Showing posts with label NU. Show all posts
Showing posts with label NU. Show all posts

07 December 2019

SIAPA YANG MENGHINA NABI..?

Sungguh aneh jika orang NU yang biasa jadi tukang shalawatan, istighosah, tahlilan, sarkub, dsb dituduh menghina Kanjeng Nabi. 

Masa gak paham, kami ini di NU menyebut Nabi aja pakai "Kanjeng Nabi" atau "Kanjeng Rasul", sebagai bentuk adab dan pemuliaan. Bahkan ketika bershalawat pun ditambah "sayyidina" karena merasa sangat tidak layak dan rendah jika harus menyebut nama Beliau secara langsung. 
 
Bagi kami, para penghina Nabi yang sesungguhnya adalah orang-orang yang gemar mengaku-aku keturunan Kanjeng Nabi, tetapi kelakuannya sangat bertolak belakang dengan Beliau, bahkan minus. 

Bukankah akhlaq Kanjeng Nabi itu, jika berceramah isinya itu tidak memaki, tidak melaknat, tidak ngawur, tidak hoax, tidak fitnah, bahkan tidak kasar dengan mengekploitasi nama-nama binatang..? 

Masa saat naik panggung, ayat Al-Qur'an atau Hadist dicampur dengan binatang-binatang yang memiliki kenajisan, mulai dari binatang yang berkadar najis Mutawasithoh, Mukhofafah, sampai yang Mugholadhoh.. 😂 
 
Dan yang mengherankan, mereka itu dari dulu tidak suka kepada NU. Apakah ini ada kaitannya sejarah masa lalu..? Apakah berhubungan dengan kasus DI/TII, atau PKI, atau urusan Masyumi..? 

Bahkan para Kyai NU yang berceramah dengan lembut, sambil guyon dan tersenyum pun tidak luput dari kebencian mereka. Mereka selalu menyerang Kyai NU, sambil menegangkan leher, mata melotot, teriak-teriak, wajah memerah, dan menarik urat lehernya, sehingga suara mikrofon pun makin menggelegar, bikin berisik, bikin gendang telinga mau jebol. Jadi mirip di terminal, berteriak-teriak kayak kondektur atau calo penumpang.. bahkan mereka memfitnah Kyai-kyai NU, sampai tuduhan munafik, murtad, bahkan kafir. 
 
Aneh.. padahal Kanjeng Nabi itu orangnya lembut, budi bahasanya halus, penuh adab, tidak pernah meluapkan kemarahan yang berapi-api.. Iya, kan aneh.. masa umatnya kayak yang lagi kesetanan..?! 

Jadi siapa penghina Kanjeng Nabi yang sesungguhnya..?

Semoga...
#ombad #NU

20 October 2019

NU VS POLITIK GINCU

Pemilu pertama jaman Orba dilaksanakan pada tahun 1971, meski Soeharto sudah menduduki kursi kekuasaan sejak 1967. Pemilu 1971 bukan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, tetapi hanya anggota DPR, DPRD (Provinsi & Kabupaten). Pemilihan Presiden beserta wakilnya menjadi tanggung jawab Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). 

Pemilu 1971 masih diikuti cukup banyak kontestan, yakni 9 partai politik dan 1 "organisasi masyarakat" yaitu GOLKAR. Hebatnya, Golkar sebagai pendatang baru, langsung menang mutlak, mengalahkan pilihan mayoritas waktu itu, yaitu PNI dan NU.. 😂 
 
Para peserta Pemilu 1971 antara lain: Partai Katolik, Partai Nahdlatul Ulama (PNU), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Kristen Indonesia, Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Islam PERTI, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia, Partai Muslimin Indonesia, dan Golongan Karya (Golkar) dari ormas. 
  
Saat Orde Baru berkuasa, pada tahun 1973, puluhan partai politik "disederhanakan" menjadi dua partai politik yaitu PPP dan PDI, serta satu "bukan partai politik" yaitu GOLKAR (Golongan Karya). 
 
Dan ngenesnya, ormas NU yang waktu itu masih "berpolitik" dan berafiliasi ke PPP, para aktivisnya banyak menderita khususnya saat musim Pemilu (1977, 1982 dan 1987). Guru atau Kyai saya yang punya pesantren di kampung pun menjadi salah satu korbannya, wafat saat khutbah Jumat akibat sakit jantung, setelah lingkungan pesantrennya selama berapa minggu "dijaga" para personel ABRI. 

Bapak saya dan teman-temannya pun kena imbasnya, karena beliau juga aktivis NU, harus sembunyi, banyak fitnah, ancaman dan teror via surat kaleng, bahkan sampai mau diculik malam-malam.. padahal Bapak saya itu PNS (guru) lho.. 😊 

Kondisi seperti inipun dialami para aktivis PNI yang katanya harus berafiliasi ke PDI, mereka banyak mengalami diskriminasi termasuk urusan administrasi dan karirnya.  
 
Perlu diketahui, dalam PPP ini tergabung Nahdlatul Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI), Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) dan Persatuan Tarbiyah Indonesia (PERTI). Sedangkan dalam PDI tergabung Partai Katolik, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Murba dan Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). 
 
Untungnya, waktu jaman ketua PBNU-nya Gusdur, pada Muktamar ke-27 NU di Situbondo tahun 1984, menyepakati hasil terpenting yaitu kembalinya NU ke Khittah 1926 dan penerimaan terhadap Pancasila sebagai asas tunggal.

Ormas NU pun netral kembali (Khittah 1926) serta membebaskan para anggotanya dalam urusan perpolitikan. Dan dengan pertimbangan "keselamatan", Bapak saya pun "masuk" Golkar.. dan akhirnya jadi Tutor P4 Nasional.. 😂 
 
Ehh.. pas Gusdur bikin PKB pada bulan Juli 1998.. malah ikut nyebarin PKB.. NU hard core juga.. untung sudah pensiun.. 😂 
 
Nah.. pengalaman seperti itu yang menyebabkan saya kurang suka politik dan berpolitik, meski dulu sama ortu disuruh jadi aktivis dan masuk partai paporitnya.. 😂

Semoga..
#ombad #sejarah #NU

30 July 2019

IDEOLOGI POLITIK ISLAM

Oleh: Hadratussyekh Hasyim Asy’ari


Untuk memahami ideologi politik Islam, kita harus memeriksai riwayat berkembangnya Islam 1378 tahun yang lalu. Sebelum Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu dari Allah SWT, beliau suka bersunyi diri, berkhalwat ke gua atau gunung.

Di tempat yang sunyi itu, beliau berharap mendapat jalan kebenaran. Sebagai orang besar, yang mempunyai rasa tanggung jawab atas kebaikan atau keburukan umatnya. Beliau memandang masyarakat Quraisy adalah masyarakat yang buruk dan jahat.

Dipandang dari jurusan agama keburukannya jahiliyah itu tidak perlu diterangkan satu persatu.

Dan dari jurusan kemasyarakatan (sosial), masyarakat jahiliyah Quraisy itu jauh daripada baik. Masyarakat hanya teruntuk bagi orang-orang besar dan orang-orang kaya. Orang-orang lemah, terutama para budak sama sekali tidak mempunyai daya apa-apa. Mereka boleh diperlakukan oleh golongan yang kuat dengan sesuka-suka hatinya. Mereka tidak dianggap sebagai manusia, tetapi sebagai hewan sahaja. Perampasan hak orang lemah, dapat dilakukan oleh orang kuat dengan sesuka-sukanya, hingga penumpahan darah, pembunuhan di jalanan terhadap siapa saja yang dikehendaki. Hakim tidak ada lagi, kecuali pedang dan tombak.

Dipandang dari jurusan ekonomi, masyarakat jahiliyah orang Quraisy hanya memberi lapangan berekonomi kepada orang-orang terkemuka dan kaum berbangsa (ningrat) sahaja. Rakyat umum, terutama hamba sahaya hidupnya terlantar.

Di dalam hal politik, pemuka-pemuka orang Quraisy menduduki jabatan-jabatan, mulai yang penting hingga yang tidak penting. Jabatan-jabatan itu, telah ditetapkan bagi golongan-golongan yang khusus turun menurun. Sedang rakyat umum tidak mempunyai hak politik apa-apa, dan tidak dapat memangku jabatan-jabatan pemerintah. Di dalam masyarakat yang pincang demikianlah, junjungan kita Nabi Muhammad SAW menyiarkan keislaman.

Nabi kita menyiarkan keislaman di kalangan masyarakat Quraisy. Islam tidak cuma berarti usaha melepaskan orang dari syirik (bertuhan banyak), dan memasukkannya ke dalam tauhid (bertuhan Allah Yang Satu), akan tetapi Islam berarti juga perbaikan masyarakat jahiliyah, baik dalam hal sosial, politik dan ekonomi.

Yang mula-mula dijalankan Nabi Muhammad SAW ialah penyiaran tauhid. Dan di samping itu, menanam semangat persaudaraan Islam, dengan tidak membeda-bedakan antara keturunan, pangkat, kekayaan, dan kebangsaan. Persaudaraan Islam yang demikian ini, tampaknya sepintas lalu adalah soal kecil yang tidak berarti. Tetapi sebenarnya adalah dasar kerakyatan yang besar artinya, yang ditanam Islam sejak mulai Islam berkembang di atas dunia ini. Dengan menanam persaudaraan Islam ini, maka lenyaplah sifat tidak adil yang ada di dalam masyarakat.

Pihak pemimpin Quraisy yang berpegang teguh pada paham keningratan menentang dan menghalang-halangi penyiaran Islam. Mereka khawatir apabila maju dan tersiar, dan persaudaraan Islam merata di mana-mana, mereka tidak akan dapat berkuasa lagi, dan derajat mereka akan turun. Dan oleh karena itu, mereka terus menguatkan kemusyrikannya, sebab dengan kemusyrikan itu mereka dapat memperkuda-kudakan rakyat jelata dan memborong segala pangkat, kekayaan, kenikmatan dan kekuasaan di tangan mereka sendiri. Islam dipandang mereka sebagai bahaya besar yang akan merusak kehormatan, kekuasaan, pangkat dan kekayaan  mereka.

Nabi Muhammad SAW melanjutkan usahanya menyiarkan Islam di Makkah di tengah-tengah masyarakat jahiliyah itu, tiga belas tahun lamanya. Selama itu bukan main hebatnya penderitaan beliau, dihinakan, disakiti, difitnah, diboikot dan pada suatu malam, di mana orang Quraisy sudah bermufakat akan membunuh beliau, berangkatlah beliau berhijrah [pindah] dari tumpah darahnya ke Madinah.

Sebelum Nabi Muhammad SAW sampai ke Madinah, di kota Madinah sudah agak ramai orang memeluk Islam. Sedatang beliau, maka bertambah luaslah tersiarnya agama Islam, dan di samping itu, diaturlah pergaulan hidup mereka menurut ajaran-ajaran Islam. Soal pemerintahan ditetapkan, soal kehakiman, soal kepolisian dijalankan, hingga soal militer pun demikian pula dilakukan oleh beliau, sebab di waktu itu, masyarakat belum teratur dengan sempurna sungguh-sungguh dan orang-orang yang ahli belum cukup banyak.

Jikalau macam-macam hal seperti di atas diputus, ditentukan dan dijalankan oleh beliau, itu tidaklah berarti bahwa beliau memutusi segala hal dengan semau-maunya sendiri dengan tidak mendengarkan pikiran orang lain. Di dalam hal-hal yang penting beliau seringkali bertanya pikiran sahabat-sahabat yang ahli dan berfikiran dalam dan berpemandangan luas.

Sepuluh tahun lamanya beliau menyusun masyarakat Islamiyah, hingga menjadi masyarakat yang sempurna, baik di dalam hal politik, sosial dan ekonomi. Terutama dalam hal agama, sekaliannya itu diusahakan dengan kebijaksanaan beliau, tidak dengan polisi rahasia, yang melanggar hak-hak orang dan tidak pula dengan kekuatan militer.

Sepeninggal beliau, pemerintah diteruskan oleh Sayyidina Abu Bakar ra. dua tahun lebih dan kemudian sepeninggal beliau diteruskan oleh Sayyidina Umar bin Khattab ra. sepuluh tahun lebih.

Adapun pokok daripada politik pemerintahan Islam selama dipegang oleh beliau bertiga itu, ialah:

1. Menetapkan hak yang sama bagi sekalian Muslimin;
2. Memecahkan kepentingan rakyat dengan jalan musyawarah;
3. Menetapkan keadilan.

Tentang contoh-contoh daripada penetapan hal yang sama bagi sekalian Muslimin, jika diceritakan satu persatu tentu sangat banyaknya, cukuplah satu contoh, yaitu ketika junjungan kita Nabi Muhammad SAW dengan tidak sengaja mengenai perut seorang sahabat dengan kayu pegangan tombak, hingga tergores kulitnya, beliau lalu menyuruh sahabat yang terkena tadi membalas, sebelum datang pembalasan di hari kiamat. Maka lalu dimaafkan oleh sahabat tadi.

Tentang menetapkan keadilan, dapatlah dilihat dari satu contoh lain, yaitu pada waktu pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab ra. seorang bernama Ibnul ‘Asham sedang melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah kainnya terinjak seorang lelaki. Seketika itu juga Ibnul ‘Asham memukul hidung lelaki itu, hingga luka hebat. Setelah orang tadi mengadu kepada Sayyidina Umar ra. memerintahkan supaya orang tadi membalasnya. Ibnul ‘Asham membantah dan mengatakan bahwa ia adalah seorang berpangkat tinggi, sedang laki-laki tadi orang biasa, apakah boleh dijatuhkan hukuman begitu? Sayyidina Umar ra. menjawab bahwa Islam telah menyamaratakan antara mereka berdua. Ibnul ‘Asham tidak suka menerima hukuman dan melarikan diri ke luar negeri.

Satu contoh lain tentang keadilan. Seorang perempuan dari golongan Mahzum melakukan pencurian. Ia adalah masuk golongan berpangkat, maka beberapa orang lalu mengusahakan memintakan maaf dia pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Beliau lalu marah sangat dan bersabda:

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ ، تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ ، أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَإِنِّي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ ، لَقَطَعْتُ يَدَهَا

"... Sesungguhnya yang menjadikan rusak umat sebelum kamu dahulu ialah apabila seorang berpangkat mencuri, mereka biarkan saja, dan apabila ada seorang rendah mencuri, maka mereka lalu menjalankan hukuman baginya. Demi Allah yang menguasai diriku, kalau Fatimah anak Muhammad [aku] itu mencuri, tentu aku potong tangannya...”

Tentang bentuk pemerintahan Islam, tidak ditentukan. Ketika junjungan besar kita Nabi Muhammad SAW akan pulang ke rahmatullah, beliau tidak meninggalkan pesanan apa-apa tentang cara pemilihan kepala negara. Jikalau sekiranya beliau menetapkan satu cara tentu menjadi aturan yang tetap berlaku selama-lamanya, dengan tidak boleh diubah. Karenanya tidak ditentukan. Lalu Sayyidina Abu Bakar ra. dipilih secara umum menjadi kepala negara. Waktu Sayyidina Abu Bakar ra. akan berpulang, maka ditunjuknya Sayyidina Umar ra. menjadi penggantinya. Dan waktu Sayyidina Umar ra. akan berpulang, menyuruh bentuk komisi enam orang untuk memilih pengganti beliau sebagai kepala negara. Jadi tentang pemilihan kepala negara, dan banyak lagi hal-hal kenegaraan, tidak ditentukan, tidak diikat dengan satu cara yang menyempitkan. Semuanya terserah kepada umat Islam di tiap-tiap tempat.

Dari uraian di atas ternyata, bahwa syariat Islam tidak dapat berjalan dengan sempurna, apabila kepentingan umat Islam berjalan sendiri-sendiri lepas dari ikatan yang tentu-tentu. Tentang ini Sayyidina Umar ra. berkata:

“...Lâ islâma illâ bi jamâ‘atin wa lâ jamâ‘ta illâ bi imâratin...”

"...Islam tidak akan sempurna jalannya, melainkan dengan ikatan persatuan. Dan persatuan tidak berarti, melainkan dengan pemerintahan....”

Sekarang kita umat Islam Indonesia sudah lepas dari penjajahan, maka menjadi kewajiban bagi kita berusaha setindak demi setindak dengan jalan yang teratur, hingga pemerintahan Indonesia menjadi pemerintahan yang menjalankan syariat Islam. Kita umat Islam Indonesia seperti juga di zaman Nabi Muhammad SAW tidak merebut kedudukan dan pangkat, tidak ingin melanggar hak-hak orang. Sebagai ketika junjungan kita ditawari orang Quraisy: kalau beliau ingin menjadi raja, orang Quraisy semua suka menjadikan beliau raja. Kalau beliau ingin menjadi paling kaya, mereka suka mengumpulkan harta bendanya dan menyerahkannya kepada beliau. Kalau beliau ingin putri yang cantik, maka mereka bersedia mencarikannya guna beliau. Beliau lalu menjawab:

“....Wallâhi lau wadla‘û-s-syamsa fî yamînî wal qamara fî yasârî ‘alâ an atruka hâdza-l-amra, mâ taraktuhu au ahlika dûnahu...”

“...Demi Allah, kalau sekiranya mereka menaruh matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengat syarat supaya saya meninggalkan usaha menyampaikan perintah Allah ini, saya tidak akan meninggalkannya, atau saya dibinasakan, bukannya usaha itu...”

Kita umat Indonesia pun tidak ingin merebut kedudukan atau pimpinan, hanya kita ingin supaya orang yang berkedudukan dan memegang pimpinan menjalankan syariat Islam; sebagaimana perintah Allah SWT.

Semoga..
#ombad #NU

18 May 2019

GUSDUR, DIANTARA KONSPIRASI PECAH-BELAH NKRI

Di akhir tahun 1998, beberapa bulan setelah Soeharto lengser, Gusdur yg waktu itu masih menjabat Ketua PBNU sedang berada di Wonosobo untuk mengikuti acara NU, bertempat di Gedung PCNU Wonosobo.

“Pripun Gus situasi politik terbaru..?” tanya seorang Kiai.

Orde Baru tumbang, tapi negeri ini sakit keras.” kata Gusdur.

“Kok bisa Gus..?”

Ya bisa, wong yg menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yg jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga arah reformasi gak genah. Bahkan negeri ini diambang kehancuran, diambang perang saudara. Arah politik Negeri ini sedang menggiring Negeri ini ke pinggir jurang kehancuran dan separatisme. Lihat saja, baru berapa bulan Orde Reformasi berjalan, kita sudah kehilangan Provinsi ke-27 kita, yaitu Timor Timur.”

“Gus, terus siapa yg paling pas jadi Presiden nanti Gus..?”

Ya saya, hehehe…” kata Gusdur datar.

Semua orang kaget dan menyangka Gusdur guyon seperti biasanya yg memang suka guyon.

Yang bisa jadi Presiden di masa seperti ini ya hanya saya kalau Indonesia gak pingin hancur. Dan saya sudah dikabari kalau-kalau saya mau jadi Presiden walau sebentar hehehe..”

“Siapa yg ngabari dan yg nyuruh Gus..?”

Gak usah tahu. Orang NU tugasnya yakin saja bahwa nanti presidennya pasti dari NU..”

Orang yg hadir di ruangan itu bingung antara yakin dan tidak yakin mengingat kondisi fisik Gusdur. Gusdur melanjutkan :

Indonesia dalam masa menuju kehancuran. Separatisme sangat membahayakan. Bukan separatismenya yg membahayakan, tapi yg mem-back up di belakangnya. Negara-negara Barat ingin Indonesia hancur menjadi Indonesia Serikat, maka mereka melatih para pemberontak, membiayai untuk kemudian meminta merdeka seperti Timor Timur yg dimotori Australia.

Tidak ada orang kita yg sadar bahaya ini. Mereka hanya pada ingin menguasai Negeri ini saja tanpa perduli apakah Negeri ini cerai-berai atau tidak. Maka saya harus jadi Presiden, agar bisa memutus mata rantai konspirasi pecah-belah Indonesia. Saya tahu betul mata rantai konspirasi itu. RMS dibantu berapa Negara, Irian Barat siapa yg back up, GAM siapa yg ngojok-ojoki, dan saya dengar beberapa Provinsi sudah siap mengajukan memorandum. Ini sangat berbahaya.

Saya mau jadi Presiden. Tetapi peran saya bukan sebagai pemadam api. Saya akan jadi pencegah kebakaran dan bukan pemadam kebakaran. Kalau saya jadi pemadam setelah api membakar Negeri ini, maka pasti sudah banyak korban. Akan makin sulit. Tapi kalau jadi pencegah kebakaran, hampir pasti gak akan ada orang yg menghargainya. Maka, mungkin kalaupun jadi Presiden saya gak akan lama, karena mereka akan salah memahami langkah saya.”

Para Kiai pada bingung. Gusdur seakan mengerti raut wajah kebingungan para kiai, lalu menjelaskan :

Jelasnya begini, tak kasih gambaran.. Begini, suara langit mengatakan bahwa sebuah rumah akan terbakar. Ada dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yg mati, juga rumahnya sudah jadi jelek. Kita jadi pahlawan penyelamat yg dielu-elukan.

Kedua, preventif. Suara langit sama, rumah itu mau terbakar. Penyebabnya tentu saja api. Ndilalah jam sekian akan ada orang naruh jerigen bensin di sebuah tempat. Ndilalah angin membawa sampah dan ranggas ke tempat itu. Ndilallah pada jam tertentu akan ada orang lewat situ. Ndilalah dia rokoknya habis pas dekat rumah itu. Ndilalah dia tangan kanannya yg lega terus membuang puntung rokok ke arah kanan dimana ada tumpukan sampah kering.

Lalu ceritanya kalau dirangkai jadi begini; ada orang lewat dekat rumah, lalu membuang puntung rokok, puntung rokok kena angin sehingga menyalakan sampah kering, api di sampah kering membesar lalu menyambar jerigen bensin yg baru tadi ditaruh di situ dan terbakarlah rumah itu.

Suara langit ini hampir bisa dibilang pasti, tapi semua ada sebab-musabab. Kalau Sebab dicegah maka Musabab tidak akan terjadi. Kalau seseorang melihat rumah terbakar lalu ambil ember dan air lalu disiram sehingga tidak meluas maka dia akan jadi pahlawan. Tapi kalau seorang yg waskito, yg tahu akan sebab-musabab, dia akan menghadang orang yg mau menaruh jerigen bensin, atau menghadang orang yg merokok agar tidak lewat situ, atau gak buang puntung rokok di situ sehingga sababun kebakaran tidak terjadi.

Tapi nanti yg terjadi adalah, orang yg membawa jerigen akan marah ketika kita cegah dia naruh jerigen bensin di situ: 'Apa urusan kamu, ini rumahku, bebas dong aku naruh di mana..?' Pasti itu yg akan dikatakan orang itu.

Lalu misal ia memilih menghadang orang yg mau buang puntung rokok agar gak usah lewat situ, kita bilang: 'Mas, tolong jangan lewat sini dan jangan merokok, karena nanti Panjenengan akan menjadi penyebab kebakaran rumah itu'.
Apa kata dia: 'Dasar orang gila, apa hubungannya aku merokok dengan rumah terbakar..? Lagian mana rumah terbakar..?! Ada-ada saja orang gila ini. Minggir..! saya mau lewat'.

Nah, ini peran yg harus diambil NU saat ini. Suara langit sudah jelas, negeri ini atau rumah ini akan terbakar dan harus dicegah penyebabnya. Tapi resikonya kita tidak akan populer, tapi rumah itu selamat. Tak ada selain NU yg berpikir ke sana. Mereka lebih memilih: 'Biar saja rumah terbakar asal aku jadi penguasanya, biar rumah besar itu tinggal sedikit asal nanti aku jadi pahlawan maka masyarakat akan memilihku jadi Presiden'.

Poro Kiai ingkang kinormatan.. kita yg akan jadi Presiden, itu kata suara langit. Kita gak usah mikir bagaimana caranya. Percaya saja, titik. Dan tugas kita adalah mencegah orang buang puntung rokok dan mencegah orang yg akan menaruh bensin. Padahal itu banyak sekali dan ada di banyak negara, dan pekerjaan itu secara dzahir sangat tidak popular, seperti ndingini kerso. Tapi harus kita ambil. Waktu yg singkat dalam masa itu nanti, kita gak akan ngurusi dalam Negeri.

Kita harus memutus mata rantai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka di Swiss, kita harus temui Hasan Tiro. Tak cukup Hasan Tiro, Presiden dan pimpinan-pimpinan negara yg simpati padanya harus didekati. Butuh waktu lama. Belum lagi separatis RMS (Republik Maluku Sarani) yg bermarkas di Belanda, harus ada lobi ke negara itu agar tak mendukung RMS, juga negara lain yg punya kepentingan di Maluku.

Juga separatis Irian Barat Papua Merdeka, yg saya tahu binaan Amerika. Saya tahu anggota senat yg jadi penyokong Papua Merdeka, mereka membiayai gerakan separatis itu. Asal tahu saja, yg menyerang warga Amerika dan Australia di sana adalah desain mereka sendiri. Ini yg paling sulit, karena pusatnya di Israel. Maka, selain Amerika saya harus masuk Israel juga. Padahal waktu saya sangat singkat.

Jadi mohon para Kiai dan santri banyak istighosah nanti agar tugas kita ini bisa tercapai. Jangan tangisi apapun yg terjadi nanti, karena kita memilih jadi pencegah yg tidak populer. Yang dalam Negeri akan diantemi sana-sini.”

Sekonyong Gusdur berdiri, lalu menegaskan perkataan terakhirnya:

NKRI bagi NU adalah Harga Mati..!
Saya harus pamit karena saya ditunggu pertemuan dengan para pendeta di Jakarta, untuk membicarakan masa depan negara ini. Wasalamu’alaikum wrb..”

Dan sekitar 3 bulan kemudian Gusdur pun jadi Presiden.

Semoga...
#ombad #gusdur #NU

08 March 2019

DURRAH BINTI ABU LAHAB

Abu Lahab (Abdul al-Uzza bin 'Abdul Mutthalib) adalah pamannya Rasulullah SAW dan ia terkenal karena perangainya yang buruk terhadap kemenakannya. Allah SWT mencantumkan kisah buruk Abu Jahal dan istrinya dalam satu surah khusus yaitu al-Lahab.

Tetapi anak ceweknya, Durrah binti Abu Lahab, memutuskan ikut sepupunya, ikut Islam, dan ia pun ikut hijrah ke Madinah, jadi Muhajirin.

Durrah pun sampai di rumah Rafi bin Mu'alla di Madinah. Setelah orang mengetahui bahwa Durrah itu anaknya Abu Lahab, beberapa wanita dari Bani Zuraiq mengejek, membully dan mencelanya karena kelakuan kedua orang tuanya. Salah satu bully-an yg sangat menusuk hatinya : "Imanmu tidak akan diterima oleh Allah, sebab Bapakmu itu Kafirnya di-nash oleh Qur'an."

Durrah pun sedih, lalu melaporkannya perkataan bully-an itu kepada sepupunya, yaitu Rasulullah SAW.

Rasululah SAW memerintahkan Durrah duduk sejenak.

Lalu setelah Rasulullah SAW mengimami shalat Dzuhur, Beliau pun duduk di atas mimbar dan berkata,

"Wahai orang-orang, mengapa aku diganggu atas keluargaku...? Demi Allah, sungguh Syafaatku akan diperoleh kerabatku, bahkan Shada, Hakam, dan Salhab pun akan memperolehnya pada hari kiamat."

Setelah kejadian itu, para Sahabat memberikan toleransi setiap shalat jamaah, saat Durroh menjadi makmum, maka Imam shalat tidak membaca surat "Tabbat yadaa Abi Lahab..". 

Pertanyaannya..

- Saat para Sahabat tidak mau membaca surat tersebut karena ada Durroh binti Abu Lahab.. apakah bisa dikatakan menghilangkan surat Al-Lahab..?

- Sudah paham kah bahwa ini dilakukan untuk menghormati supaya Durrah binti Abu Lahab tidak tersinggung dan sakit hatinya..?

Memang.. berpikir panjang itu berat.. biar NU saja.. :)

**
Durrah binti Abu Lahab ini banyak meriwayatkan hadist dari Rasulullah SAW. 

Salah satunya, dalam sebuah hadist yg diriwayatkan Imam Ahmad ra, Durrah binti Abu Lahab bercerita,

"Aku sedang berada di rumah Aisyah. Tiba-tiba Rasulullah SAW datang seraya bersabda, ‘Beri aku air wudhu..’
Kemudian, aku dan 'Aisyah segera mengambil kendi, Aisyah kalah cepat dariku. Aku berikan kendi kepada Beliau. Beliau mengarahkan pandangannya kepadaku dengan bersabda, ‘Engkau dariku dan aku dari engkau'..."

Semoga..
#ombad #NU

05 March 2019

TERJEGALNYA LAPAK TAKFIRI

Keputusan Bahtsul Masail NU itu membuat susah karena Lapak Takfiri untuk jualan "kafir" dan "munafik" menjadi sulit laku, padahal mereka sudah berusaha terus-menerus membangun dan menggiring opini dari awal bahwa yg berbeda dengan mereka itu identik "munafik".

Sampai-sampai merembet ke urusan politik, dimana semua Ulama yg dukung Jokowi itu identik dengan "munafik" yg menjual agamanya, ditambah alasan karena banyaknya "kafir" pendukungnya. Opini yg dibangun mereka lewat dalil "Ulama yang mendekati penguasa".

Dan sebaliknya, Ulama yg sejalan dengan "keinginan" mereka dianggap sebagai Ulama yg berada pada Jalan Yang Lurus, Beriman serta Kaffah, meski kualitas dan sanad keilmuannya patut dipertanyakan atau abal-abal. Itu makanya NU banyak difitnah, termasuk para kyai nya juga.

Upaya memahami ilmu yg seharusnya bisa dalam kondisi "bening" serta objektif, dan bukannya dijadikan pemenuhan kepuasan subjektifnya, hanya didasari keinginan, selera serta Crocbrainnya, atau kata lain hanya untuk pemenuhan Hawa Nafsunya.

Jadi agar pemenuhan hawa nafsunya mengecil, coba lakukan kebalikannya seperti ini :

- Jika tidak suka NU, coba sekali-kali gali keilmuan NU yg tidak ingin anda ketahui tersebut.

- Jika tidak suka China, cobalah pelajari budaya china, effort kerja orang china, dsb.

- Jika tidak suka Yahudi, cobalah jalan-jalan ke Israel atau berteman dengan Yahudi.

Dan galilah ilmunya kenapa mereka bisa maju dan berkembang, kecuali anda keukeuh dalam kesalah-pahaman dan tetap pingin eksis demi memuaskan ego.

 
Jika masih keukeuh tidak mau menambah ilmu dan pemahaman, mungkin lama-kelamaan anda akan meniru para alay yg mabok agama, dimana ulama sekelas Mufassir aja bisa dianggap bodoh oleh seorang alay bermodal copas, forward WA ataupun google. Dan karena tidak paham konteks, para alay ini pun terbutakan oleh kulit atau bungkusnya.

Hasilnya mungkin tidak akan mengubah pilihan tapi setidaknya anda akan "meredam" ego diri dan hawa nafsu sendiri, sehingga tidak akan menyeret-nyeret masalah keimanan serta justifikasi takfiri ke dalam urusan politik kekuasaan, karena memahami bahwa hal seperti itu adalah perbuatan Setan yg bisa mengakibatkan peluang permusuhan makin membesar.

Dampak paling kotor dari "mengukur" kualitas Iman berdasarkan persangkaan yg dibandingkan dengan "merasa paling beriman" dalam dirinya ini akhirnya muncul diskon besar-besaran Program Automunafik, bahkan Autokafir kepada yg berbeda pilihan dengan dirinya.

Itulah kenapa, jika ada yg dukung Jokowi akan muncul opini jadi "munafik", karena beda pilihan dengan mereka yg merasa sebagai kaum beriman, ataupun sebaliknya.

Pola seperti ini makin membesar, merembet ke mana-mana dan semakin mem-polarisasi. Coba lihat jejak digital, dulu saja yg dukung Ahok pun mendadak jadi munafik, sampai yg dukung Bashir Assad (presiden Suriah) yg sedang melawan pemberontakan ISIS pun mendadak jadi munafik bahkan kafir.

Dalam politik yg menghalalkan segala cara, pola giring opini seperti ini akan terus-menerus dilakukan. Rumus Propaganda Hypnosis Massal karya Joseph Goebbels (1897-1945) akan terus didengungkan, "Buatlah kebohongan yg sederhana, ucapkan berulang-ulang dan orang-orang akan mempercayainya" atau dengan kata lain "Kebohongan yang diulang terus-menerus bisa diterima sebagai Kebenaran".

Masih banyak tanda-tanda "munafik" dan "kafir" lainnya yg akan dimunculkan panjual Lapak Takfiri seiring makin bertambahnya kreativitas mereka dalam menggoreng hoax, fitnah, isu dan opini.

Mudah-mudahan bisa paham kenapa ada yg bikin strategi giring opini serta apa tujuannya. Dan itulah kenapa Bahtsul Masail NU berpikir panjang serta membuat Keputusan yg manfaatnya beberapa langkah di depan dan berjangka panjang.

Semoga...
#ombad #NU

03 March 2019

PIAGAM MADINAH

Piagam Madinah digadang-gadang sebagai "The First Written Constitution in The World". Piagam ini berisi 47 pasal yg mengatur penataan kehidupan masyarakat kota Madinah yg beragam suku dan agamanya.

Dalam Piagam Madinah, Rasulullah SAW menjamin kebebasan beragama antara Muslim, Yahudi dan keyakinan lainnya. Dan dalam komitmen satu komunitas atau kebangsaan, menjadi sah diperangi bukan karena mereka Non Muslim tetapi karena "al-Harabah" atau "Harbi" yaitu yg melakukan Penyerangan (kepada bangsa yg dikomitmenkan).

Beberapa point dari Piagam Madinah :

- Kaum Mukmin berjuang bersama sebagai Satu Umat, boleh tetap berada dalam kebiasaan mereka yaitu tolong-menolong dalam membayar diat atau tebusan tawanan dengan cara baik dan adil, serta saling bantu-membantu.

- Kaum Mukmin yg bertaqwa harus menentang orang yg zhalim di antara mereka. Kekuatan bersatu dalam menentang yg zhalim, meskipun org yg zhalim adalah anak dari salah seorang di antara mereka.

- Orang Yahudi yg mengikuti kaum Mukmin berhak dapat pertolongan dan santunan, selama tidak zhalim dan khianat.

- Kaum Yahudi memikul biaya bersama Mukminin selama dalam peperangan.

- Kaum Yahudi (Bani ‘Auf, dsb) adalah satu umat dengan Mukminin. Kaum Yahudi berhak atas agama, budak-budak dan jiwa-jiwa mereka.

- Muslimin dan Yahudi harus saling membantu dalam menghadapi orang yg memusuhi Piagam ini, saling memberi nasehat serta membela pihak yg terzhalimi.

- Jika ada peristiwa atau perselisihan di antara pendukung Piagam ini, penyelesaiannya menurut Allah SWT dan Muhammad SAW.

Dan yg harus digarisbawahi, sekarang ini di Indonesia, sebutan "Kafir" itu banyak dipakai untuk melontarkan Kebencian dan ini sangat berbahaya dalam Persatuan dan Kebangsaan.

Itulah kenapa, dalam tinjauan wawasan Kebangsaan, Rasulullah SAW pun tidak mencantumkan kata "Kafir" pada Piagam Madinah kepada warganya yg Non Muslim, karena adanya komitmen Persatuan dan Kebangsaan.


Semoga..
#ombad #NU

26 October 2018

DARI KALIMAT KE NAFI & ISTBAT

Polemik pembakaran bendera terus berlanjut. Memang, untuk membedakan antara "Kalimat Tauhid" dengan "Bendera HTI" itu pasti lebih sulit, karena ada kemiripan. Bukankah yg lebih mudah aja seperti cara membedakan antara Operasi Plastik dan Penganiayaan pun kesulitan..?

Terkait "kalimat tauhid", ada yg rajin berdzikir Jahar (Laa ilaaha illallaah) minimal 165 kali setiap habis shalat wajib biar "Nafi" dan "Istbat" makin meresap ke dalam dirinya. Ada juga yg diam-diam berdzikir Khafi, menyimpan dalam-dalam "kalimat tauhid" di lubuk hati yg paling dalam, bahkan sampai memasuki Sirr, Mahabbah dan Makrifat, sambil terus berupaya memperbaiki Akhlaq.

Tetapi di sisi lain, masih banyak juga yg "su'ul adab" dengan menjadikan "kalimat tauhid" sebagai Asesoris dan Alat untuk Riya', Ego dan Eksistensi Kelompok, bahkan dijadikan alat untuk Politisasi, Kampanye Politik Sesaat, Adu Domba, Playing Victim, bahkan Makar. Seperti yg terjadi di Timur Tengah.

Namanya manusia, niatnya kan bisa macam-macam. Jadi bisa aja terjadi seperti yg diungkapkan Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. :

"Kalimatu haqqin yuraadu bihal baathil." 

"Kalimat yang hak tapi dieksploitasi demi tujuan Batil."

Nah.. terkait logo (kaligrafi) "kalimat tauhid", kalo sy mah lambang "kalimat tauhid" nya seperti foto di bawah karena gambar ini yg pertama kali nempel di memori pada saat umur 2.5 tahunan, ketika sedang"dilatih" rajin ke mesjid oleh Bapak.

Dulu, mesjid lama di kampung, pada dinding depannya terdapat kaligrafi "kalimat tauhid" seperti foto di bawah. Kaligrafi terukir indah di tembok, bukan tempelan, gambar, figura ataupun sablon. Letaknya setinggi dada orang dewasa, di samping pintu masuk, baik di sebelah kanan maupun kiri, sehingga sangat sulit untuk terinjak/diinjak, diduduki pantat, apalagi sampai dibawa-bawa buat pamer, soalnya pasti dimarahi kalo temboknya harus dijebolin dulu.

Mesjid yg teras depannya dikelilingi kolam dimana selain buat wudhu, juga buat latihan berenang waktu masih kecil. Selain itu juga, halaman mesjidnya pun jadi tempat sunatan, karena sebelum disunat, sy ngalami dicelupin dulu ke kolam mesjid, biar adem.. maklum belum ada obat bius.. :D

Itu sebelum mesjid lama dirubuhkan untuk dibangun baru..

Btw.. boleh kan logo "kalimat tauhid" nya seperti ini.. umurnya lebih tua lho dibanding khat pada bendera hitam yg (katanya) font nya didesain tahun 1994 oleh Mohammad Alagha (desainer grafis keturunan Arab yg tinggal di Inggris, Almeida Interactive).


Semoga...
#ombad #nafi #istbat

23 October 2018

BERTOPENG SIMBOL AGAMA

Kasus pembakaran Bendera HTI di Garut bisa membukakan mata kita bahwa ternyata masih banyak juga simpatisan HTI.. dan juga simpatisan ISIS yg bersembunyi dibalik "kalimat tauhid".. mereka akan berusaha meyakinkan bahwa yg dibakar itu Kalimat Tauhid, bukan "simbol" dari organisasi terlarang.

Sejarah banyak mencatat bahwa organisasi-organisasi makar itu banyak yg dibungkus dengan simbol agama (tauhid, kalimat tahlil), apakah itu DI/TII, Al-Qaeda, Boko Haram, ISIS, IS, ataupun HTI. Mereka akan selalu berusaha makar kepada Pemerintahan yg sah.. jadi keinginan sejak dulu nya mirip, yaitu makar (dalam kaitan dengan Pemerintahan)..

Meski tidak ada dalil yg kuat bahwa bendera Rayah dan Liwa' itu sebagai bendera umat Islam, tetapi hampir semua kelompok ekstremis (radikal) menggunakan Rayah dan Liwa’ untuk menipu umat Islam, sedangkan perbuatan mereka tidak sesuai dengan slogan yang mereka usung. Penggunaan rayah dan liwa’ hanya sekadar propaganda untuk menarik simpati umat Islam.

Nah, yg makin menarik itu yg bakarnya salah satu anggota BANSER.. :D .. Makin jelas lah "penampakan" diri mereka, meski alasan yg dikedepankannya itu adalah "kalimat tauhid".. udah tau kok dari dulu pun sebel bahkan anti sama yg berbau-bau NU, apakah itu tarekat, Islam Nusantara, termasuk BANSER..

Mereka akan bersembunyi jika kelompoknya ketahuan sebagai organisasi teroris atau terlarang, tetapi mereka akan menampakan diri begitu ada momen yg bisa digunakan untuk melemahkan "lawan" atau "penghalang" nya (yaitu NU).. dan seperti biasa, mereka akan pakai alasan agama, mengatas-namakan agama, dan seakan-akan mereka jadi "Wakil Allah"..  :D

Padahal kasus pembakaran bendera terlarang seperti itu banyak terjadi di negara ini. Dan kalo bukan BANSER yg ngebakar sih akan adem-adem aja.. :D

Gak kebayang kalo non-Muslim bakar bendera HTI atau ISIS.. bisa-bisa demo berjilid-jilid pun muncul kembali, apalagi jika ia berada dalam kubu Pemerintah.. :D

Jadi, bisa saja banyak yg akan memilih untuk MEMBAKAR bendera seperti itu (yg bersembunyi dibalik Simbol Tauhid).. kenapa..?

- Itu lebih baik daripada dibuang ke comberan atau tempat sampah.

- Kalaupun disimpan ya riskan, ntar disangka simpatisan atau anggota jemaahnya.

Pertanyaannya..
Kalau anda punya kitab Al-Quran yg sudah jelek ataupun rusak, mana yg akan anda pilih :

- Disimpan sampai jadi debu,
- Dibuang ke tempat sampah, atau
- Dibakar...?


Semoga...
#ombad #banser #NU

05 August 2018

NU DILAWAN

Sejak dulu selalu ada kelompok yg membenci dan ingin menggembosi NU, meski akhirnya mereka selalu bubar atau dibubarkan (dilarang) Pemerintah. Dan jika dibubarkan maka mereka akan teriak lantang, "Negara semena-mena, ingat, umat Islamlah yg memperjuangkan negara ini dari masa ke masa..!"

Iya umat Islam pun ikut mendirikan NKRI bersama umat-umat yg lain, tapi bukan kelompok Islam yg ingin mengganti Dasar Negara.. :D

Beberapa fakta sejarah ormas/orpol yg benturan sama NU :

1. NU dengan Masyumi, dan Masyumi yg bubar pada thn 1960.
2. NU dengan DI/TII, dan DI/TII yg bubar pada thn 1962.
3. NU dengan NII, dan NII yg bubar pada thn 1962.
4. NU dengan PKI, dan PKI yg bubar pada thn 1966.
5. ......
Dan yg terakhir, NU dengan HTI, lalu HTI pun bubar pada thn 2018.

Lihatlah, urusan Islam Nusantara yg merupakan program NU pun banyak yg kebakaran jembut, karena pada dasarnya yg mereka benci itu adalah NU. Lihat juga, Ketua PBNU rajin difitnah, begitupun orang-orang NU sering difitnah Syiah, Liberal, Murtad, Munafik, dsb.. mirip jaman dulu sewaktu fitnah-fitnah para Pemberontak DI/TII..

Mereka akan makin merasa di atas angin, merasa jadi harimau ketika fitnahan mereka dibiarkan.. tetapi ketika fitnahannya dilawan, maka dengan sigap tuduhan Liberal, Syiah, Munafik, dsb akan mereka lontarkan..

Dalam ceramah-ceramahnya pun rajin memprovokasi sambil teriak-teriak Jihad.. tapi ketika didatangi untuk konfirmasi malah sujud-sujud minta maaf gak akan mengulanginya, atau pun saat penceramahnya ditolak warga malah mewek-mewek ketakutan, "playing victim" sambil nyebut "dipersekusi".

Memangnya orang-orang NU harus diam lalu meng-iya-kan..?


Semoga...
#ombad #NU

11 July 2018

ISLAM NUSANTARA

Islam Nusantara itu dideklarasikan sudah sejak 2 tahun yg lalu.. bahkan berpuluh-puluh tahun yg lalu juga udah ada, cuma masih berbentuk universitas, yaitu Universitas ISLAM NUSANTARA (UNINUS, 1969).. :D

Munculnya kan udah lama, kenapa baru dicaci dan dijelek-jelekin sekarang..? Masa loading otak segitu lamanya.. lemot baggeedhh..! :D

Makanya otak itu jangan dipakai buat mendukung nafsu amarah atau sifat radikal di jiwa, nanti makin lemot.. kenapa coba..? Karena jika nafsunya dipasang di depan maka akan nutupin hati.. jadi aja petunjuk sulit masuk.. atau mungkin udah dijejali atau disuntik paham kelompoknya ya.. :D

Seperti juga Muhammadiyah yg bikin program ISLAM BERKEMAJUAN, maka NU pun bikin program Islam Nusantara.. ya bagus donk buat kemaslahatan umat.. masa NU gak boleh bikin program lain buat kemaslahatan umat juga..?

Masa bikin program "Islam Nusantara" yg konstruktif dan tidak destruktif malah jadi marah.. kesindir ya..?

Masa bikin program "Islam Nusantara" agar radikalisme beserta bibitnya (yaitu takfiri) bisa dihilangkan dari negara ini malah jadi sebel.. pendukung ya..?

Masa bikin program "Islam Nusantara" agar nilai-nilai Islam sebagai agama yg menyebarkan Salam & Rahmatal lil 'alamin bisa teraktualisasi dalam setiap aspek kehidupan dan bisa dijadikan budaya (kebiasaan) malah jadi benci.. nanti ketahuan ya..?

Nilai-nilai seperti itu mah dari jaman old aja sudah diaktualisasi di lingkungan NU (ilmu, adab, tasawuf), makanya akan dikembangkan buat semua, baik secara nasional maupun internasional.. masa belum paham di luar negeri pun mulai mengadopsi program "Islam Nusantara".

Orang NU yg bikin kok banyak yg sewot ya.. bahkan saking sewotnya sampai bikin sendiri macam-macam definisi tentang Islam Nusantara.. orang lain yg bikin kok gak malu mendefinisikan sendiri.. Udah mah definisinya salah.. ehh tetap merasa bener. Dikasih tau pun masih ngeyel juga sampai jor-joran debat.. emang otak kalo udah somplak itu sulit sembuh. Atau pura-pura gak paham, karena punya agenda sendiri yg terselubung ya..? :D

Benar kata Imam Syafi'i ra. :

قال الإمام الشافعي: مَا جَادَلْتُ عَالِمًا إِلَّا غَلَبْتُهُ وَلَا جَادَلْتُ جَاهِلًا إِلَّا غَلَبَنِي

Imam Syafi'i berkata, "Setiap berdebat dengan orang alim, aku selalu menang. Tetapi berdebat dengan orang bodoh, aku kalah."

Dan memang susah kalau dari awal sudah didasari Kebencian dan tujuannya ingin menjegal, apapun akan dipakai sebagai alat pemuas tujuan.

Jadi jangan hasud (dengki) dengan program Islam Nusantara nya NU sampai hawa nafsunya menggebu-gebu kayak gitu ya.. nanti sakit lho.. :D

"Akal lebih diutamakan daripada hawa nafsu karena akal menjadikanmu sebagai pemilik zaman, sedangkan hawa nafsu memperbudakmu untuk zaman." ('Ali bin Abi Thalib kw.)

Akhirnya, mari kita lihat dan tunggu buktinya, insyaAllah ke depan itu program Islam Nusantara akan membuat orang lain merasa aman dan nyaman di dekatnya (rahmatal lil alamin), serta akan banyak diadopsi di seluruh dunia.

Semoga..
#ombad #NU

10 July 2018

IDHAM CHALID

Dulu, oleh para pemberontak dan simpatisan DI/TII, NU dianggap sebagai pengkhianat Islam karena keluar dari Masjumi juga dianggap musuh utama DI/TII. Mereka menganggap NU membantu Republik Indonesia Kafir (RIK). Beberapa orang pimpinan cabang NU di Jawa Barat dibakar rumahnya oleh DI/TII, bahkan ada yg ditembak mati. Suatu rapat NU pernah diserang mereka.

Idham Chalid pun pernah berkata bahwa tugasnya yg paling berat adalah menghadapi gerombolan yg membawa dalil-dalil agama Islam, seperti Darul Islam Kartosuwiryo di Jawa Barat, Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, dan Tengku Daud Beureueh di Aceh.

Menurut Idham, DI/TII merugikan Islam. Banyak umat Islam yg menjadi korban kekejaman mereka. Mungkin di Aceh tidak terjadi perbuatan seperti di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan di mana gerombolan DI/TII membakar madrasah dan masjid yg tidak sependapat dengan mereka.

Waktu itu (24 Maret 1956 - 09 April 1957), Idham Chalid menjabat Wakil Perdana Menteri merangkap Kepala Badan Keamanan dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II.

Mungkin waktu itu, hanya NU yg menyadari bahwa gangguan keamanan yg berlarut-larut merugikan negara dan rakyat. Iya gangguan keamanan, meski mengatas-namakan perjuangan Islam.

Jadi jika sekarang para radikalis menganggap NU sebagai pengkhianat, sarang liberalis dan sipilis ya wajar aja, wong sejarah seperti itu ada kok.. :D

Jadi kapan nich mau dituduh lagi pengkhianat islam, syiah-syiahan, kopar-kapir serta munafik-munafikan...? Atau malah sudah dan sering...?

:D
Semoga...
#ombad #NU

09 July 2018

NU, DARAH & TAKDIR

Meski sy tidak pernah masuk ataupun daftar organisasi NU, meski Bapak menyuruh-nyuruh masuk NU dan partainya, dan sampai sekarang pun bukan siapa-siapa di NU, tetapi karena dulu berada di keluarga, tempat ngaji dan lingkungan NU.. ya anggaplah "ketularan" NU juga.. NU Batangan.. :D

Coba bayangkan, masa kecil dan remaja dihabiskan di keluarga NU.. lalu di Madrasah NU diajari oleh ustadz-ustadz NU.. terus malamnya ngaji kitab kuning di rumah ustadz-ustadz yg juga NU.. kadang jadi kalong juga di pesantren Kyai NU yg Bapak dan Mertua Kyai nya pun NU.. pokoknya di lingkungan NU aja.. ditambah lagi ikut belajar tarekat yg mu'tabaroh NU, dimana Mursyidnya juga ulama NU.. mau gimana gak makin berkarat coba NU-nya, meski NU Batangan.. :D

Ehh udah gitu, sekitar tahun 2004 pernah mimpi pula ketemu sama pendiri NU (Mbah Hasyim Asy'ari) yg inti "pesannya" pun mirip seperti yg dikatakan oleh Mbah Munif yg juga NU (KH. Munif Zuhri Mranggen), yg katanya :

“Malam Jumat kemarin, saya bertemu Mbah Hasyim Asy’ari. Beliau berpesan agar kita semua menjaga NU. Karena NU inilah tiang agama yang menjaga negara..”

Plus "pesan" lain yg terkait internal NU.

Cuma sayangnya sy kurang berhasil ngajinya, makanya gak jadi Ustadz NU ataupun Kyai NU.. apalagi punya pesantren NU.. yg ada malah jadi Engineer.. :D 

Pertanyaannya..

Ada berapa kata NU di postingan ini..?

Semoga..
#ombad #NU

11 June 2018

TABARRUK

Tabarruk itu dari kata BERKAH (bertambah dan berkembang kebaikannya). Tabaruk (ngalap berkah) adalah mengharap tambahan kebaikan dari Allah dengan perantara ruang, waktu, makhluk hidup dan bahkan benda mati.

Jika anda gak percaya Tabarruk (mencari "perantara" keberkahan lewat seseorang Ulama ataupun Wali) ya gak apa-apa, silahkan aja.. tapi jika sampai mengatakan Tabarruk itu Bid'ah, Sesat atau Musyrik, anda harus hati-hati. Kenapa..? Karena anda sedang mempertunjukkan Kebodohan sendiri.. kan malu atuh.. :D .. Mungkin yg anda anggap salah itu karena anda sebetulnya belum mengetahui dan memahaminya.. :D

Mereka yg menghukumi Tabaruk sebagai hal yg dilarang atau bahkan syirik, benar-benar telah mengada-ngada dalam hukum syariat, karena Tabaruk adalah salah satu nilai yg diajarkan dalam Islam dan bukan hal baru. Generasi Sahabat dan para Salaf telah menjalankannya.

Dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah, kita bisa melihat bagaimana para Sahabat begitu antusias untuk mendapatkan tetesan wudhu Rasulullah SAW. Untuk apa kalau bukan untuk mencari berkah dari air yg menyentuh tubuh beliau. Beliau tak pernah sekali pun melarang perbuatan itu. Ini menunjukkan bahwa Berkah itu sesungguhnya ada, dan bisa diraih melalui orang-orang yg sangat dekat dengan Allah.

Jadi mengharap Keberkahan lewat perantaraan seseorang yg diyakini kualitas spiritualnya lebih tinggi itu sudah dilakukan juga oleh para Sahabat, bahkan oleh keluarganya Rasulullah SAW.

Kalau masih gak percaya, silahkan pelajari sebagian hadist shahih di bawah ini.

Sahabat Anas ra. menceritakan bagaimana para Sahabat bertabarruk dengan rambut Rasulullah:

عن أَنَسٍ قال  لقد رأيت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالْحَلَّاقُ يَحْلِقُهُ وَأَطَافَ بِهِ أَصْحَابُهُ فما يُرِيدُونَ أَنْ تَقَعَ شَعْرَةٌ إلا في يَدِ رَجُلٍ ، رواه مسلم وكذا رواه احمد والبيهقي في السنن الكبرى

"Aku melihat tukang cukur sedang mencukur Rasulullah dan para sahabat mengitarinya. Tidaklah mereka kehendaki satu helai pun dari rambut beliau terjatuh kecuali telah berada di tangan seseorang." (HR. Muslim, Ahmad & Baihaqi)

Bertabarruk dengan air bekas wudhu:

"Aku mendatangi Rasulullah sewaktu beliau ada di kubah Hamra' dari Adam, aku juga melihat Bilal membawa air bekas wudhu Rasulullah dan orang-orang berebut mendapatkannya. Orang yg mendapatkannya air bekas wudhu itu mengusapkannya ke tubuhnya, sedangkan yg tidak mendapatkannya, mengambil dari tangan temannya yg basah." (HR. Bukhari, Muslim & Ahmad)

Dan banyak lagi hadist lain yg meriwayatkan urusan Tabarruk ini, apakah dengan keringat, potongan kuku, ataupun barang-barang bekas pakai Rasulullah (jubah, pakaian, potongan kain, cangkir, dsb).

Dengan landasan hadist-hadist seperti di atas, maka Imam Nawawi ra. pun dalam Syarah Sahih Muslim menganjurkan untuk Tabarruk:

"Hadits ini adalah bukti dianjurkannya mencari barokah lewat bekas dari orang-orang saleh dan pakaian mereka."

Jadi, seandainya kita tidak mampu menuju kepada Allah dengan diri sendiri, maka dekatilah para Ahlullah, dan "menumpang" lah dalam "gerbong" mereka. Gak usah sombong merasa bisa sendiri.. :D

Dan sekali lagi, Belum tentu yg anda anggap salah itu adalah salah, tetapi yg bener itu karena anda memang belum mengetahuinya.. :D

Semoga..
#ombad #ramadhan
#NU

10 April 2018

ULAMA YG SESUAI KEPENTINGANNYA

Kalo melihat fenomena sekarang, makin terbukti nasehat ini :

"Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya Setan..” (Syeikh Abu Yazid Al-Busthami, Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203)

Karena kalo ilmunya tidak jadi Adab dan Akhlak, ya itu dari Setan.. buktinya adalah banyaknya hujatan kepada Ulama yg tidak sejalan dengan kepentingan mereka.. khususnya kepada para ulama NU, dan juga kepada Buya Syafi'i (Muhammadiyah).

Lihat aja buktinya,

Jika ulama NU dekat dengan pendeta, mereka bilang; “Ulama Liberal", tetapi jika "ulama" mereka dekat dengan pendeta, mereka bilang; “Ulama Cinta Damai".

Jika ulama NU dekat dengan Pengusaha, mereka bilang; “Ulama Duniawi", tetapi jika "ulama" mereka dekat dengan Pengusaha, mereka bilang; “Strategi Dakwah".

Jika ulama NU bertemu Penguasa, mereka bilang; “Ulama Suu’ penghamba rezim dzalim", tetapi jika "ulama" mereka bertemu Penguasa, mereka bilang; “Ulama harus berbaik-baik dengan Umaro".

Jadi "ulama" mana yg akan mereka diikuti..? Ya "ulama" yg sesuai kepentingan politik mereka dan bukan karena ilmunya.. kalo gak sesuai dengan kepentingan politiknya pasti akan direndahkan, dihina, dinista, bahkan dikafir-kafirkan.

Jadi yg rendah, hina, nista dan kafir itu siapa..?

Silakan ludahi langit.. :D

Semoga...
#ombad #NU

05 March 2018

DAI ITU HARUS CERDAS BUDAYA

Melihat sesuatu itu sebaiknya terintegrasi, walau kadang sungguh menggoda selera "ketidak-senangan" ketika ada suatu kejadian. Apalagi kalau si "korban" seperti tertindas. :D

- Bagaimana jika isi ceramah seorang Dai itu cenderung provokatif dan membuat tidak nyaman..?

Awalnya mungkin mereka bisa sabar, tapi perasaan tidak enak itu jika berulang-ulang lama-lama akan numpuk juga, bahkan bisa "meledak". Harusnya para Dai paham hal-hal psikis seperti ini, seperti halnya pendekatan Wali Songo ketika berdakwah dulu. Memahami budaya di akar rumput dulu. Jangan samakan dengan kondisi Nabi waktu itu, kan beda kondisinya. Jaman Nabi dulu yg dihadapi itu kan kaum Musyrikin Mekkah yg selalu menentang dan memusuhi Nabi, nah sekarang ini kan sesama Muslim. Perbedaan masalah furu' dan bukan aqidah kok disalah-salahin...? Jadi siapa sebetulnya yg gak paham..?!

- Bagaimana jika ceramahnya selalu menyalahkan..? Secara tidak langsung kan ikut menyalahkan pendidik/ulama sebelumnya yg udah cape-cape ngedidik. Bayangkan, mereka yg begitu menghormat guru atau ulamanya, ehh.. malah ulamanya disalah-salahkan.

- Bagaimana jika mereka sudah paham, bahwa sejak kemunculan kelompok itu, jejak rekamnya selalu "menyerang" kelompok mereka.. bahkan dicap sebagai "ahli bidah calon neraka"..? Siapa yg gak sakit dicap seperti itu..?! Mungkin dalam pikiran mereka, "Dibiarin kok makin melunjak..!"

Apakah pengusung slogan "anti bidah" ini sudah terjamin dirinya masuk surga..?! Ah, belum tentu.. wong amal dirinya juga bukan jaminan masuk surga..!

- Bagaimana jika mereka sudah paham bahwa alasan "memurnikan aqidah" itu untuk menyerangnya..? Apakah yg suka ngomong "murnikan aqidah" itu sudah jaminan mutu aqidahnya..?! Lebih bagus aqidahnya dibanding para kelompok yg lain..?! Ah, belum tentu... kayak yg bisa aja ngukur aqidah seseorang..!

- Bagaimana jika mereka sudah paham bahwa slogan "Kembali ke Quran dan Sunnah" itu untuk menyerang kelompoknya. Emang selain kelompok pengusung slogan itu sudah melenceng keluar dari Quran dan Sunnah..?! Ah, belum tentu... kayak yg paham aja keseluruhan Quran dan Sunnah, baik secara lahir maupun batin..!

Dan masih banyak hal lainnya, apakah itu terkait perebutan masjid yg diiringi dengan pelarangan ceramah² Nahdliyin, pengusiran kelompok² lainnya, pelarangan Maulid dengan alasan bid'ah dan musyrik, bahkan sampai mengusir jenazah dari Masjid hanya karena politik.

Jadi sebaiknya belajar.... NGACA.
Iya, sekali lagi... NGACA...!!

Soalnya dari dulu jg, tidak ada sejarahnya wong NU, GP Ansor, termasuk Banser bubarin pengajian, kecuali isi pengajiannya itu memang keterlaluan...!

Semoga....
#ombad

06 February 2018

FITNAH KE NU

07 Agustus 1949, Kartosoewirjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia & didaulat jadi IMAM BESAR umat Islam.

Menurut mereka, keputusan mendirikan Negara Islam ini disebabkan beberapa faktor, antara lain:

- Mereka menganggap ada keputusan yg merugikan negara (seperti perjanjian Linggarjati & Renville).

- Mereka menganggap Pemerintah tidak becus mengurus negara, dan mengkhianati rakyat.

- Mereka kecewa dengan Presiden saat ini.. eh, saat itu (Bung Karno).

Hmm... seperti ada kemiripan dengan kondisi sekarang... 😨 

Lalu mereka pun mencari dukungan ke sana sini khususnya ke NU, tetapi karena NU gak mau mendukung NII DI/TII, maka :

- NU dituduh pemecah belah umat,

- NU dituduh Penjilat Pemerintah,

- NU dituduh Alergi terhadap hukum/syariat Islam.

- NU jadi musuh mereka, dan mereka semakin sewot ketika NU keluar dari Masyumi pada tahun 1952.

- Kiai NU sewaktu Nasakom dituduh macam-macam, seperti: Kiai Nasakom, Kiai Palu Arit, dsb.

Lhoo.. kok seperti ada kemiripan lagi...?  😨

Berarti.... sejarah bisa "berulang" dan tidak hanya untuk urusan kepala gundul donk...?!

😨

Semoga...
#ombad #nu

POLITIK NU

Jarang yg bisa memahami kebrilianan NU dalam berpolitik, karena NU itu Tawassuth dalam berpolitik, Tawazun dalam bermanuver. Strategi politik NU ini banyak disalahpahami oleh otak-otak yg cekak.. :D

Misal,

- Sewaktu kabinet Ali Sastroamijoyo yg kekiri-kirian, 1953, NU masuk menjadi penyeimbang faksi nasionalis dan kiri yg mendominasi. Sementara yg lain menolak, seperti Masyumi & PSI.

- Sewaktu Nasakom, NU justru bergabung mewakili unsur agama. NU jadi penyeimbang manuver PKI dan nasionalis garis keras di sekitar Bung Karno. Jadi aja Kiai Wahab Chasbullah & NU dituduh negatif. Sementara partai islam yg lain menolak dan menjauh.

- Begitupun ketika Kabinet Gotong Royong, NU justru bergabung untuk jadi penyeimbang dari dua kubu (Angkatan Darat vs PKI).

- Sewaktu kubu PKI gosok-gosok Bung Karno untuk membentuk Angkatan Kelima (rakyat yg dipersenjatai), tanpa banyak omong NU bikin Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) tahun 1962, dan siap konfrontasi terbuka dengan Pemuda Rakyat PKI dan Barisan Tani PKI. Sementara yg lain... ah sudahlah.

Masa ikut-ikutan politik recehan & jalanan... :D

Cie...cie.... ada yg panas... :D

Dah gitu aja dulu eaa....

Semoga...
#ombad #nu

29 September 2017

ASYURA (KARBALA)

Dalam kitab al-Ghunyah, karangan Syeikh Abdul Qadir Jailani qs., dikatakan bahwa Asyura itu termasuk 'Asyirul Karomah (hari berkeramat yg ke-10). Peristiwa Asyura ini disejajarkan dengan peristiwa Nuzulul Quran, Lailatul Qadr, Maulidil Rasul, Isra Mi'raj, Yaumil Arafah, Lailatul 'Idain (Idul Fitri dan Idul Adha).

ASYURA ini adalah peringatan terbunuhnya (dipenggal) Sayyidina Husain bin Ali ra. yg terjadi pada tanggal 10 Muharram 61 H. (9 atau 10 Oktober 680 M.) di Karbala, Irak (sekitar 100 km sebelah barat daya Baghdad).

Sayyidina Husein adalah putra kedua pasangan Sayyidina 'Ali dan Fathimah. Setelah dilahirkan (tanggal 3 Sya’ban 4 H.), kakeknya yaitu Rasulullah SAW menamainya Husein (nama "Hasan" dan "Husein" ini tidak pernah ada/dipakai sebelum mereka lahir). Setelah memberikan nama Husein ke cucunya, Rasulullah pun menciumnya dan menangis seraya berkata:

"Musibah besar telah menunggumu. Semoga Allah melaknat pembunuhmu."

Banyak julukan yg diberikan kepada Sayyidina Husein ra., diantaranya:

- Sayyidusy Syuhadaa (Pemimpinnya para Syahid),
- Mishbaahul Hudaa (Pelitanya Petunjuk),
- Safiinatun Najaa (Perahu yg menyelamatkan),
- Abu Abdillah (ayahnya Abdullah ibn Husain), dsb.

Sayyidina Husein hidup bersama Rasulullah selama tujuh tahun. Selama masa itu, Rasulullah sendirilah yg memberi makan, mengajari ilmu dan adab (akhlaq).

Setelah Mu’awiyah bin Abu Sufyan mati, kepemimpinannya pun digantikan anaknya, Yazid, Sayyidina Husein menolak berbai’at dan menentang atas kepemimpinan Yazid yg terkenal seorang pemabuk . Dan akhirnya, pada bulan Muharam 61 H, Husein bersama segenap keluarga dan para pengikutnya yg setia pun dibantai pasukan Yazid di Karbala yg dipimpin oleh ‘Ubaidillah bin Ziyad. Dan Husein pun menjadi syuhada menyusul kakaknya, Sayyidina Hasan yg syahid pada tahun 50 H.
 
Jadi bagi kalangan NU dan Tarekat itu, memperingati peristiwa Karbala itu hal yg lumrah, dan bukan milik kelompok Syiah saja.. meski negatifnya sering dituduh Syiah.. :D

Tapi gak apa-apalah dituduh Syiah juga, wong kata Gusdur juga "NU itu Syiah tanpa Imamah".. :D Dan juga di Tarekat Qodiriyah itu para Imam yg dimuliakan kelompok Syiah adalah para Mursyid silsilah emas Tarekat Qodiriyah (TQN). Asal jangan Rofidhoh dan sejenisnya aja (Khawarij).

Hikmahnya apa..?

Jahatnya politik kekuasaan, apalagi jika sampai mengatasnamakan agama (alirannya), dan siapapun yg jadi "musuh" nya akan dihabisi atas nama agama meski seagama.

Semoga...

#ombad #tasawuf #asyura #karbala

22 September 2017

PKI GELAP

Dulu, Bapak alm. (yg kebetulan seorang aktivis NU) pernah bercerita tentang PKI, mulai dari pola propagandanya, sampai urusan pembagian tanah, calon camat & bupati di daerah sy (Garut), jika PKI berhasil menguasai Indonesia. Diceritakan juga tentang simpatisan PKI yg tidak terdaftar keanggotaannya, dan Bapak menyebutnya "PKI Gelap".

Kata Bapak, justru "PKI Gelap" ini yg sangat berbahaya karena sering menjual orang, "tunjuk hidung", dan mencap musuhnya sebagai "antek PKI" waktu jaman Orde Baru. Mereka makin diberi peluang ketika ada partai Golkar, lalu jadi pemenang dan menguasai perpolitikan Indonesia selama Orde Baru. Dan jeleknya, para "PKI Gelap" ini mulai kasak-kusuk melakukan "balas dendam" kepada orang-orang NU, tentunya alasannya terkait pemenangan Pemilu untuk Golkar, banyak teman-teman seperjuangan Bapak di NU yg jadi korban persekusi, dan Bapak pun hampir jadi korbannya, kepalanya sudah ditodongin pistol dan mau diculik (tahun 1970 an).

Dan kondisi persekusi seperti itu berulang dengan macam ragam bentuknya, sampai akhirnya NU kembali lagi ke Khittah 1926, tidak ikut politik praktis. Seperti itulah ceritanya.

Dan karena Bapak itu orang sejarah, maka sy pun mulai bongkar-bongkar buku sejarah koleksi perpustakaannya. Salah satunya, buku berjilid putih, kalau gak salah judulnya "Gestapu dan Komunis" yg masih ejaan lama (Soewandi), dan buku seri "30 Tahun Indonesia Merdeka" (terbitan pemerintah Orba) pun akhirnya sering menemani.. Waktu itu sy masih SMP.

Itu makanya, waktu kecil sy sempat heran, kok kampung sebelah yg mayoritas anggota PKI itu tetap rajin shalat dan pengajian.. :D .. dulu, sy menyangka Komunis (PKI) itu ideologinya tanpa agama (atheis), tentunya setelah baca buku "Gestapu dan Komunis".. dan di kemudian hari baru paham, bukan seperti itu. Pantesan sekarang pun di banyak negara Islam yg warganya sangat taat kepada agamanya, seperti Aljazair, Mesir, Libya, Tunisia, Palestina, Turki, Iraq, Sudan dan masih banyak lainnya, juga memiliki partai komunis.

Jadi kalau berkaca ke pola kerjanya "PKI Gelap", bukan tidak mungkin yg teriak-teriak seseorang itu komunis adalah komunis itu sendiri. Lalu main tunjuk, yg tidak sependapat dengan dirinya adalah simpatisan PKI, antek PKI.. Ada kesamaan dalam pola propagandanya, terserah bungkus yg mau dipakainya apa, agama misalnya. 

Hal yg sama pun mungkin juga bagi yg suka koar-koar "kembali ke Quran dan Sunnah", bisa jadi sebetulnya mereka yg belum "kembali ke Quran dan Sunnah" karena baru kulitnya doank.. :D

Nahh.. jadi kalau ada yg teriak-teriak "anti Islam" gimana..?

:D
Semoga....
#ombad