Showing posts with label Umar bin Khatthab. Show all posts
Showing posts with label Umar bin Khatthab. Show all posts

21 April 2019

KETIKA JOKOWI DIUNDANG KE HUJRAH AS-SYARIF

Para orang suci, meski sudah meninggal, mereka itu masih "hidup".

Rasulullah SAW bersabda :

Para Nabi dan para Wali melakukan shalat di kubur mereka seperti halnya mereka shalat di rumah mereka.”

Jadi ketika Jokowi (serta anak istrinya) bisa masuk ke pasaréan (ruangan makam, al-Hujrah as-Syarif) Rasulullah SAW --yang juga makamnya Abu Bakar Shiddiq ra dan 'Umar bin Khattab ra--, maka sy pribadi meyakini bahwa itu semua karena diundang Rasulullah SAW.
Wallaahu a'lam.

Mungkin saja Rasulullah SAW ingin membahagiakan Jokowi dan keluarganya, karena bagaimanapun Jokowi sekeluarga itu masih umatnya juga, meski seringkali dihujat, difitnah dan dicaci-maki, yang kebetulan pelakunya juga banyak dari umat Beliau SAW.

Atau bisa juga, karena besarnya pahala dari pengabdiannya sebagai orang nomor satu dimana rakyat yg diurusnya juga kebanyakan dari umat Rasulullah SAW sendiri.

Seperti yg Rasulullah SAW katakan :

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِر

Sesungguhnya manusia yg paling dicintai oleh Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang Pemimpin yang adil. Sedangkan orang yg paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang Pemimpin yang dzalim.” (HR. Tirmidzi, dari Abu Sa'id ra.)

Atau bisa juga, Rasulullah SAW memberikan "sesuatu", supaya Jokowi sekeluarga tenteram jiwa dan hatinya, sehingga tetap sabar, kuat dan tegar dalam menghadapi kenakalan sebagian umat Beliau SAW yg masih membencinya, masih dengki, dan masih susah untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Pemimpinnya.
Wallahu a'lam.

Dalam tinjauan Tasawuf, kejadian seperti ini bisa dianggap sebagai suatu kejadian spiritual karena akan punya pengaruh pada dimensi spiritual pelakunya.

Rasulullah SAW adalah pemegang Nubuwah dan Risalah yg merupakan stasion (maqam) tertinggi serta merupakan sumber dari para pemegang Keirsyadan (Mursyid) dan pemegang Walayah (Wali, Aulia).

Jika berbicara Washilah (perantara, sanad), maka setiap ikhwan atau "al-Murid" akan berusaha mengikuti jalur guru Mursyidnya terkait washilah, agar bisa wushul (sampai) ke sumber, secara ilmu. 

Semua Salik (pejalan), sebagai seorang Al-Murid (yang menghendaki) akan melakukan proses Riyadhah dan Muraqabah, sehingga bisa meningkat kualitasnya dan bisa menjadi seorang Al-Murad (yang dikehendaki), dan menjadi Al-Majdzub, yang ditarik/diundang untuk didekatkan.

Cuma satu hal yg harus diingat, ketika seseorang bisa "menembus" Hujrah As-Syarif Rasulullah SAW, insyaAllah ia adalah orang yang mencintai dan dicintai oleh Rasulullah, karena begitu juga jika secara batin pernah bertemu dengan ruh Beliau SAW, khususnya secara Yaqazah.


Semoga...
#ombad #tasawuf

15 April 2019

SUDAH DI SURGA ?

"Saya akan gandeng tangan bapak ke surga.." kata seorang Ustat.

Helloow.. kayak yg ma'sum aja.. :P

Ucapan tersebut bisa diartikan bahwa Pak Ustatnya sudah merasa jadi ahli surga. Memang, kalau orangnya sudah jadi penghuni surga sih bisalah nolong temennya biar masuk surga, seperti yg disebutkan sebuah Hadist yg diriwayatkan Ibnul Mubarak ra. dalam kitab az-Zuhd,

Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yg selalu bersama mereka dahulu di dunia. Maka mereka pun bertanya kepada Allah SWT, ‘Ya Rabb.. kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yg sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami..?’
Maka Allah berfirman, "Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yg di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah."

Lha ini.. ke akherat aja belum.. gak tau juga mau masuk ke mana..? :P
Gimana coba kalo ternyata nyangkut di alam siluman.. kejeblos ke akherat kagak, turun lagi ke dunia kagak bisa.. :P

Jadi, Etika dalam berdakwah itu hanya menyampaikan, dan bukan sudah merasa jadi ahli surga lalu bisa bawa orang ke surga.. toh nanti di akhirat mau masuk surga atau tidak pun bukan karena amal, tetapi karena Rahmat Allah SWT. Berlomba-lomba dalam Kebaikan sajalah sekarang mah dengan niat karena Allah.

Dan mudah-mudahan ucapan sayyidina 'Umar bin Khatthab ra. ini bisa diambil hikmahnya :

"Orang yang berkata 'saya orang Alim' sesungguhnya adalah orang Bodoh, orang yang berkata 'saya orang Sholeh' sesungguhnya dialah orang Durhaka, orang yang berkata 'saya Ahli Surga' sesungguhnya dialah Ahli Neraka."

Semoga..
#ombad #tasawuf

01 March 2019

TELUNJUK KAFIR

Pemahaman pada level dasar itu, "kafir" identik dengan "beda agama", selain Muslim disebutlah Kafir, meski yg dianggap "kafir" itu pun mengimani (percaya, believers) kepada Tuhan.

Padahal secara bahasa, kata "Kafir" (tertutup, kufur, cover) itu lawan katanya adalah "Asy-Syaakir" (orang yang bersyukur). Itu makanya ada istilah "kufur nikmat". Artinya ini terkait kualitas Hati, dimana Hatinya tertutup oleh Kebenaran. Sementara itu, jalan menuju Kebenaran banyak sekali, bukan milik satu kelompok atau agama saja.

Perlu diketahui, pada masa sebelum Islam, istilah "kufur" digunakan untuk para petani yg sedang menanam benih di ladang, lalu menutupnya (kufur) dengan tanah. Itu makanya para petani (waktu itu) disebut juga sebagai “kuffar” (bentuk jamak dari kafir).

Seiring waktu, istilah "kafir" mulai bergeser dan dijadikan alat politik, khususnya dilegalisasi dalam meraih Kekuasaan atas nama agama (perang, pembunuhan, dsb). Padahal jelas-jelas dalam Al-Quran, selain istilah "Kafir", ada juga istilah "Musyrik", "Murtad", "Yahudi", "Nasrani", "Sesat", dsb.

Al-Quran sendiri tidak melakukan gebyah uyah bahwa selain Muslim semuanya adalah Kafir. Bahkan sudah merasa Muslim pun belum tentu diakui "muslim" oleh Tuhan, apalagi "mukmin". Itu makanya orang Islam harus memperbaharui keimanannya terus menerus. Silakan temukan dalam shalat dan ibadah-ibadah anda. Jika ibadahnya belum bisa merendahkan hati, ya bisa dianggap belum ibadah.

"... Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat para pendeta dan rahib, juga karena mereka sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. Al-Maaidah: 82)

Dan sangat mungkin jika yg mengaku Muslim ternyata batinnya itu belum Tunduk sepenuhnya kepada Tuhannya, buktinya melakukan perbuatan-perbuatan tercela (korupsi, sombong, syirik khafi, dsb), artinya apa..? Ya belum Muslim secara haqiqi, atau bisa disebut "merasa sudah Muslim" padahal banyak Kufur di dalam dirinya.

"Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl : 125)

Jadi kurangi menunjuk ke luar dengan tujuan men-suci-kan diri sendiri karena itu hawa nafsu sangat rendah yang sangat samar. Dan jika masih seperti ini, artinya masih ada Kekafiran dalam diri.

"Fir'aun sudah tidak ada, Qarun telah berlalu, bangsa 'Ad dan Tsamud telah musnah. Maka tidak lain yg dimaksud oleh ayat-ayat al-Qur'an itu adalah kalian sendiri." ('Umar bin Khatthab ra.)

Dan hasil dari beragama yaitu Akhlaq, salah satunya adalah tidak menyakiti perasaannya dengan panggilan "kafir", 

"‪Dia yang bukan saudaramu dalam Iman adalah saudaramu dalam Kemanusiaan." ('Ali bin Abi Thalib kw.)

Bukankah Rasulullah SAW pun tidak memanggil pamannya, "Hai Kafir..."

**

Ketika seseorang mempelajari dan menggali makna ayat-ayat al-Qur'an itu kadang suka lupa diri sendiri.

Contoh-contoh Keburukan yg tertera didalam al-Qur'an semisal Firaun, Qarun, Abu Lahab, Kafir, Musyrik, dsb bukannya dijadikan "petunjuk" tetapi malah dipakai untuk "menunjuk".

Mudah-mudahan ke depan itu, ketika kita menggali ayat-ayat Allah ini, maknanya bisa jadi petunjuk dan bisa dipakai untuk "membuka" dan "menelanjangi" Keburukan dan Kebodohan diri sendiri.

Dan mulailah berhenti dijadikan alat untuk "menunjuk" keburukan dan kebodohan orang lain.

Seperti halnya yg dikatakan Sayyidina Umar bin Khatthab ra. sewaktu berceramah di depan para Sahabat selepas Rasulullah SAW wafat :

"Fir'aun sudah tidak ada, Qarun telah berlalu, bangsa 'Ad dan Tsamud telah musnah. Maka tidak lain yg dimaksud oleh ayat-ayat al-Qur'an itu adalah kalian sendiri."

Dan Instropeksi itu gerbang menuju Taubat.

Semoga...
#ombad #tasawuf

19 December 2018

SEMBILAN RAHASIA

Dalam kitab Nashoihul Ibad, ada uraian dari Sayyidina Umar bin Khattab ra. terkait hal-hal yg dirahasiakan Allah kepada hamba-Nya, diantaranya :

1. Ridho Allah.

Allah SWT merahasiakan sehingga tidak diketahui dalam perbuatan Taat mana yg didalamnya ada Ridha Allah, bisa yg "besar" ataupun yg "sepele".

2. Murka Allah.

Allah SWT juga merahasiakan sehingga tidak diketahui dalam perbuatan Maksiat mana murka Allah tersimpan.

3. Turunnya Lailatul Qadar.

4. Wali Allah diantara hamba-hambaNya.

Tidak seorangpun yg dapat mengetahui wali Allah kecuali orang-orang yg dikehendaki Allah. Ini untuk menjaga fitnah, karena Kekasih Allah itu belum tentu dari golongan orang yg terhormat dalam kedudukan dunia.

5. Kematian.

6. Shalat Wustha.

Apa itu Shalat Wustha serta bagaimana caranya.
 
7. Ismul A'dhom.

Ismul A'dhom adalah nama Allah yg Paling Agung. Ini akan dirahasiakan kecuali kepada hamba yg dipilih-Nya, dan ini terkait diijabahnya doa.

8. Waktu Mustajab di hari Jumat.

Ini terkait dikabulkan permintaan hamba-Nya, baik untuk urusan dunia maupun akhiratnya.

9. As-Sab’ul Matsani.

As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yg diulang-ulang) ini dirahasiakan Allah, karena memiliki keistimewaan yg lebih dibanding ayat atau surat lainnya.

**

An-Nuurul kasyfu wal-Bashiiratu lahal hukhukmu wal-Qalbul-aqbalu wal-adbaaru.

Nur itu baginya sebagai Pembuka, Bashirah itu baginya sebagai Hikmah, serta Qalbu baginya sebagai Pelaksana dan Penolak.”.


Semoga..
#ombad #tasawuf

24 March 2018

MENEBUS DENGAN JIWA

Setelah Rasulullah SAW sampai di rumah Abu Bakar Shiddiq ra. maka Rasulullah SAW melihat mereka semua menangis dan bertanya,

Wahai para Sahabatku, kenapa kamu semua menangis..?”

Kemudian Ali ra. berkata,

Ya Rasulullah SAW, Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah..?”

Lalu Rasulullah SAW berkata:

Semua yg dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat.”

Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah SAW, maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan.

Sementara ‘Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah SAW,

"Ya Rasulullah, waktu itu anda pukul pada tulang rusuk sy. Oleh itu sy ingin tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta Baginda.”

Rasulullah SAW berkata:

Wahai ‘Ukasyah, aku sengaja memukul kamu.”

Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bilal ra.,

Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari.”

Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, “Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas (diqishash).”

Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah ra. menyahut dengan berkata: “Siapakah di pintu..?”

Lalu Bilal ra. berkata: “Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk mengambil tongkat beliau.“

Kemudian Fathimah ra. berkata: “Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya.”

Berkata Bilal ra.: “Wahai Fathimah, Rasulullah SAW telah menyediakan dirinya untuk diqishash.”

Bertanya Fathimah ra. lagi: “Wahai Bilal, siapakah manusia yg sampai hati untuk menqishash Rasulullah SAW..?”

Bilal ra. tidak menjawab pertanyaan Fathimah rah., setelah Fathimah memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal ra. maka beliau pun menyerahkan kepada ‘Ukasyah.

Melihat hal yg demikian maka Abu Bakar Shiddiq ra. dan 'Umar bin Khatthab ra. tampil ke depan sambil berkata:

Wahai ‘Ukasyah, janganlah kamu qishash Rasulullah SAW tetapi kamu qishashlah kami berdua.”

Rasulullah SAW mendengar kata-kata Abu Bakar ra. dan Umar ra. maka dengan segera Beliau berkata:

Wahai Abu Bakar, Umar duduklah kamu berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua.”

Kemudian 'Ali bin Abi Thalib ra. bangun, lalu berkata,

Wahai ‘Ukasyah.. Aku adalah orang yg senantiasa berada di samping Rasulullah SAW oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah SAW.”

Lalu Rasulullah SAW berkata,

Wahai 'Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.”

Setelah itu Hasan dan Husain bangun dengan berkata:

Wahai ‘Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah SAW, kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah SAW.”

Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah SAW pun berkata,

Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua.”

Berkata Rasulullah SAW, “Wahai ‘Ukasyah pukullah aku kalau kamu hendak memukul.”

Kemudian ‘Ukasyah berkata:

Ya Rasulullah SAW, anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.”

Maka Rasulullah SAW pun membuka baju. Setelah Rasulullah SAW membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah ‘Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW maka ia pun mencium Beliau dan berkata,

Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah SAW, siapakah yg sanggup memukul Anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan Anda yg dimuliakan oleh Allah SWT dengan badan saya. Dan Allah SWT menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu.”

Kemudian Rasulullah SAW berkata,

Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya.”

Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yg sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata,

Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yg paling besar bagimu, engkau telah memperoleh derajat yg tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW di dalam syurga.”

Semoga....
#ombad #tasawuf

22 February 2018

HITAM DI JIDAT...?


".... tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud." (QS. Al-Fath: 29)

Jika tanda yg dimaksud adalah "tanda hitam" di jidat seperti yg diyakini oleh sebagian kelompok, maka yg kasihan adalah para akhwat (wanita). Soalnya walaupun mereka rajin shalat, keningnya tetap aja gak hitam-hitam, malah makin kinclong.. :D

Ada satu kisah, ketika Ibnu Umar ra. bertemu dengan seseorang yg memiliki tanda hitam di dahi, ia pun mengingatkan,

"Bekas apa yg ada di dahimu..? Sungguh aku telah lama bersahabat dengan Rasulullah SAW, Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku..?"

Siapa yg memperbaiki hatinya, maka Allah akan memperbaiki penampilan lahiriahnya,” ('Umar bin Khatthab ra.)

Sesuatu yg terpendam dalam jiwa akan terpancar melalui roman muka,” ('Ustman bin Affan ra.)

"Tanda baik yg ada pada wajah, cahaya wajahnya terang seperti bulan purnama." (Ibnu Abbas ra.)

Jadi tidak tepat bahwa tandanya itu hitam di jidat. Justru yg ditakutkan, jidat hitam itu malah jadi Riya' dan mirip kaum Khawarij, seperti yg disebutkan oleh Syaikh Ahmad ash-Shawi al-Maliki ra. dalam kitab Hasyiyah ash-Shawi Ala Tafsir al-Jalalain :

وليس المراد به ما بصنعه بعض الجهلة المرائين من العلامة في الجبهة فانه من فعل الخوارج وفي الحديث اني لابغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود

"Bukanlah yg dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang² Bodoh dan Tukang Riya’, yaitu tanda hitam yg ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas Khawarij. Dalam sebuah hadits disebutkan: 'Sesungguhnya aku benci seseorang yg kulihat diantara kedua matanya terdapat bekas sujud'."

Nah.. kalau yg sudah terlanjur jidatnya hitam harus gimana donk..? Masa harus pakai Ponds White..?

**

Jadi,
Kalo kesukaannya masih membid'ah-bid'ahkan,
Kalo kesenangannya masih menyesat-nyesatkan,
Kalo kecintaannya masih mengkafir-kafirkan,

Itu tandanya,
Baru ingat satu hal, tetapi melupakan yg lainnya,
Baru tahu satu hal, tetapi belum tahu yg lainnya,
Baru tahu ilmu, tetapi belum tahu hikmah,
Baru beranjak pintar, tetapi belum memulai sikap bijak.

Dan titik-titik pun harus bisa disambungkan sehingga membentuk lingkaran yg utuh. Bukankah seperti itu yg namanya Makrifat..?


Semoga....
#ombad #tasawuf #khawarij

12 January 2018

TAK MEMBEBANI

Ketika jadi Pemimpin, jangan jadi beban buat rakyatnya, ketika jadi Alim Ulama jangan jadi beban buat umatnya, begitupun jika jadi guru jangan jadi beban buat muridnya..

**

Suatu ketika Rasulullah SAW menjadi imam shalat. Para sahabat yg menjadi makmum di belakangnya mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh Rasulullah bergeser antara satu sama lain.

Sayidina 'Umar yg tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai sholat, "Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah Anda menanggung penderitaan yg amat berat, apakah Anda sakit..?”

Namun Rasulullah menjawab, ”Tidak. Alhamdulillah, aku sehat dan segar."

Mendengar jawaban ini 'Umar melanjutkan pertanyaannya, "Lalu mengapa setiap kali Anda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuhmu..? Kami yakin Anda sedang sakit…"

Melihat kecemasan di wajah para sahabatnya, Rasulullah pun mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Ternyata perut Rasulullah yg kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yg berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yg menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Rasulullah bergerak.

'Umar memberanikan diri berkata, "Ya Rasulullah! Adakah bila Anda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, lalu kami hanya akan tinggal diam..?"

Rasulullah menjawab dengan lembut,

"Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu ini. Tetapi apakah yg akan aku jawab di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, MENJADI BEBAN bagi umatnya..?"

Para Sahabat hanya tertegun. Rasulullah melanjutkan,

"Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yg kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yg kelaparan di Akhirat kelak."


Semoga...
#ombad #tasawuf

13 October 2017

RASULULLAH TIDAK BISA ADIL...?!!

Kata siapa Rasulullah SAW tidak bisa adil, bukankah Allah SWT membimbingnya terus, setiap saat, baik secara lahir maupun batinnya agar Rasulullah bisa adil..? Bukankah Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran..? Bukankah Rasulullah SAW adalah seorang Insan Kamil..?

Jadi jangan pakai ayat sepotong-sepotong untuk "pembenaran" diri, dan menisbahkan setiap segala sesuatu tindakan pribadi kepada Beliau SAW. Itu namanya "tidak tahu diri". Jadi sebaiknya anda belajar lagi agama.

"Rasulullah tidak bisa adil..?!"
Kok ucapan ini senada dengan Dzul Huwaishirah (Bani Tamim), seorang yg sebelumnya rajin berdzikir, rajin ibadah, rajin shalat, rajin ngaji, sampai nangis-nangis, tapi di kemudian hari BERANI MENCELA Rasulullah saat pembagian Ghanimah sesudah perang Hunain, "Wahai Rasulullah, berlakulah yang adil..!"

Dan ucapan tersebut sampai membuat wajah Rasul memerah menahan marah, akhirnya Rasul pun berkata, "Siapa lagi yg bisa adil kalau Allah dan Rasul-Nya sudah (dianggap) tidak adil..?!"

Beliau melanjutkan, "Semoga Allah merahmati Musa. Sungguh, ia telah disakiti lebih parah daripada ini dan ia tetap sabar.." (lihat Hadist Bukhari & Muslim).

Dalam riwayat lain (Bukhari dan Muslim), Rasulullah SAW menjawab, "Celakalah engkau..! Siapa lagi yg bisa adil jika aku sudah (dianggap) tidak adil..?! Aku sungguh akan celaka dan rugi jika telah berlaku tidak adil."

Sampai ’Umar pun berkata, "Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal lehernya..!"

Rasul pun menjawab, "Biarkanlah, (sebab) ia punya kawan-kawan yg frekuensi shalat kalian saja masih kalah dengan frekuensi shalat mereka. Frekuensi puasa kalian juga masih kalah dengan frekuensi puasa mereka. Mereka rajin membaca Al-Qur’an, tapi tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, dan besi panah itu tidak mengenai apapun. Dilihat ujung besinya, tidak ada bekas apa-apa. Dilihat gagangnya, tidak ada apa-apa. Dilihat bulu panahnya, juga tidak terdapat bekas apa-apa. Tidak ada bekas kotoran ataupun darah sama sekali di panah itu."

Mudah-mudahan dari Hadist di atas, kita bisa paham bahwa Rasulullah SAW itu BISA ADIL karena Beliau selalu dibimbing dan diarahkan Allah SWT, seperti halnya para Nabi/Rasul sebelumnya.

Semoga juga bisa paham, apa yg membuat Rasulullah SAW, seorang Insan Kamil yg begitu penyayang bisa sampai marah.. dan semoga kita semua tidak menyebabkan Beliau marah.

Btw, Sy tidak peduli dan mempermasalahkan siapapun mau poligami sampai puluhan istri juga, atau punya selir ratusan pun, silakan-silakan aja, urusan pribadi masing-masing, wong puluhan ayam peliharaan ibu sy dulu aja dalam sekandang, ayam jagonya cuma 2-3 ekor.. :D

Dan terkait urusan poligami ini sy lebih respek terhadap orang yg berpoligami dengan alasan membantu ekonomi.. lebih jujur dan fair.. serta tidak perlu bawa-bawa atas nama agama, ataupun Sunnah Rasul.. bahkan sy pun akan tetap berusaha respek, meski alasan aslinya adalah sex.. :D


Semoga...

#ombad #tasawuf

08 October 2017

QURAN ITU ALAT UNTUK BERCERMIN

"Fir'aun sudah tidak ada, Qarun telah berlalu, bangsa 'Ad dan Tsamud telah musnah. Maka tidak lain yg dimaksud oleh ayat-ayat al-Qur'an itu adalah kalian sendiri." ('Umar bin Khatthab ra.)

Kisah-kisah (sejarah) yg tercantum dalam al-Quran itu memang untuk diambil hikmahnya oleh diri, dan bukan untuk jadi alat menghakimi orang lain, karena siapapun berpotensi untuk:

- Merasa Paling Benar (seperti Firaun), dan sifat ini akan semakin berbahaya jika didukung Rasa Benci, Kekuatan dan Kekuasaan.

- Keserakahan dan Kerakusan terhadap duniawi (seperti Qarun), akan mengakibatkan rasa tidak pernah puas dan ketidakpedulian baik terhadap aturan hukum maupun empati kepada sesama.

- Kesewenang-wenangan (seperti Kaum 'Ad) ketika diberi kekuatan dan kekuasaan, sehingga kehidupan kaum yg lain jadi rusak dan porak poranda, sampai akhirnya mereka pun diadzab Allah karena menolak mentah-mentah ajakan Nabi Hud as. agar menjadi orang-orang yg baik.

- Kufur Nikmat (seperti Kaum Tsamud) ketika mereka diberi kehidupan yg berlimpah dan kemudahan, sehingga mereka pun diadzab Allah karena menolak mentah-mentah ajakan Nabi Shaleh as. agar beriman.

Kaum Tsamud ini terkenal sebagai pengukir dan pemahat bukit (batu) yg baik. Ukiran dan pahatan mereka hingga saat ini dapat ditemui di Gunung Athlab dan hampir seluruh Arab bagian tengah.

Semoga....

#ombad #tasawuf