalib #imamsyafii
15 May 2019
'ALI, KEBERANIAN & MOTIVASI MANTAN BUDAKNYA
Suatu hari, 'Ali bin Abi Thalib mendatangi Rasulullah SAW yg sedang berada di kediaman Ummu Salamah rah.
Tak lama setelah mengucapkan salam, terlihat pintu dibuka Ummu Salamah rah. dan mempersilakan 'Ali masuk.
'Ali pun masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasulullah, sambil dipersilakan duduk di depan Rasulullah SAW.
'Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai maksud, tetapi malu hendak mengutarakannya.
Rasulullah : "Hai 'Ali nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan. Katakanlah apa yg ada dalam pikiranmu. Apa saja yg engkau perlukan akan kauperoleh dariku."
'Ali : "Maafkanlah ya Rasulullah. Anda tentu ingat bahwa anda telah mengambilku dari paman anda, Abu Thalib dan bibi anda, Fatimah binti Asad, di kala aku masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa. Sesungguhnya Allah telah memberi hidayat kepadaku melalui anda juga. Dan anda, ya Rasulullah, adalah tempat aku bernaung dan anda jugalah yg menjadi washilahku di dunia dan akhirat. Setelah Allah membesarkan diriku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah tangga; hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri anda, Fatima. Ya Rasulullah, apakah anda berkenan menyetujui dan menikahkan diriku dengan dia..?"
Wajah Rasulullah pun nampak berseri-seri dan tersenyum.
Rasulullah : "Hai 'Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal maskawin..?'' .
'Ali : "Demi Allah, Anda sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yg tidak anda ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."
Rasulullah : "Tentang pedangmu itu, engkau tetap membutuhkannya untuk melanjutkan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga butuh untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar maskawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai 'Ali engkau wajib bergembira, sebab Allah 'Azza wajalla sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi."
**
Perlu diketahui, keberanian 'Ali untuk melamar putri Rasulullah SAW ini muncul setelah dimotivasi terus oleh mantan budaknya.
“Tahukah engkau bahwa Fatima telah dilamar..?” kata bekas budaknya.
“Tidak tahu.” jawab 'Ali.
“Dia telah dilamar. Mengapa engkau tidak segera datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dinikahkan dengannya..?” Jelas mantan budaknya.
“Aku punya apa untuk menikah dengannya..?” Tanya 'Ali
“Kalau kamu datang ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau akan menikahkanmu.” Jawab bekas budaknya menyemangati.
Motivasi dari bekas budaknya ini yg makin mendorong keberanian 'Ali untuk melamar Fatima. Putri bungsu Rasulullah ini sudah lama ditaksir 'Ali. Jatuh cintanya 'Ali bin Abi Thalib kepada Fatima mulai bersemi semenjak melihat Fatima merawat, membasuh dan mengobati luka ayahnya, Muhammad SAW karena terluka parah akibat berperang. Dan semejak itu, 'Ali bertekad untuk melamar Fatima.
**
Singkat cerita, 'Ali pun menjual baju besinya dan dapat uang 400 dirham untuk diserahkan kepada Rasulullah SAW.
Dengan persetujuan Rasulullah SAW, Abu Bakar ra. menyerahkan 66 dirham kepada Ummu Salamah untuk "biaya pesta" perkawinan. Dan sisa uang itu dipergunakan untuk membeli perkakas dan peralatan rumah tangga, yaitu :
- Baju kasar perempuan : 1 buah.
- Kudung : 1 buah.
- Kain Qathifah hitam (buatan Khaibar) : 1 buah.
- Balai-balai : 1 buah.
- Kasur dari kain kasar Mesir (isi ijuk kurma) : 1 buah.
- Kasur (isi bulu kambing) : 1 buah.
- Bantal kulit (buatan Thaif, isi daun idzkir) : 4 buah.
- Kain tabir tipis (terbuat dari bulu) : 1 buah.
- Tikar buatan Hijr : 1 buah.
- Gilingan tepung : 1 buah.
- Ember tembaga : 1 buah.
- Kantong kulit (tempat air minum) : 1 buah.
- Mangkuk susu : 1 buah.
- Mangkuk air : 1 buah.
- Wadah air untuk bersuci : 1 buah.
- Kendi berwarna hijau : 1 buah.
- Kuali tembikar : 1 buah.
- 'Aba-ah (semacam jubah) : 1 buah.
- Dan beberapa lembar kulit kambing.
**
Suatu hari setelah keduanya menikah,
Fatima : "Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya."
'Ali : "Mengapa engkau tetap mau menikah denganku, dan apakah engkau menyesal menikah denganku..?"
Fatima : "Pemuda itu adalah dirimu.." 😍
ooohh.. coo cwiitttt.. ❤️
Semoga..
#ombad #sejarah
BELAJARLAH BERPUASA
Belajarlah berpuasa kepada Ular, yang berpuasa untuk memperbaharui tubuhnya, mengganti kulit yang sudah usang menjadi kulit yang terbarukan. #taubat #shafa
Belajarlah berpuasa kepada Ulat, yang berpuasa untuk transformasi tubuhnya, sehingga menjadi kupu-kupu yang indah, terbang dan melakukan penyerbukan. #kematian #khalwat
Muutu qabla an tamuutu.
"Matilah sebelum Mati." (Hadist)
Belajarlah berpuasa kepada Burung, yang berpuasa untuk mengerami telur-telurnya, sehingga bisa menetaskan telur jadi anak, menghasilkan pengganti dan generasi penerus dirinya. #kelahirankedua
“Manusia tidak akan mampu masuk ke malakutnya langit, kecuali telah dilahirkan dua kali seperti burung.” (Nabi 'Isa as.)
Belajarlah berpuasa seperti Pohon yang tetap Diam dalam Ketegaran, dalam teriknya siang dan dinginnya malam, dalam keringnya kemarau dan basahnya hujan. Seperti halnya Maryam yang tetap Diam dan Tegar saat membawa putranya Isa as. ke hadapan kaumnya yg mempertanyakan kelahirannya. #istiqamah
"Puasa merupakan perisai selama bohong --fitnah, hoax-- tidak merobeknya." ('Ali bin Abi Thalib kw.)
Dan berpuasalah seperti mereka, yang berpuasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, bukan sekedar pahala, tetapi melakukan perubahan yang lebih baik, bertransformasi baik ke dalam maupun ke luar diri, baik lahir maupun batin. #kebaikan
Semoga..
#ombad #tasawuf 10 #ramadhan 1440 H.
04 May 2019
DIALOG IBN ABBAS VS KHAWARIJ
Ibn Abbas ra. berkata,
“Orang-orang Khawarij memisahkan diri dari Ali ra., berkumpul di satu daerah untuk memberontak kepada Khalifah. Ketika itu, jumlah mereka 6.000 orang. Semenjak Khawarij berkumpul, setiap orang yg mengunjungi 'Ali ra. berkata --mengingatkannya--, “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang Khawarij telah berkumpul untuk memerangimu.”
'Ali bin Abi Thalib kw. menjawab, “Biarkan saja, aku tidak akan memerangi mereka hingga mereka memerangiku, dan pasti mereka akan melakukannya.”
Hingga di suatu hari yg terik, saat masuk waktu dzuhur aku (Ibn Abbas) menjumpai Ali ra. Aku berkata, “Wahai Amirul Mukminin, tunggulah cuaca dingin untuk shalat dzuhur, sepertinya aku akan mendatangi mereka (Khawarij) berdialog.”
'Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Ibn Abbas, sungguh aku mengkhawatirkanmu..!”
Ibn Abbas menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, janganlah kau khawatirkan diriku. Aku bukanlah orang yg berakhlak buruk dan aku tidak pernah menyakiti seorang pun.”
Maka Ali pun mengizinkanku.
“Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di barisan mereka di tengah siang.”
Ibn Abbas ra. melanjutkan,
“Aku benar-benar berada di tengah suatu kaum yg belum pernah kujumpai orang yg sangat bersemangat beribadah seperti mereka. Dahi-dahi mereka penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut unta (kapalan). Wajah-wajah mereka pucat pasi karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.”
Kuucapkan salam pada mereka. Serempak mereka menyambutku, “Selamat datang, wahai Ibn Abbas ra.. Apa gerangan yg membawamu kemari..?”
Aku berkata, “Aku datang pada kalian sebagai perwakilan dari sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar, dan juga dari sisi menantu Rasulullah SAW (yakni 'Ali bin Abi Thalib), kepada para Shahabat-lah al-Quran diturunkan dan merekalah orang-orang yg paling mengerti makna al-Quran daripada kalian.”
Ibn Abbas ra. mengingatkan tentang kedudukan sahabat Muhajirin dan Anshar, serta bagaimana seharusnya prinsip seorang Muslim dalam memahami al-Quran dan Sunnah yaitu mengembalikan kepada pemahaman Sahabat karena kepada merekalah al-Quran diturunkan, dan merekalah orang yg paling mengerti al-Quran dan Sunnah. Ibn Abbas juga menegaskan besarnya kedudukan 'Ali bin Abi Thalib di sisi Allah, yaitu menantu Rasulullah SAW.
Begitu mendengar ucapan Ibn Abbas yg penuh makna dan merupakan prinsip hidup --yg tentunya tidak mereka sukai karena menyelisihi prinsip sesat mereka-- sebagian Khawarij memberi peringatan,
“Jangan sekali-kali kalian berdebat dengan seorang Quraisy (yakni Ibn Abbas ra., pen.). Sesungguhnya Allah SWT berfirman:
“Sebenarnya mereka adalah kaum yg suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58)
Dua atau tiga orang dari mereka berkata, “Biarlah kami yg akan mendebatnya..!”.
Ibn Abbas berkata, “Wahai kaum, beri aku alasan, mengapa kalian membenci menantu Rasulullah SAW beserta sahabat Muhajirin dan Anshar, padahal al-Quran diturunkan kepada mereka, dan tidak ada seorang sahabat pun yg bersama kalian. 'Ali adalah orang yg paling mengerti tentang penafsiran al-Quran.”
Mereka berkata, “Kami punya tiga alasan.”
Ibn Abbas mengatakan, “Sebutkan (tiga alasan kalian).”
“Pertama, sungguh Ali telah menjadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah, padahal Allah berfirman,
“…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah…” (Yusuf: 40)
Hukum manusia tidak ada artinya di hadapan firman Allah Ta’ala." Kata mereka.
Ibn Abbas menanggapi, “Ini alasan kalian yg pertama.. lalu apa lagi..?”
Mereka melanjutkan,
“Kedua, sesungguhnya 'Ali telah berperang dan membunuh, tapi mengapa tidak mau menawan dan mengambil Ghanimah. Kalau mereka (orang-orang yg berperang melawan 'Ali) itu mukmin tentu tidak halal bagi kita memerangi dan membunuh mereka. Tidak halal pula tawanan-tawanannya.”
Ibn Abbas bertanya lagi, “Lalu apa alasan kalian yg ketiga..?”
Kata mereka,
“Ketiga, dia telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya. Kalau dia bukan amirul mukminin (karena menghapus sebutan itu) berarti dia adalah Amirul Kafirin (pemimpin orang-orang kafir).”
Ibn Abbas ra. berkata, “Ada alasan selain ini..?”
Mereka berkata, “Cukup sudah bagi kami tiga perkara ini..!”
Bantahan Ibn Abbas ra. Atas Dangkalnya Pemahaman Khawarij
Lihatlah, bagaimana Khawarij mudah memvonis kafir, dan memberontak sekalipun kpd khalifah ar-Rasyid yg penuh keutamaan dan kemuliaan. Alasan-alasan mereka adalah kerancuan yg sangat lemah dan menunjukkan kedangkalan mereka dalam memahami al-Quran dan Sunnah.
Ibnu Abbas ra. mulai menanggapi,
“Ucapan kalian bahwa Ali ra. telah menjadikan manusia untuk memutuskan perkara (untuk mendamaikan persengketaan antara kaum muslimin -pen), sebagai jawabannya akan kubacakan ayat yg membatalkan kerancuan kalian. Jika ucapan kalian terbantah, maukah kalian kembali (kepada jalan yg benar)..?”
Mereka menjawab, “Ya, tentu kami akan kembali.”
Ibn Abbas ra. berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT telah menyerahkan sebagian hukum-Nya kepada keputusan manusia, seperti dalam menentukan harga kelinci (sebagai tebusan atas kelinci yg dibunuh saat ihram). Allah SWT berfirman,
“Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yg dibunuhnya, menurut putusan (hukum) dua orang yg adil di antara kamu, sebagai hadyu yg dibawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yg dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yg telah lalu. Dan barangsiapa yg kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (QS. Al-Maidah: 95)
Demikian pula dalam perkara perempuan dan suaminya yg bersengketa, Allah SWT juga menyerahkan hukumnya kepada hukum (keputusan) manusia untuk mendamaikan antara keduanya. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kpd suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” (QS. An-Nisa: 35)
Demi Allah, jawablah, apakah diutusnya seorang manusia untuk mendamaikan hubungan mereka dan mencegah pertumpahan darah di antara mereka lebih pantas utk dilakukan, atau hukum manusia perihal darah seekor kelinci dan urusan pernikahan wanita? Menurut kalian manakah yg lebih pantas..?”
Mereka katakan, “Inilah (yakni mengutus manusia utk mendamaikan manusia dari pertumpahan darah) yg lebih pantas.”
Ibn Abbas berkata, “Apakah kalian telah memahami masalah pertama..?”
Mereka berkata, “Ya.”
Ibn Abbas melanjutkan, “Adapun ucapan kalian bahwa Ali radhiallahu ‘anhu telah berperang tapi tidak mau mengambil ghanimah dari yg diperangi dan tidak menjadikan mereka sebagai tawanan, sungguh (dalam alasan kedua ini) kalian telah mencerca ibu kalian (yakni Aisyah).
Demi Allah! Kalau kalian katakan bahwa Aisyah bukan ibu kita, kalian telah keluar dari Islam (karena mengingkari firman Allah SWT). Demikian pula kalau kalian menjadikan Aisyah sebagai tawanan perang dan menganggapnya halal sebagaimana tawanan lainnya (sebagaimana layaknya orang-orang kafir), maka kalian pun keluar dari Islam. Sesungguhnya kalian berada di antara dua kesesatan, karena Allah SW berfirman,
“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)
Ibn Abbas ra. berkata, “Apakah kalian telah memahami masalah ini..?”
Mereka menjawab, “Ya.”
Ibn Abbas berkata lagi,
“Adapun ucapan kalian bahwasanya Ali telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya, maka (sebagai jawabannya) aku akan kisahkan kepada kalian tentang seorang yg kalian ridhai, yaitu Rasulullah SAW. Ketahuilah, bahwasanya beliau di hari Hudaibiyah (6 H) melakukan shulh (perjanjian damai) dengan orang-orang musyrikin, Abu Sufyan dan Suhail bin Amr. Tahukah kalian apa yg terjadi..?
Ketika itu Rasulullah SAW bersabda kepada Ali, “Wahai Ali, tulislah perjanjian utk mereka.” Ali menulis, “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah…”
Orang-orang musyrik berkata, “Demi Allah! Kami tidak tahu kalau engkau Rasul Allah. Kalau kami mengakui engkau sebagai utusan Allah tentu kami tidak akan memerangimu.”
Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah. Wahai 'Ali, tulislah ‘Ini adalah perjanjian antara Muhammad bin Abdilah…’.” (Rasulullah memerintahkan Ali untuk menghapus sebutan Rasulullah dalam perjanjian, pen.)
Ibn Abbas ra. berkata,
“Demi Allah, sungguh Rasulullah SAW lebih mulia dari 'Ali, meskipun demikian Beliau menghapuskan sebutan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah…” (Apakah dengan perintah Rasul menghapuskan kata Rasulullah dalam perjanjian kemudian kalian mengingkari kerasulan beliau..? Sebagaimana kalian ingkari keislaman 'Ali karena menghapus sebutan Amirul Mukminin..?
Ibnu Abbas melanjutkan, “Maka kembalilah 2000 orang dari mereka, sementara lainnya tetap memberontak (dan berada di atas kesesatan), hingga mereka diperangi dalam sebuah peperangan besar (yakni perang Nahrawan).”
(Kitab Talbis Iblis, Ibn Al-Jauzi ra.)
Semoga...
#ombad #khawarij #ibnabbas
29 April 2019
DENGKI BERANAK BENCI
Dengki (hasad) itu penyakit hati yg umurnya sangat tua, seumur manusia di dunia.
Perbuatan Dengki ini dilakukan pertama kali oleh Qabil (kembarannya Iqlima) kepada Habil (kembarannya Layudha). Dan Kedengkiannya Qabil ini yg menyebabkan terbunuhnya Habil.
“Hasad (dengki) adalah dosa yg pertama kali dilakukan di langit dan di bumi, di langit adalah dengkinya iblis kepada Adam as. dan di bumi adalah dengkinya Qabil kepada Habil.” (Al-Qurthubi ra.)
Penyakit Dengki ini sangat sulit dikendalikan karena semua penyakit hati yg muncul itu berasal dari Dengki, jadi merupakan bibit/dasar dari semua penyakit hati.
Sifat Dengki inilah yg mengawali dan menumbuh-kembangkan semua penyakit hati. Secara tersirat Rasulullah SAW menyebutnya "memakan Kebaikan", memusnahkan sifat-sifat baik di dalam hati, kemudian selanjutnya memunculkan semua penyakit hati.
Rasulullah SAW bersabda,
“Hindarilah Dengki karena Dengki itu memakan --menghancurkan-- Kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud).
Dan begitupun dengan Kebencian yg merupakan produk dari Kedengkian, yg dirugikan itu bukanlah orang yg dibenci atau didengki, melainkan si pembenci atau si pendengki itu sendiri.
"Kebencian itu ibarat kau meminum racun, tapi berharap orang lain yang mati." ('Ali bin Abi Thalib kw.)
Semoga...
#ombad #tasawuf
28 April 2019
MENANG...?
Itu buat yg suaranya pingin nambah gede, daripada teriak-teriak curang, mendingan datangin Mak Érot aja.. 😍
Untungnya sy udah gede.. ehh.. maksudnya, sy dulu diajarin sejarah tentang Perang Uhud, dimana Rasulullah SAW tidak menuduh curang meski Beliau dan pasukannya kalah. Dan Rasulullah SAW pun menyuruh kaum Muslimin untuk berintrospeksi atas kekalahannya. Sekualitas Rasul yg ma'sum aja seperti itu lho..
Dan selanjutnya, peperangan pun selalu dimenangkan Rasulullah SAW beserta pasukannya. Kenapa..?
Karena buah dari Introspeksi ini adalah Strategi dan Manajemen untuk mencapai Keberhasilan (kemenangan), dan tentunya dalam batasan Keridhaan Allah SWT Yang Maha Adil.
Jadi kalau mau menang, bertempurlah dengan diri sendiri dulu sehingga jiwa-jiwa ilahiyah bisa menang dalam melawan jiwa-jiwa nafsiyah yg tersembunyi dalam diri. Bukannya merasa menang padahal itu teriakan jiwa-jiwa nafsiyah yg tanpa sadar telah meracuni diri..
"Kebencian itu ibarat kau meminum racun, tapi berharap orang lain yang mati." ('Ali bin Abi Thalib kw.)
Jangan-jangan cermin diri sudah penuh dengan racun meski tetap keukeuh dalam ilusinya bahwa sang diri merasa menang dan lawannya itu pasti kalah.
Dan tentunya ada hikmah yg tersembunyi ketika dalam adzan, sesudah "Hayya 'alas Sholah" kemudian dilanjutkan dengan "Hayya 'alal Falaah.."
Jadi.. kapan mau ke Mak Érot..? 😍
Semoga...
#ombad #tasawuf
01 March 2019
TELUNJUK KAFIR
Pemahaman pada level dasar itu, "kafir" identik dengan "beda agama", selain Muslim disebutlah Kafir, meski yg dianggap "kafir" itu pun mengimani (percaya, believers) kepada Tuhan.
Padahal secara bahasa, kata "Kafir" (tertutup, kufur, cover) itu lawan katanya adalah "Asy-Syaakir" (orang yang bersyukur). Itu makanya ada istilah "kufur nikmat". Artinya ini terkait kualitas Hati, dimana Hatinya tertutup oleh Kebenaran. Sementara itu, jalan menuju Kebenaran banyak sekali, bukan milik satu kelompok atau agama saja.
Perlu diketahui, pada masa sebelum Islam, istilah "kufur" digunakan untuk para petani yg sedang menanam benih di ladang, lalu menutupnya (kufur) dengan tanah. Itu makanya para petani (waktu itu) disebut juga sebagai “kuffar” (bentuk jamak dari kafir).
Seiring waktu, istilah "kafir" mulai bergeser dan dijadikan alat politik, khususnya dilegalisasi dalam meraih Kekuasaan atas nama agama (perang, pembunuhan, dsb). Padahal jelas-jelas dalam Al-Quran, selain istilah "Kafir", ada juga istilah "Musyrik", "Murtad", "Yahudi", "Nasrani", "Sesat", dsb.
Al-Quran sendiri tidak melakukan gebyah uyah bahwa selain Muslim semuanya adalah Kafir. Bahkan sudah merasa Muslim pun belum tentu diakui "muslim" oleh Tuhan, apalagi "mukmin". Itu makanya orang Islam harus memperbaharui keimanannya terus menerus. Silakan temukan dalam shalat dan ibadah-ibadah anda. Jika ibadahnya belum bisa merendahkan hati, ya bisa dianggap belum ibadah.
"... Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat para pendeta dan rahib, juga karena mereka sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. Al-Maaidah: 82)
Dan sangat mungkin jika yg mengaku Muslim ternyata batinnya itu belum Tunduk sepenuhnya kepada Tuhannya, buktinya melakukan perbuatan-perbuatan tercela (korupsi, sombong, syirik khafi, dsb), artinya apa..? Ya belum Muslim secara haqiqi, atau bisa disebut "merasa sudah Muslim" padahal banyak Kufur di dalam dirinya.
"Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl : 125)
Jadi kurangi menunjuk ke luar dengan tujuan men-suci-kan diri sendiri karena itu hawa nafsu sangat rendah yang sangat samar. Dan jika masih seperti ini, artinya masih ada Kekafiran dalam diri.
"Fir'aun sudah tidak ada, Qarun telah berlalu, bangsa 'Ad dan Tsamud telah musnah. Maka tidak lain yg dimaksud oleh ayat-ayat al-Qur'an itu adalah kalian sendiri." ('Umar bin Khatthab ra.)
Dan hasil dari beragama yaitu Akhlaq, salah satunya adalah tidak menyakiti perasaannya dengan panggilan "kafir",
"Dia yang bukan saudaramu dalam Iman adalah saudaramu dalam Kemanusiaan." ('Ali bin Abi Thalib kw.)
Bukankah Rasulullah SAW pun tidak memanggil pamannya, "Hai Kafir..."
**
Ketika seseorang mempelajari dan menggali makna ayat-ayat al-Qur'an itu kadang suka lupa diri sendiri.
Contoh-contoh Keburukan yg tertera didalam al-Qur'an semisal Firaun, Qarun, Abu Lahab, Kafir, Musyrik, dsb bukannya dijadikan "petunjuk" tetapi malah dipakai untuk "menunjuk".
Mudah-mudahan ke depan itu, ketika kita menggali ayat-ayat Allah ini, maknanya bisa jadi petunjuk dan bisa dipakai untuk "membuka" dan "menelanjangi" Keburukan dan Kebodohan diri sendiri.
Dan mulailah berhenti dijadikan alat untuk "menunjuk" keburukan dan kebodohan orang lain.
Seperti halnya yg dikatakan Sayyidina Umar bin Khatthab ra. sewaktu berceramah di depan para Sahabat selepas Rasulullah SAW wafat :
"Fir'aun sudah tidak ada, Qarun telah berlalu, bangsa 'Ad dan Tsamud telah musnah. Maka tidak lain yg dimaksud oleh ayat-ayat al-Qur'an itu adalah kalian sendiri."
Dan Instropeksi itu gerbang menuju Taubat.
Semoga...
#ombad #tasawuf
21 December 2018
UIGHUR
Terlihat seliweran di wall Fb terkait Muslim Uighur, ada yg begitu bersemangat mengaitkan masalah ini dengan agama, serta "Muslim itu bersaudara" tanpa memahami substansinya, meski kadang mereka menutup mata terkait urusan Yaman.
Meski masalah Uighur ini terkait separatisme dan radikalisme di suatu wilayah dalam suatu negara, tapi selalu ada aja yg mengaitkan dengan masalah "penindasan umat Islam". Dan yang paling lucu itu kelakuan sebagian kelompok di Indonesia karena urusan inipun dimanfaatkan dalam urusan Pilpres serta opininya digiring menjadi soal agama, bahkan dipakai untuk menyerang Pemerintah RI.. katanya Pemerintah tidak peduli urusan umat.. :D
Dan yg harus diingat itu, biasanya konflik-konflik wilayah di suatu negara yg berdaulat itu dipicu oleh SDA yg berlimpah, kemudian ada unsur-unsur dari luar negara yg mempengaruhi dan ikut campur, mirip seperti kasus Suriah (urusan pipa gas). Dan sebagian Muslim di Indonesia pun dengan antusias dan euforia mendukung ISIS di Iraq ataupun IS di Suriah ketika pertama kali mereka muncul.
Dan sungguh lucu jika ada warga negara lain menjelek-jelekan TNI yg sedang menumpas (misal) OPM, lalu mereka teriak-teriak TNI menumpas umat Kristen di Indonesia.. :D
"Bila kau kenali Kebenaran kau akan tahu harus berpihak di mana.." (Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw.)
Mudah-mudahan beberapa tulisan di bawah ini bisa membuka Kebutaan, bisa mencerahkan sehingga memahami benang merahnya.
Semoga..
#ombad
**
MUSLIM UIGHUR DI XINJIANG DAN PERSOALANNYA
(Oleh: Mas Poetranto)
Akhir-akhir ini, media massa serempak kompak memberitakan 'penindasan' muslim Uighur di Xinjiang. Beragam detail mengerikan untuk menggambarkan betapa mengerikannya 'rezim komunis' China sudah dipaparkan.
MSM dan NGO milik Soros padu menyuarakan hal ini, yg kemudian ditambahi dengan bumbu-bumbu mengatas-namakan PBB.
Sekilas, China sedang menjalankan misi sucinya untuk menghilangkan Islam dari tanah Tongkok. Kita seolah mengalami deja vu. Benarkah sesederhana, dan sekeji itu?
Jikalah ada pelajaran yg bisa kita petik dari kehancuran Libya dan Syria, Xinjiang memiliki segala indikasi yg menahan jemari kita untuk tak terburu menekan tombol share.
Gelombang propaganda yg disamarkan menjadi berita oleh MSM biasanya menerjang bak badai, dan seperti kasus Libya dan Syria, kegemaran kita untuk reaktif tanpa riset saat menganggapi hal yg 'wah', terbukti menjadi kesalahan fatal. Haruskah kita ulangi kebodohan yg sama?
Xinjiang, merupakan daerah otonomi khusus etnis Uyghur di China - yg memiliki perbatasan langsung dengan Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Mongolia dan dua daerah rawan di India, Jammu & Kashmir. Pendeknya, Xinjiang merupakan pintu masuk, dan pintu keluar utama dari Eurasia ke daratan China.
Menilik sejarahnya, konflik bukanlah hal baru di Xinjiang. Sejak Dinasti Qing, etnik Uyghur yg menjadi mayoritas di Xinjiang berulangkali memberontak pada penguasa, berdamai, dan kemudian memberontak lagi setiap kali ada kesempatan.
Namun yg menarik, Islam sebagai ideologi bukanlah satu-satunya pemicu dari pemberontakan-pemberontakan ini. Motivasi lainnya yg tak kalah penting untuk diingat, adalah melekatnya ide Pan-Turkisme, dan Nasionalisme Uyghur sendiri.
Bagi Turki, seperti dikatakan Erdogan, Xinjiang dan Uiyghur adalah bagian penting dari impian untuk membangkitkan Ottoman. Jauh saat pidatonya pada 1995, Erdogan menyatakan Turkistan Timur bukan hanya merupakan rumah bagi etnis Turkic, melainkan juga tempat kelahiran sejarah, peradaban dan budaya Turki.
Turkistan Timur, adalah Xinjiang dan Uyghur - dengan cakupan area yg lebih luas ketimbang batas provinsinya saat ini.
Selain menjadi produsen minyak yg cukup signifikan di China, Xinjiang seolah tertakdir untuk memiliki banyak masalah, terutama sejak penemuan hampir 54 mineral langka di tanahnya, dan titik cadangan minyak sangat besar di lembah Janggar, yg sudah dalam radar CIA sejak 1987.
Berbatasan dengan negara-negara di titik utama Eurasia, Xinjiang menjadi jalur penghubung utama komoditi China ke Asia Selatan. Jalur minyak dan gas yg berasal dari Laut Kaspia juga melewatinya sebelum lepas di Asia-Pasifik. Xinjiang juga menjadi titik seberang proyek fiber optik ambisius yg membentang dari Shanghai, hingga Frankfurt.
Dan tentu saja, Xinjiang, merupakan titik vital One Belt One Road (OBOR). Jalur ekonomi baru yg diprediksi akan mempercepat keruntuhan hegemoni Amerika Serikat. Dengan titik tekan geopolitik dan geostrategis seberat itu, apakah mengherankan jika Xinjiang kini membara?
Menurut catatan sejarah, Sun Yat Sen, menyatakan bahwa China merupakan hak milik bersama-rata antara suku Han, Man (Manchu), Meng (Mongol), Hui (Muslim), Tsang (Tibet), dan Miao. Uyghur tidak disebut dalam pernyataan itu, namun menilik populasinya yg sangat sedikit kala itu, China merasa sudah memberi perwakilan kaum muslim melalui suku Hui.
Bahkan di era Kuomintang, umat Islam memiliki wakil yg cukup mentereng sebagai menteri pertahanan China, yg akhirnya malah menjadi pimpinan pemberontakan Kuomintang yg didukung CIA, saat komunisme menang di daratan China.
Pasca invasi Soviet ke Afghanistan, usaha untuk berebut pengaruh di kalangan muslim dan etnis Turkic (termasuk Uyghur) menjadi tak terkendali. China merasa Soviet sedang berupaya mengepungnya, dan mengerahkan migrasi muslim Hui besar-besaran ke Xinjiang sebagai tameng.
China juga mengupayakan peningkatan populasi Uyghur secara masif, yg berhasil menambah jumlah etnis Uyghur dari 4 juta menjadi 8 juta orang dalam 4 dekade saja.
Namun, upaya gegabah China untuk mendirikan kamp pelatihan bagi mujahidin Afghanistan dan memberi senjata senilai jutaan dolar pada mereka, terbukti akan menjadi batu sandungan di kemudian hari.
Kekhawatiran China akan maraknya ekstrimisme mengatasnamakan Islam yg bermuara dari Xinjiang bukan isapan jempol belaka. Sejak 2007 saja, sudah terjadi lebih dari selusin serangan teror yg mengatasnamakan Muslim Uyghur sebagai pelaku dengan yang terakhir adalah pembantaian 50 penambang batubara di Aksu, yg dilakukan oleh anasir Turkistan Islamic Party (TIP).
Dengan sejarah yg sedemikian ruwet dan ketidakakuran politis dengan suku Hui yg lebih moderat serta tendensinya untuk melakukan kekerasan dan mudah terhasut radikalisme, Uyghur mengalami perlakuan berbeda dibanding muslim lainnya di China.
Diskriminasi dan pengamanan yg lebih ketat menjadi makanan Uyghur sehari-hari, dan pemerintah China, cenderung terlihat reaktif akhir-akhir ini, dengan upaya 'menyekolahkan' kembali para radikalis, yg kemudian digoreng MSM (milik Soros) sebagai, Kamp Konsentrasi.
Jadi, apakah benar bahwa China memiliki misi tertentu untuk menggerus Islam?
Di sini kepingan-kepingan ini menjadi menarik. Turkistan Islamic Party (TIP) merupakan salah satu organisasi teror yg tumbuh subur di kalangan Uyghur Xinjiang. TIP memiliki hubungan erat dengan Islamic Movement of Uzbekistan (IMU) dan Talibani Pakistan, dengan ideologi yg sama persis dengan al-Qaeda.
Bahkan, salah satu pimpinan TIP, ditahbiskan menjadi anggota dewan syura al-Qaeda. Di Perang Syria, TIP juga menjadi penyedia utama petempur Uyghur, dengan mengirimkan Brigade Turkistan, yg sempat masyhur dalam operasi Jisr al-Shughur, ibukota Idlib - dimana mereka mengepung rumah-sakit yg dijaga oleh tentara Syria selama 27 hari, lalu mengeksekusi mereka yg menyerah karena kehabisan logistik.
Uniknya lagi, para petempur Uyghur menyeberang ke Syria melalui Malaysia via Kamboja dan Thailand, untuk kemudian menuju Turki menggunakan paspor Turki. Seorang kepala distrik Zeytinburnu, Nurali - mencetak lebih dari 100.000 paspor Turki palsu untuk petempur Uyghur. Meski pihak keamanan Turki mengetahui tentang paspor palsu tersebut, para petempur Uyghur ini hanya ditahan paspornya namun diijinkan masuk ke Turki dan berkumpul di sana, yg kemudian masuk ke Syria dan Iraq melalui Turki selatan.
Rekam jejak ekstrimis Uyghur ini juga tak kalah mengerikan. Bersanding setara dalam hal kekejaman dengan petempur Jabhat Nusra, 'jihadis' Uyghur disebut tak kenal ampun, seperti dalam pembantaian di Qalb Loze. Mereka juga terkenal susah bergaul dengan selain etnisnya sendiri, dan yg tak kalah penting, mereka juga membanjiri Idlib dengan anak dan istrinya.
Perubahan demografi Idlib ini begitu kentara, hingga menyebabkan China sedang mempertimbangkan untuk ikut serta dalam operasi militer di Idlib. Pendeknya, China ingin memastikan bahwa para ekstrimis Uyghur dari daratan China, tumpas dengan tuntas.
Namun rencana ini juga memberikan implikasi serius bagi kerabat puluhan ribu militan yg masih tertinggal di Xinjiang. Sejak penerapan zona de-eskalasi, Erdogan mencoba mempersempit kekalahan dengan menutup pintu rapat bagi Uyghur yg hendak berlindung ke Turki, yg menjadikan mereka tak punya pilihan lain selain bertempur hingga mati, atau berupaya pulang ke Xinjiang dengan berbagai cara.
Menjelang dimulainya operasi militer di Idlib, pengetatan keamanan juga meningkat di Xinjiang. Hal ini merupakan sesuatu yg tak terelakkan, mengingat sebagian besar 'jihadis' - meski telah membawa anak dan istrinya - masih memiliki hubungan kerabat di kampung halaman.
Neocon, tentunya, tak ingin tinggal diam dan menonton kekalahannya di Syria tanpa mengambil setitik keuntungan pun. Eskalasi media dan sentimen agama atas respon preventif China yg tergolong reaktif di Xinjiang merupakan opsi terbaik untuk memicu instabilitas di daerah kunci tersebut.
Setelah kegagalan menerobos China melalui Korea Utara, jika masyarakat Islam dan dunia kembali tersengat dengan umpan kali ini, pintu ke daratan China akan terbuka lebar - dan mimpi akan OBOR akan sirna.
Di Xinjiang, menjadi muslim Uyghur merupakan hal yg problematik. Diperlakukan secara kontras berbeda dengan saudara muslimnya beretnis Hui, diskrimnasi yg dialami etnis Uyghur secara politik patut menjadi keprihatinan kita, dan wajib kita suarakan. Namun jangan terlena, China tidak sedang melancarkan perang pada Islam, namun pada sisi radikalnya, meski dengan cara yg cukup radikal pula.
Dalam wawancara dengan AP, seorang petempur Uyghur menyatakan, "Kami tak peduli bagaimana pertempurannya, atau siapa Assad. Kami hanya ingin belajar menggunakan senjata-senjata ini lalu kembali ke China."
Graham Fuller, seorang agen CIA senior yg turut membidani insiden Iran-Contra; menjadi penjamin Fethullah Gulen di AS; yg juga hadir di Istanbul dalam kudeta gagal beberapa waktu lalu; dan yg juga pernah menulis buku perang filosofis "The Xinjiang Project" pada 1998, pernah menyatakan, "Kebijakan untuk membimbing evolusi Islam dan membantu mereka melawan musuh-musuh kita berjalan dengan luar biasa di Afghanistan melawan Uni Soviet. Doktrin yg sama masih bisa digunakan untuk mengacaukan apa yang tersisa dari kekuatan Soviet, terutama untuk mengatasi pengaruh China di Asia Tengah."
Know your enemy and Use your Brain.
**
UYGHUR, PROJEK BARU NARASI KEBENCIAN
(Oleh : Zam Iman)
"Bila kau kenali kebenaran kau akan tahu harus berpihak dimana" inti frasa dari Imam Ali Bin abi Thalib ini mendorong dan menyadarkan semua insan bahwa kebenaran perlu dikenali karena kebohongan dan kebatilan dapat menyerupainya.
Setelah berkeliling dengan semua postingan uyghur beberapa hari ini, saya berkesimpulan ini hanyalah wajah yang sama seperti apa yang terjadi di libya, suriah, dan irak.. Sebuah operasi tipu daya, konspirasi intelejen dan tangan-tangan busuk iblis "you know who" yang selalu bermain dalam permainan2 berbahaya seperti ini.
Tapi sebenarnya mereka selalu menunjukkan wajah yang sama, hanya tempat dan waktu yang berbeda.. Selalu dalam bentuk proxy war yang dengannya tangan-tangan mereka tidak ikut tercemar bahkan bersembunyi dalam topeng-topeng hak asasi manusia. "you know who" punya keuntungan dengan adanya media sosial yang bahkan lebih kuat dibanding media-media resmi rilis mereka.. Mengapa karena di media sosial terlalu banyak awam dan lebih mengedepankan simpati dibanding ketajaman akal dan invetigasi.
Dua hal yang saya syukuri telah menjadi benteng terbaik saya dalam jelajah "hoax" dan berita palsu.... Pertama, saya sangat mengerti apa yang photoshop dapat lakukan dan jenis-jenis manipulasi digital yang dapat dilakukan... Untuk hal ini saya juga termasuk pelakunya... Merubah moment biasa jadi drramatis adalah pekerjaan kami dalam memotret dan olah digital. Kedua, pengalaman mendalami jurnalistik di kampus telah menghantarkan saya mengenal sifat dan bentuk karya jurnalistikwalau kelasnya tidak expert... Saya hentikan saja promosi tentang saya itu disini..
Pada intinya saya hanya ingin membagikan lebih awal sinyal bahaya dan hujan berita hoax saat awal2 pemberitaan suriah dan libya akan kembali menggulung sebesar-besarnya. "you know who" ini seakan tidak bisa berhenti dan membiarkan orang-orang lugu media sosial ini merasa hidup dalam dunia yang nyaman, dan mereka memaksamu untuk ikut campur minimal dalam bentuk ikut menyebarkan berita bohong dan tentu saja narasi kebenciannya.. Dan yang paling dicari sebenarnya adalah dukungan donasi dan relawan "jihadis" lugu nan siap mati karena fanatisme agama dan sektarian.
Ciri khas dari "you know who" ini..
1. Selalu saja mencampuri urusan dan kedaulatan negara-negara merdeka dalam penanganan internal mereka sendiri.
2. Mereka akan selalu berjuang atas nama kemanusiaan dan hak asasi yang tentu setiap orang akan membelanya.
3. Dibalik itu semua, daerah2 yang berkecamuk selalu ada SDA melimpah namun samar dalam pemberitaan mereka... Tujuannya apa lagi klo bukan menguasainya.
4. Afiliasi dengan gerakan - gerakan separatis dari daerah konflik dengan perjanjian bawah tangan yang sangat samar.
5. Di saat benih api telah terpercik mereka akan muncul bak pemadam kebakaran yang bersiap menyelamatkan namun membawa ribuan penderitaan yang lebih pelik.
Indonesia bersiaplah.. Isu Uyghur ini akan cepat terserap dan ditelan orang-orang Indo yang merasa agama mereka sama, padahal separatisme dan terorisme bisa muncul dalam bentuk agama apapun!.
Satu lagi yang membuat Imdonesia adalah target terbaik.... Disini lagi marak sentimen anti china dan komunisme... Membuat mereka akan dengan lahapnya menyuarakan dan menyebarkan ini.
Indonesia pengguna internet terbanyak no. 5 dunia, (dalam versi lain 6) namun dengan pemahaman terbawah dari negara maju untuk urusan cyber savvines...dengan kata lain penggunanya kebanyakan "click and see". Bukan know it and click it...
Berita palsu dan foto2 palsu beredar dalam pemberitaan uyghur ini sangat sulit ditelaah karena dengan memanfaatkan luasnya ras indo-china ini... Yang saya maksud kejadian kekejaman di bagian manapun di belahan dunia ini dengan model orang china dapat disusupkan di pemberitaan hoax dan penyebaran narasi kebencian ini. Ini juga terjadi di suriah, yang penting modelnya arab semuanya masuk dalam pemberitaan suriah.
Pada intinya bersabarlah iblis tidak akan bertahan lama dalam rupa malaikat, bila dengan memegang erat kasih yang dalam tiap agama manapun diajarkan kau tidak akan menanggapi ajakan perpecahan, narasi kebencian, ajakan rusuh, juga dompetmu terjaga dari donasi-donasi yang tidak ketahuan ujung rimbanya. Mereka memanfaatkan sisi empatimu yang terbungkus fanatisme dan kesombongan agama manunggal!. Jangan bodoh diam lebih baik dari pada ikut dalam membangun narasi kebencian ini!
Biarkan mereka yang ahli bekerja, "sungguh dunia ini huru-hara karena semua urusan tidak diserahkan pada ahlinya. (Ali bin Abi Thalib)
Emosi dan ketergesaan kita semua adalah celah yang baik dalam upaya menghancurkan sesama tanpa mengotori tangan mereka.
Sekali lagi bersabarlah, bunuh hawa nafsu mu di media sosial dengan tidak mudah share berita yang memicu emosi dan ketergesa-gesa an, bagaimanapun "tergesa-gesa" adalah wujud dari sifat setan dalam diri kita. Dinginkan dadamu!. Agama manapun tidak akan berharap jatuhnya korban.
06 December 2018
CACI MAKI
Suatu ketika Sayyidina Hasan bin 'Ali bin Abi Thalib ra. (cucu Rasulullah SAW) dicaci maki oleh orang yang tidak suka padanya. Beliau dicaci maki habis-habisan di depan putranya, tapi Beliau hanya diam saja tidak membalas.
Putranya kemudian bertanya,
“Kenapa Ayah tidak membalas caciannya..? Bukankah Ayah tidak seperti itu..?”
Sayyidina Hasan menjawab,
“Ayahku ('Ali bin Abi Thalib), Ibuku (Fatimah Az-Zahra), dan Kakekku (Muhammad SAW), mereka semua tidak pernah mengajariku bagaimana cara mencaci-maki. Jadi aku bingung dan tidak tahu bagaimana caranya membalas..”
**
Jadi sebetulnya keturunan siapa yg suka membenci dan mencaci maki..?
Karena Imam Malik ra. pun mengatakan,
قَالَ الإِمَامُ مَالِكُ -رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-: (إِنْ رَأَيْتَ الرَّجُلُ يُدَافِعُ عَنِ الْحَقِّ "فَيَشْتُمُ وَيَسُبُّ وَيَغْضَبُ" فَاعْلَمْ أَنَّهُ مَعْلُوْلُ النِّيَّةِ، ِلأَنَّ الْحَقَّ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى هَذَا).
"Jika engkau menyaksikan seseorang sedang membela Kebenaran (al-haq), tetapi lisannya mengeluarkan cacian, makian, sumpah-serapah dan mengobral kemarahan, maka ketahuilah bahwa Niat di Hatinya sudah terkotori, karena Kebenaran (al-haq) tidak membutuhkan semua itu."
Semoga..
#ombad #tasawuf