03 February 2018

TAWADHU ATAU AROGAN

Kalau pingin paham perbedaan antara PEMIMPIN yg Tawadhu dengan pemimpin yg arogan (besar kepala), maka kisah di bawah ini bisa dijadikan rujukan.

Pemimpin dalam kisah ini terkenal selain sebagai Khalifah, Amirul Mukminin, Imam, Silsilah Emas Kemursyidan, Gerbang Ilmu, dan banyak lagi gelar yg menunjukkan kualitas keimanannya.

Suatu hari....
Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. akhirnya mengetahui dan menemukan baju zirahnya yg dicuri oleh seorang Yahudi.

Jika ingin menggunakan pengaruh dan kekuatan kekuasaannya sebagai seorang Khalifah, tentu sangat mudah untuk merebut, memaksa, dan main hakim sendiri. Meskipun sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, ia tidak main hakim sendiri. Tapi apa yg dilakukan Beliau...?

Akhirnya Beliau pun mengajak si orang Yahudi tersebut menyelesaikannya di Pengadilan, dan terjadilah persidangan yg adil.

Dengan hanya ditemani anaknya (Hasan), ia menghadap hakim, dan akhirnya sidang memutuskan baju zirah itu tetap milik si yahudi karena 'Ali kekurangan saksi. Soalnya saksi yg ia miliki hanya anaknya dan pekerjanya, sehingga ditolak oleh pengadilan karena dianggap punya hubungan pribadi dengan si pelapor.

Dan dengan santun Khalifah 'Ali pun menerima hasil putusan pengadilan, padahal Beliau tahu persis bahwa baju zirah itu dicuri darinya.

Coba bayangkan, tidak ada kemarahan, tidak ada protes, tidak ada demo sampai teriak-teriak di jalan, tidak ada kemurkaan, dan tidak ada pengerahan ribuan simpatisan pendukung untuk intervensi atau memberi tekanan persidangan meskipun ia tahu ia benar.

Nah, seperti itulah salah satu contoh kualitas seorang Pemimpin yg patut diteladani, yaitu menjunjung hukum yg adil dan setara bagi semua warga apapun agama dan keyakinannya.

Dan seperti itulah kualitas seorang Imam... yg sudah terbukti baik dari sisi kualitas keilmuannya maupun dari kualitas pribadinya.

Semoga...
#ombad

SULITKAH BERSIKAP ADIL..?

Berlaku ADIL itu mudah diucapkan tetapi sangat sulit dilaksanakan.

Misal, ketika dalam sebuah persidangan, siapapun yg jadi terdakwa akan berusaha membela dirinya. Jadi suatu kewajaran jika seorang terdakwa selalu berusaha mengejar bukti-bukti yg meringankan dirinya.

Hanya kadang seperti layaknya sebuah pertandingan bola, masing-masing suporternya bersitegang saling membela tim kesukaannya. Banyak suporter yg tidak objektif melihat pertandingan tim kesukaannya, karena yg dicari hanya skor dan kemenangan tim yg disukainya.

Itulah kenapa bersikap Adil itu sedemikian sulit karena yg dijadikan pijakannya masih SELERA, bukan objektivitas.

Memang salah satu faktor yg merusak sikap Adil itu adalah subjektivitas, sebutlah "Selera", dan "selera" yg dimaksud adalah hawa nafsu. Ayat di bawah menerangkan bahwa salah satu "selera" itu adalah "kebencian" atau rasa benci. Subjektivitas.

"Wahai orang-orang yg beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yg selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan Adil. Dan janganlah Kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku Adil..." (QS. Al-Maidah: 8)

Dan begitupun, jangan karena rasa suka atau cinta yg berlebihan yg dijadikan patokan dalam menakar sesuatu. Objektif karena Allah (Kebenaran). Lihat juga QS. An-Nahl: 90.

Sy pernah posting kisah pengadilan antara Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib dengan pencuri baju zirahnya, dan Beliau tetap kalah di pengadilan karena kurangnya bukti-bukti meski pada saat itu Beliau sebagai seorang Khalifah.

Suatu hari....
Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. akhirnya mengetahui dan menemukan baju zirahnya yg dicuri oleh seorang Yahudi.

Jika ingin menggunakan pengaruh dan kekuatan kekuasaannya sebagai seorang Khalifah, tentu sangat mudah untuk merebut, memaksa, dan main hakim sendiri. Meskipun sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, ia tidak main hakim sendiri. Tapi apa yg dilakukan Beliau...?

Akhirnya Beliau pun mengajak si orang Yahudi tersebut menyelesaikannya di Pengadilan, dan terjadilah persidangan yg adil.

Dengan hanya ditemani anaknya (Hasan), ia menghadap hakim, dan akhirnya sidang memutuskan baju zirah itu tetap milik si yahudi karena 'Ali kekurangan saksi. Soalnya saksi yg ia miliki hanya anaknya dan pekerjanya, sehingga ditolak oleh pengadilan karena dianggap punya hubungan pribadi dengan si pelapor.

Dan dengan santun Khalifah 'Ali pun menerima hasil putusan pengadilan, padahal Beliau tahu persis bahwa baju zirah itu dicuri darinya.

Adil kah pengadilannya sayyidina 'Ali tersebut...? Ataukah Beliau dan para pendukungnya merasa didzalimi oleh hakim di pengadilan (ket. sistem peradilannya sudah sesuai syariat dan sayyidina 'Ali pun ikut membuat sistemnya)...? Padahal si hakimnya itu kan bawahannya ya..? Apalagi pihak sayyidina 'Ali itu yg benar, tapi dalam tataran peradilan publik, ada hal-hal lain yg jadi pertimbangan hukum.

Lihat Kaidah Ushul Fiqh ini:

الاصل براة الذمة

"Hukum asal itu tidak adanya tanggungan."

Maksudnya, seorang yg didakwa (Mudda’a ‘alaih) melakukan suatu perbuatan, lalu bersumpah bahwa ia tidak melakukan perbuatan tersebut. Maka ia tidak dapat dikenai hukuman, dan terbebas dari segala tanggung jawab. Permasalahan kemudian dikembalikan kepada yg mendakwa (Mudda’i).

Artinya apa?
Penegakan Keadilan dalam suatu sistem peradilan itu butuh hal-hal yg meyakinkan, apakah itu saksi-saksi yg adil dan juga bukti-bukti yg cukup. Jadi bukan masalah Selera (benci atau cinta).

Kenapa?
Karena yg didakwa (Mudda’a ‘alaih) pun punya hak untuk mendapat Keadilan. Jadi jangan sampai di satu sisi menyelamatkan suatu pihak, tapi di sisi yg lain mengorbankan Keadilan. Dzalim itu namanya.

Silahkan renungkan...

Semoga.....
#ombad #tasawuf

RASA TAKUT

Dalam kitab Minhajul Abidin, Imam Ghazali ra. mengutip perkataan Syeikh Sahal berikut,

"Sempurnanya IMAN seseorang itu dengan ILMU, dan sempurnanya ilmu adalah dengan TAKUT. Tidak cukup iman seseorang bila tidak disertai ilmu, dan tidak cukup ilmu seseorang jika tidak punya perasaan takut."

Bagi para salik pun sama, rasa takut dalam diri ini bisa muncul dan "membesar", meski hal-hal yg ditakutinya dianggap sepele oleh orang di sekitarnya.

Biasanya Rasa Takut ini awalnya akan berhubungan dengan hal-hal yg bersifat lahiriah, seperti : materi, status, jabatan, karir, penyakit, dsb. 

Lalu selanjutnya berhubungan dengan hal-hal yg bersifat batiniah, seperti : kesesatan, kemusyrikan, kekafiran, dsb.

Sampai akhirnya, proses "perjalanan" rasa takut ini mengalami puncaknya yaitu mengalami "Laa haula wa laa quwwata illa billaah.." .. Suatu tanda kelemahan sebagai makhluk Tuhan, dan tentunya "pengalaman" ini disertai dengan Rasa Harap (roja') akan Rahmat Tuhan, sampai pada kondisi "setiap kehendak dan gerak" adalah Rahmat dari-Nya.

Artinya rasa takut (khauf) adalah syarat keimanan kepada Allah SWT, dan tentunya akan bersamaan dengan rasa harap (roja').

Dan "proses" di atas, tersirat dalam ayat :

"Hanya hamba Allah yang berilmu saja yang dapat mempunyai perasaan takut kepada Allah." (QS. Fathir: 28)

Takut miskin itu bagus, tetapi jika gara-gara takut miskinnya menyebabkan korupsi, itu namanya rasa takutnya tidak disandingkan dengan rasa harap (roja') atas Rahmat dan Karunia Allah, ya jadi salah, atau dengan kata lain "tidak beriman".. dan begitu pun dengan rasa takut yg lainnya.

Semoga....
#ombad #tasawuf

MEMBERI VS MEMINTA

MEMBERI akan menimbulkan pengaruh yg positif kepada tubuh daripada MEMINTA.. kenapa..?

Tuhan telah mendesain tubuh manusia itu sempurna, dalam arti "cukup sesuai kebutuhan" dan "mandiri".. dan alam semesta pun akan ikut menyelaraskan "kecukupan" dan "kemandirian" nya.

Komposisi tubuh pun seimbang, baik dari segi unsur maupun rasa/psikologis. Unsur tanah diimbangi oleh ketiga unsur yg lainnya, yaitu : air, api dan angin. Begitupun dalam masalah rasa (psikologis, sifat), seperti ; rasa gembira - rasa sedih, bahagia - derita, sehat - sakit, rajin - malas, dsb.

Kesetimbangan tubuh ini harus bisa dan akan "mandiri" dengan sendirinya tanpa harus "disuntik" secara paksa dari luar tubuh.

Misal, dalam urusan kebahagiaan, tidak perlu si tubuh ditambah atau dimasukan hormon endorfin dari luar, meski hormon ini bertanggung jawab dalam peningkatan rasa bahagia atau rasa senang. Dan secara biokimia, memang fungsi hormon endorfin yg berada di daerah hipotalamus (tengah kepala) ini akan menstimulus rasa senang dan gembira. Tapi tidak tepat jika kita menyuntikkan endorfin ke dalam tubuh dengan tujuan untuk mengantisipasi dan menghilangkan rasa sedih atau derita.

Jika hal ini dilakukan terus-menerus, maka sistem keseimbangan tubuh akan rusak, seperti halnya para pecandu narkoba.

Hakikatnya tubuh kita ini tidak bisa menerima sesuatu (zat-zat) dari luar tubuh kecuali dalam kondisi darurat, karena tubuh kita ini sudah kaya ("berkecukupan"), yg telah didesain dan diciptakan Tuhan "dalam sebaik-baik bentuk" (ahsani taqwim). Artinya, standar penciptaan manusia sudah memenuhi standar kelayakan agar mampu menjalani kehidupan dan menjadi khalifah alam semesta.

Masa anda sedih harus minum ekstasi terus biar happy..? Masa anda sulit tidur harus minum obat penenang terus biar bisa tidur..? Lama-kelamaan akan rusaklah tubuh.

Jika "suntikan" dari luar seperti itu dilakukan, maka akan rusaklah sistem kemandirian tubuh, akan porak-poranda standar kelayakannya, dan pada akhirnya rusak juga sistem kesetimbangannya. Padahal tubuh kita bisa "dilatih" agar bisa "mandiri", "seimbang" dan bisa memenuhi standar kelayakannya dengan optimal.

Itu makanya ada yg "tersirat" dari ucapan Rasulullah SAW ini,

مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.

Seseorang yang senantiasa meminta-minta kepada manusia sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Meminta-minta adalah seperti seseorang mencakar wajahnya sendiri kecuali jika ia meminta-minta pada penguasa atau pada perkara yang benar-benar ia butuh.” (HR. Tirmidzi, Ahmad & Nasa'i)

"Meminta" dalam Hadist di atas, secara tersirat menggambarkan "mengemis" nya tubuh kita agar "disuntik" sesuatu, yg ujungnya merusak sistem keseimbangan dan sistem kemandiriannya.

Itulah kenapa "memberi" lebih utama daripada "meminta".. tangan di atas lebih utama daripada tangan di bawah. Seperti kata pepatah, jika anda ingin bahagia, maka bahagiakanlah orang lain. Jika anda ingin sehat, maka jangan membuat sakit orang lain. Esensi dari zakat ataupun sedekah. Sharing.

Semoga...
#ombad #tasawuf

01 February 2018

CERMINAN ITU BERBEDA

"Perempuan adalah saudara kandung laki-laki,
Di alam ruh dan dalam tubuh kasar,
Keduanya satu dalam eksistensi
Itulah manusia,
Perbedaan antara mereka aksiden semata,
Perempuan dan laki-laki memang beda."

(Ibn Arabi, Futuhat Makiyyah)

Pada diri perempuanlah laki-laki dapat merenungkan keilahian. Ketika laki-laki merenungkan al-Haqq (Tuhan) dalam dirinya sebagai wujud yg darinya perempuan diciptakan, maka (berarti) dia merenungkan Tuhan dalam modus yg Aktif.

Namun bagaimanapun juga, jika dia merenungkan Tuhan dalam dirinya tanpa mereferensi pada perempuan, maka dia merenungkan al-Haqq (Tuhan) dalam modus Pasif.

Pada diri perempuan, dia dapat merenungkan Tuhan baik dalam peran Aktif maupun Pasif.

Jadi kalau LGBT ??! Ya tidak sesuai fitrah seperti di atas.. 😂

Itu makanya menurut Ibn Arabi ra., perempuan bisa menjadi sarana untuk mencapai Tuhan.. (bukan dalam konteks maksiat.. 😁)

Cinta laki-laki kepada perempuan dan keinginan bersatu dengannya adalah simbol kecintaan dan kerinduan manusia kepada Tuhan dan sebaliknya. Dalam cinta perempuan terdapat cinta kepada Tuhan, dan esensi cintanya kepada Tuhan.

Dari Anas ra. berkata, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda;

Tiga hal dari dunia ini dibuat memikat padaku, yaitu: kaum perempuan, wewangian, dan kesejukan mataku ketika shalat.” (HR. Nasa’i)


Semoga...
#ombad #tasawuf

TANPA MURSYID....?

Dalam mengarungi lautan spiritual, selalu ada jebakan ilusi/fantasi. Sangat sulit untuk membedakan mana fenomena (pengalaman) yg asli, mana yg palsu.

Ada kemiripan, misal di "posisi" 2.4 dengan di 5.4 atau 6.4 atau 7.4 ... mana yg di 2, di 5, di 6 atau di 7 ..? Pasti membingungkan, malah banyak yg tertipu, menyangka sudah di lantai 7 padahal baru di lantai 3...

Indikator untuk membedakannya sangat bergantung pada Kebeningan Qalbu, dalam hal ini hubungannya dengan Shiddiqiyyah. Atau dengan bahasa lain, membedakan mana yg baik atau mana yg ilusi itu hanya bisa dilihat dari posisi Shiddiqiyyah. Artinya, sebagai seorang pejalan (salik) yg belum memasuki Shiddiqiyyah, akan sangat sulit untuk bisa membedakannya, dan itulah kenapa diperlukan seorang Mursyid sebagai penunjuk jalannya. Kenapa? Karena seorang Mursyid telah mencapai maqam tersebut.

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

"...Barangsiapa yg diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yg mendapat petunjuk; dan barangsiapa yg disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang Wali Mursyid (pemimpin yg dapat memberi petunjuk kepadanya)." (QS. Al-Kahfi: 17)

Jadi, perjalanan spiritual itu bukan sekedar naik saja, tetapi berhubungan dengan terintegrasinya pemahaman baik dalam konteks Syariat, Thariqat, Hakikat maupun Makrifat. Suatu kelengkapan pemahaman secara multidimensi, secara holistik, baik aspek lahiriah maupun batiniah, baik aspek vertikal maupun horizontal.

Secara esensi, aspek integrasi ini "tersirat" dalam ucapan Imam Syafi'i ra. berikut ini:

"Seseorang tidak diperkenankan memberi fatwa kecuali dia mengetahui Al-Quran dan Hadist Nabi secara lengkap, termasuk ayat-ayat yg telah dihapus, dan ayat-ayat yg menghapusnya, dan ayat yang mirip satu sama lain, dan apakah surah itu diturunkan di Mekah atau di Madinah.

Dia harus mengetahui seluruh koleksi Hadist Nabi, baik yg otentik maupun yg palsu. Dia harus memahami bahasa Arab pada masa Nabi beserta gramatika dan keistimewaannya, serta mengetahui puisi-puisi Arab.

Di samping itu, dia harus mengetahui kebudayaan berbagai masyarakat yg tinggal di berbagai tempat. Jika seseorang memiliki seluruh pengetahuan itu dalam dirinya, ia boleh berpendapat bahwa ini halal dan itu haram. Jika tidak, maka ia tidak punya hak untuk mengeluarkan fatwa."

Semoga....
#ombad #tasawuf

TEKO KOTOR

Melakukan ibadah shalat itu baik dan ketika bisa jadi imam shalat itu lebih baik lagi, yg tidak baik itu orang yg merasa lebih baik dan merasa bisa menilai keimanan dan niat dalam hati.. Kenapa ada orang yg seperti itu..?

Karena dalam hati/dirinya masih banyak keburukan, dan keburukan hatinya ini mengalahkan kebaikannya, sehingga tidak ada kebaikan yg pantas keluar dari mulutnya, atau dengan kata lain, sisi baiknya masih kalah oleh sisi buruknya. Hatinya masih kalah oleh nafsunya.

Bukankah teko yg kotor akan mengeluarkan air yg kotor pula, meski pada awalnya air tersebut adalah air bersih..?

Ketika kondisi hatinya seperti itu, bisa saja akan menjadi penghalang (hijab) untuk bisa diterima ibadah shalat (dan ibadah-ibadah lainnya) oleh Allah SWT.. karena Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi itu tidak menyukai makhluk-Nya yg merasa lebih suci dan merasa lebih tinggi dari makhluk-Nya yg lain.

Artinya jika ada makhluk-Nya yg seperti itu, mungkin saja merupakan golongan yg sangat kotor dan sangat rendah kualitasnya, meski dirinya tidak menyadarinya dan tetap merasa lebih suci dan lebih tinggi derajatnya.

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Semoga...
#ombad #tasawuf

31 January 2018

SENANG CARI KAMBING HITAM

Suatu hari seorang anak kecil nabrak meja di rumahnya, lalu terjatuh dan menangis. Tak lama kemudian orang tuanya menghibur,

Wah, mejanya nakal ya..!” Lalu dipukulnya meja itu.

Atau ketika sedang di luar, kalau anak itu tersandung, jatuh, dan menangis,

Oh, kamu tersandung nak.. Batu nakal..!”, kata orang tuanya, lalu dilemparnya batu itu jauh-jauh.

Hal-hal seperti di atas, tanpa disadari terekam oleh si anak, sampai akhirnya ketika ia melakukan kesalahan, bukan dia yg harus bertanggung jawab dan ada sesuatu yang harus disalahkan.

Makin ia besar, “sesuatu yg harus disalahkan” itu bukan hanya sebuah benda mati, tapi juga orang.

Itulah makanya, begitu sulit ber-introspeksi dan memperbaiki diri karena terbiasa menyalahkan orang lain. Terbiasa mencari kambing hitam.

Ketika ada suatu kasus buruk yg terbuka dan diketahui publik, maka ramailah para pemburu kambing hitam mencari kambing hitam, seperti: "Pengalihan Isu", "Komunis", "Didzalimi", bahkan yg paling parah, Tuhan pun bisa dijadikan kambing hitam.

Jadi yg pasti, ada sesuatu pembelajaran yg mesti kita ambil ketika Tuhan sedang "memperlihatkan" sesuatu berupa "teguran keras" baik kepada diri sendiri ataupun lewat orang lain. Mungkin kita semua harus segera sadar, bahwa selama ini banyak dari kita yg terbius asesoris dan tampilan luar, serta masih tetap dalam ilusi, mimpi dan tidur.

Mudah-mudahan nasehat ini bisa menyadarkan kita semua,

"Jangan melihat penampilannya, tapi lihatlah kelakuannya." (Dr. H. Patrialis Akbar)

Semoga.....
#ombad #tasawuf

GALAU...?

Anda sedang galau, sedih, murung, rindu, atau gundah gulana...?

Ada cara yg diajarkan Rasulullah SAW. Menurut berbagai riwayat, Rasul pun pernah galau, merasa susah, sedih, bingung, dsb. Dan ketika Rasul sedang sedih dan galau, maka Rasul pun membaca surah Yusuf. Hasilnya, Rasul akan merasa lebih tenang, lebih ringan, serta rasa sedih dan susahnya pun jadi berkurang.

Hal ini ada hubungannya dengan Asbabun Nuzul dari surah Yusuf yg diturunkan sewaktu Tahun Kesedihan (‘ammul huzni). Tahun dimana istrinya (Khadijah rah.) dan pamannya (Abu Thalib) wafat. Seperti kita tahu, mereka berdua adalah orang yg paling dekat, paling berpengaruh dan sangat dicintai dalam kehidupan Rasulullah, serta merupakan pendukung utama dakwahnya.

Hal lainnya, kandungan surah Yusuf itu bisa dibilang "lebih lengkap" temanya, dimana Nabi Yusuf as. menghadapi berbagai masalah dalam kehidupannya, buah dari kesabaran, terbebas dari kesulitan, buah dari iman, buah dari kemenangan, dan buah dari kebahagiaan.

Jadi kalau sekarang mah mirip sebuah "biografi kesuksesan". Ada urusan intrik politik, pengkhianatan, kerja keras, kesabaran, perjuangan dan doa, keberhasilan, liku-liku wanita dan kecantikannya, kecemburuan, romantisme cinta, dsb. Pokoknya nano-nano aja... :D

Apalagi kalau yg membacanya itu memahami tafsirnya, plus batinnya sudah terbuka (kasyf), semakin terasa seperti sedang "menonton film di bioskop", ahh... bisa terbawa suasana yg mengharu-biru dan menghanyutkan berbagai macam perasaan, seperti dibawa masuk ke suatu dimensi "kehidupan" masa lalu, ikut merasakan pahit getir manisnya kehidupan.... khususnya keindahan rasa rindu, asmara dan cinta... dan indahnya itu adalah... semuanya happy ending.

Oohhhh..... 😍 😍

Semoga....
#ombad #tasawuf

30 January 2018

SYARIAH MODE

Saat ini kata "SYARIAH" sudah banyak dipakai untuk dagang... Menjadi sebuah strategi Bisnis.

Apakah itu Bank, Laundry, cafe,  baju, celana, sendal... bahkan sampai ke odol .. 😂

Kata "Syariah" yg esensinya menuju lillaahi ta'ala pun mulai terdistorsi dan mudah-mudahan tidak sampai membodohi.. Ujungnya mirip aja, ada uang... ehh udang dibalik syariah.

Agak mirip dengan orang/kelompok yg suka teriak-teriak "Saat ini kata "SYARIAH" sudah banyak dipakai untuk dagang... Menjadi sebuah strategi Bisnis.

Apakah itu Bank, Laundry, cafe,  baju, celana, sendal... bahkan sampai ke odol .. 😂
Kata "Syariah" yg esensinya menuju lillaahi ta'ala pun mulai terdistorsi dan mudah-mudahan tidak sampai membodohi.. Ujungnya mirip aja, ada uang... ehh udang dibalik syariah.

Agak mirip dengan orang/kelompok yg suka teriak-teriak "kembali ke al-Quran dan Sunnah" kepada orang/kelompok yg berbeda dgn dirinya padahal agamanya sama. Ada marketing dibalik "kembali..."

***
Delima diantara Arak bermerk "Sajadah" dan Jus Jeruk bermerk "Babi"... 😂" kepada orang/kelompok yg berbeda dgn dirinya padahal agamanya sama. Ada marketing dibalik "kembali..."

***

Delima diantara Arak bermerk "Sajadah" dan Jus Jeruk bermerk "Babi"... 😂

Semoga...
#ombad #tasawuf

UNCONSCIOUS BIAS

Dalam postingan sy seringkali muncul kata BIAS ketika berbicara tentang Kesadaran atau Spiritual dalam beragama. Salah satu bentuk dari BIAS adalah merasa paling benar atau merasa paling beriman. Mengapa ada perasaan seperti itu..? Karena merasa sudah melakukan hal-hal yg "baik" sesuai kriteria agama, seperti berdoa, shalat, puasa, dsb.

Ketika aspek ritual/agama hanya berhenti di tataran "dosa" ataupun "pahala" saja, ada kemungkinan ia "berhitung" hal-hal yg telah dilakukannya. Dan karena sifat manusia itu suka melakukan "pembenaran" maka bisa saja ia membenarkan tindakan buruknya dengan alasan "baik" (menurut pendapatnya sendiri), serta merasa telah banyak berbuat hal yg "baik". Dalam pikiran dan perasaannya, tindakan buruk yg dilakukannya bisa "ditebus" dengan simpanan pahala "baik" nya yg sudah dikerjakan bertahun-tahun. Ia merasa punya "moral licensing".

Itu makanya jangan aneh jika ada yg terlihat religius tetapi justru cenderung kurang bermoral karena adanya "moral licensing".

Bisa kita lihat, banyak yg korup itu bukan yg miskin dan bukan yg tidak punya agama, malah mereka kaya bahkan paham betul tentang agama. Bahkan yg lebih parah, "Unconscious Bias" ini juga mendistorsi kepercayaan mereka, sehingga berkeyakinan bahwa tindakan korupsi/gratifikasinya itu bukan termasuk hal yg religius, tetapi lebih ke aspek "biasa" dalam jabatan dan bisnis. Jadi aja jika ketahuan, alasannya pun hanya sebatas nasib sial, atau ujian semata, atau bahkan merasa didzalimi.

Memang kalau secara hitungan, pada dasarnya :

- Baik = Pahala > Dosa.
- Buruk = Pahala < Dosa. 

Tetapi "baik" sesuai hitungan di atas belum tentu masuk "kebaikan" secara kaffah. Gak percaya? Membangun mesjid itu baik, tapi jika uangnya hasil korupsi, tentu bukan merupakan Kebaikan. Dan juga, apakah kita bisa menghitung urusan besarnya Pahala dan Dosa...? Mana yg lebih besar, pahala atau dosanya? Hanya Allah SWT yg tahu.

Itulah kenapa ada ayat "fastabiqul khairaat" (berlomba-lomba berbuat Kebaikan), dan bukan sekedar berlomba berbuat pahala. Kenapa? Karena Kebaikan ini lebih luas jangkauannya, bukan hanya Kebaikan untuk diri sendiri saja, tetapi juga Kebaikan yg bisa dirasakan semua makhluk-Nya, baik dalam ibadah sosial, muamalah, etika moral maupun adab.

Satu hal lagi, Allah SWT itu tidak butuh pahala makhluk-Nya, tetapi tujuan manusia diturunkan ke dunia ini supaya bisa jadi khalifah dalam menyebarkan Kebaikan untuk seluruh makhluk-Nya, agar bisa hidup dalam Kebaikan, Keselamatan, Kedamaian dan Rahmat-Nya.


Semoga....
#ombad #tasawuf

29 January 2018

MENYONGSONG ERA ABUNDANCE

MOVE-ON dari Era DISRUPTION, Menyongsong Era ABUNDANCE

"A good Golfer plays where the ball is, but A great Golfer plays where the ball going to be." (Earl Wood)

Era DISRUPTION adalah di mana bolanya sekarang.
Era ABUNDANCE adalah ke mana bolanya akan menuju.

Kalau anda masih juga membahas wacana dan menghabiskan waktu anda bicara era Disruption, anda akan jadi pemain yg baik. Tapi jika anda menginginkan jadi pemain yg sukses besar (hebat), anda harus arahkan energi pikiran dan ikhtiar untuk menyongsong era Abundance.

Biar jelas, kita bahas dulu, apa yg dimaksud dengan era DISRUPTION (penghancuran) vs era ABUNDANCE (keberlimpahan).

Ini berawal dari thesis Ray Kurzweil, Co-Founder Singularity University. Di tahun 1999 beliau menulis buku "The Age of Spiritual Machines" dan mengeluarkan thesis tentang "The Law of Accelerating Return".

Menurut penelitian beliau, Law of Moore tidak hanya berlaku dalam 50 tahun terakhir, tapi polanya telah hadir sejak 120 tahun terakhir, di mana teknologi bergerak secara eksponensial. Artinya, kecepatan prosesor komputer, daya tampung hard disk, dan segala hal yg disentuh keajaiban teknologi informasi, berlipat dua setiap 18 bulan, atau jadi lebih murah setengahnya.

Maka itu sebabnya, gabungan teknologi yg ada di HP anda sekarang ini, harganya 1/10.000 dari 25 tahun lalu, dimana saat itu total harganya sekitar 1 juta dolar = Rp. 14 Milyar (karena di situ ada GPS, gyroscope, mesin fax, video recorder, radio, TV, kamera foto, ensiklopedi, kamus, telepon, scannner. dll).

Co-founder Singularity University yg satunya, Peter Diamandis, membuktikan bahwa KEMAJUAN TEKNOLOGI secara eksponensial ini melalui 6 tahapan, dan disebut dengan "6D OF EXPONENTIAL GROWTH", yaitu:

1. DIGITALIZATION (Transformasi dari analog menuju digital di hampir semua sektor)

2. DECEPTION (Banyak orang terlena karena awalnya kelihatan pelan dan cuman riak-riak kecil, sampai pertumbuhan eksponensialnya menyentuh “knee of the curve” alias “titik lejit”)

3. DISRUPTION (Titik lejit menjadi reaksi atom yang mengguncang kemapanan. Ini yang sedang kita ributkan sekarang dan bikin banyak orang dan perusahaan panik. Tapi ini hanya fase transisi menuju 3D terakhir)

4. DEMATERIALIZATION (semua produk kehilangan wadah fisik untuk ditransfer di “Cloud” alias awan digital tak bertepi.

5. DEMONETIZATION (Di dalam “awan digital” tempat menyimpan segala hal itu hampir semua biaya jadi turun drastis. Buku, musik, film, ilmu, informasi, komunikasi, dll tiba-tiba jadi membludak volumenya, dan makin lama makin murah harganya)

6. DEMOCRATIZATION (Pada puncaknya, karena semua serba berkelimpahan dan berbiaya minimal sekali, maka terjadilah era ABUNDANCE atau disebut “Free Economy” dan “Sharing Economy”.

Free Economy ini sudah dimulai: Kirim surat gratis (email), Telpon interlokal gratis (WA call), Sekolah gratis (khannacademy), Kuliah gratis (coursera), Buku gratis (pdfdrive.net), Film dan musik gratis (youtube), Rekaman ceramah, seminar dan training gratis (youtube), Disain gratis (canva), dsb.

Dan keGratisan (atau minimal harga murah sekali sehingga terjangkau untuk semua orang) ini makin lama akan makin masif, karena akan menular ke segala bidang yang lain, terutama energy, air, makanan, barang-barang, transportasi dan kesehatan.

Diperkirakan Free Economy akan hampir meliputi segala hal saat terjadi yg disebut era SINGULARITY, yaitu saat kecepatan processing komputer seharga 1000 dolar Amerika sudah menyamai kemampuan prosessing otak manusia (10 terabyte/second).

Kalaupun perusahaan dan pekerjaan anda saat ini sedang, atau akan tergulung habis oleh para disruptor, mestinya anda tidak perlu pesimis, takut atau marah. Mestinya anda bahagia karena revolusi teknologi ini insyaAllah akan berakhir indah. Dan pekerjaan anda yg hilang itu cuman sebuah pertanda bahwa anda harus segera punya keahlian baru, kreativitas baru dan pekerjaan baru yg sesuai dengan kebutuhan zaman.

Era DISRUPSI yg penuh gejolak ini adalah era transisi yg harus diterima dengan semangat dan optimisme, sebelum kita masuk era ABUNDANCE.

Nah.. Pertanyaan paling pentingnya sekarang:

1. Peluang apa aja yg akan hadir di era Abundance..?

Kemampuan menangkap peluang ini akan menentukan anda akan menjadi The Have atau Super Have (tenaaang saja, masa yg akan datang tidak akan ada yg jadi “The Have Not” yg kelaparan atau kurang sandang, pangan, papan).

2. Apa saja yg perlu anda persiapkan untuk menangkap peluang-peluang dahsyat ini..?

Siapkan diri, keluarga dan perusahaan anda saat era itu belum datang. Jangan baru siap-siap saat dia sudah datang (seperti kasus demam “era disruption” saat ini). Belajarlah berenang sebelum banjirnya datang.

3. Apa saja efek samping yang akan terjadi, dan bagaimana kita mengatasinya bersama-sama..?

Tentu saja seperti segala hal baik yg lain, kita tidak boleh tutup mata bahwa akan ada efek samping yg perlu kita antisipasi. Tapi tidak perlu khawatir berlebihan, umat manusia selalu berhasil mengatasi tantangan zamannya masing-masing.

Sumber:
Ahmad Faiz Zainuddin, Warwick Business School UK, dan Alumni Singularity Univ, Silicon Valley, CA
**

Selalu Optimisme, karena umat manusia selalu berhasil mengatasi tantangan zamannya masing-masing.