Showing posts with label Abu Qasim Junaid. Show all posts
Showing posts with label Abu Qasim Junaid. Show all posts

19 May 2019

AKHIR KEHIDUPAN

Syeikh Abu Qasim Junaidi al-Baghdadi ra pernah ditanya tentang akhir kehidupan, lalu dia menjawab:

"Akhir Kehidupan adalah kembali ke Permulaan.”

Makna dari ucapan Beliau ini maksudnya adalah manusia itu pada mulanya berada dalam kebodohan, lalu menjadi mengetahui (makrifat), lalu kembali kepada kebingungan dan kebodohan. Dia itu bagaikan anak-anak, yang awalnya tidak tahu apa-apa, lalu menjadi pandai, dan kembali lagi pada ketidak-tahuannya.

Allah Ta’ala berfirman,

لِكَيْلا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا 

".... supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya...." (QS. al-Hajj, 22 : 5)

Syeikh Abu Qasim Junaidi al-Baghdadi ra mengatakan,

“Bila akal para pemikir sudah mencapai ujungnya dalam tauhid, akan berujung pada kebingungan.”

Artinya dalam posisi tertentu, akal itu sangat terbatas. Hanya berfungsi sebagai 'penunjuk' awal.. selanjutnya mah lewat isyarat-isyarat Hikmah.

Sebagian ulama mengatakan bahwa makhluk Allah yang paling makrifat adalah mereka yang paling bingung memikirkan-Nya.. 😀


Semoga..
#ombad #tasawuf

ABUL QASIM AL-JUNAID DAN BAHLUL

Syeikh Abul Qasim Junaid ra., nama lengkapnya Al-Junaid bin Muhammad bin al-Junaid Abu Qasim al-Qawariri al-Khazzaz al-Nahawandî al-Baghdadi al-Syafi'i (220-298 H atau 835-910 M) adalah seorang Mursyid silsilah rantai emas tarekat Qadiriyah ke-13. Al-Junaid bermursyid ke pamannya sendiri yaitu Syeikh Sirri as-Saqothi ra. (12), dari Ma’ruf al-Karkhi ra. (11), dari Abul Hasan ‘Ali bin Musa ar-Ridho ra. (10), dari Imam Musa al-Kazhim ra. (9), dst.

Tasawuf yg diajarkan Al-Junaid ini bisa dikatakan sebagai tasawuf 'moderat', didasarkan pada al-Qur’an dan Sunnah. Dan Beliau adalah seorang Fuqaha yang sufi.

**

Pada suatu waktu Beliau keluar kota Baghdad bersama beberapa orang muridnya, mencari seorang yg katanya "gila" bernama Bahlul. Akhirnya mereka ketemu Bahlul di sebuah gurun.

Bahlul : “Siapakah engkau..?”
Abu Qasim : “Aku adalah Junaid Al-Baghdadi.”
Bahlul : “Apakah engkau Abul Qasim..?”
Abul Qasim :“Iya..”
Bahlul : “Apakah engkau Syeikh Baghdadi yg memberikan petunjuk spiritual kepada orang-orang..?”
Abul Qasim : “Iya..”
Bahlul : “Apakah engkau tahu bagaimana cara makan..?”

Abul Qasim : “Aku mengucapkan Bismillah, aku makan yg ada di hadapanku, aku menggigitnya sedikit, meletakkannya di sisi kanan dalam mulutku dan perlahan mengunyahnya. Aku tidak menatap suapan berikutnya, aku mengingat Allah sambil makan, apapun yg aku makan aku ucapkan Alhamdulillah. Aku cuci tanganku sebelum dan sesudah makan.."

Bahlul : “Kau ingin menjadi guru spiritual di dunia tapi kau bahkan tidak tau bagaimana cara makan.”

Bahlul berdiri menyibakkan pakaiannya lalu ia berjalan pergi.

“Wahai Syeikh dia adalah orang gila..” kata muridnya Abul Qasim.

“Dia adalah orang gila yg cerdas dan bijak, dengarkan kebenaran darinya..” jawab Abul Qasim.

Bahlul mendekati sebuah bangunan yg telah ditinggalkan lalu dia duduk, Syeikh Junaid pun datang mendekatinya.

Bahlul : “Siapakah engkau..?”
Abul Qasim : “Syeikh Baghdadi yg bahkan tidak tahu bagaimana cara makan.”
Bahlul : “Engkau tidak tahu bagaimana cara makan, tapi tahukah engkau bagaimana cara berbicara..?”
Abul Qasim :“Iya..”
Bahlul : "Bagaimana cara berbicara..?”

Abul Qasim : “Aku berbicara tidak kurang tidak lebih dan apa adanya, aku tidak terlalu banyak bicara, aku berbicara agar pendengar dapat mengerti. Aku mengajak orang-orang kepada Allah dan Rasulullah SAW., aku tidak berbicara terlalu banyak agar orang tidak menjadi bosan, aku memberikan perhatian atas kedalaman pengetahuan lahir dan batin..”

Kemudian Syeikh Junaid menggambarkan apa saja yg berhubungan dengan sikap dan etika.

Bahlul : “Lupakan tentang makan, karena kau pun tidak tahu bagaimana cara berbicara..”

Bahlul pun berdiri menyibakkan pakaiannya dan berjalan pergi.

Murid-murid Abul Qasim berkata, “Wahai Syeikh, anda lihat dia adalah orang gila, apa yg engkau harapkan dari orang gila..?”

Abul Qasim : “Ada sesuatu yang aku butuhkan darinya, kalian tidak tahu itu..”

Syeikh Junaid lalu mengejar Bahlul lagi hingga mendekatinya.

Bahlul : “Apa yg engkau inginkan dariku, kau yg tidak tahu cara makan dan berbicara, apakah kau tahu bagaimana cara tidur..?”
Abul Qasim : “Iya aku tahu.”
Bahlul : “Bagaimana caramu tidur..?”

Abul Qasim : “Ketika aku selesai sholat ‘Isya dan membaca doa, aku mengenakan pakaian tidurku..”

Kemudian Syeikh Junaid menceritakan cara-cara tidur sebagaimana yg lazim dikemukakan oleh para ahli agama.

Bahlul : “Ternyata kau juga tidak tau bagaimana caranya tidur..”

Bahlul mau bangkit dari duduknya, tapi Syeikh Junaid menahan pakaiannya..

Abul Qasim : “Wahai Bahlul.. aku tidak tahu, karenanya Demi Allah ajari aku..”

Bahlul : “Sebelumnya engkau mengklaim bahwa dirimu berpengetahuan dan berkata bahwa engkau tahu, maka aku menghindarimu. Sekarang setelah engkau mengakui bahwa dirimu kurang berpengetahuan, maka aku akan mengajarkan padamu.

Ketahuilah, apapun yg telah engkau gambarkan itu adalah permasalahan bukan yg utama, kebenaran yg ada di belakang memakan makanan adalah bahwa kau Memakan Makanan Halal. Jika engkau memakan makanan haram dengan cara seperti yg engkau gambarkan, dengan seratus sikap pun tidak akan bermanfaat bagimu melainkan akan menyebabkan hatimu hitam.”

Abul Qasim : “Semoga Allah memberimu pahala yang besar..”

Bahlul : “Hati harus bersih dan mengandung niat baik sebelum kau mulai berbicara. Percakapanmu haruslah menyenangkan Allah. Jika itu untuk duniawi dan pekerjaan yg sia-sia maka apapun yg kau nyatakan akan menjadi malapetaka bagimu. Itulah mengapa diam adalah yang terbaik. Dan apapun yang kau katakan tentang tidur, itu juga bernilai tidak utama. Kebenaran darinya adalah hatimu harus Terbebas Dari Permusuhan, Kecemburuan dan Kebencian. Hatimu tidak boleh tamak akan dunia atau kekayaan di dalamnya. Dan ingatlah Allah ketika akan tidur.”

Syeikh Junaid kemudian mencium tangan Bahlul dan berdoa untuknya.

**

“Apabila aku telah mengetahui suatu ilmu yang lebih besar dari Tasawuf, tentulah aku telah pergi mencarinya sekalipun harus merangkak.” (Abul Qasim al-Junaid ra.)


Semoga..
#ombad #tasawuf #junaid

17 May 2019

PUASA UNTUK MUSYAHADAH

Jika dibandingkan antara Puasa dengan Shalat, maka Puasa itu untuk MUSYAHADAH dan Shalat itu untuk MUNAJAT.

Puasa menghasilkan MUSYAHADAH  (Syahada - Syahida, Penyaksian, bersaksi), pertemuan dengan Allah dengan penyaksian-Nya. Sedangkan Shalat itu MUNAJAT (merahasiakan, mendekati Allah dengan cara berdoa atau berdzikir) dan terdapat hijab/tabir yang menyertainya.

۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗ    اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ

"Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana." (QS. Asy-Syura: 51)

“Wujud Al-Haqq bersama kelenyapanmu (fana'). Salik yang mengalami Muhadharah terikat dengan ayat-ayat-Nya. Salik yang mencapai Mukasyafah dilapangkan dengan sifat-sifat-Nya. Dan salik yang memiliki Musyahadah ditemukan dengan Dzat-Nya. Salik yang Muhadharah akalnya menunjukkannya. Salik yang Mukasyafah ilmunya mendekatkannya. Dan salik yang Musyahadah ma’rifatnya menghapusnya.” (Syeikh Abu Qasim Junaid ra.)

"Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan Mujahadah niscaya Allah akan memperbaiki hatinya dengan Musyahadah." (Imam al-Qusyairi ra.)

Rasulullah SAW bersabda,

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya.”

- "Kebahagiaan saat berbuka" adalah kebahagiaan untuk jiwa hewaninya.

- "Kebahagiaan saat bertemu Tuhannya" adalah kebahagiaan untuk jiwa rasional (an-Nafs an-Natiqah), yaitu al-Latifah ar-Rabbaniyyah.

Allah adalah Dzat yang tak membutuhkan makan dan minum, dan orang yg berpuasa pun berusaha "mendekati" sifat Samdaniyyah (khusus) Allah yaitu tidak makan dan minum. Itulah kenapa pahala puasa langsung disandarkan kepada Allah. Dan tidak ada ibadah yg langsung disandarkan kepada Allah selain puasa.

“Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku Sendiri yang akan memberi imbalannya.” (HR. Muslim)

“Hendaklah kamu berpuasa, karena tidak ada yang serupa dengannya.” (HR. an-Nasa’i)


Semoga...
#ombad #tasawuf 12 #ramadhan 1440 H.

22 May 2018

KUALITAS IMAM TULEN

Pada saat Imam Abu Qasim Junaid ra. berangkat dari rumah menuju masjid untuk shalat Jum'at, orang-orang yg membenci Beliau mengguyurkan air comberan hingga membasahi baju yg dikenakan.

Diperlakukan seperti itu, Imam Junaid tersenyum kemudian berkata,

"Orang yg sepantasnya kena api neraka, hanya disiram dengan air tidak sepantasnya untuk marah."

Beliau akhirnya pulang kembali ke rumah dan meminjam kain yg dikenakan istrinya.

**

Coba lihat, bagaimana karakter seseorang dengan pangkat keulamaan yg tulen, baik sebagai seorang Imam Fiqh, Imam Tasawuf dan Wali Mursyid.

Nah, sekarang mah, kalo digituin, baru level ngustat aja, pasti dianggap Penistaan Agama, Penistaan Ulama & Kriminalisasi Ulama. Dan plus tentunya, akan ada demo berjilid-jilid. :D

Begitulah tasawuf, makin diperdalam ilmunya, makin jelaslah terlihat, banyak sekali kekurangan dalam diri sendiri. Dan bukan sebaliknya, jadi merasa diri paling benar dan tunjuk kofar-kafir ke sana sini, sementara kekufuran dalam diri tak disadarinya.


Semoga....
#ombad #tasawuf

19 January 2018

MURSYID

"... Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang Wali Mursyid." (QS. al-Kahfi : 17)

"Barangsiapa yang tidak mempunyai Mursyid, maka Setanlah yang akan menjadi gurunya." (Imam Malik ra.)

"Jika seseorang berjalan tanpa Mursyid, dia akan tersesat. Dia akan menghabiskan umurnya tanpa mencapai apa yang diharapkan." (Ibnu Athaillah ra.)

Dalam Tasawuf, para Salik yg berjalan tanpa bimbingan ruhani dari Mursyid, tidak akan atau sulit untuk membedakan mana bisikan-bisikan lembut (Hawathif) yg datang dari Allah melalui malaikat, dan mana yg dari setan atau jin.
Artinya, tanpa Mursyid sulit untuk Sampai kepada Allah (Wushul).

Dalam kitab al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Ayyad, ditegaskan, -- dengan mengutip ungkapan Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily ra, -- bahwa syarat-syarat seorang Syeikh atau Mursyid yg layak (minimal) ada lima:

1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai.
5. Memiliki matahati yg tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.

Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:

1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan umat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhlak buruk tanpa peduli dengan perilakunya.

Syeikh Abu Madyan ra. menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah SWT, lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang Pendusta Ruhani :

1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan taat kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhluk.
4. Kontra terhadap Ahlullaah.
5. Tidak menghormati sesama umat Islam sebagaimana diperintahkan Allah SWT.

Mursyid itu :

1. Syaikh al-Iradah, yaitu tingkat tertinggi dalam thareqat yg iradahnya (kehendaknya) telah bercampur dan bergabung dengan hukum tuhan, sehingga dari Syaikh itu atau atas pengaruhnya orang yg meminta petunjuk menyerahkan jiwa dan raganya secara total.

2. Syaikh al-Iqtida’, yaitu guru yg tindak tanduknya sebaiknya ditiru oleh murid, demikian pula perkataan dan perbuatannya.

3. Syaikh at-Tabarruk, yaitu guru yg selalu dikunjungi oleh orang-orang yg meminta petunjuk, sehingga berkahnya melimpah kepada mereka.

4. Syaikh al-Intisab, yaitu guru yg atas campur-tangan dan sifat ke-bapak-annya, maka orang yg meminta petunjuknya akan beruntung, lantaran bergantung kepadanya. 

5. Syaikh at-Talqin, yaitu guru ruhani yg mengajar setiap individu anggota thariqat dengan berbagai do’a atau wirid yg selalu harus diulang-ulang.

6. Syaikh at-Tarbiyah, yaitu guru yg melaksanakan urusan-urusan para pemula dari pengamal thariqat.


علمناهذا مقيد بالكتاب والسنة فمن لم يقرأ القران ولم يكتب الحديث ولم يجالس العلماء لايقتدى به فى هذا لشأن


“Ilmu kita ini (tarekat) terikat oleh al-Qur'an dan as-Sunnah. Siapa saja yang belum belajar al-Qur'an dan as-Sunnah dan tidak pula pernah duduk di depan para Ulama (untuk menuntut ilmu) orang tersebut tidak boleh diikuti di dalam tingkah laku tarekat ini.” (Syeikh Abu Qasim Junaidi ra.)


ومن شرائط الشيخ ان يكون عالما بالاوامر الشرعية عاملا بهاواقفا على اداب الطريقة سالكا فيهاكاملا فى عرفان الحقيقة وواصلا اليهاومحرصا عن جميع ذلك


“Diantara syarat guru Tarekat adalah alim atas perintah-perintah Syara`, mengamalkannya, tegak di atas Adab-adab tarekat serta berjalan di dalamnya, sempurna pengetahuannya tentang Hakekat dan sampai pada hakekat itu serta IKHLAS dalam semua hal tsb." (Syeikh Hasyim Asy'ari ra.)

"Buruk sekali bagi orang yg belum belajar ilmu-ilmu. Belum mengetahui yg Maujud dan Ma'dum. Tidak pula mengerti hukum Islam. Tidak pula mengetahui seluruh hukum-hukum. Juga tidak tentang ketetapan, ilmu Ushuluddin dan Nahwu. Demikian pula tidak mengetahui ilmu al-Qur'an, Pidana dan Burhan. Dan tidak pula mendayakan ilmu Hal. Dan juga tidak mengerti tentang martabat para guru. Serta tidak mengetahui rahasia ilmu Nasakh dan Mansukh. Sungguh buruk sekali orang demikian itu apabila ia menduduki martabat para Syeikh." (Syeikh Ahmad at-Tajibi ra., kitab Mabaahisul Ashliyah)

Syeikh Hasyim Asy`ari mengatakan, betapa buruk gambaran seseorang yg mengaku menjadi guru tarekat, sementara belum mendalami semua ilmu sebagaimana tsb di atas. Beliau menyarankan kepada kita, jika belum menemukan guru seperti kriteria yg telah disebutkan pada syarat di atas, maka seseorang boleh mencukupkan diri dgn mendalami kitab Sullam Taufiq, Safinah, Bidayah dan lainnya.


Semoga...
#ombad #tasawuf #mursyid