Showing posts with label Obituari. Show all posts
Showing posts with label Obituari. Show all posts

16 May 2019

KHADIJA, RAMADHAN, TAHUN KESEDIHAN

Pada bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Istri tercinta, Khadija rah. sakit menjelang ajal.

Khadija : “Aku memohon maaf kepadamu, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.”

Rasulullah : "Jauh dari itu ya Khadija, engkau telah mendukung dakwah Islam sepenuhnya.”

Kemudian Khadija memanggil Fatima Az-Zahra dan berbisik: “Fatima putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar ayahmu memberikan sorbannya yg biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.”

Mendengar itu Rasulullah SAW berkata:
“Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.”

Ummul Mukminin, Khadija pun menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan suami tercinta, Muhammad Rasulullah SAW. Didekapnya istrinya itu dengan perasaan pilu yg teramat sangat, tumpahlah air mata Rasulullah dan semua orang yg ada di situ.

Rasulullah berkata di dekat jasad istrinya :

"Wahai Khadija istriku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban..?”

Rasulullah semakin sedih mengenang istrinya semasa hidup. Seluruh kekayaan istrinya diserahkan kepadanya untuk perjuangan Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadija. Tetapi ketika Khadija hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yg bisa digunakan untuk menutupi jasadnya, bahkan pakaian yg digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yg sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Rasulullah kemudian berdoa,

“Ya Allah, Ya Ilahi Robbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijaku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam, mempercayaiku pada ketika orang lain menentangku, menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku,  menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijaku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku..?”

Mekkah, 11 Ramadhan tahun ke-10 kenabian.
Istri tercinta, Khadija wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Tahun itu pun disebut sebagai 'Amul Huzni (Tahun Kesedihan) dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW.

**
 
Suatu hari..
Rasulullah pulang dari berdakwah. Khadija menyambut dan hendak berdiri di depan pintu tapi Rasulullah meminta agar istrinya tetap di tempatnya.

Saat itu Khadija sedang menyusui Fatima yg masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya sehingga ketika Fatima menyusu, bukan air susu yg keluar akan tetapi darah. Darahlah yg masuk dalam mulut Fatima.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatima dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yg lelah berdakwah, menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan istrinya dan tertidur.

Khadija pun membelai kepala suaminya penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadija menetes di pipi suaminya dan membuatnya terjaga.

“Wahai Khadija, mengapa engkau menangis..? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad..?” tanya Rasulullah dengan lembut.

"Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadija bersuamikan aku, Muhammad..?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku. Wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan. Dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku adalah bangsawan,  kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai, namun engkau tidak memperoleh rakit ataupun jembatan maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam.." kata Khadija.

*
Rasulullah SAW bersabda,

"Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran, Fatima binti Muhammad SAW, Khadija binti Khawailid, dan Asiyah." (HR. Hakim - Muslim)

Allaahumma sholli wa sallim 'ala sayyidina Muhammmad wa 'ala aali sayyidina Muhammad.

Semoga..
#ombad #sejarah #khadija #wafat

05 March 2018

IN MEMORIAM, EMAK

SELAMAT JALAN BUNDA...
SEMOGA ALLAH MENERIMAMU DENGAN CINTA.

Kematian adalah pasti. Kita tak akan mampu menghindar. Manusia hanyalah segelintir debu. Ia memiliki nilai dan kebesaran tergantung pada amal ibadahnya di dunia. Dan, aset terbesarnya adalah ilmu yang bermanfaat, amal jariah dan doa anak shaleh yang mendoakannya.

Kemarin seorang sahabat dan guru saya, Om Bad atau Badru Salam, berkunjung ke rumah saya. Kami habiskan waktu untuk diskusi lebih dari 12 jam. Ini adalah kesempatan berharga saya untuk berdiskusi dengan orang yang saya kagumi dalam dunia tasawuf. Karena, meskipun saya mempelajari tasawuf selama lebih dari 20 tahun, dari mulai madrasah, pesantren, IAIN dan ISTAC di Kuala Lumpur, saya masih merasa kering spiritual. Dan, Om Bad, dengan gaya yang ceplas-ceplos, mampu menjelaskan tema-tema penting dalam tasawuf dengan begitu ringan dan mudah. Padahal dia tak memiliki background akademik seperti saya. Dia adalah seorang insinyur alumni ITB yang memilih jalan tasawuf, sangat jauh dengan apa yang telah saya capai.

Malam minggu pun kami habiskan semalam suntuk. Dan anehnya, tema penting yang kami bahas adalah kematian. Tidak ada ketidaksengajaan bagi Tuhan. Semua ketetapan Allah pasti terjadi. Pembahasan kita tentang Misteri Kiamat, Syafaat dan Perjalanan Ruh yang pernah dikupas Al-Ghazali, Ibn Sulaiman al-Hanafi dan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menghiasi pertemuan kita. Setiap kami bedah beberapa tema dalam Sirrul Asrar, namun selalu saja tema yang kita bahas kembali kepada proses kematian, sakaratul maut, alam kubur dan negeri akhirat lainnya.

Berkali-kali, saya berusaha mengubah topik pembicaraan, namun berkali-kali pula, sahabatku, Om Bad, selalu terjebak pada penjelasan tentang kematian. Bahkan, pada saat saya lelah untuk melayaninya berdiskusi, tiba-tiba ibu mertua saya nimbrung untuk bertanya tentang apa itu kematian kepada tamu saya ini.

Waktu terus berjalan hingga obrolan tentang alam akhirat begitu sangat terasa dekat dan sangat dekat. Badru Salam pun menceritakan detik-detik kematian ayahnya, yang mengharukan, mengingatkannya untuk terus mengirim shalawat Nabi.

Sore, malam, siang dan pagi, kami diskusi sesuatu yang berkaitan dengan kematian. Hingga terakhir saya mengantarkan Om Bad untuk kembali ke Bandung, kita masih berbicara tentang sakaratul maut.

Ternyata, pembicaraan kita memang dekat dan sangat dekat dengan apa yang terjadi 8 jam kemudian di Sukawening, Garut. Ibunda Om Bad, yakni Hj. Toto Rowati meninggal dunia, Senin jam 5 pagi tadi.

Dan, sebenarnya tanpa sadar kami mengupas hadist ini: Ibn Umar ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

Jika salah seorang meninggal maka tempat kembalinya di akhirat akan diperlihatkan kepadanya di waktu pagi dan petang. Jika ia termasuk calon penghuni surga, diperlihatkan kepadanya para penghuni surga; jika ia tergolong penghuni neraka, akan diperlihatkan kepadanya ahli neraka. Lalu, dikatakan kepadanya,

Inilah tempat kembalimu..!”

Begitulah seterusnya sampai Allah membangkitkanmu di Hari Kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadahnya dan mengampuni semua dosa dan kesalahannya. Semoga menempatkannya dalam golongan orang-orang yang shaleh dan shalehah.
Semoga Ibunda Hj. Toto Rowati selalu mendapat kiriman doa, shalawat Nabi dan Al-Fatihah dari anak-anaknya yang ditinggalkannya.

Terima kasih ya Allah atas pertemuan berharga ini. Saya juga sangat berterima kasih kepadamu, Ibu Hj. Toto Rowati, sebab tanpamu saya tak akan pernah mengenal Om Bad yang saya kagumi.
Saya meminta para sahabat, keluarga dan teman yang mengenal di forum ini, untuk ikut berdoa untuk ibunda dari sahabat kita..

Al-Fatihah...

(Jakarta, 04 Maret 2013)
(Halim Ambiya, Tasawuf Underground)