Showing posts with label Pemimpin. Show all posts
Showing posts with label Pemimpin. Show all posts

28 July 2018

FEODALISME MASKULIN

Sy menemukan tulisan ini di sebuah grup. Bagi sy, ini adalah bentuk "feodalisme" dalam suatu sistem kepemimpinan.

Sebagai seorang Pemimpin di keluarga, harusnya si suami yg pertama kali melakukan langkah-langkah tertentu agar istrinya secara sadar dan ikhlas melakukan poin-poin seperti di bawah.

Jadi memaknai Pemimpin itu jangan seperti seorang raja di hadapan rakyatnya, atau seorang atasan di hadapan bawahannya. Jangan seperti budaya feodal. Salah satu tugas pemimpin itu adalah bagaimana membuat rakyatnya manut dan ridho dengan sendirinya atas dasar kecintaan dan keikhlasan, dan bukan karena paksaan atau ancaman.

Bukankah Pemimpin dalam konteks agama itu seorang yg melayani dimana ia harus mendahulukan kepentingan rakyatnya daripada kepentingan sendiri..?

Ini tulisannya:

10 LANGKAH SEORANG ISTRI MENUJU SURGA.

1. Seorang Isteri harus menyadari dan menerima dengan ikhlas bahwa laki² adalah pemimpin kaum wanita.
(Harusnya dibalik, apa yg harus dilakukan si suami sebagai pemimpin agar istrinya bisa sadar dan ikhlas dengan sendirinya).

Dan silahkan renungkan sendiri bagi para suami untuk point berikutnya ini:

2. Seorang Isteri harus menyadari bahwa hak (kedudukan) suami satu tingkat lebih tinggi dari isteri.
(suaminya dulu yg harus gimana..?)

3. Seorang Isteri harus taat kepada suami selama bukan kemaksiatan.
(suaminya dulu yg harus gimana..?)

4. Seorang Isteri tidak boleh keluar rumah dengan alasan apapun tanpa izin suami.
(suaminya dulu yg harus gimana..?)

5. Seorang Isteri wajib memenuhi keinginan suami dalam nafkah batin (kecuali dengan suatu alasan yg kuat terpaksa menolaknya).
(suaminya dulu yg harus gimana..?)

6. Seorang Isteri harus mendahulukan kepentingan suami dibanding apapun. Termasuk kepentingan orang tua.
(suaminya dulu yg harus gimana..?)

7. Seorang Isteri harus menjaga kehormatan dirinya jika suami tidak ada.
(suaminya dulu yg harus gimana..?)

8. Seorang Isteri harus menjaga harta juga kehormatan suami baik saat ada ataupun sedang tidak di rumah.
(suaminya dulu yg harus gimana..?)

9. Seorang Isteri harus senantiasa mempercantik dirinya di depan suami.
(suaminya dulu yg harus gimana..?)

10. Seorang Isteri berusaha menyenangkan hati suami dengan raut wajah yg tampak berseri.
(suaminya dulu yg harus gimana..?)

Mudah-mudahan bisa difahami.. karena Baik itu menarik Baik, dan juga Kepemimpinan itu adalah Keteladanan.

Masa Pemimpin yg harus duluan dilayani.. emangnya jaman penjajahan..?

**

Menurut Quran, Laki-laki adalah pemimpin wanita.. :D

Tapi kebanyakan laki-laki mendefenisikan 'Pemimpin' itu dengan melihat contoh yg ada, seperti seorang Raja, atau para pejabat.. :D

Kalo sy pribadi 'melihat' ayat tsb konteksnya dalam kualitas kedekatan kepada Allah, dimana seorang Pemimpin itu kualitasnya harus lebih dekat Allah daripada yg dipimpinnya, dan begitupun si Laki-laki kualitasnya harus lebih dekat ke Allah daripada wanita.

Dengan begitu, maka 'organisasi' dlm kepemimpinannya tetap teguh dalam kasih sayang. Tetap Objektif & tidak terpengaruh nafsu-nafsu (pensifatan 'wanita') 

Rasulullah SAW bersabda :

 

لاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ الْأَعْظَمُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ، وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


"Kalian semua adalah pemimpin, bertanggung jawab atas kepemimpinannya, Amir yang dipilih oleh manusia adalah pemimpin, dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang laki-laki menjadi pemimpin bagi keluarganya, dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak suami, dia akan ditanya tentang kepemimpinannnya, seorang budak menjadi pemimpin untuk memelihara harta majikannya, diapun akan ditanya tentang hartanya, ketahuilah masing-masing kalian adalah pemimpin, kalian akan ditanya tentang kepemimpinan kalian." (HR. Bukhari) 

**Itulah kenapa Sanad keilmuan ada di Laki-laki dan begitupun rantai Washilah dalam tasawuf..


Semoga...
#ombad #tasawuf

04 July 2018

ADAB KEPADA PEMIMPIN

Banyak dari para pengkritik (termasuk pencaci dan pencela) Pemimpin jika dari medsos begitu lantang tetapi jika berhadapan langsung justru menjadi manusia pengecut.. :D

Dalil yg selalu dijadikan rujukan adalah ketika Rasulullah SAW ditanya "Apa jihad apa yang paling utama..?"
Dan Beliau menjawab:

كلمة حق عند سلطان جائر

Kalimat kebenaran di sisi pemimpin yang dzalim.“ (HR. Nasai, Ibn Majah)

Memahami Hadist di atas aja banyak yg tidak tepat dan tidak pada tempatnya.

Pertama, apakah benar Pemimpinnya dzalim..? Apakah ia melarang Shalat, Zakat atau Naik Haji..? Ataukah "anti Islam" itu hanya jargon yg dipakai sebagian kelompok karena berhubungan dengan kepentingannya..?

Kedua, Lafadz 'INDAL SULTHON (DI SISI Pemimpin) itu maknanya menasehati langsung dihadapan pemimpin dengan cara yg bijak. Kemuliaan dan Keberanian jika seperti itu, dan sebaliknya, jika mengungkap aib dari kejauhan (medsos) adalah Penghinaan dan Kemunafikan.

Dari Muhammad bin Zaid, ia berkata, “Orang-orang bertanya kepada Ibn Umar, 'Kami mendatangi penguasa kami lalu kami mengatakan sesuatu yg berbeda jika kami keluar dari mereka.'
Ibn Umar berkata, “Dahulu kami mengkategorikan sifat seperti ini sebagai sifat Munafik,” (HR. Bukhari)

Ketiga, dalam kitab Syarh Arbain Imam Nawawi pun dijelaskan akan banyak kerusakannya (sampai pemberontakan) jika memprovokasi rakyat untuk membenci pemimpinnya.

Jika memang hal seperti itu (menjelekkan Pemimpin) dianggap "Nahi Munkar" oleh sebagian kelompok, maka pola "Nahi Munkar" nya pun memakai cara yg munkar, dan artinya BATAL, bahkan bisa dikategorikan Haram. Tidak akan ada Kebaikan di dalamnya.
 
Bukankah Allah SWT pun memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk mendatangi Firaun secara langsung dan menasehatinya dengan lembut..? Lihat QS. Thoha: 42-44. Firaun lho, apalagi kepada Pemimpin yg beragama, bertuhan dan bertauhid.

"Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thoha: 42-44)

Jadi baiknya adalah selalu mendoakan kebaikan untuk pemimpin kita agar dibimbing oleh Allah SWT dalam menjalankan tugasnya.


Semoga...
#ombad #adab

08 June 2018

BAGI CALON-CALON PEMIMPIN

Nafsu menggebu penuh amarah dan serakah,
Akhirnya berjuang dengan hoax dan fitnah,
Padahal Kejujuran itu akan membawa Berkah,
Dan Kebenaran pun tetap akan terbukti meski kalah. (ombad)

"Nabi berpesan, siapapun yang menggebu-gebu meraih kekuasaan, jangan pilih dia..!" (Quraisy Shihab)

Rasulullah bersabda,

سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ وَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ
 

Akan ada sepeninggalku nanti sejumlah Pemimpin. Barangsiapa yg masuk menemui mereka, lalu dia membenarkan kedustaan mereka, dan membantu mereka dalam kezhaliman mereka maka dia bukan bagian dariku, aku juga bukan bagian darinya, dan dia tidak akan menemuiku di Telaga Surga. Barangsiapa yg tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam kezhaliman mereka maka dia adalah bagian dari diriku, aku juga bagian darinya, dan dia akan datang menemuiku di Telaga Surga." (HR. At-Tirmidzi, kitab Al-Fitan, no. 2360)

Rasulullah pun bersabda,

Kalian dengarkan dan taati perintah para pemimpin itu. Mereka hanya bertanggungjawab atas dosa mereka dan kalian juga hanya bertanggungjawab atas dosa kalian.” (HR. Muslim, no. 1846)

Artinya, siapapun yg menggebu-gebu sampai memfitnah, sampai melakukan cara-cara yang tidak benar untuk jadi seorang Pemimpin, dan jika di kemudian hari ia jadi Pemimpin, maka Allah pun tidak merestuinya, dan Allah pun akan  membiarkan dia sendiri (maksudnya tanggung sendiri akibatnya, dan Allah tidak akan menolongnya).

 
JARGON DANGKAL

Kalau memang tujuannya murni untuk kebaikan bangsa dan negara, mari kita berbuat yg terbaik. Anda tidak setuju dengan Pemimpin yg sekarang, silakan, gak masalah. Yang jadi masalah itu ketika ketidak-setujuan anda dicampuri fitnah-fitnah. Selain berdosa juga bisa merugikan diri sendiri dan bahkan menyebabkan kerugian yg lebih besar. Masa mau dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu yg memancing di air keruh.. toh pas anda rugi mah, ditanggung sendiri kerugiannya.

Apakah fitnah ini dari ketidaktahuan ataukah dari Kebencian anda..?

Jadi jalan terbaiknya adalah jika belum bisa memberi dukungan buat para pemimpin negara (siapapun mereka) ketika sedang bekerja, janganlah merecoki dengan hoax dan fitnah. Silakan awasi mereka ketika sedang bekerja, kalau ada kesalahan, ya kritik sambil memberi alternatif solusi yg terbaik. Jika mereka baik, ya dukung dan kasih apresiasi.

Rakyat pun bisa dan akan melihat, jika kritik dan solusi yg ditawarkan ternyata bagus dan sangat bermanfaat, niscaya rakyat akan banyak mendukung.

Bukannya melulu koar-koar bahwa yg berseberangan dengan kelompoknya itu selalu jelek dan salah, hanya sekedar cari simpatisan dan pendukung. Sementara "untuk bangsa dan negara" hanya sekedar jargon untuk menutupi kepentingan diri dan kelompoknya.

Kan lucu, di jaman serba digital tapi masih jualan khayal, lalu meracuni generasi milenial dengan jargon-jargon dangkal, padahal dalam abad globalisasi informasi itu semua sangat mudah untuk dibuktikan, dan jika bohongnya ketahuan maka akan bisa jadi bumerang.

Jika kelompok pendukungnya dibiarkan seperti ini, nanti dianggap tipikal pemimpinnya sesuai dengan karakter pendukungnya, rugi donk pilih Pemimpin seperti itu. Rugi sendiri.

Semoga...
#ombad #ramadhan #politik

03 February 2018

TAWADHU ATAU AROGAN

Kalau pingin paham perbedaan antara PEMIMPIN yg Tawadhu dengan pemimpin yg arogan (besar kepala), maka kisah di bawah ini bisa dijadikan rujukan.

Pemimpin dalam kisah ini terkenal selain sebagai Khalifah, Amirul Mukminin, Imam, Silsilah Emas Kemursyidan, Gerbang Ilmu, dan banyak lagi gelar yg menunjukkan kualitas keimanannya.

Suatu hari....
Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. akhirnya mengetahui dan menemukan baju zirahnya yg dicuri oleh seorang Yahudi.

Jika ingin menggunakan pengaruh dan kekuatan kekuasaannya sebagai seorang Khalifah, tentu sangat mudah untuk merebut, memaksa, dan main hakim sendiri. Meskipun sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, ia tidak main hakim sendiri. Tapi apa yg dilakukan Beliau...?

Akhirnya Beliau pun mengajak si orang Yahudi tersebut menyelesaikannya di Pengadilan, dan terjadilah persidangan yg adil.

Dengan hanya ditemani anaknya (Hasan), ia menghadap hakim, dan akhirnya sidang memutuskan baju zirah itu tetap milik si yahudi karena 'Ali kekurangan saksi. Soalnya saksi yg ia miliki hanya anaknya dan pekerjanya, sehingga ditolak oleh pengadilan karena dianggap punya hubungan pribadi dengan si pelapor.

Dan dengan santun Khalifah 'Ali pun menerima hasil putusan pengadilan, padahal Beliau tahu persis bahwa baju zirah itu dicuri darinya.

Coba bayangkan, tidak ada kemarahan, tidak ada protes, tidak ada demo sampai teriak-teriak di jalan, tidak ada kemurkaan, dan tidak ada pengerahan ribuan simpatisan pendukung untuk intervensi atau memberi tekanan persidangan meskipun ia tahu ia benar.

Nah, seperti itulah salah satu contoh kualitas seorang Pemimpin yg patut diteladani, yaitu menjunjung hukum yg adil dan setara bagi semua warga apapun agama dan keyakinannya.

Dan seperti itulah kualitas seorang Imam... yg sudah terbukti baik dari sisi kualitas keilmuannya maupun dari kualitas pribadinya.

Semoga...
#ombad

20 October 2017

TIPE-TIPE PEMIMPIN

Ada 4 tipe Pemimpin, yaitu:

1) Negarawan,
2) Demagog,
3) Politisi Biasa, dan
4) Citizen-Leader.

1. NEGARAWAN

Negarawan adalah seorang pemimpin yg memiliki visi, kharisma pribadi, kebijaksanaan praktis, dan kepedulian terhadap kepentingan umum, dan kepemimpinannya itu bermanfaat bagi masyarakat.

CIRI NEGARAWAN

- Mengejar kebaikan umum. Pemimpin terbaik termotivasi bukan oleh kepentingan diri sendiri yg kasar melainkan oleh kebaikan umum.

- Kebijaksaan yg praktis. Visi kebaikan publik, semenarik apapun tidak akan berguna tanpa orang yg punya visi tersebut tidak tahu bagaimana cara mencapainya. Sebab itu, pemimpin yang baik harus memiliki kebijaksaan yg praktis, dengan mana lewat kebijaksanaan itu, pemimpin bisa memahami hubungan antara tindakan yg diambil dengan konsekuensi-konsekuensinya.

- Keahlian politik. Pemimpin yg baik sekaligus pula seseorang yg punya bakat dalam menilai dan melakukan pendelegasian wewenang. Dalam memimpin negara, pemimpin harus menjalankan birokrasi raksasa, mengarahkan para staf, bekerja sama dengan para legislator demi meloloskan program pemerintahan, dan menggalang opini publik sehubungan dengan kebijakan administrasi. Tanpa keahlian politik yg mencukupi, mustahil tugas-tugas berat seperti ini dapat berjalan secara baik.

- Kesempatan luar biasa. Negarawan lahir dari suatu kondisi kritis. Ketika suatu negara berada dalam pusaran kejenuhan, kebosanan, stagnasi, disorientsi, atau perang, dari sinilah negarawan umumnya lahir.

- Nasib baik. Kadang ia dianugerahi berkah oleh Yang Mahakuasa untuk memikul beban masyarakat dan negaranya.

2. DEMAGOG 

Demagog adalah seseorang yg menggunakan keahliannya memimpin untuk memperoleh jabatan publik dengan cara menarik rasa takut, sentimen, dan prasangka umum, untuk kemudian menyalahgunakan kekuasaan yg ia peroleh tersebut demi keuntungan pribadi.

CIRI DEMAGOG

a. Selalu mencari kambing hitam atas segala masalah, sehingga kebencian terhadap suatu kelompok tertentu ditumbuhkan, dipelihara, bahkan diperdahsyat identitasnya.

b. Argumen yg menjadi senjata biasanya ad hominem (menyerang pribadi orang) dan argumen kepemilikan kelas yg penuh kebencian.

c. Lihai membuat skematis dengan menyederhanakan gagasan atau pemikiran agar bisa memiliki efektivitas sosial sehingga menjadi sebuah opini dan keyakinan.

d. Pandai mengeksploitir prasangka demi meraih popularitas.

e. Model politiknya lebih cenderung menekankan pada pembangunan sentimen dalam rangka memobilisasi pikiran banyak orang demi menggalang massa. 

f. Memobilisasi massa dengan menyasar sentimen tertentu.

g. Memiliki kelemahan dalam upaya menyelesaikan persoalan-persoalan konkret, sehingga cara demagog selalu dipakai untuk menutupi kelemahannya.

h. Pemikirannya bukan pada upaya konkret untuk menyelesaikan persoalan mendasar kehidupan banyak orang.

Tambahan :

- Ia mengeksploitasi prasangka publik. Sebagai seorang tokoh, demagog sangat sensitif akan prasangka-prasangka sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Ia kemudian memerankan diri sebagai berdiri di sisi masyarakat sehubungan dengan prasangka yang muncul. Peran tersebut dibarengi dengan rangkaian janji bahwa ia akan memastikan bahwa prasangka tersebut akan ditanggulangi apabila ia menduduki jabatan politik.

- Kerap melakukan distorsi atas kebenaran. Kebenaran adalah tidak lebih dari komoditas politik. Apabila kebenaran tersebut tidak sejalan dengan prakteknya untuk menggapai kekuasaan, ia akan mendistorsinya. Distorsi tersebut sebagian besar diperkuat dengan aneka fakta "kuat" yang ia susun sehingga distorsi tersebut masuk akal. Dengan kata lain, ia membuat "babad" yaitu rangkaian cerita historis yang menguatkan posisinya di atas kebenaran yang ada.

- Mengumbar janji-janji manis untuk memperoleh kuasa politik. Terlebih, apabila janji tersebut cukup populis dengan pangsa pemirsa yang cukup besar. Sekali lagi, bagi seorang demagog, janji adalah komoditas politik yang akan digunakannya sebagai instrumen kampanye guna meneguhkan posisinya dibanding para kompetitornya yang lain.

- Tidak canggung menggunakan metode yang dinilai kurang bermoral.

- Memiliki daya tarik yang besar terhadap masyarakat banyak. Seorang demagog sekaligus adalah orang yang populer di mata publik. Aneka daya tarik bisa saja dimiliki seorang demagog. Daya tarik inilah yang sesungguhnya membuat publik memercayai seorang demagog. Publik tidak lagi kritis akan variabel ideosinkretik yang melekat di dalam diri demagog. Publik hanya memercayai apa dan bagaimana performance seorang demagog secara aktual.

- Jika negarawan secara tulus peduli akan keadilan dan kebaikan umum, maka Demagog sekadar berpura-pura peduli dalam rangka memeroleh jabatan, yang begitu ia mendapatkannya, tanpa ragu ia akan mengkhianatinya. Hal ini sesuai dengan karakteristik seorang demagog, bahwa ia hanya ingin berkuasa. Setelah ia berkuasa, segala hal yg ia janjikan di masa-masa sebelumnya akan direnegosiasi ulang.

Pemimpin bertipe demagog, sudah dipastikan bukan seorang pemimpin yg baik, apakah untuk saat ini, apalagi untuk masa depan. Kenapa? Karena bisa mengorbankan rakyatnya, rentan kerusuhan dan konflik horizontal.

"Demagog adalah para orator ulung, terdiri dari pejabat negara yg pandai membuat citra baik, namun hakekatnya mereka membohongi rakyat." (Mahfud MD)

3. POLITISI BIASA

Politisi adalah seorang pemegang jabatan publik yg siap untuk mengorbankan prinsip-prinsip yg dimiliki sebelumnya atau mengesampingkan kebijakan yg tidak populer agar dapat dipilih kembali.

CIRI POLITISI

- Tidak punya visi dan bakat yg cemerlang. Seorang politisi biasa tampak kurang bersinar. Ia hanya berada di "sekeliling" tanpa pernah menjadi pusat pengambilan arah suatu masyarakat. Visi yg ia miliki terlampau umum, kurang greget, "biasa", dan terkesan asal ambil. Bakat yang ia miliki mungkin alami atau "karbitan", tetapi publik memandangnya sebagai "datar", "umum", dan "kurang menarik."

- Hidup cuma day-to-day, dengan upaya untuk mengatasi tekanan dan hambatan yg dialami dalam keseharian. Politisi biasa tidak hidup untuk long-term melainkan short-term. Ia hanya dipusingkan urusan bagaimana agar ia tetap bercokol di lingkaran kekuasaan. Ia tidak terlalu pusing apabila disebut tidak melakukan apa-apa di dalam jabatannya. Ia baru merasa pusing apabila menghadapi kemungkinan akan tidak dipakai kembali di masa mendatang.

- Kendati ingin berbuat sesuatu yang baik, mereka selalu kesulitan menjaga isu-isu moral dan etika secara tegas. Politisi biasa janganlah diharapkan untuk bicara masalah moral ataupun etika. Masalah moral dan etika bukanlah prioritas di dalam jabatannya. Kerapkali memang, politisi biasa ingin berbuat sesuatu yang baik. Namun, kerap pula keinginan tersebut dibatasi oleh keinginannya untuk menyenangkan seluruh pihak. Ia ingin diterima oleh semua pihak dan moral serta etika kerap menjadi korban dari kehendaknya tersebut.

- Mereka sulit mengatasi risiko politik. Karena itulah, mereka memosisikan diri mereka di titik aman. Ia berusaha netral bahkan di saat ia ada dalam posisi terjepit untuk memilih. Pilihan barulah ia buat apabila ada keyakinan bahwa pilihan tersebut membawanya ke titik aman lainnya. Bagi politisi biasa, perjuangan untuk tetap di pusaran kekuasaan adalah lebih penting ketimbang ia menunjukkan posisi dirinya yang asli.

- Kendati mereka ini umumnya tidak korup, tetapi sesungguhnya mereka mudah sekali untuk disuap. Karena mereka enggan menanggulangi risiko politik, mereka menerapkan image tidak korup. Dan, ketidakkorupan ini bukanlah sesuatu yang mutlak kita tidak harus percaya. Sayangnya, mereka justru membuka diri untuk disuap. Kesediaan disuap ini tegas dilatarbelakangi oleh kehendak mereka untuk mencari aman. "Toh, bukan saya yang meminta tetapi mereka".

- Mereka ini tidak lebih baik atau lebih buruk dari manusia lainnya. Bedanya, mereka punya posisi untuk melakukan hal-hal buruk (ataupun baik) dengan dampak lebih besar. Secara umum, mereka sulit dibedakan dengan warganegara lain pada umumnya. Mereka terlampau biasa, sehingga perilaku yang mereka tunjukkan di layar kaca atau media massa sama persis dengan perilaku kita, keluarga kita, ataupun teman kita. Bedanya, kita, keluarga kita, ataupun teman kita tidak punya kuasa untuk membuat kebijakan umum.

4. CITIZEN-LEADER

Citizen-Leader adalah seseorang yg mempengaruhi pemerintah secara meyakinkan meskipun ia tidak memegang jabatan resmi di pemerintahan.

CIRI CITIZEN-LEADER

- Punya pengabdian unik atas masyarakat. Mereka ini, dalam waktu lama, aktif memimpin suatu segmen dalam masyarakat dalam memerjuangkan keyakinan dan posisi mereka di dalam kepolitikan suatu negara. Mereka nyaris tidak lagi memiliki kehidupan privasi karena hampir di setiap saat, mereka harus bergerak, bekerja, dan mengatasi permasalahan segmen masyarakat yang mereka wakili. Mereka inilah yang kerap berhadapan dengan kuasa-kuasa formal, bersitegang, dan menerima sanksi atas keyakinan pengabdiannya. Sulit untuk meminta sesuatu yang sifatnya formalitas pada mereka karena kuasa negara yang formal itu pun dalam anggapan mereka sudah bersifat informal.

- Punya magnet personal di dalam dirinya. Seorang citizen-leader diyakini memiliki daya tarik yang luar biasa di dalam diri mereka. Magnet inilah yang membuat para pengikutnya bahkan rela memberikan loyalitas mereka kepada dirinya. Daya tarik ini dapat merupakan perpaduan unik antara berkah dari Yang Mahakuasa dengan bakat-bakat kepimpimpinan yang ia miliki.

- Keberaniannya di atas rata-rata, sehingga menarik orang-orang untuk menjadi pengikutnya. Dare to be different adalah pasti kualitas yang ada di dalam diri seorang citizen-leader. Keberanian yg ia miliki jauh di atas rata-rata orang di sekelilingnya. Keberanian yang ia miliki menular kepada para pengikutnya sehingga perjuangan yg ia bawakan memiliki stamina cukup untuk durasi panjang.

**
Referensi:

- Thomas M. Magstadt, Understanding Politics: Ideas, Institutions, and Issues (Belmont: Wadsworth, 2010)

- setabasri01.blogspot.co.id