Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

15 May 2020

LAILATUL QADAR, SEBUAH PROSES & PUNCAK PENGALAMAN SPIRITUAL

Semua Muslim pasti ingin dan merindukan Lailatur Qadar, yg nilainya sama dengan "1000 bulan", meski kata "seribu" (alfi) dalam bahasa Arab (dulu) itu maknanya bukan sekedar jumlah 1000, tapi juga "hitungan tertinggi", bisa juta, milyar bahkan trilyun. Sebutlah Paling Puncak.

Jika mengganggap Lailatul Qadar sekedar "hadiah yang jatuh dari langit" maka nanti banyak orang yang lebih mementingkan hasil (orientasi hasil), hanya akan rajin ibadah saja di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan melempem lagi di hari-hari biasa.

Dalam beragama, yg harus dipahami oleh seorang hamba adalah istiqamah dalam beribadah. Awalnya Ritual lalu selanjutnya menyentuh perbaikan jiwa dan spiritual. Awalnya terasa berat memenuhi Kewajiban lalu akhirnya terasa ringan karena Kebutuhan. Jadi ada suatu "proses" perbaikan ke dalam diri maupun ke lingkungan sekitar, selaras dengan kata "sholeh" yg artinya "memperbaiki". Hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini.

Jika dianalogikan, Lailatul Qadar itu seperti putaran terakhir dalam pertandingan (misal) lari. Pertandingan yg dimulai sejak awal tahun (bulan Muharram), kemudian makin menguatkan niat pada Nisfu Sya'ban, semakin semangat dan fokus di Ramadhan, sampai memasuki putaran terakhir di akhir Ramadhan. Sampai akhirnya sukses memasuki garis finish menjadi juara, diberi selamat oleh para malaikat serta ruh-ruh orang sholeh, dan bisa naik podium diberi medali "kelahiran kembali", bertemu dengan "fitrah diri".

Jadi Lailatul Qadar itu adalah "suatu rangkaian dalam proses transformasi kesadaran" dan bukan sekedar "hadiah yg jatuh dari langit" ataupun "fenomena alam" yg tinggal ditunggu pada malam tertentu, sementara malam-malam lainnya tidak melakukan proses apa-apa. 

Jika "maqam" Lailatul Qadar itu berada di tingkat 100, maka akan sulit dicapai jika "modal awal" nya hanya di tingkat 20, karena Lailatul Qadar itu seperti "finalisasi" suatu rangkaian proses tahunan atau lebih. Ada rangkaian Sunatullahnya dan bukan merupakan sesuatu yg instan, karena Allah itu Maha Adil.

Allah Maha Adil dan Maha Mematuhi aturan yang dibuat-Nya (sunatullah). Hamba-Nya yang berproses akan lebih dicintai daripada yang tidak. Proses dari -2 ke 6 itu lebih baik daripada 6 ke 8, itu makanya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan berinstrospeksi, serendah apapun awalnya.

Sekali lagi, Lailatul Qadar itu merupakan bentuk dari keseluruhan proses Qurbah (pendekatan kepada Allah), dan bukan hanya sekedar hasil yang mudah didapat dan diraih dalam waktu semalam.

Dan itulah kenapa Rasulullah SAW tak pernah membocorkan kapan Lailatul Qadar terjadi. Rasul hanya memberikan prediksi dan tanda-tanda kedatangannya. 
 
**

Rasulullah SAW bersabda,

Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Siapa yg berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yg meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan. Dan siapa yg memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni'.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk memahami Hadist di atas, harus paham juga bahwa Allah itu tidak terpengaruh dimensi Ruang dan Waktu.

Jadi kata "turun" untuk Allah itu sifat mustahil bagi Allah, karena Allah itu Qiyamuhu bi Nafsihi (berdiri sendiri) tanpa ketergantungan dimensi Ruang dan Waktu baik arah atas, bawah, kiri, kanan, turun ataupun naik.

Secara proses, Hadist-hadist seperti itu harus dipahami sebagai bentuk perintah bagi kita agar kita berproses untuk "naik", bukan naik secara dimensi Ruang, tetapi "menaikkan kesadaran", menaikkan kualitas diri, sehingga kualitas kesadarannya "lebih mendekati" Allah, dan jadi lebih mudah berpeluang untuk mencapainya.

Atau dengan bahasa lain, kesadaran yg awalnya berada di alam Nasut/jasmani, akan berproses menuju Malakut, terus ke Jabarut, sampai akhirnya ke Lahut.

Jadi fokusnya bukan ke "Allah turun ke langit dunia", tetapi bagaimana kita bisa "menyongsong-Nya dari langit dunia" dengan cara menaikkan level "langit" diri. Itu makanya kapan terjadinya "lailatul qadar" pada seseorang merupakan suatu rahasia. Bukan kayak tanggal merah di kalender.. 😀

Berangkat dari pemahaman seperti ini, nanti kita dapat memahami (dan mudah-mudahan dapat mengalami), bahwa yg namanya Lailatur Qadar itu adalah "suatu rangkaian proses transformasi kesadaran" dan bukan sekedar "hadiah yg jatuh dari langit" ataupun "fenomena alam" yg tinggal ditunggu pada malam tertentu, sementara malam-malam lainnya tidak melakukan proses apa-apa. 

Jadi sesuatu yg lucu, jika ada yg koar-koar menjual acara "mencapai Lailatul Qadar" seharga berapa rupiah dalam sekali proses.. suatu pembodohan dan disantapnya pun oleh orang-orang bodoh. 

Dan orang-orang bodoh ini akhirnya berilusi dengan kemerasaan "maqam" kesadarannya. Merasa sedang di kesadaran tinggi, padahal sedang darah tinggi.. Merasa sedang melebur dan Fana', padahal sedang melamun dan terpana. 

Ya memang lucu dan menggelikan, soalnya alam di bawah Malakut pun belum selesai dilaluinya, lalu dengan bangganya merasa mendapatkan Lailatul Qadar dalam semalam. Cuma yg aneh, kenapa Jabarutnya belum kena/terakses, padahal kondisi "Lailatul Qadar" ada di Jabarut.

Jadi analoginya, jika "maqam" Lailatul Qadar ada di tingkat 100, ya sesuatu yg sulit dicapai jika "modal awal" nya hanya di tingkat 20, karena Lailatul Qadar itu seperti "finalisasi" rangkaian proses evolusi kesadaran per tahun atau lebih. Ada rangkaian Sunatullahnya dan bukan merupakan sesuatu yg instan, karena Allah itu Maha Adil. 
  
Sekali lagi, Lailatul Qadar itu merupakan bentuk dari keseluruhan proses Qurbah (Dekat kepada Allah), dan bukan hanya sekedar hasil yg mudah didapat dan diraih dalam semalam. Jadi bisa disebut bahwa Lailatul Qadar itu merupakan puncak pengalaman Spiritual seorang hamba di hadapan Tuhannya. 
 
Semoga.... 
#ombad #tasawuf #ramadhan

12 May 2020

TASAWUF DALAM SEMARAK PUASA

Begitu dalam, saat NH. Dini dalam buku Sebuah Lorong di Kotaku menulis, "Aku diajar berpuasa bukan karena agama, bukan karena keinginan naik surga. Kakek mengajarku buat menahan keinginan, untuk mengetahui sampai dimana aku dapat mengatur kekuatan." 
 
Tulisan itu seakan membuka kenangan akan lantunan Hikam yang kembali menusuk hati, "beribadah karena harapkan sesuatu atau agar tolak datangnya siksa, maka ia belum menunaikan hak kewajibannya terhadap sifat-sifat Allah." 
 
Seakan juga wajah cantiknya Adawiyah kembali membisikkan kata cinta, "Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian untung melimpah. Atau mereka menempati surga, lalu  mendapatkan istana dan meminum air Salsabila. Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti."

Sedangkan di depan mata, janji-janji surga dilontarkan demikian gencar lewat panggung-panggung pertunjukan yang seringkali atas-namakan Tuhan dan disertai ancaman. 
 
Sementara di ujung sana, tetap saja, banyak yang berpuasa penuh dendam, nafsunya begitu kelaparan mirip setan, dan saat berbuka begitu serakahnya pada makanan.

Bahkan di pojok lain, keserakahan tetap dipamerkan para setan yang katanya diikat, tapi tetap dalam kobaran kemarahan dan kebencian makin kuat, malah kesadaran diri pun tergilas kemunafikan yang pekat. 

Ah, parodi para budak dogma, yang terformalisasi janji surga, dalam hapalan ayat-ayat saja, terombang-ambing paradok otak dan jiwa.. serta hasilnya tetap lapar dahaga. 

Dan akupun tetap dzalim, yang masih sulit membiasakan istighfar, apalagi jika harus meng-istighfar-kan ucapan istighfarnya, --Istighfaaruna yahtaaju ilaa istighfaarin-- dalam batin puasa. 
 
Semoga..
#ombad #tasawuf #ramadhan

30 April 2020

PUASA, SIFAT ALLAH

Dalam sebuah Hadist Qudsi, Rasulullah SAW bersabda, Allah Ta‘ala berfirman, 
 
Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi imbalannya.” (HR. Muslim) 

Kenapa seperti itu..? 
Hakikat makhluk itu menuntut adanya makanan dan minuman. Sedangkan yang tidak makan dan tidak minum itu Tuhan. Artinya seseorang yang berpuasa itu secara tidak langsung sedang diajari salah satu sifat Allah, meski bukan bagian dari hakikat sifat makhluk-Nya. Makanya disebut "puasa itu milik-Ku". 
 
Jadi puasa itu merupakan sifat Samdaniyyah atau sifat khusus yang hanya menjadi milik Allah SWT (terkait pelepasan dan penyucian dari makanan/minuman). 
 
Seakan-akan Tuhan berkata kepada makhluk-Nya yang sedang berpuasa :
 
Puasa adalah milik-Ku, bukan milikmu. Karena Akulah yang seharusnya tidak makan dan minum, bukan kamu. Dan jika kamu berpuasa seperti itu karena mentaati ketetapan perintah-Ku, maka Aku sendiri yang akan memberi imbalannya.” 

Semoga...
#ombad #tasawuf #ramadhan 

23 April 2020

HIKMAH PESAN RASULULLAH SAW MENJELANG RAMADHAN

Sy coba sarikan pesan dari khutbah Rasulullah SAW menjelang memasuki bulan Ramadhan (akhir bulan Sya'ban). Ada 6 pesan penting, yaitu : 
 
1. Pergunakan waktu sebaik-baiknya selama Ramadhan, khususnya dalam hubungan ibadah (transdental) dengan Allah SWT. 

- Penjelasan: Jadi berhubungan dengan fokus, konsisten dan totalitas. Belajar "men-satu-arahkan". Itu makanya ibadah puasa itu privasi antara makhluk dengan Tuhannya. 
 
- Goal: anda merasakan bahwa segala sesuatu menjadi Berkah. Dan puncak keberkahannya adalah "lailatul qadar". 
 
2. Kebajikan yang diaktualisasikan akan mendapat pahala berlipat ganda. 

- Penjelasan: Jika kita melakukan proses sebaik-baiknya, jangan khawatir urusan hasil. Tawakal saja. Sebutlah Pahala ini suatu kebahagiaan, dan ini ukurannya tidak linear karena berupa rasa. Semakin anda bisa khusyu, maka si rasa yang bisa anda terima akan semakin berlipat. Artinya ini berhubungan dengan hati, penyucian hati (thaharatul qulub) dalam kaitannya dengan nafsu-nafsu. Hati sebesar gelas, ya nampungnya cuma segelas, dst. Konteks pahala ini bukan sekedar hitungan logika, kecuali buat anak kecil yang masih suka permen. 
 
- Goal: Ketenangan, ketentraman dan kebeningan hati. Mukasyafatul qulub. 

3. Ingat bahwa bulan Ramadhan itu bulan untuk melatih kesabaran anda. 

Penjelasan: Bukankah rasa lapar dan haus --atau dengan bahasa anasir tubuh-- kekurangan "tanah" dan "air" akan meningkatkan dominasi "api" dan "angin" dalam tubuh..? "Api" dan "angin" ini akan berusaha memporak-porandakan "kestabilan" tanah dan juga "binding" nya fungsi air. Makanya yg kelaparan suka cepet esmosi. 
 
- Goal: Ujian hidup bisa dinikmati dengan penuh keyakinan dan positive thinking ke Allah. 

4. Belajarlah bersimpati/empati kepada orang lain. 

- Penjelasan: Kualitas iman seseorang itu berhubungan dengan kualitas pandangan terhadap sesamanya, makhluk lain dan alam sekitar. Artinya harus bisa menyeimbangkan antara hubungan transedental dan horizontal, antara manusia sebagai makhluk Tuhan dengan manusia sebagai makhluk sosial. 
Dan empati ini merupakan "buah" yang dihasilkan dari pohon ibadah. Seperti halnya pohon yang rindang dan berbuah banyak. Rindangnya meneduhkan orang di sekitarnya (dalam bentuk perbuatan dan perkataan), dan hasil buahnya itu sebagai bentuk empati (memberi kebaikan lahir maupun batin). Allah Mahabaik, jadi contohlah sifat-Nya. 
Betapa pentingnya kebaikan horizontal ini, sampai disebutkan begini, "barangsiapa yang memberi makan untuk berbuka kepada orang lain, maka pahalanya seperti puasanya orang tersebut.
Mudah-mudahan hadist ini bisa dipahami maknanya dan dirasakan esensinya. 
 
- Goal: Dirindukan para penghuni langit. 
 
5. Meningkatkan amal sholeh. 
 
Penjelasan: "Sholeh" itu maknanya memperbaiki, jadi berupa "kata kerja". Tidak statis, tapi dinamis. Artinya ini ada hubungannya dengan kreativitas masing-masing meski tetap dalam batasan koridor yang fix. "Meningkatkan" ini terkait secara kualitas dan kuantitasnya. 

- Goal : Mendapat Rahmat Allah, juga menjadi saluran rahmat. 
 
6. Memperbanyak berdoa dan meminta ampunan. 

- Penjelasan: Ini berhubungan dengan pembersihan diri, taubat, shafa (penyucian hati), dan juga "penerimaan". 

- Goal : kita ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepada kita. Tentu sebelumnya harus melewati tahapan tertentu (ahwal & maqamat). 

** 
Disarankan :
Sebelum memasuki bulan Ramadhan disarankan melakukan Mandi Wajib dan Shalat Taubat, serta Niat yang kuat terkait pengamalan dari ke-6 pesan Rasulullah SAW di atas. 

Semoga... 
#ombad #ramadhan #tasawuf 

30 May 2019

PUASA, BELAJAR DAMAIKAN DIRI

DIRI itu terdiri dari tiga tubuh ; Fisik, Jiwa dan Spirit (ruh). Damai itu adalah adanya keselarasan ketiga tubuh ini secara terintegrasi, tidak saling bertengkar dan saling melemahkan. Secara fitrah, otoritas tertinggi dari semua aspek tubuh ini adalah tubuh ruhnya, karena ruh lah yg terus-menerus terhubung dengan cahaya Tuhannya.

Berdamai dengan diri --baik tubuh Fisik, Jiwa maupun Spirit-- ini berarti terciptanya harmonisasi antar ketiga tubuhnya. Harmonisasi ini terjadi karena adanya "inner communication" yang kontinu dalam siklus : rahmat - hidayah - taufik - inayah.

Puasa itu "menahan", bukan sekedar menahan lapar saja. Manusia akan bisa berdamai dengan dirinya jika bisa "menahan" keinginannya, tidak saja dalam urusan perut tetapi juga jiwa dan hatinya. Inilah pengendalian diri secara holistik.

"Setan dibelenggu ketika bulan puasa" tentu bukan sekedar harfiah tetapi berhubungan dengan upaya pengendalian diri seperti ungkapan Hadist "Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah manusia, karena itu persempitlah jalan masuknya dengan lapar/puasa". Itulah setan-setan dalam darah (baca : jiwa) yang masih dipengaruhi hawa nafsu.

Jadi, Mujahadah untuk mencapai Musyahadah akan sulit jika hanya berpuasa menahan lapar tubuh fisik saja.

Rasulullah SAW bersabda,

Al-Mujahidu man jahadi nafsahu fi ta’at Allah ‘azza wa jalla.

Pejuang (mujahid) adalah orang yang memperjuangkan nafs-nya dalam mentaati Allah azza wa jalla.” (HR. Tirmidhi, Tabrani, Hakim, dll)

Tubuh Jiwa (nafs) yang menjadi "kulit" dari Tubuh Ruh ini akan menjadi hijab/penghalang "perdamaian" dari keseluruhan tubuh jika Tubuh Jiwanya masih berjaket "amarah", berbaju "lawwamah" dan berkaos dalam "mulhimah". Jika ketiga pakaian tubuh jiwa tersebut belum bertransformasi menjadi "muthmainnah", lalu "radhiyyah", "mardhiyyah" dan "kamilah", maka akan sulit berdamai dalam diri sendiri.

Pancaran cahaya ruh akan terdistorsi bahkan terhalangi jika Hawa Nafsu rendah dalam Tubuh Jiwa masih menutupinya. Ruh yang selalu terhubung dengan cahaya "kedamaian Darussalaam" ini pun akan kesulitan untuk menjadi penerang ke semua aspek tubuh.
 
Lewat Mujahadah menuju Musyahadah ini kita akan mengetahui bahwa terbukanya lapisan pakaian tubuh jiwanya secara bertahap ini akan seiring dengan terbukanya Dada, Qalb, Fuad, Syaghaf, Lubb dan Sirr.

Dan akhirnya terbukalah Fitrah dirinya yang "damai" seperti halnya "kedamaian Darussalaam" yang menjadi visi/tujuan dari fitrahnya. Seperti itulah "barangsiapa mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya".

 
Semoga..
#ombad 25 #ramadhan 1440 H.
#tasawuf #damai

**

Hadist Qudsi :

ﺒﻨﻴﺖ ﻓﻰ ﺟﻮﻒ ﺍﺒﻦ ﺃﺪﻢ ﻗﺼﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻗﺼﺭ ﺼﺪﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﻗﻟﺒﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻗﻟﺐ ﻓﺅﺍﺪﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻓﺅﺍﺪ ﺷﻐﺎﻓﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺷﻐﺎﻑ ﻟﺒﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻟﺐ ﺴﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺴﺭ ﺃﻨﺎ

Aku jadikan pada Anak Adam itu ada Qasrun (istana), di situ ada Shadr (dada), di dalam dada itu ada Qalbu, di dalamnya lagi Fuad, di dalamnya lagi ada Syaghaf, juga di dalamnya ada Lubb, dan di dalamnya ada Sirr, di dalamnya itulah ada Aku."

**

Rahmat adalah Kasih sayang (dari) Allah.

Taufik adalah Restu/ijin (dari) Allah untuk amal-amal baik yg dilakukan.

Hidayah adalah Petunjuk dan Bimbingan (dari) Allah.

Inayah adalah Bantuan dan Pertolongan (dari) Allah.

26 May 2019

LAILATUL QADAR ITU PROSES

Semua Muslim pasti berkeinginan dan merindukan Lailatur Qadar, yg nilainya sama dengan "1000 bulan", meski kata "seribu" (alfi) dalam bahasa Arab (dulu) itu maknanya bukan sekedar jumlah 1000, tapi juga "hitungan tertinggi", bisa juta, milyar bahkan trilyun. Sebutlah Paling Puncak.

Jika mengganggap Lailatul Qadar sekedar "hadiah yang jatuh dari langit" maka nanti banyak orang yang lebih mementingkan hasil (orientasi hasil), hanya akan rajin ibadah saja di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan melempem lagi di hari-hari biasa.

Dalam beragama, yg harus dipahami oleh seorang hamba adalah istiqamah dalam beribadah. Awalnya ritual lalu selanjutnya menyentuh perbaikan jiwa dan spiritual. Awalnya terasa berat memenuhi Kewajiban lalu akhirnya terasa ringan karena Kebutuhan. Jadi ada suatu "proses" perbaikan ke dalam diri maupun ke lingkungan sekitar, selaras dengan kata "sholeh" yg artinya "memperbaiki". Hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini.

Jika dianalogikan, Lailatul Qadar itu seperti putaran terakhir dalam pertandingan (misal) lari. Pertandingan yg dimulai sejak awal tahun (bulan Muharram), kemudian makin menguatkan niat pada Nisfu Sya'ban, semakin semangat dan fokus di Ramadhan, sampai memasuki putaran terakhir di akhir Ramadhan. Sampai akhirnya sukses memasuki garis finish menjadi juara, diberi selamat oleh para malaikat serta ruh-ruh orang sholeh, dan bisa naik podium diberi medali "kelahiran kembali", bertemu dengan "fitrah diri".

Jadi Lailatul Qadar itu adalah "suatu rangkaian dalam proses transformasi kesadaran" dan bukan sekedar "hadiah yg jatuh dari langit" ataupun "fenomena alam" yg tinggal ditunggu pada malam tertentu, sementara malam-malam lainnya tidak melakukan proses apa-apa. 

Jadi jika "maqam" Lailatul Qadar itu berada di tingkat 100, maka akan sulit dicapai jika "modal awal" nya hanya di tingkat 20, karena Lailatul Qadar itu seperti "finalisasi" suatu rangkaian proses tahunan atau lebih. Ada rangkaian Sunatullahnya dan bukan merupakan sesuatu yg instan, karena Allah itu Maha Adil.

Allah Maha Adil dan Maha Mematuhi aturan yang dibuat-Nya (sunatullah). Hamba-Nya yang berproses akan lebih dicintai daripada yang tidak. Proses dari -2 ke 6 itu lebih baik daripada 6 ke 8, itu makanya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan berinstrospeksi, serendah apapun awalnya.

Sekali lagi, Lailatul Qadar itu merupakan bentuk dari keseluruhan proses Qurbah (pendekatan kepada Allah), dan bukan hanya sekedar hasil yang mudah didapat dan diraih dalam waktu semalam.

Dan itulah kenapa Rasulullah SAW tak pernah membocorkan kapan Lailatul Qadar terjadi.

Semoga...
#ombad 21 #ramadhan 1440 H.

23 May 2019

LAILATUL QADAR VS LAILATUL MAKAR

Tidak akan ada asap jika tidak ada api yang selalu ditiup-tiupkan sebelumnya. Tidak akan ada pohon jika tidak ada benih yang selalu dipupuk sebelumnya.

- Seruan Damai tidak akan efisien jika pada hari-hari sebelumnya selalu dimunculkan Narasi Kebencian (termasuk dakwah caci-maki, kebencian & provokasi) serta Narasi Ketidak-percayaan kepada aparat hukum, lembaga & Pemerintah selalu ditanamkan kepada para pendukungnya.

- Jika pemimpin unjuk rasa tidak bisa menjamin akan tercampuri "provokator yang menyusup" maka rasa akan jadi mudharat, maka Pemimpin/pencetus unjuk rasa harus bertanggungjawab.

- Jika memang ustadz, mendingan mengajak peserta unjuk rasa itu untuk ibadah shalat maghrib, dzikiran, shalwatan, shalat isya serta taraweh bersama daripada ikut dorongan hawa nafsu untuk unjuk rasa.

Jadi, mumpung sedang ramadhan mendingan mencari Lailatul Qadar daripada Lailatul Makar.


Semoga..
#ombad

22 May 2019

QURAN TURUN KE DADA

Al-Quran itu harus bisa turun ke dada, karena sifat dada itu Keterbukaan dan Kasih Sayang. Artinya cahaya Al-Quran itu akan bisa memancar dari dalam dada jika sifat Keterbukaan dan Kasih Sayangnya dikedepankan. Adanya keselarasan dan "keseimbangan".

Jika Al-Quran sekedar turun ke kepala, itu masih bisa dipakai buat kepentingan Hawa Nafsu. Burung Beo juga bisa kayak gitu mah.. apalagi cuma nemplok di peci doank.. 😂

"Katakanlah (Muhammad), 'Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman'." (QS. Al-Baqarah, 2 : 97)

Sifat dada itu sangat erat hubungannya dengan Humanisme, artinya Al-Quran yang sudah masuk ke dalam dada itu akan meningkatkan rasa kemanusiaan.

Berbeda dengan pikiran yang selalu dilingkupi ego, akan selalu berusaha melakukan Pembenaran akibat distorsi hawa nafsu. Artinya bisa saja dengan memakai Al-Quran malah meningkatkan rasa kebinatangan kayak burung Beo.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ

Akan keluar manusia dari arah timur dan membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana halnya anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya hingga anak panah kembali ke busurnya.” (HR. Bukhari)

"Tidak melewati kerongkongan atau tenggorokan” ini artinya “tidak sampai ke qalbu/hati”. Al-Quran di dalam dirinya belum bisa jadi pembersih hijab-hijab hatinya, belum bisa memperbaiki akhlaq, belum menguatkan karakter keterbukaan, kasih sayang ataupun humanisme.

Sebaliknya, malah yang menguat adalah hawa nafsu, seperti merasa lebih beriman, mudah menuduh orang, penguatan su'udzon, atau dengan kata lain, tidak bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Itu makanya kalau dalam Tarekat ketika berdzikir khofi itu kepalanya (lathifah nafs) harus diarahkan ke dada (qalbu, lathifah qalb). Kepala harus bisa mengikuti dada, atau bisa dimaknai, isi pikiran itu tidak sampai liar tapi harus bisa dikendalikan qalbu (nurani, hati).

Salah satu tanda bahwa Al-Quran sudah masuk ke dada (hati) adalah kesejukan yang dirasakan orang lain ketika berdekatan dengannya. Orang tidak khawatir memperoleh keburukan darinya.

“…Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’,17 : 107-109)

Dan orang-orang yg telah mendapatkan "cahaya al-Quran" itu makin bertambah kelembutannya karena hatinya makin halus dan lembut, seperti yg dikatakan Rasulullah SAW,

Maukah kalian aku beritahu siapa penghuni surga itu..? Dialah setiap orang yang lemah, lembut, dan rendah hati; seandainya ia bersumpah memohon kemurahan Allah, pasti akan dipenuhi-Nya. Maukah kalian aku beritahu siapa penghuni neraka itu..? Dialah setiap orang yang keras lagi kasar, suka meneriakkan kata-kata kotor, angkuh gaya berjalannya, lagi sombong (sok hebat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

**

Dada yang dimaksud :

ﺒﻨﻴﺖ ﻓﻰ ﺟﻮﻒ ﺍﺒﻦ ﺃﺪﻢ ﻗﺼﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻗﺼﺭ ﺼﺪﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﻗﻟﺒﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻗﻟﺐ ﻓﺅﺍﺪﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻓﺅﺍﺪ ﺷﻐﺎﻓﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺷﻐﺎﻑ ﻟﺒﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻟﺐ ﺴﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺴﺭ ﺃﻨﺎ

Aku jadikan pada Anak Adam itu ada Qasrun (istana), di situ ada Shadr (dada), di dalam dada itu ada Qalbu, di dalamnya lagi Fuad, di dalamnya lagi ada Syaghaf, juga di dalamnya ada Lubb, dan di dalamnya ada Sirr, di dalamnya itulah ada Aku." (Hadist Qudsi)

Semoga..

#ombad #tasawuf
#nuzul #alquran 17 #ramadhan 1440 H.

17 May 2019

PUASA UNTUK MUSYAHADAH

Jika dibandingkan antara Puasa dengan Shalat, maka Puasa itu untuk MUSYAHADAH dan Shalat itu untuk MUNAJAT.

Puasa menghasilkan MUSYAHADAH  (Syahada - Syahida, Penyaksian, bersaksi), pertemuan dengan Allah dengan penyaksian-Nya. Sedangkan Shalat itu MUNAJAT (merahasiakan, mendekati Allah dengan cara berdoa atau berdzikir) dan terdapat hijab/tabir yang menyertainya.

۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗ    اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ

"Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana." (QS. Asy-Syura: 51)

Wujud Al-Haqq bersama kelenyapanmu (fana'). Salik yang mengalami Muhadharah terikat dengan ayat-ayat-Nya. Salik yang mencapai Mukasyafah dilapangkan dengan sifat-sifat-Nya. Dan salik yang memiliki Musyahadah ditemukan dengan Dzat-Nya. Salik yang Muhadharah akalnya menunjukkannya. Salik yang Mukasyafah ilmunya mendekatkannya. Dan salik yang Musyahadah ma’rifatnya menghapusnya.” (Syeikh Abu Qasim Junaid ra.)

"Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan Mujahadah niscaya Allah akan memperbaiki hatinya dengan Musyahadah." (Imam al-Qusyairi ra.)

Rasulullah SAW bersabda,

Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya.”

- "Kebahagiaan saat berbuka" adalah kebahagiaan untuk jiwa hewaninya.

- "Kebahagiaan saat bertemu Tuhannya" adalah kebahagiaan untuk jiwa rasional (an-Nafs an-Natiqah), yaitu al-Latifah ar-Rabbaniyyah.

Allah adalah Dzat yang tak membutuhkan makan dan minum, dan orang yg berpuasa pun berusaha "mendekati" sifat Samdaniyyah (khusus) Allah yaitu tidak makan dan minum. Itulah kenapa pahala puasa langsung disandarkan kepada Allah. Dan tidak ada ibadah yg langsung disandarkan kepada Allah selain puasa.

Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku Sendiri yang akan memberi imbalannya.” (HR. Muslim)

Hendaklah kamu berpuasa, karena tidak ada yang serupa dengannya.” (HR. an-Nasa’i)


Semoga...
#ombad #tasawuf 12 #ramadhan 1440 H.

16 May 2019

KHADIJA, RAMADHAN, TAHUN KESEDIHAN

Pada bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Istri tercinta, Khadija rah. sakit menjelang ajal.

Khadija : “Aku memohon maaf kepadamu, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.”

Rasulullah : "Jauh dari itu ya Khadija, engkau telah mendukung dakwah Islam sepenuhnya.”

Kemudian Khadija memanggil Fatima Az-Zahra dan berbisik: “Fatima putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar ayahmu memberikan sorbannya yg biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.”

Mendengar itu Rasulullah SAW berkata:
“Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.”

Ummul Mukminin, Khadija pun menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan suami tercinta, Muhammad Rasulullah SAW. Didekapnya istrinya itu dengan perasaan pilu yg teramat sangat, tumpahlah air mata Rasulullah dan semua orang yg ada di situ.

Rasulullah berkata di dekat jasad istrinya :

"Wahai Khadija istriku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban..?”

Rasulullah semakin sedih mengenang istrinya semasa hidup. Seluruh kekayaan istrinya diserahkan kepadanya untuk perjuangan Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadija. Tetapi ketika Khadija hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yg bisa digunakan untuk menutupi jasadnya, bahkan pakaian yg digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yg sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Rasulullah kemudian berdoa,

“Ya Allah, Ya Ilahi Robbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijaku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam, mempercayaiku pada ketika orang lain menentangku, menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku,  menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijaku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku..?”

Mekkah, 11 Ramadhan tahun ke-10 kenabian.
Istri tercinta, Khadija wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Tahun itu pun disebut sebagai 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan) dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW.

**
 
Suatu hari..
Rasulullah pulang dari berdakwah. Khadija menyambut dan hendak berdiri di depan pintu tapi Rasulullah meminta agar istrinya tetap di tempatnya.

Saat itu Khadija sedang menyusui Fatima yg masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya sehingga ketika Fatima menyusu, bukan air susu yg keluar akan tetapi darah. Darahlah yg masuk dalam mulut Fatima.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatima dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yg lelah berdakwah, menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan istrinya dan tertidur.

Khadija pun membelai kepala suaminya penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadija menetes di pipi suaminya dan membuatnya terjaga.

“Wahai Khadija, mengapa engkau menangis..? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad..?” tanya Rasulullah dengan lembut.

"Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadija bersuamikan aku, Muhammad..?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan. Dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku adalah bangsawan,  kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai, namun engkau tidak memperoleh rakit ataupun jembatan maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam.." kata Khadija.

*
Rasulullah SAW bersabda,

"Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran, Fatima binti Muhammad SAW, Khadija binti Khawailid, dan Asiyah." (HR. Hakim - Muslim)

Allaahumma sholli wa sallim 'ala sayyidina Muhammmad wa 'ala aali sayyidina Muhammad.

Semoga..
#ombad #sejarah #khadija #wafat

FASE MAGHFIRAH

(10 Hari Kedua Ramadhan)

Rasulullah SAW bersabda:

"Awal bulan Ramadhan adalah Rahmat, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya Itqun Minan Naar (pembebasan dari api neraka)."

Fase 10 hari yg Kedua dalam bulan puasa nanti, adalah Fase Maghfirah (ampunan). Maghfirah (Ghafara, Yaghfiru, Maghfiratan), ghafara ini secara harfiah artinya Menutup, maka Maghfirah bisa diartikan sebagai ditutupnya dosa-dosa karena sudah diampuni Allah Ta'ala.

Dalam Tafsir al-Kabir nya Imam ar-Razi ra. disebutkan bahwa Maghfirah itu adalah tertutupinya dosa-dosa sehingga bisa terjaga dari siksaan, rasa malu dan kehinaan. Dan hal ini muncul setelah adanya pemberian Maaf dari Allah al-Afuw, sehingga tertutupi dari dosa dan akibatnya. Prosesnya sesuai dengan ayat,

وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ 

Beri Maaflah kami; Ampunilah kami; dan Rahmatilah kami." (QS. 2:286)

Artinya, supaya selaras dengan fase Maghfirah, sebaiknya 10 hari pertama itu memperbanyak Istighfar dan berdzikir.

Dalam Tasawuf, ini berhubungan dengan tahap kedua yaitu Shafa (penyucian, esensi dari huruf Shad), tentunya diawali dulu dengan tahap yg pertama, yaitu tahap Taubat (esensi dari huruf Ta). Taubat dengan cara ber-istighfar terus menerus dan berdzikir, sehingga memudahkan untuk memasuki tahapan selanjutnya yaitu Shafa, yg berupa terbilasnya kotoran qalbu. Seperti halnya, tubuh berdaki dan berdebu yg sedang mandi dan membersihkan diri di dalam Samudera Maghfirah, yg dipenuhi jernih dan beningnya air Dzikir dan disabuni dengan harumnya sabun Istighfar.

Dan selanjutnya, mutiara-mutiara yg selalu bercahaya dan yg bersumber dari kedalaman Samudera pun siap menanti untuk menghiasi kebeningan qalbu.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq alaih)

Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al-Bazzar)

Semoga.. 
#ombad 11 #ramadhan 1440 H.

15 May 2019

BELAJARLAH BERPUASA

Belajarlah berpuasa kepada Ular, yang berpuasa untuk memperbaharui tubuhnya, mengganti kulit yang sudah usang menjadi kulit yang terbarukan. #taubat #shafa

Belajarlah berpuasa kepada Ulat, yang berpuasa untuk transformasi tubuhnya, sehingga menjadi kupu-kupu yang indah, terbang dan melakukan penyerbukan. #kematian #khalwat

Muutu qabla an tamuutu.
"Matilah sebelum Mati." (Hadist)

Belajarlah berpuasa kepada Burung, yang berpuasa untuk mengerami telur-telurnya, sehingga bisa menetaskan telur jadi anak, menghasilkan pengganti dan generasi penerus dirinya. #kelahirankedua

Manusia tidak akan mampu masuk ke malakutnya langit, kecuali telah dilahirkan dua kali seperti burung.” (Nabi 'Isa as.)

Belajarlah berpuasa seperti Pohon yang tetap Diam dalam Ketegaran, dalam teriknya siang dan dinginnya malam, dalam keringnya kemarau dan basahnya hujan. Seperti halnya Maryam yang tetap Diam dan Tegar saat membawa putranya Isa as. ke hadapan kaumnya yg mempertanyakan kelahirannya. #istiqamah

"Puasa merupakan perisai selama bohong --fitnah, hoax-- tidak merobeknya." ('Ali bin Abi Thalib kw.)

Dan berpuasalah seperti mereka, yang berpuasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, bukan sekedar pahala, tetapi melakukan perubahan yang lebih baik, bertransformasi baik ke dalam maupun ke luar diri, baik lahir maupun batin. #kebaikan


Semoga..
#ombad #tasawuf 10 #ramadhan 1440 H.

14 May 2019

PUASA, HIDANGAN DARI LANGIT


 
كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به 
 
Kullu ‘amali Ibni Adam lahu illash shiyaam, fainnahu lii wa anaa ajzii bihi.

"Semua amal manusia miliknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari - Muslim)

Ayat ini yg menyebabkan ibadah Puasa itu sangat istimewa. Kenapa?

Pertama, karena ibadah-ibadah lain rentan terhadap RIYA' (pamer).

Shalat, seringkali pelaksanaannya sulit mengelak dari nafsu Pamer, apakah itu ketika menenteng sajadah ke mesjid, dalam berpakaian atau sesudahnya dengan "melirik" dan "memeriksa" tetangganya yg gak ke mesjid. Dan kadang di hatipun sering tercetus, "shalat di mesjid donk".

Begitupun Zakat (dan infak, sedekah), kadang bisa tercetus dalam hati, "Gue kan kaya makanya ngasih".. Belum lagi kalau di belakangnya diomong-omongin, mirip iklan di TV.. 

Apalagi Umrah atau Naik Haji, ketika ditunjang kamera atau hp, "aku sedang umrah yang ke-empat", atau dibarengi budaya sisa feodalisme, bisa-bisa manyun ketika sudah naik haji tidak dipanggil Pak Haji atau Bu Haji oleh para tetangga, "Gimana sich, aku kan udah naik haji, mahal lagi, kamu mah belum".

Kedua, karena lewat puasa kita berusaha "mengosongkan" diri (baca : memperkecil hawa nafsu). Awalnya memang secara lahir dulu, dengan mengosongkan perut dan keinginan lahiriah, oleh karena itu dikatakan dalam Hadits,

"Orang yang puasa meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku." 

Selanjutnya berusaha semakin dalam lagi ke dalam diri, dengan berupaya supaya bisa mengosongkan hati dari berbagai hal yg tidak sejalan dengan keinginan-Nya.

Semakin baik kualitas puasa seseorang maka semakin baik kualitas pengosongan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Secara tersirat, ini disebutkan dalam Hadist :

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

"Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari - Muslim).

Artinya, puasa itu merupakan upaya untuk mendidik diri (melalui rasa lapar, haus dan meredam hawa nafsu), sampai "menyentuh" jiwa dan qalbu, sehingga diharapkan jiwa dan qalbunya mengalami proses "pengosongan" dari hawa nafsu, dan selanjutnya  pada saat yg bersamaan jiwa dan qalbunya pun merasakan dan menikmati santapan lezat ruhani dari-Nya.

Ada puisi dari Maulana Jalaludin Rumi ra. yg menjelaskan bahwa puasa Ramadhan itu bukan hanya untuk penyucian atau pengendalian diri saja, tetapi juga merupakan upaya untuk memberi peluang kepada jiwa mendapatkan hidangan dari langit yg lebih lezat daripada hidangan (makanan) yg berasal dari bumi.

"Bulan puasa telah tiba, larangan raja mulai berlaku.
Jauhkan tanganmu daripada makanan, hidangan ruhani telah disediakan.
Ruh telah bebas dari pengasingan dirinya dan menundukkan tangan tabiat jelek.
Hati yang sesat telah dikalahkan, dan prajurit iman telah sampai.
Bala tentara penidur telah menyerah dan segera ditawan,
Dari bara penyulut api jiwa tiba seraya meratap.
Lembu itu begitu molek, Musa bin Imran muncul;
Melaluinya si mati hidup semula apabila badannya telah melaksanakan upacara qurban;
Puasa ialah upacara qurban kita, yang menghidupi jiwa;
Mari kita qurbankan badan kita, karena jiwa tiba sebagai tamu;
Iman yang teguh ialah awan lembut, Kearifan ialah hujan yang tercurah darinya, karena pada bulan iman inilah al-Qur'an diwahyukan.
Apabila nafsu badani dikawal, ruh akan mi'raj ke langit;
Apabila pintu penjara dirubuhkan maka jiwa akan mencapai pelukan Kekasih.
Hati telah menukar tabir gelapnya dan menggerakkan sayapnya ke angkasa;
Hati, yang menyerupai malaikat, sekali lagi tiba di tengah mereka.
Tangkaplah tali pengikat tubuhnya, di atas perigi berteriaklah, “Yusuf dari Kan'an telah tiba!”
Pada waktu `Isa Almasih terjatuh dari keledainya maka doanya diterima Allah;
Cucilah tanganmu, karena Hidangan langit telah tiba;
Cucilah tangan dan mulutmu, jangan makan atau bercakap-cakap;
Carilah kata dan suapan nasi yang diturunkan untuk dia Si Diam..!"

Dan dalam Hilyat al-Abdaal, Syeikh Muhyidin Ibn 'Arabi ra. menjabarkan ciri hamba yg Puasanya benar adalah dengan semakin tumbuhnya sifat-sifat berikut:

- Rendah hati,
- Meningkat kepatuhannya,
- Sederhana,
- Lembut hati,
- Makin merasa fakir,
- Tidak ada bangga diri,
- Perilaku yg tenang,
- Bebas dari pikiran yg tidak pada tempatnya.

Mudah-mudahan kita bisa "menyantap" jamuan khusus ruhani dari-Nya selama Ramadhan ini.

Stay awake in the night, endure hunger.


Semoga..
#ombad #tasawuf 09 #ramadhan 1440 H.

13 May 2019

TINJAUAN PUASA SECARA UNSUR (ANASIR) TUBUH

Unsur dalam tubuh manusia secara garis besar ada 4 jenis, yaitu : Tanah (QS. 38:71), Air (QS. 25:54), Api (QS. 2:24), dan Angin (QS. 38:72).. dan kalau dalam tasawuf, keempat unsur ini bersumber dari Nur Muhammad.

Ketika tubuh kita berpuasa, artinya pasokan unsur Tanah --lewat makanan-- dan unsur Air --lewat minuman-- akan berkurang.

Secara keseimbangan, maka yang akan naik kadarnya adalah Api dan Angin. Itulah kenapa orang yang berpuasa (lapar dan haus) cepat naik emosinya karena unsur Api lebih dominan, dan sangat mudah "naik" ketika beribadah ataupun bermeditasi karena unsur Angin lebih dominan.

Ketika pengaruh unsur Tanah, Air dan Api ini bisa dikendalikan, maka selanjutnya akan merasakan dominasi pengaruh 'Angin'. Akan ada hubungannya dengan kemudahan dalam "proses" spiritual ketika beribadah karena dukungan unsur tubuh yg mendominasi. Tentu ini gak ada hubungan sama perokok yg rajin ngisep angin.. 😀

Hal ini mirip dengan para rahib Buddha yg hanya makan makanan vegetarian, untuk mengurangi unsur Api yg berasal dari daging, ataupun para ikhwan tarekat yg sedang melakukan khalwat dimana tidak disarankan makan yg berasal dari makanan berjiwa.

Inilah maksud "tersirat" dari ayat/dalil yg menyatakan bahwa bulan Ramadhan ini bulan Rahmat (atau dengan kata lain "Allah lebih dekat")..

**

Secara sekilas, masalah unsur (anasir) tubuh ini disinggung Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs. dalam kitqb Sirrul Asrar, Fasal 11 tentang Bahagia dan Celaka. Dalam bab ini dijelaskan esensi dari Hadist : “Orang yang akan bahagia telah ditetapkan kebahagiaannya dalam perut ibunya. Begitu pun yang celaka telah ditentukan celakanya dalam perut ibunya.”

Maksud dari kata “ibu” di Hadits di atas adalah berkumpulnya empat unsur (Tanah, Air, Api dan Angin) yg merupakan "sumber" kekuatan kemanusiaan, dan bisa menimbulkan Kebahagiaan ataupun Penderitaan (menghancurkan, mematikan).

Berbeda dengan Malaikat yg terbentuk hanya dari unsur cahaya ataupun Jin (Iblis) yg hanya dari unsur Api, Manusia itu terbentuk dari sesuatu yg berlawanan, paradoksial, maka manusia harus bisa mengendalikan serta menyeimbangkan segala sesuatu yg berlawanan dalam tubuhnya. Ibadah puasa adalah salah satu solusinya.

**

Penelitian modern menunjukkan bahwa :

Puasa mampu memicu regenerasi sistem sel dan sistem kekebalan tubuh yg rusak. Hal ini terjadi karena lewat puasa itu bisa "menyeimbangkan" kembali unsur-unsur pembentuk tubuhnya, sebutlah "me-reset" untuk kembali ke posisi "awal".

Inilah kenapa di QS. 2:184-185 diperintahkan bagi orang yg sakit mengganti Puasanya sejumlah hari yg ditinggalkannya (baik untuk pria maupun wanita). Hal ini berbeda dengan ibadah Shalat dimana para wanita yg mens tidak perlu mengganti shalat yg tidak dilakukannya ketika mens.

Dan bisa sy katakan, penelitian di atas merupakan bukti bahwa adanya Fase Rahmat dalam Puasa (Ramadhan), dimana salah satunya adalah rahmat (kasih sayang) Allah agar hamba-Nya bisa sehat dan seimbang kondisi tubuhnya.

Semoga..
#ombad 08 #ramadhan 1440 H.

11 May 2019

PUASALAH, KAMU AKAN SEHAT

Otak, meski hanya 2.5% dari berat badan, tapi otak mengkonsumsi 22% kebutuhan energi total harian. Dalam kondisi normal, suplai energi ini berasal dari glukosa yg diperoleh dari makanan.

Saat berpuasa (saat cadangan glycogen mulai menipis), liver/hati akan menkonversi cadangan lemak menjadi senyawa ketones (beta-hydroxybutyrate/beta-HBA). Senyawa ini dikenal bagaikan ‘super-fuel’ yg lebih powerful/efisien dibanding glukosa.

Analoginya dalam bensin mah, beta-HBA itu pertamax, sedangkan glukosa itu premium..

Keistimewaan beta-HBA diantaranya adalah melindungi sel-sel otak, meningkatkan jumlah sel mitochondrial, dan (yg terpenting) merangsang sel-sel otak baru (neurogenesis); yg semuanya mengarah pada perbaikan fungsi dan kesehatan otak.

"...Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. 2:184)

Itu makanya di negara-negara Barat puasa 10-12 jam juga sudah dijadikan terapi untuk banyak penyakit.

Ada juga penelitian dari Ahli Biologi Salk Institute, California Satchidananda Panda (sebagaimana yg dilansir livescience), dimana kesimpulannya mengatakan bahwa Diet puasa (intermittent fasting) membantu tubuh untuk melakukan peremajaan dan perbaikan sehingga dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Diet puasa juga menyebabkan tubuh merespon berbagai mekanisme atau tanda kerusakan tubuh menjadi lebih baik. Kondisi puasa dapat membuat sel tumor kekurangan bahan makanan untuk berkembang, memperbaiki inflamasi dan menghilangkan sel yg rusak dari dalam tubuh.

Dan dengan berpuasa, tubuh juga akan mengendalikan tekanan darah dan kolesterol secara otomatis karena tubuh melakukan pembakaran lemak lebih efektif saat berpuasa, serta membuat hormon insulin lebih sensitif terhadap makanan.

"Puasalah niscaya kamu akan sehat." (HR. al-Thabrani).

Tapi jangan balas dendam ya kalo pas buka, karena :

"Perut adalah rumah penyakit, dan pengaturan makanan adalah obat utamanya." (HR. Muslim)


Semoga...
#ombad 06 #ramadhan 1440 H.

10 May 2019

PUASA SECARA HOLISTIK 2

Puasa secara Syariat adalah menahan diri dari makanan, minuman, dan bersetubuh di waktu siang. Puasa seperti ini menyehatkan fisik.

Puasa secara Batiniah (Thariqah) adalah menahan seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan yg diharamkan dan dilarang, juga menjauhi sifat-sifat tercela, seperti ujub, riya', takabur, dsb, baik secara lahir maupun batin, baik siang maupun malam. Bila melakukan hal-hal tersebut tadi, maka batallah puasa batinnya. Puasa seperti ini untuk membersihkan penyakit hati, pengendalian hawa nafsu, serta peningkatan kesehatan mental dan spiritual.

Puasa secara Syariat mempunyai waktu tertentu, sedangkan puasa secara Thariqah itu selama hidup.

Rasulullah SAW bersabda:

Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. an-Nasa’i, Ibn Majah)

Banyak yang berpuasa, tetapi berbuka. Banyak yang berbuka, tetapi berpuasa.”

"Banyak yg berbuka tapi berpuasa" yaitu orang yg perutnya tidak berpuasa, tetapi ia menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan terlarang, serta selalu mengolah kalbunya.

Puasa secara Hakikat adalah menjaga hati dari selain Allah dan menjaga rasa agar tidak mencintai selain Allah.

Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya.” (Hadist Qudsi)

Sirr itu dari Nur Allah, maka orang yang di tingkat ini tidak akan cenderung kepada selain Allah. Tidak ada yang dicintai, diingini, dan dicari selain Allah di dunia maupun di akhirat. Bila hati terjatuh pada mencintai selain Allah, maka batallah Puasa Hakikatnya dan ia harus melakukan qadha dengan kembali mencintai Allah dan menemuinya di dunia dan akhirat, sesuai firman Allah:

Puasa itu bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.”

Ketika seseorang mampu berpuasa dari segala sesuatu selain Allah serta mampu menahan diri untuk tidak bergantung kepada selain-Nya, maka di saat itulah orang tersebut akan memiliki kualitas ketauhidan yang lurus.

Pelaku puasa yg seperti ini, keimanan dan ketauhidan mereka tidak bercabang, tidak terkotori oleh apapun, hanya menuju Allah semata, Tauhid Ahadiyah. Orang-orang seperti inilah yg akan fasih mengetahui rahasia-rahasia keilahian serta rahasia dari segala ibadah yg dilakukannya.

Kosongkan perutmu! Merataplah seperti sebuah kecapi dan sampaikan keinginanmu kepada Tuhan. Kosongkan perutmu dan bicaralah tentang misteri-misteri bagai ilalang..” (Maulana Rumi)

**

Ket..

- Sirri = rasa (di qalbu terdalam)...
- Pandangan Sirri biasa disebut Bashirah.. esensi dari ayat : “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri karena memandang kepada Tuhan-Nya”. (QS. Al-Qiyamah : 22-23)


Semoga...
#ombad 05 #ramadhan 1440 H.

09 May 2019

MUSLIM AL-WASATH VIA PUASA

Islam itu agama Pertengahan (al-Wasath). Ukuran "pertengahan" ini dasarnya adalah mengambil contoh perbandingan kedua agama pendahulunya, yaitu Yahudi dan Nasrani.

Islam mengandung ajaran hukum dengan orientasi pada masalah perilaku manusia secara Lahiriah seperti pada agama Yahudi, tetapi mengandung juga ajaran keruhanian yang mendalam seperti pada agama Nasrani.

Bahkan antara keduanya tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan. Ketika seorang Muslim dituntut untuk tunduk terhadap suatu hukum perilaku lahiriah, maka diharapkan dan diharuskan, ia juga bisa menerima dengan tulus dan ikhlas dari lubuk hatinya. Seorang Muslim pun harus bisa merasakan bahwa aturan hukum lahiriah itu sebagai sesuatu yg berakar dalam komitmen batin atau spiritualnya.

Kenyataan ini tercermin dalam susunan kitab-kitab fiqh, dimana bab pensucian (Thaharah) lahir selalu jadi bab awal, dan aturan ini pun sebagai awal untuk pensucian batin.

Dalam konteks al-Wasath ini, Ibn Taimiyyah ra. berkata :

"Syari'ah Taurat didominasi oleh KETEGASAN (KERAS), dan Syari'ah Injil didominasi oleh KELEMBUTAN, sedangkan Syari'ah al-Qur'an menengahi dan meliputi keduanya itu."

Jadi, kalau seorang Muslim dominasi dalam urusan hukumnya masih keras dan galak (takfiri, kopar-kapir, susat-sesat, dsb) kepada orang lain, itu lebih mirip siapa..? 😛
Terus, kenapa donk Kelembutannya tidak muncul..? 

Puasa itu sehat dan menyehatkan, dalam arti, berpuasa akan melatih Kekuatan tubuh supaya lebih sehat, atau dengan kata lain, lewat puasa itu bisa memperbaiki aspek "power" tubuh, seperti Kekuatan, Ketegasan, Disiplin, Konsekuen, dsb.

Sementara dari rasa haus dan lapar akibat puasa, seharusnya bisa melatih rasa atau aspek "sensitivitas" tubuh, seperti Kestabilan Emosi, Penurunan Ego, Empati, Kelembutan, dsb.

Jika sifat urat batu atau keras kepalanya masih besar, maka perbanyaklah berlapar-lapar puasa sampai terlewati puncak ego, emosi ataupun marahnya, lalu muncul rasa sabar saat lapar, dan selanjutnya bersiaplah Kelembutan hatinya muncul. Kelembutan ini semakin lama akan dikuatkan dengan rasa Empati dan Kasih Sayang kepada sesama makhluk.

Jadi, puasa bisa menyeimbangkan kedua sisi (Ketegasan dan Kelembutan), atau dengan kata lain, pembentukan karakter al-Wasath bagi seorang Muslim bisa dilatih lewat puasa.


Semoga..
#ombad 04 #ramadhan 1440 H.

05 May 2019

KHUTBAH RASULULLAH SAW MENYAMBUT RAMADHAN

"Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah Rahmat dan Maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Waktu demi waktunya adalah waktu-waktu yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat.

Bersedekahlah kepada kaum Fuqara dan Masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba- Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan Istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-Alamin.

Wahai manusia! Barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang Mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.

(Ada Sahabat yg bertanya: “Ya Rasulullah.. Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian..?”)
Rasulullah menjawab: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Rasulullah SAW melanjutkan khutbahnya,

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirothol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan Rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.

Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak Shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu.

Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.

('Ali bin Abi Thalib berdiri dan bertanya: “Ya Rasulullah.. Apa amal yang paling utama di bulan ini..?”)

Rasulullah menjawab: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.”

Rasulullah SAW melanjutkan,

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’..”

**

https://m.facebook.com/notes/badru-salam/khutbah-nabi-saw-menyambut-ramadhan/10151507561279007/

Semoga..
#ombad #ramadhan

07 July 2018

ZAKAT LAHIR BATIN

Zakat mengajarkan bahwa sesama makhluk Tuhan itu harus bisa BERBAGI (sharing). Ukuran 2.5% adalah standar minimal "latihan" agar kita tidak bersifat Kikir kepada sesama. Dan diluar Zakat masih ada yg lain yg berhubungan dengan "sharing", seperti : Shadaqah, Infaq, dsb.

Dimulai dengan belajar "sharing" harta, sampai akhirnya bisa berbagi hal-hal lain yg bermanfaat (baik), seperti: ilmu, perhatian, empati, dzikir, keamanan, kedamaian, kasih sayang, dsb.

Zakat secara syariat adalah memberikan sesuatu dari hasil usahanya bagi asnaf yg telah ditentukan dan pada waktu yg tertentu pula setiap tahun dengan nisab yg telah ditentukan.

Sedangkan secara esensi, menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani qs., Zakat adalah memberikan hasil usaha bangsa akhirat kepada orang yg fakir agama dan miskin akhirat.

Yang menjadi sebab zakat disebut Shadaqah, seperti firman Allah dalam surah At-Taubah 60:

“Sesungguhnya Shadaqah itu bagi orang-orang yang fakir.”

Dimana zakat lebih dahulu sampai kepada Allah daripada kepada orang fakir, dan yg dimaksudkan dengan penerimaan Allah adalah "penerimaan Allah yg abadi".

Dia memberikan pahala amalnya bagi orang lain, bila usaha keakhiratan pada orang yg berdosa, maka Allah mengampuninya, contohnya: pahala ganjaran, shadaqah, shalat, puasa, haji, tasbih, tahlil, bacaan Al-Quran, sifat dermawan dan amal-amal baik lainnya, sehingga tak ada lagi pahala bagi dirinya, maka ia menjadi orang yg pailit (bangkrut dalam arti kata ia tidak memiliki lagi pahala ibadahnya bagi dirinya).

Semoga...
#ombad #ramadhan #zakat

08 June 2018

MENGGAPAI LAILATUL QADAR

Apakah Lailatul Qadar itu sebagai tanda "wisuda" bagi seseorang yg telah berjuang dalam keikhlasan ibadah selama setahun ini atau jg sepanjang hidupnya ?

Apakah Lailatul Qadar itu merupakan tanda kualitas "maqam" bagi seseorang ?

Apakah Lailatul Qadar akan mudah ditemukan (didapat) di bulan Ramadhan oleh setiap Mukmin ?

Dengan tanpa mengesampingkan Kehendak Allah dalam memberi para pecinta-Nya untuk menikmati Lailatul Qadar, sy pribadi menganalogikannya seperti ini,

Ketika dari awal tahun (Muharam) seseorang sudah berniat dan "berlomba lari" ke suatu tempat yang jauh. Hari demi hari dan bulan demi bulan yg dilalui, hambatan atau gangguan yg dialaminya tidak akan membuat terbelokkan visi, tidak degradasi aktualisasikan niat, dan tetap istiqamah dalam "perlombaan".

Dan selanjutnya terdengar berita untuk para peserta lomba, berita yg semakin memompa "semangat" dan "harapan" bahwa tempat finishnya sudah mulai dekat. Seperti kata-kata, "Ayoooo, lebih cepat lagi... udah dekaattt... semangaaatttt..!"

Itulah kenapa, kapan datangnya Lailatul Qadar kepada seseorang tetap merupakan Rahasia Allah dan Rasul-Nya. Hal ini karena Lailatul Qadar itu merupakan bentuk dari keseluruhan proses Qurbah (Dekat kepada Allah), dan bukan hanya sekedar hasil yg mudah didapat dan diraih dalam semalam.

"Malam Ganjil" bisa dimaknai sebagai suatu kondisi yg sulit diprediksi dan dibaca, seperti halnya kondisi malam hari yg sulit terlihat; Cahaya yg datang dan menyinari seseorang dalam kegelapan ini bisa dikatakan muncul dalam kondisi acak (random), sebagai bentuk Berkah dari Allah Yang Maha Rahasia dan Maha Ghaib, tanpa bisa diprediksi makhluk-Nya dalam kedatangannya.

Pilihan Allah kepada salah satu hamba-Nya ini tentu karena kesiapan hamba-Nya, baik dalam hal kesungguhan usahanya maupun kondisi "wadah" nya.

Jadi, berhati-hatilah jika ada orang yg dengan mudahnya menentukan suatu malam sebagai malam Lailatul Qadar, supaya nanti anda tidak kecewa. Kenapa..?
Karena Lailatul Qadar itu merupakan pintu gerbang menuju Tajarrud Murni, dimana pintu ini bisa dimasuki karena "dipilih" dan  "dipanggil" sebagai "tamu kehormatan-Nya" untuk menjadi saksi dalam penyaksian semesta para penyaksi, Musyahadah.

Silakan direnungkan :

"Seorang Abid (ahli ibadah) berjalan ke surga, sedangkan seorang ‘Arif billah 'terbang' ke alam Qurbah, menjadi seorang Insan Kamil, kekasih-Nya, yg terbuka Ruh Qudsinya.

Kalbu para ahli Makrifat memiliki mata, mampu melihat apa yg tidak bisa dilihat orang biasa, memiliki sayap yg bisa terbang tanpa bulu, mengepak hingga Malakutnya Tuhan Pencipta Alam."

Jadi, tetaplah semangat dan istiqamah dalam menuju Qurbah, walau kadang diuji dengan Derajat.

Semoga...
#ombad #ramadhan #23 #lailatulqadar