09 June 2020
KOSONG
24 August 2019
TAK ADA.... JUDUL.
Dalam kekosongan, pikiran akan diam dari segala sesuatu, seperti sebuah tanah kosong yang siap ditanami. Dan benih-benih pun akan tersemai jika "getaran buta dari cinta" dalam kalbu sudah muncul.
Benih-benih ini akan tumbuh dengan subur jika "Awan Ketidaktahuan" semakin membesar, dan akhirnya menurunkan tetesan-tetesan pengetahuan (gnosis, makrifat) dari langit, seperti halnya tetes-tetes hujan yang menumbuhkan benih dan menyuburkan tanah.
Lalu pohon-pohon pun tumbuh berkembang dan nantinya siap untuk dipanen, berbuah kebijaksanaan ('Arifin).
Dan tetap, kemuliaan-Nya akan menempatkan sang diri dalam lekuk batu sambil ditutupi, tetap rahasia serta menjadi misteri, dan "ketidaktahuan" tetaplah "ketidaktahuan".. karena "Ehyeh asyer Ehyeh" (Aku adalah Aku) akan tetap tidak bisa dipahami oleh akal. Ya, di atas akal, jauh melewatinya.
Dan akhirnya yang tersisa adalah al-Hasrah (pilu hati), al-Hairah (rasa kacau), al-Walah (kebingungan) dan al-Haiman (kehausan cinta). Iya, itulah Martabat al-‘Ama’.
**
Menurut Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs,
Martabat Ahadiyah atau disebut juga al-‘Amâ’ adalah martabat yang tidak ada ruang bagi auliya’ dan ulama (untuk menggapainya), melainkan hanya al-hasrah (pilu hati), al-hairah (rasa kacau), al-walah (kebingungan) dan al-haiman (kehausan cinta).
Martabat Ahadiyah merupakan martabat yang menjadi puncak tertinggi pencapaian para nabi dan ujung suluk para wali. Setelah (sampai di martabat) itu, mereka akan 'berjalan' di dalamnya dan pasti akan menuju kepada Allah, hingga mereka semua akan mengalami istighrâq sampai mengalami al-hairah (kebingungan spiritual) dan fana’. Tiada Tuhan selain Dia (laa ilaaha illaa huwa).
Segalanya musnah kecuali Wajah-Nya (kullu syai’ haalik illaa wajhah).
Allah menarik perhatian hamba-Nya untuk selalu bergerak dan berjalan menuju ke jalan-Nya (sebagai bentuk bimbingan dan pengajaran kepada mereka) melalui doa-doa yang dipanjatkan kepada-Nya serta dalam munajat-munajat (dzikir) bersama-Nya. Dalam doa-doa dan munajat-munajat itu, terdapat isyarat akan kembalinya yang banyak menuju tunggal yang sempurna yakni kamal al-wihdah yang mengenyahkan keberbilangan (nihayah al-katsrah).
Artinya, ketika Allah ingin membimbing hamba-hamba-Nya ke Martabat Ahadiyah tersebut, maka hamba-Nya ini akan terdorong hatinya agar mereka selalu ber-tawajuh dan ber-taqarub secara terus-menerus sampai menjadi sebuah kebutuhan.
Proses tawajuh dan taqarub mereka akan berakhir pada ‘isyq dan mahabbah yang paling hakiki (al-haqiqah al-haqqiyyah) saja, hingga menyebabkan runtuhnya penyematan (al-idhafat) yang melahirkan kesan pada keberbilangan atau dualitas terhadap Allah, yang setelah itu, niat mereka menjadi murni dan layak untuk fana'.
Bingung artinya sudah tidak bisa distrukturkan oleh akal, walau akal kulli sekalipun. Sejago-jagonya akal, itu masih ciptaan-Nya. coba hubungkan dengan QS. al-Ikhlas ayat 4, yang esensinya semua makhluk (beserta organ-organ pendukungnya; akal, logika, perasaan) itu tidak akan bisa mendefinisikan Penciptanya.
Kalau masih bisa ditangkap akal, masih disebut karakteristik dualitas, makhluk. Itulah kenapa bingung (al-hairah, al-walah).
“Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Ruhku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Cahayaku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Qalam. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Akal.” (HR. Abu Daud)
Dari hadist inipun, tersirat bahwa akal (kulli) menempati peringkat yang paling bontot, dibanding dengan ruh.. seperti yang disebutkan dalam sebuah hadist,
"Aku dari Allah dan orang-orang yang beriman berasal dari diriku."
.
.
Semoga..
#ombad #tasawuf
22 August 2019
KEPERCAYAAN
Tuhan menampakkan diri-Nya kepada seorang hamba sesuai dengan Kesiapan dan Kapasitas hamba-Nya dalam pengetahuan (pemahaman) nya. Kapasitas pengetahuan ini tergantung "kesiapan pastikular" masing-masing, sampai akhirnya bisa lengkap (kesiapan universal).
Begitupun, kepercayaan seorang hamba kepada Tuhannya inipun akan dipengaruhi oleh kapasitas pengetahuannya. Dalam konteks tasawuf, tentu berbeda pemahaman antara makrifat asma, af'al, sifat ataupun dzat. Seperti halnya antara air, es, uap air dan molekul H2O.
Jadi bisa disebut bahwa Tuhan yang diketahui oleh seorang hamba itu identik dengan Tuhan dalam kepercayaannya (ilah al-mu’taqad).
Dan karena perbedaan kapasitas, seringkali tidak ada titik temu, lalu akhirnya banyak yang mengambil "jalan pintas" yaitu menganggap kepercayaannya itu sebagai satu-satunya yang benar serta menyalahkan kepercayaan orang lain.
Jadi karena kebodohan, banyak yang memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu adalah Tuhan yang sebenarnya yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai oleh orang lain dan dianggapnya salah.
"Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentu kuda akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan tuhan-tuhan menyerupai sapi, dan dengan demikian mereka akan mengenakan rupa yang sama kepada tuhan-tuhan seperti terdapat pada mereka sendiri. Orang Etiopia mempunyai tuhan-tuhan hitam dan berhidung pesek, sedangkan orang Trasia mengatakan bahwa tuhan-tuhan mereka bermata biru dan berambut merah." (Xenophanes, 570-480 SM)
** H. Diels W. Kram, Die Fragmente der Vorsokratiker, Griechisch und Deutsch, 3 vol. (Berlin, 1934-1937)
Rasulullah SAW pun pernah bersabda,
“Aku melihat Tuhanku dalam rupa pemuda yang sangat elok.”
Semoga..
#ombad #tasawuf
27 June 2019
TASAWUF DALAM SEBUTIR KELAPA
Sampai kapanpun Tuhan akan tetap jadi misteri hamba-Nya. Sedemikian misteri/ghaib-Nya maka Tuhan pun seringkali membuat perumpamaan-perumpamaan agar lebih mudah dikenali makhluk-Nya. Bukankah "Tuhan membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Tuhan pun membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia"..? (QS. An-Nuur: 35)
Banyak ciptaan Tuhan yang dijadikan sebagai media perumpamaan-Nya, apakah itu hewan (anjing, lalat, semut, dll), fenomena alam (petir, hujan, batu, tanah, dll), bahkan sampai pohon pun dijadikan perumpamaan (zaitun, kurma, rumput, dll).
Dan karena di daerah gurun, maka pohon/buah kelapa "tidak sempat" dijadikan media perumpamaan.. 😀
Rasulullah SAW bersabda,
"Syariat itu Perkataanku, Tarekat itu Perbuatanku, dan Hakikat itu Kelakuan/karakterku."
Kelapa, seperti halnya agama, bagian buahnya pun berlapis-lapis.
- Sabut (kulit terluar).
Ini diibaratkan Syariat. Kulit kelapa berfungsi untuk melindungi lapisan dalam, melindungi terhadap benturan, seperti halnya syariat yang melindungi dan mengatur batas antara baik dan buruk. Kulit/sabut kelapa juga berfungsi untuk penyebaran buah kelapa, seperti halnya syariat yang selalu dikedepankan dalam penyebaran agama ke seluruh muka bumi. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, "Syariat itu Perkataanku.."
- Batok (tempurung).
Ini diibaratkan Tarekat. Batok kelapa yang keras ini berfungsi untuk melindungi daging kelapa dari gangguan luar, seperti halnya aspek pengamalan dalam tarekat khususnya terkait latihan-latihan jiwa, tadzkiyatun nafs, serta pembersihan diri dari sifat-sifat tercela, dengan tujuan memperkuat keyakinan diri beserta perbaikan kualitasnya.
Menembus batok kelapa yang keras ini seperti halnya riyadhoh dalam tarekat dalam melunakkan kerasnya hati, dimana diperlukan kesungguhan usaha, keistiqamahan, memperbanyak dzikir, suluk, uzlah/khalwat secara batiniah, serta "melatih" keikhlasan sebagai pondasi dasar dalam kemurnian tauhid. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, “Tarekat itu adalah Perbuatanku..”
- Daging kelapa.
Ini diibaratkan Hakikat, yang bisa dirasakan setelah melawati kerasnya riyadhoh, seperti halnya menemukan daging kelapa yang enak dan empuk, setelah bisa melewati kerasnya hijab tempurung hati. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, "Hakikat itu Kelakuan/karakterku."
- Air (Santan, Minyak) kelapa.
Ini diibaratkan Makrifat. Daging kelapa butuh diproses lagi agar bisa jadi Santan ataupun Minyak Kelapa. Keduanya sangat berbeda karakter, dimana Santan itu berumur pendek (cepat membusuk), seperti halnya kondisi Ahwal yang cepat berubah, dan Minyak Kelapa berumur panjang, lebih "abadi", seperti halnya rahasia keabadian ruhani manusia yang tersimpan dalam maqam ini, Baqa setelah Fana.
Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, “Makrifat itu adalah Rahasiaku..”
Rahasia, karena memang Makrifat itu berada di dalam Hakikat, ibarat minyak tidak akan muncul dengan sendirinya tanpa diproses terlebih dulu.
Dan dari air kelapa pun bisa jadi cuka bahkan tuak yang sangat berbeda jenisnya dengan cuka, seperti halnya cuka yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh, meski di lain sisi, kadangkala memunculkan tuak yang bisa "memabukkan".. 😀
**
وَعَائِيْنِ مِنَ الْعِلْمِ اَمَّا اَحَدُ هُمَا فَبَشَتْتُهُ لَكُمْ وَاَمَّااْلأَخِرُ فَلَوْبَثَتْتُ شَيْئًا مِنْهُ قَطَعَ هَذَالْعُلُوْمَ يَشِيْرُ اِلَى حَلْقِهِ
"Aku meriwayatkan dari Rasulullah SAW dua wadah ilmu: salah satunya telah kuberikan kepada kalian, adapun yang kedua, seandainya kuberikan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pedang untuk memotong leherku ini --dua wadah itu ialah Syariat dan Hakikat--." (Abu Hurairah ra.)
Menurut Imam Qusyairi (dalam Risalah Qusyairiyah) :
Syariat adalah perintah yang ditetapkan dalam ibadah, sedangkan hakikat adalah kesaksian akan kehadiran peran-serta ketuhanan dalam setiap sisi kehidupan. Kita sering mengenal istilah, Musyahadah Rububiyah, yakni melihat Tuhan dengan hati.
Dikatakan demikian sebab syariat merupakan pengetahuan atau konsep merambah jalan menuju Allah, sedangkan hakikat adalah keabadian melihat-Nya.
Sementara, Thariqah merupakan perjalanan hamba meniti jalan syariat. Artinya, aktualisasi prinsip-prinsip syariat dengan ketentuan hukum yang sah.
Syariat datang dengan beban hukum dari Sang Maha Pencipta, sedangkan Hakikat bersumber dari dominasi kreativitas Al-Haqq.
Syariat merupakan penyembahan makhluk pada Sang Khaliq, sedangkan Hakikat adalah kesaksian makhluk terhadap kehadiran-Nya.
Syariat adalah penegakan apa yang diperintahkan Tuhan, sedangkan Hakikat adalah kesaksian terhadap sesuatu yang telah ditentukan dan ditakdirkan-Nya, serta yang disembunyikan dan yang ditampakkan.
Jadi, Syariat adalah Hakikat dari sisi mana kewajiban diperintahkan, dan Hakikat sebenarnya juga merupakan syariat dari sisi mana kewajiban diperintahkan bagi ahli makrifat.
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
13 June 2019
KOSONG
Mau jadi gelas, teko, bak, kolam, danau atau laut..? Itu semua tergantung Keluasan Hati/Qalbunya. Dan Keluasannya ini sangat bergantung dari "Kekosongan" nya.
"Kosong" yang dimaksud ini seperti firman Allah SWT kepada Nabi Daud as.:
"Wahai, Daud. Kosongkan untuk-Ku sebuah rumah, agar Aku dapat tinggal di dalamnya."
Karena Nabi Daud as. belum memahami perintah ini, maka Daud as. pun bertanya kepada Allah : "Bagaimana caranya, wahai Tuhanku..?"
Allah SWT menjawab : "Kosongkan hatimu hanya untuk-Ku."
Jika bisa "kosong" maka bisa menampung "ketidak-terbatasan", infinity. seperti yang disebutkan dalam sebuah Hadist Qudsi :
"Tiada yang sanggup menampung-Ku, baik di bumi maupun di langit-Ku. Hanya hati hamba-Ku yang Mukmin yang dapat menampung-Ku."
Dalam konteks tasawuf, ketika bisa memasuki "kosong" maka bisa dikatakan seorang salik sedang memasuki alam makrifat, dan selanjutnya dianugrahi "ketidak-terbatasan" pandangan karena hatinya sudah memiliki "keluasan" yang tidak berbatas. Ini seringkali dianalogikan dengan "laut".
Syeikh Ibrahim bin Adham ra. berkata:
"Qalbu orang-orang yang sudah Makrifat kepada Allah Ta'ala mempunyai banyak mata, sehingga dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh yang lain. Pada qalbu mereka ada beberapa sayap sehingga dapat terbang menghadap ke Hadrat Rabbul 'Alamin dan menikmati keindahan dan kenikmatan surga serta dapat meminum air samudera Hikmah."
Dan seperti itulah makrifat, dan ujungnya akan terkait dengan ilmu, dan "keluasan" ilmu ini tergantung dari "wadah" nya, apakah wadahnya ini luas atau tidak. Dan "wadah" ini adalah Qalbu.
Qalbu yang setiap saat bisa "meminum" air samudera Hikmah karena berada di dalam Samudera hikmah. Qalbu yang setiap saat tersinari cahaya Tuhannya karena selalu terhubung kepada Tuhannya. Tuhan Pemilik Cahaya, Cahaya di atas Cahaya (Nuurun 'alaa Nuur) yang memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang dikehendaki dan dipilih-Nya.
Rasulullah SAW bersabda,
"Ketahuilah, bahwa ilmu adalah cahaya (Nuur)."
"Kosongkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, maka Allah akan memenuhinya dengan Makrifat dan Rahasia." (Ibn Athaillah ra., Al-Hikam)
Semoga..
#ombad #tasawuf
**
۞ اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ
"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(QS. An-Nur, 24 : 35)
04 September 2018
MAHABBAH
Mahabbah adalah bentuk masdar dari kata al-Hubb, dan berasal dari kata Ahabba, Yuhibbu, Mahabbatan, yg secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, bening dan bersih.
Mahabbah merupakan keinginan yang sangat kuat terhadap sesuatu melebihi kepada yg lain atau ada perhatian khusus, sehingga menimbulkan usaha untuk memiliki dan bersatu dengannya, sekalipun dengan pengorbanan.
Dalam konteks tasawuf, Mahabbah adalah suatu ajaran tentang cinta atau kecintaan kepada Allah. Sampai semua kecenderungan hatinya hanya kepada Allah.
Al-Sarraj (w. 377 H) membagi Mahabbah menjadi tiga tingkatan yaitu:
1. Cinta orang AWAM, yaitu selalu mengingat Tuhan dengan dzikir, senantiasa menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan.
2. Cinta orang SHIDDIQ, yaitu orang yg kenal kepada Tuhan, pada kebesaran-Nya tabir yg memisahkan diri seseorang dari Tuhan, dan akhirnya bisa melihat rahasia-rahasia pada Tuhan.
3. Cinta orang ‘ARIF, yaitu mengetahui betul Tuhan, yg dilihat dan yg dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yg dicintai. Akhirnya sifat-sifat yg dicintai masuk ke dalam ciri yg mencintai.
Mahabbah harus bisa diraih karena menjadi salah satu acuan untuk membebaskan diri dari hijab Syirik Khafi (kecenderungan hatinya), bahkan lebih tinggi dan lebih sempurna kualitasnya daripada Khauf dan Raja’ (takut dan pengharapan), karena Mahabbah ini tidak mengharapkan apa-apa dari Allah kecuali ridha-Nya.
Kecenderungan Hati yg dimaksud adalah merindukan "pertemuan" dengan Tuhannya karena rasa Mahabbahnya.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ (صحيح البخاري ج: 5 ص: 2384)
Dalam sebuah Hadist Qudsi, Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman :
“Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku atau wali-Ku maka Aku menyatakan perang terhadapnya.
Tidak seorang hamba pun mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yg paling Aku cintai, melainkan dengan apa yg telah aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku telah mencintainya, maka Aku yg akan menjadi telinganya yg digunakannya untuk mendengar, Aku akan menjadi matanya yg digunakannya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya yg digunakannya untuk memukul, Aku akan menjadi kakinya yg digunakannya untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan mengabulkannya, dan jika meminta perlindungan-Ku maka sungguh Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)
Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah akan senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak akan senang bertemu dengannya.” (HR. Bukhari)
“Barangsiapa yang mencintai sesuatu tanpa ada kaitannya dengan Mahabbah kepada Tuhan adalah suatu Kebodohan dan Kesalahan karena hanya Allah yang berhak dicintai.” (Imam Ghazali ra.)
Perlu dipahami bahwa hasil yg dicapai dari proses beragama (ibadah) itu sangat berhubungan dengan konteks Mahabbah. Coba direnungkan, kenapa surah-surah dalam al-Quran (kecuali Surah at-Taubah) selalu diawali Basmallah (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang).
Dan silakan renungkan juga kenapa ada Hadist ini :
Rasulullah SAW bersabda,
"Orang-orang yang penyayang disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)
"Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia niscaya Allah tidak akan menyayanginya." (HR. Bukhari - Muslim)
Ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi a'tini mahabbataka wa ma'rifataka.
Semoga..
#ombad #tasawuf #mahabbah
11 April 2018
MAKRIFAT ITU WAJIB
Dalam mukaddimah kitabnya al-Fiqh al-Akbar, Imam Syafi'i ra mengatakan :
"Hendaknya anda ketahui --semoga Allah melimpahkan kebahagiaan kepada anda-- bahwa, setiap Mukallaf itu diperintahkan untuk Ma'rifat kepada Allah.
Arti Ma'rifat adalah mengetahui apa yang ingin diketahui dalam wujud yang sebenar-benarnya tanpa ada sesuatu pun diantara sifat-sifat dari sesuatu yang ingin diketahui itu yang tersembunyi baginya. Hanya dengan perkiraan atau Taklid saja, pengetahuan dan Ma'rifat seperti itu tak mungkin bisa diperoleh. Sebab, perkiraan berarti menerima kemungkinan adanya dua hal, sedangkan arti Taklid adalah menerima pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber pendapat itu, dan yang demikian itu tentu saja tidak bisa disebut dengan mengetahui.
Allah berfirman,
"Maka hendaklah engkau ketahui bahwa tiada Tuhan Selain Allah."
Melalui firman-Nya tersebut, Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk Ma'rifat dan tidak sekedar dengan perkiraan atau Taklid semata."
(al-Fiqh al-Akbar, Mukaddimah)
Semoga..
#ombad #tasawuf