17 September 2020
WIHDATUL WUJUD
18 December 2019
DUALITAS - PARADOKS - SINGULARITAS
01 August 2019
WANITA DALAM QURBAH
Semua yang ada di dunia ini merupakan cerminan (tajalli) Tuhan, termasuk di dalam diri manusia pun tercermin Pantulan Tuhan, khususnya dalam diri seorang wanita. Bagi seorang lelaki, wanita adalah tempat paling sempurna sebagai tajalli Tuhan.
"Cinta wanita adalah milik Kesempurnaan Makrifat." (Ibn Arabi ra.)
Manusia (baca : wanita) merupakan miniatur semesta atau mikrokosmos, yang dalam dirinya tercermin bagian-bagian dari jagat raya. Dia mampu mengaktifkan imajinasi kreatif calon pecinta, dan bisa jadi "tangga" dalam mengoptimalkan kecintaan seorang hamba-Nya, lalu sang diri pun bisa "menyerap" sifat-sifat dibalik setiap nama-Nya.
"Wanita adalah tipe leluhur dari keindahan di bumi, namun keindahan di bumi ini tak ada artinya kecuali menjadi manifestasi dan pantulan dari sifat-sifat Ilahi." (Maulana Rumi, Mastnawi)
Menurut para sufi, wanita merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan derajat kewaliannya, karena kualitas derajat ini ada hubungannya dengan kualitas rasa dalam mencintai dan menyayangi.
Itu makanya Syeikh Ibn Arabi ra. mengatakan,
“Barangsiapa yang ingin menjadi Sufi, hendaknya menjadi perempuan dulu. Maksudnya, hatinya harus Lembut dan didominasi Kasih Sayang.”
Begitu juga, Hadist ini mengandung esensi yang sangat dalam dalam konteks mencapai Mahabbah (cinta kepada Tuhan),
Rasulullah SAW bersabda,
حبب إليّ من دنياكم ثلاث : الطيب ، والنساء , وجعلت قرة عيني في الصلاة
“Tiga hal dari dunia ini yang aku cintai, yaitu: Wangi-wangian, kaum Wanita dan kesejukan mataku ketika Shalat." (HR. Ibn Majah)
Jadi jangan melihat wanita sebagai sumber maksiat, tetapi sebagai "sarana" mencapai Tuhan dan tetap dalam koridor "janganlah sampai anak istrimu jadi fitnah bagimu". Bukankah inti dari bertasawuf itu kebersihan hati dalam upaya mencapai kedekatan dengan Tuhan..?
Dalam proses "pendekatan" (qurbah) kepada Tuhannya, seperti halnya cinta seorang laki-laki kepada wanitanya, maka begitupun kepada Tuhannya, ada kerinduan untuk "bersatu dengan-Nya", karena penyatuan ini adalah simbol kerinduan, kecintaan dan kasih sayang seorang hamba kepada Tuhannya, dan begitu juga sebaliknya.
Kenapa proses dalam pendekatan kepada Tuhan ini lebih dominan dalam sisi Jamaliah (keindahan, kelembutan) atau dengan kata lain dominan aspek Feminin..? Karena keberlangsungan alam ini terkait dengan kegiatan menciptakan, menumbuhkan yang baru, regenerasi, atau cerminan sifat Tuhan Al-Warist (pewarisan).
Wanita dipilih Tuhan menjadi salah satu cermin-Nya, karena segala sesuatu di alam semesta (manusia) ini bersumber dari rahim seorang wanita, seperti halnya segala penciptaan yang bersumber dari Tuhan. Iya, aspek Feminin lah yang mampu menerima tindakan "maskulin", menyimpan benih, menumbuhkan dan terlibat dalam kegiatan penciptaan.
Jadi jangan menyangka bahwa wanita itu sebagai makhluk yang lemah atau nomor dua, justru wanita itu jauh lebih kuat ketimbang laki-laki, buktinya sih sederhana, bukankah hanya laki-laki aja yang butuh obat kuat..?
Semoga..
#ombad #tasawuf
01 June 2019
TASAWUF DALAM MUDIK LEBARAN
MUDIK akan diinginkan oleh semua orang karena fitrah manusia itu mencintai sumbernya atau asal-usulnya. Manusia akan berusaha untuk mengingat perjalanan hidupnya, dan selanjutnya bisa berterima kasih dan mensyukuri segala sesuatu yang berhubungan dengan sumber "hidup" nya.
Ibu adalah sumber pertama, dimana rahimnya itu jadi tempat tinggal pertama, air ketubannya jadi teman bermain pertama, bahkan darahnya pun jadi teman pertamanya yang mengantar ke alam dunia.
Dan selanjutnya pengisian memori pikiran awal dalam pembentukan pribadi pun dimulai, apakah itu terkait manusia (orang tua, saudara, teman, dsb); terkait sifat (kedekatan, ketergantungan, dsb); terkait lingkungan (tempat tinggal, tempat main, dsb); dan juga terkait ilmu/pengetahuan (sekolah, ngaji, dsb).
Ingatan adalah bagian dari Akal yang "ditanam" dalam Fitrah. Dan "ingatan" inipun yang mendorong para pemudik melakukan perjalanan, sejauh dan seberat apapun.
Begitupun dalam hubungan makhluk dengan Tuhannya, meskipun "ingatan" pertemuan di Awal Penciptaan sewaktu di alam lahut (alam ruh) "ditutup", tetapi fitrahnya akan selalu "mendorong" untuk mendekati dan mengenali Tuhannya. Dalam hal ini agama menjadi salah satu sarananya.
Tuhan menyuruh makhluk-Nya sebagai seorang "salik" untuk "napak tilas" ke Awal Penciptaannya (wushul, kembali). Makhluk-Nya diwajibkan memenuhi janjinya ketika di alam lahut untuk menemui-Nya kembali dalam kondisi terbaiknya yaitu ruh qudsi-nya. "Bukankah Aku ini Tuhanmu..? Mereka menjawab: 'Betul, Engkau Tuhan kami, kami menjadi Saksi'." (Alastu bi Rabbikum.. Bala Syahidna - QS. al-A'raf 172).
Perjanjian di Awal Penciptaan ini merupakan kewajiban makhluk-Nya supaya bisa menemui-Nya dan mengenal-Nya kembali selama perjalanan hidupnya di dunia, yang tanpa disadari semakin memperbanyak hijab atau penutupnya.
Itu makanya Imam Syafi'i ra. dalam kitabnya al-Fiqh al-Akbar, Bab Mukaddimah, mengatakan :
"Setiap Mukallaf itu diperintahkan untuk Ma'rifat kepada Allah. Arti Ma'rifat adalah mengetahui apa yang ingin diketahui dalam wujud yang sebenar-benarnya, tanpa ada sesuatu pun diantara sifat-sifat dari sesuatu yang ingin diketahui itu yang tersembunyi baginya. Hanya dengan perkiraan atau taklid saja, pengetahuan dan Ma'rifat seperti itu tak mungkin bisa diperoleh. Sebab, perkiraan berarti menerima kemungkinan adanya dua hal, sedangkan arti taklid adalah menerima pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber pendapat itu, dan yang demikian itu tentu saja tidak bisa disebut dengan mengetahui."
Seperti halnya perjalanan mudik lebaran yang membutuhkan kondisi tubuh sehat, kendaraan prima, rute yang baik dan bekal yang cukup, begitupun perjalanan wushul dalam mengenal-Nya, akan membutuhkan niat/riyadhoh yang kuat, waliyyam muryida yang ridha, "jalan" yang baik/lurus, dan dzikir yang banyak. Keselamatan lahir batin adalah segalanya. Dan seperti itulah Mudik yang hakiki.
Ya, itulah "mudik" yang sesungguhnya, yaitu Wushul (kembali) ke sumber (asal), "mudik" yg sampai ke puncaknya, yaitu Puncak Tauhid (shirath al-mustaqim), al-Ahadiyah.. Rabbul 'Alamin.
Mudik yg diupayakan agar tetap dalam Nyaman (damai, Islam), Aman (Iman) dan Selamat sampai tujuan (Ahadiyah), serta tidak tersesat (adh-Dhaalliin) dan tidak celaka (al-Maghdub).
“Mengapa dikatakan 'id (kembali)..? Karena perayaan itu kembali setiap tahunnya dengan beragam Kebahagiaan yang baru." (Muhyiddin Ibn Arabi ra.)
Selamat mudik, lahir maupun batin. Ttdj.. 😍
Semoga..
#ombad 27 #ramadhan 1440 H.
#tasawuf #imamsyafii #ibnarabi
29 May 2019
DAN SUJUDPUN TERLALU PENDEK
SUJUD merupakan "berkah" yg diberikan Allah kepada hamba-Nya, dimana hamba-Nya diberi kesempatan agar bisa mengikis ego, kesombongan dan keangkuhan. Artinya, hamba Allah yg sering bersujud, seharusnya tidak lagi memelihara sikap Ego (Ananiyyah) dan Ujub (Inniyyah).
Sehebat apapun manusia akan kembali ke tanah dan ketika sudah kembali menyatu dengan tanah, tanahnya sama saja, tidak bisa dibedakan, apakah si tanah itu berasal dari tubuh bangsawan, rakyat, kulit putih, sawo matang ataupun hitam, laki-laki ataupun perempuan, orang kaya ataupun miskin. Semuanya jadi sama dan kembali menjadi satu (baca: tanah).
Dalam kehidupan lahiriah pun ada kesamaan yaitu munculnya cahaya bekas sujudnya (atsar as-Sujud), apakah itu dalam wajah ataupun penampilan, baik penampilan fisik, psikologis maupun spiritualnya.
Dalam konteks tasawuf, ini bisa dimaknai "Kita berasal dari-Nya dan kepada-Nya kita kembali." (QS. 2:156), ketika awalnya berbeda-beda, tapi di akhir perjalanannya bisa menjadi satu, dan menyatu dengan Yang Mahasatu.
Apakah sujud kita sudah bisa menyentuh nilai hakikatnya bahwa :
- Sujud itu bentuk pengakuan kerendahan diri dan pada saat yg sama mengakui Kemahatinggian Sang Pencipta.
- Sujud itu untuk mendahulukan hati dibandingkan pikiran, sehingga pikiran kita selalu dituntun oleh nurani seperti halnya posisi kepala yg lebih rendah daripada dada ketika bersujud.
- Sujud itu bentuk pengintegrasian segala upaya untuk mencapai kesempurnaan penghambaan di hadapan Sang Pencipta seperti halnya posisi sujud yg ditopang oleh tujuh anggota badan.
- Sujud itu bentuk "Penyerahan" seorang hamba sambil selalu mengingat-Nya dan tidak ada penyerahan jika masih ada hijab Ananiyyah dan Inniyyah. "Kepada-Mu lah aku mengabdi dan kepada-Mu lah aku meminta pertolongan".
- Sujud itu bentuk pengingat akan Awal dan Akhir manusia, berasal dari tanah dan berakhir dalam tanah, seperti halnya sujud dalam shalat yg jumlahnya 2x lebih banyak dibanding gerakan lainnya. Sampai akhirnya mencapai tujuan "Kita berasal dari-Nya dan kepada-Nya kita kembali".
Itu makanya sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. ketika ditanya tentang makna Sujud Pertama, Beliau menjawab, "Allahumma innaka minha khalaqtana" (Ya Allah sesungguhnya Engkau menciptakan kami dari tanah). Makna bangkit dari Sujud Pertama adalah "Wa minha akhrajtana" (Dan daripadanya engkau mengeluarkan kami). Makna Sujud Kedua adalah "Wa ilaina tu'iduna" (Dan kepadanya Engkau akan mengembalikan kami). Dan makna bangkit dari Sujud Kedua adalah "Wa minha takhrujna taratan ukra" (Dan daripadanya Engkau akan membangkitkan lagi).
Syeikh Muhyiddin Ibn 'Arabi ra. juga menerangkan dalam kitab Futuhat Makiyyah, bahwa Sujud adalah simbolisasi terhadap asal-usul penciptaan manusia yg berasal dari tanah.
Rasulullah SAW bersabda,
"Hendaklah kamu memperbanyak sujud. Sesungguhnya jika kamu sujud satu kali saja karena Allah, maka Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan kesalahanmu." (HR. Muslim, dari Tsauban Abu Abdullah ra.)
"Saat dimana seorang hamba paling dekat kepada Tuhannya, Allah Azza Wajalla, adalah ketika dia bersujud..” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah ra.)
Semoga...
#ombad 24 #ramadhan 1440 H.
#tasawuf #sujud
14 May 2019
PUASA, HIDANGAN DARI LANGIT
كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به
Kullu ‘amali Ibni Adam lahu illash shiyaam, fainnahu lii wa anaa ajzii bihi.
"Semua amal manusia miliknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari - Muslim)
Ayat ini yg menyebabkan ibadah Puasa itu sangat istimewa. Kenapa?
Pertama, karena ibadah-ibadah lain rentan terhadap RIYA' (pamer).
Shalat, seringkali pelaksanaannya sulit mengelak dari nafsu Pamer, apakah itu ketika menenteng sajadah ke mesjid, dalam berpakaian atau sesudahnya dengan "melirik" dan "memeriksa" tetangganya yg gak ke mesjid. Dan kadang di hatipun sering tercetus, "shalat di mesjid donk".
Begitupun Zakat (dan infak, sedekah), kadang bisa tercetus dalam hati, "Gue kan kaya makanya ngasih".. Belum lagi kalau di belakangnya diomong-omongin, mirip iklan di TV..
Apalagi Umrah atau Naik Haji, ketika ditunjang kamera atau hp, "aku sedang umrah yang ke-empat", atau dibarengi budaya sisa feodalisme, bisa-bisa manyun ketika sudah naik haji tidak dipanggil Pak Haji atau Bu Haji oleh para tetangga, "Gimana sich, aku kan udah naik haji, mahal lagi, kamu mah belum".
Kedua, karena lewat puasa kita berusaha "mengosongkan" diri (baca : memperkecil hawa nafsu). Awalnya memang secara lahir dulu, dengan mengosongkan perut dan keinginan lahiriah, oleh karena itu dikatakan dalam Hadits,
"Orang yang puasa meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku."
Selanjutnya berusaha semakin dalam lagi ke dalam diri, dengan berupaya supaya bisa mengosongkan hati dari berbagai hal yg tidak sejalan dengan keinginan-Nya.
Semakin baik kualitas puasa seseorang maka semakin baik kualitas pengosongan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Secara tersirat, ini disebutkan dalam Hadist :
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
"Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari - Muslim).
Artinya, puasa itu merupakan upaya untuk mendidik diri (melalui rasa lapar, haus dan meredam hawa nafsu), sampai "menyentuh" jiwa dan qalbu, sehingga diharapkan jiwa dan qalbunya mengalami proses "pengosongan" dari hawa nafsu, dan selanjutnya pada saat yg bersamaan jiwa dan qalbunya pun merasakan dan menikmati santapan lezat ruhani dari-Nya.
Ada puisi dari Maulana Jalaludin Rumi ra. yg menjelaskan bahwa puasa Ramadhan itu bukan hanya untuk penyucian atau pengendalian diri saja, tetapi juga merupakan upaya untuk memberi peluang kepada jiwa mendapatkan hidangan dari langit yg lebih lezat daripada hidangan (makanan) yg berasal dari bumi.
"Bulan puasa telah tiba, larangan raja mulai berlaku.
Jauhkan tanganmu daripada makanan, hidangan ruhani telah disediakan.
Ruh telah bebas dari pengasingan dirinya dan menundukkan tangan tabiat jelek.
Hati yang sesat telah dikalahkan, dan prajurit iman telah sampai.
Bala tentara penidur telah menyerah dan segera ditawan,
Dari bara penyulut api jiwa tiba seraya meratap.
Lembu itu begitu molek, Musa bin Imran muncul;
Melaluinya si mati hidup semula apabila badannya telah melaksanakan upacara qurban;
Puasa ialah upacara qurban kita, yang menghidupi jiwa;
Mari kita qurbankan badan kita, karena jiwa tiba sebagai tamu;
Iman yang teguh ialah awan lembut, Kearifan ialah hujan yang tercurah darinya, karena pada bulan iman inilah al-Qur'an diwahyukan.
Apabila nafsu badani dikawal, ruh akan mi'raj ke langit;
Apabila pintu penjara dirubuhkan maka jiwa akan mencapai pelukan Kekasih.
Hati telah menukar tabir gelapnya dan menggerakkan sayapnya ke angkasa;
Hati, yang menyerupai malaikat, sekali lagi tiba di tengah mereka.
Tangkaplah tali pengikat tubuhnya, di atas perigi berteriaklah, “Yusuf dari Kan'an telah tiba!”
Pada waktu `Isa Almasih terjatuh dari keledainya maka doanya diterima Allah;
Cucilah tanganmu, karena Hidangan langit telah tiba;
Cucilah tangan dan mulutmu, jangan makan atau bercakap-cakap;
Carilah kata dan suapan nasi yang diturunkan untuk dia Si Diam..!"
Dan dalam Hilyat al-Abdaal, Syeikh Muhyidin Ibn 'Arabi ra. menjabarkan ciri hamba yg Puasanya benar adalah dengan semakin tumbuhnya sifat-sifat berikut:
- Rendah hati,
- Meningkat kepatuhannya,
- Sederhana,
- Lembut hati,
- Makin merasa fakir,
- Tidak ada bangga diri,
- Perilaku yg tenang,
- Bebas dari pikiran yg tidak pada tempatnya.
Mudah-mudahan kita bisa "menyantap" jamuan khusus ruhani dari-Nya selama Ramadhan ini.
Stay awake in the night, endure hunger.
Semoga..
#ombad #tasawuf 09 #ramadhan 1440 H.
11 August 2018
PERPADUAN (PENYATUAN)
Tuhan menciptakan manusia itu dengan "sebaik-baik ciptaan" serta Dia pun merepresentasikan diri-Nya termasuk Kesempurnaan-Nya dalam bentuk makhluk ciptaan yang terbaik.
Kesempurnaan manusia itu karena adanya Perpaduan (sintesa, jam’iyyah), Pencakupan dan Totalitas (majmu’), dimana al-Haqq "memanggil" seluruh hakikat yg tercerai-berai di alam semesta dan menghimpunnya dalam sosok manusia.
Perpaduan dari dua sisi (nuskhatain) yaitu sisi Eksoteris (nuskhah dzahirah) dan sisi Esoteris (nuskhah bathinah). Kelengkapan dan Keterpaduan baik secara Lahiriah maupun Batiniah.
Modal awal yg berupa "Kelengkapan" ini harus diupayakan sampai bisa terintegrasi, bisa holistik (wholeness) baik dari segi ilmu, pemahaman dan "pandangan".
"Manusia itu sebagai Jagat Kecil (al-‘Alam al-Asghar) atau al-Mukhtasar al-Sharif, al-Kaun al-Jami’." (Syeikh Muhyidin Ibn Arabi)
"Dalam bentuk, engkau adalah Mikrokosmos (alam kecil, as-saghir), tetapi pada hakikatnya engkau adalah Makrokosmos (alam besar, al-kabir). Buah itu nampaknya berasal dari ranting, tetapi sebenarnya ranting dan seluruh pohon itu berasal dari sang Buah." (Maulana Jalaludin Rumi)
Secara hakikat, manusia itu merupakan "cerminan" alam semesta secara keseluruhan. Kenapa manusia disebut sebagai "cerminan" alam semesta..?
Coba bandingkan saja secara fisik, apa yang ada di alam itu, terkandung juga dalam tubuh manusia, misal :
- Air, ada di alam, maka tubuh manusia pun mengandung air, begitupun dengan unsur yang lainnya, seperti : tanah, api, udara, logam, dsb.
- Padang pasir ada di alam, begitupun pada tubuh manusia, coba lihat pakai mikroskop, kulit manusia itu jika diperbesar, penampakannya seperti padang pasir.
- Pohon ada di alam, begitupun rambut manusia pun seperti pohon.. dsb.
Jadi secara fitrah, Manusia itu adalah alam mikrokosmik yang merupakan cerminan dari makrokosmiknya, yaitu alam semesta.
Bagaimana agar bisa memadukan kedua sisi ini..?
Perlu diketahui bahwa "Pendekatan" atau proses transformasi kesadaran itu bisa melalui dua pola, yaitu :
1. Pola Mikrokosmik.
Proses dalam pola mikrokosmik bisa dilakukan melalui Dzikir Khafi (qalbu). Proses-proses yang dilalui dalam Dzikir Khafi ini, akan membentuk "kedalaman" dan "kehalusan", sehingga nantinya akan memudahkan dalam mengidentifikasi diri beserta segala unsurnya, seperti : hawa nafsu, sifat, jiwa dan ruh.
2. Pola Makrokosmik.
Proses dalam pola makrokosmik ini bisa dilakukan melalui Dzikir Jahar. Proses-proses yang dilalui dalam Dzikir Jahar ini, akan membentuk "kestabilan" dan "kekuatan struktur" yang diperlukan dalam melakukan "'eksplorasi" ke luar diri, sehingga diharapkan nantinya akan lebih aman dan memudahkan, terutama dalam eksplorasi keilmuan baik lahir maupun batin.
Dzikir Jahar itu seperti membuat "tiang-tiang pancang beton" yg dipersiapkan untuk membangun gedung tingkat tinggi biar memiliki ketahanan. Itu makanya ketika berdzikir jahar terjadi pertumbuhan, pengembangan dan penguatan Lathifah, khususnya lathifah-lathifah yg berada di daerah dada. Diharapkan adanya "keseimbangan" dan "kestabilan". Bukankah semakin bagus tiang pancangnya, akan semakin stabil gedung bertingkatnya..?
Dan semakin tinggi si gedung maka akan makin luas "cakupan area" yg bisa 'dilihat' oleh penghuninya. Itulah yg dimaksud keleluasaan dalam melakukan proses "ke luar diri".
Dan jika gedung makin tinggi, maka kapasitas kamarpun bertambah.. atau dengan kata lain makin bertambah "ruang-ruang" untuk menggali dan "menyimpan" ilmu (pemahaman).
Sampai akhirnya dalam kondisi mutlak (absolut) akan terjadi Perpaduan (Penyatuan, fana') dari kedua "pola" tersebut.
Jika disederhanakan, analoginya seperti "bilangan mutlak" :
Mikrokosmik >< Makrokosmik
Jika dimutlakkan maka :
|Mikrokosmik| = |Makrokosmik|
Seperti halnya,
|-∞| = |+∞| = |∞| = ∞
Setiap salik bisa berbeda pendekatan dalam pola prosesnya. Ada yg lewat sisi mikrokosmik dulu, ada yg lewat makrokosmik dulu, bahkan ada yang bersamaan. Dan ini ada hubungannya dengan karakter "unsur" dalam dirinya.
Jika melalui pendekatan pola mikrokosmik (ke dalam diri), akan ada proses yang berupa "pendalaman" dan "penghalusan". Dan jika pola makrokosmik (ke luar diri), akan ada proses yang berupa "penstabilan" dan "penguatan struktur".
Perpaduan dari dua pola yang "berbeda" (mikrokosmik dan makrokosmik) ini merupakan suatu langkah yg revolusioner jika ditinjau dari proses percepatannya.
Jadi secara fitrah, manusia itu harus bisa terpadu sisi mikrokosmik dengan makrokosmiknya. Manusia harus bisa menyatu antara sisi lahir dengan sisi batinnya. Atau dengan kata lain, harus bisa mengalami proses fana'.
Itu makanya Imam Syafi'i mengatakan dalam mukaddimah kitab al-Fiqh al-Akbar,
"Setiap mukallaf itu diperintahkan untuk Makrifat kepada Allah SWT."
Semoga..
#ombad #tasawuf
13 March 2018
TASAWUF DALAM FISIKA
Bagian 1.
DZIKIR selain sebagai ibadah, juga bisa difungsikan untuk "melewati" atau "melampaui" Pikiran Sadar (gelombang Beta) sehingga bisa "menggeser" kondisi kesadaran Rasional ke kesadaran Intuitif (Gelombang Alpha ke bawah).
Proses dalam upaya melewati "pikiran sadar" ini bisa dicapai dengan memusatkan perhatian pada satu hal, seperti napas, ucapan "Laa ilaaha illallaah" atau "Allah". Ucapan Dzikir.
Melalui Dzikir, pikiran-pikiran dan konsep-konsep "dikesampingkan" dulu, sampai akhirnya memasuki frekuensi yg lebih tinggi.
Dalam frekuensi atau dimensi yg lebih tinggi, tidak ada pemisahan waktu seperti masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Dimensi Waktu termampatkan, dan seperti "menyatu". Kondisi ini merupakan kondisi kesadaran dimana setiap bentuk fragmentasi (berbatas) telah berhenti dan memudar, menjadi kesatuan yg tidak bisa dibedakan. Bahasa sederhananya, dunia fisik dan dunia nonfisik seperti realita (yg sama-sama terlihat).
Dan hasilnya, para Sufi dapat mencapai keadaan kesadaran "singularitas" (tanpa ruang & tanpa waktu), dimana mereka melampaui dunia tiga dimensi, dan bisa menembus realitas multidimensi yg lebih tinggi.
**
Bagian 2.
Fisika (Kuantum) dan Tasawuf adalah dua manifestasi komplementer pikiran manusia dari pemahaman yg Rasional dan Intuitif. Otak Kiri dan Otak Kanan.
Fisikawan modern meneliti segala hal di dunia ini melalui spesialisasi yg ekstrim dari pemikiran rasional, sedangkan Sufi melalui spesialisasi ekstrim dari Rasa Intuitif.
Analoginya, seorang Fisikawan itu seperti berupaya "memompa" kemampuan pemikiran Rasionalnya sampai maksimal, misal 1000 lah. Sedangkan seorang Sufi itu seperti "memompa" kemampuan Rasa Intuitifnya sampai maksimal, paling halus, misal nilai 1000 (dari arah yg lawannya/sebelahnya).
Sains, ilmu pengetahuan dan pembuktiannya, sangat penting dan dibutuhkan bagi kehidupan modern. Sedangkan pengalaman Tasawuf diperlukan untuk memahami "hakikat terdalam" dari segala hal.
Dan keduanya diperlukan untuk pemahaman yg lebih lengkap tentang dunia (alam), khususnya ilmu. Oleh karena itu, akan menjadi lebih baik dan lebih lengkap jika ada interaksi dinamis antara "intuisi" tasawuf dan analisis ilmiah sains.
**
Bagian 3.
Penelitian ahli fisika Alain Aspect tahun 1982 di Paris, membuktikan bahwa partikel-partikel sub-atomik (seperti elektron) dalam lingkungan tertentu itu mampu berkomunikasi (dengan seketika) satu sama lain, TANPA TERGANTUNG pada JARAK yg memisahkan mereka. Jadi tidak ada bedanya apakah mereka itu terpisah 1 meter ataukah 10 milyar km (satu sama lainnya).
Artinya, setiap partikel SELALU TAHU apa yg dilakukan oleh partikel lain.
Dan juga, terbukti adanya suatu KOMUNIKASI yg mampu berjalan di atas (atau lebih cepat) dari Kecepatan Cahaya. Kalau berpegang pada prinsip Einstein, hal ini mengindikasikan bahwa proses komunikasi ini adalah Menembus dimensi waktu...!
Jadi gak usah heran atau dianggap Bid'ah atau Musyrik, kalau dalam tasawuf, pada dimensi ruh itu, adalah sesuatu yg lumrah kalau ada koneksitas dan terjalin suatu komunikasi antar ruh, walau yg satu masih hidup di dunia ini, dan yg lain (orang-orang tersebut) sudah meninggal ratusan atau ribuan tahun sebelumnya..
Bukankah seperti itu pengalaman Isra Mi'rajnya Rasulullah SAW saat bertemu dengan ruh para Nabi yg sudah wafat...?
Dan bukankah seperti itu juga pengalaman ruhani para Wali yg "bertemu" dan berkomunikasi dengan ruh para wali yg sudah meninggal ratusan tahun lalu...?
Kenapa para Wali dibawa-bawa sich? Ya karena mereka sudah "mengakses" dimensi ruh pada waktu hidupnya... :D
**
Bagian 4.
HOLOGRAM yg merupakan "potret" tiga dimensi ini bisa membuktikan bahwa pola fraktal itu ada di alam semesta ini.
Jika hologram sebuah bunga mawar dibelah dua, lalu belahannya ini disoroti sinar laser, ternyata masing² belahan itu masih "mengandung" gambar mawar secara lengkap (tetapi lebih kecil). Bahkan, jika belahan itu dibelah lagi, tetap saja, masing-masing potongan foto itu mengandung gambar semula yg lengkap walaupun ukurannya lebih kecil.
Artinya, setiap bagian dari sebuah hologram itu mengandung semua informasi yg ada pada hologram secara keseluruhan. "Keseluruhan Di Dalam Setiap Bagian".
Dengan bahasa yg berbeda, para Sufi pun mendeskripsikan konsep fraktal ini.
"Dalam bentuk, engkau adalah Mikrokosmos (alam kecil), tetapi pada hakikatnya engkau adalah Makrokosmos (alam besar). Buah itu nampaknya berasal dari ranting, tetapi sebenarnya ranting dan seluruh pohon itu berasal dari sang Buah." (Maulana Jalaludin Rumi ra.)
Begitupun, Syeikh Muhyiddin Ibn Arabi ra. yg mengatakan bahwa Manusia disebut sebagai Alam Mikro (Alam Saghir), sedangkan Alam merupakan merupakan Manusia Makro (Insan Kabir).
Pola fraktal ini menyiratkan suatu hubungan bahwa Alam dan Manusia itu sama-sama menceminkan dimensi eksoteris Tuhan (dzahir al-uluhiyah). Dimana Alam merupakan cerminan dari segi pluralitas Asma’ dan Sifat Tuhan, sedangkan Manusia itu cerminan yg menghimpun Asma’ dan Sifat-Nya, sebagaimana Asma’ dan Sifat yg terhimpun dalam nama “Allah”.
"Wajah itu satu, tetapi cermin seribu.." (Ibn 'Arabi)
Subhaana Man Khalaqal Asyyaa wa Huwa 'Ainuha..
Maha Suci Dzat yg menjadikan segala sesuatu, dan Dia adalah esensi segala sesuatu.
Semoga....
#ombad #tasawuf #fisika
ESENSI ADAM - HAWA
Ada yg bertanya (12 Agustus 2013),
"Dalam khasanah tasawuf kisah adam bertemu hawa di Jabal Rahmah juga ada makna tersendiri katanya, itu bagaimana ya Om (pencerahannya)..?"
**
Adam itu simbol dari PENGETAHUAN (Makrifat), Makhluk ciptaan baru yg keberadaannya disertai dengan Hikmah yg tinggi, para Malaikat dan Iblis pun tidak mengetahuinya, karena pengetahuan mereka terbatas.
Pengetahuan Makrifat merupakan tujuan dari penciptaan manusia, penciptaan Adam. Tanda "makrifat" ini yaitu saat Adam dianugrahi pengetahuan "nama-nama" oleh Allah SWT, dan itulah kenapa Malaikat dan Iblis disuruh SUJUD kepada Adam..
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya." (QS. al-Baqarah: 31)
Syaikhul Akbar Muhyiddin Ibn Arabi ra. mengatakan, bahwa perintah sujud kepada Adam, bukan bentuk penyembahan Malaikat kepada Adam, tetapi sebagai bentuk penghormatan, karena kedudukan Adam lebih tinggi dibanding semua makhluk itu. Para Malaikat taat dan tunduk kepada Adam.
Sementara iblis, yg memiliki potensi keraguan dan kesangsian, mengabaikan perintah Allah itu. Iblis mengabaikan perintah itu karena dia terhijab dari pemahaman hakikat Adam. Hijab itu adalah bentuk wujudnya Adam saja yg dilihat oleh Iblis, wujud formal dan tekstualnya, sehingga iblis kehilangan hakikat Adam. Padahal kalau Iblis tahu akan makna-makna Hikmah Samawiyah pada Adam, pasti ia akan tetap dalam Mahabbah menuju Ridha Allah Ta’ala.
Iblis mengabaikan Akal Budi dan Himmah yg ada pada dirinya, Ia terhijab dari memandang hakikat-hakikat Adam.
Sekarang saatnya, HAWA.. :D
HAWA merupakan simbolisasi dari NAFS. Ia adalah "nafs", karena berinteraksi dengan jasad yg bersifat gelap. Hidup itu sendiri jika dimetaforkan pada warna, adalah warna hitam. Sebagaimana hati disebut Adam, karena kata Adam itu berkaitan dengan fisik, tetapi tidak bersifat lazim pada karakter. Karena kata “Adamah” berarti kelabu, yaitu warna yang diarahkan menuju warna hitam. Hubungannya dengan TULANG RUSUK.. yg urusan tulang rusuk kan udah faham.. karena tulang rusuknya diambil,
- Kecondongan Adam adalah MENCARI PELENGKAP, atau pencarian "Kelengkapan".
- Kecondongan Hawa (berasal dari tulang rusuk) adalah MENCARI SUMBER, atau pencarian "Sumber Asal".
Nahhh... selanjutnya bagian yg ramainya... :D .. belum ada yg membahas.. ©ombad
Dari uraian sebelumnya :
- Simbolisasi Adam adalah Pengetahuan (Makrifat), dirinya condong kepada pencarian "Kelengkapan", karena selalu merasa ada yg kurang.
- Simbolisasi Hawa adalah Nafs dari Adam, dirinya condong kepada pencarian "Sumber Asal" nya.
Awalnya, mereka "menyatu", terpadu dan bersama, dan kemudian dipisahkan. Ketika terpisah, Kerinduan yang hebat melanda mereka ( :D .. bahasa sy kayak novel ya..).
Adam merasa Tidak Lengkap. Semua Pengetahuan (Makrifat) nya pun terasa hambar, seperti sayur yg kurang garam. Kenapa hambar..? Karena Nafs dari dalam dirinya, telah terpisah dan menjauh.. oohhh..
Begitupun dengan Hawa, ia merasa kesepian yg hebat, merasa Kebimbangan, dan Keraguan yg semakin pekat mengikat.. Ia merasa tidak punya Sandaran dan Pegangan, gamang. seperti anak ayam kehilangan induk. Nafs nya berusaha mencari Sumber Asalnya.
Nafs nya tidak bisa menemukan "tali pengikat" kejinakannya..
Perjalanan dan pencarianpun mereka lakukan dengan didasari dari Kerinduan dalam dua arah esensi yg berbeda..
Sampai akhirnya Jabal Rahmah (Gunung Kasih Sayang).. :D
Pertemuan 2 hal yg terpisah, Pengetahuan (Makrifat) yg tidak akan bisa bercampur dengan Nafs.
Pertemuan akibat Kerinduan dari ikatan "suatu bagian yg berusaha mencari sumbernya" dan Kerinduan untuk melengkapi "Ketidak-lengkapan" dalam mencapai Kesempurnaannya.
Dan 2 hal yg berbeda sifat (polar) ini hanya bisa "dipadukan" dengan Gunung "Kasih Sayang".. sebuah esensi dari mengedepankan kasih sayang yg sebesar-besarnya, "sebesar gunung"..
Itulah kenapa wanita suka cepat mengatakan, "ini jodohku".. tapi yg dikatakan laki-laki, "Jodohku bukan ya..?". Itulah kenapa wanita merasa sudah cukup dengan pasangannya, karena seperti telah "menemukan" sumbernya. Dan laki-laki selalu berusaha "mencocokkan" kelengkapannya, "Sudah sempurna atau belum..?"
Dari sinilah kenapa ayat Poligami ada, tapi tidak untuk Poliandri..
Btw, dari esensi Adam - Hawa di atas, nanti akan berhubungan dengan ucapan Ibn Arabi ra. yaitu :
"Perempuan adalah media terbaik bagi para Sufi untuk 'menemukan' Allah.."
Puisi sy ini bisa jadi menjelaskan,
Aku dari bawah ke atas,
Engkau dari atas ke bawah,
Mendekati-Mu Yang Sendiri,
Tidak bisa dengan sendiri.
Engkau turunkan manusia sepasang,
Mendekati-Mu pun menjadi sepasang,
Engkau turunkan kaca cermin-Mu,
Cermin rasa dalam mengenal-Mu.
(Puisi Kehidupan, ombad)
Semoga..
#ombad #tasawuf
09 March 2018
JALAN YANG LURUS
Setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah Ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan.
"(Ya Allah).. Tunjukilah kami jalan yang Lurus.” (QS. Al-Fatihah : 6).
Menurut Tafsirnya Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, yaitu al-Fawâtih, maknanya adalah "Tunjukilah kami dengan Kelembutan-Mu, Jalan yang Lurus yang dapat mengantarkan kami kepada Puncak Tauhid-Mu".
Dan di tafsir ayat selanjutnya, Syeikh Abdul Qadir menjelaskan bahwa golongan yg diberi Nikmat adalah para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang Saleh. Golongan yang Dimurkai adalah orang-orang yg ragu dan lari dari jalan Kebenaran yg terang karena mengikuti akal yg penuh dengan ilusi. Dan golongan yg Sesat adalah orang-orang yg mengikuti fatamorgana dunia yg hina dan godaan setan yg menyimpang dari jalan kebenaran dan hujjah yg meyakinkan.
Sedangkan menurut Tafsirnya Syeikh Muhyiddin Ibn 'Arabi, al-Quranul Karim, maknanya "Jalan yang Lurus" adalah Tetapkanlah kami ke jalan hidayah, dan tempatkanlah kami dalam istiqamah di jalan kesatuan (Wahdah).
Jalan istiqamah di dalam kesatuan (wahdah) adalah jalan orang-orang yg dilimpahi nikmat dan karunia Allah melalui kenikmatan tertentu yg sangat khusus, yaitu nikmat Rahimiyyah (nikmat Allah di akhirat) atau nikmat kasih sayang, yaitu nikmat Ma'rifat dan Mahabbah.
Sedangkan keteguhan Hidayah itu adalah Hidayah Hakiki dan bersifat substantif yg diberikan pada para Nabi dan Syuhada, Shiddiqin dan Auliya, yaitu mereka yg menyaksikan-Nya pada Yang Maha Awal dari Maha Akhir, Dzahir dan Bathin, di mana mereka telah sirna dalam penyaksiannya dengan munculnya Wajah Yang Abadi (Baqa) dari segala wujud pandang yg Fana’ atau sirna.
Jalan inilah yg ditempuh para Sufi, jalan Hakikat. Jalan "menyatu" dengan Allah, yg diteguhkan oleh Realita dan Kebenaran, bahwa yg ada hanyalah Allah, yg abadi hanyalah Wajah Allah, dan segala hal selain Allah adalah batil dan hancur.
Jalan menuju kepada Allah, sebagaimana terlimpahkan kepada para Nabi dan Rasul, Wali dan Syuhada yg senantiasa menyaksikan Allah di mana-mana dan tidak di mana-mana. Penyaksian Ubudiyah hamba terhadap Rububiyah Allah. Respon yg interaktif dan terus-menerus serta tidak putus dengan-Nya, yg kelak sirna dan tenggelam dalam samudera Ma‘rifah dan Mahabbah.
Rasulullah SAW bersabda:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً صِرَاطاً مُسْتَقِيماً وَعَلَى جَنْبَتَىِ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعاً وَلاَ تَتَفَرَّجُوا وَدَاعِى يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُفْتَحَ شَيْئاً مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لاَ تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ وْالصَّرِاطُ الإِسْلاَمُ وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ تَعَالَى وَالأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ تَعَالَى وَذَلِكَ الدَّاعِى عَلِى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِى مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِى قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ
“Allah telah membuat perumpamaan berupa sebuah jalan yg lurus. Di kedua sisi jalan itu ada dinding yg padanya terdapat beberapa pintu yg terbuka. Pada pintu-pintu itu terdapat tirai yg dilabuhkan.
Sementara di atas pintu gerbang jalan tersebut ada penyeru yg berkata: ‘Wahai manusia, laluilah jalan ini sampai ke ujung dan janganlah kalian berbelok-belok'.
Sementara itu ada lagi penyeru lain di atas jalan tersebut yg berkata ketika manusia bermaksud membuka salah satu dari pintu-pintu itu: ‘Celaka, jangan engkau membukanya, sebab bila engkau membukanya, engkau pasti akan terperosok masuk ke dalamnya'.
Jalan di sini maksudnya Islam; dinding maksudnya hukum-hukum Allah; pintu-pintu yg terbuka maksudnya hal-hal yang diharamkan Allah; penyeru di atas gerbang maksudnya al-Qur’an: penyeru di atas jalan maksudnya nasihat dari Allah yg ada di dalam hati setiap muslim.”
(HR. Ahmad dan Muslim)
Ternyata dalam beragama itu butuh "menggali makna" ya.. tidak harfiah, tidak tekstual saja, dan Rasulullah SAW sendiri yg mencontohkannya lewat salah satu hadist di atas.
Dan apa yg menyebabkan "berbelok" dari "jalan yang lurus" seperti yg disimbolkan dari Hadist di atas..? Penyebabnya adalah Thaghut.
THAGHUT adalah segala sumber yang menyebabkan seseorang melampaui batas dalam kemaksiatan, menyesatkan (dari jalan yang lurus), kedurhakaan dan kekufuran; baik yang berasal dari dalam maupun pengaruh dari luar dirinya.
Maksud 'Melampaui Batas' itu apa?
Setiap apa saja yang melampaui batas-batas hukum yang digariskan oleh Allah SWT untuk para hamba-Nya di muka bumi ini. Segala macam kebatilan, baik dalam bentuk berhala, pemberhalaan, ide-ide yang sesat, manusia durhaka atau siapa pun yang mengajak kepada perbuatan yang menyesatkan.
Ada wejangan dari Abah Anom yang mesti kita renungkan:
"Thogut teh basa Arab. Ari numutkeun ahli mufasirin mah hartosna: 'tempat-tempat berhala'. Namung upami numutkeun istilah Arab mah hartosna: 'saban-saban nu nyandak pasea, nu ngajak barontak, nu ngajak teu bener teu beres, eta teh thogut'.
Jadi dimana urang ngajak-ngajak teu bener teh nyaeta keur dipingpin ku thogut."
Artinya,
"Thogut itu bahasa arab. Menurut mufasirin artinya adalah 'tempat-tempat berhala'. Tetapi menurut istilah arab artinya adalah 'Setiap ajakan kepada permusuhan, ajakan kepada pemberontakan, ajakan kepada ketidak-benaran, ajakan kepada ketidak-beresan adalah thogut.'
Jadi ketika kita mengajak kepada ketidak-benaran artinya sedang dipimpin oleh thogut."
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama-Nya, (tetaplah atas) fitrah Allah, Yang telah menciptakan manusia, menurut fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS.30:30)
Semoga....
#ombad #tasawuf
02 March 2018
PETIR DALAM TASAWUF
PETIR DALAM TASAWUF
(Manusia Sebagai Khalifah)
Petir terjadi karena ada perbedaan potensial, perbedaan muatan yg besar antara awan dan bumi, sehingga terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya agar terjadi kesetimbangan.
Begitupun jika ditinjau secara mikrokosmik, dalam diri manusia pun ada proses terjadinya "petir", sebagai konsekuensi dari filosofi yg dikemukakan oleh Ibn Arabi ra, yaitu :
"Manusia sebagai alam mikrokosmik merupakan cerminan dari alam (semesta) yang makrokosmik."
Ketika "muatan" pada manusia (bumi) sudah terlalu berbeda atau malah berlawanan dengan "muatan" yg dikehendaki Tuhan (langit), maka akan ada suatu proses dalam diri manusia untuk melakukan penyeimbangan.
Proses penyeimbangan ini bisa berupa "kilatan-kilatan" tertentu secara spiritual (enlightenment, evolusi maupun revolusi kesadaran) yg terus-menerus. "Kilatan" ini yg nantinya akan membuka sekat-sekat hati, membuka pemikiran dan "open heart".
Dan dalam suatu proses kesetimbangan, jika "bukaan-bukaan" ini dianggap sebagai suatu input, maka akan ada output yg "dikeluarkan" dari dalam diri. "Output" yg dimaksud adalah hal-hal negatif dari dalam diri, yaitu nafsu-nafsu yg erat hubungannya dengan hijab-hijab hati. Jadi bisa dikatakan bahwa saat terjadi proses "enlightenment" maka dengan sendirinya terjadi juga proses pembuangan hal-hal negatif dalam diri (tadzkiyah nafs) ataupun pelepasan hijab-hijab hati. Dan ini korelasinya dengan "Taubat".
Tuhan sendiri sudah menetapkan "alat-alat" untuk membantu proses kesetimbangan ini, apakah melalui tatacara ibadah vertikal maupun horizontal.
Ketika individu tersebut berhasil melakukan penyeimbangan "muatan" nya, maka "Hujan Rahmat" pun akan turun dalam bentuk Hidayah, Taufik dan Inayah. Dan "Hujan Rahmat" ini akan menyebabkan "kesuburan tanah" diri manusia, sehingga akan menghasilkan "panen manfaat" bagi dirinya. Tentunya kondisi "kesuburan tanah" tidak lupa dipupuk dan dirawat dengan "talqin dan dzikir" yg khusus agar hasilnya semakin bagus.
Lalu hasil dari "panen manfaat" ini akan berkembang dan siap untuk dibagikan kepada orang lain, sehingga sang diri pun menjadi "lebih bermanfaat". Dan semua ini akan kembali lagi kepada dirinya, baik di dunia maupun nanti di akhirat.
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ
“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.” (QS. Al-Isra: 7)
Dan puncaknya adalah diri kita ini menjadi makhluk yg "paling memberi manfaat" buat sesamanya, menjadi "saluran rahmat" bagi semua, seperti halnya Air yg sangat bermanfaat bagi kehidupan.
Rasulullah SAW bersabda :
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)
Secara tersirat, hal ini menjadi tanda bahwa hanya manusia saja yg bisa menjadi Khalifah Alam Semesta, karena hanya manusia lah yg menjadi "penghubung" dan juga "menghubungkan" antara "bumi" dan "langit". Dan hanya manusia saja yg bisa menjaga keseimbangan dalam dirinya, baik secara mikrokosmik, ataupun secara makrokosmik sebagai cerminannya.
Semoga...
#ombad #tasawuf
18 February 2018
KONFIRMASI VIA YAQAZAH
Seperti sekarang, dulu pun banyak yg memprotes Imam al-Ghazali ra. terkait hadist-hadist yg tertera dalam kitab Ihya Ulumuddin. Ada sekitar 200-an Hadist.
"Syeikh, kok banyak sekali hadist di Ihya Ulumuddin yg tidak pernah sy baca/temukan di kitab-kitab Hadist..?"
Imam al-Ghazali pun menjawab,
"Saya tidak pernah menulis sebuah Hadist dalam kitab Ihya tanpa konfirmasi dulu kepada Rasulullah SAW."
Nah, pusing kan..? :D
Seperti kita tahu, Rasululullah SAW wafat 632 M, sedangkan Imam al-Ghazali itu hidup sekitar tahun 1100 an M. Beda waktunya 500 tahunan.
Hal-hal seperti ini sulit dipercayai jika sekedar pakai pikiran.
Terkait hal tersebut, banyak pengalaman ruhani para ulama 'Arif billah yg menceritakan kisah pertemuannya dengan Rasulullah SAW. Mereka bisa bertemu baik melalui Mimpi ataupun Yaqazah (bertemu dalam kondisi sadar/terjaga). Bukankah dalam kondisi tertentu ruang dan waktu memang menjadi tidak ada batas, misal di alam ruh.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa melihatku sewaktu tidur, maka dia seakan melihatku dalam keadaan terjaga (fasayaranifil Yaqzati). Dan setan tidak bisa menyerupai diriku.“ (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dari Abu Hurairah ra.)
“Ru’yah (melihat) Nabi SAW dalam keadaan Sadar/terjaga (Yaqazah) merupakan suatu hal yg rumit dan sedikit sekali orang yg mengalaminya, melainkan hanya orang-orang yg memiliki sifat ‘aziz (mulia) pada masa ini. Bahkan, hampir-hampir tidak ada. Namun kita tidak mengingkari orang yg mengalaminya, yakni al-kabir (orang besar dalam pandangan Allah) yg dijaga oleh Allah SWT, baik segi dzahir maupun batin mereka.” (Syeikh Izzuddin bin ‘Abdus Salam ra., al-Qawa’id al-Kubra)
Nah, bayangkan seorang Imam Ghazali ra. yg melakukan konfirmasi kepada Rasulullah SAW sebanyak 200-an kali terkait hadist-hadist tersebut. Dan menurut sy, konfirmasinya itu melalui Yaqazah.
**
YAQAJAH itu pengalaman batin secara sadar, tidak melalui mimpi.
Puncak dari Yaqajah itu adalah ketemu dengan Rasul dalam kondisi sadar, tidak melalui mimpi.
“Adalah boleh (khususnya bagi Wali Allah yg diberi karamah) untuk bertemu dengan dzat Nabi SAW baik ruhnya atau jasadnya karena Rasulullah SAW seperti lain-lain nabi dan rasul, semuanya hidup bila mereka dikembalikan (kepada jasadnya) serta diizinkan oleh Allah keluar dari kuburnya.” (Ibn Arabi dalam kitab Fara’idul Fawa’id)
“Sebagian orang mendakwa melihat Nabi SAW secara yaqazah, sedangkan hal ini sukar untuk dibahas. Amat sedikit dari kalangan mereka yg mengalaminya, kecuali terhadap mereka yg amat mulia di zaman ini. Walau bagaimanapun, kami tidak mengingkari siapapun yg mengaku pernah mengalaminya, dari kalangan orang-orang yg mulia yang dipelihara oleh Allah SWT dzahir dan batin mereka.” (Syeikh Ibn Al-Haj, dalam kitab Al-Madkhal)
Ada riwayat yg berhubungan dengan Yaqazah nya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani qs. dalam kitab Thabaqatul Awliya’.. karangan Syeikh Sirajuddin bin Al-Milan ra. disebutkan :
Syeikh Abdul Qadir al Jailani berkata,
“Aku melihat Rasulullah SAW sebelum Zuhur,
Beliau berkata kepadaku, “Wahai anakku, mengapa engkau tidak segera berceramah..?”
Aku menjawab, “Wahai Abatah (ayah), aku adalah seorang ‘ajam (bukan Arab). Bagaimana aku akan berbicara dengan orang-orang Baghdad yg fasih-fasih.”
Lalu Beliau berkata, “Bukalah mulutmu.”
Kemudian aku membuka mulutku lalu Beliau meludahiku tujuh kali. Kemudian Beliau bersabda,
“Berbicaralah kepada manusia dan ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mauizah (pesan-pesan) yang baik.”
Kemudian aku menunaikan sholat dzuhur dan duduk, tiba-tiba berduyun-duyun orang yang banyak mendatangiku, dan aku melihat Sayidina 'Ali berdiri di depanku dalam majlis itu.
Kemudian Sayidina Ali berkata kepadaku, “Wahai anakku, mengapa engkau tidak segera berbicara..?”
Aku menjawab, “Wahai Abatah (ayah), mereka berduyun-duyun datang kepadaku.”
Kemudian dia berkata, “Bukalah mulutmu.”
Lalu aku membuka mulutku, dan Beliau meludahiku sebanyak enam kali, lalu aku bertanya, “Mengapa tidak engkau sempurnakan menjadi tujuh kali..?”
Beliau menjawab, “Adab kepada Rasulullah.”
Selanjutnya Beliau lenyap dari pandanganku.
Kemudian aku berkata,
“Menyelam dalam pemikiran, kemudian menyelam dalam lautan hati mencari mutiara-mutiara kaum ‘arifin. Kemudian dikeluarkan ke pinggir shard (hati), kemudian mengundang agen penerjemah lisan, dibelinya hal itu dengan nafais isman (nafas-nafas berharga), yakni baiknya ketaatan di balik-balik yang Allah izinkan untuk didaki.”
Semoga....
#ombad #tasawuf #yaqazah
01 February 2018
CERMINAN ITU BERBEDA
"Perempuan adalah saudara kandung laki-laki,
Di alam ruh dan dalam tubuh kasar,
Keduanya satu dalam eksistensi
Itulah manusia,
Perbedaan antara mereka aksiden semata,
Perempuan dan laki-laki memang beda."
(Ibn Arabi, Futuhat Makiyyah)
Pada diri perempuanlah laki-laki dapat merenungkan keilahian. Ketika laki-laki merenungkan al-Haqq (Tuhan) dalam dirinya sebagai wujud yg darinya perempuan diciptakan, maka (berarti) dia merenungkan Tuhan dalam modus yg Aktif.
Namun bagaimanapun juga, jika dia merenungkan Tuhan dalam dirinya tanpa mereferensi pada perempuan, maka dia merenungkan al-Haqq (Tuhan) dalam modus Pasif.
Pada diri perempuan, dia dapat merenungkan Tuhan baik dalam peran Aktif maupun Pasif.
Jadi kalau LGBT ??! Ya tidak sesuai fitrah seperti di atas.. 😂
Itu makanya menurut Ibn Arabi ra., perempuan bisa menjadi sarana untuk mencapai Tuhan.. (bukan dalam konteks maksiat.. 😁)
Cinta laki-laki kepada perempuan dan keinginan bersatu dengannya adalah simbol kecintaan dan kerinduan manusia kepada Tuhan dan sebaliknya. Dalam cinta perempuan terdapat cinta kepada Tuhan, dan esensi cintanya kepada Tuhan.
Dari Anas ra. berkata, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda;
“Tiga hal dari dunia ini dibuat memikat padaku, yaitu: kaum perempuan, wewangian, dan kesejukan mataku ketika shalat.” (HR. Nasa’i)
Semoga...
#ombad #tasawuf
18 January 2018
ABID + 'ARIF + 'AQIL + ASYIQ
Sejak dulu, bahkan sebelum si kakek buyut puber, banyak lelaki yg kepincut karena Matanya melihat lekukan indah pesona, sedangkan para wanita banyak yg kepincut karena Telinganya mendengar rayuan lidah buaya. Dan dari sinilah motto ini jadi legenda,
Motto lelaki : "Dari mata turun ke hati."
Motto wanita : "Dari telinga turun ke hati."
Nah, ini bisa jadi kunci pelet....ehh salah, maksudnya kunci mengenal diri...
Uraian di atas hanya aspek lahiriah saja, dan kadang bisa dipakai alat buat menipu lawan jenisnya, seperti kata lagu, "...wanita dijajah pria buat madu... namun kadang pria tak berdaya, tekuk lutut disundul ketek wanita..."
Hal ini berbeda dengan aspek spiritual/batiniah, dimana ketika terjadi proses transformasi kesadaran ke level yg lebih tinggi (berbanding lurus dengan keilmuan), output pertama yg terlihat dengan sendirinya akan berbeda pola :
Lelaki : Teduh (lemah lembut, rendah hati).
Wanita : Memancar (indah, inner beauty).
Artinya, walaupun awalnya merupakan cerminan sifat jalalullah (kuat, perkasa), pada lelaki itu peningkatan kualitas pola Yang/maskulinnya lebih ke dalam (mikrokosmik, detil, halus) dan "butuh" mendekati aspek Jamaliyah (indah, lembut). Teduh.
Begitupun sebaliknya, walaupun awalnya merupakan cerminan sifat jamaliah, pada wanita itu peningkatan kualitas pola Yin/femininnya lebih ke luar (makrokosmik) dan "butuh" mendekati aspek Jalaliyah. Memancar.
Ada hubungan aksi-reaksi, tarik-menarik antar keduanya, karena fitrah lelaki itu mencari kesempurnaan (kelengkapan), sedangkan fitrah wanita itu mencari sumber asalnya, seperti yg dikatakan Syeikh Ibn 'Arabi,
".... Adam cenderung kepada Hawa (sebagaimana dia cenderung kepada dirinya sendiri) karena Hawa adalah bagian dari dirinya, dan Hawa cenderung kepada Adam karena Adam adalah sumber (tempat asal) konfigurasinya..."
Sampai akhirnya, seiring waktu dan proses, cerminan kedua sifat ini akan sempurna/lengkap termanifestasikan, seperti halnya Adam dengan konteks Khalifah di muka bumi sebagai seorang Insan Kamil dimana dirinya telah sempurna dalam mengintegrasikan aspek : Abid, 'Arif, 'Aqil dan Asyiq. Dan itulah kenapa Iblispun disuruh sujud kepada Adam.
Semoga....
#ombad #tasawuf
08 October 2017
AHADIYAH WAHIDIYAH
Muhammad Rasulullah SAW sebagai seorang "Insan Kamil" ketika sedang Fana' dan terbuka total "Ruh Qudsi" nya, maka Rasul pun berucap:
"Ana Ahmad bi la Mim, wa ana ‘Arabbi bi la ‘Ain, wa man roaini, inna roaitul haq."
Yang artinya,
"Aku Ahmad tanpa Mim, aku 'Arab tanpa 'Ain, barangsiapa melihatku, telah melihat Al-Haq."
ALLAH <-> "RUH QUDSI" Muhammad <-> INSAN KAMIL (Muhammad bin Abdullah)
Perlu diketahui, menurut Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs. dalam kitabnya Sirr al-Asrar bahwa Ruh manusia itu ada empat lapis (kualitas), yaitu:
- Ruh al-Jismani (lapisan terluar).
- Ruh ar-Ruhani.
- Ruh as-Sulthani.
- Ruh al-Quds (lapisan terdalam, termurni).
Begitupun...
Isa Kalimatullah AS. sebagai seorang "Al-Masih" ketika sedang Fana' dan terbuka total "Ruh Kudus" nya, maka Isa pun berucap:
"Aku (Kalimatullah) dan Bapa (Allah) adalah Satu." [Yohanes 10:30]
"…. Bapa (Allah) di dalam Aku (Kalimatullah) dan Aku di dalam Bapa." [Yohanes 10:38]
"…. Barangsiapa telah melihat Aku (Kalimatullah), ia telah melihat Bapa (Allah)…" [Yohanes 14:9]
ALLAH <-> "RUH KUDUS" Isa <-> AL-MASIH (Isa ibn Maryam)
Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah SAW bersabda,
"Isa faa innahu Ruhullah wa kalimatuhu."
("Isa itu sesungguhnya Ruh Allah dan Firman-Nya.")
Itu makanya Syeikh Muhyiddin Ibn 'Arabi ra. mengatakan,
"Asal semua ciptaan adalah tiga (tatslits), satu tidak dapat menghasilkan sesuatu. Dua adalah awal daripada bilangan dan dari dua tidak dapat menghasilkan sesuatu selama tidak ada unsur ketiga yang menghubungkan di antara keduanya."
Semoga....
#ombad #tasawuf
21 September 2017
KESEIMBANGAN JAMALIYAH & JALALIYAH
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas ra. bahwa suatu hari Rasulullah SAW menemui 'Ali dan Fathimah, dimana keduanya sedang tertawa. Namun ketika mereka berdua melihat kemunculan Rasulullah, mereka pun serentak terdiam.
Melihat hal ini Rasulullah pun bertanya,
"Apa yg kalian tertawakan sehingga ketika kalian melihatku tiba-tiba kalian diam..?"
Maka Fathimah cepat-cepat berkata,
”Demi ayahku, engkau ya Rasulullah, dia ('Ali) telah berkata begini, 'Aku lebih mencintai Rasulullah daripada kamu', maka aku (Fathimah) pun berkata kepadanya, 'Tetapi aku lebih dicintai Rasulullah ketimbang kamu'..!"
Mendengar hal ini Rasulullah SAW tersenyum lantas berkata,
"Wahai Putriku, engkaulah buah hatiku yg paling aku cintai, sedangkan 'Ali lebih mulia bagiku daripadamu."
Terkait Hadist di atas Syeikh Muhyidin Ibn 'Arabi berpendapat, ketika Rasulullah SAW melihat putri tercintanya Sayyidah Fathimah rah., Rasul melihat manifestasi JAMALIYAH yg begitu dominan, sementara pada Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw., Rasul melihat manifestasi JALALIYAH yg lebih mendominasinya.
Jamaliyah adalah sifat-sifat atau segala sesuatu yg merepresentasikan aspek-aspek Keindahan dan Kelembutan Allah SWT, seperti ar-Rahman (Maha Penyayang), ar-Rahim (Maha Penyayang), al-Ghafur (Maha Pengampun), al-Lathîf (Maha Lembut), dsb.
Jalaliyah adalah sifat-sifat atau segala sesuatu yg merepresentasikan aspek-aspek Kekuatan, Keagungan, keagungan dan Kebesaran Allah SWT, seperti al-Akbar (Maha Besar), al-'Adhim (Maha Agung), al-Qawiy (Maha Kuat), al-Qadîr (Maha Kuasa), dsb.
Dan seperti itulah seharusnya pola dalam sebuah keluarga, dimana yg satu menjadi Penyeimbang yg lainnya, dan menyiratkan suatu hubungan yg saling melengkapi baik dari sisi horizontal maupun vertikal.
Semoga...
#ombad #tasawuf