Showing posts with label Thariqah. Show all posts
Showing posts with label Thariqah. Show all posts

05 August 2019

TASAWUF DALAM THE MATRIX

Masih ingat gak saat Neo dan Morpheus ngobrol di dalam lift yang menuju ruangan The Oracle..?

Neo: “Apakah Oracle ini adalah Oracle penubuwwah..?”
Morpheus: “Ya, dia sangat tua. Dia sudah mengiringi kita sejak awal perlawanan.”
Neo: “Apa yang dia tahu? Segalanya..?”
Morpheus: “Dia akan berkata, bahwa dia hanya mengetahui secukupnya.”
Neo: “Dan dia tak pernah salah..?”
Morpheus: “Cobalah untuk tidak berpikir benar atau salah. Dia seorang pembimbing, Neo. Dia membantu kita untuk menemukan.”
Neo: “Dia menolongmu..?”
Morpheus: “Ya..”
Neo: “Apa yang dikatakannya padamu..?”
Morpheus: “Bahwa aku akan menemukan The One..”
**

The Oracle dalam film The Matrix itu bagai seorang Mursyid dalam sebuah Thariqah (tarekat, jalan, metode).

Seorang Mursyid ini mempunyai metode khusus yang sesuai Sanad (bersambung sampai Rasulullah SAW), dan metode khusus ini dipakai oleh para Murid (dan Murad) dalam menapaki tahapan-tahapan spiritual (maqamat) sebagai seorang salik. "… ia memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.." (QS. al-Ahqaf: 30), karena "sesungguhnya orang-orang kafir dan dzalim, Allah tidak mengampuni dan menunjukkan jalan kepada mereka" (QS. an-Nisa: 168). Bahkan Syeikh Abdul Qadir Jailani qs. dalam Tafsir al-Jailani mentafsirkan bahwa "jalan yang lurus" (shiratal mustaqim) itu adalah "puncak tauhid" (ahadiyah).

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Tasawuf itu merupakan buah dari ber-Thariqah (tarekat), dan Thariqah itu buah dari ber-Syariat. Semuanya saling menyatu dan saling menguatkan, tidak saling melemahkan dan meniadakan. Jadi, tiada Thariqah tanpa Syariat, serta tiada Tasawuf tanpa Thariqah dan Syariat.

Itu makanya dalam kitab Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah disebutkan, “Jenis fitnah itu banyak sekali. Diantara yang banyak merusak seorang hamba adalah pengakuan seseorang menjadi Guru Tarekat dan Wali, bahkan sampai mengaku dirinya Wali Quthb, dan Imam Mahdi, padahal mereka bukan Ahli Syariat.”

Begitupun terkait kemursyidan, banyak yang mengaku-ngaku, abal-abal, bahkan banyak yang merasa sudah "terbebas" dari Syariat, dan akhirnya meninggalkan syariat. Para calon salik pun banyak yang tertipu dengan bungkus, meyakini yang salah karena bungkusnya terlihat sedemikian bagus, dan sebaliknya, yang sejati tetap tersembunyi, bisa "nyumput di nu caang" (sembunyi dalam terang), dengan maksud tertentu, misalnya ia atau muridnya tidak ingin terjebak dalam kesombongan yang samar, ataupun karena berusaha tetap dalam koridor "manusia biasa" yang tidak punya keistimewaan atau diistimewakan. Dan sering membuat orang ragu bahkan salah sangka, seperti halnya Neo sebagai seorang "salik" yang awalnya pun ragu saat melihat penampilan "mursyid" nya, The Oracle.

Oracle: “Kamu tahu mengapa Morpheus membawamu ke sini..? Jadi apa yang kamu pikirkan.. kamu pikir kamulah The One..?"
Neo: “Sejujurnya, saya tidak tau..”
Oracle: “Aku akan beritahumu suatu rahasia. Menjadi The One adalah seperti jatuh cinta. Tak ada yang bisa memberitahumu, melainkan kamu sendiri yang tahu. Jadi, kamu udah siap mengetahuinya.”
Neo: “Mengetahui apa..?”
Oracle: “Bahwa aku tidak akan memberitahumu..”
Neo: “Bahwa saya bukanlah The One.”

Begitulah seorang Mursyid, ia tahu dan paham apa yang terbaik buat Murid, Murad atau Saliknya. Seperti halnya Oracle yang memahami bahwa Neo yang masih terbelenggu jiwanya karena merasa sebagai calon The One, sehingga tanpa sadar dirinya merasa sangat spesial, atau dengan kata lain, kesombongan Neo pun muncul ketika banyak informasi yang mengatakan bahwa ia adalah calon The One.

Dan Neo pun akhirnya bisa menemukan kesejatian jati dirinya, setelah bisa menghancurkan hambatan-hambatan jiwa dan pikirannya akibat dari pandangan dan sikap orang lain.

Neo, ia yang menyelami dirinya diantara dunia realita dan matrix, serta akhirnya bisa mengoptimalkan mind (brainpower) dan jiwanya, dan mengalami pencapaian nilai maksimum kendali kekuatan akal pikirannya, sementara yang lain masih "terhambat" dalam penjara-penjara pikiran alam sadar yang hanya 12%.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

09 July 2018

SYEIKH AHMAD KHOTIB SAMBAS

SANTRI NUSANTARA PASTI NYAMBUNG SILSILAH GURUNYA

SILSILAH NASAB ILMU ULAMA NUSANTARA:

Syeikh Ahmad Khotib Sambas Guru Para Ulama Nusantara

Syeikh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama yang mendirikan perkumpulan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Perkumpulan Tarekat ini merupakan penyatuan dan pengembangan terhadap metode dua Tarekat sufi besar. yakni Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah.

Syekh Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat.

Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.

Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M.

Guru-gurunya:

1. H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.
2. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
3. Syekh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Mekkah)
4. Syekh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Mekkah)
5. Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami
6. Syekh Ahmad al-Marzuqi
7. Syekh Syamsudin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah.

Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air.

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani yg masyhur disebut sayyid ulama hijaz(tuannya ulama makkah)  adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.

Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas.

Syeikh Ahmad Khotib Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainny seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara.

Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Peranan Dan Karyanya

Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini.

Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab FATHUL ARIFIN yang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. Kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.

Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini.

Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.

Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir.

Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa'id al-'Amudi dan Ahmad Ali.

Murid-Muridnya antara lain:

1. Syekh Nawawi Al Bantani
2. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan Madura
3. Syekh Abdul Karim Banten
4. Syekh Tolhah Cirebon

Syekh Nawawi Al Bantani dan Syekh Muhammad Kholil selain berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas juga berguru kepada Syekh Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafii di Masjidil Haram Mekkah.

Sepeninggal Syekh Ahmad Khatib Sambas, Imam Nawawi Al Bantani ditunjuk meneruskan mengajar di Madrasah beliau di Mekkah tapi tidak diberi hak membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Sedangkan Syekh Muhammad Kholil, Syekh Abdul Karim dan Syekh Tolhah diperintahkan pulang ke tanah Jawa dan ditunjuk sebagai Khalifah yang berhak menyebarkan dan membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Murid murid Syekh Ahmad Khatib Sambas diatas adalah guru para Ulama-Ulama Nusantara generasi berikutnya yang dikemudian hari menjadi ulama yang mendirikan pondok pesantren dan biasa dipanggil dan digelari sebagai KYAI, Tuan Guru, Ajengan, dsb.

Sebagai contoh, Syekh Muhammad Kholil Bangkalan Madura mempunyai murid-murid antara lain:

1. KH. Hasyim Asy’ar : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional punya murid Kh chudori magelang punya putra kh abdurrahman chudori guru alfaqir.
2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri.
3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).
4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
5. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah
6. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon.
7. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.
8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia.
9. KH. Zaini Mun’im : Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah.
10. KH. Abdullah Mubarok : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren SURYALAYA, kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis.
11. KH. Asy’ari : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.
12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep.
13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf.
14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.
15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan
16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep.
17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.
18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.
21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat.
22. KH. Abdul Hadi : Lamongan.
23. KH. Zainudin : Nganjuk
24. KH. Maksum : Lasem
25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung
26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo.
27. KH. Munajad : Kertosono
28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang
29. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang
30. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura
31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi
32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura.
33. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso
34. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat
35. KH. Raden Fakih Maskumambang : Gresik
36. KH. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.

Semoga...
#tasawuf #thariqah

MURSYID KAMIL MUKAMMIL

Belajar dzikir itu butuh Mursyid kamil-mukammil, jangan yg abal-abal.. apalagi berbayar.. :D

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

"Wa may yudlil falan tajida lahu Waliyyam Mursyida."

Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalam hidupnya) seorang Wali Mursyid --pemimpin yg dapat memberi petunjuk kepadanya--.” (QS. al-Kahfi : 17)

Dzikir bukan sekedar ucapan di mulut saja, atau bacaan-bacaan untuk tujuan duniawi, tetapi esensi dzikir itu harus bisa menembus hati sampai bisa mencapai kualitas tauhid "Ahadiyah". Esensi dari "Laa Haula wa laa quwwata illa billaah" dan "Inna lillaahi wa inna ilaihi raji'uun".

Dzikir pun harus bisa membersihkan hijab-hijab hati yg berupa keinginan dan segala sesuatu yg bersumber dari nafsu-nafsu rendah (Amarah, Lawamah dan Mulhimah), sampai akhirnya kualitas qalbunya bisa mencapai Fuad, Lubb, bahkan Sirri, atau dengan kata lain, bisa menembus alam ruh serta membersihkan lapisan-lapisan ruh (Qiswah Unsuriyah/Jismani, Sairani Rawani dan Sulthani) sampai akhirnya bisa ber-Musyahadah.

Ada kisah terkait pentingnya proses purifikasi hijab-hijab hati (penyakit-penyakit hati) yg berupa obrolan antara sang Hujjatul Islam (Imam Al-Ghazali ra.) kepada salah seorang muridnya, sebagai berikut:

Seorang murid bertanya kepada Imam Ghazali yg menjadi gurunya, “Syeikh, bukankah dzikir bisa membuat seorang beriman lebih dekat dengan Allah Ta’ala dan syaitan akan berlari jauh darinya..?”

Benar.." jawab Imam Ghazali.

“Namun kenapa ada orang yang semakin rajin berdzikir justeru malah semakin dekat dengan syaitan..?” lanjut sang murid.

Imam Ghazali pun bertutur, “Bagaimana pendapatmu, jika ada orang yg mengusir anjing, namun dia masih menyimpan tulang dan berbagai makanan kesukaan anjing di sekitarnya..?”

“Tentu, anjing itu akan kembali datang setelah diusir.” jawab sang murid.

Imam Ghazali melanjutkan,

"Demikian juga dengan orang-orang yg rajin berdzikir tapi masih menyimpan berbagai penyakit hati dalam dirinya. Syaitan akan terus datang dan mendekat bahkan bersahabat dengannya.
Penyakit-penyakit hati itu seperti kesombongan, iri hati, dengki, syirik, bersikap kasar, riya, merasa sholeh, merasa suci, ghibah, marah dan berbagai penyakit hati lainnya. Ketika penyakit-penyakit itu menghinggapi diri seorang hamba, maka syaitan terlaknat akan senantiasa datang, mengakrabkan diri, kemudian menjadi sahabat karibnya."

Kisah di atas mengandung Hikmah bahwa berdzikir itu harus "lurus" kepada Allah dan bukan diarahkan kepada tujuan-tujuan duniawi, sampai bisa "tidak apapun dalam hati kecuali Allah SWT yg jadi tujuan". Puncak Tauhid.

Dan proses dalam menapaki "jalan yg lurus" ini rentan terhadap godaan, bisa berupa nafsu kepentingan, fenomena maupun bisikannya (al-khatir). Itu makanya dalam thariqah dibutuhkan seorang Mursyid yg kamil-mukammil (yg sudah bermusyahadah dengan ruh qudsinya) sebagai "penunjuk" jalan para salik. Sebutlah, agar "bibit dzikir yg disemai dalam hati ini tidak terdistorsi nafsu" karena langsung dari kondisi ruh qudsi.

Ilahi anta maqsuudi wa ridhooka mathluubi a'tini mahabbataka wa ma'rifataka.

Semoga..
#ombad #tasawuf

14 February 2018

THARIQAH ITU USAHA, BUKAN TUJUAN

Pada pengajian tanggal 11 Muharam 1391 H. Mursyid TQN Suryalaya yaitu Abah Anom  (KH. A. Shohibul Wafa' Tajul Arifin) mengatakan :

"Thoriqoh bukan merupakan tujuan, tetapi merupakan 'usaha' untuk mencapai suatu keberhasilan agar mencapai tujuan.

Adapun gerak (ibadah lahir) telah diajarkan oleh ilmu fiqh, tasawuf dan ushuluddin, sedangkan jiwa diobati oleh dzikir agar 'kemauannya' timbul, sebab bukan tidak mampu untuk menggarap tani, menggarap dagang, bukan tidak ingin memberikan pertolongan kepada orang lain, tetapi 'kemauannya' yang tidak ada dikarenakan sedang datang 'malas'.

Apakah yang menyebabkan malas..? Dikarenakan sedang ada godaan syetan dan bujukan nafsu. Adapun godaan syetan dan bujukan nafsu berada pada perut.

Oleh karena itu dzikrullah berguna untuk memperhalus diri, untuk melepaskan kemalasan, untuk mengajarkan diri agar menjadi manusia 'yang mempunyai kemauan'. Tanpa dzikir tidak akan bisa, dikarenakan manusia diarahkan untuk menta'ati Allah dan Rosul-Nya kepada arah Lillaahi Ta'ala.

Itulah sebabnya Nabi mengajarkan ketika kita akan memulai suatu pekerjaan yang baik harus diawali dengan membaca 'bismillah'. Setiap perbuatan yang baik apabila tidak diawali dengan membaca bismillah, maka perbuatan tersebut dianggap tidak berguna.."

Semoga...
#ombad #tasawuf