Showing posts with label Hadist Qudsi. Show all posts
Showing posts with label Hadist Qudsi. Show all posts

30 April 2020

PUASA, SIFAT ALLAH

Dalam sebuah Hadist Qudsi, Rasulullah SAW bersabda, Allah Ta‘ala berfirman, 
 
“Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi imbalannya.” (HR. Muslim) 

Kenapa seperti itu..? 
Hakikat makhluk itu menuntut adanya makanan dan minuman. Sedangkan yang tidak makan dan tidak minum itu Tuhan. Artinya seseorang yang berpuasa itu secara tidak langsung sedang diajari salah satu sifat Allah, meski bukan bagian dari hakikat sifat makhluk-Nya. Makanya disebut "puasa itu milik-Ku". 
 
Jadi puasa itu merupakan sifat Samdaniyyah atau sifat khusus yang hanya menjadi milik Allah SWT (terkait pelepasan dan penyucian dari makanan/minuman). 
 
Seakan-akan Tuhan berkata kepada makhluk-Nya yang sedang berpuasa :
 
“Puasa adalah milik-Ku, bukan milikmu. Karena Akulah yang seharusnya tidak makan dan minum, bukan kamu. Dan jika kamu berpuasa seperti itu karena mentaati ketetapan perintah-Ku, maka Aku sendiri yang akan memberi imbalannya.” 

Semoga...
#ombad #tasawuf #ramadhan 

27 June 2019

TASAWUF DALAM SEBUTIR KELAPA

Sampai kapanpun Tuhan akan tetap jadi misteri hamba-Nya. Sedemikian misteri/ghaib-Nya maka Tuhan pun seringkali membuat perumpamaan-perumpamaan agar lebih mudah dikenali makhluk-Nya. Bukankah "Tuhan membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Tuhan pun membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia"..? (QS. An-Nuur: 35)

Banyak ciptaan Tuhan yang dijadikan sebagai media perumpamaan-Nya, apakah itu hewan (anjing, lalat, semut, dll), fenomena alam (petir, hujan, batu, tanah, dll), bahkan sampai pohon pun dijadikan perumpamaan (zaitun, kurma, rumput, dll).

Dan karena di daerah gurun, maka pohon/buah kelapa "tidak sempat" dijadikan media perumpamaan.. 😀

Rasulullah SAW bersabda,

"Syariat itu Perkataanku, Tarekat itu Perbuatanku, dan Hakikat itu Kelakuan/karakterku."

Kelapa, seperti halnya agama, bagian buahnya pun berlapis-lapis.

- Sabut (kulit terluar).

Ini diibaratkan Syariat. Kulit kelapa berfungsi untuk melindungi lapisan dalam, melindungi terhadap benturan, seperti halnya syariat yang melindungi dan mengatur batas antara baik dan buruk. Kulit/sabut kelapa juga berfungsi untuk penyebaran buah kelapa, seperti halnya syariat yang selalu dikedepankan dalam penyebaran agama ke seluruh muka bumi. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, "Syariat itu Perkataanku.."

- Batok (tempurung).

Ini diibaratkan Tarekat. Batok kelapa yang keras ini berfungsi untuk melindungi daging kelapa dari gangguan luar, seperti halnya aspek pengamalan dalam tarekat khususnya terkait latihan-latihan jiwa, tadzkiyatun nafs, serta pembersihan diri dari sifat-sifat tercela, dengan tujuan memperkuat keyakinan diri beserta perbaikan kualitasnya.

Menembus batok kelapa yang keras ini seperti halnya riyadhoh dalam tarekat dalam melunakkan kerasnya hati, dimana diperlukan kesungguhan usaha, keistiqamahan, memperbanyak dzikir, suluk, uzlah/khalwat secara batiniah, serta "melatih" keikhlasan sebagai pondasi dasar dalam kemurnian tauhid. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, “Tarekat itu adalah Perbuatanku..”

- Daging kelapa.

Ini diibaratkan Hakikat, yang bisa dirasakan setelah melawati kerasnya riyadhoh, seperti halnya menemukan daging kelapa yang enak dan empuk, setelah bisa melewati kerasnya hijab tempurung hati. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, "Hakikat itu Kelakuan/karakterku."

- Air (Santan, Minyak) kelapa.

Ini diibaratkan Makrifat. Daging kelapa butuh diproses lagi agar bisa jadi Santan ataupun Minyak Kelapa. Keduanya sangat berbeda karakter, dimana Santan itu berumur pendek (cepat membusuk), seperti halnya kondisi Ahwal yang cepat berubah, dan Minyak Kelapa berumur panjang, lebih "abadi", seperti halnya rahasia keabadian ruhani manusia yang tersimpan dalam maqam ini, Baqa setelah Fana.

Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, “Makrifat itu adalah Rahasiaku..”

Rahasia, karena memang Makrifat itu berada di dalam Hakikat, ibarat minyak tidak akan muncul dengan sendirinya tanpa diproses terlebih dulu. 

Dan dari air kelapa pun bisa jadi cuka bahkan tuak yang sangat berbeda jenisnya dengan cuka, seperti halnya cuka yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh, meski di lain sisi, kadangkala memunculkan tuak yang bisa "memabukkan".. 😀

**

وَعَائِيْنِ مِنَ الْعِلْمِ اَمَّا اَحَدُ هُمَا فَبَشَتْتُهُ لَكُمْ وَاَمَّااْلأَخِرُ فَلَوْبَثَتْتُ شَيْئًا مِنْهُ قَطَعَ هَذَالْعُلُوْمَ يَشِيْرُ اِلَى حَلْقِهِ

"Aku meriwayatkan dari Rasulullah SAW dua wadah ilmu: salah satunya telah kuberikan kepada kalian, adapun yang kedua, seandainya kuberikan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pedang untuk memotong leherku ini --dua wadah itu ialah Syariat dan Hakikat--." (Abu Hurairah ra.)

Menurut Imam Qusyairi (dalam Risalah Qusyairiyah) :

Syariat adalah perintah yang ditetapkan dalam ibadah, sedangkan hakikat adalah kesaksian akan kehadiran peran-serta ketuhanan dalam setiap sisi kehidupan. Kita sering mengenal istilah, Musyahadah Rububiyah, yakni melihat Tuhan dengan hati.

Dikatakan demikian sebab syariat merupakan pengetahuan atau konsep merambah jalan menuju Allah, sedangkan hakikat adalah keabadian melihat-Nya.

Sementara, Thariqah merupakan perjalanan hamba meniti jalan syariat. Artinya, aktualisasi prinsip-prinsip syariat dengan ketentuan hukum yang sah.

Syariat datang dengan beban hukum dari Sang Maha Pencipta, sedangkan Hakikat bersumber dari dominasi kreativitas Al-Haqq.

Syariat merupakan penyembahan makhluk pada Sang Khaliq, sedangkan Hakikat adalah kesaksian makhluk terhadap kehadiran-Nya.

Syariat adalah penegakan apa yang diperintahkan Tuhan, sedangkan Hakikat adalah kesaksian terhadap sesuatu yang telah ditentukan dan ditakdirkan-Nya, serta yang disembunyikan dan yang ditampakkan.

Jadi, Syariat adalah Hakikat dari sisi mana kewajiban diperintahkan, dan Hakikat sebenarnya juga merupakan syariat dari sisi mana kewajiban diperintahkan bagi ahli makrifat.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

13 June 2019

KOSONG

Mau jadi gelas, teko, bak, kolam, danau atau laut..? Itu semua tergantung Keluasan Hati/Qalbunya. Dan Keluasannya ini sangat bergantung dari "Kekosongan" nya.

"Kosong" yang dimaksud ini seperti firman Allah SWT kepada Nabi Daud as.:

"Wahai, Daud. Kosongkan untuk-Ku sebuah rumah, agar Aku dapat tinggal di dalamnya."

Karena Nabi Daud as. belum memahami perintah ini, maka Daud as. pun bertanya kepada Allah : "Bagaimana caranya, wahai Tuhanku..?"

Allah SWT menjawab : "Kosongkan hatimu hanya untuk-Ku."

Jika bisa "kosong" maka bisa menampung "ketidak-terbatasan", infinity. seperti yang disebutkan dalam sebuah Hadist Qudsi :

"Tiada yang sanggup menampung-Ku, baik di bumi maupun di langit-Ku. Hanya hati hamba-Ku yang Mukmin yang dapat menampung-Ku."

Dalam konteks tasawuf, ketika bisa memasuki "kosong" maka bisa dikatakan seorang salik sedang memasuki alam makrifat, dan selanjutnya dianugrahi "ketidak-terbatasan" pandangan karena hatinya sudah memiliki "keluasan" yang tidak berbatas. Ini seringkali dianalogikan dengan "laut".

Syeikh Ibrahim bin Adham ra. berkata:

"Qalbu orang-orang yang sudah Makrifat kepada Allah Ta'ala mempunyai banyak mata, sehingga dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh yang lain. Pada qalbu mereka ada beberapa sayap sehingga dapat terbang menghadap ke Hadrat Rabbul 'Alamin dan menikmati keindahan dan kenikmatan surga serta dapat meminum air samudera Hikmah." 

Dan seperti itulah makrifat, dan ujungnya akan terkait dengan ilmu, dan "keluasan" ilmu ini tergantung dari "wadah" nya, apakah wadahnya ini luas atau tidak. Dan "wadah" ini adalah Qalbu.

Qalbu yang setiap saat bisa "meminum" air samudera Hikmah karena berada di dalam Samudera hikmah. Qalbu yang setiap saat tersinari cahaya Tuhannya karena selalu terhubung kepada Tuhannya. Tuhan Pemilik Cahaya, Cahaya di atas Cahaya (Nuurun 'alaa Nuur) yang memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang dikehendaki dan dipilih-Nya.

Rasulullah SAW bersabda,

"Ketahuilah, bahwa ilmu adalah cahaya (Nuur)."

"Kosongkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, maka Allah akan memenuhinya dengan Makrifat dan Rahasia." (Ibn Athaillah ra., Al-Hikam)


Semoga..
#ombad #tasawuf

**

۞ اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ  اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ  اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ  نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ 

"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

(QS. An-Nur, 24 : 35)

30 May 2019

PUASA, BELAJAR DAMAIKAN DIRI

DIRI itu terdiri dari tiga tubuh ; Fisik, Jiwa dan Spirit (ruh). Damai itu adalah adanya keselarasan ketiga tubuh ini secara terintegrasi, tidak saling bertengkar dan saling melemahkan. Secara fitrah, otoritas tertinggi dari semua aspek tubuh ini adalah tubuh ruhnya, karena ruh lah yg terus-menerus terhubung dengan cahaya Tuhannya.

Berdamai dengan diri --baik tubuh Fisik, Jiwa maupun Spirit-- ini berarti terciptanya harmonisasi antar ketiga tubuhnya. Harmonisasi ini terjadi karena adanya "inner communication" yang kontinu dalam siklus : rahmat - hidayah - taufik - inayah.

Puasa itu "menahan", bukan sekedar menahan lapar saja. Manusia akan bisa berdamai dengan dirinya jika bisa "menahan" keinginannya, tidak saja dalam urusan perut tetapi juga jiwa dan hatinya. Inilah pengendalian diri secara holistik.

"Setan dibelenggu ketika bulan puasa" tentu bukan sekedar harfiah tetapi berhubungan dengan upaya pengendalian diri seperti ungkapan Hadist "Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah manusia, karena itu persempitlah jalan masuknya dengan lapar/puasa". Itulah setan-setan dalam darah (baca : jiwa) yang masih dipengaruhi hawa nafsu.

Jadi, Mujahadah untuk mencapai Musyahadah akan sulit jika hanya berpuasa menahan lapar tubuh fisik saja.

Rasulullah SAW bersabda,

Al-Mujahidu man jahadi nafsahu fi ta’at Allah ‘azza wa jalla.

“Pejuang (mujahid) adalah orang yang memperjuangkan nafs-nya dalam mentaati Allah azza wa jalla.” (HR. Tirmidhi, Tabrani, Hakim, dll)

Tubuh Jiwa (nafs) yang menjadi "kulit" dari Tubuh Ruh ini akan menjadi hijab/penghalang "perdamaian" dari keseluruhan tubuh jika Tubuh Jiwanya masih berjaket "amarah", berbaju "lawwamah" dan berkaos dalam "mulhimah". Jika ketiga pakaian tubuh jiwa tersebut belum bertransformasi menjadi "muthmainnah", lalu "radhiyyah", "mardhiyyah" dan "kamilah", maka akan sulit berdamai dalam diri sendiri.

Pancaran cahaya ruh akan terdistorsi bahkan terhalangi jika Hawa Nafsu rendah dalam Tubuh Jiwa masih menutupinya. Ruh yang selalu terhubung dengan cahaya "kedamaian Darussalaam" ini pun akan kesulitan untuk menjadi penerang ke semua aspek tubuh.
 
Lewat Mujahadah menuju Musyahadah ini kita akan mengetahui bahwa terbukanya lapisan pakaian tubuh jiwanya secara bertahap ini akan seiring dengan terbukanya Dada, Qalb, Fuad, Syaghaf, Lubb dan Sirr.

Dan akhirnya terbukalah Fitrah dirinya yang "damai" seperti halnya "kedamaian Darussalaam" yang menjadi visi/tujuan dari fitrahnya. Seperti itulah "barangsiapa mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya".

 
Semoga..
#ombad 25 #ramadhan 1440 H.
#tasawuf #damai

**

Hadist Qudsi :

ﺒﻨﻴﺖ ﻓﻰ ﺟﻮﻒ ﺍﺒﻦ ﺃﺪﻢ ﻗﺼﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻗﺼﺭ ﺼﺪﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﻗﻟﺒﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻗﻟﺐ ﻓﺅﺍﺪﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻓﺅﺍﺪ ﺷﻐﺎﻓﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺷﻐﺎﻑ ﻟﺒﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻟﺐ ﺴﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺴﺭ ﺃﻨﺎ

“Aku jadikan pada Anak Adam itu ada Qasrun (istana), di situ ada Shadr (dada), di dalam dada itu ada Qalbu, di dalamnya lagi Fuad, di dalamnya lagi ada Syaghaf, juga di dalamnya ada Lubb, dan di dalamnya ada Sirr, di dalamnya itulah ada Aku."

**

Rahmat adalah Kasih sayang (dari) Allah.

Taufik adalah Restu/ijin (dari) Allah untuk amal-amal baik yg dilakukan.

Hidayah adalah Petunjuk dan Bimbingan (dari) Allah.

Inayah adalah Bantuan dan Pertolongan (dari) Allah.

17 May 2019

PUASA UNTUK MUSYAHADAH

Jika dibandingkan antara Puasa dengan Shalat, maka Puasa itu untuk MUSYAHADAH dan Shalat itu untuk MUNAJAT.

Puasa menghasilkan MUSYAHADAH  (Syahada - Syahida, Penyaksian, bersaksi), pertemuan dengan Allah dengan penyaksian-Nya. Sedangkan Shalat itu MUNAJAT (merahasiakan, mendekati Allah dengan cara berdoa atau berdzikir) dan terdapat hijab/tabir yang menyertainya.

۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗ    اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ

"Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana." (QS. Asy-Syura: 51)

“Wujud Al-Haqq bersama kelenyapanmu (fana'). Salik yang mengalami Muhadharah terikat dengan ayat-ayat-Nya. Salik yang mencapai Mukasyafah dilapangkan dengan sifat-sifat-Nya. Dan salik yang memiliki Musyahadah ditemukan dengan Dzat-Nya. Salik yang Muhadharah akalnya menunjukkannya. Salik yang Mukasyafah ilmunya mendekatkannya. Dan salik yang Musyahadah ma’rifatnya menghapusnya.” (Syeikh Abu Qasim Junaid ra.)

"Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan Mujahadah niscaya Allah akan memperbaiki hatinya dengan Musyahadah." (Imam al-Qusyairi ra.)

Rasulullah SAW bersabda,

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya.”

- "Kebahagiaan saat berbuka" adalah kebahagiaan untuk jiwa hewaninya.

- "Kebahagiaan saat bertemu Tuhannya" adalah kebahagiaan untuk jiwa rasional (an-Nafs an-Natiqah), yaitu al-Latifah ar-Rabbaniyyah.

Allah adalah Dzat yang tak membutuhkan makan dan minum, dan orang yg berpuasa pun berusaha "mendekati" sifat Samdaniyyah (khusus) Allah yaitu tidak makan dan minum. Itulah kenapa pahala puasa langsung disandarkan kepada Allah. Dan tidak ada ibadah yg langsung disandarkan kepada Allah selain puasa.

“Setiap amal anak Adam menjadi miliknya kecuali puasa, ia milik-Ku dan Aku Sendiri yang akan memberi imbalannya.” (HR. Muslim)

“Hendaklah kamu berpuasa, karena tidak ada yang serupa dengannya.” (HR. an-Nasa’i)


Semoga...
#ombad #tasawuf 12 #ramadhan 1440 H.

10 May 2019

PUASA SECARA HOLISTIK 2

Puasa secara Syariat adalah menahan diri dari makanan, minuman, dan bersetubuh di waktu siang. Puasa seperti ini menyehatkan fisik.

Puasa secara Batiniah (Thariqah) adalah menahan seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan yg diharamkan dan dilarang, juga menjauhi sifat-sifat tercela, seperti ujub, riya', takabur, dsb, baik secara lahir maupun batin, baik siang maupun malam. Bila melakukan hal-hal tersebut tadi, maka batallah puasa batinnya. Puasa seperti ini untuk membersihkan penyakit hati, pengendalian hawa nafsu, serta peningkatan kesehatan mental dan spiritual.

Puasa secara Syariat mempunyai waktu tertentu, sedangkan puasa secara Thariqah itu selama hidup.

Rasulullah SAW bersabda:

“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. an-Nasa’i, Ibn Majah)

“Banyak yang berpuasa, tetapi berbuka. Banyak yang berbuka, tetapi berpuasa.”

"Banyak yg berbuka tapi berpuasa" yaitu orang yg perutnya tidak berpuasa, tetapi ia menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan terlarang, serta selalu mengolah kalbunya.

Puasa secara Hakikat adalah menjaga hati dari selain Allah dan menjaga rasa agar tidak mencintai selain Allah.

“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya.” (Hadist Qudsi)

Sirr itu dari Nur Allah, maka orang yang di tingkat ini tidak akan cenderung kepada selain Allah. Tidak ada yang dicintai, diingini, dan dicari selain Allah di dunia maupun di akhirat. Bila hati terjatuh pada mencintai selain Allah, maka batallah Puasa Hakikatnya dan ia harus melakukan qadha dengan kembali mencintai Allah dan menemuinya di dunia dan akhirat, sesuai firman Allah:

“Puasa itu bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.”

Ketika seseorang mampu berpuasa dari segala sesuatu selain Allah serta mampu menahan diri untuk tidak bergantung kepada selain-Nya, maka di saat itulah orang tersebut akan memiliki kualitas ketauhidan yang lurus.

Pelaku puasa yg seperti ini, keimanan dan ketauhidan mereka tidak bercabang, tidak terkotori oleh apapun, hanya menuju Allah semata, Tauhid Ahadiyah. Orang-orang seperti inilah yg akan fasih mengetahui rahasia-rahasia keilahian serta rahasia dari segala ibadah yg dilakukannya.

“Kosongkan perutmu! Merataplah seperti sebuah kecapi dan sampaikan keinginanmu kepada Tuhan. Kosongkan perutmu dan bicaralah tentang misteri-misteri bagai ilalang..” (Maulana Rumi)

**

Ket..

- Sirri = rasa (di qalbu terdalam)...
- Pandangan Sirri biasa disebut Bashirah.. esensi dari ayat : “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri karena memandang kepada Tuhan-Nya”. (QS. Al-Qiyamah : 22-23)


Semoga...
#ombad 05 #ramadhan 1440 H.

08 May 2019

TASAWUF DALAM SEPAKBOLA

Melihat pertandingan sebelumnya (leg 1), mungkin Barcelona udah besar hati dan merasa akan menang menuju final, sampai-sampai Messi mengatakan,

"Champions League will come back to the Camp Nou."

Tetapi realitanya, Liverpool bikin kejutan lagi dan membalik keadaan pada pertandingan leg 2 di kandang. Barcelona pun gagal ke final setelah kalah agregat 4-3.

Untungnya Barcelona gak terkena delusi atau waham meski sangat kuat keinginan untuk menang. Barca tidak sampai menuduh Liverpool, Wasit dan UEFA bermain curang.. apalagi kalau Barca harus sampai melakukan deklarasi kemenangan sendiri.. no way.. kan gak lucu jika Messi melakukan sujud syukur di tengah lapangan Anfield setelah dibantai 4-0 .. mosok kalah njengking..?!

Para pemain Barca pun legowo dengan kekalahannya, seperti yg dikatakan pemain midfielder, Sergio Busquets :

"They have been better than us. I apologise.. Liverpool have been smarter than us, they were faster. I think we had chances to score the goal we needed, but it wasn’t meant to be today.”

Itulah.. kadang para pemain sepak bola itu bisa lebih dewasa dibanding para politikus, karena olahraga, seperti halnya sepakbola, mengajarkan nilai-nilai Sportivitas, Kejujuran dan Lapang Dada. Gesekan di lapangan ya wajar saja, tapi mereka tetap menjunjung tinggi sportivitas.

Sportivitas dan Kejujuran inilah yg membentuk Positive Mental Attitude para pemain kelas dunia, sehingga mereka bisa tetap rendah hati, tanpa harus merendahkan Harga Diri.

Dan Sportivitas juga yang menjaga seseorang untuk tetap bisa ber-husnudzon (prasangka baik) karena "menuduh curang tanpa bukti adalah bentuk dari sebuah kecurangan", serta "menuduh tidak jujur tanpa bukti adalah bentuk dari ketidak-jujuran".

"Kebenaran terbesar adalah kejujuran, dan kepalsuan terbesar adalah ketidakjujuran." (Abu Bakar Shiddiq ra.)

Jika Menang, ya terima dengan kegembiraan, tapi jika Kalah pun bisa menerima kekalahan dengan lapang dada, meski pediiiihh, periiihh.. masa gak tau malu dengan menuduh curang kepada bola, wasit atau penonton.. malu donk.. ntar diketawain penduduk se-alam semesta, baik jin dan manusia. Emang siapa yang menjamin Barca harus menang.. kok sotoy..?!

Akui aja, kalah itu karena salah strategi, pihak lawan lebih bagus dalam pertandingan, dan lebih kuat dalam tekadnya. Boleh jugalah karena supporternya lebih banyak dan lebih dalam segalanya. Man jadda wa jada. Bukankah demikian dalam sebuah permainan (perlombaan, pertandingan) di dunia yang fana ini, ada yang "beruntung", dan sebaliknya, ada yang "belum beruntung".

"Dan barangsiapa berusaha, maka sesungguhnya usahanya itu untuk dirinya sendiri.” (QS. Al-Ankabut : 6)

"Wahai Anak Adam, engkau lah yang mengisi (buku catatan amalmu) dan Aku yang mencatatnya." (Hadist Qudsi)

Dan untunglah sepakbola ini tidak membawa-bawa atas nama agama, serta tidak mempolitisasi agama ataupun ulama.. 😀

Semoga...
#ombad #tasawuf #dalam

29 January 2019

DOA ORANG YANG DIDZALIMI

Ketika tidak bisa berlaku adil artinya mendzalimi, sekalipun sasarannya itu penjahat, apalagi kalau bukan..

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yg diperbuat oleh orang-orang yg Dzalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yg pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)

Dalam Hadist Qudsi Rasulullah SAW bersabda:

“Dan Allah berfirman, “Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu (wahai hamba yg terdzalimi) sekalipun tidak segera.” (HR. Turmudzi)

Bahkan Allah akan mengabulkan doa orang yg didzalimi tersebut meski doanya berupa azab, semisal agar yg menyakiti/mendzaliminya tersebut ditimpa Musibah ataupun Azab sekalipun, karena ini bentuk dari "kafarat" (menebus), seperti halnya hukum qishash.. dan bisa disegerakan.

Rasulullah SAW bersabda:


اتق دعوة المظلوم وإن كان كافرا فإنه ليس دونها حجاب

“Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang yg didzalimi sekalipun dia adalah orang Kafir. Maka sesungguhnya tidak ada penghalang diantaranya untuk diterima oleh Allah.” (HR. Ahmad, dari Anas ra.)


اتق دعوة المظلوم فإنها تصعد إلى السماء كأنها شرارة

“Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang dizalimi. Sesungguhnya doa itu akan naik ke langit amat pantas seumpama api marak ke udara.” (HR. Hakim, dari Ibn Umar ra.) 
 
Dan mungkin aja ada akibatnya bagi orang yg mendzaliminya, seperti : terjerat masalah hukum, kehinaan, sakit tak sembuh-sembuh, bahkan mati..

Kesimpulannya..

Baik dan berbuat baik itu adalah suatu keharusan, kebutuhan dan itu lebih baik.

Semoga..
#ombad

19 October 2018

TENTANG TIFLUL MA'ANI

Wa ayyadnaahu bi Ruuhil Qudusi..

“Ku-perkuat manusia dengan Ruh al-Qudsi.” (QS. 2 : 87)

Ruh al-Qudsi menunjukkan kondisi ruh ketika di alam awal melakukan perjanjian kepada Tuhannya. 'Alastu bi rabbikum?` Qaalu, bala syahidna..’

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”
Mereka menjawab : “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (QS.7 : 172).

Suatu kondisi dimana ruh-ruh bisa ‘melihat wajah’ Tuhannya dengan berhadapan. Hal ini diperjelas juga dengan ayat,

"Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat." (QS. 75 : 22-23).

Ruh al-Qudsi ini menunjukkan suatu kualitas ruh seseorang, dalam arti kualitas ini adalah semua hijab-hijab Qudsiyyah-nya terbuka. Ruh yang paling halus dibanding ruh-ruh lainnya. Yang selalu mengajak kembali kepada Allah SWT (Wushul). Ruh yang ‘tidak dimiliki’ (terbukakan) oleh sembarang orang dan hanya orang-orang khawash yang berhak memilikinya.

Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman :

“Hai hamba-Ku, bila engkau ingin masuk ke Haramil-Ku (Haramil Qudsiyah), maka engkau jangan tergoda oleh Mulki, Malakut, Jabarut karena alam Mulki adalah setan bagi orang Alim, Alam Malakut adalah setan bagi orang Arif dan Alam Jabarut adalah setan bagi orang yang akan masuk ke Alam Qudsiyah.” (Hadist Qudsi)

Perlu diketahui, Wushul secara umum diartikan kembali kepada Allah SWT, tetapi dalam makna yang lebih khusus, Wushul kepada Allah adalah lepas dari selain Allah, tidak dekat dan tidak jauh, tanpa arah dan berhadapan, tanpa bertemu dan berpisah. Maha Suci Allah yang penampakan diri-Nya dalam ketertutupan-Nya. 

Hal ini seperti ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. :

”Sesungguhnya Tuhanku tidak disifati dengan jauh, bergerak, diam, berdiri, datang dan pergi. Dia berada di dalam segala sesuatu tetapi tidak bercampur. Dia di luar segala sesuatu, tetapi tidak berpisah. Dia di atas segala sesuatu dan tidak sesuatupun berada di atas-NYA. Dia di depan segala sesuatu, tetapi tidak dapat dikatakan bahwa dia berada di depan. Dia berada di dalam segala sesuatu, tetapi tidak seperti sesuatu di dalam sesuatu. Dia di luar sesuatu, tetapi tidak seperti sesuatu di luar sesuatu.”

Banyak juga ulama tasawuf yang mendefinisikan ini sebagai ‘al-Insan al-Haqiqi’ di Qalbu yang terdalam (Sirri). Karena berasal dari makna-makna yang suci (al-Ma’nawiyyat al-Qudsiyah), al-Insan al-Haqiqi ini juga sering dinamakan Thiflul Ma’ani (Bayi Ma’nawi).

Dasar dari pemberian nama Thiflul Ma’ani (yang bermakna Bayi) untuk Ruh al-Qudsi ini karena :

- Ia ‘lahir’ dari qalbu dan dirawat qalbu seperti bayi yang lahir dari rahim ibunya dan dirawat ibunya sampai tumbuh menjadi dewasa.

- Ia diajari berbagai hal tentang makrifat seperti anak-anak yang juga diajari berbagai hal.

- Ia bersih dari syirik, ghaflah (lalai kepada Allah) dan dosa-dosa pikiran, seperti bayi atau anak kecil yang juga bersih dari dosa.

- Ia disimbolkan seperti rupa anak yang tampan sebagaimana bersihnya jiwa seorang anak. Allah menyifati ahli surga dengan anak-anak (QS.52 : 24).

- Thiflul Ma’ani bersifat halus dan suci.

- Kiasan karena keindahannya.

Thiflul Ma’ani ini ‘muncul’ setelah melewati tahapan dzikir ke-4, al-Haqq. Seperti kita ketahui Tahapan dzikir dalam proses penyucian ini terdiri dari 12 tahapan (Laa Ilaaha Illallah, Allah, Hu, al-Haqq, al-Hayyun, al-Qayyum, al-Qahhar, al-Wahhab, al-Fattah, al-Wahid, al-Ahad  & ash- Shamad).

Thiflul Ma’ani adalah al-Insan al-Haqiqi karena ia bisa merasakan nikmatnya Musyahadah langsung kepada Allah SWT. Ia selalu ada di alam al-Qudrah dan menyaksikan Dzat Allah di alam Hakikat dan tidak berpaling pada selain Allah.

"Kalian akan melihat Tuhan kalian, seperti kalian melihat bulan pada malam purnama.” (HR. Bukhari)

(Bandung  21 Juni 2013, 20.09 WIB)

Semoga..
#ombad #tasawuf

04 September 2018

MAHABBAH

Mahabbah adalah bentuk masdar dari kata al-Hubb, dan berasal dari kata Ahabba, Yuhibbu, Mahabbatan, yg secara harfiah berarti mencintai secara mendalam, bening dan bersih.

Mahabbah merupakan keinginan yang sangat kuat terhadap sesuatu melebihi kepada yg lain atau ada perhatian khusus, sehingga menimbulkan usaha untuk memiliki dan bersatu dengannya, sekalipun dengan pengorbanan.

Dalam konteks tasawuf, Mahabbah adalah suatu ajaran tentang cinta atau kecintaan kepada Allah. Sampai semua kecenderungan hatinya hanya kepada Allah.

Al-Sarraj (w. 377 H) membagi Mahabbah menjadi tiga tingkatan yaitu:

1. Cinta orang AWAM, yaitu selalu mengingat Tuhan dengan dzikir, senantiasa menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan.

2. Cinta orang SHIDDIQ, yaitu orang yg kenal kepada Tuhan, pada kebesaran-Nya tabir yg memisahkan diri seseorang dari Tuhan, dan akhirnya bisa melihat rahasia-rahasia pada Tuhan.

3. Cinta orang ‘ARIF, yaitu mengetahui betul Tuhan, yg dilihat dan yg dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yg dicintai. Akhirnya sifat-sifat yg dicintai masuk ke dalam ciri yg mencintai.

Mahabbah harus bisa diraih karena menjadi salah satu acuan untuk membebaskan diri dari hijab Syirik Khafi (kecenderungan hatinya), bahkan lebih tinggi dan lebih sempurna kualitasnya daripada Khauf dan Raja’ (takut dan pengharapan), karena Mahabbah ini tidak mengharapkan apa-apa dari Allah kecuali ridha-Nya.

Kecenderungan Hati yg dimaksud adalah merindukan "pertemuan" dengan Tuhannya karena rasa Mahabbahnya.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ (صحيح البخاري ج: 5 ص: 2384)

Dalam sebuah Hadist Qudsi, Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman :

“Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku atau wali-Ku maka Aku menyatakan perang terhadapnya.
Tidak seorang hamba pun mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yg paling Aku cintai, melainkan dengan apa yg telah aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku telah mencintainya, maka Aku yg akan menjadi telinganya yg digunakannya untuk mendengar, Aku akan menjadi matanya yg digunakannya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya yg digunakannya untuk memukul, Aku akan menjadi kakinya yg digunakannya untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan mengabulkannya, dan jika meminta perlindungan-Ku maka sungguh Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah akan senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun tidak akan senang bertemu dengannya.” (HR. Bukhari)

“Barangsiapa yang mencintai sesuatu tanpa ada kaitannya dengan Mahabbah kepada Tuhan adalah suatu Kebodohan dan Kesalahan karena hanya Allah yang berhak dicintai.” (Imam Ghazali ra.)

Perlu dipahami bahwa hasil yg dicapai dari proses beragama (ibadah) itu sangat berhubungan dengan konteks Mahabbah. Coba direnungkan, kenapa surah-surah dalam al-Quran (kecuali Surah at-Taubah) selalu diawali Basmallah (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang).

Dan silakan renungkan juga kenapa ada Hadist ini :

Rasulullah SAW bersabda,

"Orang-orang yang penyayang disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

"Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia niscaya Allah tidak akan menyayanginya." (HR. Bukhari - Muslim)

Ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi a'tini mahabbataka wa ma'rifataka.

Semoga..
#ombad #tasawuf #mahabbah

22 May 2018

PUASA SECARA HOLISTIK

Puasa secara Syariat adalah menahan diri dari makanan, minuman, dan bersetubuh di waktu siang.

Puasa secara Batiniah (Thariqah) adalah menahan seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan yg diharamkan dan dilarang, juga menjauhi sifat-sifat tercela, seperti ujub, riya', takabur, dsb, baik secara lahir maupun batin, baik siang maupun malam. Bila melakukan hal-hal tersebut tadi, maka batallah puasa batinnya.

Puasa secara Syariat mempunyai waktu tertentu, sedangkan puasa secara Thariqah itu selama hidup.

Rasulullah SAW bersabda:

“Banyak orang yang berpuasa hasilnya hanyalah lapar dan dahaga.”

“Banyak yang berpuasa, tetapi berbuka. Banyak yang berbuka, tetapi berpuasa.”

"Banyak yg berbuka tapi berpuasa" yaitu orang yg perutnya tidak berpuasa, tetapi ia menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan2 terlarang dan menyakiti orang lain.

Puasa secara Hakikat adalah menjaga hati dari selain Allah dan menjaga rasa agar tidak mencintai selain Allah.

“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya.” (Hadist Qudsi)

Sirr itu dari Nur Allah, maka orang yang di tingkat ini tidak akan cenderung kepada selain Allah. Tidak ada yang dicintai, diingini, dan dicari selain Allah di dunia maupun di akhirat.

Bila hati terjatuh pada mencintai selain Allah, maka batallah puasa hakikatnya dan ia harus melakukan qadha dengan kembali mencintai Allah dan menemuinya di dunia dan akhirat,

Sesuai firman Allah:

“Puasa itu bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.”

Sumber :
Kitab Sirrul Asrar (Syeikh Abdul Qadir al-Jailani ra)

Semoga...
#ombad #ramadhan #06

02 March 2018

APAPUN BISA TERLIHAT BURUK

Segala sesuatu yg masih bisa ditangkap akal itu selalu punya dua sisi (dualitas), baik dan buruk. Bisa dianggap baik atau dianggap buruk, dianggap positif atau negatif. Sampai-sampai anggapan kepada Tuhan pun bisa ada dua, dianggap baik atau dianggap buruk, apalagi kepada makhluk-Nya. Itulah "hebatnya" pikiran manusia.

Kenapa semua ayat menyuruh untuk melakukan kebaikan dan mencegah keburukan..?

Kalau direnungkan secara mendalam, hal tersebut untuk "melatih" dan "membiasakan" hal/tindakan yg baik, yg ujungnya membuat pikiran baik, mindset baik, perasaan/nafs baik, dan Hati pun baik. Semua diarahkan ke kebaikan dan hasilnya bisa prasangka baik. Begitupun dengan selalu berusaha mencegah buruknya tindakan, pikiran, mindset, perasaan dan hati. Semuanya diarahkan untuk mencegah munculnya keburukan sehingga ada upaya untuk tidak memunculkan prasangka buruk. Tentu dengan bonus pahala/surga dan ancaman dosa/neraka, biar cemugudhh.. :D

Secara tersirat, hal seperti itu difirmankan Allah SWT dalam Hadis Qudsi:

"Aku (tergantung) pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam dirinya, maka Aku ingat kepadanya dalam diri-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam kerumunan orang ramai, maka aku ingat kepadanya dalam kerumunan yg lebih baik daripada mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku mendekat kepadanya satu lengan. Jika dia mendekat kepada-Ku satu lengan, maka Aku mendekat padanya satu depa. Jika dia mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku mendekatinya dengan berlari." (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, artinya Prasangka ini merupakan gambaran dari kualitas pikiran, mindset, perasaan/nafs, dan qalbu. Apakah kualitas²nya itu baik atau buruk..? Lebih banyak baiknya atau banyak buruknya..?

Jadi, apakah tindakan seseorang itu gak pernah ada baiknya? Kok yg jelas dilihat itu selalu buruknya..? Jangan² diri kita sebetulnya yg penuh keburukan (dan tanpa disadari). Upil di seberang danau kelihatan, lalu dengan sigap dan penuh semangat menjelekkannya, sedangkan najis di sekujur tubuh tak disadari.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah, kalau itu baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah bahwa itu adalah Hati/qalbu."

Jadi sekujur tubuh akan "mengeluarkan" buruk, apakah lisannya, pikirannya, mindsetnya, ataupun perasaannya jika sumbernya berkualitas buruk, dan sumber itu adalah Hati/qalbu. Begitupun jika sumbernya baik. Itu makanya disebutkan bahwa "Hati adalah Cermin".

Dan sayup terdengar dari rumah tetangga, lantunan lagu lawas Bimbo:

"Akuu jaauuh, Engkau jaauuh..
Aku dekat, Engkau dekaat..
Hati aadaalaah ceeermiin...
Tempat pahala dan dosa beerpaaduu.."


Semoga...
#ombad #tasawuf

CINTA ITU SEDERHANA

Seorang teman bertanya...

Kang, mungkinkah memperoleh cinta Allah dengan cara yg sederhana?

Apakah manfaatnya cinta Allah dalam kehidupan saat ini dan saat nanti?

Apakah tanda-tanda dari hamba Allah yg telah memperoleh ridha Allah?

Apakah cinta Allah ini absolut atau relatif tergantung pada kualitas cinta dirinya kepada Allah.

**

- Mungkinkah memperoleh cinta Allah dengan cara yg sederhana..?

Allah itu Maha Adil, artinya setiap hamba-Nya punya peluang yg sama untuk memperoleh limpahan cinta-Nya. Cara memperolehnya sesuai "kondisi" hamba-Nya. Ukurannya adalah kualitas Qalbu yg telah mencapai "al-Lubb" dan kualitas qalbu ini tidak bisa diukur lewat lisannya ataupun pikirannya. Lubb adalah hati yg sudah mampu memilih kebaikan dan meninggalkan keburukan, dan telah terisi dengan kesadaran bahwa kebaikan yg dilakukannya sebagai bentuk kecintaan kepada Allah SWT.

Kualitas batin ini ukurannya bukan banyak kitab yg dikuasai, tetapi "kedekatan" qalbunya dengan Tuhannya.

Cara pun ya bisa sederhana. Misal, belum tentu yg naik haji dan umrah berkali-kali mendapat predikat mabrur, malah yg shalat subuh berjamaah, lalu duduk berdzikir memuji Allah hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, yg mendapatkan pahala haji dan umrah. Begitupun dengan orang yg pergi ke mesjid dengan niat belajar agama atau mengajarkannya.


- Apakah manfaatnya cinta Allah dalam kehidupan saat ini dan saat nanti..?

Manfaat di dunia, agar bisa merefleksikan rasa cinta-Nya buat sesama makhluk, dan bisa mengupayakan yg lainpun agar bisa merasakan cinta-Nya. Itu makanya nikah itu wajib.. 😍

Manfaat di Akhirat, ya berhubungan dengan "kualitas" surga. Ma'wa, Naim, Firdaus atau Iliyyin.


- Apakah tanda-tanda dari hamba Allah yg telah memperoleh ridha Allah..?

Tanda-tanda secara fisik, sulit dilihat. Karena ini hubungan pribadi antara dirinya dengan Tuhannya, dan itu adalah Rahasia Allah.

Kalau tanda-tanda secara nonfisik (ruh), ya pasti ada.

- Apakah cinta Allah ini absolut, atau relatif tergantung pada kualitas cinta dirinya kepada Allah.

Ya. Dalam Hadist Qudsi kan disebutkan, 

"Aku (tergantung) pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika dia ingat kepada-Ku dalam dirinya, maka Aku ingat kepadanya dalam diri-Ku...".

Artinya cinta Allah ini absolut, tetapi akan "terasa" relatif oleh makhluk-Nya karena tergantung kualitas hati untuk "menampungnya", tergantung kualitas cinta dirinya kepada Tuhannya. Allah akan membalas limpahan cinta-Nya berkali lipat dari kecintaan hamba-Nya.

Dan "komunikasi" timbal balik ini akan berimplikasi pada peningkatan kualitas iman dan taqwa hamba-Nya.

Ada masukan..?


Semoga....
#ombad #tasawuf

21 January 2018

RANGKAIAN, HIKMAH & ULUL ALBAB

Ayat-ayat al-Quran & Hadist (sebagai penjelasnya) itu "terangkai" dan menjadi suatu "rangkaian" yg utuh. Seperti suatu rangkaian "kodifikasi" yg saling berhubungan dari satu ayat ke ayat lainnya.

Terangkainya ayat-ayat Qauliyah ini karena secara makrokosmik ayat-ayat Kauniyah yg berupa alam semesta pun sudah merupakan suatu kesatuan yg utuh, harmonious balance.

Mengetahui Rahasia "terangkai" nya ayat-ayat ini merupakan anugrah Allah bagi hamba yg dipilih-Nya. Hikmah untuk para 'Arifin.

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ

"Allah memberikan Hikmah kepada siapa yg dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yg diberi Hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yg banyak. Dan tak ada yg dapat mengambil pelajaran kecuali ULUL ALBAB (orang-orang yg berakal)." (QS. Al-Baqarah: 269)

Salah satu bentuk Hikmah itu adalah ilmu/pemahaman rahasia syari'at Agama (makna, filosofi, irfan, gnosis, self knowledge, hudhuri, dll) beserta integrasinya dengan ilmu dzahir (hushuli).

Coba perhatikan kata ULUL ALBAB, diterjemahkan sebagai "orang-orang yg berakal".

Secara lengkap, makna Ulul Albab itu adalah orang-orang yg berakal Jernih/bening, Sehat, dan Suci, yakni akal yg hanya berpihak kepada Kebenaran Hakiki, bukan pada kepentingan-kepentingan subyektif.

Dan secara lebih dalam (dalam kaitan kualitas qalbu), Syeikh Abdul Qadir al-Jailani qs. lewat Tafsirnya mengartikan ULUL ALBAB adalah :

"Orang-orang yg sudah mencapai LUBB (inti tauhid) dan sudah terlepas dari qasyr-nya sama sekali. Mereka adalah orang² yg mengingat Allah yang Mahatunggal dalam Dzat-Nya, di semua keadaan mereka, sambil berdiri, duduk atau berbaring/bersandar."

Di manakah Lubb...?
Lihat Hadist Qudsi :


ﺒﻨﻴﺖ ﻓﻰ ﺟﻮﻒ ﺍﺒﻦ ﺃﺪﻢ ﻗﺼﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻗﺼﺭ ﺼﺪﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﻗﻟﺒﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻗﻟﺐ ﻓﺅﺍﺪﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻓﺅﺍﺪ ﺷﻐﺎﻓﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺷﻐﺎﻑ ﻟﺒﺎ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻟﺐ ﺴﺭﺍ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺴﺭ ﺃﻨﺎ

“Aku jadikan pada Anak Adam itu ada Qasrun (istana), di situ ada Shadr (dada), di dalam dada itu ada Qalbu, di dalamnya lagi Fuad, di dalamnya lagi ada Syaghaf, juga di dalamnya ada Lubb, dan di dalamnya ada Sirr, di dalamnya itulah ada Aku."

Artinya, Hikmah itu berhubungan dengan kualitas "kedalaman", sehingga anugrah Hikmah dari Allah itu insyaAllah akan diberikan kepada hamba-hambaNya yg selalu mengolah ke dalam dirinya, bertaubat, tadzkiyah nafs, membersihkan penyakit-penyakit hati, selalu berintrospeksi, memelihara kesucian, memperdalam dan menghaluskan qalbunya, serta selalu berusaha menggapai Qurbah. Sampai akhirnya bisa mencapai "kedalaman" Lubb, menjadi seorang Ulul Albab, bahkan memasuki kedalaman Sirr dan Fana'...

Jadi, kurangi "menunjuk" dan perbanyak "menggali" ke dalam diri. Itulah Tasawuf.

Semoga....
#ombad #tasawuf