Showing posts with label Shalat. Show all posts
Showing posts with label Shalat. Show all posts

17 May 2019

PUASA UNTUK MUSYAHADAH

Jika dibandingkan antara Puasa dengan Shalat, maka Puasa itu untuk MUSYAHADAH dan Shalat itu untuk MUNAJAT.

Puasa menghasilkan MUSYAHADAH  (Syahada - Syahida, Penyaksian, bersaksi), pertemuan dengan Allah dengan penyaksian-Nya. Sedangkan Shalat itu MUNAJAT (merahasiakan, mendekati Allah dengan cara berdoa atau berdzikir) dan terdapat hijab/tabir yang menyertainya.

۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗ    اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ

"Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana." (QS. Asy-Syura: 51)

Wujud Al-Haqq bersama kelenyapanmu (fana'). Salik yang mengalami Muhadharah terikat dengan ayat-ayat-Nya. Salik yang mencapai Mukasyafah dilapangkan dengan sifat-sifat-Nya. Dan salik yang memiliki Musyahadah ditemukan dengan Dzat-Nya. Salik yang Muhadharah akalnya menunjukkannya. Salik yang Mukasyafah ilmunya mendekatkannya. Dan salik yang Musyahadah ma’rifatnya menghapusnya.” (Syeikh Abu Qasim Junaid ra.)

"Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan Mujahadah niscaya Allah akan memperbaiki hatinya dengan Musyahadah." (Imam al-Qusyairi ra.)

Rasulullah SAW bersabda,

Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya.”

- "Kebahagiaan saat berbuka" adalah kebahagiaan untuk jiwa hewaninya.

- "Kebahagiaan saat bertemu Tuhannya" adalah kebahagiaan untuk jiwa rasional (an-Nafs an-Natiqah), yaitu al-Latifah ar-Rabbaniyyah.

Allah adalah Dzat yang tak membutuhkan makan dan minum, dan orang yg berpuasa pun berusaha "mendekati" sifat Samdaniyyah (khusus) Allah yaitu tidak makan dan minum. Itulah kenapa pahala puasa langsung disandarkan kepada Allah. Dan tidak ada ibadah yg langsung disandarkan kepada Allah selain puasa.

Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku Sendiri yang akan memberi imbalannya.” (HR. Muslim)

Hendaklah kamu berpuasa, karena tidak ada yang serupa dengannya.” (HR. an-Nasa’i)


Semoga...
#ombad #tasawuf 12 #ramadhan 1440 H.

13 October 2018

BERAMAL (TANPA ILMU ?)

Shalatnya mungkin benar tetapi bisa sy anggap "mendzalimi" orang lain. Seperti halnya larangan Rasulullah SAW ketika baca Quran keras-keras di saat ada orang lain yg sedang shalat. Kenapa..?
Karena bisa MENGGANGGU..!

"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan ketahuilah mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Dan tentunya salah satu Kemungkaran itu adalah menyebabkan Kemacetan sehingga bisa Mengganggu orang lain.

Apa ini masalah ketidakpahaman..?
Itu lebih baik, daripada Riya ataupun Sum'ah.. :D

العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْمَ

Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh, namun jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, namun jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, namun meninggalkan belajar.” (Imam Hasan al-Bashri ra.)

Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang berjalan tanpa penuntun akan mendapatkan kesulitan dan sulit untuk selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.” (Ibn Qayyim ra.)

Emang gak ada mushola atau mesjid yg deket..?


Semoga..
#ombad #eksis #riya

23 April 2018

SHALAT DALAM TASAWUF

Dalam tinjauan Tasawuf, kata SHALAT dari huruf Wa-Sha-La...

Dari huruf-huruf tersebut terbentuk beberapa kata, yaitu:

- Washala (sampai, menyambung),
- Washshala (menyampaikan),
- Washil (tetap berfungsi),
- Ittashala (berkelanjutan),
- Shilah (perhubungan),
- Washlun (tanda terima, resi),
- Wushl (pertalian, perhubungan),
- Washilah (keakraban, perkumpulan),
- Wushul (suka atau banyak memberi),
- Washil (menyambung),
- Aushal (persediaan),
- Maushil (tempat pengembangan),
- Muwashil (perhubungan)..

Silahkan temukan "makna" nya Shalat.. bantu dengan Hadist ini,

"Ash-Shalaatu mi'raajul Mu'miniin.."
"Shalat adalah mi'rajnya orang-orang Mukmin.."

RUKU

Jika ingin mendapatkan Kedekatan (Keakraban, al-Qurb) dengan Allah SWT, maka terlebih dahulu ia harus melewati fase "Ketundukan", artinya jika gagal membangun Ketundukan, biasanya juga akan gagal meraih Kedekatan.

Itulah kenapa Rukuk dulu, baru Sujud.. :D

Jadi, Rukuk bisa dianggap sebagai bentuk ketundukan individu (bentuk dari al-Adab), sedangkan Sujud adalah bentuk Kedekatan (Keakraban, al-Qurb).

Bahkan dalam kitab-kitab Tasawuf disebutkan bahwa :

- Rukuk adalah maqam Tauhid ash-Shifat, dan Sujud adalah maqam Tauhid adz-Dzat.

- Rukuk adalah Fana' Awal (al-Fana' al-Awwal), dan Sujud adalah Fana' Sempurna (al-Fana' al-Kamil).

- Rukuk adalah simbol alam Barzakh, dan Sujud adalah simbol puncak rahasia (sirr al-Asrar)..


SUJUD

Sayidina 'Ali bin Abi Thalib kw. pernah ditanya tentang makna SUJUD pertama. Ia menjawab, itu artinya:

Allahumma innaka minha khalaqtana (Ya Allah sesungguhnya Engkau menciptakan kami dari tanah).

Makna bangkit dari Sujud adalah:
Wa minha akhrajtana (Dan daripadanya engkau mengeluarkan kami).

Makna Sujud kedua ialah:
Wa ilaina tu'iduna (Dan kepadanya Engkau akan mengembalikan kami).

Bangkit dari Sujud kedua maknanya:
Wa minha takhrujna taratan ukra (Dan daripadanya Engkau akan membangkitkan lagi).


Semoga...
#ombad #tasawuf

01 March 2018

MABOK AGAMA

"Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu Shalat, sedang kamu dalam Keadaan Mabuk, sehingga kamu mengerti apa yg kamu ucapkan." (QS. An-Nisa: 43)

Mungkin termasuk MABUK AGAMA.. dimana jiwanya penuh hasrat kepentingan dan hatinya penuh noda ilusi. Ilusi-ilusi ini yang membuat "mabuk" sehingga memunculkan perasaan "merasa paling beriman" yg memabukkan.

Akhirnya Ego dan Eksistensi pun membiaskan makna Ghirah dan Keihlasan. Menjadikan dirinya tidak menyadari dan tidak mengetahui apa yg dilakukan dan apa yg dibaca. Buta.

Akibatnya, ajakannya bisa jadi Permusuhan dan Kerugian, walau dengan alasan "damai" dan "selamat".

Ajakannya pun bisa jadi malah menuduh Munafik dan Kafir, walau dengan alasan "tauhid" dan "iman".

Dan "berlomba-lombalah dalam Kebaikan" pun jadi samar dalam "berlomba-lombalah dalam Teriakan".

Ya, karena tidak mengerti dan belum sadar hikmahnya. Dan mungkin juga hatinya belum "daim" ataupun "wustha". :D

Karena harusnya orang yg sudah "sadar dari mabuk" nya, ketika ia mengerjakan Shalat, maka shalat yg dilakukannya akan berimplikasi ke pembentukan karakter yg berhubungan dengan Kelembutan dan Keteduhan, sebagai akibat dari shalat yg dilakukan dengan penuh Ketundukan dan Kekhusyuan, yg lahir dari pengakuan dalam Penghambaan dan Kehinaan, serta diiringi kesadaran atas Kelemahan dan Keterbatasan diri.


Semoga....
#ombad #tasawuf

28 November 2017

KHUSYU'..?!

Sebatang teman berkata tentang shalatnya yg menurutnya sangat khusyu'.. dan sy jawab gini aja :

Ketika pada suatu shalat merasa enak, tenang, fokus, konsentrasi atau apapun yg nikmat-nikmat itu belum tentu disebut Khusyu', karena Khusyu' itu lebih ke aspek "tujuan dari ibadah" yg berhubungan dengan peningkatan kualitas diri.

Jika ditinjau secara bahasa, Khusyu' yg berasal dari kata Khosya'a ini mempunyai makna : Kerendahan hati, Kelembutan hati, Kesederhanaan, dan Ketaatan. Artinya ada dua hal yg harus digarisbawahi :

- Sudahkah shalat yg dilakukan selama ini merubah hati menjadi lebih lembut, lebih rendah hati..?

- Sudahkah shalat yg dilakukan selama ini meningkatkan "Ketaatan" dan "Kepasrahan kepada Allah", yg ujungnya bisa "mencegah perbuatan keji dan munkar"..?

Jika dua parameter di atas belum terpenuhi, artinya anda memang shalat, tapi senikmat apapun yg dirasakan dalam shalat anda, tidak bisa disebut Khusyu' shalatnya jika tidak berkorelasi dengan peningkatan kualitas hati, atau dengan kata lain, tidak bisa mengurangi penyakit-penyakit hati. Memang anda melakukan kewajiban, tetapi kewajiban yg dilakukan belum membuahkan tujuan.

Yang dimaksud dengan kekhusyu’an di situ adalah kekhusyu’an hati.” ('Ali bin Abi Thalib kw.)

Itu makanya, secara istilah pun, Khusyu’ itu sangat berhubungan dengan kelembutan hati dan ketenangan kalbu, dimana hal tersebut berfungsi untuk menghindari keinginan keji dan munkar yg bersumber dari hawa nafsu hewani, serta akhirnya berhubungan dengan kualitas ketaatan dan kepasrahan di hadapan Allah, sehingga bisa melenyapkan keangkuhan, kesombongan, sikap merasa benar dan tinggi hati.

Jadi, melihat Khusyu' atau tidaknya seseorang ketika shalat, harus dilihat secara keseluruhan, tidak shalat per shalat saja, karena Khusyu' nya shalat itu terintegrasi dengan proses "mi'raj" nya kalbu sampai mendapat predikat "Mukmin" menurut Allah, dan bukan menurut manusia.

"Shalat itu mi'raj orang Mukmin." (Hadist)

".. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yg lain).." (QS. Al-'Ankabut: 45)

Selanjutnya, ada yg bertanya lagi, Bagaimana supaya shalatnya Khusyu'..?

Sy jawab gini aja,

Shalatnya menghadap Allah & melihat Allah..

Kalau belum bisa, shalatnya menghadap Allah & ingat Allah.

Kalau belum bisa, shalatnya menghadap Allah & menghadirkan hati agar ingat Allah.

Kalau belum bisa, shalatnya menghadap Allah & memahami teknis, rukun dan bacaannya.

Kalau belum bisa, shalatnya menghadap Allah & semampunya saja.

Nah karena (sy jg) merasa shalatnya kurang, tambahin amal saja sesudahnya pakai dzikir, dan memperbanyak dzikir.


Semoga...
#ombad #tasawuf #khusyu

28 October 2017

SHALAT ITU MULTIDIMENSI

Shalat seperti sebuah Proses PERJALANAN HIDUP, dimana dari suatu Proses Belajar (mencari ilmu), lalu meningkat ke proses aktualisasi ilmu, seperti bekerja/berusaha, sampai bisa memberikan kebermanfaatan bagi semua makhluk.

Ditinjau dari segi BACAAN, mulai Takbiratul ihram sampai Salam itu ada "makna" secara proses dalam wushul (perjalanan menuju Allah) dan sesudah wushul. Begitupun ditinjau dari GERAKAN juga ada maknanya, baik secara kesehatan lahiriah, maupun secara batiniah..

Ini sekedar contoh, kenapa BACAAN Shalat seperti itu.

- Ketika seorang salik mau melakukan perjalanan menuju Allah (wushul, kembali), maka yg pertama harus dilakukan adalah NIAT (menguatkan hati), lalu berupaya dan harus menyadari bahwa dirinya itu "kecil" dan akan menuju ke Yang Mahabesar.. Allaahu Akbar (takbiratul ihram).

- Selanjutnya, membuat dan menguatkan komitmen dan janji sehubungan dengan 'perjalanan' yg akan dilakukannya (maksud dari Iftitah). Dalam proses ini seharusnya ada dan dilakukan upaya purifikasi nafsu (inna shalaati wa nusuki, dst), sampai akhirnya bisa membersihkan kemusyrikan, atau ada komitmen upaya menuju derajat mukmin.

- Kemudian, dia akan masuk ke pemahaman (ilmu), didahului dulu membaca abstraksi dari keseluruhan ilmu-ilmu Allah (FATIHAH), dan dikenalkan satu persatu (ayat-ayat sesudah Fatihah).

- Lalu, setelah 'dapat' setitik ilmu, dan untuk menjaga supaya tidak sombong dan merasa besar/bisa, harus RUKU', karena sombong (merasa agung) bagi manusia itu adalah kesalahan dan membuat "kotor", jadi harus dikontrol terus.

- Sambil tetap meminta (DOA) untuk menjaga dari sifat-sifat nafsu dan tetap harus mematuhi perintah Allah... I'TIDAL.

- Sampai akhirnya pencarian ilmunya full (Makrifat). Penyakit makrifat itu syathahat malah sampai God Syndrom (penyakit 'ketinggian'). Diingatkan lagi dengan SUJUD, biar bisa tetap "rendah", dengan cara mendahulukan (meninggikan) kalbu daripada kepala (pikiran), lebih "menguatkan" hidup dalam realita dengan giat berusaha, bekerja keras (bokong lebih tinggi) dan mendayagunakan seluruh kemampuan serta potensi diri (2 tangan, 2 dengkul, 2 kaki, dan 1 dahi).

- Ketika sudah giat berusaha dan berupaya, urusan hasilnya, harus bertawakal sambil berdoa lagi.. DUDUK diantara 2 sujud.

- Kemudian konsep "grounded", menjadi "khalifah" dan menjadi sumber manfaat,  mencontoh para Nabi, Rasul dan orang-orang sholeh. Tetap bertauhid seperti Nabi Ibrahim, (menjadi kekasih Allah). Dan siap menghadapi hidup beserta ujian-ujiannya (fitnah hidup, fitnah mati dan fitnah Dajjal), dengan hati yg tetap tegar dan istiqomah.. TAHIYAT.

- SALAM di akhir, "salam" kepada sekitar. Bermakna memberikan "keselamatan", "kesejahteraan" dan "kebaikan" bagi sekitar, seperti sebuah perpanjangan "saluran Rahmat" Tuhan, baik dengan ilmu, materi, motivasi, dsb. Tentunya dengan kebaikan dan tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa. Proses menuju keselamatan dunia akhirat.

Jadi secara lahiriah, shalat itu pelajaran hidup (proses perjalanan hidup), dan secara batiniah, shalat itu proses mi'raj bagi mukmin.

Semoga...
#ombad #tasawuf #shalat