Showing posts with label Gusdur. Show all posts
Showing posts with label Gusdur. Show all posts

18 May 2019

GUSDUR, DIANTARA KONSPIRASI PECAH-BELAH NKRI

Di akhir tahun 1998, beberapa bulan setelah Soeharto lengser, Gusdur yg waktu itu masih menjabat Ketua PBNU sedang berada di Wonosobo untuk mengikuti acara NU, bertempat di Gedung PCNU Wonosobo.

“Pripun Gus situasi politik terbaru..?” tanya seorang Kiai.

“Orde Baru tumbang, tapi negeri ini sakit keras.” kata Gusdur.

“Kok bisa Gus..?”

“Ya bisa, wong yg menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yg jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga arah reformasi gak genah. Bahkan negeri ini diambang kehancuran, diambang perang saudara. Arah politik Negeri ini sedang menggiring Negeri ini ke pinggir jurang kehancuran dan separatisme. Lihat saja, baru berapa bulan Orde Reformasi berjalan, kita sudah kehilangan Provinsi ke-27 kita, yaitu Timor Timur.”

“Gus, terus siapa yg paling pas jadi Presiden nanti Gus..?”

“Ya saya, hehehe…” kata Gusdur datar.

Semua orang kaget dan menyangka Gusdur guyon seperti biasanya yg memang suka guyon.

“Yang bisa jadi Presiden di masa seperti ini ya hanya saya kalau Indonesia gak pingin hancur. Dan saya sudah dikabari kalau-kalau saya mau jadi Presiden walau sebentar hehehe..”

“Siapa yg ngabari dan yg nyuruh Gus..?”

“Gak usah tahu. Orang NU tugasnya yakin saja bahwa nanti presidennya pasti dari NU..”

Orang yg hadir di ruangan itu bingung antara yakin dan tidak yakin mengingat kondisi fisik Gusdur. Gusdur melanjutkan :

“Indonesia dalam masa menuju kehancuran. Separatisme sangat membahayakan. Bukan separatismenya yg membahayakan, tapi yg mem-back up di belakangnya. Negara-negara Barat ingin Indonesia hancur menjadi Indonesia Serikat, maka mereka melatih para pemberontak, membiayai untuk kemudian meminta merdeka seperti Timor Timur yg dimotori Australia.

Tidak ada orang kita yg sadar bahaya ini. Mereka hanya pada ingin menguasai Negeri ini saja tanpa perduli apakah Negeri ini cerai-berai atau tidak. Maka saya harus jadi Presiden, agar bisa memutus mata rantai konspirasi pecah-belah Indonesia. Saya tahu betul mata rantai konspirasi itu. RMS dibantu berapa Negara, Irian Barat siapa yg back up, GAM siapa yg ngojok-ojoki, dan saya dengar beberapa Provinsi sudah siap mengajukan memorandum. Ini sangat berbahaya.

Saya mau jadi Presiden. Tetapi peran saya bukan sebagai pemadam api. Saya akan jadi pencegah kebakaran dan bukan pemadam kebakaran. Kalau saya jadi pemadam setelah api membakar Negeri ini, maka pasti sudah banyak korban. Akan makin sulit. Tapi kalau jadi pencegah kebakaran, hampir pasti gak akan ada orang yg menghargainya. Maka, mungkin kalaupun jadi Presiden saya gak akan lama, karena mereka akan salah memahami langkah saya.”

Para Kiai pada bingung. Gusdur seakan mengerti raut wajah kebingungan para kiai, lalu menjelaskan :

“Jelasnya begini, tak kasih gambaran.. Begini, suara langit mengatakan bahwa sebuah rumah akan terbakar. Ada dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yg mati, juga rumahnya sudah jadi jelek. Kita jadi pahlawan penyelamat yg dielu-elukan.

Kedua, preventif. Suara langit sama, rumah itu mau terbakar. Penyebabnya tentu saja api. Ndilalah jam sekian akan ada orang naruh jerigen bensin di sebuah tempat. Ndilalah angin membawa sampah dan ranggas ke tempat itu. Ndilallah pada jam tertentu akan ada orang lewat situ. Ndilalah dia rokoknya habis pas dekat rumah itu. Ndilalah dia tangan kanannya yg lega terus membuang puntung rokok ke arah kanan dimana ada tumpukan sampah kering.

Lalu ceritanya kalau dirangkai jadi begini; ada orang lewat dekat rumah, lalu membuang puntung rokok, puntung rokok kena angin sehingga menyalakan sampah kering, api di sampah kering membesar lalu menyambar jerigen bensin yg baru tadi ditaruh di situ dan terbakarlah rumah itu.

Suara langit ini hampir bisa dibilang pasti, tapi semua ada sebab-musabab. Kalau Sebab dicegah maka Musabab tidak akan terjadi. Kalau seseorang melihat rumah terbakar lalu ambil ember dan air lalu disiram sehingga tidak meluas maka dia akan jadi pahlawan. Tapi kalau seorang yg waskito, yg tahu akan sebab-musabab, dia akan menghadang orang yg mau menaruh jerigen bensin, atau menghadang orang yg merokok agar tidak lewat situ, atau gak buang puntung rokok di situ sehingga sababun kebakaran tidak terjadi.

Tapi nanti yg terjadi adalah, orang yg membawa jerigen akan marah ketika kita cegah dia naruh jerigen bensin di situ: 'Apa urusan kamu, ini rumahku, bebas dong aku naruh di mana..?' Pasti itu yg akan dikatakan orang itu.

Lalu misal ia memilih menghadang orang yg mau buang puntung rokok agar gak usah lewat situ, kita bilang: 'Mas, tolong jangan lewat sini dan jangan merokok, karena nanti Panjenengan akan menjadi penyebab kebakaran rumah itu'.
Apa kata dia: 'Dasar orang gila, apa hubungannya aku merokok dengan rumah terbakar..? Lagian mana rumah terbakar..?! Ada-ada saja orang gila ini. Minggir..! saya mau lewat'.

Nah, ini peran yg harus diambil NU saat ini. Suara langit sudah jelas, negeri ini atau rumah ini akan terbakar dan harus dicegah penyebabnya. Tapi resikonya kita tidak akan populer, tapi rumah itu selamat. Tak ada selain NU yg berpikir ke sana. Mereka lebih memilih: 'Biar saja rumah terbakar asal aku jadi penguasanya, biar rumah besar itu tinggal sedikit asal nanti aku jadi pahlawan maka masyarakat akan memilihku jadi Presiden'.

Poro Kiai ingkang kinormatan.. kita yg akan jadi Presiden, itu kata suara langit. Kita gak usah mikir bagaimana caranya. Percaya saja, titik. Dan tugas kita adalah mencegah orang buang puntung rokok dan mencegah orang yg akan menaruh bensin. Padahal itu banyak sekali dan ada di banyak negara, dan pekerjaan itu secara dzahir sangat tidak popular, seperti ndingini kerso. Tapi harus kita ambil. Waktu yg singkat dalam masa itu nanti, kita gak akan ngurusi dalam Negeri.

Kita harus memutus mata rantai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka di Swiss, kita harus temui Hasan Tiro. Tak cukup Hasan Tiro, Presiden dan pimpinan-pimpinan negara yg simpati padanya harus didekati. Butuh waktu lama. Belum lagi separatis RMS (Republik Maluku Sarani) yg bermarkas di Belanda, harus ada lobi ke negara itu agar tak mendukung RMS, juga negara lain yg punya kepentingan di Maluku.

Juga separatis Irian Barat Papua Merdeka, yg saya tahu binaan Amerika. Saya tahu anggota senat yg jadi penyokong Papua Merdeka, mereka membiayai gerakan separatis itu. Asal tahu saja, yg menyerang warga Amerika dan Australia di sana adalah desain mereka sendiri. Ini yg paling sulit, karena pusatnya di Israel. Maka, selain Amerika saya harus masuk Israel juga. Padahal waktu saya sangat singkat.

Jadi mohon para Kiai dan santri banyak istighosah nanti agar tugas kita ini bisa tercapai. Jangan tangisi apapun yg terjadi nanti, karena kita memilih jadi pencegah yg tidak populer. Yang dalam Negeri akan diantemi sana-sini.”

Sekonyong Gusdur berdiri, lalu menegaskan perkataan terakhirnya:

“NKRI bagi NU adalah Harga Mati..!
Saya harus pamit karena saya ditunggu pertemuan dengan para pendeta di Jakarta, untuk membicarakan masa depan negara ini. Wasalamu’alaikum wrb..”

Dan sekitar 3 bulan kemudian Gusdur pun jadi Presiden.

Semoga...
#ombad #gusdur #NU

04 May 2019

ABAH ANOM, GUSDUR & JOKOWI

Pengalaman DIZHALIMI orang itu sangat tidak enak, menyesakkan dan pedih. Mungkin kita semua pernah mengalaminya, apakah di lingkungan kerja, karir, bisnis, pertemanan, dsb, bahkan pelakunya bisa orang yg paling dekat dan sangat dipercaya sebelumnya.

Saat didzalimi, siapapun ingin rasanya untuk membalas, apalagi jika punya kemampuan untuk membalasnya, baik secara halus maupun kasar. Tapi, bagi saya pribadi seakan-akan Hadist ini menyuruh agar lebih mengingat Allah dan tidak melakukan tindakan pembalasan.

Rasulullah SAW bersabda :

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah.” (HR. Muslim, kitab Iman, dari Mu’adz bin Jabal ra.)

Dan ada kisah yg selalu menginspirasi sy agar selalu bisa untuk memaafkan yg mendzalimi, walau memang sangat sulit sekali.

Beberapa hari sebelum Muktamar NU ke-29 di Cipasung Tasikmalaya 1994, Gusdur sowan ke Pondok Pesantren Suryalaya menghadap Abah Anom (KH. Shohibul Wafa Tajul Arifin), hendak memohon doa dan restu dari pengasuh PP Suryalaya dan juga Mursyid TQN (Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah).

Baru saja Gusdur mau cium tangan, Abah Anom sudah berpesan:

"Kyai, andai Kyai (Gusdur) BISA MEMAAFKAN orang-orang yang mendzalimi Kyai, jangankan jadi Ketua NU jadi Presiden pun Kyai bisa."

Dan 5 tahun kemudian, ucapan Abah Anom ini pun terbukti.

Begitupun yg terjadi pada Jokowi, saat acara “Njejegake Sakaguru Nusantara” (Menegakkan Kembali Sokoguru Nusantara) di Solo pada tanggal 8 Januari 2006.

Saat itu Gusdur bersama sejumlah tokoh agama mengadakan pertemuan di Solo. Sewaktu Gusdur mampir di rumah dinas Walikota Solo (yaitu Jokowi, yang baru 6 bulan menjabat Walikota), terjadilah percakapan Gusdur dengan Mbah Liem (KH. Moeslim Rifa’i Imampuro).

“Njenengan harus jadi presiden lagi Gus..” kata Mbah Liem sambil menepuk pundak Gusdur.

“Mboten ngaten (tidak begitu), Mbah. Siapapun yang dikehendaki rakyat, termasuk Pak Jokowi ini, kalau dia jadi Walikota yang BAGUS, kelak juga bisa jadi Presiden..” jawab Gusdur.

Meski Gusdur tidak mengatakan urusan didzalimi, tetapi fakta mencatat bahwa Jokowi bahkan keluarganya banyak didzalimi lewat fitnah dan hoax.

Dan 8 tahun kemudian, ucapan Gusdur ini pun terbukti.


Semoga...
#ombad #abahanom #gusdur #jokowi

25 January 2019

ISLAMNYA KRISIS

Pada awal tahun 1997, di Malang.. ada Kajian Islam dan Gusdur hadir sebagai narasumber.

Seorang santri yg tidak menyukai Gusdur, maklum karena si santri ini masih jadi penggemar majalah “Sabili”, “Media Dakwah” dan “Hidayatullah”, dimana ia sering menuduh Gusdur “kurang kadar keislamannya” bahkan “sebagai musuh umat Islam”, bertanya (sambil nyindir) :

“Gus, sy seorang santri, sebelum sy mengajukan pertanyaan, saya ingin mengajak kita semua untuk meyakini Islam sebagai agama paling benar, kalau kita sudah yakin, lantas bagaimana menjadikan Islam sebagai agama yg Rahmatan Lil Alamin (menjadi berkah bagi alam semesta)..?”

“Siapa nama santri tadi itu, santri kok ISLAMNYA KRISIS..?” Tanya Gusdur.

Mendengar ucapan Gusdur ini, belasan orang yg hadir tertawa terbahak-bahak.

“Kalau kita sudah yakin pada ajaran Islam, tak perlu lagi teriak-teriak, seperti teriakan 'Islam agama paling benar', 'Islam agama Sempurna', dll.. biasanya yg sering teriak itu masih ragu atau takut..

.. Saya sering dianggap tidak Islam hanya gara-gara sering membela orang non-muslim, saya dianggap tidak ngerti ayat Quran yg berbunyi 'Tidak akan pernah rela orang Yahudi dan Kristen pada kamu (orang Islam), sampai kamu mengikuti agama mereka'.. Orang yg pernah menuduh saya seperti Pak Yusril Ihza Mahendra dengan ayat Al-Quran tadi, dia bilang saya kurang Iman dan Islam, saya cuma bilang 'Pak Yusril masuk pesantren dulu deh, belajar tafsir Al-Quran'.."

Hadirin kembali tertawa..
Gus Dur melanjutkan:

“Bagi saya makna 'tidak rela' itu jangan didramatisir, dipahami biasa-biasa saja, karena sebaliknya kita orang Islam juga tidak pernah rela pada keyakinan mereka. Sama saja kan..? 'Tidak rela' bukan berarti mau menyakiti atau membunuh. Contohnya Siti Nurbaya tidak rela menikah dengan Datuk Maringgih. Yaaa Siti tidak rela saja, bukan lantas dia ingin menyakiti atau membunuh Datuk Maringgih, buktinya Siti Nurbaya melahirkan anak-anak Datuk Maringgih.”

Orang-orang yg hadir kembali tertawa lebar mendengar tamsil Gus Dur soal “tidak rela” itu.

Dan terkait “Islam rahmatan lil alamin”, Gusdur pun menjawab dengan mengutip wejangan KH Ahmad Siddiq bahwa Islam harus merawat tiga ikatan persaudaraan, yaitu :

- Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman),
- Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan,
- Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).

Dan jika Islam mampu merawat tiga ikatan persaudaraan ini, maka Islam itu akan menjadi berkah bagi alam semesta.


Semoga..
#ombad #gusdur

11 July 2018

GUSDUR & KUTANG

Sewaktu berusia 20 tahunan, sekitar thn 1959, Gusdur diminta membantu pamannya, KH. Abdul Fattah Hasyim, mengurus PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, sebagai Kepala Keamanan. Dan tugasnya cukup "sederhana", yaitu mengawasi dan menghukum santri yg melanggar peraturan, bahkan kalau perlu dihukum langsung. Hukumannya bisa bermacam-macam, mulai dari digunduli, disuruh baca Alquran di halaman pesantren, kuras kamar mandi, sampai dengan level paling nakal, diusir dari Pondok.

Untunglah.. ada satu santri yg luar biasa nakal sampai Gusdur pun merasa jengkel dan gregetan puol sama santri tersebut. Bagaimana tidak jengkel jika kulit bedug di pesantren Tambakberas sering dipotong sedikit demi sedikit sampai membuatnya berlubang-lubang, untuk dibikin lauk makan, dibikin krecek..!

Meski sudah sering dihukum, si santri ini tidak kapok-kapok, tetap nakal. Salah satu bentuk kenakalannya adalah... ia sering masuk ke kompleks pondok putri, mengintip para santri putri..! Dan karena ini termasuk pelanggaran tingkat tinggi, hukumannya bisa dikeluarkan, jadi barang buktinya harus valid, kalau perlu "operasi tangkap tangan".

Karena selalu gagal dalam melakukan “operasi tangkap tangan”, Gusdur akhirnya memilih cara alternatif untuk bisa menangkap santri nakal ini dengan bukti yg cukup kuat. Dalam pikiran Gusdur, jika suka mengintip perempuan, berarti pikiran bocah ini pasti mesum, jadi pasti ada sesuatu dalam lemarinya yg menunjukkan kemesumannya.

Akhirnya, razia lemari-lemari santri putra pun dilakukan Gusdur. Dan betul saja, dalam lemari santri yg dimaksud, ditemukan sebuah kutang, yg setelah diselidiki memang salah satu kutang dari pondok putri..!

Gusdur senang, karena dengan ini si santri akan mendapatkan hukuman tertinggi sesuai dengan hukum yang berlaku di pesantren. Gusdur pun menghadap Kiai Fattah sambil membawa kutang sebagai alat bukti.

Begitu sudah sampai ndalem (kediaman) Kiai Fattah, Gusdur mengeluarkan kutang curian tersebut.

“Itu apa, Dur..? Kenapa kamu bawa kutang kemari..?” tanya Kiai Fattah heran.

"Kiai, ini hasil curian salah satu santri putra. Namanya Fulan bin Fulan. Dia sering ngintip ke pondok putri. Di dalam lemarinya saya temukan bukti ini. Saya sama teman-teman dari keamanan pondok sepakat, agar santri ini bisa segera dikeluarkan.” jawab Gusdur.
“Oh, begitu,” kata Kiai Fattah.
“Santri ini nakal banget, Kiai,” kata Gus Dur kepada pamannya.

“Lho, santri nakal, kok, dilaporkan ke aku..? Mau dikeluarkan lagi.. Kalau lapor ke aku, lapor santri yg sudah baik, sudah pintar, biar aku keluarkan dari pondok. Orang tua santri itu berharap anaknya pulang dari pondok biar jadi makin baik, bukan malah jadi tambah nakal." jawab Kiai Fattah.

"Lha, terus gimana ini Kiai..?” tanya Gusdur heran mendengar jawaban Kiai Fattah.

“Begini saja. Aku hargai musyawarah para pengurus keamanan. Karena kalian sudah sepakat untuk mengeluarkannya, ya sudah aku ya sepakat.” kata Kiai Fattah.

Gusdur tersenyum senang mendengarnya.

“Keluar dari pondok, lalu masuk ke sini saja,” lanjut Kiai Fattah sambil menunjuk kediamannya sendiri.

Gusdur terkejut mendengarnya,  “Maksudnya, Kiai..?!”

“Iya, dipindahkan ke sini. Ke ndalem. Rumahku. Kamu aturlah sama teman-temanmu. Pokoknya mulai hari ini santri itu dipindah ke sini.." kata Kiai Fattah menunjuk kediamannya sendiri.

Meski bingung dengan perintah pamannya, akhirnya Gusdur tetap menurut, mengeluarkan si santri dari pondok, tapi malah memasukkannya ke ndalem Kiai Fattah. Bukannya dikeluarkan, malah naik pangkat.. :D

Pada akhirnya, si santri jadi orang pertama yg selalu ditemui Kiai Fattah ketika bangun tidur, berangkat ngaji, sampai dengan shalat tahajud, ya karena kamarnya berdekatan. Sewaktu Kiai Fattah mengajar ngaji pun, si santri disuruh membawakan kitab dan menandai halaman-halamannya. Hal itu tanpa sadar membuat si santri mau tidak mau ikut belajar mengaji tanpa bisa membolos satu kalipun. Karena sering harus menandai bagian yg akan dimulai dan yg diakhiri, ia jadi belajar membaca kitab kuning.

Selain itu, setiap Kiai Fattah akan shalat, santri ini disuruh mempersiapkan tempat shalat. Entah itu shalat wajib ataupun sunah. Dengan pola seperti itu, akhirnya si santri terpaksa mengikuti laku hidup Kiai Fattah selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, diawali dengan terpaksa, si santri jadi terbiasa dan benar-benar menjadi santri yg saleh.

Dari pengalaman ini, akhirnya Gusdur menyadari bahwa langkah "sederhana" Kiai Fattah tersebut menunjukkan bahwa ada yg lebih penting daripada sekadar mengikuti nalar hukum, yaitu mengikuti nalar kemanusiaan. Dan ternyata di atas hukum, masih perlu adanya rasa kemanusiaan.

Karena jika tinjauannya sekedar hukum, baik secara syariat, akhlak, maupun aturan pondok pesantren, ngintip ke dalam pondok putri adalah pelanggaran yg tidak bisa ditolerir.

Semoga....
#ombad #tasawuf

10 April 2018

TENTANG AS-SILMI

Dalam QS. Al-Baqarah 208, kata AS-SILMI ini diterjemahkan menjadi "Islam".

Ada 3 ayat yg mengandung kata As-Silmi, yaitu : QS. al-Baqarah 208, Muhammad 35 dan al-Anfal 61. Dan hanya di al-Baqarah saja yg diterjemahkan jadi "agama Islam", sedangkan di dua ayat lainnya diterjemahkan "Perdamaian". Aneh kan..?

Kalau merujuk arti kata as-Silmi, menurut mufassir Ibnu 'Asyur, baik kata AS-SILMI, AS-SALMI & AS-SALAM itu sama aja, hanya beda dialek. Artinya secara makna pada ayat al-Baqarah 208, "udkhuluu fis silmi kaaffah" (masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan), seharusnya dimaknai "BERDAMAILAH SECARA TOTAL".

Secara logika bahasa pun ayat di atas adalah kata perintah (fi'il amar), masa udah beragama Islam harus masuk Islam lagi. Padahal kata perintah ini dipakai untuk sesuatu yg belum dilakukan oleh umat Islam, dan dalam hal ini adalah "berdamai" atau "damai" ataupun "perdamaian".

Nah, sekarang mari kita lihat Asbabun Nuzul ayat Baqarah 208 tersebut. Ayat 190-208 surah al-Baqarah ini diturunkan di antara peristiwa "Perdamaian Hudaibiyah".

Pada thn 6 Hijriah bulan Dzul Qa’dah, Umat Muslim ingin melaksanakan ibadah umrah. Saat tiba di wilayah Hudaibiyah, Rasulullah SAW pun mengutus sahabat 'Ustman ke Mekkah, untuk menjelaskan kepada kaum kafir Quraisy bahwa umat Muslim ke Mekkah itu untuk beribadah bukan untuk perang. Jarak antara Mekah dan Hudaibiyah kurang lebih mencapai 22 km.

Saat 'Utsman bergegas menuju Mekkah, ada desas-desus bahwa 'Ustman dibunuh kafir Quraisy. Umat Muslim sudah siap mengangkat pedang dan berperang melawan musuh  Namun demikian, isu terbunuhnya Ustman itu tidak benar.

Lalu turunlah ayat ini. Rasulullah SAW pun menahan emosi para Sahabat untuk tetap tenang dan menjaga perdamaian. Sampai akhirnya terkenal lah peristiwa "Perdamaian Hudaibiyah".

Jadi kalau merujuk uraian di atas, harusnya al-Baqarah 208 itu bisa dimaknai :

“Ummat (Muhammad) yg beriman, berdamailah terus secara total, dan jangan sampai kalian terjebak bujuk rayuan setan, karena sebenarnya dialah musuh yg nyata bagi kalian.”

Dan makna di atas itu selaras dengan dua ayat lainnya (QS. Muhammad 35 & al-Anfal 61).

Seperti juga pendapat Gusdur :

"Di sini terletak perbedaan pendapat sangat fundamental di antara kaum Muslimin. Kalau kata 'al-Silmi' diterjemahkan menjadi kata Islam, dengan sendirinya harus ada sebuah entitas Islam formal, dengan keharusan menciptakan sistem yg islami.
Sedangkan mereka yg menterjemahkan kata tersebut dengan kata sifat kedamaian, menunjuk pada sebuah entitas universal, yg tidak perlu dijabarkan oleh sebuah sistem tertentu, termasuk sistem islami." (Gusdur, 2006, "Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi.") 

Jadi esensi "udkhuluu fis Silmi kaaffaah" itu apa..?

Menurut sy, adalah Jagalah Perdamaian Bangsa (ummat).

Itu makanya mayoritas Muslim perang terus, "udkhuluu fis silmi kaaffaah" nya mayoritas dimaknai "agama islam".. Harusnya, apakah sesudah jadi muslim itu bisa merasa damai atau merasa terancam..? Bisa menciptakan rasa damai ke sekitar atau malah menciptakan rasa tidak aman ke sekitar..?

Nanti ayat di atas itu "merangkai" nya ke ayat thoghut (yg ngajak permusuhan) dan "perangi terus"..

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla meridhai kalian atas tiga hal dan benci dari tiga hal; (yaitu) Allah meridhai kalian untuk beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, hendaknya kalian semua berpegang teguh kepada tali Allah dan jangan berpecah-belah, dan kalian taat kepada orang yg telah Allah amanatkan urusan kalian. Dan Allah membenci kalian dari bergosip, menghambur-hamburkan harta, dan banyak bertanya --yg tidak bermanfaat--.” (Musnad Ahmad no. 8444 dan Shahih Muslim no. 3236)

Semoga...
#ombad #tasawuf