Showing posts with label Ulama. Show all posts
Showing posts with label Ulama. Show all posts

30 April 2019

ULAMA VS SELEBRITIS

Jadi "ulama" di Indonesia itu kok kayak mudah sekali, berbeda dengan Ulama dulu dimana para ulama dulu itu terkenal karena karya-karya kitabnya.

Sekarang, seseorang bisa dianggap ulama jika bisa ceramah di panggung-panggung meski sambil mencaci-maki. Sedangkan jaman dulu, para ulama lebih fokus ke karya (tulisan, kitab), dimana banyak dari mereka yg menghasilkan kitab-kitab agama, baik dalam bidang fiqh, ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf, dsb.

Sejarah mencatat bahwa dari satu orang ulama saja bisa menghasilkan beberapa kitab bahkan berpuluh-puluh kitab. Kitab-kitab mereka makin memperkaya khazanah keilmuan dalam Islam, masih ada buktinya dan bisa dipelajari sampai sekarang.

Sebagai contoh, salah satu ulama Indonesia, Prof. Quraish Shihab, dimana karyanya lebih dari 60 kitab, diantaranya :

Tafsir Al-Mishbah (15 Volume); Menyingkap Tabir Ilahi Asma al-Husna dalam Perspektif al-Qur'an; Untaian Permata Buat Anakku; Pengantin al-Qur'an; Membumikan al-Qur'an ; Lentera Hati Kisah dan Hikmah Kehidupan; Wawasan al-Qur'an ; Menabur Pesan Ilahi ; Asmâ' al-Husnâ Dalam Perspektif al-Qur'an (4 buku); Dan berpuluh-puluh kitab lainnya.

Begitupun misalnya dengan seorang Ulama dulu (tahun 1000 M) yaitu Imam Ghazali ra., banyak karya-karyanya yg sangat fundamental, seperti :

1). Ihya’ Ulumuddin ; 2). Arba’in Fi Ushuliddin. ; 3). Bidayatul Hidayah. ; 4). Qawa’idul Aqa’id. ; 5). Al-Iqtishad Fil I’tiqad. ; 6). Al-Falasifah. ; 7). Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An-Nafsi. ; 8). Qanun At-Ta’wil. ; 9). Iljamul Awam An Ilmil Kalam. ; 10). Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin. ; 11). Ar-Risalah Al-Laduniyah. ; 12). Misykatul Anwar. ; 13). Al-Mustashfa Min Ilmil Ushul. ; dll.

Menulis itu merupakan tradisi para ulama sejak jaman dulu karena mereka ingin ilmunya menjadi amal jariyah secara abadi meski mereka sudah di akhirat, dan juga karena wasiat dari Rasulullah SAW berikut :

  قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ  ( رواه الطبراني والحاكم )

Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Thabrani dan Hakim)

Apakah "ulama" sekarang ini terlalu sibuk berceramah sehingga ilmunya hanya sampai tenggorokan dan keburu keluar dari mulut..? Ataukah hatinya belum tergerak untuk membuat karya (kitab) selayaknya seorang Ulama..?

Sesuatu yg menggelikan jika sekelompok orang menyebut diri sebagai ulama tapi tidak mencontoh ulama-ulama terdahulu yg banyak mengeluarkan karya berupa kitab-kitab agama untuk memperbanyak pembendaharaan khazanah keilmuan Islam.

Satu hal yg pasti, Hadist di bawah ini menyiratkan bahwa seorang Penceramah (da'i) itu belum tentu seorang Ulama.

Rasulullah SAW bersabda,

"Sungguh, kalian ini berada pada jaman yg Banyak Ulamanya dan sedikit Penceramahnya. Sedangkan jaman setelah kalian adalah jaman yg Banyak Penceramahnya dan Sedikit Ulamanya." (HR. Bukhari, Kitab Adabul Mufrad, dari Abdullah Ibn Mas'ud ra.)

Itulah kenapa saat ini di Indonesia sedang marak :
Selebritis bisa dipanggil Ustad,
sedangkan Kiai bisa dianggap Murtad. 
Baru tahu Islam bisa jadi Panutan,
sedangkan Mufassir bisa dianggap Kafir..

😀
Semoga..
#ombad #tasawuf

09 March 2019

MENYESATKAN UMAT

"Nanti di akhir jaman akan banyak ulama yang membingungkan Umat sehingga Umat bingung memilih mana Ulama Warosatul Anbiya dan mana Ulama Su'u yang menyesatkan Umat." (Imam Syafi'i ra.)
 

Bisa aja ciri-ciri ulama yg menyesatkan umat itu adalah :

1. Penguasaan ilmu tidak dijadikan prioritas, dan yg lebih diprioritaskan adalah pakaian (jubah, sorban), semangat dan sisi emosional, sehingga akhirnya melakukan Pembodohan, mengajarkan Kedunguan serta tidak menjaga Kewarasan kepada umat.

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يبْق عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Telah menceritakan kepada kami Ismaa’il bin Abu Uwais, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Malik, dari Hisyam bin Urwah, dari Ayahnya, dari Abdullaah bin Amr bin Al-Ash, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila tidak tersisa lagi seorang ulama, maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka memberi fatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari)

2. Bahkan ilmu-ilmu agama tingkat dasar (tajwid, nahwu, shorof, dsb) pun tidak dikuasai dengan baik, sehingga sering salah baca ayat Quran, jelek tajwidnya, salah shorof, dan banyak hal lainnya.

"Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir berbicara tentang Kitab Allah (Agama Allah) sedang ia tidak tahu akan ilmu Nahwu." (Imam Mujahid ra.)

3. Kandungan ceramah tidak murni kaidah ilmu (tidak banyak bahas/gali ilmu) tetapi lebih banyak diisi dengan fitnah, marah-marah, caci maki dan menyalahkan.

Imam Bukhari ra. berkata :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي الأَسْوَدِ , قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ , قَالَ : حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ حَصِيرَةَ , قَالَ : حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ , قَالَ : سَمِعْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ , يَقُولُ : ” إِنَّكُمْ فِي زَمَانٍ : كَثِيرٌ فُقَهَاؤُهُ ، قَلِيلٌ خُطَبَاؤُهُ ، قَلِيلٌ سُؤَّالُهُ ، كَثِيرٌ مُعْطُوهُ ، الْعَمَلُ فِيهِ قَائِدٌ لِلْهَوَى ، وَسَيَأْتِي مِنْ بَعْدِكُمْ زَمَانٌ : قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ ، كَثِيرٌ سُؤَّالُهُ ، قَلِيلٌ مُعْطُوهُ ، الْهَوَى فِيهِ قَائِدٌ لِلْعَمَلِ ، اعْلَمُوا أَنَّ حُسْنَ الْهَدْيِ ، فِي آخِرِ الزَّمَانِ ، خَيْرٌ مِنْ بَعْضِ الْعَمَلِ ”

Menceritakan kepada kami Abdullah bin Abul Aswad, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Harits bin Hashirah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Wahb, ia berkata, aku mendengar Ibnu Mas’ud mengatakan ;

Sesungguhnya kalian berada pada zaman yang terdapat banyak ahli ilmu dan sedikit pengkhutbah, sedikit yang bertanya, banyak yang mampu memberi (fatwa), amalan adalah pemimpin hawa nafsu. Dan akan datang setelah kalian suatu zaman yang terdapat sedikit ahli ilmu dan banyak pengkhutbah, banyak yang bertanya, sedikit yang mampu memberi (fatwa), hawa nafsu adalah pemimpin amalan. Ketahuilah, bahwa petunjuk yang baik pada masa akhir zaman itu lebih baik daripada sebagian amalan.” (Al-Adabul Mufrad)

4. Berpikir pendek dan banyak dipengaruhi kepentingan sesaat (politik), sehingga faktor Hawa Nafsu menjadi lebih dominan dalam mengeluarkan fatwa, seperti halnya menetapkan seorang imam shalat yg tidak paham agama, jarang shalat dan tidak bisa ngaji.


Catatan..

الصرف أم العلوم والنحو أبوها

"Shorof adalah ibu dari ilmu-ilmu (agama) dan Nahwu adalah bapaknya."

Semoga..
#ombad

10 July 2018

BALERANTE

Mumpung lagi di kampung. Ketika sedang berdiri di tanah keluarga, sy selalu teringat yg punya tanah ini dulunya (tahun 1920-an). Di tanah ini pernah berdiri sebuah pesantren yg didirikan oleh Ajengan Balerante dan istrinya, yaitu Ibu Hafsah.

Kalau dulu di kampung, terkenalnya dengan nama Ajengan Balerante, dan jarang orang mengetahui namanya yg asli, yaitu KH. Ahmad Masduqi al-Muqri.
Pada thn 1924, KH. Ahmad Masduqi memindahkan pondok pesantrennya ke sebelah selatan kampung, dan diberi nama Ponpes Al-Barokah. Dan pada tahun 1991, cucu Beliau (Ajengan Momod atau KH. Ismail Badruzzaman) merubah nama pesantrennya menjadi Asy-Syafi’iyah.

Ajengan Masduqi Balerante ini begitu terkenal pada masanya, karena kealimannya dalam banyak bidang agama. Keluasan ilmunya ini, karena kecintaan Beliau dalam mencari ilmu bahkan sampai ke Makkah dan Madinah untuk berguru kepada ulama-ulama besar di sana.

Dalam Risalahnya tentang Tajwid Syeikh Muqri diutarakan nama guru-guru beliau, yaitu : Syeikh Masyayikh Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatho, Syeikh al-Muqri Muhammad Minsyawi al-Misri (guru besar qiraat, terutama qiraat Imam Ashim, itu makanya Ahmad Masduqi mendapat gelar al-Qori, yg sangat jarang waktu itu di Indonesia), Syeikh Nahrowi, dsb.

Beberapa Karya Tulisnya:

- Risalah Tajwid Syeikh al-Muqri, diterbitkan oleh percetakan Ali Aidrus, Pasar Senen, Batavia.
- Tafsir al-Qur'an (14 jilid).

KH. Ahmad Masduqi al-Muqri wafat 1935, dan dimakamkan di kompleks Pesantren Balerante Cirebon. Pesantrennya di Sukawening - Garut, diteruskan oleh menantunya, KH. Badruzzaman (muqaddam Tarekat Tijaniyah), lalu oleh cucunya (Ajengan Momod) dan sekarang oleh para cicitnya.


Semoga...
#ombad #ulama

10 April 2018

ULAMA YG SESUAI KEPENTINGANNYA

Kalo melihat fenomena sekarang, makin terbukti nasehat ini :

"Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya Setan..” (Syeikh Abu Yazid Al-Busthami, Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203)

Karena kalo ilmunya tidak jadi Adab dan Akhlak, ya itu dari Setan.. buktinya adalah banyaknya hujatan kepada Ulama yg tidak sejalan dengan kepentingan mereka.. khususnya kepada para ulama NU, dan juga kepada Buya Syafi'i (Muhammadiyah).

Lihat aja buktinya,

Jika ulama NU dekat dengan pendeta, mereka bilang; “Ulama Liberal", tetapi jika "ulama" mereka dekat dengan pendeta, mereka bilang; “Ulama Cinta Damai".

Jika ulama NU dekat dengan Pengusaha, mereka bilang; “Ulama Duniawi", tetapi jika "ulama" mereka dekat dengan Pengusaha, mereka bilang; “Strategi Dakwah".

Jika ulama NU bertemu Penguasa, mereka bilang; “Ulama Suu’ penghamba rezim dzalim", tetapi jika "ulama" mereka bertemu Penguasa, mereka bilang; “Ulama harus berbaik-baik dengan Umaro".

Jadi "ulama" mana yg akan mereka diikuti..? Ya "ulama" yg sesuai kepentingan politik mereka dan bukan karena ilmunya.. kalo gak sesuai dengan kepentingan politiknya pasti akan direndahkan, dihina, dinista, bahkan dikafir-kafirkan.

Jadi yg rendah, hina, nista dan kafir itu siapa..?

Silakan ludahi langit.. :D

Semoga...
#ombad #NU

14 March 2018

TENTANG ILMU

Seorang teman bertanya:

Om, apakah Allah SWT itu membeda-bedakan nilai suatu ilmu atau tidak..? Maksud sy, apakah di mata Allah itu ilmu agama islam diberi pahala atau keutamaan lebih banyak daripada ilmu-ilmu lain seperti sains dan teknologi..?

Apakah seorang hafidz Qur'an atau ahli tafsir Qur'an lebih mulia daripada teknokrat atau saintis..?

Atau Allah lebih melihat nilai ilmu berdasarkan seberapa besar manfaatnya bagi orang lain di sekitarnya dan alam semesta..?

**

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita harus paham dulu bahwa ILMU yg dimaksud adalah semua disiplin ilmu, tidak hanya ilmu agama saja. Begitupun, makna ULAMA (jamak dari 'ALIM, dari kata 'Alima/telah mengetahui) yg dimaksud itu adalah ahli ilmu apapun (yg bermanfaat bagi kehidupan), jangan dipersempit dengan "ahli ilmu agama" saja. Jadi jangan mempersempit makna semua disiplin ilmu menjadi ilmu agama saja.

Punya keahlian dalam bidang ilmu apapun akan membuat manusia lebih utama dan berharga (Derajat), karena keutamaan manusia dari makhluk Allah lainnya itu terletak pada ilmunya. Allah bahkan menyuruh para malaikat agar sujud kepada Nabi Adam as karena kelebihan ilmu yg dimilikinya. Secara tersirat Quran mengatakan bahwa Allah mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama sehingga Adam mencapai predikat Shiddiq (QS. 2:31). Ingat ya, predikat Shiddiq...!

"Allah akan meninggikan orang-orang yg beriman diantaramu dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa Derajat." (QS. Al-Mujaadilah: 11)

Rasulullah SAW bersabda,

" فضلُ العالم على العابد كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب"

"Keutamaan orang 'Alim atas hamba (lainnya) adalah seperti kelebihan bulan purnama atas bintang-bintang." (HR. Abu Daud, Turmudzi, Nasa'i)

Ayat yg sering dijadikan andalan oleh para ustadz (agar disebut sebagai ulama), adalah,

Sesungguhnya yg paling takut kepada Allah diantara hamba-Nya adalah Ulama." (QS. Fathir: 28)

Ayat di atas harusnya dimaknai, karena orang tersebut berilmu makanya ia memahami dan sangat mengenal ('Arif) akan kebesaran dan keagungan Allah, sehingga menjadi paling takut kepada-Nya. Dan ayat di atas pun "ulama" itu hanya salah satunya, masih banyak yg lain. Buktinya kan banyak yg mendapat status "ulama" di masyarakat, tetapi ternyata tidak takut kepada Allah, semisal melakukan korupsi, dsb.

Terus, apakah seorang hafidz Qur'an atau ahli tafsir Qur'an lebih mulia daripada teknokrat atau saintis..?

Menurut sy, TIDAK. Sekali lagi, Tidak. Ibnu Muljam aja seorang hafidz. Kaum Khawarij aja banyak yg hafidz Quran. Harusnya dipahami bahwa ilmu itu hanya alat, suatu alat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ini artinya si ilmunya harus menjadi Hidayah, karena banyak juga yg berilmu tapi tidak menjadi hidayah, malah jadi laknat buat dirinya, contohnya, sekolah tinggi-tinggi malah jadi koruptor. Jadi hidayah dan Berkah dari ilmu itu esensinya adalah sebagai Petunjuk untuk meningkatkan keimanan (lihat QS. 22:54, 3:7, 35:28).

Jadi lewat manapun kita berjalan, asalkan menuju peningkatan kualitas diri dan keimanan, itu yg dinilai Allah sebagai Taqwa.

Terus, apakah Allah lebih melihat nilai ilmu berdasarkan seberapa besar manfaatnya bagi orang lain di sekitarnya dan alam semesta..?

BETUL. Lihat dan fokuskan ke huruf kapital dari Hadist ini :

Barangsiapa memberikan petunjuk KEBAIKAN maka baginya akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yg diterima oleh orang yg mengikutinya dan tidak berkurang sedikit pun hal itu dari ganjaran orang tersebut.” (HR. Muslim).

"Jika anak Adam telah meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal: Ilmu yg BERMANFAAT, sedekah jariyah, anak SOLEH yg mendoakan kedua orang tuanya." (HR. Muslim)

Dan yg terakhir, pahami Hadist di bawah ini,

"Barangsiapa yg dikehendaki oleh Allah untuk diberi KEBAIKAN maka orang itu lalu MEMPERDALAM agama (Islam)." (HR. Bukhari - Muslim).

Secara tersirat Hadist ini menyuruh kita untuk bisa mengintegrasikan ilmu apapun (yg awalnya kita pelajari dan kuasai) itu dengan agama, sehingga lebih memahami dan bisa mengamalkan aturan-aturan agama dengan kepahaman. Amal ilmiah, ilmu amaliah. Silakan cari Hadist lebih besarnya nilai ibadah orang berilmu dibandingkan dengan ibadah tanpa ilmu.

Jadi akan lebih baik jika bisa menguasai beberapa disiplin ilmu dan bisa mengintegrasikannya dengan ilmu agama. Integrasi untuk memudahkan menuju Akhlaqul karimah, karena salah satu parameter akhlaqul karimah itu adalah "pandangan yg luas". Artinya, akan lebih bagus jika menjadi Agamawan yg saintis dan berakhlaq, ataupun menjadi Saintis yg agamis dan berakhlaq. Kenapa..?

Karena Agama itu Akhlaq.


Semoga....
#ombad #tasawuf