Showing posts with label Introspeksi. Show all posts
Showing posts with label Introspeksi. Show all posts

11 October 2019

INNERSMILE

Saat agama mengajarkan "Senyum adalah Ibadah", maka "senyum" ini berlaku secara keseluruhan dimana selain senyum dari sisi lahir juga harus bisa senyum dari sisi batin, atau Innersmile.

Jika "tertawa" secara lahir dianggap sebagai bentuk "kebahagiaan" secara batin, maka "senyum" secara lahir juga bisa berkorelasi dengan "kebersihan" secara batin. Konteks di sini bukan dalam tataran kemunafikan, tapi lebih ke "cerminan" jiwa yang terbawa ke tubuh fisik.

Kebersihan secara batin tentunya berkorelasi dengan sifat-sifat di dalam diri. Semakin banyaknya sifat-sifat yang positif (Positive Mental Attitude) yang muncul maka semakin bersih juga jiwa (atau hatinya). Itu makanya agama mengajarkan "Kebersihan itu sebahagiaan dari Iman", bukan hanya bersih secara lahiriah tetapi juga batiniah.

Tentu ada makna yang tersembunyi ketika dalam bahasan Fiqh selalu diawali dengan bab Thaharah (pembersihan, penyucian), dan begitu juga dalam bahasan Tasawuf yang selalu diawali dengan bab Taubat untuk menyucikan jiwa dan membersihkan kotoran-kotoran hati.

Jika tubuh batin diibaratkan lampu, maka bagaimana caranya agar lampu ini bisa menyala, pancaran cahayanya bisa indah, lalu bisa memancar ke luar tubuh tanpa terhalangi, karena kotoran-kotoran dalam hati akan meredupkan, membuat kusam, bahkan menutupi pancaran cahayanya. Bagaimana caranya agar tubuh batin bisa tersenyum (innersmile) sampai akhirnya terpancar. Ya, tentunya ini berhubungan dengan kualitas pembersihan dari kotoran-kotoran hati.

Proses pembersihannya sendiri berhubungan dengan aspek ibadah (secara esensi), dimana bisa melalui doa (istighfar), taubat, instrospeksi, meditasi, dsb. Ibadah di sini bukan sekedar ritual tetapi lebih ke Muhasabah (introspeksi dan evaluasi diri), khususnya dengan ke-empat aspek ini, yaitu Sabar, Syukur, Pasrah dan Ikhlas.

Bukankah orang yang cerdas itu adalah yang bisa berintrospeksi dan mengevaluasi dirinya sendiri serta bisa beramal untuk kehidupan..?

Dan saat Muhasabah Diri bisa diterima-Nya, maka taman Innersmile dalam jiwa pun siap untuk menumbuhkan bunga-bunga Innerbeauty yang indah, harum dan sedap untuk dipandang, bahkan juga bisa untuk "menghalau" penyakit dan memperkuat sistem immun tubuh.

Semoga..
#ombad #innersmile #innerbeauty


25 July 2019

KEKURANGAN

Suatu ketika..

Istri : "Pah, bolehkah aku usul..?"
Suami : “Boleh istriku sayang, silahkan.."
Istri : "Mamah ingin, kita menulis kekurangan masing-masing di kertas kosong.. agar kita bisa saling intropeksi diri, tapi janji, tidak ada yg boleh tersingung. Bagaimana Pah..?"
Suami : “Baik..”

Sambil tersenyum manis sang istri kemudian pergi mengambil 2 lembar kertas kosong dan 2 pulpen.

Tiga puluh menit kemudian..

Istri : "Pah, Mamah sudah selesai nulisnya."
Suami : “Iya, Papah juga."
Istri : "Baiklah, sekarang tukar kertas kita. Jangan dibuka dulu, nanti kita baca secara terpisah. Silahkan buka kertas yg Mamah dan baca di kamar. Mamah akan baca di dapur."

Sang suami pun membuka kertas dan membacanya. Setiap membaca tulisan mengenai kekurangannya, air matanya tidak bisa dibendung, mengalir di setiap sudut matanya. Karena ternyata begitu banyak kekurangan pada dirinya.

Sementara itu, di dapur sang istri juga membuka kertas. Tak lama kemudian sang istri menghampiri suami ke kamar dengan raut muka masam.

Istri : "Bagaimana Pah, sudah baca..?"
Suami : “Sudah Mah, maafkan Papah yg tidak bisa sempurna mendampingimu … maafkan ya..."
Air matanya semakin deras mengalir.

Istri : “Iya Pah, tapi mengapa Papah tidak menulis apapun di kertas itu, padahal Mamah telah menulis segala kekurangan Papah..?"

Sambil menangis dan berbisik lirih di telinga sang istri, sang suami berkata:

"Istriku tercinta, tahukah engkau.. aku mencintaimu apa adanya.. Sehingga aku melihat kekuranganmu adalah kelebihanmu dan aku tahu Tuhan menciptakan setiap manusia dengan berbagai kekurangannya, untuk itu aku sebagai suami akan menjadi pelengkap untuk menutupi kekurangan istrinya.. aku mencintaimu karena Tuhan memilihmu sebagai pendampingku."

Sang istri pun tak sanggup menahan tangis mendengar ucapan dari sang suami yg begitu sangat mencintainya.

**

Moral of The Story..

Masa seorang lelaki yg udah tua, cengeng begitu..?! Perbaiki aja sifatnya, ngapain juga pakai nangis segala kayak sinetron..?! Dan juga, bohong nich si suami, masa istri tak punya kekurangan..?!

Dasar guombal..!!

Cerita lebay dan tidak mendidik..!


Semoga...
#ombad #moral #thestory

11 July 2018

GAJAH DALAM GELAP

Pikiran setiap manusia itu berbeda-beda.. sebutlah itu, frekuensi berpikir, pola pandang, dsb.

Dalam konteks keyakinan, hampir semua merasa benar dengan pendapat/keyakinan dirinya. Ketika "Kebenaran subyektif" ini diikutin, lalu ditunjanglah dengan dalil sebagai 'pembenaran' nya. Padahal mungkin saja 'kebenaran' menurut dirinya ini masih dalam ruang 'pemahaman parsial' karena masih berproses untuk menemukan yg Hakiki.

Itu kenapa fokus dalam tasawuf lebih ke 'membersihkan diri terus-menerus'.. biar sifat-sifat yg negatif (dan tercerminkan lewat perbuatan buruk, yg katanya sesuai dalil) bisa dikikis. Tentu butuh pemahaman, open heart (lapang dada), juga open mind (keterbukaan pikiran), serta berbaik-sangka.

Dalam meyakini 'kebenaran' (dirinya, subyektif), manusia ada 2 tipe:

- Senang mempertunjukkan kesalahan orang lain. Jadi seperti "itu lhoo yg salah", secara tersirat bisa berarti "sy yg benar". Cerminan dari "berburuk-sangka".

- Menjadi alat untuk makin mawas diri, mengolah qalbu terus-menerus, instropeksi. Menyadari bahwa dirinya pernah salah seperti itu.
Cerminan dari "berbaik-sangka".

Ada orang-orang yg diberi hal tertentu (baca: dibukakan) Allah, agar bisa mengambil pelajaran untuk dirinya, bisa berintrospeksi, sewaktu melihat kondisi seperti point yg pertama, sampai akhirnya bisa menyimpulkan, dan makin ber-instropeksi, plus diingatkan bahwa akan seperti itulah cerminannya, selaras dengan kondisi qalbunya.

Jadi ketika melihat yg diluar dirinya selalu jelek atau busuk terus, bisa dimaknai bahwa kondisi qalbu dirinya sendiri sedang jelek/busuk.

Seperti halnya, memakai kacamata merah, akhirnya yg terlihatpun jadi serba merah. Dan inipun jadi rahasia masing-masing diri, karena semua hal yg dilakukan itu sangat tergantung niat dirinya.

Seperti juga, kisah Nabi Musa as. sewaktu diingatkan Khidir, agar selalu berbaik-sangka.


Semoga...
#ombad #tasawuf

31 January 2018

SENANG CARI KAMBING HITAM

Suatu hari seorang anak kecil nabrak meja di rumahnya, lalu terjatuh dan menangis. Tak lama kemudian orang tuanya menghibur,

“Wah, mejanya nakal ya..!” Lalu dipukulnya meja itu.

Atau ketika sedang di luar, kalau anak itu tersandung, jatuh, dan menangis,

“Oh, kamu tersandung nak.. Batu nakal..!”, kata orang tuanya, lalu dilemparnya batu itu jauh-jauh.

Hal-hal seperti di atas, tanpa disadari terekam oleh si anak, sampai akhirnya ketika ia melakukan kesalahan, bukan dia yg harus bertanggung jawab dan ada sesuatu yang harus disalahkan.

Makin ia besar, “sesuatu yg harus disalahkan” itu bukan hanya sebuah benda mati, tapi juga orang.

Itulah makanya, begitu sulit ber-introspeksi dan memperbaiki diri karena terbiasa menyalahkan orang lain. Terbiasa mencari kambing hitam.

Ketika ada suatu kasus buruk yg terbuka dan diketahui publik, maka ramailah para pemburu kambing hitam mencari kambing hitam, seperti: "Pengalihan Isu", "Komunis", "Didzalimi", bahkan yg paling parah, Tuhan pun bisa dijadikan kambing hitam.

Jadi yg pasti, ada sesuatu pembelajaran yg mesti kita ambil ketika Tuhan sedang "memperlihatkan" sesuatu berupa "teguran keras" baik kepada diri sendiri ataupun lewat orang lain. Mungkin kita semua harus segera sadar, bahwa selama ini banyak dari kita yg terbius asesoris dan tampilan luar, serta masih tetap dalam ilusi, mimpi dan tidur.

Mudah-mudahan nasehat ini bisa menyadarkan kita semua,

"Jangan melihat penampilannya, tapi lihatlah kelakuannya." (Dr. H. Patrialis Akbar)

Semoga.....
#ombad #tasawuf