Showing posts with label Khawarij. Show all posts
Showing posts with label Khawarij. Show all posts

04 May 2019

DIALOG IBN ABBAS VS KHAWARIJ

Ibn Abbas ra. berkata,

“Orang-orang Khawarij memisahkan diri dari Ali ra., berkumpul di satu daerah untuk memberontak kepada Khalifah. Ketika itu, jumlah mereka 6.000 orang. Semenjak Khawarij berkumpul, setiap orang yg mengunjungi 'Ali ra. berkata --mengingatkannya--, “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang Khawarij telah berkumpul untuk memerangimu.”

'Ali bin Abi Thalib kw. menjawab, “Biarkan saja, aku tidak akan memerangi mereka hingga mereka memerangiku, dan pasti mereka akan melakukannya.”

Hingga di suatu hari yg terik, saat masuk waktu dzuhur aku (Ibn Abbas) menjumpai Ali ra. Aku  berkata, “Wahai Amirul Mukminin, tunggulah cuaca dingin untuk shalat dzuhur, sepertinya aku akan mendatangi mereka (Khawarij) berdialog.”

'Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Ibn Abbas, sungguh aku mengkhawatirkanmu..!”

Ibn Abbas menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, janganlah kau khawatirkan diriku. Aku bukanlah orang yg berakhlak buruk dan aku tidak pernah menyakiti seorang pun.”

Maka Ali pun mengizinkanku.

“Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di barisan mereka di tengah siang.”

Ibn Abbas ra. melanjutkan,

“Aku benar-benar berada di tengah suatu kaum yg belum pernah kujumpai orang yg sangat bersemangat beribadah seperti mereka. Dahi-dahi mereka penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut unta (kapalan). Wajah-wajah mereka pucat pasi karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.”

Kuucapkan salam pada mereka. Serempak mereka menyambutku, “Selamat datang, wahai Ibn Abbas ra.. Apa gerangan yg membawamu kemari..?”

Aku berkata, “Aku datang pada kalian sebagai perwakilan dari sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar, dan juga dari sisi menantu Rasulullah SAW (yakni 'Ali bin Abi Thalib), kepada para Shahabat-lah al-Quran diturunkan dan merekalah orang-orang yg paling mengerti makna al-Quran daripada kalian.”

Ibn Abbas ra. mengingatkan tentang kedudukan sahabat Muhajirin dan Anshar, serta bagaimana seharusnya prinsip seorang Muslim dalam memahami al-Quran dan Sunnah yaitu mengembalikan kepada pemahaman Sahabat karena kepada merekalah al-Quran diturunkan, dan merekalah orang yg paling mengerti al-Quran dan Sunnah. Ibn Abbas juga menegaskan besarnya kedudukan 'Ali bin Abi Thalib di sisi Allah, yaitu menantu Rasulullah SAW.

Begitu mendengar ucapan Ibn Abbas yg penuh makna dan merupakan prinsip hidup --yg tentunya tidak mereka sukai karena menyelisihi prinsip sesat mereka-- sebagian Khawarij memberi peringatan,

“Jangan sekali-kali kalian berdebat dengan seorang Quraisy (yakni Ibn Abbas ra., pen.). Sesungguhnya Allah SWT berfirman:
“Sebenarnya mereka adalah kaum yg suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58)

Dua atau tiga orang dari mereka berkata, “Biarlah kami yg akan mendebatnya..!”.

Ibn Abbas berkata, “Wahai kaum, beri aku alasan, mengapa kalian membenci menantu Rasulullah SAW beserta sahabat Muhajirin dan Anshar, padahal al-Quran diturunkan kepada mereka, dan tidak ada seorang sahabat pun yg bersama kalian. 'Ali adalah orang yg paling mengerti tentang penafsiran al-Quran.”

Mereka berkata, “Kami punya tiga alasan.”

Ibn Abbas mengatakan, “Sebutkan (tiga alasan kalian).”

“Pertama, sungguh Ali telah menjadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah, padahal Allah  berfirman,
“…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah…” (Yusuf: 40)
Hukum manusia tidak ada artinya di hadapan firman Allah Ta’ala." Kata mereka.

Ibn Abbas menanggapi, “Ini alasan kalian yg pertama.. lalu apa lagi..?”

Mereka melanjutkan,

“Kedua, sesungguhnya 'Ali telah berperang dan membunuh, tapi mengapa tidak mau menawan dan mengambil Ghanimah. Kalau mereka (orang-orang yg berperang melawan 'Ali) itu mukmin tentu tidak halal bagi kita memerangi dan membunuh mereka. Tidak halal pula tawanan-tawanannya.”

Ibn Abbas  bertanya lagi, “Lalu apa alasan kalian yg ketiga..?”

Kata mereka,

“Ketiga, dia telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya. Kalau dia bukan amirul mukminin (karena menghapus sebutan itu) berarti dia adalah Amirul Kafirin (pemimpin orang-orang kafir).”

Ibn Abbas ra. berkata, “Ada alasan selain ini..?”

Mereka berkata, “Cukup sudah bagi kami tiga perkara ini..!”


Bantahan Ibn Abbas ra. Atas Dangkalnya Pemahaman Khawarij

Lihatlah, bagaimana Khawarij mudah memvonis kafir, dan memberontak sekalipun kpd khalifah ar-Rasyid yg penuh keutamaan dan kemuliaan. Alasan-alasan mereka adalah kerancuan yg sangat lemah dan menunjukkan kedangkalan mereka dalam memahami al-Quran dan Sunnah.

Ibnu Abbas ra. mulai menanggapi,

“Ucapan kalian bahwa Ali ra. telah menjadikan manusia untuk memutuskan perkara (untuk mendamaikan persengketaan antara kaum muslimin -pen), sebagai jawabannya akan kubacakan ayat yg membatalkan kerancuan kalian. Jika ucapan kalian terbantah, maukah kalian kembali (kepada jalan yg benar)..?”

Mereka menjawab, “Ya, tentu kami akan kembali.”

Ibn Abbas ra. berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT telah menyerahkan sebagian hukum-Nya kepada keputusan manusia, seperti dalam menentukan harga kelinci (sebagai tebusan atas kelinci yg dibunuh saat ihram). Allah SWT berfirman,
“Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yg dibunuhnya, menurut putusan (hukum) dua orang yg adil di antara kamu, sebagai hadyu yg dibawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yg dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yg telah lalu. Dan barangsiapa yg kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (QS. Al-Maidah: 95)

Demikian pula dalam perkara perempuan dan suaminya yg bersengketa, Allah SWT juga menyerahkan hukumnya kepada hukum (keputusan) manusia untuk mendamaikan antara keduanya. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kpd suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” (QS. An-Nisa: 35)

Demi Allah, jawablah, apakah diutusnya seorang manusia untuk mendamaikan hubungan mereka dan mencegah pertumpahan darah di antara mereka lebih pantas utk dilakukan, atau hukum manusia perihal darah seekor kelinci dan urusan pernikahan wanita? Menurut kalian manakah yg lebih pantas..?”

Mereka katakan, “Inilah (yakni mengutus manusia utk mendamaikan manusia dari pertumpahan darah) yg lebih pantas.”

Ibn Abbas berkata, “Apakah kalian telah memahami masalah pertama..?”

Mereka berkata, “Ya.”

Ibn Abbas melanjutkan, “Adapun ucapan kalian bahwa Ali radhiallahu ‘anhu telah berperang tapi tidak mau mengambil ghanimah dari yg diperangi dan tidak menjadikan mereka sebagai tawanan, sungguh (dalam alasan kedua ini) kalian telah mencerca ibu kalian (yakni Aisyah).
Demi Allah! Kalau kalian katakan bahwa Aisyah bukan ibu kita, kalian telah keluar dari Islam (karena mengingkari firman Allah SWT). Demikian pula kalau kalian menjadikan Aisyah sebagai tawanan perang dan menganggapnya halal sebagaimana tawanan lainnya (sebagaimana layaknya orang-orang kafir), maka kalian pun keluar dari Islam. Sesungguhnya kalian berada di antara dua kesesatan, karena Allah SW berfirman,
“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)

Ibn Abbas ra. berkata, “Apakah kalian telah memahami masalah ini..?”

Mereka menjawab, “Ya.”

Ibn Abbas berkata lagi,

“Adapun ucapan kalian bahwasanya Ali telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya, maka (sebagai jawabannya) aku akan kisahkan kepada kalian tentang seorang yg kalian ridhai, yaitu Rasulullah SAW. Ketahuilah, bahwasanya beliau di hari Hudaibiyah (6 H) melakukan shulh (perjanjian damai) dengan orang-orang musyrikin, Abu Sufyan dan Suhail bin Amr. Tahukah kalian apa yg terjadi..?

Ketika itu Rasulullah SAW bersabda kepada Ali, “Wahai Ali, tulislah perjanjian utk mereka.” Ali menulis, “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah…”
Orang-orang musyrik berkata, “Demi Allah! Kami tidak tahu kalau engkau Rasul Allah. Kalau kami mengakui engkau sebagai utusan Allah tentu kami tidak akan memerangimu.”

Rasulullah SAW bersabda, “Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah. Wahai 'Ali, tulislah ‘Ini adalah perjanjian antara Muhammad bin Abdilah…’.” (Rasulullah memerintahkan Ali untuk menghapus sebutan Rasulullah dalam perjanjian, pen.)

Ibn Abbas ra. berkata,

“Demi Allah, sungguh Rasulullah SAW lebih mulia dari 'Ali, meskipun demikian Beliau menghapuskan sebutan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah…” (Apakah dengan perintah Rasul menghapuskan kata Rasulullah dalam perjanjian kemudian kalian mengingkari kerasulan beliau..? Sebagaimana kalian ingkari keislaman 'Ali karena menghapus sebutan Amirul Mukminin..?

Ibnu Abbas melanjutkan, “Maka kembalilah 2000 orang dari mereka, sementara lainnya tetap memberontak (dan berada di atas kesesatan), hingga mereka diperangi dalam sebuah peperangan besar (yakni perang Nahrawan).”


(Kitab Talbis Iblis, Ibn Al-Jauzi ra.)

Semoga...
#ombad #khawarij #ibnabbas

03 May 2019

KHAWARIJ AL-QA'DIYAH

“Kelompok Al Qa’diyah ini merupakan sekte Khawarij yang paling berbahaya.” (Riwayat Imam Abu Dawud ra, Masail Ahmad, dari 'Abdullah Adh Dha’if)

والقعدية قوم من الْخَوَارِج كَانُوا يَقُولُونَ بقَوْلهمْ وَلَا يرَوْنَ الْخُرُوج بل يزينونه

"Al-Qa’diyah adalah kelompok sempalan dari Khawârij yang berpandangan tidak perlu memberontak atas penguasa akan tetapi mereka hanya merangsang untuk memberontak." (Ibnu Hajar Al-Asqalani ra., Fathul Baari)

القعدية قوم الخوارج كانوا يقولون بقولهم ولا يرون بالخروج بل يدعون إلى آرائهم ويزينون مع ذلك الخروج ويحسنونه

“Al-Qa’diyah termasuk kaum Khawarij yang bermain dengan kata-kata, dan tidak memandang perlu pemberontakan, akan tetapi mereka mengajak manusia pada opini mereka dan menghasut --untuk memberontak--.” (Syeikh Muhammad As-Sakhawi, Fathul Mughits)

Jika mempelajari diskusi antara Ibn Abbas ra. dengan kelompok Khawarij, dapat diketahui bahwa kesalahan kelompok ini karena tak ada seorang pun Shahabat yg berada di dalam kelompok ini. Artinya pemahaman mereka ini bukan pemahaman para Shahabat dan para Ulama yg mengikuti jalan para Shahabat.

Jadi penyebabnya adalah adanya kesalahan dalam memahami ayat al-Qur’an dimana ayat-ayat itu dipahami tidak pada tempatnya atau salah memahami maksudnya.

Rasulullah SAW bersabda,

الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ

"Khawarij adalah anjing-anjingnya neraka." (HR. Ahmad & Ibn Majah)

“Khawarij itu adalah orang pertama yang mengafirkan kaum Muslimin, mereka mengafirkan lantaran dosa-dosa (yaitu dosa-dosa selain syirik) dan juga mengafirkan siapa yang bertentangan dengan mereka dalam bid’ah mereka itu, menghalalkan darah dan hartanya, begitulah halnya Ahlul bid’ah; mereka mengadakan suatu bid’ah dan mengafirkan siapa yang bertentangan dengan mereka dalam bid’ah itu.” (Ibn Taimiyah ra.)

Kelompok yg seperti ini akan selalu ada, bisa dengan tampilan dan nama apapun, sebutlah Neo-Khawarij. Tanda yg paling terlihat adalah mereka terus-menerus memprovokasi umat untuk menentang penguasa/pemimpinnya. Mereka pun selalu membangun narasi-narasi tertentu (fitnah, hoax) agar ketidak-percayaan umat kepada pemimpinnya makin besar.

Semoga...
#ombad #tasawuf

07 July 2018

HASAN BASHRI VS KHAWARIJ

Di sini ada gak yaa kelompok yg kayak gini..?

Dalam kitab Al-Basa'ir wal Dhaka'ir, diceritakan tentang seorang Khawarij yg mendatangi Imam Hasan al-Basri ra.

Si Khawarij itu bertanya : "Apa pendapatmu tentang mereka yg menentang penguasa..?"

Al-Basri menjawab: "Mereka adalah kaum yg mengejar kemegahan duniawi."

Khawarij itu menimpali: "Apa yg membuatmu berpendapat seperti itu..? Padahal kami meninggalkan keluarga dan anak-anak kami, menghunuskan senjata demi memerangi kezaliman."

Al-Basri menjawab: "Katakan pendapatmu tentang penguasa tersebut, apakah ia menghalangimu Sholat, melarangmu membayar Zakat dan menunaikan Haji..?"

Khawarij itu menjawab: "Tidak.."

Al-Basri berkata: "Yang kulihat sesungguhnya adalah Penguasa itu menghalangimu memperoleh kesenangan duniawi, dan engkau memeranginya agar engkau dapat meraihnya."

Semoga..
#ombad

16 April 2018

CIRI KHAWARIJ

Bibit-bibit perpecahan umat Muslim sudah mulai muncul ketika jaman kekhalifahan 'Ustman bin Affan, dan makin memuncak pada jaman khalifah 'Ali bin Abi Thalib. Dan KAUM KHAWARIJ ada di belakangnya.

Ada beberapa ciri khas dari Kaum Khawarij, diantaranya:

- Terlalu Mudah Memvonis Kafir (Munafik) kepada sesama Muslim. Bahkan di era khalifah 'Ali bin Abi Thalib dahulu, mereka mengkafirkan 'Ali bin Abi Thalib yg menjadi khalifah, dan juga mengkafirkan kaum Muslim yg tidak setuju dengan pendapat mereka. Jadi kalau beda pendapat dengan dirinya, ujungnya itu adalah menuduh "Kafir" atau "Munafik"..

- Gemar Mencari-cari Kesalahan Pemimpin (penguasa). Kaum Khawarij pun berpendapat wajibnya menggulingkan Pemimpin (penguasa) yg mereka anggap salah dan zhalim. Dan mereka pun membangun pemberontakan terhadap khalifah 'Utsman, sampai 'Ustman pun terbunuh.

- Rajin Memfitnah (kalau zaman now mah Hoax). Ini merupakan konsekuensi dari nafsu kepentingan "politik" mereka.

- Kaum Khawarij menganggap kelompoknya termasuk "Kelompok Allah", sedangkan kubu 'Ali dianggap sebagai "Kelompok Setan", bahkan 'Ali pun dikafirkan, dengan alasan bahwa 'Ali telah berhukum dengan selain hukum Allah yaitu berhukum kepada manusia. Mereka selalu berdalil dengan ayat ini :

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa yg tidak berhukum dengan apa yg Allah turunkan, mereka adalah orang-orang yg kafir.” (QS. Al-Maidah: 44)

Btw.. Kaum Khawarij tidak mengatakan "Partai Allah" atau "Partai Setan" lho.. plis, jangan dihubung-hubungkan dengan zaman now.. :D


Semoga...
#ombad #sejarah

08 March 2018

PERABA GAJAH

"Kebenaran yang tunggal itu senantiasa mengekspresikan kepada hamba-Nya aspek yang lain pada setiap saat yang berbeda." (Syeikh Muhyiddin Ibn 'Arabi) 

Ketika setiap pribadi asyik dengan "konsen" nya masing-masing, maka hasil ekspresinya pun akan berbeda. Hal ini tersirat dari kisah 5 orang yang memegang gajah di tempat gelap. Tetapi di balik perbedaan-perbedaan ekspresi itu, terdapat kesatuan struktural yang sangat mendalam.

Jadi terkait dengan hal di atas, perlu hati-hati jika di medsos banyak yg koar-koar : Kembali kepada Quran dan Sunnah, Bid'ah, Kuburiyyun, Tegar di atas Sunnah, Meniti Manhaj Salaf, dsb.

Kata-kata di atas memang benar jika diaktualisasikan ke diri sendiri, tetapi jika dipakai untuk "menyerang" yg berbeda pemahaman tanpa paham konteksnya, maka kata-kata itu hanya modus.. tidak pada tempatnya.. :D

Padahal si "penyerang" inipun belum tentu tahu Quran dan Sunnah seluruhnya. Mirip seorang yg meraba bagian tubuh gajah di kegelapan malam, lalu koar-koar ke peraba lain, "Kata gw ekor... ekor..!!"

Hal seperti ini yg paling berbahaya dalam beragama, yaitu merasa paling benar dengan menunjuk yg lain sesat.. berlagak menjadi Tuhan. Itu makanya "dakwah bil hikmah" itu tidak bisa dengan cara instan. Silahkan pelajari para kehidupan ulama arif billah ketika mereka berdakwah di suatu lingkungan (yg baru).

Kembali ke tanktop, ketika di medsos ada yg koar-koar dengan slogan “Kembali kepada Quran dan Sunnah”, maka kesan dan opini yg bisa ditimbulkannya adalah cara berislam yg diajarkan para ulama selama ini itu Salah, dan hanya cara berislam mereka saja yg paling Benar, mewakili Islam yg sebenarnya, serta yg paling sesuai Quran dan Sunnah. Jadi kalau ada penggiat medsos yg seperti itu, hampir dipastikan mereka itu korban media, dan mudah-mudahan aja ngajinya gak hanya lewat Syeikh Google.. :D

Ketika kita "memberi" masukan atau "mendebat" dengan ilmu yg belum diketahui oleh mereka, maka biasanya akan ditolak dengan alasan "Tidak ada contoh dari Nabi", kalau dikasih tahu bahwa memang ada dalilnya, ia pun ngeles dengan "Dalilnya tidak shahih", jika ngeles lagi.. mendingan guyon-guyonin aja.. apalagi kalau cuma terjemahan.. :D

Padahal yg sebenarnya mah, ngajinya baru segitu aja.. ya, seada-adanya aja di media elektronik... Dan jika debat pun, isinya cuma copas-copas tulisan orang.. tanpa paham Ushulnya.. bahkan tanpa tahu siapa yg nulisnya... asal comot aja, biar gaya.. :D

Jadi, ketika dirinya merasa "paling tahu", maka dianggaplah bahwa yg tidak diketahuinya itu "tidak ada dalilnya".. padahal aslinya mah ia "belum tahu".. :D Penyakit yg biasa menyerang orang yg sedang belajar, yaitu merasa punya air sekolam, padahal cuma segayung. Bahasa kerennya, Muqallid rasa Mujtahid..

Sekali lagi gak.usah marah kalau ketemu yg seperti itu, termasuk jika anda dituduh ahli bidah, kuburiyyun, syiah, munafik, musyrik, antek liberal, dsb... Anggap aja anda sedang menghadapi anak-anak balita yg sedang pegang erat permen merah kesukaannya, meski dirayu-rayu dengan permen coklat mahal pun tetap saja nolak.

:D

Semoga....
#ombad #tasawuf #gajah

22 February 2018

HITAM DI JIDAT...?


".... tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud." (QS. Al-Fath: 29)

Jika tanda yg dimaksud adalah "tanda hitam" di jidat seperti yg diyakini oleh sebagian kelompok, maka yg kasihan adalah para akhwat (wanita). Soalnya walaupun mereka rajin shalat, keningnya tetap aja gak hitam-hitam, malah makin kinclong.. :D

Ada satu kisah, ketika Ibnu Umar ra. bertemu dengan seseorang yg memiliki tanda hitam di dahi, ia pun mengingatkan,

"Bekas apa yg ada di dahimu..? Sungguh aku telah lama bersahabat dengan Rasulullah SAW, Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku..?"

“Siapa yg memperbaiki hatinya, maka Allah akan memperbaiki penampilan lahiriahnya,” ('Umar bin Khatthab ra.)

“Sesuatu yg terpendam dalam jiwa akan terpancar melalui roman muka,” ('Ustman bin Affan ra.)

"Tanda baik yg ada pada wajah, cahaya wajahnya terang seperti bulan purnama." (Ibnu Abbas ra.)

Jadi tidak tepat bahwa tandanya itu hitam di jidat. Justru yg ditakutkan, jidat hitam itu malah jadi Riya' dan mirip kaum Khawarij, seperti yg disebutkan oleh Syaikh Ahmad ash-Shawi al-Maliki ra. dalam kitab Hasyiyah ash-Shawi Ala Tafsir al-Jalalain :

وليس المراد به ما بصنعه بعض الجهلة المرائين من العلامة في الجبهة فانه من فعل الخوارج وفي الحديث اني لابغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود

"Bukanlah yg dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang² Bodoh dan Tukang Riya’, yaitu tanda hitam yg ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas Khawarij. Dalam sebuah hadits disebutkan: 'Sesungguhnya aku benci seseorang yg kulihat diantara kedua matanya terdapat bekas sujud'."

Nah.. kalau yg sudah terlanjur jidatnya hitam harus gimana donk..? Masa harus pakai Ponds White..?

**

Jadi,
Kalo kesukaannya masih membid'ah-bid'ahkan,
Kalo kesenangannya masih menyesat-nyesatkan,
Kalo kecintaannya masih mengkafir-kafirkan,

Itu tandanya,
Baru ingat satu hal, tetapi melupakan yg lainnya,
Baru tahu satu hal, tetapi belum tahu yg lainnya,
Baru tahu ilmu, tetapi belum tahu hikmah,
Baru beranjak pintar, tetapi belum memulai sikap bijak.

Dan titik-titik pun harus bisa disambungkan sehingga membentuk lingkaran yg utuh. Bukankah seperti itu yg namanya Makrifat..?


Semoga....
#ombad #tasawuf #khawarij