Showing posts with label Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Ilmu. Show all posts

23 June 2019

TAHAPAN IMAN DAN MUKASYAFAH

Ada tiga tahapan dalam Keimanan, yaitu:

1. 'ILMUL YAQIN. Keyakinan yg muncul karena tahu (termasuk membaca, mendengar), atau disebut juga PERCAYA. Tahap yg pertama ini adalah tahapan PENGETAHUAN karena mempercayai apa yg dia ketahui.

2. 'AINUL YAQIN. Keyakinan yg muncul karena tahu dan melihat/merasa, atau biasa disebut KEYAKINAN. Tahapan ini sudah memasuki tahapan PEMAHAMAN, karena pengetahuan yg dia percayai dibantu/ditambah dengan sesuatu bukti.

3. HAQQUL YAQIN. Keyakinan yg muncul karena tahu, melihat/merasa dan mengalami, ini disebut sebagai KEBENARAN (Hakikat).

Apakah ketiga hal di atas saling bertabrakan? Tentu tidak. Secara normal, hampir semua dimulai dari poin pertama. Artinya ketika poin kedua dialami, semestinya akan makin memperkuat poin pertama, begitupun dengan pengalaman di poin ketiga, akan semakin meneguhkan dua poin sebelumnya. Karena nash yg sudah tertulis, yaitu al-Quran & Sunnah Rasul-Nya telah dijamin kebenarannya oleh Allah SWT. Ini berguna selain untuk memperteguh keyakinan sendiri (rusukh) dan bisa memahami diri sendiri, juga selanjutnya agar bisa memahami orang lain. 

HAQQUL YAQIN adalah hilangnya keraguan karena  telah ridha terhadap apapun yang diberikan Allah kepadanya. Hati nuraninya tetap teguh dengan makna-makna hakikat yg ia dapatkan lewat Musyahadah (penyaksian batin).

Musyahadahnya terhadap hakikat-hakikat keyakinan akan menghilangkan berbagai alasan, keraguan dan dugaan. Kebeningan dan Kejernihan qalbunya akan selalu memunculkan perasaan optimis, positive thinking, ridha, syukur, kebahagiaan dan kecintaan dalam setiap kejadian yg dialaminya. 

Hati nuraninya selalu memutus semua sebab yg menghalangi antara dirinya dengan Allah SWT, dimana ia akan lebih mengutamakan Allah daripada yang lain. Sementara bertambahnya keyakinan sejati tidak pernah mencapai titik akhir. Setiap kali berusaha memahami dan mendalami agama mereka bertambah yakin dan semakin yakin.

Salah satu bentuk dari Haqqul Yaqin adalah MUKASYAFAH (tersingkapnya apa yang ghaib). Mukasyafah ini dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :

1. MUKASYAFAH 'AYAN (tersingkapnya 'tutup' mata) sehingga di hari Kiamat nanti ia melihat dengan mata kepala.

2. MUKASYAFAH QULUB (tersingkapnya 'tutup' hati) untuk memahami hakikat-hakikat keimanan secara langsung dengan yakin, yg tidak bisa dibayangkan dengan cara apa dan bagaimana serta tidak bisa ditentukan.

3. MUKASYAFAH AYAT (tersingkapnya tanda-tanda Kebesaran-Nya), seperti halnya ditampakkannya Kekuasaan Allah kepada para Nabi dengan mukjizat. Dan untuk selain para Nabi dengan karamah (kemuliaan) dan dikabulkannya doa.

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (Kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda." (QS. al-Hijr: 75)

"Dan dibumi terdapat Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin." (QS. adz-Dzariyat: 20)


Semoga..
#ombad #tasawuf

31 May 2019

MENGGEBUNYA KEBERFIHAKAN

Sebelum urusan copras-capres, sebelum muncul keberfihakan yang menggebu-gebu (fanatik) terhadap salah satu capres, mungkin kita bisa melihat dan mempercayai sekaligus meyakini bahwa teman kita ini begitu berkualitas baik dari segi ilmu maupun kualitas batinnya. Terlihat dari indahnya tulisan, ragam ilmu yang disampaikan, analisis serta pembahasan lewat FB nya.

Sampai akhirnya, ketika ada perbedaan pilihan dengan teman-temannya yg lain, mulailah keluar tanduknya, keluar karakter aslinya.. 😀 ... saling mengedepankan jagoannya masing-masing. Pokoknya kubu sebelah mah jelek baggeeddhhh aja.. 😂 ..
Bahkan bisa sampai terputus silaturahmi.

Seperti itulah kalau ilmu hanya sekedar IQ dan tidak menyentuh EQ serta SQ. Ilmu hanya sekedar pengetahuan lahir konsumsi otak atau pikiran saja, tetapi tidak menyentuh perbaikan jiwa dan spiritual (batiniyah). Ilmu hanya sekedar filsafat tetapi tidak memasuki filosofi, dan hal seperti ini bukanlah Tasawuf.

"Hakikat ilmu pengetahuan dengan kebaikan adalah menetap di dalamnya dan hakikat ilmu pengetahuan dengan keburukan adalah keluar darinya." (Imam Syadzili ra)

"Jangan menyebarkan ilmu yang bertujuan agar manusia membetulkanmu dan menganggap baik kepadamu, akan tetapi sebarkanlah ilmu dengan tujuan agar Allah SWT membenarkanmu." (Imam Syadzili ra)

Semoga..
#ombad #tasawuf

05 December 2018

IBADAH TANPA ILMU

Tentu berbeda Ibadahnya orang berilmu dengan Ibadah tanpa ilmu, karena dengan didasari ilmu maka ia akan mengetahui hukum tiap amal/perbuatan, seseorang dapat menunaikan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah dengan sebaik-baiknya, termasuk dalam hubungannya secara horizontal dengan lingkungannya.
 

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa Derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Itu makanya secara tersirat Ibn Abbas (Abdullah bin Abbas ra.) mengatakan bahwa perbandingan derajat antara orang yg memiliki ilmu dibanding orang yg tidak memilikinya adalah 700 derajat, dimana derajat pertama ke derajat kedua menempuh perjalanan 500 tahun lamanya.

Syeikh Hasan Al-Bashri ra. berkata,

العَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّالِكِ عَلَى غَيْرِ طَرِيْقٍ وَالعَامِلُ عَلَى غَيْرِ عِلْمٍ مَا يُفْسِدُ اَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُ فَاطْلُبُوْا العِلْمَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِبَادَةِ وَاطْلُبُوْا العِبَادَةَ طَلَبًا لاَ تَضُرُّوْا بِالعِلْمِ فَإِنَّ قَومًا طَلَبُوْا العِبَادَةَ وَتَرَكُوْا العِلْمَ

“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang sebenarnya. Orang yang beramal tanpa ilmu hanya membuat banyak kerusakan dibanding mendatangkan kebaikan. Pelajarilah ilmu dengan sungguh-sungguh, namun jangan sampai meninggalkan ibadah. Gemarlah pula beribadah, namun jangan sampai meninggalkan ilmu. Karena ada segolongan orang yang rajin ibadah, namun meninggalkan belajar.”

Jangan sampai karena ketidak-tahuan akan ilmu, mengalami hal seperti ini :

Alkisah, di Maroko pernah hidup seorang ahli ibadah yg dikenal oleh masyarakat sekitarnya sebagai orang shalih. Siang-malam ia isi dengan ibadah. Hari-harinya ia hiasi dengan kegiatan ibadah kepada Allah SWT. Suatu hari ia membeli seekor keledai betina. Anehnya keledai itu tidak ia gunakan sama sekali. Hal ini membuat seorang tetangganya diliputi rasa penasaran, “Tuan, mengapa keledainya tidak dimanfaatkan..?”
Dijawab oleh si ahli ibadah ini, “Memang, aku hanya memanfaatkannya untuk memuaskan nafsu birahiku.”
Setelah diusut, ternyata si ahli ibadah ini betul-betul tidak tahu soal larangan keras menyetubuhi hewan. Ketika ia diberi tahu soal hukum menyetubuhi hewan, ia menangis sejadi-jadinya.. :D

Dan mudah-mudahan penyakit Ujub, Riya, Sum'ah, dsb ketika sedang ibadah tidak memasuki hati kita. Kenapa..?

Karena sifat seperti Riya' ini (memamerkan amal ibadah karena ingin mendapat pujian dari orang lain) dapat merusak keikhlasan. Ikhlas yg sempurna harus dilakukan baik sebelum, sedang, ataupun sesudah ibadah. Sebab ada orang yg ikhlas ketika beribadah, tetapi setelah itu ia terjebak dalam sikap Riya’ (pamer), maka rusaklah nilai ibadahnya.

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang Shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat Riya’.” (QS. Al-Ma’un : 4-6)


Semoga..
#ombad #tasawuf

10 August 2018

EGO VS ILMU

Jika yg dibutuhkan itu masih sebatas PENGAKUAN DIRI alias EGO, maka segala sesuatu harus sesuai dengan yg diinginkannya, bentuk dari pemenuhan egonya.

Tidak ada jaminan keinginan diri itu selalu sama dengan "keinginan" Tuhan. Artinya, bisa saja keinginan diri adalah suatu ujian biar selaras dengan "keinginan" Tuhan, meski sang diri tidak pernah tahu "keinginan" Tuhannya. Dan termasuk orang-orang sombong jika keinginan diri adalah "keinginan" Tuhan.

Dan jika "You are what you're thinking" nya masih dalam tataran Ego, artinya "perjalanan" nya sebagai seorang Salik pun masih jauh.

Tandanya adalah :

- Jika dorongan di hati lebih fokus "melihat" ILMU (sebagai bentuk dari Haqq/Kebenaran, objektivitas) maka artinya "didekatkan". Jadi segala sesuatu kejadian di dunia ini selalu ditransformasikan menjadi ilmu dan alat "introspeksi". Alam pun semakin jelas sebagai "ayat-ayat kauniyah".

- Jika dorongan di hati lebih fokus pada "pemuasan" EGO (sebagai bentuk dari Hawa Nafsu, subjektivitas) maka artinya masih "masih jauh". Alam sebagai "ayat-ayat kauniyah" akan tertutup, sulit ber-intropeksi, serta hijab-hijab pun makin banyak dan tebal.

Itu makanya Ego seringkali menutup nalar, bisa aja karena nalar atau logikanya kurang kuat (baca: kurang ilmu), sehingga "tidak mau" membuka diri (open mind open heart), atau dengan kata lain memilih untuk tetap bodoh dan "menutup diri".

"Menggeser" dominasi dari Hawa Nafsu ke arah ilmu ini bukan suatu upaya yg mudah, makanya kualitasnya pun disebut sebagai "jihad yg paling utama".

Rasulullah SAW bersabda :


أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ
 
"Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad/berjuang melawan dirinya dan hawa nafsunya." (HR. Abu Nu’aim, Ad-Dailami, Ibn An-Najjar, dari Abu Dzarr ra.)

Jadi jika "Kyai yg asli karena gak sejalan lagi maka gak akan dianggap Kyai, begitu juga sekalipun orang yg baru belajar ngaji jika sejalan maka akan dianggap Kyai", maka ilmu pun akan menjauh dari hatinya, dan hawa nafsu pun akan makin mengikat jiwanya.

Dan jalan terbaiknya adalah selalu mengingat Sumber Ilmu, yaitu Allah Yang Mahatahu. 

 

Cara Memperkecil Ego

Salah satu cara memperkecil Ego adalah selalu berusaha agar bisa Positive Thinking.

Kenapa harus bisa ber-positive thinking ?

Segala kejadian yg kita "tangkap", baik dari dalam maupun dari luar diri akan selalu 'disertai' dan dianalisa dengan menyertakan 'pembanding' yg sudah "tersimpan" dalam memory atau pikiran kita. Pembanding ini bisa benar dan bisa jg salah. Masih relatif, belum tentu sebuah Kebenaran. 

Ketika kita kurang menyadari kondisi seperti tersebut di atas, maka kondisi seperti itu bisa menyebabkan munculnya perasaan Merasa Benar, merasa paling Baik, Kesadarannya paling tinggi dan  paling beriman.. Sebuah Kesombongan.

Tanpa kita sadari, Nafsu pun ikut 'bermain' dan mendistorsi hati dan pikiran. Makin memperbesar Ego. 

Dengan selalu menjaga Positive Thinking, maka diri kita akan selalu 'terkondisikan' dan 'terarahkan' (baca: Sadar) untuk melakukan Instropeksi secara terus-menerus dan mengurangi sifat 'menghakimi' baik secara perbuatan, pikiran maupun rasa. 


Semoga..
#ombad #tasawuf

09 August 2018

NABI AWALNYA SESAT...?!

Kata ngustat (212) Evie Effendi :

“Setiap orang itu sesat awalnya, dhallan fa hadza, Muhammad termasuk. Maka kalau ada yang muludan, apanya yang diperingati..?”

Kayaknya cuma lihat terjemahan doank.. :D

"Wa wajadaka dhoollan fa hadaa."

"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (QS. Ad-Dhuha : 7)

Maksudnya (menurut Tafsir) adalah :

"Ku-temukan engkau (Muhammad) dalam keadaan tidak punya pegangan syariat, maka kemudian kami beri petunjuk dengan diwahyukannya syariat kepadamu."

Pada Tafsir lain : "tidak/belum mengetahui keseluruhan al-Quran.."

"Tidak punya pegangan syariat" itu artinya BUKAN SESAT atau Kesesatan, bukannya ada syariat sebelumnya (Yahudi & Nasrani). Jadi maksudnya lebih ke "sepi dari syariat".

Jadi bukan bermakna "sesat" layaknya orang-orang macam kita, yg dulunya suka dugem, gank motor, nusuk orang, dipenjara 3 bulan, "belajar" shalat dan agama selama dipenjara, lalu "hijrah" dan kemudian jadi penceramah.

Dan ternyata modal ngebacot itu lebih enak, bisa disukai dan dihormati emak-emak, amplopnya tebal, tentu lebih nikmat daripada jadi gank motor.. :D
 
Apakah Muhammad waktu kecilnya itu Sesat...? Hadist ini mudah-mudahan bisa dipahami :

Rasulullah bersabda,

"Aku dari Allah dan orang-orang beriman berasal dariku."

Dan banyak hadist lain yg terkait kemuliaan Beliau SAW, apalagi hadist-hadist tentang "Haqiqatul Muhammadiyah" dan "Nur Muhammad".

Kalau melihat kasus ngustat seperti di atas, itu menjadi salah satu bukti bahwa betapa sangat pentingnya SANAD dalam keilmuan agama, sampai ilmunya betul-betul tersambung dan sampai ke Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa menguraikan al-Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa Benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan.” (HR. Ahmad)

Semoga...
#ombad

SANAD

Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa menguraikan al-Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa Benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan.” (HR. Ahmad)

Ibnul Mubarak ra. berkata :

”SANAD merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena Sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yg mau dengan apa saja yg diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim ra. dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47)

Imam Syafi’i ra. mengatakan :

“Tiada ilmu tanpa Sanad.”

Imam Abu Yazid al-Bustami ra. (makna tafsir QS. al-Kahfi 60, dalam Tafsir Ruhul-Bayan juz 5) :

“Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan.”

**

Dan seperti yg kita tahu, tipikal Syetan itu adalah Ujub, Riya & Takabur (Sombong), dan Sombong dalam hal ilmu adalah Merasa Paling Pintar dan Paling Benar sedunia dan akhirat.. :D

Semua dan hal apapun di luar dirinya pun dianggap salah, dan hanya dirinya saja yg pantas masuk surga, sendirian.. :D

Padahal ilmu itu sangat erat hubungannya dgn Instropeksi, karena agama itu untuk diri sendiri, dan hubungan yg sangat pribadi dengan Dia Yang Maha Sendiri..

Semoga...
#ombad #sanad

PEWARISAN ILMU

Ilmu yg diwariskan Nabi itu melalui dua cara, yaitu:

1. ILMUN FIL AURAQ, atau ilmu Syariah yg tertuang dalam tulisan (buku, kitab) yg diperoleh dengan cara membaca dan mengaji, at-Ta’allum wad Dirasah. Tanpa membaca, ilmu tidak akan diperoleh.

Jenis yg pertama ini bisa anda dapatkan lewat tulisan di kitab, buku, artikel, google, dsb. Dalam konteks tasawuf, ini biasa disebut sebagai "kulit" ilmu. Bisa dipakai untuk Dakwah, tetapi belum tentu Dakwah bil Hikmah. Jadi masih berpeluang menyebabkan adanya jebakan kesalahan pemikiran dan menimbulkan permusuhan.

2. ILMUN FIL ADZWAQ (ilmu rasa, Batin, Sirr, Mahabbah, dsb).

Jenis kedua ini yg dimaksud sebagai SANAD Keilmuan (dalam konteks ilmu lahir, Syariat) ataupun WASHILAH (dalam konteks ilmu batin, tasawuf). Keduanya (Sanad & Washilah) sama-sama ujungnya tersambung sampai ke Rasulullah SAW. Orang saleh yg memiliki keterkaitan spiritual dengan gurunya, gurunya dengan gurunya, terus bersambung kepada Rasulullah SAW. Hal ini biasa disebut sebagai As-Suluk as-Suhbah, persahabatan yg memberi dampak kepada perilaku lahir batin si murid. Dan keterhubungan jenis ilmu kedua ini lebih dikarenakan adanya "keterhubungan Ruh".

Seperti halnya Rumi yg menemukan potensi ruhaninya setelah mendapatkan bimbingan Syamsuddin Tabriz, ataupun cerita Bima dengan guru hakikatnya, Dewa Ruci.

Dalam konteks edukasi, mereka adalah Murabbi, sang pendidik, dan dalam konteks yg religius (batin, ruh), mereka adalah penunjuk atau Mursyid.

Dan mereka inilah yg dimaksud sebagai Pewaris Sempurna Para Nabi (Warasatul Anbiya), dan bukan sekedar ilmu lahir saja, yg dengan cara lain pun mudah didapat, seperti lewat baca buku/kitab ataupun google.
 
Rasulullah SAW bersabda, 

“Ada ilmu yg seperti tiram (tersembunyi). Hanya orang-orang yg mengenal Allah yg mengetahuinya....”

Ilmun fil Adzwaq ini "tersimpan" dalam Sirr atau qalbu terdalam para ’Arifin yg merupakan titipan serta punya keterhubungan dengan Qalbu Rasulullah SAW, dan Rasul tidak memberikannya kepada orang awam, tetapi hanya diberikan kepada para sahabatnya yg terdekat, para "Ashabus Suffah", para penerusnya. Dan lewat barakah Sirr tersebut, Syariat pun bisa berdiri hingga hari kiamat.

Para Ulama Pewaris yg tulen ini akan berdakwah (mengajak beriman kepada Allah) dengan Dakwah dan Hikmah.

Rasulullah SAW bersabda,

“Kamu sekalian harus mau bergabung dengan Ulama dan mendengarkan pembicaraan Ahli Hikmah. Allah menghidupkan Hati dengan cahaya Hikmah, seperti menghidupkan bumi dengan air hujan.”

Semoga....
#ombad #tasawuf

27 July 2018

TIDAK ADA ATAU TIDAK TAU

Memang mudah sich mengatakan TIDAK ADA. Cuma apakah "tidak ada" nya tersebut karena memang Tidak Ada, atau karena di memori/pikirannya tidak ada, atau dengan kata lain, pengetahuan/ilmunya belum sampai dan belum diketahui.

Jadi, kurang elok jika dengan ringannya mengatakan "tidak ada"... Sebaiknya ke depan itu belajarlah untuk mengatakan "saya belum menjumpainya", "saya belum menemukannya", atau "saya belum tahu"... kan bisa memalukan jikalau sudah merasa tahu, tapi ternyata masih banyak yg harus dipelajari. Apalagi sampai membenci hal-hal yg belum diketahui secara pasti, atau tahunya baru sebagian saja.

Bukankah ilmu itu sangat luas..?

Dan bukankah Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. juga pernah berujar:

الناس أعداء بما جهلوا

“Manusia akan bermusuhan dengan apa yang ia tidak ketahui.”

Semoga....
#ombad #tasawuf

21 July 2018

YADRI WA LAA YADRI

Terkait ilmu, Imam al-Ghazali ra. dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin, menukil perkataannya Khalil bin Ahmad ra. yg membagi empat golongan manusia, yaitu:


1. "Rajulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri". 

Orang yang tahu (mengerti) tapi tidak tahu bahwa ia tahu (mengerti). Itulah orang yang Lalai, maka peringatkanlah ia. 

Kaum sufi mengibaratkan orang semacam ini adalah orang yang tertidur. Maka ia harus dibangunkan dan disadarkan akan kelebihannya yang bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain.


2. "Rajulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri". 

Orang yang tidak tahu (mengerti) dan ia tahu bahwa ia tidak tahu (mengerti). Itulah orang yang Sadar Diri, maka ajarkanlah ia. 

Inilah orang bodoh sederhana (jahil basith) yang mudah diobati, yaitu dengan pengajaran dan pendidikan. 


3. "Rajulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri". 

Orang yang tahu (mengerti) dan tahu bahwa ia tahu (mengerti). Itulah orang 'Alim, maka ikutilah ia. 

Orang ini tergolong kaum bijaksana (al-Hukama’), yang harus diikuti dan dimintai pendapat dan wawasannya.


4. "Rajulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri". 

Orang yang tidak tahu (mengerti) dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu (mengerti), itulah orang yang Mati (dungu), maka tinggalkanlah ia.

 

Jadi jenis manusia yg paling buruk adalah "Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri", manusia yg Tidak Tahu (tidak berilmu) dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu. Jenis manusia yg selalu merasa paling mengerti, selalu merasa paling tahu, selalu merasa paling memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. 

 

Orang macam inilah yang disebut “bodoh kuadrat” (Ahmaq), karena selain bodoh juga tidak tahu akan kebodohannya sendiri. Kita bisa bayangkan betapa sulitnya mengobati kebodohan orang seperti itu. Pangkal penyakitnya ialah tidak tahu diri.

Dan repotnya, manusia jenis ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa lebih tahu atau merasa paling tahu. 

Jadi menghadapi tipikal manusia seperti ini, ya biarkan saja. Karena orang yg ilmunya sedikit saja seringkali merasa lebih Pandai, makanya gak usah heran jika orang bodoh pun akan merasa jenius.. :D 


Dari Ali ibn Musa ar-Ridha, Nabi Isa as bersabda :


“Sungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku sembuhkan mereka dengan izin Allah; juga aku sembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra dengan izin Allah; juga aku obati orang-orang mati dan aku hidupkan kembali mereka dengan izin Allah; kemudian aku obati orang dungu namun aku tidak mampu menyembuhkannya..!” 

Maka beliau pun ditanya, “Wahai ruh Allah, siapa orang dungu itu..?”

Beliau menjawab, “Yaitu orang yang kagum kepada pendapatnya sendiri dan dirinya sendiri, yang memandang semua keunggulan ada padanya dan tidak melihat beban (cacat) baginya; yang memastikan semua kebenaran untuk dirinya sendiri. Itulah orang-orang dungu yang tidak ada jalan untuk mengobatinya.”

Jadi anggap wajar aja jika pada suatu ketika menemukan tipikal manusia seperti itu.

Iya, memang suatu kewajaran, karena dalam setiap hal selalu ada pasangannya. Apalagi jika berhubungan dengan masalah ilmu yg lingkupnya tak terbatas, baik dari sisi Dzahir (nampak, jelas) maupun dari sisi Khafi (samar, tersembunyi). 

Hal ini pun diterangkan Ibn Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa, bahwa para ulama pun mengklasifikasikan syariat Islam menjadi dua, yaitu: Dzahir (nampak, jelas) dan Khafi (samar, tersembunyi).

Salahkah mereka..? Tidak sich, tidak salah.. :D..  walau bikin enek.

Imam Abu Hanifah ra. pun mengatakan,

"Tidak ada udzur bagi orang yg jahil (bodoh, tidak tahu) dalam hal Ma’rifatullah (mengenal Allah). Karena mengenal Rabb serta mengesakan-Nya adalah kewajiban setiap hamba. Adapun dalam kewajiban² (yg lain), maka orang yg bodoh/jahil atau belum sampai ilmu kepadanya dianggap belum tegak hujjah atasnya."

**

Abu ‘Abd ar-Rahman Al-Khalil ibn Ahmad ibn ‘Amr ibn Tamim Al-Farahidi Al-Azdi lahir di Basrah pada tahun 100 H dan tinggal di sana hingga wafat tahun 170 H, atau tahun 175 H menurut sebagian pendapat. Ayah beliau adalah orang yg pertama kali menggunakan nama Ahmad setelah Rasulullah SAW.

Khalil bin Ahmad, sejak kecil mengikuti kajian-kajian ilmu mulai dari hadits, fiqih, dan juga bahasa. Gurunya yg paling berpengaruh adalah ‘Isa ibn ‘Amr dan Abu ‘Amr ibn al-’Ala’.

Semoga...
#ombad #tasawuf

02 July 2018

TIDAK TAHU DIRI

Orang Berilmu itu akan paham terhadap dirinya, baik kekurangannya atau kelebihannya. Jika ia sudah memahami dirinya, maka ia akan TAHU DIRI.

Jadi, jika ada orang yg menyepelekan keilmuan seorang Mufassir (seperti Pak Quraisy Shihab), atau seorang Ulama dengan ribuan santri, artinya orang tersebut tidak paham ilmu Tafsir atau ilmu-ilmu lainnya. Ia pun menjadi tidak tahu diri dalam bidang Tafsir dan ilmu-ilmu lainnya. Kenapa..?

Ya iya lah, orang yg tidak menghargai ilmu itu biasanya adalah orang yg tidak berilmu. Bahasa sunda na mah, "teu kataékan".. atau "tidak terjangkau" oleh otaknya.

Dan mereka yg seperti itu, sesuai dengan pepatah Sunda Kuno,

"Birds of a feather flock together."

Kurang lebih artinya : "Manuk Blekok ngumpulnya sama manuk Blekok lagi.." .. mereka pun akan berkumpul dan se-ide dengan yg sejenisnya.. lalu "bersepakat" untuk menyerang dan menjatuhkan, tanpa dasar ilmu.. ya itu, karena gak paham kekurangan dirinya.. atau kasarnya, Tidak Tahu Diri... :D

Jikalau ketahuan salah pun, mereka akan pura-pura lupa, amnesia, ataupun medsos nya ada yg ngebajak.. jurus baku dalam ngelesnya akan selalu seperti itu.

:D 
Semoga....
#ombad

07 June 2018

BERAKAL ATAU JAHIL ?

Silahkan pilih mau jadi orang yg BERAKAL atau orang yg JAHIL.

Orang yg BERAKAL akan mencintai ilmu, di manapun dan dari siapapun, dan juga selalu mengambil Hikmahnya. Sebaliknya, orang yg JAHIL, mencintai pengetahuannya sendiri, atau hanya mau mengambil ilmu dari kelompoknya sendiri.

Orang yg BERAKAL lebih sibuk dengan kekurangannya sendiri, selalu melihat kelebihan orang lain dan berupaya keras meneladaninya. Sebaliknya orang yg JAHIL, lebih sibuk dengan kekurangan orang lain, bangga dengan kelebihan dirinya dan selalu dengki terhadap kelebihan orang lain.

Jadi, orang yg BERAKAL, karena akalnya, ia akan selalu open mind, merasa masih kurang dan bodoh, sehingga terbukalah pintu Tawadhu. Sebaliknya, orang yg JAHIL, karena kejahilannya, ia menutup hati dan pikirannya (mind), merasa sudah lebih dan pintar, sehingga terbukalah pintu Takabur.

Rasulullah SAW bersabda :

وعن عِلمِهِ ماذا عَمِلَ فيهِ

"Dan tentang ilmunya, apakah yang sudah dia amalkan ?" (HR. al-Tirmidzi dan Ibn Hibban)

Padahal Nur Allah itu tetap memancar, hanya saja, si receivernya (yaitu hati/qalbu) ada yg "tertutup" dan "ditutup".. dan sebaliknya ada yg "terbuka" dan "dibuka"..

لا يزال العالم جاهلاً بما علم حتى يعمل به, فإذا عمل به كان عالما

‘Seorang Alim itu masih dianggap jahil (bodoh) apabila dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya maka barulah dia menjadi seorang yang benar-benar Alim." (Iqtidha' al-'ilm al-'Amal, Khatib al-Baghdadi)

Semoga...
#ombad #ramadhan

04 May 2018

TAWADHU

Ilmu itu aneh, meskipun makin bertambah maka akan semakin banyak juga pertanyaannya, dalam arti semakin menyadari bahwa makin banyak yang belum diketahui. Kenapa..?

Karena Pengetahuan itu seperti sebuah pulau dalam samudera ketidak-tahuan yang tak terbatas.

Artinya semakin berilmu harusnya makin rendah hati, bukan sebaliknya, makin sombong.

Itulah kenapa kualitas tawadhu nya seseorang seringkali berbanding lurus dengan kualitas ilmunya. Ketawadhuan seseorang yg mengetahui satu atau dua hal tentunya akan berbeda dengan ketawadhuan seorang yang mengetahui sepuluh hal.

“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap Tawadhu dan Kasih Sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.” (Ibn Qayyim ra.)

Dan semua ini akan menjadi Petunjuk jika "dibatasi" dan "diarahkan" ke dalam diri, untuk menggali diri, memahami fitrah diri, dan berupaya menemukan jati diri.

Semoga..
#ombad #tasawuf

03 April 2018

TENTANG RUH

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs. Al-Isra : 85)

Kadangkala bagi saya, terjemahan (menurut Departemen Agama) ayat ini bagai buah simalakama.

Analogi :

Mobilnya si A mogok gara-gara baterai buatan Cikarang nya lemah/jelek. Ketika ditanya sama si B, "Kenapa mobilnya..?"

si A menjawab, "Mobil ini mogok gara-gara baterai Cikarang."

si B pun menjawab, "Baterai urusan Cikarang, jangan diurusin..!"

Akhirnya, mobilpun tetap mogok karena tidak ada yang mengurus baterai.

Jawaban yang tepat menurut saya adalah, "Saya bukan ahlinya".

Bagaimana, jika seseorang yang "sakit" ruhnya tetap dibiarkan, karena pemahaman terhadap terjemahan (Dep. Agama) tersebut.

Bagaimana kalau terjemahan (saya) jadi begini :

"Dan benar-benar Kuberikan ILMU TENTANG RUH kepadamu dalam kadar yang sedikit."

Ilmu "yang sedikit" ini tentunya menurut kadar/ukuran Allah.

Ada masukan, bagaimana konsep/makna ayat tersebut menurut balaghah ?


Semoga...
#ombad #tasawuf

14 March 2018

TENTANG ILMU

Seorang teman bertanya:

Om, apakah Allah SWT itu membeda-bedakan nilai suatu ilmu atau tidak..? Maksud sy, apakah di mata Allah itu ilmu agama islam diberi pahala atau keutamaan lebih banyak daripada ilmu-ilmu lain seperti sains dan teknologi..?

Apakah seorang hafidz Qur'an atau ahli tafsir Qur'an lebih mulia daripada teknokrat atau saintis..?

Atau Allah lebih melihat nilai ilmu berdasarkan seberapa besar manfaatnya bagi orang lain di sekitarnya dan alam semesta..?

**

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita harus paham dulu bahwa ILMU yg dimaksud adalah semua disiplin ilmu, tidak hanya ilmu agama saja. Begitupun, makna ULAMA (jamak dari 'ALIM, dari kata 'Alima/telah mengetahui) yg dimaksud itu adalah ahli ilmu apapun (yg bermanfaat bagi kehidupan), jangan dipersempit dengan "ahli ilmu agama" saja. Jadi jangan mempersempit makna semua disiplin ilmu menjadi ilmu agama saja.

Punya keahlian dalam bidang ilmu apapun akan membuat manusia lebih utama dan berharga (Derajat), karena keutamaan manusia dari makhluk Allah lainnya itu terletak pada ilmunya. Allah bahkan menyuruh para malaikat agar sujud kepada Nabi Adam as karena kelebihan ilmu yg dimilikinya. Secara tersirat Quran mengatakan bahwa Allah mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama sehingga Adam mencapai predikat Shiddiq (QS. 2:31). Ingat ya, predikat Shiddiq...!

"Allah akan meninggikan orang-orang yg beriman diantaramu dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa Derajat." (QS. Al-Mujaadilah: 11)

Rasulullah SAW bersabda,

" فضلُ العالم على العابد كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب"

"Keutamaan orang 'Alim atas hamba (lainnya) adalah seperti kelebihan bulan purnama atas bintang-bintang." (HR. Abu Daud, Turmudzi, Nasa'i)

Ayat yg sering dijadikan andalan oleh para ustadz (agar disebut sebagai ulama), adalah,

“Sesungguhnya yg paling takut kepada Allah diantara hamba-Nya adalah Ulama." (QS. Fathir: 28)

Ayat di atas harusnya dimaknai, karena orang tersebut berilmu makanya ia memahami dan sangat mengenal ('Arif) akan kebesaran dan keagungan Allah, sehingga menjadi paling takut kepada-Nya. Dan ayat di atas pun "ulama" itu hanya salah satunya, masih banyak yg lain. Buktinya kan banyak yg mendapat status "ulama" di masyarakat, tetapi ternyata tidak takut kepada Allah, semisal melakukan korupsi, dsb.

Terus, apakah seorang hafidz Qur'an atau ahli tafsir Qur'an lebih mulia daripada teknokrat atau saintis..?

Menurut sy, TIDAK. Sekali lagi, Tidak. Ibnu Muljam aja seorang hafidz. Kaum Khawarij aja banyak yg hafidz Quran. Harusnya dipahami bahwa ilmu itu hanya alat, suatu alat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ini artinya si ilmunya harus menjadi Hidayah, karena banyak juga yg berilmu tapi tidak menjadi hidayah, malah jadi laknat buat dirinya, contohnya, sekolah tinggi-tinggi malah jadi koruptor. Jadi hidayah dan Berkah dari ilmu itu esensinya adalah sebagai Petunjuk untuk meningkatkan keimanan (lihat QS. 22:54, 3:7, 35:28).

Jadi lewat manapun kita berjalan, asalkan menuju peningkatan kualitas diri dan keimanan, itu yg dinilai Allah sebagai Taqwa.

Terus, apakah Allah lebih melihat nilai ilmu berdasarkan seberapa besar manfaatnya bagi orang lain di sekitarnya dan alam semesta..?

BETUL. Lihat dan fokuskan ke huruf kapital dari Hadist ini :

“Barangsiapa memberikan petunjuk KEBAIKAN maka baginya akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yg diterima oleh orang yg mengikutinya dan tidak berkurang sedikit pun hal itu dari ganjaran orang tersebut.” (HR. Muslim).

"Jika anak Adam telah meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal: Ilmu yg BERMANFAAT, sedekah jariyah, anak SOLEH yg mendoakan kedua orang tuanya." (HR. Muslim)

Dan yg terakhir, pahami Hadist di bawah ini,

"Barangsiapa yg dikehendaki oleh Allah untuk diberi KEBAIKAN maka orang itu lalu MEMPERDALAM agama (Islam)." (HR. Bukhari - Muslim).

Secara tersirat Hadist ini menyuruh kita untuk bisa mengintegrasikan ilmu apapun (yg awalnya kita pelajari dan kuasai) itu dengan agama, sehingga lebih memahami dan bisa mengamalkan aturan-aturan agama dengan kepahaman. Amal ilmiah, ilmu amaliah. Silakan cari Hadist lebih besarnya nilai ibadah orang berilmu dibandingkan dengan ibadah tanpa ilmu.

Jadi akan lebih baik jika bisa menguasai beberapa disiplin ilmu dan bisa mengintegrasikannya dengan ilmu agama. Integrasi untuk memudahkan menuju Akhlaqul karimah, karena salah satu parameter akhlaqul karimah itu adalah "pandangan yg luas". Artinya, akan lebih bagus jika menjadi Agamawan yg saintis dan berakhlaq, ataupun menjadi Saintis yg agamis dan berakhlaq. Kenapa..?

Karena Agama itu Akhlaq.


Semoga....
#ombad #tasawuf

01 March 2018

GHIRAH TANPA ILMU

Apa yg menyebabkan seseorang bisa menganggap para pembuat hoax, fitnah dan kebohongan itu sebagai Pejuang Agama..? Karena GHIRAH TANPA ILMU.

Satu sisi sy merasa lucu, dan di sisi lain merasa ngenes.. Sy tidak terlalu mempersoalkan para pembuat hoax nya, karena Setan Iblis mah seumur-umur juga akan ada dan tersedia, meski berbentuk manusia.

Yang jadi perhatian sy adalah masalah Ghirah dari orang-orang yg merasa punya "ghirah" Islam tersebut. Banyak yg ikut-ikutan dengan alasan "ghirah" demi agamanya. Padahal yg kayak gitu mah bukan Ghirah tetapi "Nafsu berjubah Ghirah". Kenapa..?

Karena Nafsu identik dengan hal-hal kotor, sulit untuk disaring kebersihannya dan "kesucian" nya, serta bisa mengakibatkan makin berkembang hal-hal buruk, seperti : kebencian, permusuhan, pertengkaran, kekacauan, dsb.

Sedangkan Ghirah identik dengan hal-hal suci dan berkah sehingga semakin menumbuh-kembangkan ilmu, pemahaman dan keyakinan seseorang dalam agamanya.

Dan ilmu itu berbanding terbalik dengan ego (emosi), dimana semakin berilmu seseorang maka semakin mudah orang tersebut menahan/mengontrol ego/emosinya. Semakin tidak mudah marah, apalagi sampai teriak-teriak "bunuh" meski sambil bertakbir. Jadi wajar saja jika semakin membuat stigma bahwa Islam itu beringas dan garang, bukan lembut dan kasih sayang.

Ghirah yg merupakan "semangat cinta agama" pun bisa berubah jadi "ghirah" yg obsesif kompulsif penuh nafsu kemarahan dan kebencian, dan akhirnya bisa merusak diri sendiri serta tatanan umum, bahkan meluluh-lantakkan suatu negara dan bangsa.

Dan bukan termasuk kategori Ghirah jika menimbulkan kerusakan dan kekejian.


“Ketika qalbu bertindak sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi, maka ia menjadi dekat kepada Rabb-nya. Dan, ketika ia telah dekat, maka ia akan memperoleh pengetahuan. Kini qalbu dapat membedakan mana yg benar-benar menjadi milik-Nya dan apa yg dituntut darinya; apa yg menjadi milik Allah dan apa yg menjadi milik selain-Nya; apa yg termasuk Kebenaran (haqq) dan apa yg termasuk Kebatilan. Sebab, seorang Mukmin dianugerahi cahaya yg dengannya dia bisa melihat, demikian pula halnya dengan sang Pejuang Kebenaran yg dekat dengan Allah, ash-Shiddîq al-Muqarrab. Orang Mukmin memiliki cahaya yang dengannya dia bisa melihat, dan itulah sebabnya Nabi SAW memperingatkan kita agar berhati-hati terhadap firasat orang Mukmin." (Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, kitab Jala Al-Khatir)

Mudah-mudahan bisa "menggali" esensi yg tersembunyi dalam ayat ini :

"Hai orang-orang yg beriman, janganlah kamu Shalat, sedang kamu dalam Keadaan Mabuk, sehingga kamu mengerti apa yg kamu ucapkan." (QS. An-Nisa: 43)


"Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yg banyak bersumpah lagi hina, yg banyak mencela, yg kian kemari menghambur fitnah..." (QS. Al-Qalam: 10-11)


Semoga...
#ombad #tasawuf

27 February 2018

BERKEMBANG SEIRING RUANG DAN WAKTU

Sewaktu umur anak 5 thn.

"Pak, Gusti Allah itu seperti apa..?"

"Sangat besar."

"Ada di mana..?"

"Di atas, di langit.."

"Jauh ya Pak..?"

"Iya.."

**

Sewaktu umur anak 10 thn.

"Pak, Gusti Allah itu sebesar apa..?"

"Ya lebih besar dari yg bisa kamu bayangkan.."

"Ada di langit..?"

"Iya, di langit, di 'arasy."

"Arasy itu apa..?"

"Tempatnya Allah.."

**

Sewaktu umur anak 15 thn.

"Pak, kalau Allah di atas langit, terus di dunia gak ada Allah donk..?"

"Ya tetap ada.."

"Kenapa..?"

"Kan ada di mana-mana."

"Kok bisa ada di mana-mana..?"

"Karena saking besarnya.."

**

Ketika anak sedang kuliah.

"Pak, sy bisa memahami jika Gusti Allah ada di mana-mana karena memang dimensi alam itu paralel, dan "di atas cahaya" itu kondisi/dimensinya jadi tanpa ruang dan tanpa waktu."

"Iya, memang begitu."

"Kenapa disebut di atas langit..?"

"Bentuk penghormatan."

"Maksudnya..?"

"Supaya kesadaran dan iman kita diolah menjadi lebih tinggi, dan kita tetap menyadari bahwa manusia sebagai hamba-Nya itu selalu lebih rendah."

**

Ketika anak belajar tasawuf.

"Pak, maksudnya apa, Gusti Allah lebih dekat dari urat leher..?"

"Karena Allah berada di hati yg paling dalam dan lebih dekat dari dirimu sendiri, lebih dekat dari yg bisa kamu bayangkan dan rasakan tentang dirimu."

Semoga....
#ombad #tasawuf

26 February 2018

LUAS PANGKAL MODERAT

Ada yg bertanya,

Kenapa dalam hal urusan agama, yg tidak bersikap Moderat itu kebanyakan tidak punya latar belakang santri/pesantren...?

Menurut sy,

Bukan masalah latar belakang santri atau pesantrennya, tetapi lebih pemahaman dan upaya untuk memahaminya. Apakah pemahamannya "diarahkan" untuk menyempit atau meluas.

Misalnya dalam tataran Fiqih, apakah keukeuh dalam satu manhaj/aliran saja, atau ia tertarik mempelajari ilmu (sebagai pembanding) dari manhaj lain..? Apakah mau belajar Perbandingan madzhab..? Apakah mau "meluaskan" lagi sampai Perbandingan agama..?

Dan suatu kewajaran, jika masih dalam tataran Fiqih, akan selalu "melihat" hitam putih. Kalau tidak hitam, ya putih. Kalau tidak putih, ya hitam.

Tetapi jika dari awal dibekali kaidah dasar ilmu tata bahasa (nahwu, shorof, dsb), maka akan semakin mudah untuk mengkaji ilmu (baca: mengkaji kekurangan dirinya), sehingga peluang pemahamannya menjadi lebih luas.

Jika dari awal sudah memahami kaidah Ushul Fiqh, maka akan semakin "moderat", karena semakin paham kenapa aturan hukumnya seperti itu, bagaimana aturan hukum tersebut dibuat dan kenapa harus diaktualisasikan. Jadi substansinya bisa dipahami dan bukan sekedar sebagai "pemakai" saja. Tentu akan beda jika sekedar makan soto Bandung saja, dibanding dengan bisa bikin berbagai soto dan paham rasa soto daerah lainnya.

Begitupun, akan semakin "moderat" lagi jika sudah mempelajari Tasawuf, apalagi mengalami fenomena/pengalaman batin. Karena lewat pengalaman-pengalaman batiniah ini, kesadaran diri akan makin diarahkan untuk semakin menggali diri, introspeksi, taubat terus-menerus, sampai akhirnya mengerti, memahami dan merasakan bahwa diri kita memang lemah dan sedemikian kecilnya, sehingga jadi semakin malu jika tidak sesuai dengan "akhlak Allah" yaitu mendahulukan Rahmat-Nya.

Jadi boro-boro mau galak, ketika akan galak pun seperti "si galak" nya mengarah ke diri sendiri, jadi memarahi diri sendiri. Malu kan..?

Dan ada suatu "pengalaman batin" untuk menanamkan "open mind & heart" dan "positive thinking", sehingga selanjutnya selalu berusaha memadukan kedua sifat ini. Dan jika kedua sifat ini sudah terpadu (dan embedded), maka segala sesuatu yg terlihat akan menjadi ilmu untuk "menggali diri". Ada "kebenaran" di manapun.

Dan "perjalanan" selanjutnya lebih banyak berkutat dalam "memperbaiki diri" dan "mengenali diri" sebelum mati.

Dan selalu ada Allah di dalam dan dibalik apapun.


Semoga....
#ombad #tasawuf

24 February 2018

HAI'ATIL MAKNUN

Sahabat Abu Hurairah ra. berkata:

"Aku menerima sekantung ilmu dari Rasulullah. Separuh kantung aku bagikan kepada kamu semua dan separuhnya lagi aku simpan buat aku sendiri, karena jika yg separuh lagi itu aku bagikan juga, niscaya kalian akan mengkafirkanku dan menggantungku."

"Aku telah hafal dari Rasulullah dua macam ilmu, pertama ialah ilmu yg aku dianjurkan untuk menyebarluaskan kepada sekalian manusia yaitu Ilmu Syariat. Dan yg kedua ialah ilmu yg aku tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan kepada manusia yaitu Ilmu yg seperti 'Hai’atil Maknun'. Maka apabila ilmu ini aku sebarluaskan niscaya engkau sekalian memotong leherku --engkau menghalalkan darahku--." (HR. Thabrani)

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yg diumpamakan seperti perhiasan yg indah (Hai'atil Maknun) dan selalu tersimpan yg tidak ada seorangpun mengetahui kecuali para Ulama Allah. Ketika mereka menerangkannya maka tidak ada yg mengingkari kecuali orang-orang yg biasa Lupa/lalai --tidak berdzikir kepada Allah--." (HR. Abu Abdir Rahman As-Salami, dari Abu Hurairah ra.)

Rasulullah SAW bersabda:

"Ada ilmu yang bagaikan mutiara di dalam kerang."

Ilmu yg hanya ulama-ulama khusus (Aulia Allah) yg mengetahuinya, karena diberi oleh Allah SWT. Kalau mereka membicarakannya, maka akan banyak yg MENENTANGNYA.

Seorang Sahabat Rasul saja tidak diizinkan untuk menyampaikannya kepada umum, karena memang "rahasia", sehingga harus mendapat izin dari Rasul dulu. "Sanad" ilmu ini diberikan pada para Aulia Allah secara berantai sampai sekarang.


Semoga....
#ombad #tasawuf

18 February 2018

EMPAT TAHAP IQRA

Ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertama kalinya di Gua Hira, malak Jibril as. masuk ke dalam gua menemuinya, dan berkata,

"IQRA (BACALAH)...!"

Rasul menjawab, "Aku bukanlah orang yg pandai membaca."

Maka Jibril memegang dan mendekapnya sehingga Rasul benar-benar kepayahan, lalu melepaskannya, dan berkata lagi,

"BACALAH...!"

Rasul menjawab, "Aku bukanlah orang yg pandai membaca."

Jibril kembali mendekap untuk kedua kalinya hingga Rasul benar-benar kepayahan, lalu melepaskannya, dan berkata lagi,

"BACALAH...!"

Rasul menjawab, "Aku bukanlah orang yg pandai membaca."

Jibril kembali mendekap untuk ketiga kalinya hingga Rasul benar-benar kepayahan, lalu melepaskannya, dan berkata:

"BACALAH dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1)

Ada empat kali suruhan "BACALAH" atau IQRA. Menurut kitab-kitab tafsir tasawuf, hal ini mengandung makna:

- Iqra Pertama, maknanya : HOW TO READ, hanya memakai IQ saja.

- Iqra Kedua, maknanya: HOW TO LEARN, hanya menggunakan IQ saja.

- Iqra Ketiga, maknanya: HOW TO UNDERSTAND, melibatkan IQ dan EQ.

- Iqra Keempat, maknanya: HOW TO ELEVATE, dengan memadukan IQ, EQ dan SQ. Aspek kesadaran.

Jadi prosesnya,

[Read] --> [Learn] --> [Understand] --> [Elevate]

Apa yg dibaca?
Ya semuanya harus dibaca, bukan hanya al-Quran. Segala sesuatu selain Allah itu adalah "Ayat", diri kita adalah "Ayat", dan seluruh alam semesta inipun adalah "Ayat".

Kalau melihat fenomena sekarang dimana faham radikal dan intoleransi makin meluas, bisa dipastikan baru mencapai Iqra tahap kedua, karena ilmunya baru di otak saja dan tidak menembus rasa/hati (Iqra tahap ketiga). Apalagi untuk mencapai Iqra tahap keempat yg melibatkan spiritualitas, cinta dan kasih sayang yg sangat dalam. Rahmatal lil 'alamin. Sebagaimana Allah melimpahkan Rahmat-Nya bagi semua makhluk hidup di alam ini.

Jadi, "Bacalah" segala sesuatu di alam ini dengan menggunakan seluruh potensi diri sampai bisa meningkatkan kesadaran diri, atau dengan kata lain, mengalami transformasi kesadaran ke tingkat yg lebih tinggi, baik sisi lahir maupun batin.

Dan selaraskan dengan makna hakiki dari Iqra yaitu "menghimpun" (qara'a), dengan cara: Mengenali, Mengidentifikasi, Mengklasifikasi, Membandingkan, Menganalisa, Menyimpulkan, dan Membuktikan.

Semoga....
#ombad #tasawuf

10 February 2018

ILMU ITU JODOH

Kenapa disebut Jodoh?
Karena ilmu itu titipan-Nya. Artinya keluasan ilmu akan berbanding lurus dengan keluasan tempat untuk dititipinya, yaitu Hati.

"Air akan mengalir ke tempat yg lebih rendah, dan semakin tempatnya rendah semakin air mendatangi."

Dan "Jodoh" ini yg mendorong hati seseorang agar "memaksa" seluruh potensinya untuk mencari sekuat tenaga. Kadang si "ilmu" itu awalnya mendatangi dari sisi sebaliknya (paradoksial). Misal, ketika sedang belajar ilmu tentang baik dan pahala, yg datang malah yg buruk dan dosa.. Dari benci dulu, baru kemudian cinta... Oohh cintaahh... 😍

Ketika Hati sebagai tempatnya ilmu semakin "terkontak" atau se-frekuensi dengan "sumber ilmu", maka akan semakin merasa haus, lalu makin merasa kurang, makin merasa bodoh. "Merasa kurang" ini merupakan tanda dari Keluasan Hati. Ada hubungan secara tidak langsung, kenapa ilmu Tasawuf itu dimulai dari Taubat, seperti halnya kitab-kitab ilmu Fiqh yg selalu dimulai dengan bab Thaharah. Meluaskan hati itu harus dimulai dengan membersihkan dan mengosongkannya dari kotoran dan penyakit hati yg memenuhi ruang-ruangnya.

Otak/pikiran bukan tempat ilmu tetapi sebagai "alat untuk menjelaskan" ilmu. Analoginya: ada rasa, napas, suara, lidah dan mulut. "Rasa" ini hikmah, "napas" ini ilmu, "suara" ini akal, "lidah dan mulut" ini otak/pikiran. Pening ya...? Cammaa donk eaa... 😨
 
"Kekurangan" (baca: "kerendahan") ini yg menjadi titik tolak kenikmatan ketika bertemu atau berdiskusi dengan ilmu-ilmu yg lain (guru-guru yg lain). Seperti itulah Nikmat Ilmu, kenikmatan ketika berenang dan menyelam dalam samudera tak bertepi.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa yg dikehendaki kebaikan baginya maka Allah akan memahamkan baginya agama." (HR. Bukhari Muslim)

Satu lagi...
Cie.... cie... Itu yg masih ngejombloh... betah ni yee...!


Semoga....
#ombad #tasawuf