Showing posts with label Mukmin. Show all posts
Showing posts with label Mukmin. Show all posts

21 May 2019

PREVENTIFISASI KERUSAKAN

Kaidah Ushul Fiqh :

درء المفسدة المحققة مقدم علي جلب المصلحة الموهومة

"Menolak Kerusakan yang benar-benar nyata harus diprioritaskan daripada Kemaslahatan yang masih samar (absurd)."

Dan termasuk suatu Kerusakan (negatif destruktif), jika :

- Menganggu keamanan dan stabilitas nasional.
- Menyebabkan kehilangan jiwa (pertumpahan darah).
- Menyebabkan tindakan anarki, baik terhadap jiwa maupun harta benda.
- Mengganggu kepentingan umum atau aktivitas publik.
- Memunculkan tindakan yang berlawanan dengan hukum, seperti ujaran kebencian, hoax, fitnah, dsb.

Itulah kenapa Allah SWT memerintahkan Musyawarah,

وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ    اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
 
Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali 'Imran, 3 : 159)

Kenapa..?
Karena Kerukunan, Keamanan, Kedamaian dan Persatuan adalah Kemashlahatan (Kebaikan) yang hakiki dalam memajukan suatu bangsa dan negara.

Jadilah seorang Mukmin yang sempurna seperti ucapan Rasulullah SAW : 

و المؤمن من أمنة الناس على دمائهم و أموالهم

Seorang Mukmin (yang sempurna) yaitu seseorang yang manusia Merasa AMAN darah mereka dan harta mereka dari gangguannya.” (HR. Tirmidzi & An-Nasa’i)


Semoga...
#ombad #mukmin 16 #ramadhan 1440 H.

01 March 2019

TELUNJUK KAFIR

Pemahaman pada level dasar itu, "kafir" identik dengan "beda agama", selain Muslim disebutlah Kafir, meski yg dianggap "kafir" itu pun mengimani (percaya, believers) kepada Tuhan.

Padahal secara bahasa, kata "Kafir" (tertutup, kufur, cover) itu lawan katanya adalah "Asy-Syaakir" (orang yang bersyukur). Itu makanya ada istilah "kufur nikmat". Artinya ini terkait kualitas Hati, dimana Hatinya tertutup oleh Kebenaran. Sementara itu, jalan menuju Kebenaran banyak sekali, bukan milik satu kelompok atau agama saja.

Perlu diketahui, pada masa sebelum Islam, istilah "kufur" digunakan untuk para petani yg sedang menanam benih di ladang, lalu menutupnya (kufur) dengan tanah. Itu makanya para petani (waktu itu) disebut juga sebagai “kuffar” (bentuk jamak dari kafir).

Seiring waktu, istilah "kafir" mulai bergeser dan dijadikan alat politik, khususnya dilegalisasi dalam meraih Kekuasaan atas nama agama (perang, pembunuhan, dsb). Padahal jelas-jelas dalam Al-Quran, selain istilah "Kafir", ada juga istilah "Musyrik", "Murtad", "Yahudi", "Nasrani", "Sesat", dsb.

Al-Quran sendiri tidak melakukan gebyah uyah bahwa selain Muslim semuanya adalah Kafir. Bahkan sudah merasa Muslim pun belum tentu diakui "muslim" oleh Tuhan, apalagi "mukmin". Itu makanya orang Islam harus memperbaharui keimanannya terus menerus. Silakan temukan dalam shalat dan ibadah-ibadah anda. Jika ibadahnya belum bisa merendahkan hati, ya bisa dianggap belum ibadah.

"... Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat para pendeta dan rahib, juga karena mereka sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. Al-Maaidah: 82)

Dan sangat mungkin jika yg mengaku Muslim ternyata batinnya itu belum Tunduk sepenuhnya kepada Tuhannya, buktinya melakukan perbuatan-perbuatan tercela (korupsi, sombong, syirik khafi, dsb), artinya apa..? Ya belum Muslim secara haqiqi, atau bisa disebut "merasa sudah Muslim" padahal banyak Kufur di dalam dirinya.

"Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl : 125)

Jadi kurangi menunjuk ke luar dengan tujuan men-suci-kan diri sendiri karena itu hawa nafsu sangat rendah yang sangat samar. Dan jika masih seperti ini, artinya masih ada Kekafiran dalam diri.

"Fir'aun sudah tidak ada, Qarun telah berlalu, bangsa 'Ad dan Tsamud telah musnah. Maka tidak lain yg dimaksud oleh ayat-ayat al-Qur'an itu adalah kalian sendiri." ('Umar bin Khatthab ra.)

Dan hasil dari beragama yaitu Akhlaq, salah satunya adalah tidak menyakiti perasaannya dengan panggilan "kafir", 

"‪Dia yang bukan saudaramu dalam Iman adalah saudaramu dalam Kemanusiaan." ('Ali bin Abi Thalib kw.)

Bukankah Rasulullah SAW pun tidak memanggil pamannya, "Hai Kafir..."

**

Ketika seseorang mempelajari dan menggali makna ayat-ayat al-Qur'an itu kadang suka lupa diri sendiri.

Contoh-contoh Keburukan yg tertera didalam al-Qur'an semisal Firaun, Qarun, Abu Lahab, Kafir, Musyrik, dsb bukannya dijadikan "petunjuk" tetapi malah dipakai untuk "menunjuk".

Mudah-mudahan ke depan itu, ketika kita menggali ayat-ayat Allah ini, maknanya bisa jadi petunjuk dan bisa dipakai untuk "membuka" dan "menelanjangi" Keburukan dan Kebodohan diri sendiri.

Dan mulailah berhenti dijadikan alat untuk "menunjuk" keburukan dan kebodohan orang lain.

Seperti halnya yg dikatakan Sayyidina Umar bin Khatthab ra. sewaktu berceramah di depan para Sahabat selepas Rasulullah SAW wafat :

"Fir'aun sudah tidak ada, Qarun telah berlalu, bangsa 'Ad dan Tsamud telah musnah. Maka tidak lain yg dimaksud oleh ayat-ayat al-Qur'an itu adalah kalian sendiri."

Dan Instropeksi itu gerbang menuju Taubat.

Semoga...
#ombad #tasawuf