Showing posts with label Hikam. Show all posts
Showing posts with label Hikam. Show all posts

12 May 2020

TASAWUF DALAM SEMARAK PUASA

Begitu dalam, saat NH. Dini dalam buku Sebuah Lorong di Kotaku menulis, "Aku diajar berpuasa bukan karena agama, bukan karena keinginan naik surga. Kakek mengajarku buat menahan keinginan, untuk mengetahui sampai dimana aku dapat mengatur kekuatan." 
 
Tulisan itu seakan membuka kenangan akan lantunan Hikam yang kembali menusuk hati, "beribadah karena harapkan sesuatu atau agar tolak datangnya siksa, maka ia belum menunaikan hak kewajibannya terhadap sifat-sifat Allah." 
 
Seakan juga wajah cantiknya Adawiyah kembali membisikkan kata cinta, "Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian untung melimpah. Atau mereka menempati surga, lalu  mendapatkan istana dan meminum air Salsabila. Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti."

Sedangkan di depan mata, janji-janji surga dilontarkan demikian gencar lewat panggung-panggung pertunjukan yang seringkali atas-namakan Tuhan dan disertai ancaman. 
 
Sementara di ujung sana, tetap saja, banyak yang berpuasa penuh dendam, nafsunya begitu kelaparan mirip setan, dan saat berbuka begitu serakahnya pada makanan.

Bahkan di pojok lain, keserakahan tetap dipamerkan para setan yang katanya diikat, tapi tetap dalam kobaran kemarahan dan kebencian makin kuat, malah kesadaran diri pun tergilas kemunafikan yang pekat. 

Ah, parodi para budak dogma, yang terformalisasi janji surga, dalam hapalan ayat-ayat saja, terombang-ambing paradok otak dan jiwa.. serta hasilnya tetap lapar dahaga. 

Dan akupun tetap dzalim, yang masih sulit membiasakan istighfar, apalagi jika harus meng-istighfar-kan ucapan istighfarnya, --Istighfaaruna yahtaaju ilaa istighfaarin-- dalam batin puasa. 
 
Semoga..
#ombad #tasawuf #ramadhan

19 April 2018

DOA ITU TAWAJUH

Bagi para Wali dan Ahli Makrifat, Doa itu merupakan bentuk manifestasi dari kehambaan mereka dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan. Dan ini berbeda dengan kebanyakan orang bahwa doa itu merupakan sebab atas pemberian-Nya. Kalau perlu Allah pun harus seperti "pembantu ke majikannya".

لا يكن طلبك تسبباً إلى العطاء منه فيقل فهمك عنه .وليكن طلبك لإظهار العبودية وقياماً بحقوق الربوبية

“Jangan maknai permintaanmu sebagai sebab atas pemberian Allah yang itu menunjukkan kekurang-pengertianmu terhadap-Nya. Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah pernyataan kehambaan dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan.” (Syeikh Ibn 'Athaillah, Hikam)

Artinya, Doa itu sebagai bentuk penghambaan dan "pernyataan" bahwa diri itu hina, lemah, tak kuasa dan dhaif. Kenapa..? Karena sifat ketuhanan itu berhubungan dengan kehinaan, kerendahan, ketundukan dan kefakiran para hamba-Nya.

Itu makanya Rasulullah SAW bersabda,

"Sebaik-baik do'a adalah Istighfar --memohon ampunan--." (HR. Hakim)

Penjelasan Hadist di atas ( lihat : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10207583537451428&id=1380159371 )

Dimana ber-Istighfar itu merupakan :

1. Pengakuan eksistensi kehambaan dihadapan Allah SWT, karena hakikat hamba itu tanpa daya dan tanpa kekuatan dari terjaminnya niat, ucapan dan tindakan yg salah dan lalai.

2. Bentuk eliminasi/pemupusan ke-ego-an hamba. Bukankah apapun prestasi yg sudah dicapai, ujungnya mah karena Anugrah dan Rahmat-Nya.

3. Pengakuan seorang hamba terhadap tajallinya Allah dalam (Asma') Keagungan-Nya. Suatu manifestasi dari Kemahaagungan-Nya sebagai al-Ghafar dan al-Ghafur.

4. Bentuk kefanaan seorang hamba, "sirna/lebur" dalam eksistensi Keagungan-Nya. Kefanaan dari sifat-sifat tercela, kesirnaan dosa-dosa, kehancuran nafsu-nafsu buruk.

5. Proses menuju Ketauhidan, karena pada akhirnya istighfarnya seseorang itu akan mengarah "murni ke Allah" dari segala hal selain-Nya yg memasuki jiwanya, walau awalnya berupa istighfar dari perbuatan dosa dan kelalaian (dari dzikir).

6. Perbuatan yg sangat dicintai Allah dan Rasulullah SAW. Istighfar akan menumbuhkan kerinduan kepada Allah. "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yg bertaubat dan orang-orang yg mensucikan diri." (QS. 2:222)

7. Secara hubungan sosial horizontal, akan membuahkan Kedamaian. Bukankah banyak istighfar yg memohonkan ampunan untuk sesama hamba Allah.

Jadi, segala bentuk Ibadah dan Amal Saleh termasuk Doa itu (dapat dipahami) sebagai bentuk TAWAJUH seorang hamba kepada-Nya.

"Hendaklah engkau jadikan pintamu itu lebih banyak berisi permintaan ampun, kesehatan kekal dalam urusan agama, dunia dan akhirat. Terimalah ini niscaya engkau tercukupi. Jangan engkau menimbang-nimbang Allah dan jangan pula berbesar diri, karena perbuatan itu merupakan perapuhan jiwamu." (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Fathur Rabbani)

Dan itulah kenapa, saat tidak diberi (dikabulkan) menjadi tidak bersyukur..


Semoga..
#ombad #tasawuf #hikam