Showing posts with label Ego. Show all posts
Showing posts with label Ego. Show all posts

20 July 2020

SANGKAR DAN TALI

Awalnya, kesadaran itu terkungkung dalam sangkar Ego, bahkan tubuh yang ikut berada dalam sangkarpun masih diikat tali-tali Rasa Memiliki. Ini bisa disebut semua masih dikuasai Ego, dan dalam bahasa agama, penuh dengan hijab-hijab hawa nafsu. 

Dan Ego ini bisa jadi penyebab dimana pikiran kita berbeda dalam memakai sudut pandang, ada yang berpikir hanya satu arah saja, tetapi ada juga yang berpikir bahwa arah itu bukan hanya dari timur saja, karena masih ada arah lain; selatan, barat serta utara, bahkan juga.. atas dan bawah. 

Tentu bisa berbeda saat ada yang melihat air setengah gelas, ada yang memikirkan bahwa gelas itu setengah kosong, tetapi ada juga yang berpikir bahwa gelas itu setengah penuh. 

Ada saatnya dimana si Sangkar ini harus bisa dijebol atau dibongkar, dan jika sekaligus, bisa terasa menyakitkan. Ada yang dicicil selama masih hidup, ada juga yang sekaligus saat sekarat, plus sakit-sakit sebelumnya. 

Dan saat si tali pun harus bisa dilepas, bisa dicicil atau juga dipaksa sekaligus nanti, dan saat bisa dilepas akan terasa sunyi, tapi ada juga yang merasa kesepian. 

"Orang yang pikirannya kacau, penuh dengan nafsu, dan hanya melihat pada hal-hal yang menyenangkan saja, maka nafsu keinginannya akan terus bertambah. Sesungguhnya orang seperti itu hanya akan memperkuat ikatan belenggunya sendiri.." (Buddha Gautama) 

Semoga..
#ombad

14 August 2018

MEMPERKECIL EGO

Salah satu cara memperkecil Ego adalah selalu berusaha agar bisa Positive Thinking.

Kenapa harus bisa ber-Positive Thinking..?

Segala kejadian yg kita "tangkap", baik dari dalam maupun dari luar diri akan selalu 'disertai' dan dianalisa dengan menyertakan "pembanding" yg sudah "tersimpan" dalam memori atau pikiran kita. Pembanding ini bisa benar dan bisa jg salah. Masih relatif, belum tentu sebuah Kebenaran.

Ketika kita kurang menyadari kondisi seperti di atas, maka kondisi tersebut bisa menyebabkan munculnya perasaan Merasa Benar, merasa paling Baik, Kesadarannya paling tinggi dan  paling beriman.. Sebuah Kesombongan.

Tanpa kita sadari, Nafsu pun ikut "bermain" dan mendistorsi hati dan pikiran. Makin memperbesar Ego.

Dengan selalu menjaga Positive Thinking, maka diri kita akan selalu "terkondisikan" dan "terarahkan" (baca: Sadar) untuk melakukan Instropeksi secara terus-menerus dan mengurangi sifat "menghakimi" baik secara perbuatan, pikiran maupun rasa.

Ada cara untuk "menjinakkan" Ego yg karakter dasarnya selalu ingin membesar. Mudah-mudahan ucapan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs. yang tercantum dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syeikh Nawawi al-Bantani ra. ini bisa dijadikan pelajaran untuk mengenali, meminimalisasi dan mengontrol ego : 

"Jika engkau bertemu dengan seseorang maka engkau harus berpikir positif dengan menduga dia memiliki keutamaan yang lebih tinggi darimu, barangkali dia lebih baik dariku di sisi Allah.

Jika engkau bertemu dengan anak kecil, maka engkau harus menduga bahwa anak itu belum pernah melakukan maksiat, sementara engkau sungguh telah melakukan maksiat. Jadi, dia pasti lebik baik dariku.

Jika bertemu dengan seseorang yang lebih tua darimu, maka engkau harus menduga bahwa dia lebih dulu melakukan ibadah kepada Allah daripada aku.

Jika engkau bertemu dengan orang yang ‘alim (pintar ilmu agama), maka engkau menduga bahwa dia mengetahui tentang apa-apa yang tak engkau ketahui dan dia beramal dengan ilmunya.

Jika engkau bertemu dengan orang yang bodoh, maka engkau harus menduga bahwa dia melakukan maksiat dengan/karena kebodohannya sementara engkau melakukan maksiat dengan pengetahuanmu.

Jika engkau bertemu non muslim, maka engkau harus menduga bahwa barangkali dia masuk islam di akhir hidupnya dan mati dengan membawa amal baik. Dan barangkali engkau kafir di akhir hayatmu dan mati dalam keadaan beramal buruk."

Dan salah satu makhluk yg terkenal dengan tingkat egonya yg besar dan maksimum serta gak bisa turun adalah Iblis.

Semoga...
#ombad #tasawuf

10 August 2018

EGO VS ILMU

Jika yg dibutuhkan itu masih sebatas PENGAKUAN DIRI alias EGO, maka segala sesuatu harus sesuai dengan yg diinginkannya, bentuk dari pemenuhan egonya.

Tidak ada jaminan keinginan diri itu selalu sama dengan "keinginan" Tuhan. Artinya, bisa saja keinginan diri adalah suatu ujian biar selaras dengan "keinginan" Tuhan, meski sang diri tidak pernah tahu "keinginan" Tuhannya. Dan termasuk orang-orang sombong jika keinginan diri adalah "keinginan" Tuhan.

Dan jika "You are what you're thinking" nya masih dalam tataran Ego, artinya "perjalanan" nya sebagai seorang Salik pun masih jauh.

Tandanya adalah :

- Jika dorongan di hati lebih fokus "melihat" ILMU (sebagai bentuk dari Haqq/Kebenaran, objektivitas) maka artinya "didekatkan". Jadi segala sesuatu kejadian di dunia ini selalu ditransformasikan menjadi ilmu dan alat "introspeksi". Alam pun semakin jelas sebagai "ayat-ayat kauniyah".

- Jika dorongan di hati lebih fokus pada "pemuasan" EGO (sebagai bentuk dari Hawa Nafsu, subjektivitas) maka artinya masih "masih jauh". Alam sebagai "ayat-ayat kauniyah" akan tertutup, sulit ber-intropeksi, serta hijab-hijab pun makin banyak dan tebal.

Itu makanya Ego seringkali menutup nalar, bisa aja karena nalar atau logikanya kurang kuat (baca: kurang ilmu), sehingga "tidak mau" membuka diri (open mind open heart), atau dengan kata lain memilih untuk tetap bodoh dan "menutup diri".

"Menggeser" dominasi dari Hawa Nafsu ke arah ilmu ini bukan suatu upaya yg mudah, makanya kualitasnya pun disebut sebagai "jihad yg paling utama".

Rasulullah SAW bersabda :


أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ
 
"Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad/berjuang melawan dirinya dan hawa nafsunya." (HR. Abu Nu’aim, Ad-Dailami, Ibn An-Najjar, dari Abu Dzarr ra.)

Jadi jika "Kyai yg asli karena gak sejalan lagi maka gak akan dianggap Kyai, begitu juga sekalipun orang yg baru belajar ngaji jika sejalan maka akan dianggap Kyai", maka ilmu pun akan menjauh dari hatinya, dan hawa nafsu pun akan makin mengikat jiwanya.

Dan jalan terbaiknya adalah selalu mengingat Sumber Ilmu, yaitu Allah Yang Mahatahu. 

 

Cara Memperkecil Ego

Salah satu cara memperkecil Ego adalah selalu berusaha agar bisa Positive Thinking.

Kenapa harus bisa ber-positive thinking ?

Segala kejadian yg kita "tangkap", baik dari dalam maupun dari luar diri akan selalu 'disertai' dan dianalisa dengan menyertakan 'pembanding' yg sudah "tersimpan" dalam memory atau pikiran kita. Pembanding ini bisa benar dan bisa jg salah. Masih relatif, belum tentu sebuah Kebenaran. 

Ketika kita kurang menyadari kondisi seperti tersebut di atas, maka kondisi seperti itu bisa menyebabkan munculnya perasaan Merasa Benar, merasa paling Baik, Kesadarannya paling tinggi dan  paling beriman.. Sebuah Kesombongan.

Tanpa kita sadari, Nafsu pun ikut 'bermain' dan mendistorsi hati dan pikiran. Makin memperbesar Ego. 

Dengan selalu menjaga Positive Thinking, maka diri kita akan selalu 'terkondisikan' dan 'terarahkan' (baca: Sadar) untuk melakukan Instropeksi secara terus-menerus dan mengurangi sifat 'menghakimi' baik secara perbuatan, pikiran maupun rasa. 


Semoga..
#ombad #tasawuf