Showing posts with label Jiwa. Show all posts
Showing posts with label Jiwa. Show all posts

24 September 2019

MENUJU INNER BEAUTY

Ada seorang wanita bertanya cara supaya Inner Beauty. Inner Beauty (khususnya pada wanita) itu sangat dipengaruhi faktor-faktor dari "dalam", dan bukan secara fisik.

Beberapa hal yang mempengaruhi optimalisasi pancaran Inner Beauty diantaranya :

1. GESTURE (Bahasa Tubuh)

Keselarasan antara kondisi jiwa, pikiran dan hati akan memunculkan gesture yang natural. Keselarasan ini yang akan memancarkan Inner Beauty seseorang. Saat Jiwa, Pikiran serta Hati bisa selaras maka pancaran aura nya bisa optimal, dan berbeda jika banyak konflik di dalam dirinya. Konflik di dalam diri, selain bisa menguras energi juga bisa memunculkan aura yang tidak baik (kusam, redup, dsb).

Cara untuk memperbaikinya adalah belajar "deal" dulu dengan diri. "Deal" ini terkait dengan "penerimaan", "pensyukuran" dan "penyelarasan". Meditasi ataupun cara-cara meditatif lainnya bisa dijadikan solusi agar bisa "deal", sampai akhirnya bisa "menyentuh" frekuensi natural tubuh. Kondisi optimum yang bisa dicapai adalah saat "hati" (beauty soul) bisa dikedepankan.

2. OPEN HEART (Keterbukaan)

"Keterbukaan" ini bisa muncul jika proses "deal" dengan aspek-aspek dalam diri sudah berhasil, dan selanjutnya pelepasan "blocking" diri secara bertahap.

3. CENTERING

Centering yang dimaksud adalah selalu "diam" di tengah-tengah dada. Aspek psikologis tengah-tengah dada ini sangat berhubungan dengan Keterbukaan, Keseimbangan, Respon Seni dan Kasih Sayang.

- "Keterbukaan" ini berhubungan dengan aspek pelepasan blocking diri, agar bisa menyelaraskan jiwa, pikiran dan hati.

- "Keseimbangan" ini berhubungan dengan aspek pengaturan "konsumsi" energi tubuh, sehingga bisa menyeluruh, terbagi secara proporsional dan tidak terfokus di satu bagian tertentu.

- "Respon Seni" ini berhubungan dengan aspek sensitivitas rasa dan selanjutnya harus bisa diarahkan menjadi positif, yaitu empati.

- "Kasih Sayang" ini berhubungan dengan aspek "kebersihan" hati, bukan berisi "kekotoran" seperti kebencian, keculasan, dendam, iri hati, sombong, dsb.

Keempat hal di atas akan sangat berpengaruh dalam mengembangkan karakter mental positif, khususnya OPTIMISME dan KEPERCAYAAN DIRI. Dan kedua karakter ini merupakan dasar dari Inner Beauty.

4. PROFIL AURA SEIMBANG

- Profil kulit aura terluar tidak ekstrim perbedaannya. Ini berhubungan dengan kestabilan emosi. Makin "smooth" profilnya maka makin bagus kestabilan emosinya.

- Kehalusan aura. Ini berhubungan dengan Fleksibilitas. Makin halus auranya maka akan makin fleksibel, terbuka dan makin pengertian.

- Kepadatan aura. Ini berhubungan dengan ketakutan dan kekhawatiran. Semakin padat maka semakin berkurang juga ketakutan dan kekhawatirannya.
 
Bisa dilihat bahwa semua faktor-faktor di atas itu kebanyakan sangat berhubungan dengan aspek tengah-tengah dada, atau dengan kata lain biasa mengedepankan Kasih Sayang.

Semoga..
#ombad #innerbeauty

**

BLOCKING diri yang bagi sebagian orang susah dibuka akan menjadi begitu mudahnya, akan "klik" dengan sendirinya, saat menemukan orang-orang yang cocok. Apakah itu kesamaan frekuensi pemikiran..? Mungkin seperti itu. "Terbuka" dalam arti "open heart & mind".

Masing-masing diri seperti menemukan teman karibnya di masa lalu, seperti sudah lama bersahabat bahkan sebelum lahir ke dunia. Tanpa ada batas atau sekat, baik itu umur, SARA, ataupun aspek materi lainnya.. yang ada serta "connect" hanyalah "esensi".

Dalam perjalanan hidup, siapa pun akan mempunyai masalah, dari ringan sampai berat, bahkan yang sangat berat. Ada yang bisa terselesaikan ada juga yang tidak, lalu akhirnya tanpa sadar menjerat dirinya, mem-blocking dirinya bertahun-tahun.

Kesabaran.. iya, kesabaran pun kadang "dipaksa" Tuhan, sabar saat tetap sulit dalam memecahkan blocking diri, sampai saatnya nanti menemukan orang-orang yang "satu frekuensi" dan memunculkan TRUST dengan sendirinya.

TRUST inilah yang bisa menjadi Kunci Pembuka Dada. TRUST inilah yang bisa memutuskan ikatan-ikatan blocking sehingga akhirnya mudah dilepaskan, lalu para "sahabat masa lalu" ini akan saling membantu sahabatnya agar bisa bersih dari blockingnya.

TRUST inilah yang menjadi awal dari semuanya saat masing-masing diri berusaha membuka dirinya dan bisa mengikis egonya masing-masing. Ego yang terbentuk karena merasa cerdas, kaya, dsb. Ego yang makin membatu karena urusan politik. Ego yang selalu mengedepankan bungkus. Ego yang selalu menutupi Trust, Kesehatan dan Kebahagiaan.

Terima kasih buat semua.. mudah-mudahan kita makin sehat dan bahagia, lahir batin.. 🙏

Dan kita berhak untuk bahagia..

**

AURA STABIL, KESTABILAN EMOSI

Karakter Aura seseorang sangat berhubungan dengan Kestabilan Emosinya. Di satu sisi Aura yang "ditampilkan" ini kondisional, dimana kondisinya sangat dipengaruhi psikologis tubuh setiap saat, tetapi juga secara garis besar, setiap orang mempunyai ciri khas "aura" nya karena sangat erat dengan "komposisi" Paduan Unsur (Elemen) tubuhnya, dan banyak dipengaruhi pengalaman hidupnya (masa lalu).

Aura yang stabil (baca: Kestabilan Emosi) sangat dipengaruhi :

- Tingkat Kepadatan yang tinggi. Aura yang bolong-bolong (porousitasnya tinggi) ini riskan terhadap pengaruh negatif dari luar, artinya mudah terpengaruhi Ketakutan dan Kekhawatiran. Dan ujungnya, penyakit ataupun stress.

- Tingkat Fleksibilitas yang tinggi. Ini lekat hubungannya dengan "ketahanan" mental dan psikologis. Dan ujungnya berhubungan dengan "positive mental attitude".

- Tingkat Kecerahan yang tinggi. Ini lekat hubungannya dengan "positive thinking". Warna/cahayanya yang redup akan memudahkan timbulnya "negative thinking". Dan ujungnya, pesimisme dan negative thinking.

- Profil (kulit) terluarnya halus atau tidak kasar. Kondisi ini kental hubungannya dengan "reaktivitas" terhadap aspek emosi. Makin tinggi perbedaan "puncak" dan "lembah" maka akan makin tinggi juga "konflik" emosi. Dan ujungnya, Konflik diri dan mudah stress. (lihat gambar di bawah, garis yang mulus dan tidak bergelombang)

- Kontinuitas aliran internal auranya bagus. Ini lekat hubungannya dengan immun tubuh (kesehatan).

Cara untuk memperbaiki Kestabilan Aura ini bisa berbagai cara, diantaranya:

- Memahami karakter masing-masing chakra.

- Me-manage aspek psikologis dari masing-masing chakra. Ini bisa lewat yoga, proses transformasi kesadaran seperti meditasi, dzikir, tawajjuh, ibadah/doa, dsb.

- Upaya "centering" di tengah-tengah dada secara terus-menerus. Ini ada hubungannya dengan kepercayaan diri dan inner beauty.

- Pengolahan "bawah sadar" dalam hubungannya dengan memori-memori buruk dari masa lalu.

Semoga...
#ombad #kundalini


19 April 2019

TASAWUF DALAM KÜBLER-ROSS MODEL

Dalam setiap kejadian, ada kemungkinan berujung manis sesuai ekspektasi, dan bisa sebaliknya, berujung pahit. Ada yg berhasil dan ada juga yg gagal.

Ketika mengalami sesuatu yg pahit, suatu kegagalan, kadang ada yg susah move on karena suka lupa menyisakan ruang hati dan pikirannya untuk kemungkinan ini. Manusia itu banyak yg lebih menekankan pada Orientasi Hasil daripada Orientasi Proses.

Sesuatu yg dianggap yang terbaik oleh pikiran dan perasaan seseorang, belum tentu terbaik menurut Tuhan. Itu makanya manusia banyak yang mengalami kekecewaan karena belum tahu dan belum menyadari bahwa Tuhan sedang "memilihkan" apa yang terbaik buat dirinya. Ketika tidak sesuai ekspektasi maka disebutlah suatu Kegagalan, meski belum tentu menurut Tuhan. Dan "kegagalan" yg dialami ini bisa mengakibatkan Kesedihan dan Kekecewaan.

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Menurut Kübler-Ross (The Kübler-Ross Model, 1969), ada lima tahapan Kesedihan akibat Kegagalan (Kehilangan) yg harus bisa dilewati agar benar-benar bisa Move On, yaitu :

1. Fase PENYANGKALAN (Denial).

Di fase ini, masih belum bisa menerima Kenyataan, masih memaksa untuk membalik keadaan meski semuanya sia-sia.

2. Fase KEMARAHAN (Anger).

Mulai marah, menyalahkan banyak hal, masih belum bisa menerima apa yg sudah terjadi, dan yg bisa dilakukan adalah marah-marah gak jelas.

3. Fase TAWAR MENAWAR (Bargaining).

Berusaha untuk negosiasi, mencoba untuk tawar-menawar dengan keadaan dan kenyataan yg ada, serta mulai mencari jalan keluar lain yg bisa ditempuh.

4. Fase DEPRESI (Depression).

Pada fase ini, sudah gak punya kuasa lagi untuk membalikkan keadaan. Rasanya semua jalan itu buntu dan tak bisa ditempuh. Merasa depresi, kesepian, kehilangan nafsu makan, susah tidur, pola makan jadi gak karuan, dsb.

5. Fase PENERIMAAN (Acceptance).

Setelah bisa menerima, maka akan mencari cara untuk membuat diri merasa lebih nyaman, agar bisa kembali stabil.

Dan sesudah bisa Menerima maka akan bisa memahami bahwa :

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)
 
**

Pertanyaannya..

Sabar dan Tawakal berada di fase apa..?

Semoga...
#ombad

DELUSI MEGALOMANIA

"Aku gak percaya kalo kalah, fakta dari manapun tetap tak kupercaya.. karena menurut Akal Sehat, Perasaan, Intuisi dan Keyakinanku pasti menang..!"

"Oh gitu..? Berarti Akal Sehat, Perasaan, Intuisi dan Keyakinannya itu SALAH.. dan itu DELUSI..!"

**

Megalomania : a condition or mental illness that causes people to think that they have great or unlimited power or importance. (Merriam-Webster Dictionary)

Delusi Megalomania itu merupakan penyakit kejiwaan dimana seseorang merasa memiliki suatu bentuk fantasi tentang Kekuatan, Kekayaan, Kemuliaan dan ‘Kemaha-besaran’ di dalam dirinya secara permanen. Salah satu penyebabnya adalah Obsesi yg tidak tercapai terkait 'Kebesaran dan Kemuliaan' tersebut, baik secara pemikiran ataupun perbuatan.

Para penderita Delusi Megalomania, memiliki kecenderungan untuk tetap mempertahankan suatu keyakinan meski telah terbukti berbeda 180° dengan Kenyataan. Ini karena jiwanya harus memenuhi hasrat obsesinya meski dalam bentuk fantasi.

Menurut Sigmund Freud, penyakit kejiwaan ini merupakan akibat dari sebuah narsisisme kedua yg muncul pada seseorang yang mengidap Penyakit Mental.

Dan berbeda dari narsisisme utama yg biasa muncul pada bentuk narsistis kebanyakan, narsistis ini bersifat patologis karena mengarahkan pada Skizofrenia, dengan cara mendorong harapan dan impian dari belakang libido sehingga terpisah dari obyeknya di dunia nyata dan pada akhirnya menghasilkan Megalomania.

 
Semoga...
#ombad