13 November 2020
SATU
15 August 2019
BRAIN POWER
Otak manusia yang sebesar tempurung kelapa ini menyimpan kekuatan yang dahsyat, dan potensi ini ada di setiap orang, sayangnya banyak yang otaknya (baca: pikirannya) masih terlapisi "racun".
"Dunia dikuasai oleh pikiran, dengan pikiran dunia terbentuk; semuanya terjadi di bawah kekuasaan pikiran.” (Buddha)
"Racun" inilah yang menyebabkan terjadinya konflik pikiran, sebutlah pertempuran antara otak kiri dengan otak kanan. Kondisi ini mempersulit aktifnya otak tengah (pineal) sehingga kekuatan yang tersembunyi dalam pikiran pun tidak muncul dan berkembang. Dan energi pun terbuang percuma.
Ketika pikiran terlapisi "racun", maka pikirannya tak lagi mampu melihat dan menanggapi suatu keadaan secara tepat, akan serba bias. Kesalahan ini dimulai dari prasangka buruk, kecurigaan, ketakutan dan kekhawatiran. Dan akhirnya akan berkembang menjadi suatu kebiasaan dan menjadi bagian dari karakter dan kepribadian.
Salah satunya adalah terjebak masalah "waktu", terjebak dalam masa lalunya. Ia hidup di dalam penderitaan, akibat kenangan atas gelapnya masa lalu, yang sebenarnya sudah tidak ada. Begitupun dengan masalah masa depan, bisa memunculkan keraguan dan ketakutan. Akhirnya dalam menjalani hidup hanya berkutat dan terombang-ambing di antara dua kubu, yaitu penyesalan akan masa lalu dan ketakutan akan masa depan. Hal ini akan mengakibatkan pikiran selalu dipenuhi ketegangan serta penderitaan, dan ujungnya, Kedamaian pun sulit dirasakan, kalaupun terasa hanya sesaat seperti sebuah fatamorgana.
"Orang yang pikirannya kacau, penuh dengan nafsu dan hanya melihat pada hal-hal yang menyenangkan saja, maka nafsu keinginannya akan terus bertambah. Sesungguhnya orang seperti itu hanya akan memperkuat ikatan belenggunya sendiri.." (Buddha, Dhammapada)
Meski pengendalian pikiran itu lebih kepada soal psikologis dan intelektual, tetapi karena adanya pengalaman (memori masa lalu) yang berupa penderitaan, konflik dan ketidakpuasan terhadap kehidupan, maka agama memberi solusi supaya aspek psikologisnya bisa tenang dulu, sehingga sesudah tenang akan lebih mudah untuk mengendalikannya,
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan Mengingat Allah (dzikir). Ingatlah, hanya dengan Mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d : 28)
Dan kalibrator dari proses pengendalian pikiran ini adalah Hati, karena keaktifan Pineal itupun berhubungan dengan hati/qalbu. Itu makanya disarankan agar hatinya bisa damai dulu dengan cara mendekati Pemilik Hati :
"Sesungguhnya, Hati tidak akan --merasakan-- Ketenangan, Ketenteraman, dan Kedamaian, melainkan jika pemiliknya berhubungan dengan Allah --dengan melakukan ketaatan kepada-Nya-- sehingga, barangsiapa yang tujuan utama --dalam hidupnya--, kecintaannya, rasa takutnya, dan ketergantungannya hanya kepada Allah, maka ia telah mendapatkan kenikmatan dari-Nya, kelezatan dari-Nya, kemuliaan dari-Nya, dan kebahagiaan dari-Nya untuk selama-lamanya." (Ibn Qayyim ra.)
Jadi ada hubungan yang erat antara otak kiri, otak kanan, otak tengah dan qalbu. Bukankah pencerahan (enlightenment) itu terkait dengan intelektual, ilmu, kesempurnaan etika/adab, moral, mental psikologis dan spiritual..?
Dan tetap yakinlah bahwa segala hal yang memiliki sifat untuk timbul, memiliki sifat untuk lenyap, meski saat ini masih sulit mengendalikan pikirannya, atau dengan kata lain, ularnya belum "jinak".
Btw, masih berupa "ular kobra" kan.. dan belum "ular naga"..?
Semoga..
#ombad #tasawuf #brainpower
08 November 2018
KALIMAT THAYYIBAH
Thoyyib itu artinya BAIK. Jadi Kalimat Thayyibah itu artinya Kalimat yang baik, apakah itu terkait dengan kebaikan, kesopanan, tidak kasar, tidak berdusta, tidak hoax, tidak mencaci-maki, dsb.
Itu makanya Kitab Tafsir mendefinisikan Kalimat Thayyibah afalah setiap ucapan yg mengandung Kebenaran dan Kebajikan yg bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, serta mengandung segala perbuatan Ma'ruf dan pencegahan dari perbuatan Munkar. Silakan mau pakai bahasa apapun.. sunda, jawa, indonesia, english, arab.. bahasa isyarat pun boleh lah, seperti senyum doank.. atau wajah berseri-seri.. :D
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan Kalimat Yang Baik (Kalimat Thayyibah) seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim : 24-25)
Ibnu Abbas ra. dalam tafsirnya mengatakan bahwa Pohon Yang Baik adalah gambaran pribadi yg baik, Muslim yang muhlis, yang melahirkan maslahah bagi sesama, dan selalu menjadi teladan/manfaat di lingkungannya.
Itu makanya ada Hadist yg mengisyaratkan bahwa "kalimat thayyibah" itu sangat berhubungan dengan amal atau perbuatan yg baik (ma'ruf).
Rasulullah SAW bersabda,
الكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
"Kalimat Thayyibah itu adalah sedekah." (HR. Bukhari)
Jadi, Kalimat Thayyibah ini ujungnya akan terkait dengan Adab, itu makanya Imam Malik ra. mengatakan,
قَالَ الإِمَامُ مَالِكُ -رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-: (إِنْ رَأَيْتَ الرَّجُلُ يُدَافِعُ عَنِ الْحَقِّ "فَيَشْتُمُ وَيَسُبُّ وَيَغْضَبُ" فَاعْلَمْ أَنَّهُ مَعْلُوْلُ النِّيَّةِ، ِلأَنَّ الْحَقَّ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى هَذَا).
"Jika engkau menyaksikan seseorang sedang membela Kebenaran (al-haq), tetapi lisannya mengeluarkan cacian, makian, sumpah-serapah dan mengobral kemarahan, maka ketahuilah bahwa Niat di Hatinya sudah terkotori, karena Kebenaran (al-haq) tidak membutuhkan semua itu."
Mudah-mudahan beberapa Kalimat Thayyibah di bawah ini bisa dipahami juga esensi dan cara mengaktualisasinya :
1. BASMALAH (Bismillaahir Rahmaanir Rahiim).
2. TA'AWUDZ (A'uudzubillaah, dst).
3. TASBIH (Subhaanallaah, dst).
4. TAHMID (Hamdalah, Alhamdulillaah, dst).
5. TAKBIR (Allaahu Akbar, dst).
6. TAHLIL (Laa Ilaaha illallaah, dst).
7. TARJI’ (Istirja’, Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un, dst).
8. ISTIGHFAR (Astaghfirullaah, dst).
9. HAUQALAH (Laa haula walaa quwwata illaa billaah, dst).
10. SALAM (Assalaamu alaikum, dst).
11. HASBALAH (Hasbunallaah wa ni'mal wakil, dst).
12. TAQDIS (Subbuuhun Qudduusun Rabbunaa wa Rabbul Malaaikati war Ruh).
13. TASYMIT (Yarhamukallaah, dst).
Dan banyak lagi ungkapan-ungkapan lain seperti : Masya Allah, Insya Allah, dsb.
Dan kalimat-kalimat Thayyibah di atas termasuk kalimat DZIKIR, serta bisa dijadikan amalan Dzikir, sampai bisa "menyentuh" kesadaran qalbu. Dan tentunya jika dijadikan bendera, apalagi jadi bendera suatu kelompok teror atau gerakan-gerakan radikal, sulit bagi saya untuk mengakui bahwa itu adalah bendera Thayyibah apalagi bendera Tauhid. Kenapa..?
- Karena itu HANYA SIMBOL dari suatu kelompok atau organisasi.
- Karena tidak ada korelasi dengan proses pembentukan Tauhid di dalam hati.
- Karena bisa jadi "berhala".
- Karena saya belum menemukan Hadist terkait istilah "Bendera Tauhid".
Perlu dicatat bahwa Kalimat Thayyibah itu diamalkan (lisan, hati dan perbuatan) agar makin tinggi kualitas Tauhidnya. Artinya banyak sekali macamnya untuk dijadikan "bendera tauhid".. :D
Pertanyaannya..
- Sejak kapan istilah "Bendera Tauhid" itu muncul..?
- Jika munculnya ternyata bukan di jaman Nabi dan para Sahabat, apakah termasuk Bid'ah..?
Semoga...
#ombad #tasawuf #thayyibah
10 October 2017
TASBIH
Ada saat ketika "Subhanallah" yg terjadi malah tubuh sedemikian kotornya.. dan bukan merasa bersih dan suci.
Ada saat ketika "Alhamdulillah" yg terjadi malah tubuh sedemikian hinanya.. dan bukan merasa benar.
Ada saat ketika "Laa ilaha ilallaah" yg terjadi malah tubuh hilang musnah.. dan bukan merasa tingginya keakuan.
Ada saat ketika "Allahu Akbar" yg terjadi malah tubuh ambruk dan tidak ada apa-apanya.. hanya sebutir debu di alam semesta.
Subhanallah walhamdulillah
wa laa ilahaillallahu wallaahu akbar.
Dan semesta pun bertasbih.
Semoga...
#ombad #tasawuf
15 September 2017
KETIKA PUNYA MASALAH BERAT
Ketika kita punya masalah yg sangat berat, dan gara-gara masalah ini akhirnya kita "menjerit" minta tolong ke Allah, ibadah pun jadi makin rajin, artinya kita ini dicintai Allah.. :D
Kadang Tuhan mengingatkan hamba-Nya dengan suatu masalah. Tetapi tetap, ada dua jenis hasil dalam menyikapi masalah tersebut, apakah makin mendekatkan diri kepada Tuhan (rajin ibadah, dzikir, istighfar, dsb), ataukah masalah tersebut malah membuat makin menjauh dari Tuhan, merusak diri sendiri, dan kehidupan yg lain.
Imam Ghazali ra. dalam Ihya (bab Mahabbah) menyebutkan sebuah riwayat bahwa Nabi Musa as. bertanya kepada Allah SWT :
“Wahai Tuhanku, bagaimana saya dapat membedakan antara orang yg Engkau cintai dengan orang yg Engkau benci..?"
Allah menjawab:
"Hai Musa, sesungguhnya jika Aku mencintai seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya."
Musa bertanya:
"Wahai Tuhanku, apa kedua tanda itu..?"
Allah menjawab:
"Aku akan mengilhamkan kepadanya agar ia berdzikir kepada-Ku agar Aku dapat menyebutnya di kerajaan langit dan Aku akan menahannya dari lautan murka-Ku agar ia tidak terjerumus ke dalam azab dan siksa-Ku."
"Hai Musa, jika Aku membenci seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya."
Musa bertanya:
"Wahai Tuhanku, apa kedua tanda itu..?"
Allah menjawab:
"Aku akan melupakannya berdzikir kepada-Ku dan Aku akan melepaskan ikatan antara dirinya dan jiwanya, agar ia terjerumus ke dalam lautan murka-Ku sehingga ia merasakan siksa-Ku."
Semoga...
#ombad #tasawuf