Showing posts with label TQN. Show all posts
Showing posts with label TQN. Show all posts

09 July 2018

SYEIKH AHMAD KHOTIB SAMBAS

SANTRI NUSANTARA PASTI NYAMBUNG SILSILAH GURUNYA

SILSILAH NASAB ILMU ULAMA NUSANTARA:

Syeikh Ahmad Khotib Sambas Guru Para Ulama Nusantara

Syeikh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama yang mendirikan perkumpulan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Perkumpulan Tarekat ini merupakan penyatuan dan pengembangan terhadap metode dua Tarekat sufi besar. yakni Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah.

Syekh Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat.

Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.

Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M.

Guru-gurunya:

1. H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.
2. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
3. Syekh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Mekkah)
4. Syekh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Mekkah)
5. Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami
6. Syekh Ahmad al-Marzuqi
7. Syekh Syamsudin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah.

Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air.

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani yg masyhur disebut sayyid ulama hijaz(tuannya ulama makkah)  adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.

Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas.

Syeikh Ahmad Khotib Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainny seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara.

Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Peranan Dan Karyanya

Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini.

Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab FATHUL ARIFIN yang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. Kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.

Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini.

Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.

Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir.

Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa'id al-'Amudi dan Ahmad Ali.

Murid-Muridnya antara lain:

1. Syekh Nawawi Al Bantani
2. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan Madura
3. Syekh Abdul Karim Banten
4. Syekh Tolhah Cirebon

Syekh Nawawi Al Bantani dan Syekh Muhammad Kholil selain berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas juga berguru kepada Syekh Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafii di Masjidil Haram Mekkah.

Sepeninggal Syekh Ahmad Khatib Sambas, Imam Nawawi Al Bantani ditunjuk meneruskan mengajar di Madrasah beliau di Mekkah tapi tidak diberi hak membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Sedangkan Syekh Muhammad Kholil, Syekh Abdul Karim dan Syekh Tolhah diperintahkan pulang ke tanah Jawa dan ditunjuk sebagai Khalifah yang berhak menyebarkan dan membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Murid murid Syekh Ahmad Khatib Sambas diatas adalah guru para Ulama-Ulama Nusantara generasi berikutnya yang dikemudian hari menjadi ulama yang mendirikan pondok pesantren dan biasa dipanggil dan digelari sebagai KYAI, Tuan Guru, Ajengan, dsb.

Sebagai contoh, Syekh Muhammad Kholil Bangkalan Madura mempunyai murid-murid antara lain:

1. KH. Hasyim Asy’ar : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional punya murid Kh chudori magelang punya putra kh abdurrahman chudori guru alfaqir.
2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri.
3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).
4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
5. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah
6. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon.
7. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.
8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia.
9. KH. Zaini Mun’im : Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah.
10. KH. Abdullah Mubarok : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren SURYALAYA, kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis.
11. KH. Asy’ari : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.
12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep.
13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf.
14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.
15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan
16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep.
17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.
18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.
21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat.
22. KH. Abdul Hadi : Lamongan.
23. KH. Zainudin : Nganjuk
24. KH. Maksum : Lasem
25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung
26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo.
27. KH. Munajad : Kertosono
28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang
29. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang
30. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura
31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi
32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura.
33. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso
34. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat
35. KH. Raden Fakih Maskumambang : Gresik
36. KH. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.

Semoga...
#tasawuf #thariqah

15 June 2018

SAKTI

Dulu, sewaktu Abah Anom masih hidup, banyak ikhwan (murid TQN) yg sowan ke Suryalaya untuk mengadu berbagai masalah yg menimpa dirinya, tetapi Abah Anom hanya menjawab:

"Teruskan dzikirmu.."

Kadang banyak yg mengalami fenomena "ketika berdzikir badannya bisa terangkat dari lantai", bahkan sampai melayang-layang di udara (terbang), dan sejak jaman Abah Sepuh pun fenomena seperti ini ya biasa. Tetapi ketika mereka mengadu ke Abah Anom perihal fenomenanya, Abah hanya menjawab:

"Teruskan dzikirmu, karena itu belum sempurna..!"

Memang selalu ada saja diantara ikhwan itu yg menyukai ilmu Kesaktian, Kanuragan ataupun Kadigdayaan, namanya juga manusia.. :D .. Tetapi kepada mereka yg seperti itu, Abah selalu berpesan:

"Letakkan dulu keilmuan yg telah engkau pelajari kemarin dan amalkanlah dzikir Laa ilaaha illaalloh karena dzikir ini ibarat nasi, kalau sudah matang tinggal mencari lauk pauknya." 

Dan ilmu Kesaktian, "keparanormalan", Kedigdayaan ataupun Kanuragan itu hanya merupakan ilmu permainan "anak kecil" saja, paling banter hanya bisa menembus alam jin, tetapi tidak akan bisa melewati alam Malakut, Jabarut apalagi Lahut. :D

Bahkan Karomah pun dalam konteks Kewalian itu hanya tahap awal saja. Meskipun seseorang memiliki kemampuan luar biasa seperti: terbang, tubuh menjadi seratus atau bahkan seribu dalam satu waktu, berjalan di atas air, dsb, belumlah dianggap mencapai kesempurnaan kalau belum berma’rifat kepada Allah.

Dalam kitab Sirrur Asrar (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs.) pun diterangkan bahwa seorang Wali itu adalah orang yg diperkuat dengan Karomah, tetapi mereka tertutup dalam Karomah, mereka tidak diberi izin untuk menjelaskannya, karena menjelaskan rahasia ketuhanan adalah kufur.

Orang-orang yg memiliki Karomah itu "tertutup" dan Karomah itu "haidnya seorang lelaki". Seorang Wali memiliki seribu maqam. Maqam yg pertama adalah Karomah. Orang yg telah menyelesaikan tingkatan Karomah akan naik lagi ke tingkat yg lain, dan jika tersendat (terganggu, tergiur) dalam Karomah, maka tidak akan mampu melanjutkannya.

Jadi memang, Istiqomah itu lebih baik daripada seribu Karomah.

Semoga....
#ombad #tasawuf #karomah

15 March 2018

SANAD DALAM TASAWUF

Sanad adalah mata rantai orang-orang yang membawa sebuah disiplin ilmu (Silsilah ar-Rijâl).

Mata rantai ini terus bersambung satu sama lainnya hingga kepada pembawa awal ilmu-ilmu itu sendiri; yaitu Rasulullah. Integritas sanad dengan ilmu-ilmu Islam tidak dapat terpisahkan. Sanad dengan ilmu-ilmu keislaman laksana paket yang merupakan satu kesatuan. Seluruh disiplin ilmu-ilmu Islam dipastikan memiliki sanad.

Dan Sanad inilah yang menjamin keberlangsungan dan kemurnian ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu Islam sesuai dengan yang dimaksud oleh pembuat syari’at itu sendiri; Allah dan Rasul-Nya.

Karena keberadaan sanad inilah, ajaran-ajaran yg dibawa Rasulullah SAW 'tetap kebal' dari berbagai usaha luar yang hendak merusaknya. Hal ini berbeda dengan ajaran-ajaran atau syari’at nabi-nabi sebelumnya.

Adanya berbagai perubahan pada ajaran-ajaran mereka, bahkan mungkin hingga terjadi pertentangan ajaran antara satu masa dengan masa lainnya sepeninggal Nabinya, karena tidak memiliki sanad.

Karena itu para ulama menyatakan bahwa sanad adalah salah satu “keistimewaan” yang dikaruniakan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW, di mana hal tersebut tidak dikaruniakan oleh Allah terhadap umat-umat Nabi sebelumnya. Dengan jaminan sanad ini pula kelak kemurnian ajaran-ajaran Rasulullah akan terus berlangsung hingga datang hari kiamat.

Tentang pentingnya sanad, Imam Ibn Sirin, seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in, berkata:

Sesungguhnya ilmu -agama- ini adalah agama, maka lihatkan oleh kalian dari manakah kalian mengambil agama kalian.”  (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam mukadimah kitab Shahîh-nya).

Imam ‘Abdullah ibn al-Mubarak berkata:

Sanad adalah bagian dari agama, jika bukan karena sanad maka setiap orang benar-benar akan berkata --tentang urusan agama-- terhadap apapun yang ia inginkan.”

Tasawuf tidak berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, ia memiliki sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Dengan demikian, pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa tasawuf adalah sesuatu yang baru, bid’ah sesat, atau ajaran yang tidak pernah dibawa oleh Rasulullah, adalah pendapat yang tidak memiliki dasar sama sekali.

Adanya sanad dapat mempertanggung-jawabkan kebenaran tasawuf ini. Dan keberadaan sanad ini sekaligus sebagai bantahan terhadap pembenci tasawuf, bahwa kebencian mereka tidak lain adalah karena didasarkan kepada hawa nafsu dan karena mereka sendiri tidak memiliki sanad dalam keilmuan dan dalam cara beragama mereka.

Itulah kenapa Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa,

Menemukan Guru Mursyid, itu sulit, dan lebih mudah menemukan sebatang jarum yang disembunyikan di padang pasir yang gelap gulita.”

Mursyid sendiri berasal dari kata “Irsyad” yang artinya petunjuk. Petunjuk yang bersumber dari nur Ilahi. Jika kata “Irsyad” ditambahkan “mim” di depannya maka petunjuk tersebut terdapat pada sesuatu (dimikili oleh sesuatu). Maka “mim” harus diartikan sebagai seseorang yang memegang kualitas irsyad.

Dalam QS. Al-Kahfi ayat 17, ada kata "Waliyyam Mursyidayg secara umum diterjemahkan sebagai “pemimpin”, padahal itu adalah "Wali Mursyid".. karena "petunjuk" jalan lahir maupun batin itu hanya bisa didapat dari hamba-hamba Allah yg sudah mendapat petunjuk melalui "Nur Allah".

Dan Mursyid itu hakikatnya adalah Nur Allah, maka seseorang jika disebut Guru Mursyid, maka ia itu benar-benar mempunyai kualitas sempurna sebagai pembawa washilah (sanad) yg terhubung dari Allah dan Rasulullah SAW, dan bukan sekedar gelar saja.

Ket..
SANAD kalau dalam Tarekat itu adalah Washilah.

Semoga...
#ombad #tasawuf #sanad #mursyid

20 February 2018

NAKAL MEMBAWA BUYAR

Sekitar lima tahun yg lalu, sy mengantarkan terjemahan Tafsir Syeikh Abdul Qadir al-Jailani kepada seorang wakil talqin TQN Suryalaya dari Serawak, yg kebetulan sedang berada di Suryalaya Tasik, yaitu Bpk. Mohamed Trang.

Beliau merupakan salah satu wakil talqin senior karena sejak thn 1978 sudah diangkat menjadi wakil talqinnya Abah Anom.

Tadinya sy mau sebentar saja, hanya mengantar buku tafsir, tetapi ternyata malah ngobrol lama, sampai curhat-curhatan.. :D .. mungkin dari rasa kedekatan, walaupun baru pertama kali ketemu.

Kata Beliau, suatu ketika di tahun 70-an, ia dipanggil Abah Anom dan diberi pinjam sebuah kitab tipis yg langka, yg berisi doa-doa khusus. Syaratnya, silahkan hapalkan sebanyak mungkin selama di dalam ruangan. Sesudah itu, Abah pun keluar karena ada keperluan lain.

Namanya masih berdarah muda, kenakalannya pun muncul... :D.. Karena kesulitan menghapal, akhirnya ia buru-buru keluar lingkungan pesantren dan mencari tempat fotocopy yg memang masih jarang pada waktu itu, hanya ada di kota Tasik. Tidak seperti sekarang, beberapa langkah dari gerbang pesantren pun ada tempat fotocopy.

Dan apa yg terjadi...?
Ternyata hampir semua tempat fotocopy yg ia datangi di kota Tasik tidak bisa memfotocopy...! Eits.. alasannya bukan karena si mesin fotocopynya mendadak ngadat, tapi.... karena waktu itu semuanya sedang mati listrik... :D

Dan ketika balik lagi ke pesantren, kitab langka tsb udah ditunggu pemiliknya... Ah.... nasib katanya.. coba kalau sejak dipinjemin buru-buru dihafal, kan lumayan bisa dapat satu atau dua doa.

Gara-gara nakal semua buyar... :D

Semoga....
#ombad #tasawuf #tqn #suryalaya

14 February 2018

THARIQAH ITU USAHA, BUKAN TUJUAN

Pada pengajian tanggal 11 Muharam 1391 H. Mursyid TQN Suryalaya yaitu Abah Anom  (KH. A. Shohibul Wafa' Tajul Arifin) mengatakan :

"Thoriqoh bukan merupakan tujuan, tetapi merupakan 'usaha' untuk mencapai suatu keberhasilan agar mencapai tujuan.

Adapun gerak (ibadah lahir) telah diajarkan oleh ilmu fiqh, tasawuf dan ushuluddin, sedangkan jiwa diobati oleh dzikir agar 'kemauannya' timbul, sebab bukan tidak mampu untuk menggarap tani, menggarap dagang, bukan tidak ingin memberikan pertolongan kepada orang lain, tetapi 'kemauannya' yang tidak ada dikarenakan sedang datang 'malas'.

Apakah yang menyebabkan malas..? Dikarenakan sedang ada godaan syetan dan bujukan nafsu. Adapun godaan syetan dan bujukan nafsu berada pada perut.

Oleh karena itu dzikrullah berguna untuk memperhalus diri, untuk melepaskan kemalasan, untuk mengajarkan diri agar menjadi manusia 'yang mempunyai kemauan'. Tanpa dzikir tidak akan bisa, dikarenakan manusia diarahkan untuk menta'ati Allah dan Rosul-Nya kepada arah Lillaahi Ta'ala.

Itulah sebabnya Nabi mengajarkan ketika kita akan memulai suatu pekerjaan yang baik harus diawali dengan membaca 'bismillah'. Setiap perbuatan yang baik apabila tidak diawali dengan membaca bismillah, maka perbuatan tersebut dianggap tidak berguna.."

Semoga...
#ombad #tasawuf