Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

27 November 2020

SATU PANDANGAN BISA MENIPU

Menghindari debat dalam agama itu Mudah, apalagi kalau urusannya bukan substansi. Sy belajarnya dari anak sy ketika ia sedang kelas 2 SD. 

"Pak, berapa 3-5 ?" Tanya anak. 

Sy jawab dengan sigap, "Mudaah, 3-5 = -2 .." (pinter kan bapaknya..? 😃 ) 

Besoknya, si anak marah ke bapaknya, 
"Ahh.. si Bapak mah bodoh.. masa 3-5 = -2 ..?! Kata Ibu Guru juga 'tidak bisa' (tidak ada jawaban)..!!" 

Dan sy pun garuk-garuk kepala... @#£@&%.. 
 
Begitupun dengan pengamal thariqah yang sering dikecam karena dzikirnya sambil goyang-goyang.. 
 
Dan saat ada yang nanya, 
"Om.. kenapa dzikirnya goyang-goyang gitu..?"

Sy jawab aja sambil senyum, 

"Nyeduh kopi juga kalo gak diaduk mah, ya enggak enak..." 😃 
 
Itu makanya Imam Syafi'i ra. pernah berkata : 
 
"Menganggap benar dengan hanya satu pandangan merupakan suatu bentuk ketertipuan..."

Artinya, multidimensi dalam pemahaman merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam konteks universal, dan tentunya dibarengi dengan jiwa dan mindset yang positif, yaitu positive thinking. 

Ya, seperti itulah Kasih Sayang dalam Beragama.. dan seperti itu juga maknanya kenapa Dajjal digambarkan bermata satu. 

Semoga..
#ombad #tasawuf 
 

13 November 2020

SATU

Dalam kitab al-Adzkar karya Imam Nawawi Banten ra. disebutkan : 

"Dzikir adalah Sumber Cinta.." 
 
Kebencian itu berbeda kutub dengan Cinta. Artinya jika seseorang banyak berdzikir, maka seharusnya sisi Kebencian di hatinya makin terkikis dan sisi Cintanya makin mendominasi hatinya. 
 
Jadi sesuatu yang janggal jika seseorang yang katanya tukang dzikir, ber-thariqat atau ber-tasawuf masih berkutat dalam Kebencian terhadap yang lain. Mungkin hanya sampai kerongkongan saja dzikirnya. 

**

Ada cerita..
Suatu hari Joni menghadap ke Kyai nya.

Joni : "Kyai, dari naga-naganya kok saya sepertinya membenarkan semua agama..?"
Kyai : "Tentu saja semua agama benar bagi umatnya, memang ada agama yang salah.? Ada agama yang menyuruh umatnya menjadi bajingan, penjahat, pengecut, bandit, atau menyuruh umatnya jadi koruptor atau sampah masyarakat, tidak kan..? Lalu agama mana yang salah..?"

Joni : "Berarti Kyai juga menyamakan semua agama..?"
Kyai : "Kalau sama tentu saja tidak, Islam ke masjid, Kristen dan Katholik ke gereja, Yahudi ke sinagog, Budha ke vihara, Hindu ke pura, Konghucu ke klenteng, Atheis ke dalam otaknya, atau Agnostik ke dalam hatinya..!"

Joni : "Terus bagi Kyai, agama yang terbaik itu apa..?"
Kyai : "Setiap orang meyakini pasti agamanya lah yang paling benar..!"

Joni : "Terus bagaimana Kiai menyikapi hal ini..?"
Kyai : "Ya mari masing-masing umat saling berlomba-lomba berbuat kebaikan, nanti di ujung sana pengadilan-Nya yang Maha Adil menentukan siapa yang paling layak dianggap menjadi manusia yang baik..!"

Joni : "Lho kok ujungnya sama..?"
Kyai : "Kan Tuhan cuma satu..! Dia-lah yang paling berhak, dan hanya Dia yang sangat berhak, manusia cuma menanam prasangka..!"

Joni : "Berarti Allah, Yesus, Yahweh, Budha, dan Siwa itu sama..?"
Kyai : "Yang bilang sama itu siapa dodol...?!"

Joni : "Tadi Kyai bilang Tuhan cuma satu..?"
Kyai : "Satu itu ya satu, kalau sama itu namanya lebih dari satu, dasar dodol..!!"

Joni : "Wah bingung saya Kyai..."
Kyai : "Tidak apa-apa kalau tidak paham. Tapi tolong dengan ketidak-pahaman ini kamu jangan lantas mengangkat pedang, tidak terus teriak Allahu Akbar, bakar..! Timpuk sana timpuk sini, dan bahkan sesama saudara agama sendiri kamu caci, kamu cederai dan kamu basmi..!" 
 
Semoga...
#ombad #tasawuf 

02 October 2020

TASAWUF DALAM SEEKOR ELANG

Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia, bisa mencapai 70 tahun. Tapi untuk mencapai umur itu, seekor elang harus membuat keputusan besar pada umur 40 tahun.

Saat umur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruh menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga menyulitkan saat terbang.

Saat itu, ia hanya mempunyai 2 pilihan, yaitu: Menunggu kematian, atau Menjalani proses transformasi yang menyakitkan selama 150 hari.

Saat melakukan transformasi itu, ia harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung, lalu membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses berlangsung. Menyendiri. 

Pertama, ia harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, dan kemudian menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya, dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yg panjang dan menyakitkan..!

Lima bulan kemudian, bulu-bulu yang baru itu akan tumbuh sempurna, sehingga ia mulai dapat terbang kembali.

Dengan paruh dan cakar baru, ia pun mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi. 

**
 
Bagi para Salik tentu tidak asing dengan istilah "Khalwat" --khususnya bagi para ahli thariqah--. Khalwat ini bisa dilakukan dengan cara "menyendiri dalam keramaian", atau bisa juga dengan cara "menyendiri dalam kesendirian". 

Seperti elang yang bisa melewati "kematian" nya meski harus menderita, begitupun dengan proses Khalwat yang harus bisa menempuh batas "kematian" si pelakunya, lalu melewatinya. Dan "dilahirkan" kembali. Cuma bedanya, kalau si elang itu naluri, kalau si Salik itu "Kecintaan dalam Sabar, Patuh dan Ketundukan".. 

"Matilah sebelum mati.." (Hadist)

"Manusia tidak akan bisa masuk ke (alam) malakutnya langit, kecuali telah dilahirkan dua kali seperti burung." (Nabi Isa as., dalam kitab Sirrul Asrar al-Jailani)

Burung itu dilahirkan dua kali, pertama keluar telur dari induknya, dan kedua, burung menetas dari telurnya. Dan begitupun manusia seharusnya, "dilahirkan" kembali dari "kandungan alam semesta". 
 
Semoga...
#ombad #tasawuf #dalam

17 September 2020

WIHDATUL WUJUD

Wihdatul Wujud merupakan salah satu konsep yang selalu dijadikan "rujukan" pencapaian tertinggi dalam maqam spiritual, terutama oleh para penganut Tasawuf Falsafi. 

Tasawuf Falsafi itu lebih karena membaca yang tertulis (buku, kitab) serta olah pikiran, dan belum tentu mengalami secara batin. Mereka lebih ke "hushuli" dan bukan "hudhuri". 

Para penganut Tasawuf Falsafi, kebanyakan meyakini bahwa Wihdatul Wujud adalah "bersatunya wujud" dengan Dzat Tuhannya.

Perlu diluruskan, bahwa Abah Muhyiddin Ibn Arabi ra. --sebagai "penemu" istilah "Wihdatul Wujud"-- tidak pernah mengajarkan Wihdatul Wujud seperti yang dimaknai dan diyakini oleh banyak penganut tasawuf Falsafi.

Wihdatul Wujud yang dimaksud oleh Ibn Arabi adalah seorang hamba mengetahui wujud hakikat dirinya di hadapan Tuhannya, semacam "kemandirian wujud" dan bukan bersatu.

Jadi, Wahdat al-Wujud adalah KITA TAHU WUJUD HAKIKI (RUH) DIRI KITA, dan bukan hubungannya dengan Dzat Allah. 

Ini berbeda dengan konsep Wahdat al-Syuhud --merupakan salah satu konsep dalam Tasawuf Falsafi-- sebagaimana konsep Ittihad-nya Abu Yazid al-Busthami, dan konsep Hulul-nya Al-Hallaj. 

Dalam menjelaskan konsep Wahdatul Wujud, Ibn Arabi mengungkapkan: 

Ketahuilah bahwa Wujud ini satu namun Dia memiliki penampakan yang disebut dengan alam dan ketersembunyiannya yang dikenal dengan Asma (nama-nama), dan memiliki pemisah yang disebut dengan Barzakh yang menghimpun dan memisahkan antara batin dan lahir itulah yang dikenal dengan INSAN KAMIL.” 

ITTIHAD adalah mustahil karena dua dzat menjadi satu, tidak akan mungkin bertemu antara hamba dan Tuhan pada satu wajah selamanya ditinjau dari Dzat-Nya.”

**

Jadi janganlah mencampur-adukkan sesuatu, karena hal itu termasuk kebiasaan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Katakan dan yakinkan bahwa HAMBA TETAP HAMBA, meskipun ia naik pada tingkat yang tinggi (Taraqqi), dan ALLAH TETAP ALLAH meskipun Tidak Turun (Tanazzul). 

Hakikat itu tidak akan berubah, artinya hakikat hamba tidak akan berubah menjadi hakikat Allah, demikian pula sebaliknya, walau pada zaman azali sekalipun. 

Dan janganlah terpedaya oleh orang yang berdalih atas Wihdatul Wujud (penyatuan wujud hamba secara total) dengan alasan Hadist ini,
 
من عرف نفسه فقد عرف ربه 

Barangsiapa mengenal dirinya, niscaya ia  mengenal Tuhannya.” 

Lalu, dalam ketidaktahuannya kepada Allah ia menafsirkan hadist tersebut dengan mengatakan bahwa diri manusia itu adalah benar-benar Dzat Tuhannya. Dan sy pribadi berlindung kepada Allah dari keyakinan yang demikian. 

Adapun makna Hadist tsb, sebagaimana dikatakan oleh Imam Abu Hasan Syazilli ra. :

من عرف نفسه بالفقر عرف ربه بالغنى ومن عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة ومن عرف نفسه بالعجز عرف ربه بالقدرة ومن عرف نفسه بالذلة عرف ربه بالعز

Barangsiapa mengenal dirinya fakir, niscaya ia mengenal Tuhannya Maha Kaya, barangsiapa mengenal dirinya lemah, niscaya ía mengenal Tuhannya Maha Kuat, barangsiapa mengenal dirinya tidak kuasa, niscaya ia mengenal Tuhannya Maha Kuasa, dan barangsiapa mengenal dirinya hina, niscaya ia mengenal Tuhannya Maha Mulia.” 

Semoga...
#ombad #tasawuf #ibnarabi

25 June 2020

TIGA PONDASI

Salah satu tanda Sabar adalah kurangnya kebencian di hati. Salah satu tanda Syukur adalah kurangnya kedengkian di hati. Dan tanda Menerima adalah berkurangnya rasa khawatir di hati, sangat kecil, mendekati nol, bahkan nol.
 
Lho.. apa hubungannya.. kesabaran dengan kebencian, rasa syukur dengan kedengkian, serta menerima dengan rasa khawatir..? 

Pertama, munculnya rasa benci itu karena belum bisa bersabar terkait dorongan-dorongan hawa nafsu. Hati yang harusnya bisa menjadi "sumber" petunjuk atau dijadikan "wasit" yang objektif malah berusaha supaya dipengaruhi nafsu dirinya. Itulah ketidak-sabaran. Dan pancaran jiwa orang yang penuh kesabaran itu tidak akan memancarkan kebencian, karena yang muncul dari dirinya cukuplah objektivitas. 

Rumusnya, 
Sabar = Syukur + Menerima
 
Kedua, munculnya rasa dengki itu karena ketidakpuasan dirinya. Hati dan pikirannya sering "protes" dan ujungnya itu "tidak menerima" suatu kondisi. Jika tidak bisa Menerima ya gak akan bisa bersyukur. Dan pancaran jiwa orang yang penuh rasa syukur itu tidak akan memancarkan kedengkian, karena yang muncul dari dirinya cukuplah Kasih Sayang. 

Rumusnya, 
Syukur = Sabar + Menerima.

Ketiga, munculnya rasa khawatir itu karena hati belum bisa menerima suatu kondisi. Dan pancaran jiwa orang yang penuh rasa menerima itu tidak akan memancarkan kekhawatiran, karena yang muncul dari dirinya cukuplah Ketulusan. 
 
Rumusnya, 
Menerima = Syukur + Sabar.

Jadi ada hubungan yang sangat erat diantara ketiga hal ini : Sabar - Syukur - Menerima. 
Saking pentingnya pondasi ketiga hal ini, maka itulah kenapa di Surah ar-Rahman, ada ayat yang diulang-ulang sampai 31 kali. Dan dalam pengulangannya ayat ini jika kita jeli sangat terkait dengan ketiga pondasi di atas. 

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.

Fa bi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan
"Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan..?"

Iya, karena orang yang Ikhlas itu bukanlah seorang Pendusta. Dan sementara itu,

Ikhlas = Sabar + Syukur + Menerima

Semoga...
#ombad #tasawuf

17 June 2020

SURGA NUSANTARA

Solusi dalam menawarkan sesuatu itu tidak terlepas dari Situasi, Kondisi dan Tolak ukur lingkungan sekitarnya.. plis gak usah disingkat, bisi jadi jorang. 

Jika seandainya dulu Islam turun di Indonesia, perumpamaan Surga yg isinya sungai berair jernih, taman-taman berumput hijau, pepohonan rimbun dan berudara sejuk, sepertinya akan kurang menarik, wong di Indonesia ini banyak tempat seperti surga. 

Sungai berair jernih banyak, dari mulai parit, selokan sampai sungai beneran. Taman-taman berumput banyak, mau rumput hijau, rumput gajah maupun rumput plastik aja ada. Pohon-pohon yang rimbun daunnya seabreg, baik itu pohon yang tinggi maupun jenis perdu. Daerah sejuk pun bertebaran di mana-mana dengan hiasan gunung, bukit, lembah, danau dan indahnya pemandangan. Surga semua, paling yang belum surga itu Wifi unlimited gratis. 

"PERUMPAMAAN surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa. Di sana ada sungai-sungai yang airnya bersih, tidak berubah rasa dan baunya, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya. Di sana juga ada sungai-sungai madu yang murni tidak tercampur dengan sesuatu selainnya." (QS. Muhammad : 15) 

Dan termasuk hadiah 72 bidadari bahenol dan semok pun mungkin tidak terlalu menarik bagi sebagian besar umat di Indonesia, kecuali untuk para bangsawan. Kenapa..? 

Ya iya, kebanyakan kan kerja nyangkul di sawah atau jadi nelayan. Boro-boro banyak indehoy dengan 72 bidadari, ngegilirnya gimana.. pulang ke rumah juga badan udah capek sekali. Punya satu aja banyakannya pakai sisa tenaga..

😁  
Semoga..
#ombad

09 June 2020

KOSONG

Saat "kekosongan", alam semesta dan seisinya itu adalah sebuah perpustakaan maha besar. Dan "Tasbih" adalah anak kunci untuk bisa membuka pintunya. 

Segala sesuatu di alam yang bisa ditangkap pancaindra itu bisa disebut Qauliyah, bisa terbaca jelas meski tidak mendapat makna atau memahaminya. Dan yang masih "tersembunyi" bagi sebagian besar manusia itu disebut Kauniyah, meski terpampang jelas di depan mata tetapi tetap gelap tertutup hijab di hatinya. 

"Kosong" itu seperti gelas bening yang dipenuhi air bening sehingga terlihat seperti gelas kosong, dan "kosong" inipun seperti kertas kosong yang siap ditulisi sebanyak apapun huruf dan kata, karena begitu si kertas ini ditulisi dan "terbaca", maka sesaat kemudian tulisan si kertas pun akan terhapus dengan sendirinya, dan akhirnya si kertas pun tetap bersih dan kosong. 

Itulah "kosong" dan yang terasa adalah "interkoneksi", serta pikiran pun bisa diam (di pineal).

Dan di bumi terdapat ayat-ayat (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan..?” (QS. Adz-Dzariyat : 20-21)

Semoga...
#ombad #tasawuf

15 May 2020

LAILATUL QADAR, SEBUAH PROSES & PUNCAK PENGALAMAN SPIRITUAL

Semua Muslim pasti ingin dan merindukan Lailatur Qadar, yg nilainya sama dengan "1000 bulan", meski kata "seribu" (alfi) dalam bahasa Arab (dulu) itu maknanya bukan sekedar jumlah 1000, tapi juga "hitungan tertinggi", bisa juta, milyar bahkan trilyun. Sebutlah Paling Puncak.

Jika mengganggap Lailatul Qadar sekedar "hadiah yang jatuh dari langit" maka nanti banyak orang yang lebih mementingkan hasil (orientasi hasil), hanya akan rajin ibadah saja di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan melempem lagi di hari-hari biasa.

Dalam beragama, yg harus dipahami oleh seorang hamba adalah istiqamah dalam beribadah. Awalnya Ritual lalu selanjutnya menyentuh perbaikan jiwa dan spiritual. Awalnya terasa berat memenuhi Kewajiban lalu akhirnya terasa ringan karena Kebutuhan. Jadi ada suatu "proses" perbaikan ke dalam diri maupun ke lingkungan sekitar, selaras dengan kata "sholeh" yg artinya "memperbaiki". Hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini.

Jika dianalogikan, Lailatul Qadar itu seperti putaran terakhir dalam pertandingan (misal) lari. Pertandingan yg dimulai sejak awal tahun (bulan Muharram), kemudian makin menguatkan niat pada Nisfu Sya'ban, semakin semangat dan fokus di Ramadhan, sampai memasuki putaran terakhir di akhir Ramadhan. Sampai akhirnya sukses memasuki garis finish menjadi juara, diberi selamat oleh para malaikat serta ruh-ruh orang sholeh, dan bisa naik podium diberi medali "kelahiran kembali", bertemu dengan "fitrah diri".

Jadi Lailatul Qadar itu adalah "suatu rangkaian dalam proses transformasi kesadaran" dan bukan sekedar "hadiah yg jatuh dari langit" ataupun "fenomena alam" yg tinggal ditunggu pada malam tertentu, sementara malam-malam lainnya tidak melakukan proses apa-apa. 

Jika "maqam" Lailatul Qadar itu berada di tingkat 100, maka akan sulit dicapai jika "modal awal" nya hanya di tingkat 20, karena Lailatul Qadar itu seperti "finalisasi" suatu rangkaian proses tahunan atau lebih. Ada rangkaian Sunatullahnya dan bukan merupakan sesuatu yg instan, karena Allah itu Maha Adil.

Allah Maha Adil dan Maha Mematuhi aturan yang dibuat-Nya (sunatullah). Hamba-Nya yang berproses akan lebih dicintai daripada yang tidak. Proses dari -2 ke 6 itu lebih baik daripada 6 ke 8, itu makanya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan berinstrospeksi, serendah apapun awalnya.

Sekali lagi, Lailatul Qadar itu merupakan bentuk dari keseluruhan proses Qurbah (pendekatan kepada Allah), dan bukan hanya sekedar hasil yang mudah didapat dan diraih dalam waktu semalam.

Dan itulah kenapa Rasulullah SAW tak pernah membocorkan kapan Lailatul Qadar terjadi. Rasul hanya memberikan prediksi dan tanda-tanda kedatangannya. 
 
**

Rasulullah SAW bersabda,

Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Siapa yg berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yg meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan. Dan siapa yg memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni'.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk memahami Hadist di atas, harus paham juga bahwa Allah itu tidak terpengaruh dimensi Ruang dan Waktu.

Jadi kata "turun" untuk Allah itu sifat mustahil bagi Allah, karena Allah itu Qiyamuhu bi Nafsihi (berdiri sendiri) tanpa ketergantungan dimensi Ruang dan Waktu baik arah atas, bawah, kiri, kanan, turun ataupun naik.

Secara proses, Hadist-hadist seperti itu harus dipahami sebagai bentuk perintah bagi kita agar kita berproses untuk "naik", bukan naik secara dimensi Ruang, tetapi "menaikkan kesadaran", menaikkan kualitas diri, sehingga kualitas kesadarannya "lebih mendekati" Allah, dan jadi lebih mudah berpeluang untuk mencapainya.

Atau dengan bahasa lain, kesadaran yg awalnya berada di alam Nasut/jasmani, akan berproses menuju Malakut, terus ke Jabarut, sampai akhirnya ke Lahut.

Jadi fokusnya bukan ke "Allah turun ke langit dunia", tetapi bagaimana kita bisa "menyongsong-Nya dari langit dunia" dengan cara menaikkan level "langit" diri. Itu makanya kapan terjadinya "lailatul qadar" pada seseorang merupakan suatu rahasia. Bukan kayak tanggal merah di kalender.. 😀

Berangkat dari pemahaman seperti ini, nanti kita dapat memahami (dan mudah-mudahan dapat mengalami), bahwa yg namanya Lailatur Qadar itu adalah "suatu rangkaian proses transformasi kesadaran" dan bukan sekedar "hadiah yg jatuh dari langit" ataupun "fenomena alam" yg tinggal ditunggu pada malam tertentu, sementara malam-malam lainnya tidak melakukan proses apa-apa. 

Jadi sesuatu yg lucu, jika ada yg koar-koar menjual acara "mencapai Lailatul Qadar" seharga berapa rupiah dalam sekali proses.. suatu pembodohan dan disantapnya pun oleh orang-orang bodoh. 

Dan orang-orang bodoh ini akhirnya berilusi dengan kemerasaan "maqam" kesadarannya. Merasa sedang di kesadaran tinggi, padahal sedang darah tinggi.. Merasa sedang melebur dan Fana', padahal sedang melamun dan terpana. 

Ya memang lucu dan menggelikan, soalnya alam di bawah Malakut pun belum selesai dilaluinya, lalu dengan bangganya merasa mendapatkan Lailatul Qadar dalam semalam. Cuma yg aneh, kenapa Jabarutnya belum kena/terakses, padahal kondisi "Lailatul Qadar" ada di Jabarut.

Jadi analoginya, jika "maqam" Lailatul Qadar ada di tingkat 100, ya sesuatu yg sulit dicapai jika "modal awal" nya hanya di tingkat 20, karena Lailatul Qadar itu seperti "finalisasi" rangkaian proses evolusi kesadaran per tahun atau lebih. Ada rangkaian Sunatullahnya dan bukan merupakan sesuatu yg instan, karena Allah itu Maha Adil. 
  
Sekali lagi, Lailatul Qadar itu merupakan bentuk dari keseluruhan proses Qurbah (Dekat kepada Allah), dan bukan hanya sekedar hasil yg mudah didapat dan diraih dalam semalam. Jadi bisa disebut bahwa Lailatul Qadar itu merupakan puncak pengalaman Spiritual seorang hamba di hadapan Tuhannya. 
 
Semoga.... 
#ombad #tasawuf #ramadhan

12 May 2020

TASAWUF DALAM SEMARAK PUASA

Begitu dalam, saat NH. Dini dalam buku Sebuah Lorong di Kotaku menulis, "Aku diajar berpuasa bukan karena agama, bukan karena keinginan naik surga. Kakek mengajarku buat menahan keinginan, untuk mengetahui sampai dimana aku dapat mengatur kekuatan." 
 
Tulisan itu seakan membuka kenangan akan lantunan Hikam yang kembali menusuk hati, "beribadah karena harapkan sesuatu atau agar tolak datangnya siksa, maka ia belum menunaikan hak kewajibannya terhadap sifat-sifat Allah." 
 
Seakan juga wajah cantiknya Adawiyah kembali membisikkan kata cinta, "Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian untung melimpah. Atau mereka menempati surga, lalu  mendapatkan istana dan meminum air Salsabila. Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti."

Sedangkan di depan mata, janji-janji surga dilontarkan demikian gencar lewat panggung-panggung pertunjukan yang seringkali atas-namakan Tuhan dan disertai ancaman. 
 
Sementara di ujung sana, tetap saja, banyak yang berpuasa penuh dendam, nafsunya begitu kelaparan mirip setan, dan saat berbuka begitu serakahnya pada makanan.

Bahkan di pojok lain, keserakahan tetap dipamerkan para setan yang katanya diikat, tapi tetap dalam kobaran kemarahan dan kebencian makin kuat, malah kesadaran diri pun tergilas kemunafikan yang pekat. 

Ah, parodi para budak dogma, yang terformalisasi janji surga, dalam hapalan ayat-ayat saja, terombang-ambing paradok otak dan jiwa.. serta hasilnya tetap lapar dahaga. 

Dan akupun tetap dzalim, yang masih sulit membiasakan istighfar, apalagi jika harus meng-istighfar-kan ucapan istighfarnya, --Istighfaaruna yahtaaju ilaa istighfaarin-- dalam batin puasa. 
 
Semoga..
#ombad #tasawuf #ramadhan

30 April 2020

PUASA, SIFAT ALLAH

Dalam sebuah Hadist Qudsi, Rasulullah SAW bersabda, Allah Ta‘ala berfirman, 
 
Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi imbalannya.” (HR. Muslim) 

Kenapa seperti itu..? 
Hakikat makhluk itu menuntut adanya makanan dan minuman. Sedangkan yang tidak makan dan tidak minum itu Tuhan. Artinya seseorang yang berpuasa itu secara tidak langsung sedang diajari salah satu sifat Allah, meski bukan bagian dari hakikat sifat makhluk-Nya. Makanya disebut "puasa itu milik-Ku". 
 
Jadi puasa itu merupakan sifat Samdaniyyah atau sifat khusus yang hanya menjadi milik Allah SWT (terkait pelepasan dan penyucian dari makanan/minuman). 
 
Seakan-akan Tuhan berkata kepada makhluk-Nya yang sedang berpuasa :
 
Puasa adalah milik-Ku, bukan milikmu. Karena Akulah yang seharusnya tidak makan dan minum, bukan kamu. Dan jika kamu berpuasa seperti itu karena mentaati ketetapan perintah-Ku, maka Aku sendiri yang akan memberi imbalannya.” 

Semoga...
#ombad #tasawuf #ramadhan 

23 April 2020

HIKMAH PESAN RASULULLAH SAW MENJELANG RAMADHAN

Sy coba sarikan pesan dari khutbah Rasulullah SAW menjelang memasuki bulan Ramadhan (akhir bulan Sya'ban). Ada 6 pesan penting, yaitu : 
 
1. Pergunakan waktu sebaik-baiknya selama Ramadhan, khususnya dalam hubungan ibadah (transdental) dengan Allah SWT. 

- Penjelasan: Jadi berhubungan dengan fokus, konsisten dan totalitas. Belajar "men-satu-arahkan". Itu makanya ibadah puasa itu privasi antara makhluk dengan Tuhannya. 
 
- Goal: anda merasakan bahwa segala sesuatu menjadi Berkah. Dan puncak keberkahannya adalah "lailatul qadar". 
 
2. Kebajikan yang diaktualisasikan akan mendapat pahala berlipat ganda. 

- Penjelasan: Jika kita melakukan proses sebaik-baiknya, jangan khawatir urusan hasil. Tawakal saja. Sebutlah Pahala ini suatu kebahagiaan, dan ini ukurannya tidak linear karena berupa rasa. Semakin anda bisa khusyu, maka si rasa yang bisa anda terima akan semakin berlipat. Artinya ini berhubungan dengan hati, penyucian hati (thaharatul qulub) dalam kaitannya dengan nafsu-nafsu. Hati sebesar gelas, ya nampungnya cuma segelas, dst. Konteks pahala ini bukan sekedar hitungan logika, kecuali buat anak kecil yang masih suka permen. 
 
- Goal: Ketenangan, ketentraman dan kebeningan hati. Mukasyafatul qulub. 

3. Ingat bahwa bulan Ramadhan itu bulan untuk melatih kesabaran anda. 

Penjelasan: Bukankah rasa lapar dan haus --atau dengan bahasa anasir tubuh-- kekurangan "tanah" dan "air" akan meningkatkan dominasi "api" dan "angin" dalam tubuh..? "Api" dan "angin" ini akan berusaha memporak-porandakan "kestabilan" tanah dan juga "binding" nya fungsi air. Makanya yg kelaparan suka cepet esmosi. 
 
- Goal: Ujian hidup bisa dinikmati dengan penuh keyakinan dan positive thinking ke Allah. 

4. Belajarlah bersimpati/empati kepada orang lain. 

- Penjelasan: Kualitas iman seseorang itu berhubungan dengan kualitas pandangan terhadap sesamanya, makhluk lain dan alam sekitar. Artinya harus bisa menyeimbangkan antara hubungan transedental dan horizontal, antara manusia sebagai makhluk Tuhan dengan manusia sebagai makhluk sosial. 
Dan empati ini merupakan "buah" yang dihasilkan dari pohon ibadah. Seperti halnya pohon yang rindang dan berbuah banyak. Rindangnya meneduhkan orang di sekitarnya (dalam bentuk perbuatan dan perkataan), dan hasil buahnya itu sebagai bentuk empati (memberi kebaikan lahir maupun batin). Allah Mahabaik, jadi contohlah sifat-Nya. 
Betapa pentingnya kebaikan horizontal ini, sampai disebutkan begini, "barangsiapa yang memberi makan untuk berbuka kepada orang lain, maka pahalanya seperti puasanya orang tersebut.
Mudah-mudahan hadist ini bisa dipahami maknanya dan dirasakan esensinya. 
 
- Goal: Dirindukan para penghuni langit. 
 
5. Meningkatkan amal sholeh. 
 
Penjelasan: "Sholeh" itu maknanya memperbaiki, jadi berupa "kata kerja". Tidak statis, tapi dinamis. Artinya ini ada hubungannya dengan kreativitas masing-masing meski tetap dalam batasan koridor yang fix. "Meningkatkan" ini terkait secara kualitas dan kuantitasnya. 

- Goal : Mendapat Rahmat Allah, juga menjadi saluran rahmat. 
 
6. Memperbanyak berdoa dan meminta ampunan. 

- Penjelasan: Ini berhubungan dengan pembersihan diri, taubat, shafa (penyucian hati), dan juga "penerimaan". 

- Goal : kita ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepada kita. Tentu sebelumnya harus melewati tahapan tertentu (ahwal & maqamat). 

** 
Disarankan :
Sebelum memasuki bulan Ramadhan disarankan melakukan Mandi Wajib dan Shalat Taubat, serta Niat yang kuat terkait pengamalan dari ke-6 pesan Rasulullah SAW di atas. 

Semoga... 
#ombad #ramadhan #tasawuf 

07 April 2020

OPTIMIS, BUAH IMAN

Optimisme itu menyertai Kebenaran. Orang yang optimis itu akan berpikir positif, yakin kepada Tuhannya dan juga kepada dirinya sendiri. Dan selanjutnya, ia akan selalu berbaik sangka kepada Tuhannya.

Dalam sebuah Hadist Qudsi, Rasulullah SAW bersabda : 
 
إِنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا يَقُولُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فله. رواه ابن حبان

Allah SWT berfirman, 
Aku itu tergantung prasangka hamba-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Sebaliknya, jika ia berprasangka buruk, maka itulah yang didapatkannya.” (HR. Ibn Hibban, dari Abu Hurairah ra.)
 
Sebuah Hadist riwayat Imam Ahmad ra., 
 
Rasulullah SAW berkata, "Tidak ada perasaan buruk dan kesialan, dan yang lebih baik dari itu adalah rasa optimistis." 
Sahabat bertanya, "Apa yang dimaksud dengan rasa optimistis..?" 
Rasulullah menjawab, "Yaitu Kalimat Baik yang sering didengar oleh salah seorang dari kalian." 

Tumbuhnya sikap optimistis berkaitan erat dengan keimanan, terutama iman kepada Takdir, iman kepada Qadla dan Qadar. Artinya segala sesuatu yang menjadi ketetapan Allah itu akan selalu mengandung Hikmah dan Kebaikan. 
 
Jadi, tetaplah bersikap positif dan optimis, mau mati atau kiamat besok sekalipun..

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
 
Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah benih (tunas), maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari & Ahmad)
 
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah : 5-6)
 
Semoga...
#ombad #tasawuf #optimis 

27 March 2020

TASAWUF DALAM WABAH COVID-19

Corona atau Covid-19 itu wabah, jadi posisinya Sunatullah, sedangkan kematian itu takdir yang bersifat rahasia. Sunatullah adalah "setetes" takdir yang diberitahukan kepada manusia melalui ilmu pengetahuan, sedangkan yang dirahasiakan-Nya tetap bagaikan jumlah tetes air di lautan luas..

Penyakit merupakan salah satu sebab terjadinya kematian adalah benar, namun hakikat kematian itu sendiri adalah takdir yang dirahasiakan-Nya..

Membandingkan antara Sunatullah dan Takdir termasuk analogi yang tidak tepat karena berbeda kedudukan dan sifatnya. Doa itu kan bukan pengganti disinfektan.. 😀.. jadi berdoa dan menjaga kesehatan/berobat harus dijalankan secara bersamaan.. Dan biarlah Takdir kematian itu kita serahkan kepada Yang Maha Memiliki Kehidupan dan Kematian. 
 
Pendekatan agama, sebutlah itu untuk kondisi batin (jiwa), setidaknya akan menguatkan keyakinan, sugesti, kepercayaan diri, bisa membebaskan kekalutan, ketakutan serta perasaan buruk lainnya, sehingga hasilnya (baca: kondisi kejiwaan yang positif) secara tidak langsung akan mempengaruhi secara tidak langsung akan mempengaruhi penguatan pikiran (mind/brain power), lalu si brain power ini bisa mengkoordinir, membentuk dan menguatkan sistem penunjang imunitas tubuh, dan ini salah satu efek positifnya. 
 
Tetapi yang pasti adalah selalu berusaha semaksimal mungkin dalam melakukan metode untuk pencegahan, penyebaran wabah, dan juga terapi khusus bagi penderita (sesuai dengan ilmu kesehatan), sebagai penunjang kesembuhan.. dan inilah Sunatullah. 

Keseimbangan dalam berpikir dan bertindak baik secara lahir maupun batin tentu sangat berhubungan dengan kematangan pemahaman nilai-nilai agama, yang ujungnya adalah nilai-nilai kehidupan. 
 
Bukankah "Kebersihan sebahagian dari iman.." atau "Bersuci itu separuh iman.." dalam konteks agama pun tidak lepas dari dukungan sains dan ilmu kesehatan..? Bukankah alat penunjang Kebersihan juga dibuat berdasar sains, begitu pun pengukuran kualitas air, produk alat kebersihan diri (sabun, disinfektan, dll), tata cara kebersihan lingkungan, penanggulangan wabah, dsb. Bukankan itu semua tidak sekedar "kebersihan batin" yang mungkin bisa didekati dengan doa, ibadah dan dzikir aja..? 
 
Jadi sesuatu yang tidak lucu jika cara menangkal wabah penyakit melalui ritual-ritual ibadah secara bersama-sama (berjamaah) lalu kumpul di tempat yang tidak steril. Itu namanya "suatu perkara yang tidak diserahkan kepada ahlinya maka tunggulah kerusakannya". Bukankah dalam setiap perkara itu penyelesaiannya harus sesuai dengan bidang keilmuannya..? Jadi jangan sampai terbalik donk dalam memposisikan keilmuan sebagai solusi bagi umat. Mau nipu umat ya..? 😀 
 
Ah, padahal tanpa ada wabah penyakit pun seringkali para salik disarankan melakukan "lockdown", atau sementara melakukan "social distance". Iya, mereka ber-uzlah atau ber-khalwat siang dan malam, berhari-hari tanpa tidur sedikitpun, karena "melihat" ke dalam diri, lalu meneliti ke dalam diri itu membutuhkan totalitas dan ketenangan di hadapan Tuhannya.. 
 
Semoga...
#ombad #tasawuf #dalam 

02 January 2020

TASAWUF DALAM KAPAL NABI NUH

Ada seorang pemimpi(n) mengatakan, "Ya kita harus hati-hati, sebab tidak ada yang bisa mengatasi banjir, sekelas Nabi Nuh aja nyerah.." 

Pernyataan di atas seperti benar tetapi sebetulnya SALAH KAPRAH karena beda sekali kualitas dan kondisi banjirnya. Ini seperti sebuah perahu kecil membicarakan kapal induk. 

Tapi satu hal yang pasti, Nabi Nuh berusaha agar semua bisa SELAMAT dari bahaya banjir dengan "memilih" atau "dipilihkan" solusi dari-Nya yaitu membuat kapal induk. Dan itulah "cara mengatasi banjir" yang diambil Nabi Nuh. Intinya itu bukan masalah dengan akan datangnya banjir (air berlimpah) tetapi bagaimana cara mencegah dampak dari banjir. 

Jadi yang harus dilihat itu adalah upaya apa yang dilakukan Nabi Nuh selama bertahun-tahun agar semua (manusia, hewan, dsb) bisa selamat dari dampak banjir. Dan ini Proses.

Jika mencegah "banjir" (baca: air yang berlimpah) gak bisa, maka solusi apa yang harus diambil supaya "air yang berlimpah" ini tidak menjadi ancaman bagi warga dan lingkungannya. 

"Kapal Nabi Nuh" harusnya dimaknai sebagai suatu "Sistem yang Integral" penanganan terhadap banjir. Iya, SISTEM YANG INTEGRAL, karena kapal dijalankan dengan mekanisme tertentu, dari navigasi (arah kebijakan), life support (sistem pendukung dan mitigasi bencana), sekoci (risk management), dsb. 

Bukankah di dalam kapal Nuh juga ada "rumah" buat manusia, "rumah" buat segala macam hewan, ada tanaman dan ada persediaan makanan..? Bukankah ada "sistem mitigasi bencana" di dalam kapal dan bisa menjamin kehidupan yang aman dan nyaman selama "musim" banjir berlangsung..? 

Nabi Nuh membutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan "lingkungan" di dalam kapalnya sehingga semua kepentingan bisa terakomodir. Ini menyiratkan bahwa sebagai seorang Pemimpin, Beliau berusaha mati-matian menganalisa semua dampak banjir yang akan terjadi di masa depan, dan ini bisa diartikan bahwa perlu suatu proses untuk menciptakan sistem yang handal dari kemungkinan bahaya banjir. 

Memang solusi pada waktu itu adalah dengan membuat sebuah kapal, tentu karena beberapa pertimbangan. Dan Nabi Nuh pun mampu jadi juru selamat bagi yang ingin diselamatkan, baik itu dari kalangan manusia, hewan maupun tumbuhan. 

Artinya Nabi Nuh itu berusaha keras mengantisipasi akan datangnya banjir serta TIDAK NYERAH ketika datangnya banjir padahal lebih besar berkali-kali lipat.. dan tentunya Nabi Nuh pun tidak bodoh.

😊
Semoga.. 
#ombad #tasawuf #dalam 

Catt..
Dalam doa di bawah, boleh kok kata "berlayar" dimaknai sebagai awal, dan kata "berlabuh" sebagai akhir dari masa jabatan, agar semua warga bisa selamat dari ancaman banjir..

18 December 2019

DUALITAS - PARADOKS - SINGULARITAS

Proses "menyatukan" sisi dualitas yang saling berlawanan (paradoksial) dalam perjalanan hidup/spiritual itu bisa menjadi tema yang menarik dan sedikitnya bisa memberi gambaran akan "tujuan" Tuhan dalam penciptaan makhluk. Dan lebih luas lagi adalah memahami makna atau esensi dari "ibadah" itu sendiri. 

Ketika bisa "menyatukan" kedua sisi yang berlawanan, biasanya akan berpengaruh terhadap pembentukan sikap yang positif, seperti Kelenturan, Fleksibilitas, Kedewasaan Berpikir dan Kearifan (Bijak). Jadi bisa dibilang, "penyatuan" ini adalah merupakan resep "anti kejumudan" dan bisa memaksimalkan potensi dalam arah menuju "kesempurnaan" sebagai manusia.

Jadi, kalau Kepintaran itu masih berbicara tentang "atau", maka Kearifan itu sudah mengakui "dan". Jika dihubungkan dengan intelektualitas, artinya Kearifan itu merupakan kematangan intelektualitas.

Dualitas dari unsur yang "paradoks" ini selalu ditemukan baik dalam bahasan agama ataupun budaya/tradisi. 

Dalam Hindu, ada unsur Shiva dan Shakti (Durga), ketika bisa "menyatukan" maka jadilah Ardhanareswara (penyatuan). Dan lahirlah anaknya, Ganesha (pengetahuan, gnosis).

Dalam Yahudi, ada unsur Ein Sof dan Sefirot. Penyatuan kedua unsur ini nanti akan berhubungan dengan "iluminasi" Zohar, jalan menuju Yahweh.
 
Dalam Zoroastrianisme (Majusi), ada unsur Ahriman (Angra Mainyu) dan Spenta Mainyu, lalu selanjutnya "memasuki" cahaya Ahura Mazda (Tuhan yang bijaksana).

Dalam Islam, ada unsur Jamaliyah (keindahan) dan Jalaliyah (kekuatan). Penyatuan kedua unsur ini nanti akan berhubungan dengan "mengenal" Allah, yaitu Makrifat

Dalam tradisi Cina, ada unsur Yin dan Yang, ketika bisa "menyatukan" maka jadilah Tao (kebenaran). 

Dalam tradisi Jawa, ada unsur Lanang dan Wadon (Lingga - Yoni), ketika bisa "menyatukan" maka jadilah Semar (kebijakan). 
 
Dan "titik tengah" dari semua itu adalah "kasih sayang" dan "cinta" (hubb, mahabbah), yang dalam konsep agama samawi digambarkan dalam sosok Isa putera Maryam (Jesus putera Maria). Dan "titik tengah" ini yang bisa menyatukan dualitas, sehingga mudah memasuki Singularitas, iya, "titik tengah" yang berupa Cinta Kasih. 

"Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk; ia merupakan padang-rumputnya menjangan, biaranya para rahib, rumahnya berhala, ka'bah tempat orang berthawaf, sabaknya Taurat, dan mushafnya al-Qur’an. Agamaku adalah Agama Cinta, yang kuikuti ke mana pun langkahnya; itulah agama dan keimananku.." (Muhyidin Ibn Arabi ra.)

"Yakinlah, di Jalan-Cinta itu: Tuhan akan selalu bersama-Mu.." (Mevlana Rumi ra.)

Itu makanya dalam tasawuf disebutkan, para salik (pejalan) itu tidak akan Ma'rifat jika tidak Mahabbah, dan begitu juga sebaliknya. 
 
Semoga..
#ombad #tasawuf 

Ket. Foto : 
Lukisan berjudul "Elysivm & Tartarvs" karya Ize Hawkeye .. dan tulisan di atas adalah analisis lukisannya.
 

16 December 2019

ADAM DAN MANUSIA PURBA

Dalam tinjauan Al-Quran, klasifikasi manusia itu ada 3 jenis, yaitu : 
 
1. Manusia sebagai AL-BASYAR, yaitu lebih ke "makhluk biologis" seperti halnya hewan, yaitu: ada bentuk atau postur tubuh, anggota badan, mengalami pertumbuhan atau perkembangan jasmani, makan, minum, melakukan hubungan seksual, beranak-pinak, dsb. 
 
2. Manusia sebagai AL-INSAN, yaitu manusia sebagai makhluk istimewa, ber-ilmu pengetahuan, punya nilai moral serta spiritual. Inilah inti dari manusia sebagai khalifah dan pemikul amanah (pemikul al-wilayah al-Ilahiyah).
 
3. Manusia sebagai AN-NAAS, yaitu manusia sebagai makhluk sosial yang harus bisa mengatur kehidupan sosialnya. 

Manusia purba itu poin 1 atau Al-Basyar saja, tetapi Adam adalah "manusia pertama" yang utuh, baik sebagai manusia Al-Basyar, Al-Insan maupun An-Naas. Dalam tasawuf ada istilah Al-Insan Kamil
 
Ibn Khaldun menggambarkan manusia purba ini sebagai alam kera (Alamul Qiradah), yang tidak memiliki kosa kata yang cukup untuk berkomunikasi (lebih ke bahasa isyarat atau simbol), juga penggunaan alat bantu yang sangat terbatas. 

Hal ini berbeda dengan Adam --sebagai "manusia pertama" di bumi-- yang sudah mampu berkomunikasi menggunakan bahasa lisan serta sudah dibekali ilmu pengetahuan.  

"Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, 'Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini jika kamu yang benar'.." (QS. Al-Baqarah: 31)

Artinya Adam, serta generasi selanjutnya sudah memiliki pengetahuan tinggi untuk hidup di dunia. Misal, Nabi Idris telah memiliki kemampuan menulis, 

"Ada seorang Nabi yang menulis di atas pasir." (HR. Muslim)
 
Dalam Hadist lain, 

".. Nabi Idris adalah manusia pertama yang menulis dengan pena.." 

Dalam Al-Quran, kata "An-Naas" lebih banyak dibanding kata "Al-Insan", apalagi dibanding kata "Al-Basyar". 

Hal ini menyiratkan bahwa kualitas manusia itu harus bisa menjadi "An-Naas" dimana ia bisa mengatur aspek-aspek sosial serta budaya di dalam kehidupannya. Hal ini bisa dicapai jika masing-masing diri bisa memunculkan dan menguatkan sifat "Al-Insan" nya, bukan sekedar jadi makhluk biologis "Al-Basyar" saja, karena betapapun primitifnya, manusia itu bisa melakukan segala sesuatu yang dilakukan binatang sehingga seringkali kelewat batas dan tak terkendali. 

Jadi, tinjauan Teori Evolusi itu lebih ke konteks "Al-Basyar" aja, ada "penyesuaian" karena terikat ruang dan waktu. Dan tentunya bisa berbeda jika dalam posisi "Al-Insan" ataupun "An-Naas" karena lebih timeless and spaceless. 

Semoga...
#ombad #tasawuf

12 December 2019

KENAPA BABI DIHARAMKAN ?

Sampai saat ini, alasan secara rasionalnya belum jelas. Semua Muslim menerimanya itu dasarnya lebih ke menjalankan perintah Tuhan atau aturan syariat aja. 

Dulu pernah pakai alasan hewan kotor atau jorok, tapi seiring waktu, saat bermunculan peternakan babi modern yang higienis, alasan ini pun sudah tidak bisa relevan dan berlaku lagi.

Pernah juga ada alasan bahwa babi itu hewan penuh nafsu sex.. emang binatang yang lain enggak gitu..? Sama aja semua binatang itu, mau ayam, kambing, sapi, bahkan onta juga.. kalo ada betinanya nungging, ya langsung numpak.. emang sih, si bebong ini saat orgasme lama, yaitu 30 menit.. yang lain mah paling 1 menit doank.. 😂 

Pernah juga ada alasan ekonomi dan budaya saat itu terkait daerah Timur Tengah, ya bisa juga seperti itu.. tapi pengharaman babi ini kan berlaku sampai kiamat.. meski sekarang di Timteng bisa bikin peternakan yang bagus buat babi. 

Tetapi yang harus dicatat, biasanya dasar dari aturan syariat itu adalah untuk kebaikan manusia. Jika aturan syariatnya berhubungan dengan makanan atau minuman, maka pasti ada hubungannya dengan kesehatan. Itu makanya diharamkan makan Bangkai dan Darah pada ayat "diharamkan Bangkai, Darah, Daging Babi, Daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah" (lihat QS. Al-Baqarah: 173, Al-Maidah: 3, dan An-Nahl: 115) 

Tinggal dua alasan lagi yang harus dibuktikan. 
Pertama, si bebong ini ada kemiripan rantai DNA dengan manusia. Itu makanya organ babi bisa dijadikan organ transplantasi untuk manusia. Jadi makan babi seperti makan daging sendiri.. apakah ini nantinya ada hubungan dengan mutasi..? Wallahu a'lam, waktu belum memberikan jawaban.. 😍 

Kedua, alasan secara hakikat atau tasawuf yang lebih berhubungan dengan nafsu kebinatangan, dan ini lebih subjektif karena harus mengalami sendiri.. "terliar dari yang terjinak" .. 😂 
Baca ini : Tasawuf Dalam Seekor Babi, https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10215492474609914&id=1380159371 .. atau http://ombad69.blogspot.com/2019/08/tasawuf-dalam-seekor-babi.html?m=1 .. 
 
Cuma ya itu, kadang si bebong ini jadi momok haram yang sangat menakutkan bagi Muslim dibanding bangkai, darah, serta hasil sembelihan tanpa nama Allah. Padahal kalo tinjauannya urusan haram, saya pribadi lebih meyakini lebih haram makan "ayam yang dibeli pakai duit hasil korupsi" dibanding makan "babi yang dibeli pakai duit halal", kenapa..? 
Karena duit korupsi itu tanpa nama Allah dan ada kaitannya dengan merugikan yang lain (dzalim dalam hablum minannaas), sedangkan yang terakhir, yaitu si bebong mah hanya untuk diri sendiri.

Semoga..
#ombad #tasawuf 

07 December 2019

SIAPA YANG MENGHINA NABI..?

Sungguh aneh jika orang NU yang biasa jadi tukang shalawatan, istighosah, tahlilan, sarkub, dsb dituduh menghina Kanjeng Nabi. 

Masa gak paham, kami ini di NU menyebut Nabi aja pakai "Kanjeng Nabi" atau "Kanjeng Rasul", sebagai bentuk adab dan pemuliaan. Bahkan ketika bershalawat pun ditambah "sayyidina" karena merasa sangat tidak layak dan rendah jika harus menyebut nama Beliau secara langsung. 
 
Bagi kami, para penghina Nabi yang sesungguhnya adalah orang-orang yang gemar mengaku-aku keturunan Kanjeng Nabi, tetapi kelakuannya sangat bertolak belakang dengan Beliau, bahkan minus. 

Bukankah akhlaq Kanjeng Nabi itu, jika berceramah isinya itu tidak memaki, tidak melaknat, tidak ngawur, tidak hoax, tidak fitnah, bahkan tidak kasar dengan mengekploitasi nama-nama binatang..? 

Masa saat naik panggung, ayat Al-Qur'an atau Hadist dicampur dengan binatang-binatang yang memiliki kenajisan, mulai dari binatang yang berkadar najis Mutawasithoh, Mukhofafah, sampai yang Mugholadhoh.. 😂 
 
Dan yang mengherankan, mereka itu dari dulu tidak suka kepada NU. Apakah ini ada kaitannya sejarah masa lalu..? Apakah berhubungan dengan kasus DI/TII, atau PKI, atau urusan Masyumi..? 

Bahkan para Kyai NU yang berceramah dengan lembut, sambil guyon dan tersenyum pun tidak luput dari kebencian mereka. Mereka selalu menyerang Kyai NU, sambil menegangkan leher, mata melotot, teriak-teriak, wajah memerah, dan menarik urat lehernya, sehingga suara mikrofon pun makin menggelegar, bikin berisik, bikin gendang telinga mau jebol. Jadi mirip di terminal, berteriak-teriak kayak kondektur atau calo penumpang.. bahkan mereka memfitnah Kyai-kyai NU, sampai tuduhan munafik, murtad, bahkan kafir. 
 
Aneh.. padahal Kanjeng Nabi itu orangnya lembut, budi bahasanya halus, penuh adab, tidak pernah meluapkan kemarahan yang berapi-api.. Iya, kan aneh.. masa umatnya kayak yang lagi kesetanan..?! 

Jadi siapa penghina Kanjeng Nabi yang sesungguhnya..?

Semoga...
#ombad #NU

03 December 2019

TUKANG CACI MAKI

Suatu ketika Sayyidina Hasan bin 'Ali bin Abi Thalib ra. (cucu Rasulullah SAW) dicaci maki oleh orang yang tidak suka padanya. Beliau dicaci maki habis-habisan di depan putranya, tapi Beliau hanya diam saja tidak membalas.

Putranya kemudian bertanya, 

Kenapa Ayah tidak membalas caciannya..? Bukankah Ayah tidak seperti itu..?

Sayyidina Hasan menjawab, 

Ayahku ('Ali bin Abi Thalib), Ibuku (Fatimah Az-Zahra), dan Kakekku (Muhammad SAW), mereka semua tidak pernah mengajariku bagaimana cara mencaci-maki. Jadi aku bingung dan tidak tahu bagaimana caranya membalas..”
 
Imam Malik ra. pernah berkata,

قَالَ الإِمَامُ مَالِكُ -رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-: (إِنْ رَأَيْتَ الرَّجُلُ يُدَافِعُ عَنِ الْحَقِّ "فَيَشْتُمُ وَيَسُبُّ وَيَغْضَبُ" فَاعْلَمْ أَنَّهُ مَعْلُوْلُ النِّيَّةِ، ِلأَنَّ الْحَقَّ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى هَذَا).

"Jika engkau menyaksikan seseorang sedang membela Kebenaran (al-haq), tetapi lisannya mengeluarkan cacian, makian, sumpah-serapah dan mengobral kemarahan, maka ketahuilah bahwa Niat di Hatinya sudah terkotori, karena Kebenaran (al-haq) tidak membutuhkan semua itu." 

Jadi ciri orang yang berilmu (yang haq) itu mudah diketahui.. lihat saja karakternya, apakah ia suka membenci dan mencaci maki atau tidak..? 

Bukankah akan selalu ada "anjing neraka" yang biasa masuk mesjid, menguasai mesjid, tidur di dalamnya, bahkan sering melakukan propaganda dengan caci maki kalimat kotor, serta menjadi bughat..?
 
Ingat selalu, kalo pelajaran Biologi zaman old itu ada jenis Herbivora, Karnivora, dan Omnivora. Nah.. dalam pelajaran Biologi zaman now itu ada revisi, yaitu : Herbivora, Karnivora, Omnivora dan Nasbungvora. Dan ciri-ciri makhluk Nasbungvora adalah : berkaki dua, bertelur dua, berdarah panas, suka caci-maki, hidup di daratan, dan bertulang belakang.. 😀 
 
**

Rasulullah SAW bersabda,

الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ

"Khawarij adalah anjing-anjingnya neraka." (HR. Ahmad & Ibn Majah)
 
Semoga..
#ombad #tasawuf 
 

22 November 2019

ORANG BERAKAL

Salah satu perintah dalam agama itu Mengolah Akal, itu makanya disebutkan tiada agama bagi orang yang tidak berakal. Dan salah satu ciri orang yang tidak mengolah akalnya itu adalah menelan bulat-bulat sesuatu yang masih mentah dari masa lalu. 
 
Tanda dari semua ini adalah terjadinya kemunduran di berbagai bidang, khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu orang-orang yang "kalah" ini melakukan pembelaan diri dengan ungkapan "kehidupan akhirat lebih penting" tanpa paham maksudnya. Padahal sudah jelas disebutkan bahwa manusia yang paling bagus kualitasnya di hadapan Tuhan itu adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesama, lingkungan sekitar dan lebih luas lagi, alam semesta ini. 

Hal ini merupakan konsekuensi dari "manusia sebagai khalifah alam", sebagai "saluran rahmat" bagi alam ini, dan bukan hanya alam akhirat saja. 
 
**
 
Menurut Buya HAMKA, dalam bukunya "Falsafah Hidup", orang berakal itu memiliki tanda-tanda nyata dalam sikap dan perilakunya sehari-hari, ada 9 kriteria yaitu : 

Pertama, orang berakal itu luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan. Pandai memilih perkara yang memberi manfaat dan menjauhi yang akan menyakiti. Dia memilih mana yang lebih kekal walaupun sulit jalannya daripada yang mudah didapat padahal rapuh. 
 
Kedua, orang berakal selalu menaksir harga dirinya, yakni dengan cara menilik hari-hari yang telah dilalui, adakah dipergunakan kepada perbuatan-perbuatan yang berguna, dan hari yang masih tinggal ke manakah akan dimanfaatkan. Jadi, tidak ada waktu yang digunakan untuk hal-hal yang tidak berfaedah, apalagi sampai menguliti kesalahan atau aib orang lain.

Ketiga, orang berakal senantiasa berbantah dengan dirinya. Sebelum melakukan suatu tindakan, ada timbangan yang digunakan, apakah yang dilakukannya baik atau jahat dan berbahaya. Kalau baik, maka diteruskan, jika berbahaya segera dihentikan.

Keempat, orang berakal selalu mengingat kekurangannya. Kalau perlu dituliskannya di dalam suatu buku peringatan sehari-hari. Baik kekurangan pada agama, atau pada akhlak dan kesopanan. Peringatan diulang-ulangnya dan buku itu kerapkali dilihatnya untuk direnungi dan diikhtiarkan mengasur-angsur mengubah segala kekurangan itu. 

Kelima, orang berakal tidak berdukacita lantaran ada cita-citanya di dunia yang tidak sampai atau nikmat yang meninggalkannya. Diterimanya apa yang terjadi atas dirinya dengan tidak merasa kecewa dan tidak putus-putusnya berusaha. Jika rugi tidaklah cemas, dan jika berlaba tidaklah bangga. Karena cemas merendahkan hikmah dan bangga mengihilangkan timbangan. 

Keenam, orang berakal enggan menjauhi orang yang berakal pula. Artinya, temannya adalah orang yang berhati-hati dalam hidupnya, sehingga terjaga komitmennya dalam memegang risalah kebenaran.

Ketujuh, orang yang berakal tidak memandang remeh suatu kesalahan. Walaupun bagaimana kecilnya di mata orang lain. Dia tidak mau memandang kecil suatu kesalahan. Karena bila kita memandang kecil suatu kesalahan, yang kedua, ketiga, dan seterusnya, kita tidak merasa bahwa kesalahan itu besar, atau tak dapat membedakan lagi mana yang kecil dan mana yang besar. 

Kedelapan, orang yang berakal tidak bersedih hati.Orang yang berakal tidak berduka hati. Karena kedukaan itu tiada ada faedahnya. Banyak duka mengaburkan akal. Tidak dia bersedih, karena kesedihan tidaklah memperbaiki perkara yang telah terlanjur. Dan, banyak sedih mengurangi akal. 

Kesembilan, orang berakal hidup bukan untuk dirinya semata, tetapi untuk manusia dan seluruh kehidupan. Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukan buat dirinya sendiri. 

Dan selanjutnya, menurut Buya Hamka, orang berakal itu hanya memiliki kerinduan kuat pada tiga perkara. Pertama, menyediakan bekal untuk hari kemudian. Kedua, mencari kelezatan buat jiwa. Dan, ketiga, menyelidiki arti hidup.
 
Semoga..
#ombad #tasawuf 
 
Ket. Gambar..
Puzzle belum lengkap, jadi masih terkotak-kotak.