06 November 2019
HATI YANG TERCERAI
17 July 2019
LALAT DAN TINTA IMAM GHAZALI
Syeikh Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul ‘Ibad menceritakan tentang seseorang yg berjumpa Imam Ghazali ra. dalam sebuah mimpi.
“Bagaimana Allah memperlakukanmu..?” tanya orang tersebut.
Imam al-Ghazali menceritakan bahwa di hadapan Allah ia ditanya tentang bekal apa yg ia serahkan untuk-Nya. Al-Ghazali pun menimpali dengan menyebut satu per satu seluruh prestasi ibadah yg pernah ia jalani di dunia. Dan Allah menolak itu semua, menampik berbagai amalan Imam al-Ghazali kecuali satu kebaikannya ketika bertemu dengan seekor lalat.
Suatu hari, ketika ia sedang mengarang dan menulis kitab, datanglah seekor lalat yg terbang mendekat dan hinggap di tinta penanya. Pada awalnya Imam Ghazali bermaksud mengusir lalat tersebut karena beliau ingin segera melanjutkan tulisannya. Namun Ia melihat lalat tersebut sangat kehausan. Beliau lebih memilih menunggu lalat itu minum sepuasnya pada tintanya daripada mengusirnya agar segera bisa melanjutkan tulisannya. Setelah lalat tersebut minum sepuasnya untuk menghilangkan dahaganya, lantas terbang lagi entah kemana.
Dan selanjutnya, dalam mimpi tersebut Allah pun berkata kepada Imam Al-Ghazali,
“Masuklah bersama hamba-Ku ke surga..”
**
Karena agama mengajarkan untuk berbuat baik, berlomba-lomba dalam kebaikan, akhirnya yang penting itu adalah bagaimana kita berusaha terus dalam kebaikan. Dan belajarlah untuk tidak "menghitung" amalnya, serta biarlah Allah yang menilainya.
Ini menunjukan bahwa manusia itu harus bisa menitik-beratkan "orientasi proses" dan bukan "orientasi hasil".
Rasulullah SAW bersabda,
لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ
“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan Rahmat dari Allah..” (HR. Muslim, dari Jabir bin Abdillah ra.)
Semoga..
#ombad #tasawuf
02 July 2019
TASAWUF DALAM SEEKOR ANJING
Anjing, selain sama-sama merupakan makhluk sosial, pola perilaku anjing pun mirip dengan manusia. Kedekatan pola perilaku ini menyebabkan anjing bisa dilatih, diajak bermain, tinggal bersama manusia, dan bisa diajak bersosialiasi.
Kesetiaan dan Pengabdian anjing seakan mengajarkan manusia untuk tetap setia dan mengabdi kepada Tuhannya. Predikat anjing sebagai "teman baik manusia" pun seakan mengajarkan bahwa manusia pun harus menjadi "teman baik" Tuhannya, dalam arti, qalbu atau batinnya selalu dekat dengan Tuhannya.
Dari anjing pun, manusia bisa belajar sifat-sifat yang baik lainnya. Apakah itu terkait daya tahan tubuhnya khususnya kekuatan dalam menanggung rasa lapar; Sedikit tidur di waktu malam seperti para Muhibbin; Tidak meninggalkan tuannya sekalipun kasar terhadapnya seperti halnya para Muridin; Rela berada di mana saja berada; dan jika dipukul/dikerasin lalu diberi sesuatu maka ia akan kembali tanpa ada rasa dendam; dan banyak sifat baik lainnya.
Seperti itulah "Kebaikan" dan "Pengabdian" seekor anjing.
Tetapi, banyak manusia yang memilih menjadi Bal’am bin Bauro, seorang murid Nabi Musa as. yang tergiur dengan nikmat duniawi sampai akhirnya tidak lagi memperdulikan halal atau haram, melepaskan ayat-ayat Allah dan menukarnya dengan keduniawian, seperti yang telah Tuhan firmankan, "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga.." (QS. Al-A'raf : 176).
Bukankah Anjing yang menjulurkan lidah dan meneteskan air liur itu menunjukkan hasrat anjing terhadap sesuatu..? Dan bukankah banyak manusia juga yang memiliki sifat seperti itu, yang hanya berorientasi materi duniawi dan kesenangan syahwat saja..?
Anjing yang cerdik pun tetap menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat, seperti halnya para penjilat di kalangan manusia yang lebih mementingkan syahwat dirinya sendiri, meski mereka bukan orang bodoh dan tidak pula berkedudukan rendah. Sayangnya para Penjilat ini tetap menghinakan dirinya daripada memilih untuk tetap terhormat dan terjaga kehormatannya.
Mereka ini yang disebut Imam Ghazali ra. sebagai Bahimiyyah (manusia hewan) yang derajatnya itu lebih sesat dan lebih hina dari hewan itu sendiri, karena hawa nafsunya telah memenuhi jiwa, sehingga pengetahuan, akal, hati dan keimanan pun akan dikalahkan oleh perutnya.
Dan seperti itulah "najis" nya seekor anjing yang harus bisa dihindari dan dibersihkan.
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
28 June 2019
BERKAH
Berkah (barokah) artinya Nikmat, Karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.
Menurut Imam Ghazali ra, Berkah adalah Bertambahnya Kebaikan (ziyadatul khair). Sedangkan menurut Imam Nawawi ra, asal makna Berkah adalah “Kebaikan yang banyak dan abadi”, dan dalam Syarah Shahih Muslim (karya Imam Nawawi) disebutkan, Berkah memiliki dua arti:
- Tumbuh, berkembang, atau bertambah.
- Kebaikan yang berkesinambungan.
Berkah akan muncul jika bisa Syukur, lalu selanjutnya bisa Ridha..
"Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (QS. Luqman : 12)
Menurut Imam Ghazali ada tiga jenis Syukur, yaitu :
1. Syukur dengan Lisan.
Ini adalah syukurnya orang berilmu, yang direalisasikan dengan bentuk ucapan, sebagai bentuk pengakuan/sikap selalu merendahkan diri di hadapan Allah.
2. Syukur dengan Badan.
Ini adalah syukurnya ahli ibadah, yang direalisasikan melalui perbuatan baik, yakni dengan banyak beribadah. Sampai akhirnya selalu meyakini bahwa "segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik dari-Nya".
3. Syukur dengan Hati.
Ini adalah syukurnya ahli makrifat, yang perwujudan hatinya selalu di hadapan Allah dengan menjaga keagungan-Nya, yang diwujudkan melalui segala bentuk perbuatan dan amalnya termasuk gerak hatinya secara konsisten.
Konsistensi aktualisasi ketiga tahapan syukur ini diharapkan bisa membentuk insan yang bisa bersyukur, dan selanjutnya pandai mensyukuri. Ketika ketiganya bisa sinambung, maka akan lebih mudah untuk membentuk sifat Ridha. Ketika seorang hamba bisa ridha kepada Tuhannya maka Tuhanpun akan ridha kepadanya. Dan itulah Berkah.
Rasulullah SAW bersabda,
"Sungguh, Allah menguji hamba dengan pemberian-Nya. Barangsiapa Rela dengan pembagian Allah terhadapnya, maka Allah akan memberikan Keberkahan baginya dan akan memperluasnya. Dan barangsiapa Tidak Rela, maka tidak akan mendapatkan Keberkahan.” (HR. Ahmad)
Dan Berkah itu tidak terkait dengan kuantitas, tapi lebih ke keselarasan lahir batin secara kualitas.
Semoga..
#ombad #tasawuf
03 June 2019
DOSA JARIAH
Terkait amal/pahala itu ada Amal Jariah, dan terkait dosa pun ada Dosa Jariah, dosa yang beranak-pinak kayak Multi Level Marketing.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء
“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim, dari Jarir bin Abdillah ra.)
Dosa Jariah itu misalnya :
- Pembuat dan Penyebar hoax/fitnah.
Sebuah hoax disebarkan dan dipercayai oleh 1000 orang, maka yang membuatnya akan dapat dosa jariah sebanyak 1000 kali lipat.
Itu makanya disebutkan dosa yang dipercepat balasannya adalah dosa fitnah. Kenapa..? Karena efeknya sangat merusak kehidupan ("lebih kejam daripada pembunuhan", QS. 2: 217).
“(Dikatakan kepada mereka), ‘Rasakanlah azabmu ini. Inilah azab yang dahulu kamu minta agar disegerakan'.” (QS. Adz-Dzariyat: 14)
Keadilan Allah kepada hamba-Nya yang jadi korban fitnah menyebabkan disegerakannya muncul fakta atau bukti untuk membantah hoax/fitnah yang dibuatnya tersebut. Akhirnya selagi di dunia si pembuat hoax/fitnah ini bisa disegerakan mendapat balasannya --berupa kasus hukum, aib dan kehinaan--, dan begitu juga nanti di akhirat. Dia bisa lama nyemplung di neraka, karena tabungan amalnya habis buat "ganti kerugian" orang yang difitnahnya.
- Pengajar Ilmu/pemahaman yang salah.
Saat seseorang mengajarkan pemahaman yang salah misalnya ke 10 orang, lalu yang 10 orang ini mengajarkan lagi (misalnya) ke 1000 orang, maka si pengajar pertama dapat dosa jariah sebanyak 10.000 kali lipat.
Salah atau tidaknya ilmu dan pemahamannya itu, pembuktiannya bisa selagi di dunia ataupun nanti saat dirinya mengalami "kiamat" dalam diri, karena sesatnya ini sangat berhubungan dengan "dajjal" dalam dirinya. Dan yang pasti di akhirat pun menunggu pertanggung-jawabannya karena telah menyesatkan banyak manusia. Contoh sederhana adalah para teroris jihadis yang salah memahami makna jihad, ghirah, dsb.
"Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun --bahwa mereka disesatkan--." (QS. an-Nahl: 25)
Dalam Tafsir Ibn Katsir, Imam Mujahid ra. menjelaskan bahwa mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikutinya. Dan mereka sama sekali tidak diberi keringanan adzab karena dosa orang yang mengikutinya.
Itulah, SANAD menjadi sesuatu yang wajib bagi para penimba ilmu, salah satunya adalah untuk mencegah munculnya kesalahan pemahaman. Sedemikian pentingnya Sanad, sampai dikatakan :
“Barangsiapa menguraikan al-Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa Benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan.” (HR. Ahmad)
“Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan.” (Imam Abu Yazid al-Bustami ra.)
Dan banyak lagi dosa jariah lain, serta ini umumnya terkait muamalah (hablum minan naas).
.
ﻃﻮﺑﻰ ﻟﻤﻦ ﺇﺫا ﻣﺎﺕ ﻣﺎﺗﺖ ﻣﻌﻪ ﺫﻧﻮﺑﻪ ﻭاﻟﻮﻳﻞ اﻟﻄﻮﻳﻞ ﻟﻤﻦ ﻳﻤﻮﺕ ﻭﺗﺒﻘﻰ ﺫﻧﻮﺑﻪ ﻣﺎﺋﺔ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﺎﺋﺘﻲ ﺳﻨﺔ ﺃﻭ ﺃﻛﺜﺮ
"Beruntunglah orang yg ketika mati, dosanya ikut mati. Kecelakaan tak berujung bagi orang mati yang dosanya masih hidup jalan-jalan ratusan tahun di atas bumi." (Imam Al-Ghazali ra.)
Wajibnya kehati-hatian terhadap dosa jariah ini, sampai Imam Ghazali ra.mengatakan seperti ini :
لا تذنب فان كان لا بد فلا ترغب غيرك
"Jangan berbuat dosa, tapi jika terpaksa, jangan sampai menggugah orang lain untuk menirunya."
Apalagi kalo sampai dipideon.. ntar netizen aki-aki ramai minta "bagi linknya donk.." .. 😂
Semoga..
#ombad 29 #ramadhan 1440 H.
01 June 2019
OPTIMISME DAN KHUSNUDZON
Ada kisah dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali ra.
Dikisahkan..
Ada dua orang yang sudah lama tinggal di neraka dan mereka selalu berdzikir "Yaa Hannan Yaa Mannan". Mungkin karena kesakitan di neraka, namanya juga lagi disiksa.. pedih.. Karena terus berdzikir, akhirnya Allah menyuruh Malaikat memanggil dua orang tersebut.
Singkat cerita, dua orang ini dibawa ke hadapan Allah dengan keadaan masih dikerangkeng.
“Bagaimana neraka menurutmu..?” tanya Allah.
“Ya Allah. Sungguh neraka adalah tempat yang sangat buruk. Tidak ada tempat yang lebih buruk dari neraka,” jawab orang pertama.
“Yo wes.. sana balik maning ke neraka..!” perintah Allah pada orang tersebut.
Orang ini kemudian berlari menuju neraka, bahkan sangat semangat..!
Melihat sikap aneh orang ini, Allah pun memanggilnya lagi, “Kok kamu semangat sekali kembali ke neraka..?”
“Saya sudah kapok, Gusti.. sangat menyesal.. dulu saat di dunia saya lamban dalam melaksanakan perintah-Mu. Itu makanya saya masuk neraka dan saya gak mau terulang untuk yang kedua kalinya. Nah, mumpung sekarang ada perintah dari-Mu, saya gak mau melewatkan kesempatan melaksanakan perintah-Mu ini. Jadi saya harus semangat.” jawab orang ini.
Setelah mendengar jawaban tersebut --demi melaksanakan perintah Allah menuju ke neraka meski sangat menyakitkan-- maka Allah pun memberikan rahmat kepadanya.
“Kalau begitu, sana masuk surga.” kata Allah, dan akhirnya orang tersebut masuk surga.
Allah kemudian menanyai orang yang kedua, “Bagaimana neraka menurutmu..?”
“Sungguh buruk sekali, Gusti.” jawab orang kedua.
“Yo wes, sana balik maning ke neraka..!” Perintah Allah.
Tetapi orang kedua ini gak kayak orang pertama, orang ini sangat lamban, lemot dan gak semangat ketika disuruh ke neraka.
“Kenapa kamu lemot sekali..?” tanya Allah.
“Duh Gusti, kulo gak pernah nyangka kalau bakal disuruh balik maning ke neraka, padahal kulo tadi sudah khusnudzon sama Panjenengan, waktu Panjenengan panggil kulo ke sini tapikir mau dimasukin ke surga, ehh ternyata kulo salah perkiraan, masuk neraka maning..” jawab orang kedua.
“Ternyata kamu khusnuzan pada-Ku meski Aku masukkan kamu ke neraka. Kalau begitu, sana kamu masuk surga.” jawab Allah, dan akhirnya orang kedua pun masuk surga.
😂
**
Hikmah of The Kisah :
- Selalu optimis dan semangat.
- Berpikir Positif bahwa rahmat Allah itu besar.
- Jangan mudah menghakimi orang.
- Jangan mendoakan orang masuk neraka.
Semoga...
#ombad #tasawuf
30 April 2019
ULAMA VS SELEBRITIS
Jadi "ulama" di Indonesia itu kok kayak mudah sekali, berbeda dengan Ulama dulu dimana para ulama dulu itu terkenal karena karya-karya kitabnya.
Sekarang, seseorang bisa dianggap ulama jika bisa ceramah di panggung-panggung meski sambil mencaci-maki. Sedangkan jaman dulu, para ulama lebih fokus ke karya (tulisan, kitab), dimana banyak dari mereka yg menghasilkan kitab-kitab agama, baik dalam bidang fiqh, ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf, dsb.
Sejarah mencatat bahwa dari satu orang ulama saja bisa menghasilkan beberapa kitab bahkan berpuluh-puluh kitab. Kitab-kitab mereka makin memperkaya khazanah keilmuan dalam Islam, masih ada buktinya dan bisa dipelajari sampai sekarang.
Sebagai contoh, salah satu ulama Indonesia, Prof. Quraish Shihab, dimana karyanya lebih dari 60 kitab, diantaranya :
Tafsir Al-Mishbah (15 Volume); Menyingkap Tabir Ilahi Asma al-Husna dalam Perspektif al-Qur'an; Untaian Permata Buat Anakku; Pengantin al-Qur'an; Membumikan al-Qur'an ; Lentera Hati Kisah dan Hikmah Kehidupan; Wawasan al-Qur'an ; Menabur Pesan Ilahi ; Asmâ' al-Husnâ Dalam Perspektif al-Qur'an (4 buku); Dan berpuluh-puluh kitab lainnya.
Begitupun misalnya dengan seorang Ulama dulu (tahun 1000 M) yaitu Imam Ghazali ra., banyak karya-karyanya yg sangat fundamental, seperti :
1). Ihya’ Ulumuddin ; 2). Arba’in Fi Ushuliddin. ; 3). Bidayatul Hidayah. ; 4). Qawa’idul Aqa’id. ; 5). Al-Iqtishad Fil I’tiqad. ; 6). Al-Falasifah. ; 7). Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An-Nafsi. ; 8). Qanun At-Ta’wil. ; 9). Iljamul Awam An Ilmil Kalam. ; 10). Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin. ; 11). Ar-Risalah Al-Laduniyah. ; 12). Misykatul Anwar. ; 13). Al-Mustashfa Min Ilmil Ushul. ; dll.
Menulis itu merupakan tradisi para ulama sejak jaman dulu karena mereka ingin ilmunya menjadi amal jariyah secara abadi meski mereka sudah di akhirat, dan juga karena wasiat dari Rasulullah SAW berikut :
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ ( رواه الطبراني والحاكم )
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Thabrani dan Hakim)
Apakah "ulama" sekarang ini terlalu sibuk berceramah sehingga ilmunya hanya sampai tenggorokan dan keburu keluar dari mulut..? Ataukah hatinya belum tergerak untuk membuat karya (kitab) selayaknya seorang Ulama..?
Sesuatu yg menggelikan jika sekelompok orang menyebut diri sebagai ulama tapi tidak mencontoh ulama-ulama terdahulu yg banyak mengeluarkan karya berupa kitab-kitab agama untuk memperbanyak pembendaharaan khazanah keilmuan Islam.
Satu hal yg pasti, Hadist di bawah ini menyiratkan bahwa seorang Penceramah (da'i) itu belum tentu seorang Ulama.
Rasulullah SAW bersabda,
"Sungguh, kalian ini berada pada jaman yg Banyak Ulamanya dan sedikit Penceramahnya. Sedangkan jaman setelah kalian adalah jaman yg Banyak Penceramahnya dan Sedikit Ulamanya." (HR. Bukhari, Kitab Adabul Mufrad, dari Abdullah Ibn Mas'ud ra.)
Itulah kenapa saat ini di Indonesia sedang marak :
Selebritis bisa dipanggil Ustad,
sedangkan Kiai bisa dianggap Murtad.
Baru tahu Islam bisa jadi Panutan,
sedangkan Mufassir bisa dianggap Kafir..
😀
Semoga..
#ombad #tasawuf
13 March 2019
AL-AHMAQ (JAHIL MURAKKAB)
Postingan ini hanya membahas istilah "jahil murakkab" saja.. dan siapapun bisa menyandang predikat ini.
AL-AHMAQ atau Ahmaq artinya orang bodoh (dungu), tetapi tidak bodoh biasa, melainkan kebodohan bertingkat (kuadrat, ganda).
Ada kisah Nabi Isa as. yg lari ketakutan dari seseorang. Saat umatnya bertanya, Beliau memberi tahu bahwa dirinya lari ketakutan karena menjauhi orang yg bodoh.
Dari Ali ibn Musa ar-Ridha ra., Nabi Isa as bersabda :
“Sungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku sembuhkan mereka dengan izin Allah; juga aku sembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra dengan izin Allah; juga aku obati orang-orang mati dan aku hidupkan kembali mereka dengan izin Allah; kemudian aku obati orang dungu namun aku tidak mampu menyembuhkannya..!”
Maka Isa pun ditanya, “Wahai ruh Allah, siapa orang dungu itu..?”
Isa menjawab, “Yaitu orang yang kagum kepada pendapatnya sendiri dan dirinya sendiri, yang memandang semua keunggulan ada padanya dan tidak melihat beban (cacat) baginya; yang memastikan semua kebenaran untuk dirinya sendiri. Itulah orang-orang dungu yang tidak ada jalan untuk mengobatinya.”
Berkaitan dengan masalah ilmu dan kebodohan itu, Imam al-Ghazali ra. dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin --menukil perkataannya Khalil bin Ahmad ra.-- membagi empat golongan manusia, yaitu:
1. "Rajulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri".
Orang yang tahu (mengerti) tapi tidak tahu bahwa ia tahu (mengerti). Itulah orang yang Lalai, maka peringatkanlah ia. Kaum sufi mengibaratkan orang semacam ini adalah orang yang tertidur. Maka ia harus dibangunkan dan disadarkan akan kelebihannya yang bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain.
2. "Rajulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri".
Orang yang tidak tahu (mengerti) dan ia tahu bahwa ia tidak tahu (mengerti). Itulah orang yang Sadar Diri, maka ajarkanlah ia. Inilah orang bodoh sederhana (Jahil Basith) yang mudah diobati, yaitu dengan pengajaran dan pendidikan.
3. "Rajulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri".
Orang yang tahu (mengerti) dan tahu bahwa ia tahu (mengerti). Orang ini tergolong kaum bijaksana (al-Arif, al-Alim, al-Hukama’) yang harus diikuti, dimintai pendapat dan wawasannya.
4. "Rajulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri".
Orang yang tidak tahu (mengerti) dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu (mengerti), itulah orang yang Mati (dungu), maka tinggalkanlah ia. Orang macam inilah yang disebut JAHIL MURAKKAB (Bodoh Kuadrat), karena selain bodoh juga tidak tahu akan kebodohannya sendiri. Kita bisa bayangkan betapa sulitnya mengobati kebodohan orang seperti itu. Pangkal penyakitnya adalah Tidak Tahu Diri, mengagumi diri sendiri (‘ujub), merasa diri sendiri selalu benar dan tidak pernah salah.
Dan AL-AHMAQ yg dimaksud dalam sabda Nabi Isa as. seperti yg dituturkan oleh sayyidina 'Ali ibn Musa ar-Ridha ra. di atas adalah orang jenis keempat (terakhir), Jahil Murakkab.
Itu makanya Imam Syafi'i ra. (kutipan dari kitab "Mafahim Yajibu an Tushahhah" karya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki ra.) berkata :
قال الإمام الشافعي: مَا جَادَلْتُ عَالِمًا إِلَّا غَلَبْتُهُ وَلَا جَادَلْتُ جَاهِلًا إِلَّا غَلَبَنِي
Imam Syafi'i berkata,
“Setiap kali berdebat dengan kelompok intelektual, aku selalu menang. Tetapi anehnya, kalau berdebat dengan orang bodoh, aku kalah tanpa daya.”
Semoga..
#ombad #ahmaq #jahilmurakkab
26 September 2018
KEWAJIBAN SEORANG GURU
Hal pertama yg wajib dipunyai oleh seorang guru adalah mempunyai rasa belas-kasihan kepada murid-muridnya dan memperlakukan mereka sebagai anak sendiri.
Rasulullah SAW bersabda,
“Innamaa ana lakum mitslul waalidi liwaladihi.”
"Sesungguhnya aku ini bagimu adalah seumpama Seorang ayah bagi anaknya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa-i, Ibnu Majah & Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)
Maksudnya, melepaskan murid-muridnya dari api neraka akhirat. Dan itu adalah lebih penting dari usaha kedua ibu-bapaknya, melepaskan anaknya dari neraka dunia. Karena itu, hak seorang guru adalah lebih besar dari hak ibu-bapak. Ibu-bapak menjadi sebab lahirnya anak itu dan dapat hidup di dunia yg fana ini. Sedang guru menjadi sebab anak itu memperoleh hidup kekal. Kalau tidak adalah guru, maka apa yg diperoleh si anak itu dari orang tuanya, dapat membawa kepada kebinasaan yg terus-menerus.
"Guru adalah yg memberikan kegunaan hidup akhirat yg abadi. Yakni guru yg mengajar ilmu akhirat ataupun ilmu pengetahuan duniawi, tetapi dengan tujuan akhirat, tidak dunia. Adapun mengajar dengan tujuan dunia, maka itu binasa dan membinasakan. Berlindunglah kita dengan Allah daripadanya..!
Sebagaimana hak dari anak-anak seorang ayah, saling mengasihi dan saling menolong mencapai segala maksud, maka seperti demikianlah kewajiban dari murid-murid seorang guru, saling mengasihi dan saling menyayangi." (Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali)
Kalau bahasa sy mah, Tidak ada eksploitasi !
Seorang Guru tidak mengeksploitasi muridnya buat duniawi, alias mencari uang dari murid-muridnya.
Semoga..
#ombad #tasawuf
04 September 2018
MAHABBAH
Mahabbah adalah bentuk masdar dari kata al-Hubb, dan berasal dari kata Ahabba, Yuhibbu, Mahabbatan, yg secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, bening dan bersih.
Mahabbah merupakan keinginan yang sangat kuat terhadap sesuatu melebihi kepada yg lain atau ada perhatian khusus, sehingga menimbulkan usaha untuk memiliki dan bersatu dengannya, sekalipun dengan pengorbanan.
Dalam konteks tasawuf, Mahabbah adalah suatu ajaran tentang cinta atau kecintaan kepada Allah. Sampai semua kecenderungan hatinya hanya kepada Allah.
Al-Sarraj (w. 377 H) membagi Mahabbah menjadi tiga tingkatan yaitu:
1. Cinta orang AWAM, yaitu selalu mengingat Tuhan dengan dzikir, senantiasa menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan.
2. Cinta orang SHIDDIQ, yaitu orang yg kenal kepada Tuhan, pada kebesaran-Nya tabir yg memisahkan diri seseorang dari Tuhan, dan akhirnya bisa melihat rahasia-rahasia pada Tuhan.
3. Cinta orang ‘ARIF, yaitu mengetahui betul Tuhan, yg dilihat dan yg dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yg dicintai. Akhirnya sifat-sifat yg dicintai masuk ke dalam ciri yg mencintai.
Mahabbah harus bisa diraih karena menjadi salah satu acuan untuk membebaskan diri dari hijab Syirik Khafi (kecenderungan hatinya), bahkan lebih tinggi dan lebih sempurna kualitasnya daripada Khauf dan Raja’ (takut dan pengharapan), karena Mahabbah ini tidak mengharapkan apa-apa dari Allah kecuali ridha-Nya.
Kecenderungan Hati yg dimaksud adalah merindukan "pertemuan" dengan Tuhannya karena rasa Mahabbahnya.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ (صحيح البخاري ج: 5 ص: 2384)
Dalam sebuah Hadist Qudsi, Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman :
“Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku atau wali-Ku maka Aku menyatakan perang terhadapnya.
Tidak seorang hamba pun mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yg paling Aku cintai, melainkan dengan apa yg telah aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku telah mencintainya, maka Aku yg akan menjadi telinganya yg digunakannya untuk mendengar, Aku akan menjadi matanya yg digunakannya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya yg digunakannya untuk memukul, Aku akan menjadi kakinya yg digunakannya untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan mengabulkannya, dan jika meminta perlindungan-Ku maka sungguh Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)
Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah akan senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak akan senang bertemu dengannya.” (HR. Bukhari)
“Barangsiapa yang mencintai sesuatu tanpa ada kaitannya dengan Mahabbah kepada Tuhan adalah suatu Kebodohan dan Kesalahan karena hanya Allah yang berhak dicintai.” (Imam Ghazali ra.)
Perlu dipahami bahwa hasil yg dicapai dari proses beragama (ibadah) itu sangat berhubungan dengan konteks Mahabbah. Coba direnungkan, kenapa surah-surah dalam al-Quran (kecuali Surah at-Taubah) selalu diawali Basmallah (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang).
Dan silakan renungkan juga kenapa ada Hadist ini :
Rasulullah SAW bersabda,
"Orang-orang yang penyayang disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)
"Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia niscaya Allah tidak akan menyayanginya." (HR. Bukhari - Muslim)
Ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi a'tini mahabbataka wa ma'rifataka.
Semoga..
#ombad #tasawuf #mahabbah
21 July 2018
YADRI WA LAA YADRI
Terkait ilmu, Imam al-Ghazali ra. dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin, menukil perkataannya Khalil bin Ahmad ra. yg membagi empat golongan manusia, yaitu:
1. "Rajulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri".
Orang yang tahu (mengerti) tapi tidak tahu bahwa ia tahu (mengerti). Itulah orang yang Lalai, maka peringatkanlah ia.
Kaum sufi mengibaratkan orang semacam ini adalah orang yang tertidur. Maka ia harus dibangunkan dan disadarkan akan kelebihannya yang bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain.
2. "Rajulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri".
Orang yang tidak tahu (mengerti) dan ia tahu bahwa ia tidak tahu (mengerti). Itulah orang yang Sadar Diri, maka ajarkanlah ia.
Inilah orang bodoh sederhana (jahil basith) yang mudah diobati, yaitu dengan pengajaran dan pendidikan.
3. "Rajulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri".
Orang yang tahu (mengerti) dan tahu bahwa ia tahu (mengerti). Itulah orang 'Alim, maka ikutilah ia.
Orang ini tergolong kaum bijaksana (al-Hukama’), yang harus diikuti dan dimintai pendapat dan wawasannya.
4. "Rajulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri".
Orang yang tidak tahu (mengerti) dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu (mengerti), itulah orang yang Mati (dungu), maka tinggalkanlah ia.
Jadi jenis manusia yg paling buruk adalah "Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri", manusia yg Tidak Tahu (tidak berilmu) dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu. Jenis manusia yg selalu merasa paling mengerti, selalu merasa paling tahu, selalu merasa paling memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa.
Orang macam inilah yang disebut “bodoh kuadrat” (Ahmaq), karena selain bodoh juga tidak tahu akan kebodohannya sendiri. Kita bisa bayangkan betapa sulitnya mengobati kebodohan orang seperti itu. Pangkal penyakitnya ialah tidak tahu diri.
Dan repotnya, manusia jenis ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa lebih tahu atau merasa paling tahu.
Jadi menghadapi tipikal manusia seperti ini, ya biarkan saja. Karena orang yg ilmunya sedikit saja seringkali merasa lebih Pandai, makanya gak usah heran jika orang bodoh pun akan merasa jenius.. :D
Dari Ali ibn Musa ar-Ridha, Nabi Isa as bersabda :
“Sungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku sembuhkan mereka dengan izin Allah; juga aku sembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra dengan izin Allah; juga aku obati orang-orang mati dan aku hidupkan kembali mereka dengan izin Allah; kemudian aku obati orang dungu namun aku tidak mampu menyembuhkannya..!”
Maka beliau pun ditanya, “Wahai ruh Allah, siapa orang dungu itu..?”
Beliau menjawab, “Yaitu orang yang kagum kepada pendapatnya sendiri dan dirinya sendiri, yang memandang semua keunggulan ada padanya dan tidak melihat beban (cacat) baginya; yang memastikan semua kebenaran untuk dirinya sendiri. Itulah orang-orang dungu yang tidak ada jalan untuk mengobatinya.”
Jadi anggap wajar aja jika pada suatu ketika menemukan tipikal manusia seperti itu.
Iya, memang suatu kewajaran, karena dalam setiap hal selalu ada pasangannya. Apalagi jika berhubungan dengan masalah ilmu yg lingkupnya tak terbatas, baik dari sisi Dzahir (nampak, jelas) maupun dari sisi Khafi (samar, tersembunyi).
Hal ini pun diterangkan Ibn Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa, bahwa para ulama pun mengklasifikasikan syariat Islam menjadi dua, yaitu: Dzahir (nampak, jelas) dan Khafi (samar, tersembunyi).
Salahkah mereka..? Tidak sich, tidak salah.. :D.. walau bikin enek.
Imam Abu Hanifah ra. pun mengatakan,
"Tidak ada udzur bagi orang yg jahil (bodoh, tidak tahu) dalam hal Ma’rifatullah (mengenal Allah). Karena mengenal Rabb serta mengesakan-Nya adalah kewajiban setiap hamba. Adapun dalam kewajiban² (yg lain), maka orang yg bodoh/jahil atau belum sampai ilmu kepadanya dianggap belum tegak hujjah atasnya."
**
Abu ‘Abd ar-Rahman Al-Khalil ibn Ahmad ibn ‘Amr ibn Tamim Al-Farahidi Al-Azdi lahir di Basrah pada tahun 100 H dan tinggal di sana hingga wafat tahun 170 H, atau tahun 175 H menurut sebagian pendapat. Ayah beliau adalah orang yg pertama kali menggunakan nama Ahmad setelah Rasulullah SAW.
Khalil bin Ahmad, sejak kecil mengikuti kajian-kajian ilmu mulai dari hadits, fiqih, dan juga bahasa. Gurunya yg paling berpengaruh adalah ‘Isa ibn ‘Amr dan Abu ‘Amr ibn al-’Ala’.
Semoga...
#ombad #tasawuf
17 July 2018
LALAT DAN TINTA IMAM GHAZALI
Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul ‘Ibad menulis cerita tentang seseorang yg berjumpa Imam Ghazali dalam sebuah mimpi.
“Bagaimana Allah memperlakukanmu..?” tanya orang tersebut.
Imam al-Ghazali menceritakan bahwa di hadapan Allah ia ditanya tentang bekal apa yg ia serahkan untuk-Nya. Al-Ghazali pun menimpali dengan menyebut satu per satu seluruh prestasi ibadah yg pernah ia jalani di dunia. Dan Allah menolak itu semua, menampik berbagai amalan Imam al-Ghazali kecuali satu kebaikannya ketika bertemu dengan seekor lalat.
Suatu saat ketika ia mengarang dan menulis kitab, datanglah seekor lalat yg terbang mendekat dan hinggap di tinta penanya. Pada awalnya Imam Ghazali bermaksud mengusir lalat tersebut karena beliau ingin segera melanjutkan tulisannya. Namun Ia melihat lalat tersebut sangat kehausan. Beliau lebih memilih menunggu lalat itu minum sepuasnya pada tintanya daripada mengusirnya agar segera bisa melanjutkan tulisannya. Setelah lalat tersebut minum sepuasnya untuk menghilangkan dahaganya, lantas terbang lagi entah kemana.
“Masuklah bersama hamba-Ku ke surga,” kata Allah kepada Imam Ghazali dalam kisah mimpi itu.
Semoga...
#ombad #tasawuf
09 July 2018
MURSYID KAMIL MUKAMMIL
Belajar dzikir itu butuh Mursyid kamil-mukammil, jangan yg abal-abal.. apalagi berbayar.. :D
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
"Wa may yudlil falan tajida lahu Waliyyam Mursyida."
“Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalam hidupnya) seorang Wali Mursyid --pemimpin yg dapat memberi petunjuk kepadanya--.” (QS. al-Kahfi : 17)
Dzikir bukan sekedar ucapan di mulut saja, atau bacaan-bacaan untuk tujuan duniawi, tetapi esensi dzikir itu harus bisa menembus hati sampai bisa mencapai kualitas tauhid "Ahadiyah". Esensi dari "Laa Haula wa laa quwwata illa billaah" dan "Inna lillaahi wa inna ilaihi raji'uun".
Dzikir pun harus bisa membersihkan hijab-hijab hati yg berupa keinginan dan segala sesuatu yg bersumber dari nafsu-nafsu rendah (Amarah, Lawamah dan Mulhimah), sampai akhirnya kualitas qalbunya bisa mencapai Fuad, Lubb, bahkan Sirri, atau dengan kata lain, bisa menembus alam ruh serta membersihkan lapisan-lapisan ruh (Qiswah Unsuriyah/Jismani, Sairani Rawani dan Sulthani) sampai akhirnya bisa ber-Musyahadah.
Ada kisah terkait pentingnya proses purifikasi hijab-hijab hati (penyakit-penyakit hati) yg berupa obrolan antara sang Hujjatul Islam (Imam Al-Ghazali ra.) kepada salah seorang muridnya, sebagai berikut:
Seorang murid bertanya kepada Imam Ghazali yg menjadi gurunya, “Syeikh, bukankah dzikir bisa membuat seorang beriman lebih dekat dengan Allah Ta’ala dan syaitan akan berlari jauh darinya..?”
“Benar.." jawab Imam Ghazali.
“Namun kenapa ada orang yang semakin rajin berdzikir justeru malah semakin dekat dengan syaitan..?” lanjut sang murid.
Imam Ghazali pun bertutur, “Bagaimana pendapatmu, jika ada orang yg mengusir anjing, namun dia masih menyimpan tulang dan berbagai makanan kesukaan anjing di sekitarnya..?”
“Tentu, anjing itu akan kembali datang setelah diusir.” jawab sang murid.
Imam Ghazali melanjutkan,
"Demikian juga dengan orang-orang yg rajin berdzikir tapi masih menyimpan berbagai penyakit hati dalam dirinya. Syaitan akan terus datang dan mendekat bahkan bersahabat dengannya.
Penyakit-penyakit hati itu seperti kesombongan, iri hati, dengki, syirik, bersikap kasar, riya, merasa sholeh, merasa suci, ghibah, marah dan berbagai penyakit hati lainnya. Ketika penyakit-penyakit itu menghinggapi diri seorang hamba, maka syaitan terlaknat akan senantiasa datang, mengakrabkan diri, kemudian menjadi sahabat karibnya."
Kisah di atas mengandung Hikmah bahwa berdzikir itu harus "lurus" kepada Allah dan bukan diarahkan kepada tujuan-tujuan duniawi, sampai bisa "tidak apapun dalam hati kecuali Allah SWT yg jadi tujuan". Puncak Tauhid.
Dan proses dalam menapaki "jalan yg lurus" ini rentan terhadap godaan, bisa berupa nafsu kepentingan, fenomena maupun bisikannya (al-khatir). Itu makanya dalam thariqah dibutuhkan seorang Mursyid yg kamil-mukammil (yg sudah bermusyahadah dengan ruh qudsinya) sebagai "penunjuk" jalan para salik. Sebutlah, agar "bibit dzikir yg disemai dalam hati ini tidak terdistorsi nafsu" karena langsung dari kondisi ruh qudsi.
Ilahi anta maqsuudi wa ridhooka mathluubi a'tini mahabbataka wa ma'rifataka.
Semoga..
#ombad #tasawuf
30 April 2018
SUDAH BODOH, SOMBONG LAGI
Kebodohan pun bisa memunculkan Kesombongan, dan salah satu Kesombongannya adalah menyalahkan sesuatu yg belum diketahuinya. Orang bodoh yg sombong ini mirip orang miskin yg sombong. :D
Menurut Imam Ghazali ra., jenis ini adalah jenis manusia yg paling buruk. Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri, jenis manusia yg Tidak Tahu (tidak berilmu) dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu. Jenis manusia yg selalu merasa paling mengerti, selalu merasa paling tahu, selalu merasa paling memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa.
Dan repotnya, manusia jenis ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa lebih tahu atau merasa paling tahu.
Jadi menghadapi tipikal manusia seperti ini, ya biarkan saja. Karena orang yg ilmunya sedikit saja seringkali merasa lebih Pandai, makanya gak usah heran jika orang bodoh pun akan merasa jenius. :D
Jadi anggap wajar aja jika pada suatu ketika menemukan tipikal manusia seperti itu. Iya, memang suatu kewajaran, karena dalam setiap hal selalu ada pasangannya. Apalagi jika berhubungan dengan masalah ilmu yg lingkupnya tak terbatas, baik dari sisi Dzahir (nampak, jelas) maupun dari sisi Khafi (samar, tersembunyi). Hal ini pun diterangkan Ibn Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa, bahwa para ulama pun mengklasifikasikan syariat Islam menjadi dua, yaitu: Dzahir (nampak/jelas) dan Khafi (samar/tersembunyi).
Salahkah mereka..? Tidak sich, tidak salah.. :D.. walau bikin enek. Imam Abu Hanifah ra. pun mengatakan,
"Tidak ada udzur bagi orang yg jahil (bodoh, tidak tahu) dalam hal Ma’rifatullah (mengenal Allah). Karena mengenal Rabb serta mengesakan-Nya adalah kewajiban setiap hamba. Adapun dalam kewajiban-kewajiban (yg lain), maka orang yg bodoh/jahil atau belum sampai ilmu kepadanya dianggap belum tegak hujjah atasnya."
Semoga...
#ombad #tasawuf
11 March 2018
BERMADZHAB ATAU TIDAK...?
Imam al-Ghazali ra. pernah ditanya soal air. Lalu Beliau menjawab:
"Menurutku pendapat Imam Malik lebih tepat dalam hal ini. Tetapi aku tetap menggunakan pendapat Imam Syafi’i."
Lihatlah, seseorang yg mempunyai derajat ilmu sekelas al-Imam saja masih bermadzhab. Meski Imam Ghazali tahu bahwa pendapat Imam Malik lebih tepat dalam suatu hal, tetap saja beliau berpegang kepada madzhab Syafi'i.
Berbeda dengan orang-orang atau kelompok tertentu yg mungkin masih jauh dibawah derajat ilmu Imam Ghazali, yg berkata, "Oh, dalam hal ini Imam Malik lah yg benar menurut kami, jadi kami berpegang kepada Imam Malik dalam hal ini. Tapi kalau dalam hal yg itu, pendapat Imam Syafi’i itulah yg benar, jadi kami berpegang kepada Imam Syafi'i dalam hal itu."
Parahnya, mereka menggunakan beberapa madzhab dalam satu bab yg sama. Misal dalam bab Thaharah, mereka berwudhu dengan wudhunya Imam Syafi’i dan mereka batal dengan batalnya Imam Maliki. Kalau mereka Thaharah dengan madzhab Maliki dan Shalat dengan madzhab Syafi’i sich masih mending. Tapi yg bagus adalah sikap Imam Ghazali.
Memang tak ada perintah wajib bermadzhab secara sharih, namun bermadzhab wajib hukumnya, karena kaidah syariah ini:
ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
Maa laa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa waajib.
"Perkara yg menjadi penyempurna dari perkara Wajib, hukumnya juga Wajib."
Misalnya kita membeli air, apa hukumnya..? Tentunya Mubah saja, tapi jika akan shalat fardhu, air tidak ada dan harus beli, serta kita punya uang, maka hukumnya membeli air itu berubah, yg tadinya Mubah berubah menjadi Wajib, karena perlu untuk shalat wajib.
Demikian juga dalam syariah, tidak wajib mengikuti madzhab, namun karena kita tak mengetahui samudra syariah seluruh madzhab, dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul SAW, maka kita tidak mengenal hukum ibadah kecuali menelusuri fatwa yg ada dari para Imam Muhaddits terdahulu, maka bermadzhab pun menjadi wajib, karena kita tak bisa beribadah hal-hal yg fardhu (wajib) kecuali dengan mengikuti salah satu madzhab itu. Itu makanya bermadzhab menjadi wajib hukumnya.
Semoga....
#ombad
24 February 2018
SIFAT BAWAAN IBLIS
Dalam kitab Bidayah al-Hidayah, Imam Al-Ghazali ra. mengatakan :
"Janganlah engkau memvonis Syirik, Kafir atau Munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yg mengetahui apa yg tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT. Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : 'Mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu..? Mengapa engkau diam saja tentang dia..?'
Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggung-jawabannya oleh Allah SWT)."
Tukang vonis keimanan orang itu sudah marak sejak dulu (abad 11 M), bahkan sebelumnya juga. Jadi kalau yg seperti itu ada sekarang artinya ada suatu tahapan kesadaran dalam dirinya yg "salah belok", seperti halnya Iblis yg awalnya merupakan sesosok hamba Allah yg Taat, tapi berujung sesat. Itu makanya seorang ulama sekaliber Imam al-Ghazali pun mewanti-wanti agar menjauhi sifat seperti itu.
Dan tipikal seperti itu akan selalu ada sebagai ujian bagi hamba-hamba Allah yg dituduhnya agar selalu ber-introspeksi untuk meningkatkan kualitasnya. Menjadi "pengingat" bagi dirinya dan juga agar tidak mencontoh sifat "menghakimi" keimanan orang seperti itu.
Tukang vonis yg merasa paling beriman sedunia akhirat ini selalu meyakini bahwa hanya mereka saja yg mendapatkan petunjuk (hidayah) dari Allah SWT, sehingga jika ada yg berbeda pendapat dan beda pemahaman dengan mereka, maka mereka akan menganggap sedang melawan Allah dan Rasul-Nya. Tanpa disadari mereka sedang mengikuti sifat-sifat kaum Khawarij.
Terkait sifat bawaan Iblis ini, ada ucapan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs. yg bisa dijadikan acuan, yaitu :
"Puncak dari mempertuhankan hawa nafsu adalah mempertuhankan diri sendiri.."
Dimana makhluk jenis manusia yg bisa dijadikan contoh adalah Firaun, yg merasa paling benar, bahkan sampai mengaku dirinya Tuhan.
Mudah-mudahan kita dijauhkan dari sifat bawaan Iblis seperti itu...
Semoga....
#ombad #tasawuf
23 February 2018
PANCARAN TERGANTUNG SUMBER
Semua berawal dari kondisi hati/qalbunya. Hatinya baik, maka baiklah jadinya nilai suatu tindakan. Hatinya bersih, maka bersihlah juga nilai suatu amal, ikhlas tanpa riya' ataupun sum'ah. Hatinya tenang, langkah/tindakannya pun akan tenang, begitupun jika sebaliknya, buruk, kotor ataupun rusuh.
Hawa nafsu yg jadi pengotor hati, dalam tasawuf sering disimbolkan dengan binatang, baik yg buas maupun yg (sudah) tidak buas. Harimau, buaya, babi, anjing, dsb.
Misal, syaitan digambarkan seperti seekor anjing lapar, dan hawa nafsu digambarkan seperti makanan. Jika anjing lapar itu mendekati seseorang, maka akan lebih mudah mengusirnya jika ia tidak memegang makanan. Tetapi jika pada tangannya terdapat daging, roti dan makanan lainnya, maka akan lebih sulit untuk mengusir si anjing. Butuh upaya ekstra dalam mengusirnya, apakah pakai tangan, kaki, kayu ataupun tongkat. Demikian pula dengan Hati yg dikuasai hawa nafsu serta jauh dari Dzikrullah. Sudah barang tentu ia akan dimangsa para syaitan yg kelaparan, dan untuk mengusirnya pun diperlukan tenaga ekstra, berbeda dengan hati yg sudah sedikit dari nafsu ataupun "bersih".
Artinya, karena sumber yg baik itu akan menarik sesuatu yg baik, maka sebaiknya diperbaiki dulu kondisi sumbernya, dibersihkan dulu Hatinya. Ketika Hati/qalbu sudah bersih, maka pandangan Hati/qalbunya pun akan bersih dan jernih, sehingga akan semakin mudah, jernih dan jelas dalam memandang sesuatu, apakah sesuatu itu buruk, baik, baik berselimut buruk, ataupun buruk dibungkus baik. Akan lebih mudah dalam memilah.
Begitupun, ketika ada orang lain yg memberikan sesuatu yg baik (semisal, ilmu), jika di dalam Hati kita masih buruk, maka ilmu yg seharusnya membawa baik ini akan terlihat seperti buruk dan bahkan dianggap sesuatu yg buruk. "Hewan-hewan" di dalam diri kita pun bisa menyerang si pemberi. Akan serba bias dan gak jelas.
Nah, jadi jangan sampai ada kejadian seperti memberikan barang yg bersih/suci kepada anjing atau melemparkan mutiara ke hadapan babi, sehingga barang berharga itu tidak diinjak-injak kakinya, lalu binatang itu berbalik menyerang... eh, kok itu sich.. ahh, ini aja dech dari Imam al-Ghazali ra. :
"Saya mendapati orang memiliki ilmu Syariat dan Fiqih yg luas serta mendalam, tetapi Qalbu/hati mereka kosong dari Kelembutan Agama dan Kecintaan kepada sesama; sebagaimana sy juga mendapati orang memiliki Kelembutan agama dan Kecintaan kepada sesama namun ilmu Syariat mereka sangat sedikit. Kedua golongan ini telah berbuat kesalahan.
Seseorang yg berilmu tetapi tidak memiliki Hati layaknya penyair yg tidak memiliki kesadaran; dia berbahaya bagi Islam dan tidak akan bisa mengambil manfaat dari agama."
Semoga....
#ombad #tasawuf