Showing posts with label Mahabbah. Show all posts
Showing posts with label Mahabbah. Show all posts

09 September 2019

TASAWUF DALAM KECEMBURUAN

Ahh... memang cemburumu itu lahir dari cinta, karena takut ikatan cintaku melemah dan hilang, seperti halnya ketakutan jika ada yang lain menempati ruang-ruang hati sang Kekasih.

Ohh... kadang kau putuskan setiap tali yang akan mengikatku untuk menjauhimu. Kau putuskan tali yang satu ke tali yang lain dan aku hanya bisa terdiam pasrah, seperti halnya tubuh yang terus-menerus terdesak mundur dan akhirnya punggung pun menempel dinding batu, terpepet dalam kepasrahan.

Kuingat... seringkali kaupaksa agar ketidak-patuhanku kepadamu berujung ambruk dalam keheningan.

Kuakui... seringkali rasa sukamu menggiringku agar tunduk serendah-rendahnya sampai air mata tak dapat kubendung seperti halnya kepatuhan awan untuk menyirami tanah gersang.

Kupaham... seringkali pikiranku dalam kebingungan yang memuncak ketika mempertimbangkan rasa cemburumu dan aku tidak bisa mengelak akibat dari rasa cintamu.

Kurasa... seringkali kaudatang tiba-tiba dengan penuh hasrat dan ketika kupandang cermin, keindahan wajahmu dalam cermin telah menawan diriku, serasa aku mencintai diriku sendiri. Ahh, di cermin itu yang ada hanya gambaran wajahmu.

Kusadar... aku dari bawah ke atas, Engkau dari atas ke bawah. Mendekatimu yang Sendiri, tidak bisa dengan sendiri.

Ahh, Cinta... kecintaanmu kebutuhanku tetapi keinginanku kecemburuanmu. Kecintaanmu kesendirianku tetapi keramaianku kecemburuanmu. Kecintaanmu kelemahanku tetapi kekuatanku kecemburuanmu. Kecintaanmu kebisuanku tetapi perkataanku kecemburuanmu. Kecintaanmu kepasrahanku tetapi tanda-tanyaku kecemburuanmu.

Iya... Engkau memang Pencemburu seperti kata utusanmu.

Dan aku tetap menyelam dalam keheningan mutiara serta kedalaman permata dengan iringan kepakan sayap-sayap rajawali.

**

Aku : "Mengapa aku tidak pernah mendengar suara Tuhan..? Padahal aku sangat rajin berdoa."
Diri : "Karena kamu terlalu sibuk bicara dan tidak memberikan kesempatan Tuhan bicara."
Aku : "Bagaimana mendengar suara Tuhan..?"
Diri : "Tutup kedua telinga, kedua mata dan mulutmu, lalu bukalah pintu hatimu."

"Allah itu pencemburu dan orang beriman juga pencemburu. Cemburu-Nya adalah sifat yang muncul bilamana seorang hamba yang beriman melakukan apa yang telah dilarang-Nya." (HR. Bukhari, Muslim & Tirmidzi, dari Abu Hurairah ra.)


Semoga...
#ombad #tasawuf #dalam

24 August 2019

TAK ADA.... JUDUL.

Dalam kekosongan, pikiran akan diam dari segala sesuatu, seperti sebuah tanah kosong yang siap ditanami. Dan benih-benih pun akan tersemai jika "getaran buta dari cinta" dalam kalbu sudah muncul.

Benih-benih ini akan tumbuh dengan subur jika "Awan Ketidaktahuan" semakin membesar, dan akhirnya menurunkan tetesan-tetesan pengetahuan (gnosis, makrifat) dari langit, seperti halnya tetes-tetes hujan yang menumbuhkan benih dan menyuburkan tanah.

Lalu pohon-pohon pun tumbuh berkembang dan nantinya siap untuk dipanen, berbuah kebijaksanaan ('Arifin).

Dan tetap, kemuliaan-Nya akan menempatkan sang diri dalam lekuk batu sambil ditutupi, tetap rahasia serta menjadi misteri, dan "ketidaktahuan" tetaplah "ketidaktahuan".. karena "Ehyeh asyer Ehyeh" (Aku adalah Aku) akan tetap tidak bisa dipahami oleh akal. Ya, di atas akal, jauh melewatinya.

Dan akhirnya yang tersisa adalah al-Hasrah (pilu hati), al-Hairah (rasa kacau), al-Walah (kebingungan) dan al-Haiman (kehausan cinta). Iya, itulah Martabat al-‘Ama’.

**

Menurut Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs,

Martabat Ahadiyah atau disebut juga al-‘Amâ’ adalah martabat yang tidak ada ruang bagi auliya’ dan ulama (untuk menggapainya), melainkan hanya al-hasrah (pilu hati), al-hairah (rasa kacau), al-walah (kebingungan) dan al-haiman (kehausan cinta).

Martabat Ahadiyah merupakan martabat yang menjadi puncak tertinggi pencapaian para nabi dan ujung suluk para wali. Setelah (sampai di martabat) itu, mereka akan 'berjalan' di dalamnya dan pasti akan menuju kepada Allah, hingga mereka semua akan mengalami istighrâq sampai mengalami al-hairah (kebingungan spiritual) dan fana’. Tiada Tuhan selain Dia (laa ilaaha illaa huwa).

Segalanya musnah kecuali Wajah-Nya (kullu syai’ haalik illaa wajhah).

Allah menarik perhatian hamba-Nya untuk selalu bergerak dan berjalan menuju ke jalan-Nya (sebagai bentuk bimbingan dan pengajaran kepada mereka) melalui doa-doa yang dipanjatkan kepada-Nya serta dalam munajat-munajat (dzikir) bersama-Nya. Dalam doa-doa dan munajat-munajat itu, terdapat isyarat akan kembalinya yang banyak menuju tunggal yang sempurna yakni kamal al-wihdah yang mengenyahkan keberbilangan (nihayah al-katsrah).

Artinya, ketika Allah ingin membimbing hamba-hamba-Nya ke Martabat Ahadiyah tersebut, maka hamba-Nya ini akan terdorong hatinya agar mereka selalu ber-tawajuh dan ber-taqarub secara terus-menerus sampai menjadi sebuah kebutuhan.

Proses tawajuh dan taqarub mereka akan berakhir pada ‘isyq dan mahabbah yang paling hakiki (al-haqiqah al-haqqiyyah) saja, hingga menyebabkan runtuhnya penyematan (al-idhafat) yang melahirkan kesan pada keberbilangan atau dualitas terhadap Allah, yang setelah itu, niat mereka menjadi murni dan layak untuk fana'.

Bingung artinya sudah tidak bisa distrukturkan oleh akal, walau akal kulli sekalipun. Sejago-jagonya akal, itu masih ciptaan-Nya. coba hubungkan dengan QS. al-Ikhlas ayat 4, yang esensinya semua makhluk (beserta organ-organ pendukungnya; akal, logika, perasaan) itu tidak akan bisa mendefinisikan Penciptanya.
Kalau masih bisa ditangkap akal, masih disebut karakteristik dualitas, makhluk. Itulah kenapa bingung (al-hairah, al-walah).

“Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Ruhku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Cahayaku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Qalam. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Akal.” (HR. Abu Daud)

Dari hadist inipun, tersirat bahwa akal (kulli) menempati peringkat yang paling bontot, dibanding dengan ruh.. seperti yang disebutkan dalam sebuah hadist,

"Aku dari Allah dan orang-orang yang beriman berasal dari diriku."

.
.
Semoga..
#ombad #tasawuf

13 August 2019

BENCI DIANTARA DUA CINTA

"Lebih mudah menghancurkan gunung jadi debu daripada menanam Cinta pada hati yang penuh Kebencian." (Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw.)

Ego, meskipun sulit dihancurkan (baca : dikendalikan), tapi bukan sesuatu yang tidak mungkin hancur. Ketika Ego dibiarkan maka akan makin membuat kesombongan pun menjulang tinggi. Hati pun akan makin keras seperti batu, bahkan lebih keras dari batu. Ego bisa makin kuat karena hatinya makin keras, seperti halnya gunung yang kokoh karena bebatuannya banyak.

Seorang Hamba di hadapan Tuhannya itu seperti sebutir debu yang sangat kecil bahkan lebih kecil lagi, hanya sebutir zarrah.

Debu yang jatuh dan menyatu rata dengan tanah --yang menjadi sumber asalnya-- inilah yang merupakan perwujudan cinta, suatu penyatuan. Tentunya setelah bisa terlepas dari berbagai gangguan dari hembusan angin-angin kebencian.

Angin kebencian selamanya akan berhembus, tetapi tidak akan mampu mempengaruhi hati yang penuh cinta.

”Surga itu dikelilingi dengan kebencian-kebencian hawa nafsu, sedangkan neraka itu dikelilingi oleh kesenangan-kesenangan hawa nafsu.” (HR. Muslim)

Kondisi seperti ini sebutlah sebagai "Baqa sesudah Fana dalam lingkup Mahabbah". Seperti halnya seekor laron yang mendekati cahaya lalu terbakar dalam cahaya tersebut dan akhirnya musnah karena kecintaannya kepada cahaya.

Dan sang laron pun bisa tumbuh kedua sayapnya setelah ia bisa mengikis kebencian dalam dirinya. Cinta lah yang menumbuhkan kedua sayap tersebut dimana sayap yang pertama adalah kecintaan pada aturan-Nya, dan sayap yang kedua adalah perwujudan dari hakikat penciptaan yang bersumber dari segala sumber, Sang Maha Cinta.

Suatu hari, sekumpulan tawanan dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Ada seorang tawanan wanita diantaranya, tiba-tiba wanita tadi menemukan seorang bocah kecil --anaknya yang semula lepas dari pelukannya--, lalu ia menggendongnya dan disusuinya. Melihat kejadian itu, Rasulullah berkata kepada para sahabat: "Bagaimana menurut kalian, mungkinkah wanita itu tega mencampakkan anaknya ke dalam kobaran api..?"

Para sahabat menjawab: "Tidak, demi Allah."

Rasulullah lalu berkata:

"Sungguh, kasih sayang Allah kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada kasih sayang wanita itu kepada anaknya." (HR. Bukhari - Muslim, dari 'Umar ra.)

Semoga...
#ombad #tasawuf

01 August 2019

WANITA DALAM QURBAH

Semua yang ada di dunia ini merupakan cerminan (tajalli) Tuhan, termasuk di dalam diri manusia pun tercermin Pantulan Tuhan, khususnya dalam diri seorang wanita. Bagi seorang lelaki, wanita adalah tempat paling sempurna sebagai tajalli Tuhan.

"Cinta wanita adalah milik Kesempurnaan Makrifat." (Ibn Arabi ra.)

Manusia (baca : wanita) merupakan miniatur semesta atau mikrokosmos, yang dalam dirinya tercermin bagian-bagian dari jagat raya. Dia mampu mengaktifkan imajinasi kreatif calon pecinta, dan bisa jadi "tangga" dalam mengoptimalkan kecintaan seorang hamba-Nya, lalu sang diri pun bisa "menyerap" sifat-sifat dibalik setiap nama-Nya.

"Wanita adalah tipe leluhur dari keindahan di bumi, namun keindahan di bumi ini tak ada artinya kecuali menjadi manifestasi dan pantulan dari sifat-sifat Ilahi." (Maulana Rumi, Mastnawi)

Menurut para sufi, wanita merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan derajat kewaliannya, karena kualitas derajat ini ada hubungannya dengan kualitas rasa dalam mencintai dan menyayangi.

Itu makanya Syeikh Ibn Arabi ra. mengatakan,

“Barangsiapa yang ingin menjadi Sufi, hendaknya menjadi perempuan dulu. Maksudnya, hatinya harus Lembut dan didominasi Kasih Sayang.”

Begitu juga, Hadist ini mengandung esensi yang sangat dalam dalam konteks mencapai Mahabbah (cinta kepada Tuhan),

Rasulullah SAW bersabda,

حبب إليّ من دنياكم ثلاث : الطيب ، والنساء , وجعلت قرة عيني في الصلاة

“Tiga hal dari dunia ini yang aku cintai, yaitu: Wangi-wangian, kaum Wanita dan kesejukan mataku ketika Shalat." (HR. Ibn Majah)

Jadi jangan melihat wanita sebagai sumber maksiat, tetapi sebagai "sarana" mencapai Tuhan dan tetap dalam koridor "janganlah sampai anak istrimu jadi fitnah bagimu". Bukankah inti dari bertasawuf itu kebersihan hati dalam upaya mencapai kedekatan dengan Tuhan..?

Dalam proses "pendekatan" (qurbah) kepada Tuhannya, seperti halnya cinta seorang laki-laki kepada wanitanya, maka begitupun kepada Tuhannya, ada kerinduan untuk "bersatu dengan-Nya", karena penyatuan ini adalah simbol kerinduan, kecintaan dan kasih sayang seorang hamba kepada Tuhannya, dan begitu juga sebaliknya.

Kenapa proses dalam pendekatan kepada Tuhan ini lebih dominan dalam sisi Jamaliah (keindahan, kelembutan) atau dengan kata lain dominan aspek Feminin..? Karena keberlangsungan alam ini terkait dengan kegiatan menciptakan, menumbuhkan yang baru, regenerasi, atau cerminan sifat Tuhan Al-Warist (pewarisan).

Wanita dipilih Tuhan menjadi salah satu cermin-Nya, karena segala sesuatu di alam semesta (manusia) ini bersumber dari rahim seorang wanita, seperti halnya segala penciptaan yang bersumber dari Tuhan. Iya, aspek Feminin lah yang mampu menerima tindakan "maskulin", menyimpan benih, menumbuhkan dan terlibat dalam kegiatan penciptaan.

Jadi jangan menyangka bahwa wanita itu sebagai makhluk yang lemah atau nomor dua, justru wanita itu jauh lebih kuat ketimbang laki-laki, buktinya sih sederhana, bukankah hanya laki-laki aja yang butuh obat kuat..?


Semoga..
#ombad #tasawuf

26 July 2019

ANTARA AKAL DAN CINTA

"Manusia melewati tiga tahapan. Pada tahap pertama, ia menyembah apa saja --makhluk, pria, wanita, uang, perhiasan, anak-anak, bumi, tanah dan batu--. Kemudian, ketika sedikit lebih maju, ia menyembah Tuhan. Pada akhirnya, ia tidak berkata, 'Aku menyembah Tuhan' maupun 'Aku tidak menyembah Tuhan', maka ia telah melewati tahapan ketiga." (Rumi, Fihi Ma Fihi)

Tahapan Pertama adalah belajar melepaskan diri dari pemikiran bahwa dirinya mengerti atau benar-benar mengerti, meski kadang Logika sudah mendahului hati, dan merasa sudah paham. Pemikiran yang dimaksud seperti halnya gagasan-gagasan kaku, prasangka, serta pengkondisian pemahaman seseorang sebelumnya.

Proses "melepaskan" ini seperti halnya saat selembar kain ingin dijadikan baju, maka Akal akan mengatakan penjahit mana yang harus dipilih, lalu setelah itu Akal harus bisa menahan diri dan memberikan kepercayaan penuh bahwa si penjahit tersebut akan menyelesaikan pekerjaannya dengan benar.

Tahapan selanjutnya adalah perjuangan mengatasi nafsu dalam Kesunyian. Proses ini bisa diibaratkan sebagai suatu jalan dalam melepaskan pengalaman --tulisan, lisan, kitab-- orang lain, dan "mengganti" nya menjadi suatu pengalaman pribadi. Dan akhirnya sang diri pun menemukan sendiri pencerahannya.

Semua ini bukan berarti membuang Akal ataupun Nalar, karena bagaimanapun Akal itu memiliki tempatnya sendiri dan sangat berguna, tetapi dalam kondisi tertentu ada yang lebih dalam daripada Akal, dan dalam kondisi ini jangan dulu dianalisis, karena bagaimanapun sebagai seorang "pengamat" butuh objektivitas dan tidak perlu terburu-buru menganalisa sebagai seorang "pelaku" yang subjektif.

Mereka yang tidak memahami suatu hal, akan mengatakan bahwa hal itu tidak berguna. Tangan dan alat adalah bagaikan batu dan baja. Pukullah batu dengan tanah. Apakah percikan api akan terjadi..?

Dan seperti itulah cara mengedepankan hati ketika sedang "menggali" hati.


Semoga..
#ombad #tasawuf #rumi

02 June 2019

CINTA DALAM KELUARGA

Perjalanan sebuah keluarga merupakan contoh pembelajaran dalam menguatkan ikatan cinta dan kasih sayang, meski ada hal lain di luar itu, yaitu perceraian dan perselingkuhan dengan berbagai alasannya.

Hari ini Indonesia berduka kembali dengan wafatnya Ibu Ani Yudhoyono, sosok Ibu Negara yang sedemikian mencintai keluarganya, baik saat masih di bawah maupun sudah di atas. Seperti halnya Ibu Negara kita sebelumnya, yaitu Bu Ainun Habibie.

Wanita, khususnya seorang istri, tentu besar sekali peranannya bagi suaminya meski banyak orang yang tidak mengetahui detilnya. Dan sangat wajar jika suami dan anak-anaknya akan sangat mencintainya, begitupun saat seorang istri meninggal, kedukaan dan kehilangan pun akan sangat terasa sekali.

Ada pengalaman di orang tua saya, waktu itu tahun 2005. Ibu sakit keras sampai tidak bisa bangun dari kasurnya. Semua sudah menyarankan ke rumah sakit tetapi Ibu tetap tidak mau. Akhirnya Bapak saya pontang-panting karena sudah terbiasa ada yang melayani dalam semua urusan rumah, seperti urusan makan, pakaian, dsb.

Setelah sebulan Ibu sakit dan gak bisa bangun dari tempat tidurnya, akhirnya Bapak "menyerah" lalu ngomong ke Ibu,

"Mak, Bapa ripuh, teu kuat.. ripuh gening teu diurus ku Emak mah.. urang tukeran wé jeung Bapa.. keun wé Bapa nu maot.."

Terjemah:
"Mak, Bapak repot, gak kuat.. repot ternyata gak diurus sama Emak itu.. kita tukaran aja sama Bapa.. biar aja Bapa yang meninggal.."

Aneh bin ajaib, besoknya Ibu langsung bangun dan sehat wal afiat, tidak seperti orang yang habis sakit. Dan tiga hari kemudian, Bapak meninggal dunia jam 9 pagi bertepatan dengan Idul Adha, Jumat 21 Januari 2005. Iya, Bapak meninggal tanpa sakit dulu, inginnya tetap duduk sambil berdzikir meski bagian kaki dan perut udah tidak bergerak. Lalu akhirnya dibaringkan saat mencapai dada, dan tak lama kemudian meninggal dengan satu hembusan napas.

Pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian ini adalah.. sebuah KECINTAAN. Kecintaan ini bisa melampaui apapun, baik harta, tahta maupun jiwa atau nyawa sekalipun. Dan Kecintaan ini adalah wujud dari rasa terima kasih kepada seseorang yang sudah mengurus, memperhatikan dan melayani secara ikhlas dirinya maupun anak-anaknya. 

Setelah Bapak dikuburkan, ada acara tahlilan 7 hari yang dilaksanakan ba'da Asar.

Karena pada hari Sabtu dan Minggunya sy ada kegiatan di Bandung yang tidak bisa ditinggalkan, akhirnya sy minta izin Ibu, mau berangkat ke Bandung, dan Senin sy janji mau pulang lagi ke Garut.

Dari pandangan matanya sy tahu Ibu tidak mengijinkan, tapi akhirnya diperbolehkan meski hatinya mungkin tidak mengijinkan.

Akhirnya Sabtu pagi sy berangkat ke Bandung pakai motor.

Dan keanehan terjadi, baru juga 2 atau 3 km dari rumah, sy nyetir motor kayak orang mabok, bolak-belok sampai ngambil ruas jalan yg sebelahnya (arah berlawanan). Dan motor seperti sangat sulit dikendalikan. Untung waktu itu jalanan sedang kosong, jika tidak mungkin akan terjadi kecelakaan, tabrakan.

Akhirnya sy berhenti dan memutuskan pulang lagi ke rumah Ibu.

Mungkin tarikan "kecintaan" Ibu ini yg bisa menarik sy tidak bisa berangkat, dan akhirnya sy pun memutuskan untuk kembali pulang dan ikut tahlilan selama 7 hari di rumah orang tua.

Jadi, sesakti-saktinya sy.. masih kalah jauh sama Ibu.. 😂

Dan dalam keikhlasannya, Ibu saya pun menyusul suaminya 8 tahun kemudian, tepatnya 04 Maret 2013.. tanpa sakit juga. 

**

”Janganlah istrimu menjadi makhluk yang paling menderita karena perbuatanmu. Jika engkau nanti mengucapkan kalimat yang merendahkan kehormatan istrimu; Jika engkau mengumbar kata-kata yang melukai hatinya; Jika engkau mengumbar kehormatan istrimu; Jika engkau mengumbar kata-kata yang menyakiti hatinya; Jika engkau mengecilkan dan menganggap tidak berarti segala pengkhidmatannya; Jika engkau mengacuhkan, membiarkan, menelantarkan dan menyengsarakannya, engkau akan berhadapan dengan pengadilan Ilahi. Istrimu akan menggiring dan menghempaskanmu di hadapan Tuhan dengan mengadukan segala kedzalimanmu. Bekal yang paling buruk untuk Hari Akhir adalah berbuat dzalim kepada hamba Allah, apalagi perbuatan dzalim itu dilakukan kepada orang yang telah ditakdirkan Allah untuk mendampingi hidupmu." ('Ali bin Abi Thalib kw.)

Semoga..
#ombad 28 #ramadhan 1440 H.

04 September 2018

MAHABBAH

Mahabbah adalah bentuk masdar dari kata al-Hubb, dan berasal dari kata Ahabba, Yuhibbu, Mahabbatan, yg secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, bening dan bersih.

Mahabbah merupakan keinginan yang sangat kuat terhadap sesuatu melebihi kepada yg lain atau ada perhatian khusus, sehingga menimbulkan usaha untuk memiliki dan bersatu dengannya, sekalipun dengan pengorbanan.

Dalam konteks tasawuf, Mahabbah adalah suatu ajaran tentang cinta atau kecintaan kepada Allah. Sampai semua kecenderungan hatinya hanya kepada Allah.

Al-Sarraj (w. 377 H) membagi Mahabbah menjadi tiga tingkatan yaitu:

1. Cinta orang AWAM, yaitu selalu mengingat Tuhan dengan dzikir, senantiasa menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan.

2. Cinta orang SHIDDIQ, yaitu orang yg kenal kepada Tuhan, pada kebesaran-Nya tabir yg memisahkan diri seseorang dari Tuhan, dan akhirnya bisa melihat rahasia-rahasia pada Tuhan.

3. Cinta orang ‘ARIF, yaitu mengetahui betul Tuhan, yg dilihat dan yg dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yg dicintai. Akhirnya sifat-sifat yg dicintai masuk ke dalam ciri yg mencintai.

Mahabbah harus bisa diraih karena menjadi salah satu acuan untuk membebaskan diri dari hijab Syirik Khafi (kecenderungan hatinya), bahkan lebih tinggi dan lebih sempurna kualitasnya daripada Khauf dan Raja’ (takut dan pengharapan), karena Mahabbah ini tidak mengharapkan apa-apa dari Allah kecuali ridha-Nya.

Kecenderungan Hati yg dimaksud adalah merindukan "pertemuan" dengan Tuhannya karena rasa Mahabbahnya.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ (صحيح البخاري ج: 5 ص: 2384)

Dalam sebuah Hadist Qudsi, Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman :

“Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku atau wali-Ku maka Aku menyatakan perang terhadapnya.
Tidak seorang hamba pun mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yg paling Aku cintai, melainkan dengan apa yg telah aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku telah mencintainya, maka Aku yg akan menjadi telinganya yg digunakannya untuk mendengar, Aku akan menjadi matanya yg digunakannya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya yg digunakannya untuk memukul, Aku akan menjadi kakinya yg digunakannya untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan mengabulkannya, dan jika meminta perlindungan-Ku maka sungguh Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah akan senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak akan senang bertemu dengannya.” (HR. Bukhari)

“Barangsiapa yang mencintai sesuatu tanpa ada kaitannya dengan Mahabbah kepada Tuhan adalah suatu Kebodohan dan Kesalahan karena hanya Allah yang berhak dicintai.” (Imam Ghazali ra.)

Perlu dipahami bahwa hasil yg dicapai dari proses beragama (ibadah) itu sangat berhubungan dengan konteks Mahabbah. Coba direnungkan, kenapa surah-surah dalam al-Quran (kecuali Surah at-Taubah) selalu diawali Basmallah (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang).

Dan silakan renungkan juga kenapa ada Hadist ini :

Rasulullah SAW bersabda,

"Orang-orang yang penyayang disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

"Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia niscaya Allah tidak akan menyayanginya." (HR. Bukhari - Muslim)

Ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi a'tini mahabbataka wa ma'rifataka.

Semoga..
#ombad #tasawuf #mahabbah

17 March 2018

HANYA WAKTU

Di suatu pulau kecil, awalnya mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun ketika datang badai menghempas pulau kecil itu, air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau, maka mereka berusaha menyelamatkan diri masing-masing.

CINTA sangat kebingungan, sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu, air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat KEKAYAAN sedang mengayuh perahu.

“Kekayaan.. Kekayaan.. Tolong aku..!” teriak Cinta.

"Aduh.. Maaf, Cinta..!” kata Kekayaan, “Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.”

Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.

Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya KEGEMBIRAAN lewat dengan perahunya.

“Kegembiraan.. Tolong aku..!” teriak Cinta.

Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu, sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah KECANTIKAN.

“Kecantikan.. Bawalah aku bersamamu..!” teriak Cinta.

“Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yg indah ini.” sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah KESEDIHAN.

“Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu.” kata Cinta.

“Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja.” kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara,

“Cinta.. Mari cepat naik ke perahuku..!”

Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.

Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orangtua yg menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orangtua itu.

“Oh, orangtua tadi..? Dia adalah WAKTU.” kata orang itu.

“Tapi, mengapa ia menyelamatkanku..? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yg mengenalku pun enggan menolongku.” tanya Cinta heran.

“Sebab hanya Waktulah yg tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu.” kata orang itu.


Semoga...
#ombad

Ket. Foto:
Lukisan Edouard Bernard, Love Dies in Time

02 March 2018

CINTA ITU SEDERHANA

Seorang teman bertanya...

Kang, mungkinkah memperoleh cinta Allah dengan cara yg sederhana?

Apakah manfaatnya cinta Allah dalam kehidupan saat ini dan saat nanti?

Apakah tanda-tanda dari hamba Allah yg telah memperoleh ridha Allah?

Apakah cinta Allah ini absolut atau relatif tergantung pada kualitas cinta dirinya kepada Allah.

**

- Mungkinkah memperoleh cinta Allah dengan cara yg sederhana..?

Allah itu Maha Adil, artinya setiap hamba-Nya punya peluang yg sama untuk memperoleh limpahan cinta-Nya. Cara memperolehnya sesuai "kondisi" hamba-Nya. Ukurannya adalah kualitas Qalbu yg telah mencapai "al-Lubb" dan kualitas qalbu ini tidak bisa diukur lewat lisannya ataupun pikirannya. Lubb adalah hati yg sudah mampu memilih kebaikan dan meninggalkan keburukan, dan telah terisi dengan kesadaran bahwa kebaikan yg dilakukannya sebagai bentuk kecintaan kepada Allah SWT.

Kualitas batin ini ukurannya bukan banyak kitab yg dikuasai, tetapi "kedekatan" qalbunya dengan Tuhannya.

Cara pun ya bisa sederhana. Misal, belum tentu yg naik haji dan umrah berkali-kali mendapat predikat mabrur, malah yg shalat subuh berjamaah, lalu duduk berdzikir memuji Allah hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, yg mendapatkan pahala haji dan umrah. Begitupun dengan orang yg pergi ke mesjid dengan niat belajar agama atau mengajarkannya.


- Apakah manfaatnya cinta Allah dalam kehidupan saat ini dan saat nanti..?

Manfaat di dunia, agar bisa merefleksikan rasa cinta-Nya buat sesama makhluk, dan bisa mengupayakan yg lainpun agar bisa merasakan cinta-Nya. Itu makanya nikah itu wajib.. 😍

Manfaat di Akhirat, ya berhubungan dengan "kualitas" surga. Ma'wa, Naim, Firdaus atau Iliyyin.


- Apakah tanda-tanda dari hamba Allah yg telah memperoleh ridha Allah..?

Tanda-tanda secara fisik, sulit dilihat. Karena ini hubungan pribadi antara dirinya dengan Tuhannya, dan itu adalah Rahasia Allah.

Kalau tanda-tanda secara nonfisik (ruh), ya pasti ada.

- Apakah cinta Allah ini absolut, atau relatif tergantung pada kualitas cinta dirinya kepada Allah.

Ya. Dalam Hadist Qudsi kan disebutkan, 

"Aku (tergantung) pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam dirinya, maka Aku ingat kepadanya dalam diri-Ku...".

Artinya cinta Allah ini absolut, tetapi akan "terasa" relatif oleh makhluk-Nya karena tergantung kualitas hati untuk "menampungnya", tergantung kualitas cinta dirinya kepada Tuhannya. Allah akan membalas limpahan cinta-Nya berkali lipat dari kecintaan hamba-Nya.

Dan "komunikasi" timbal balik ini akan berimplikasi pada peningkatan kualitas iman dan taqwa hamba-Nya.

Ada masukan..?


Semoga....
#ombad #tasawuf

04 February 2018

TENTANG MAHABBAH

"Yaa Allah, anugerahkanlah kami cinta-Mu,
Dan cinta kepada siapapun yg mencintai-Mu,
Dan amalan yg akan membimbing kami kepada cinta-Mu."
(Doa Rasulullah SAW)

Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yg secara harfiah berarti ‘mencintai secara mendalam’.  Mahabbah dapat pula berarti al-wadud  (yang sangat kasih atau penyayang).

"Mahabbah adalah merupakan hal (keadaan) jiwa yg mulia yg bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakkan) Allah SWT oleh hamba, selanjutnya yg dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yg dikasihi-Nya dan yg seorang hamba mencintai Allah SWT." (Al-Qusyairi ra)

Menurut Al-Qusyairi, mahabbah Allah kepada hamba merupakan nikmat khusus kepada siapa saja yg Allah kehendaki. Jika kehendak tersebut diperuntukkan secara umum untuk semua hamba-Nya, ini dinamakan Rahmat; jika Kehendak Allah ini berkaitan dengan adzab, maka disebut dengan murka (ghadlab).

Artinya Mahabbah itu merupakan Rahmat yg dilimpahkan Allah SWT secara khusus kepada hamba-Nya, merupakan kehendak-Nya, sebagaimana kasih sayang-Nya bagi hamba adalah kehendak pelimpahan nikmat-Nya.

Sedangkan Rahmat itu merupakan Kehendak-Nya dalam 'menyampaikan' pahala dan nikmat kepada si hamba. Sedangkan Mahabbah merupakan bentuk kehendak-Nya untuk mengkhususkan hamba-Nya, suatu kedekatan (qurbah) dan 'ihwal' (jamak dari Haal) keluhuran/kemuliaan ruhani.

Jadi, Mahabbah itu lebih khusus daripada Rahmat.

Abu Nasr as Sarraj at-Tusi seorang tokoh sufi terkenal membagi mahabbah kepada tiga tingkat :

1. Mahabbah ORANG BIASA, yaitu orang yg selalu mengingat Allah SWT dengan dzikir dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan-Nya serta senantiasa memuji-Nya.

2. Mahabbah orang SHIDDIQ (orang jujur, orang benar) yaitu orang yg mengenal Allah tentang kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya. Mahabbah orang siddiq ini dapat menghilangkan hijab, sehingga dia menjadi kasyaf, terbuka tabir yg memisahkan diri seseorang dari Allah SWT. Mahabbah tingkat kedua ini sanggup menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri, sebab hatinya penuh dgn rindu dan cinta kepada Allah.

3. Mahabbah orang ‘ARIF, yaitu cintanya orang yg telah penuh sempurna makrifatnya dengan Allah SWT. Mahabbah orang ‘Arif ini, yg dilihat dan dirasakannya bukan lagi cinta, tetapi diri yg dicintai. Pada akhirnya sifat-sifat yg dicintai masuk ke dalam diri yg mencintai. Cinta pada tingkat ketiga inilah yg menyebabkan mahabbah orang ‘Arif ini dapat berdialog dan menyatu dengan kehendak Allah SWT.

Menurut Ibn ‘Athaillah (dalam kitab Lathaif al-Minan), ada empat tingkatan Mahabbah :

1. Cinta untuk Allah; mengutamakan Allah ketimbang selain-Nya.

2. Cinta karena Allah; mencintai Wali Allah karena Allah.

3. Cinta dengan Allah; mencintai orang atau sesuatu tanpa hawa nafsu.

4. Cinta dari Allah; Dia menarikmu dari segala sesuatu sehingga hanya Dia yg kau cintai.

Awalnya adalah cinta untuk Allah dan akhirnya cinta dari Allah; MURID (yg menginginkan) menjadi MURAD (yg diinginkan).

Jadi, terjadinya (baca: dipilihnya) seorang untuk Mahabbah kepada Allah SWT itu merupakan Rahmat yg khusus agar hamba-Nya ini mulia lewat Sirr.

Rahasia Sirr sendiri adalah sesuatu yg tidak bisa terungkap oleh makhluk-Nya, kecuali oleh Allah Yang Haqq. Artinya hanya Allah yg berhak membuka rahasia Sirr hamba-Nya.

Itu makanya jika  sudah terbuka Sirr nya, maka hamba-Nya yg sudah dipilih-Nya ini bisa bermusyahadah kepada-Nya, karena Sirr merupakan tempat Musyahadah, sebagaimana Ruh yg merupakan tempat Mahabbah dan Qalbu yg merupakan tempat Ma’rifat.

Semoga...
#ombad #tasawuf #mahabbah