Showing posts with label Alquran. Show all posts
Showing posts with label Alquran. Show all posts

25 June 2020

TIGA PONDASI

Salah satu tanda Sabar adalah kurangnya kebencian di hati. Salah satu tanda Syukur adalah kurangnya kedengkian di hati. Dan tanda Menerima adalah berkurangnya rasa khawatir di hati, sangat kecil, mendekati nol, bahkan nol.
 
Lho.. apa hubungannya.. kesabaran dengan kebencian, rasa syukur dengan kedengkian, serta menerima dengan rasa khawatir..? 

Pertama, munculnya rasa benci itu karena belum bisa bersabar terkait dorongan-dorongan hawa nafsu. Hati yang harusnya bisa menjadi "sumber" petunjuk atau dijadikan "wasit" yang objektif malah berusaha supaya dipengaruhi nafsu dirinya. Itulah ketidak-sabaran. Dan pancaran jiwa orang yang penuh kesabaran itu tidak akan memancarkan kebencian, karena yang muncul dari dirinya cukuplah objektivitas. 

Rumusnya, 
Sabar = Syukur + Menerima
 
Kedua, munculnya rasa dengki itu karena ketidakpuasan dirinya. Hati dan pikirannya sering "protes" dan ujungnya itu "tidak menerima" suatu kondisi. Jika tidak bisa Menerima ya gak akan bisa bersyukur. Dan pancaran jiwa orang yang penuh rasa syukur itu tidak akan memancarkan kedengkian, karena yang muncul dari dirinya cukuplah Kasih Sayang. 

Rumusnya, 
Syukur = Sabar + Menerima.

Ketiga, munculnya rasa khawatir itu karena hati belum bisa menerima suatu kondisi. Dan pancaran jiwa orang yang penuh rasa menerima itu tidak akan memancarkan kekhawatiran, karena yang muncul dari dirinya cukuplah Ketulusan. 
 
Rumusnya, 
Menerima = Syukur + Sabar.

Jadi ada hubungan yang sangat erat diantara ketiga hal ini : Sabar - Syukur - Menerima. 
Saking pentingnya pondasi ketiga hal ini, maka itulah kenapa di Surah ar-Rahman, ada ayat yang diulang-ulang sampai 31 kali. Dan dalam pengulangannya ayat ini jika kita jeli sangat terkait dengan ketiga pondasi di atas. 

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.

Fa bi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan
"Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan..?"

Iya, karena orang yang Ikhlas itu bukanlah seorang Pendusta. Dan sementara itu,

Ikhlas = Sabar + Syukur + Menerima

Semoga...
#ombad #tasawuf

17 June 2020

SURGA NUSANTARA

Solusi dalam menawarkan sesuatu itu tidak terlepas dari Situasi, Kondisi dan Tolak ukur lingkungan sekitarnya.. plis gak usah disingkat, bisi jadi jorang. 

Jika seandainya dulu Islam turun di Indonesia, perumpamaan Surga yg isinya sungai berair jernih, taman-taman berumput hijau, pepohonan rimbun dan berudara sejuk, sepertinya akan kurang menarik, wong di Indonesia ini banyak tempat seperti surga. 

Sungai berair jernih banyak, dari mulai parit, selokan sampai sungai beneran. Taman-taman berumput banyak, mau rumput hijau, rumput gajah maupun rumput plastik aja ada. Pohon-pohon yang rimbun daunnya seabreg, baik itu pohon yang tinggi maupun jenis perdu. Daerah sejuk pun bertebaran di mana-mana dengan hiasan gunung, bukit, lembah, danau dan indahnya pemandangan. Surga semua, paling yang belum surga itu Wifi unlimited gratis. 

"PERUMPAMAAN surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa. Di sana ada sungai-sungai yang airnya bersih, tidak berubah rasa dan baunya, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya. Di sana juga ada sungai-sungai madu yang murni tidak tercampur dengan sesuatu selainnya." (QS. Muhammad : 15) 

Dan termasuk hadiah 72 bidadari bahenol dan semok pun mungkin tidak terlalu menarik bagi sebagian besar umat di Indonesia, kecuali untuk para bangsawan. Kenapa..? 

Ya iya, kebanyakan kan kerja nyangkul di sawah atau jadi nelayan. Boro-boro banyak indehoy dengan 72 bidadari, ngegilirnya gimana.. pulang ke rumah juga badan udah capek sekali. Punya satu aja banyakannya pakai sisa tenaga..

😁  
Semoga..
#ombad

07 April 2020

OPTIMIS, BUAH IMAN

Optimisme itu menyertai Kebenaran. Orang yang optimis itu akan berpikir positif, yakin kepada Tuhannya dan juga kepada dirinya sendiri. Dan selanjutnya, ia akan selalu berbaik sangka kepada Tuhannya.

Dalam sebuah Hadist Qudsi, Rasulullah SAW bersabda : 
 
إِنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلَا يَقُولُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَلَهُ وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فله. رواه ابن حبان

Allah SWT berfirman, 
Aku itu tergantung prasangka hamba-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Sebaliknya, jika ia berprasangka buruk, maka itulah yang didapatkannya.” (HR. Ibn Hibban, dari Abu Hurairah ra.)
 
Sebuah Hadist riwayat Imam Ahmad ra., 
 
Rasulullah SAW berkata, "Tidak ada perasaan buruk dan kesialan, dan yang lebih baik dari itu adalah rasa optimistis." 
Sahabat bertanya, "Apa yang dimaksud dengan rasa optimistis..?" 
Rasulullah menjawab, "Yaitu Kalimat Baik yang sering didengar oleh salah seorang dari kalian." 

Tumbuhnya sikap optimistis berkaitan erat dengan keimanan, terutama iman kepada Takdir, iman kepada Qadla dan Qadar. Artinya segala sesuatu yang menjadi ketetapan Allah itu akan selalu mengandung Hikmah dan Kebaikan. 
 
Jadi, tetaplah bersikap positif dan optimis, mau mati atau kiamat besok sekalipun..

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
 
Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah benih (tunas), maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari & Ahmad)
 
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah : 5-6)
 
Semoga...
#ombad #tasawuf #optimis 

16 December 2019

ADAM DAN MANUSIA PURBA

Dalam tinjauan Al-Quran, klasifikasi manusia itu ada 3 jenis, yaitu : 
 
1. Manusia sebagai AL-BASYAR, yaitu lebih ke "makhluk biologis" seperti halnya hewan, yaitu: ada bentuk atau postur tubuh, anggota badan, mengalami pertumbuhan atau perkembangan jasmani, makan, minum, melakukan hubungan seksual, beranak-pinak, dsb. 
 
2. Manusia sebagai AL-INSAN, yaitu manusia sebagai makhluk istimewa, ber-ilmu pengetahuan, punya nilai moral serta spiritual. Inilah inti dari manusia sebagai khalifah dan pemikul amanah (pemikul al-wilayah al-Ilahiyah).
 
3. Manusia sebagai AN-NAAS, yaitu manusia sebagai makhluk sosial yang harus bisa mengatur kehidupan sosialnya. 

Manusia purba itu poin 1 atau Al-Basyar saja, tetapi Adam adalah "manusia pertama" yang utuh, baik sebagai manusia Al-Basyar, Al-Insan maupun An-Naas. Dalam tasawuf ada istilah Al-Insan Kamil
 
Ibn Khaldun menggambarkan manusia purba ini sebagai alam kera (Alamul Qiradah), yang tidak memiliki kosa kata yang cukup untuk berkomunikasi (lebih ke bahasa isyarat atau simbol), juga penggunaan alat bantu yang sangat terbatas. 

Hal ini berbeda dengan Adam --sebagai "manusia pertama" di bumi-- yang sudah mampu berkomunikasi menggunakan bahasa lisan serta sudah dibekali ilmu pengetahuan.  

"Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, 'Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini jika kamu yang benar'.." (QS. Al-Baqarah: 31)

Artinya Adam, serta generasi selanjutnya sudah memiliki pengetahuan tinggi untuk hidup di dunia. Misal, Nabi Idris telah memiliki kemampuan menulis, 

"Ada seorang Nabi yang menulis di atas pasir." (HR. Muslim)
 
Dalam Hadist lain, 

".. Nabi Idris adalah manusia pertama yang menulis dengan pena.." 

Dalam Al-Quran, kata "An-Naas" lebih banyak dibanding kata "Al-Insan", apalagi dibanding kata "Al-Basyar". 

Hal ini menyiratkan bahwa kualitas manusia itu harus bisa menjadi "An-Naas" dimana ia bisa mengatur aspek-aspek sosial serta budaya di dalam kehidupannya. Hal ini bisa dicapai jika masing-masing diri bisa memunculkan dan menguatkan sifat "Al-Insan" nya, bukan sekedar jadi makhluk biologis "Al-Basyar" saja, karena betapapun primitifnya, manusia itu bisa melakukan segala sesuatu yang dilakukan binatang sehingga seringkali kelewat batas dan tak terkendali. 

Jadi, tinjauan Teori Evolusi itu lebih ke konteks "Al-Basyar" aja, ada "penyesuaian" karena terikat ruang dan waktu. Dan tentunya bisa berbeda jika dalam posisi "Al-Insan" ataupun "An-Naas" karena lebih timeless and spaceless. 

Semoga...
#ombad #tasawuf

31 August 2019

LIDAH DI BELAKANG HATI

Banyak hal yang tidak tampak (baca: hati, iman) mudah dihukumi oleh orang-orang yang belum paham agamanya. Jauh berbeda dengan para alim ulama yang kualitasnya sudah tidak diragukan lagi, dimana mereka hanya menghukumi hal-hal yang tampak karena hanya Allah yang menguasai hal-hal yang tidak tampak.

Seorang sahabat pun, yaitu Muadz bin Jabal ra. pun pernah mendapat teguran keras dari Rasulullah SAW saat dengan ringannya menuduh "munafik" seorang Muslim. Rasulullah menegurnya dengan kalimat:

اتحب ان تكون فتانا

"Apakah kamu suka menjadi tukang fitnah..?!"

Rasulullah SAW marah karena Muadz tidak punya hak untuk menghakimi seseorang itu pantas disebut sebagai munafik atau tuduhan buruk lainnya.

Jadi, belajarlah menahan ucapan (lidah) ataupun tulisan, jangan mudah menghina ataupun melempar tuduhan-tuduhan yang buruk terhadap sesama karena bisa menyakitkan hati orang lain juga, bukankah “Mereka-mereka itu adalah orang-orang yang hanya Allah yang mengetahui apa yang ada di hati mereka…" (QS. An-Nisa’ : 63)

"Lidah orang berakal berada di belakang Hatinya, sedangkan Hati orang bodoh berada di belakang lidahnya." ('Ali bin Abi Thalib kw.)

Begitupun yang dikatakan Hasan Al-Bashri ra. (lahir 642 M, masa kekhalifahan 'Umar bin Khatthab ra.) :

Sesungguhnya lidah orang beriman berada di belakang hatinya. Apabila ingin bicara tentang sesuatu maka dia merenungkan dengan hatinya terlebih dahulu, kemudian lidahnya menunaikannya. Sedangkan lidah orang munafik berada di depan hatinya. Apabila menginginkan sesuatu maka ia mengutamakan lidahnya daripada memikirkan terlebih dulu dengan hatinya.”


Semoga..
#ombad #tasawuf

21 August 2019

MADINAH, BUKAN YASTRIB

Sekitar tahun 2600 SM setelah banjir jaman Nabi Nuh as. surut, mereka yang selamat ada yang sampai ke wilayah Madinah, yaitu Yatsrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Iram bin Abil bin Iwadh bin Iram bin Sam bin Nuh as.

Setelah ditemukan oleh Yastrib bin Qaniyah, akhirnya dinamakan YASTRIB, dan selanjutnya daerah ini menjadi tujuan bagi orang-orang yang melarikan diri (eksodus) dari tempat asalnya, entah disebabkan konflik ataupun ekonomi.

Rasulullah SAW pernah berkata ketika mendapat perintah hijrah,

Aku diperintahkan pada sebuah desa yang memakan desa yang lain. Mereka mengatakan Yatsrib, padahal namanya Madinah, (Madinah) itu membersihkan manusia seperti api yang membersihkan kotoran besi.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah ra.)

Rasulullah tidak menyukai penyebutan YASTRIB karena maknanya : "Mencela" dan "Menghardik" (dari Tastrib, lihat surah Yusuf ayat 92). Itu makanya diganti MADINAH, sampai disebutkan dalam sebuah hadist, “Barangsiapa menyebutnya Yastrib dianggap melakukan sebuah dosa.” (HR. Ahmad, dari Isa bin Dinar ra.)

MADINAH, yang akar katanya sama dengan DIN (dal-ya-nun) ini bermakna dasar PATUH, atau bisa dimaknai juga BERADAB.

Pemilihan nama MADINAH oleh Rasulullah SAW ini tentunya terkait visi Beliau dalam pola kehidupan sosial, dimana nilai-nilai yang harus diterapkan untuk membangun sebuah peradaban (islami) itu adalah KEPATUHAN (kesadaran umum untuk patuh kepada peraturan atau hukum), KETERATURAN, KESOPANAN dan kehidupan yang lebih BERADAB.

Dan Allah SWT pun mengabadikan nama Madinah ini lebih dari satu ayat, yaitu Surah at-Taubah (ayat 120), al-Ahzab (ayat 60) dan al-Munafiqun (ayat 8).

Beberapa alasan dipilihnya Madinah sebagai tujuan hijrah :

- Penduduknya memiliki sikap ramah, khususnya suku yang berasal dari Yaman, yaitu suku Aus dan Khazraj.

- Penduduk Madinah memiliki pengalaman berperang, karena Suku Aus, suku Khazraj, dan komunitas Yahudi Madinah sering berperang.

- Rasulullah memiliki hubungan darah dengan penduduk Madinah, yaitu Bani Najjar (saudara dari ibunya).

- Letak Madinah yang strategis, dimana sebelah Timur dan Barat merupakan sebuah wilayah yang terjal, serta hanya dari sisi Utara yang menjadi wilayah terbuka (bagian yang dibikin parit oleh Salman al-Farisi ketika terjadi Perang Khandaq).

Jadi sekali lagi, salah satu visi Rasulullah SAW itu adalah terciptanya suatu peradaban yang didasari Kepatuhan terhadap aturan atau hukum, Keteraturan, Kesopanan dan kehidupan yang lebih Beradab.
 
  .
Semoga..
#ombad #sejarah #madinah

**

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖيَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Pada hari ini tidak ada CERCAAN terhadap kalian. Mudah-mudahan Allah mengampuni kalian, dan dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf : 92)


15 August 2019

BRAIN POWER

Otak manusia yang sebesar tempurung kelapa ini menyimpan kekuatan yang dahsyat, dan potensi ini ada di setiap orang, sayangnya banyak yang otaknya (baca: pikirannya) masih terlapisi "racun".

"Dunia dikuasai oleh pikiran, dengan pikiran dunia terbentuk; semuanya terjadi di bawah kekuasaan pikiran.” (Buddha)

"Racun" inilah yang menyebabkan terjadinya konflik pikiran, sebutlah pertempuran antara otak kiri dengan otak kanan. Kondisi ini mempersulit aktifnya otak tengah (pineal) sehingga kekuatan yang tersembunyi dalam pikiran pun tidak muncul dan berkembang. Dan energi pun terbuang percuma.

Ketika pikiran terlapisi "racun", maka pikirannya tak lagi mampu melihat dan menanggapi suatu keadaan secara tepat, akan serba bias. Kesalahan ini dimulai dari prasangka buruk, kecurigaan, ketakutan dan kekhawatiran. Dan akhirnya akan berkembang menjadi suatu kebiasaan dan menjadi bagian dari karakter dan kepribadian.

Salah satunya adalah terjebak masalah "waktu", terjebak dalam masa lalunya. Ia hidup di dalam penderitaan, akibat kenangan atas gelapnya masa lalu, yang sebenarnya sudah tidak ada. Begitupun dengan masalah masa depan, bisa memunculkan keraguan dan ketakutan. Akhirnya dalam menjalani hidup hanya berkutat dan terombang-ambing di antara dua kubu, yaitu penyesalan akan masa lalu dan ketakutan akan masa depan. Hal ini akan mengakibatkan pikiran selalu dipenuhi ketegangan serta penderitaan, dan ujungnya, Kedamaian pun sulit dirasakan, kalaupun terasa hanya sesaat seperti sebuah fatamorgana.

"Orang yang pikirannya kacau, penuh dengan nafsu dan hanya melihat pada hal-hal yang menyenangkan saja, maka nafsu keinginannya akan terus bertambah. Sesungguhnya orang seperti itu hanya akan memperkuat ikatan belenggunya sendiri.." (Buddha, Dhammapada)
 
Meski pengendalian pikiran itu lebih kepada soal psikologis dan intelektual, tetapi karena adanya pengalaman (memori masa lalu) yang berupa penderitaan, konflik dan ketidakpuasan terhadap kehidupan, maka agama memberi solusi supaya aspek psikologisnya bisa tenang dulu, sehingga sesudah tenang akan lebih mudah untuk mengendalikannya,

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan Mengingat Allah (dzikir). Ingatlah, hanya dengan Mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d : 28)

Dan kalibrator dari proses pengendalian pikiran ini adalah Hati, karena keaktifan  Pineal itupun berhubungan dengan hati/qalbu. Itu makanya disarankan agar hatinya bisa damai dulu dengan cara mendekati Pemilik Hati :

"Sesungguhnya, Hati tidak akan --merasakan-- Ketenangan, Ketenteraman, dan Kedamaian, melainkan jika pemiliknya berhubungan dengan Allah --dengan melakukan ketaatan kepada-Nya-- sehingga, barangsiapa yang tujuan utama --dalam hidupnya--, kecintaannya, rasa takutnya, dan ketergantungannya hanya kepada Allah, maka ia telah mendapatkan kenikmatan dari-Nya, kelezatan dari-Nya, kemuliaan dari-Nya, dan kebahagiaan dari-Nya untuk selama-lamanya." (Ibn Qayyim ra.)

Jadi ada hubungan yang erat antara otak kiri, otak kanan, otak tengah dan qalbu. Bukankah pencerahan (enlightenment) itu terkait dengan intelektual, ilmu, kesempurnaan etika/adab, moral, mental psikologis dan spiritual..?

Dan tetap yakinlah bahwa segala hal yang memiliki sifat untuk timbul, memiliki sifat untuk lenyap, meski saat ini masih sulit mengendalikan pikirannya, atau dengan kata lain, ularnya belum "jinak".

Btw, masih berupa "ular kobra" kan.. dan belum "ular naga"..?

Semoga..
#ombad #tasawuf #brainpower

12 August 2019

TASAWUF DALAM TITIK KESETIMBANGAN

Titik Kesetimbangan dari setiap individu itu bisa berbeda-beda seperti halnya frekuensi natural tubuhnya.

Di satu sisi manusia itu dibekali dengan aspek paradoks dalam dirinya, tetapi di sisi lain Tuhan menyuruh manusia untuk berproses sampai mencapai "titik kesetimbangan" dirinya, sehingga bisa "centering" dalam dirinya serta bisa "harmonious balance" dengan sekitarnya.

Sulitnya mencapai Titik Kesetimbangan ini sesulit mencapai Daim atau Wustha dalam shalat, serta sesulit mendiamkan pikiran agar bisa diam di Pineal, sehingga nanti bisa "jelas" dalam merasakan "pembatas" antara tubuh bagian kiri dengan bagian kanan, ataupun "pembatas" antara pikiran bagian kiri dengan bagian kanan.

Butuh waktu dalam memproses hal-hal yang saling berlawanan, saling meniadakan, saling bermusuhan. Masing-masing akan berusaha agar bisa menang dalam menghadapi rivalnya. Perbedaan antar masing-masing kutub awalnya sangat ekstrim, sangat besar selisihnya, sehingga menyebabkan konflik dalam diri. Lalu Tuhan pun memberi "keyword" Pasrah, Ikhlas dan Ridha, dan seiring waktu perbedaannya makin "kecil" sampai mencapai "garis" Kesetimbangan diri, atau bisa disebut kondisi "flat" ataupun nol.

Kedua hal yang berlawanan --fisik-nonfisik, lahiriah-batiniah, eksplisit-implisit, tersurat-tersirat, logika-rasa, otak kiri (IQ)-otak kanan (EQ), transedental-horizontal, hablum minallaah-hablum minannaas, dsb-- ini setiap saat berada dalam sebuah timbangan yang idealnya diam di tengah-tengah.

Kesetimbangan diri harus bisa berada di titik tengah dari dua hal yang ekstrim. Analoginya, Hemat adalah titik tengah dari Boros dan Pelit, ataupun Pemberani adalah titik tengah dari Nekad dan Pengecut.

Dan demikian (pula) Kami menjadikan kamu ummatan Wasathan (umat yg adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan manusia) dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. al-Baqarah: 143)

Islam itu al-Wasathan, yang artinya Seimbang (balance), Moderat, Equilibrium. Apakah itu antara sisi material dan spiritual, dunia dan akhirat, bahkan juga dalam sikap. Bukankah sebaik-baiknya suatu perkara adalah yang di pertengahan..? Pada setiap manusia pun yang paling enak kan yang di tengah-tengah ya.. 😍

Ada dua sifat utama yg melekat pada ummatan Wasathan, yaitu:

1. Al-Khairiyyah, selalu berorientasi kepada yg terbaik, keutamaan dan adil.
2. Al-Bainiyyah, pertengahan, moderat, tidak ekstrim kanan ataupun ekstrim kiri.

Tetapi, kadang ada orang yang menetapkan titik Keseimbangan menurut ukuran/kadar yang hanya diyakini sebagai kebenarannya sendiri, menetapkan secara membabi-buta seakan kebenaran dirinya adalah yang paling absolut, paling benar. Mereka menetapkan titik keseimbangannya tersebut dengan sangat kaku, lalu memaksakan dirinya dan orang-orang di sekitarnya untuk mengikuti dan meyakininya, menolak habis dan secara total kadar/ukuran dari yang lain jika berbeda dengan dirinya atau kelompoknya.

Jika hal seperti ini keukeuh dilakukan maka selain menghasilkan konflik internal, akan memunculkan konflik eksternal juga. Inilah penyakit mental dan hati, karena jiwanya tetap terkungkung dalam pembenaran, penyangkalan dan kegalauan diri sendiri.

Itulah kenapa masih banyak manusia yang memperebutkan Merasa Tahu dan bukan Pengetahuan, serta masih banyak yang memperebutkan Pembenaran, dan bukan Kebenaran.

Artinya, Kepandaian itu berhubungan dengan Tahu Batas, dan Kebijakan itu berhubungan Waktu serta Prioritas. Jika selalu merasa lebih besar dan lebih benar maka itu namanya sombong, seindah apapun dituangkan dalam ucapan dan kata-kata.

Jadi berusahalah menjadi pribadi yang Wasathan (khairiyah bainiyah) agar selalu bisa bersikap terbuka dan objektif.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

09 August 2019

TASAWUF DALAM PARALLEL UNIVERSE

Jin, setan, iblis, malaikat, bahkan Tuhan pun bagi sebagian besar manusia masih berada di dunia "paralel" (ghaib, nonfisik). Meski ada juga  hamba-Nya yang bisa "melihat" seperti halnya sebuah realita, dimana ia bisa membuka portal dimensi lain.

Ada sebagian kecil manusia yang bisa menembus batasan ruang dan waktu meski pendekatannya bukan atas nama sains (fisika, matematika, dsb), dan seringkali mereka dianggap aneh dan disebut sebagai Mistik (myth). Mungkin nanti ada saatnya portal terbuka dan bisa dibuktikan dengan ilmu pengetahuan (sains), serta bisa menghubungkan kedua term "myth" dan "math" sampai akhirnya "math" = "myth". Karena bagaimanapun penemuan dalam aspek "math" itu seringkali idenya bersumber dari aspek "myth", dan begitu juga sebaliknya, "myth" pun hanya sebatas keyakinan saja jika tidak bisa dijelaskan lewat "math".

Pengalaman Isra Mi'raj Rasulullah SAW yang terbuka portal ke dimensi lain bisa jadi salah satu acuan, meski umatnya hanya sebatas meyakini saja, belum bisa membuktikannya, atau bahkan "dipaksa" mempercayainya.

Bagaimana seorang manusia di tahun 600 M bisa bertemu dengan orang-orang yang sudah meninggal beratus-ratus tahun sebelumnya, bisa menembus portal dimensi dan mengarunginya tanpa batasan ruang dan waktu (spaceless & timeless).

Perlu diketahui, gagasan para fisikawan terkait dunia paralel ini bisa dibilang akibat "ketidaksengajaan" saat mereka sedang mengukur waktu yang diperlukan partikel neutron untuk terurai menjadi proton begitu dikeluarkan dari inti atom, pada tahun 1990. Dari dua eksperimen yang terpisah memperlihatkan bahwa neutron terurai pada tingkat yang berbeda, serta terjadi dilatasi waktu yang membingungkan para ilmuwan. Sampai akhirnya mereka berasumsi bahwa ada keberadaan dunia paralel soalnya ada dua masa hidup neutron yang terpisah, serta bisa jadi 1% neutron melintasi kesenjangan antara dunia realitas saat ini dengan dunia paralel, sebelum menyeberang kembali lalu memancarkan proton yang terdeteksi.

Dan terkait dunia paralel ini, para ilmuwan di Ridge National Laboratory pun ingin membuktikan eksistensi dunia paralel. Eksperimen untuk mengungkap “dunia bayangan tersembunyi yang aneh”.

Eksperimen terbaru para fisikawan ini akan menembakkan seberkas neutron pada dinding yang tidak bisa ditembus. Pada sisi lain dinding, detektor neutron akan dipasang. Jika detektor bisa mencatat keberadaan neutron, maka secara teori, si neutron tersebut telah berhasil melewati dinding dengan "ber-osilasi" ke dunia paralel lalu muncul kembali ke alam semesta ini.           

Tentunya ada "katalis" medan magnet pada dua sisi dinding untuk membantu "memberi" kekuatan tertentu kepada si neutron agar lebih mudah dalam osilasi partikelnya.

Dan tetap, keberadaan dunia paralel masih sulit dibuktikan dengan ilmu pengetahuan, sementara di luar galaksi sana sinar kosmik berenergi tinggi tetap eksis dan memancar.

Ya, kita masih harus tetap menunggu dalam ruang dan waktu yang berbatas, karena dunia sains masih belum "ketemu" dengan dunia spiritual, dan "myth" pun belum bisa dibuktikan dengan "math", serta kuantum pun masih sebatas teori, yang sekedar dijadikan hiburan lewat film fiksi ilmiah.

Jadi kapan donk mau lihat malaikat.. masa pas sekarat doank.. 😂

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam


08 August 2019

TASAWUF DALAM PADUAN (ALLOY)

Logam yang merupakan material kiriman dari langit ini sudah akrab dalam kehidupan manusia sejak jaman perunggu. Seiring perkembangan ilmu dan teknologi, paduan logam pun semakin bervariasi dan penggunaannya pun disesuaikan dengan kebutuhan, baik dalam fungsi alat bantu (tools), fungsi status sosial (harta, perhiasan), bahkan transplantasi organ (biomaterials).

Besi (Fe) beserta paduannya adalah material yang paling banyak digunakan manusia sejak dulu. Tuhan pun mengabadikannya menjadi nama salah satu surah dalam Al-Quran, yaitu Surah Al-Hadid. Perlu diketahui, Fe-57 ini adalah salah satu isotop besi yang stabil, satu-satunya yang memiliki “nuclear spin”, dan mempunyai massa atom sebesar 56,9354 ---dibulatkan 57-- yang kebetulan sama dengan nomor surah Al-Hadid yaitu nomor 57.

Paduan berbahan dasar Besi ini menghasilkan bermacam-macam jenis material baru yang berbeda sifat fisik dan mekaniknya. Berbeda kan kualitas besi beton dengan besi rel KA..? Dan begitu juga yang terjadi pada manusia, dimana ia akan berbeda-beda karakter bahkan berbeda-beda kualitas ketaqwaannya, tergantung proses hidupnya.

Jika dicampur Karbon, maka Besi (iron) pun berubah menjadi Baja (steel) yang bermacam-macam jenisnya serta berbeda-beda sifatnya. Jika dicampur dengan Chromium (dengan kadar minimal 11 %), Nikel dan Molybdenum, maka Besi pun akan menjadi Stainless Steel yang lebih ulet dan mempunyai ketahanan terhadap korosi. Bukankah manusia yang awalnya bermental buruk, kaku dan tidak tahan banting, setelah mengalami berbagai masalah dan ujian yang dibarengi dengan sikap sabar, syukur, qana'ah, dsb, ia akan berubah menjadi seorang yang bermental kuat, punya positive mental attitude, fleksibel dan bijak.

Kesempurnaan manusia itu terjadi karena adanya Perpaduan (Sintesa, jam’iyyah), Pencakupan dan Totalitas (majmu’). Al-Haqq akan "memanggil" seluruh hakikat yg tercerai-berai dalam alam dan menghimpunnya dalam sosok manusia, seperti halnya besi tunggal yang kemudian dipadukan dengan material lain yang berbeda jenis (karbon, mangan, nikel, tembaga, vanadium, molybdenum, chromium, tungsten, dll) dalam tanur peleburan, bahkan mengalami proses lanjutan, apakah itu pemanasan sampai temperatur tertentu, ataupun pendinginan dalam periode waktu tertentu (quenching, tempering).

Perpaduan pada manusia ini terjadi pada dua sisi (nuskhatain), yaitu sisi Eksoteris (nuskhah dzahirah) dan sisi Esoteris (nuskhah batinah). Kondisi ini pun mirip dengan proses yang terjadi pada paduan besi dimana akan terjadi perubahan sifat fisiknya, terjadi perubahan komposisi molekul di bagian dalamnya, dan juga terjadi perubahan fase di dalam struktur mikronya, bisa Austenit, Ferit, ataupun Martensit.

Jadi ada suatu proses menuju "kelengkapan" dan "kesetimbangan" secara fisik, kimia, mekanik, komposisi maupun struktur mikronya. Ada proses baik secara Lahiriah maupun Batiniah.

Modal awal manusia yg berupa "Kelengkapan" unsur/elemen ini harus diupayakan sampai terintegrasi sehingga bisa holistik baik dari segi ilmu, pemahaman dan "pandangan".. 

"Dalam bentuk, engkau adalah Mikrokosmos (alam kecil, as-saghir), tetapi pada hakikatnya engkau adalah Makrokosmos (alam besar, al-kabir). Buah itu nampaknya berasal dari ranting, tetapi sebenarnya ranting dan seluruh pohon itu berasal dari sang Buah." (Maulana Rumi ra.)

Dan akhirnya, segala sesuatu di alam ini akan menuju kondisi optimumnya, sebutlah jika paduan logam maka ia akan menuju kondisi idealnya yaitu "kesempurnaan" paduan, dan begitu juga manusia, ia akan terus-menerus ditempa dalam tanur peleburan jiwa, spiritual dan hatinya sampai bisa menuju kualitas idealnya, kualitas Insan Kamil.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

05 August 2019

TASAWUF DALAM THE MATRIX

Masih ingat gak saat Neo dan Morpheus ngobrol di dalam lift yang menuju ruangan The Oracle..?

Neo: “Apakah Oracle ini adalah Oracle penubuwwah..?”
Morpheus: “Ya, dia sangat tua. Dia sudah mengiringi kita sejak awal perlawanan.”
Neo: “Apa yang dia tahu? Segalanya..?”
Morpheus: “Dia akan berkata, bahwa dia hanya mengetahui secukupnya.”
Neo: “Dan dia tak pernah salah..?”
Morpheus: “Cobalah untuk tidak berpikir benar atau salah. Dia seorang pembimbing, Neo. Dia membantu kita untuk menemukan.”
Neo: “Dia menolongmu..?”
Morpheus: “Ya..”
Neo: “Apa yang dikatakannya padamu..?”
Morpheus: “Bahwa aku akan menemukan The One..”
**

The Oracle dalam film The Matrix itu bagai seorang Mursyid dalam sebuah Thariqah (tarekat, jalan, metode).

Seorang Mursyid ini mempunyai metode khusus yang sesuai Sanad (bersambung sampai Rasulullah SAW), dan metode khusus ini dipakai oleh para Murid (dan Murad) dalam menapaki tahapan-tahapan spiritual (maqamat) sebagai seorang salik. "… ia memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.." (QS. al-Ahqaf: 30), karena "sesungguhnya orang-orang kafir dan dzalim, Allah tidak mengampuni dan menunjukkan jalan kepada mereka" (QS. an-Nisa: 168). Bahkan Syeikh Abdul Qadir Jailani qs. dalam Tafsir al-Jailani mentafsirkan bahwa "jalan yang lurus" (shiratal mustaqim) itu adalah "puncak tauhid" (ahadiyah).

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Tasawuf itu merupakan buah dari ber-Thariqah (tarekat), dan Thariqah itu buah dari ber-Syariat. Semuanya saling menyatu dan saling menguatkan, tidak saling melemahkan dan meniadakan. Jadi, tiada Thariqah tanpa Syariat, serta tiada Tasawuf tanpa Thariqah dan Syariat.

Itu makanya dalam kitab Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah disebutkan, “Jenis fitnah itu banyak sekali. Diantara yang banyak merusak seorang hamba adalah pengakuan seseorang menjadi Guru Tarekat dan Wali, bahkan sampai mengaku dirinya Wali Quthb, dan Imam Mahdi, padahal mereka bukan Ahli Syariat.”

Begitupun terkait kemursyidan, banyak yang mengaku-ngaku, abal-abal, bahkan banyak yang merasa sudah "terbebas" dari Syariat, dan akhirnya meninggalkan syariat. Para calon salik pun banyak yang tertipu dengan bungkus, meyakini yang salah karena bungkusnya terlihat sedemikian bagus, dan sebaliknya, yang sejati tetap tersembunyi, bisa "nyumput di nu caang" (sembunyi dalam terang), dengan maksud tertentu, misalnya ia atau muridnya tidak ingin terjebak dalam kesombongan yang samar, ataupun karena berusaha tetap dalam koridor "manusia biasa" yang tidak punya keistimewaan atau diistimewakan. Dan sering membuat orang ragu bahkan salah sangka, seperti halnya Neo sebagai seorang "salik" yang awalnya pun ragu saat melihat penampilan "mursyid" nya, The Oracle.

Oracle: “Kamu tahu mengapa Morpheus membawamu ke sini..? Jadi apa yang kamu pikirkan.. kamu pikir kamulah The One..?"
Neo: “Sejujurnya, saya tidak tau..”
Oracle: “Aku akan beritahumu suatu rahasia. Menjadi The One adalah seperti jatuh cinta. Tak ada yang bisa memberitahumu, melainkan kamu sendiri yang tahu. Jadi, kamu udah siap mengetahuinya.”
Neo: “Mengetahui apa..?”
Oracle: “Bahwa aku tidak akan memberitahumu..”
Neo: “Bahwa saya bukanlah The One.”

Begitulah seorang Mursyid, ia tahu dan paham apa yang terbaik buat Murid, Murad atau Saliknya. Seperti halnya Oracle yang memahami bahwa Neo yang masih terbelenggu jiwanya karena merasa sebagai calon The One, sehingga tanpa sadar dirinya merasa sangat spesial, atau dengan kata lain, kesombongan Neo pun muncul ketika banyak informasi yang mengatakan bahwa ia adalah calon The One.

Dan Neo pun akhirnya bisa menemukan kesejatian jati dirinya, setelah bisa menghancurkan hambatan-hambatan jiwa dan pikirannya akibat dari pandangan dan sikap orang lain.

Neo, ia yang menyelami dirinya diantara dunia realita dan matrix, serta akhirnya bisa mengoptimalkan mind (brainpower) dan jiwanya, dan mengalami pencapaian nilai maksimum kendali kekuatan akal pikirannya, sementara yang lain masih "terhambat" dalam penjara-penjara pikiran alam sadar yang hanya 12%.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

03 August 2019

TASAWUF DALAM SEEKOR BABI

BABI, sebagai sumber pangan protein di dunia ini sudah diternakkan sejak 3.500-4.000 tahun yang lalu. Begitupun di Nusantara, khususnya masyarakat Jawa Kuno yang telah terbiasa beternak babi, bahkan beberapa jenis babi purba diketahui telah ada di Nusantara sejak ratusan ribu tahun lalu.

Popularitas daging babi di Jawa pun surut saat Islam datang dan mengharamkannya. Selanjutnya bermunculan lah "upaya" meyakinkan buruknya daging babi dengan berbagai alasannya, meski banyak tidak benarnya.

"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang --ketika disembelih-- disebut --nama-- selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan TERPAKSA (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan TIDAK (pula) MELAMPAUI BATAS, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 172-173)

Kedua ayat di atas pemahamannya jangan dipotong (dipisah), tentu ada hikmah yang tersembunyi terkait kata "keadaan terpaksa" dan "tidak berlebihan", termasuk jangan suka memaksa dan bertindak berlebihan kepada yang makan daging babi ataupun jualan daging babi.

Terlalu ekstrim kan jika pemahaman "bangkai" ditakwilkan Kebusukan pikiran, jiwa dan hati; "darah" ditakwilkan Mengorbankan hak, jiwa dan nyawa orang lain; "babi" ditakwilkan Kerakusan dan nafsu syahwat yang berlebihan; ataupun keharaman dalam mempersembahkan segala sesuatu jika bukan karena Allah.. iya, terlalu ekstrim.. 😊

Jadi kalau tinjauannya perintah dan keyakinan, ya wajib diikuti meski belum paham kenapa diharamkan, jadi yakin saja bahwa :

"Dihalalkan bagi mereka yang baik‑baik dan diharamkan yang buruk‑buruk.." (QS. Al-A'raf, 7: 157)

Satu hal yang amat penting adalah jangan sampai di satu sisi mematuhi aturan agama, tetapi di sisi lain malah melanggar dan merusak aturan agama dalam lingkup Muamalah khususnya yang terkait dengan rejeki orang lain. Kan tidak lucu jika prinsip akidah "bagimu agamamu, bagiku agamaku" dirubah menjadi "bagimu agamaku, bagiku agamaku"..

Bukankah karena rahmat (kasih sayang) Allah maka babi diciptakan, terus kenapa orang yang suka ataupun dagang daging babi harus dimusuhi bahkan dipaksa tutup pintu rejekinya..?

Dan bukankah jika Babi, anjing atau apapun bisa ada dan bisa hidup di dunia ini merupakan bentuk rahmat dan keridlaan Allah dan bisa dijadikan hikmah bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.. para Ulul Albab.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

08 July 2019

PURIFIKASI DAN PENSYUKURAN

Salah satu bentuk Kedzaliman adalah menuduh orang lain berbuat Dzalim tanpa bukti. Dan jika masih meyakininya maka yang harus diperbaiki adalah Akal, Pikiran dan Hatinya, karena dengan tanpa disadari ada banyak Kedzaliman dalam dirinya. Dan Kedzaliman itu merupakan akibat dari Kekotoran.

Nah, supaya "melihat" dan "menunjuk" ke luarnya bisa berkurang, mendingan rajin "meneliti" diri (muhasabah) saja, apakah itu terkait "purifikasi diri" maupun "mensyukuri".

Kenapa..? Karena :

- "Purifikasi diri" itu adalah sebaik-baiknya doa.

"Sebaik-baik doa adalah Istighfar." (HR. Hakim)

- "Pensyukuran" pun adalah sebaik-baiknya doa.

وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

".. dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah.” (HR. Tirmidzi, dari Jabir bin Abdillah ra.)

Itu makanya Rasulullah SAW mengatakan,

الحمد لله تملأ الميزان,وسبحان الله والحمد لله تمللآن أو تملأ ما بين السماوات والأرض

"Alhamdulillah memenuhi Mizan, dan Subhanallah serta Alhamdulillah keduanya memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi." (HR. Muslim)

Silakan kata "doa" ini di sini dimaknai sebagai komunikasi diri dengan Tuhan, sehingga dari hasil komunikasi internalnya ini bisa "membuka" kesadaran diri bahwa kekotoran dan kedzaliman itu masih banyak tersimpan di dalam diri/hati meski awalnya itu tanpa disadari.

Ketika "istighfar" dan "subhanallah" nya sukses, maka saat akan "menunjuk orang lain", apalagi ada kesalahan dalam "menunjuk" nya, akan terasa seperti sedang "menunjuk diri sendiri". Dan sifat Wara (berhati-hati) pun akan mulai berkembang, sampai kondisi Qana'ah dan Tawadhu.

Ketika "alhamdulillah" nya sukses maka negative thinking dan melihat kekurangan orang lain akan mulai berkurang, lalu selanjutnya berusaha ber-positive thinking dan mulai melihat kelebihan orang lain.

"Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)


Semoga..
#ombad #tasawuf

02 July 2019

TASAWUF DALAM SEEKOR ANJING

Anjing, selain sama-sama merupakan makhluk sosial, pola perilaku anjing pun mirip dengan manusia. Kedekatan pola perilaku ini menyebabkan anjing bisa dilatih, diajak bermain, tinggal bersama manusia, dan bisa diajak bersosialiasi.

Kesetiaan dan Pengabdian anjing seakan mengajarkan manusia untuk tetap setia dan mengabdi kepada Tuhannya. Predikat anjing sebagai "teman baik manusia" pun seakan mengajarkan bahwa manusia pun harus menjadi "teman baik" Tuhannya, dalam arti, qalbu atau batinnya selalu dekat dengan Tuhannya.

Dari anjing pun, manusia bisa belajar sifat-sifat yang baik lainnya. Apakah itu terkait daya tahan tubuhnya khususnya kekuatan dalam menanggung rasa lapar; Sedikit tidur di waktu malam seperti para Muhibbin; Tidak meninggalkan tuannya sekalipun kasar terhadapnya seperti halnya para Muridin; Rela berada di mana saja berada; dan jika dipukul/dikerasin lalu diberi sesuatu maka ia akan kembali tanpa ada rasa dendam; dan banyak sifat baik lainnya.

Seperti itulah "Kebaikan" dan "Pengabdian" seekor anjing.

Tetapi, banyak manusia yang memilih menjadi Bal’am bin Bauro, seorang murid Nabi Musa as. yang tergiur dengan nikmat duniawi sampai akhirnya tidak lagi memperdulikan halal atau haram, melepaskan ayat-ayat Allah dan menukarnya dengan keduniawian, seperti yang telah Tuhan firmankan, "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga.." (QS. Al-A'raf : 176).

Bukankah Anjing yang menjulurkan lidah dan meneteskan air liur itu menunjukkan hasrat anjing terhadap sesuatu..? Dan bukankah banyak manusia juga yang memiliki sifat seperti itu, yang hanya berorientasi materi duniawi dan kesenangan syahwat saja..?

Anjing yang cerdik pun tetap menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat, seperti halnya para penjilat di kalangan manusia yang lebih mementingkan syahwat dirinya sendiri, meski mereka bukan orang bodoh dan tidak pula berkedudukan rendah. Sayangnya para Penjilat ini tetap menghinakan dirinya daripada memilih untuk tetap terhormat dan terjaga kehormatannya.

Mereka ini yang disebut Imam Ghazali ra. sebagai Bahimiyyah (manusia hewan) yang derajatnya itu lebih sesat dan lebih hina dari hewan itu sendiri, karena hawa nafsunya telah memenuhi jiwa, sehingga pengetahuan, akal, hati dan keimanan pun akan dikalahkan oleh perutnya.

Dan seperti itulah "najis" nya seekor anjing yang harus bisa dihindari dan dibersihkan.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

01 July 2019

UCAPAN SELAMAT

(Empati Itu Adab)

Banyak Hadist yg menyuruh memberi ucapan selamat, apakah itu terkait pernikahan, pulang dari naik haji/umrah, karunia anak, sehat, taubat, memasuki bulan ramadhan, hari raya, bahkan kenaikan pangkat/keutamaan yang agung.

Dasar dari semua itu adalah untuk membahagiakan atau menggembirakan sesama Muslim.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا  قَالَ : إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنَّ اَحَبَّ الْاَعْمَالِ اِلَى اللهِ بَعْدَ الْفَرَائِضِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى الْمُسْلِمِ.

Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah SWT setelah melaksanakan berbagai hal yang wajib adalah membahagiakan/menggembirakan muslim yang lain.” (Riwayat dari Ibn Abbas ra.)

Dan terkait ucapan selamat karena seseorang telah memperoleh kenaikan pangkat atau keutamaan yang agung, bisa merujuk hadist ini :

التهنئة بالفضائل العلية والمناقب الدينية
أخرج الشيخان عن أنس قال : ( أنزلت على النبي صلى الله عليه وسلّم ) ليغفر
لكالله ما تقدم من ذنبك وما تأخر( مرجعه من الحديبية ، فقال النبي صلى
الله عليه وسلّم:لقد نزلت على آية أحب إلي مما على وجه الأرض ثم قرأها
عليهم فقالوا : هنيئاً لك يا رسول الله ) الحديث ، وأخرج الحاكم في
المستدرك عن أسامة قال : ( تبعت رسول الله صلى الله عليه وسلّم إلى بيت
حمزة فلم نجده فقالت له امرأته : جئت يا رسول الله وأنا أريد أن آتيكوأهنئك
أخبرني أبو عمارةيعني حمزة أنك أعطيت نهراً فيالجنة يدعى الكوثر )....

Sahabat Anas ra. meriwayatkan sebuah hadits saat diturunkan pada Nabi SAW sepulang dari Perang Hudaibiyyah sebuah ayat, Nabi SAW bersabda : “Sungguh telah diturunkan padaku sebuah ayat yang lebih aku sukai ketimbang apapun diatas bumi”, kemudian Nabi SAW membaca ayat tersebut : “Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,” (QS. 48:2)
Kemudian para Shahabat berkata, “Selamat Wahai Rasulullah..!” (HR. Bukhari-Muslim)

Al-Hakim dalam Kitab al-Mustadarak-nya meriwayatkan sebuah hadits dari shahabat Usamah ra, ia berkata, “Aku mengikuti Rasulullah SAW menuju rumah Hamzah namun kami tidak menjumpainya, kemudian Istri Hamzah berkata pada Rasulullah, “Engkau telah datang Wahai Rasulullah sedang aku berkeinginan mendatangimu dan memberi ucapan selamat kepadamu, Abu ‘Umarah (Hamzah) memberitahuku bahwa engkau telah diberi sebuah telaga dalam surga yang diberi nama Telaga Kautsar.” (HR. Al-Hakim)

Jadi memberi ucapan selamat untuk membahagiakan itu termasuk Sunnah..

Semoga..
#ombad

30 June 2019

ISLAM MENYEMPURNAKAN ?

Jika bicara "Islam menyempurnakan".. maka harusnya nilai dari agama samawi yang lain pun dipelajari, supaya paham sempurnanya Islam itu di mana. Ada hikmah tersembunyi ketika dalam Rukun Iman ada perintah mengimani kitab-kitab dan Nabi-nabi Allah yang lain.

Kesempurnaan yang harus ditemukan oleh para pemeluknya ini seperti halnya "merangkai puzzle" yang masih terpisah-pisah bahkan masih seperti yang saling bertabrakan. Ada nilai-nilai yang susah dimunculkan tapi nilai tersebut mudah dilihat dalam "agama" lain.

"Agama-agama" yg dimaksud ini, bukan sekedar agama secara kelembagaan atau KTP, tetapi terkait suatu "value", seperti budaya, adat kebiasaan, etos kerja, adab, akhlak, dsb yang tanpa disadari sudah menjadi "intisari" ajaran agama. Dan nilai-nilai seperti ini pun banyak dan bertebaran dalam tataran lokal (local wisdom), meski susah "disambungkan" dan "diselaraskan" karena keterbatasan pemahaman dalam memahami agamanya.

Jangan sampai ikut-ikutan fenomena karbitan jaman now itu, dimana baru memahami satu dua potongan puzzle saja sudah merasa bisa merangkai dan menyimpulkan keseluruhan puzzle, padahal potongan puzzle-nya masih tercerai berai, masih terkotak-kotak dan belum bisa terintegrasi.

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling KENAL-MENGENAL.." (QS. Al-Hujurat: 13)

"Saling kenal-mengenal" (lita'arafu) bukan sekedar kenal saja, tapi berhubungan dengan mengenali suatu nilai-nilai (value) kemuliaannya, kemudian bisa mengadopsi nilai-nilainya. Hal ini bertujuan agar masing-masing pribadi bisa meningkatkan derajat ketakwaannya di hadapan Tuhannya.

Bukankah "Allah memuliakan bani Adam" supaya masing-masing bisa saling mencari, menggali, memahami dan mengadopsi value kemuliaannya, dan akhirnya diharapkan bisa memahami kemuliaan dan kesempurnaan bani Adam, artinya dibalik bungkus fisik bani Adam ini terdapat isi yang sangat luas dan dalam. 

Makanya sungguh beruntung orang-orang yg pernah "menggali local wisdom" ataupun pernah hidup di luar negeri (lingkungan yang heterogen) serta bergaul dengan berbagai tipe manusia, ilmu serta budaya yg berbeda-beda. Dan kemudian bisa mengambil nilai dan hikmahnya, bukan sekedar menonjolkan bungkus tanpa isi, ritual tanpa esensi, serta asesoris tanpa nurani.

Semoga..
#ombad #tasawuf

28 June 2019

BERKAH

Berkah (barokah) artinya Nikmat, Karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.

Menurut Imam Ghazali ra, Berkah adalah Bertambahnya Kebaikan (ziyadatul khair). Sedangkan menurut Imam Nawawi ra, asal makna Berkah adalah “Kebaikan yang banyak dan abadi”, dan dalam Syarah Shahih Muslim (karya Imam Nawawi) disebutkan, Berkah memiliki dua arti:

- Tumbuh, berkembang, atau bertambah.
- Kebaikan yang berkesinambungan.

Berkah akan muncul jika bisa Syukur, lalu selanjutnya bisa Ridha..

"Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (QS. Luqman : 12)
 
Menurut Imam Ghazali ada tiga jenis Syukur, yaitu :

1. Syukur dengan Lisan.

Ini adalah syukurnya orang berilmu, yang direalisasikan dengan bentuk ucapan, sebagai bentuk pengakuan/sikap selalu merendahkan diri di hadapan Allah.

2. Syukur dengan Badan.

Ini adalah syukurnya ahli ibadah, yang direalisasikan melalui perbuatan baik, yakni dengan banyak beribadah. Sampai akhirnya selalu meyakini bahwa "segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik dari-Nya".

3. Syukur dengan Hati.

Ini adalah syukurnya ahli makrifat, yang perwujudan hatinya selalu di hadapan Allah dengan menjaga keagungan-Nya, yang diwujudkan melalui segala bentuk perbuatan dan amalnya termasuk gerak hatinya secara konsisten.

Konsistensi aktualisasi ketiga tahapan syukur ini diharapkan bisa membentuk insan yang bisa bersyukur, dan selanjutnya pandai mensyukuri. Ketika ketiganya bisa sinambung, maka akan lebih mudah untuk membentuk sifat Ridha. Ketika seorang hamba bisa ridha kepada Tuhannya maka Tuhanpun akan ridha kepadanya. Dan itulah Berkah.

Rasulullah SAW bersabda,

"Sungguh, Allah menguji hamba dengan pemberian-Nya. Barangsiapa Rela dengan pembagian Allah terhadapnya, maka Allah akan memberikan Keberkahan baginya dan akan memperluasnya. Dan barangsiapa Tidak Rela, maka tidak akan mendapatkan Keberkahan.” (HR. Ahmad)

Dan Berkah itu tidak terkait dengan kuantitas, tapi lebih ke keselarasan lahir batin secara kualitas.


Semoga..
#ombad #tasawuf

27 June 2019

TASAWUF DALAM SEBUTIR KELAPA

Sampai kapanpun Tuhan akan tetap jadi misteri hamba-Nya. Sedemikian misteri/ghaib-Nya maka Tuhan pun seringkali membuat perumpamaan-perumpamaan agar lebih mudah dikenali makhluk-Nya. Bukankah "Tuhan membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Tuhan pun membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia"..? (QS. An-Nuur: 35)

Banyak ciptaan Tuhan yang dijadikan sebagai media perumpamaan-Nya, apakah itu hewan (anjing, lalat, semut, dll), fenomena alam (petir, hujan, batu, tanah, dll), bahkan sampai pohon pun dijadikan perumpamaan (zaitun, kurma, rumput, dll).

Dan karena di daerah gurun, maka pohon/buah kelapa "tidak sempat" dijadikan media perumpamaan.. 😀

Rasulullah SAW bersabda,

"Syariat itu Perkataanku, Tarekat itu Perbuatanku, dan Hakikat itu Kelakuan/karakterku."

Kelapa, seperti halnya agama, bagian buahnya pun berlapis-lapis.

- Sabut (kulit terluar).

Ini diibaratkan Syariat. Kulit kelapa berfungsi untuk melindungi lapisan dalam, melindungi terhadap benturan, seperti halnya syariat yang melindungi dan mengatur batas antara baik dan buruk. Kulit/sabut kelapa juga berfungsi untuk penyebaran buah kelapa, seperti halnya syariat yang selalu dikedepankan dalam penyebaran agama ke seluruh muka bumi. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, "Syariat itu Perkataanku.."

- Batok (tempurung).

Ini diibaratkan Tarekat. Batok kelapa yang keras ini berfungsi untuk melindungi daging kelapa dari gangguan luar, seperti halnya aspek pengamalan dalam tarekat khususnya terkait latihan-latihan jiwa, tadzkiyatun nafs, serta pembersihan diri dari sifat-sifat tercela, dengan tujuan memperkuat keyakinan diri beserta perbaikan kualitasnya.

Menembus batok kelapa yang keras ini seperti halnya riyadhoh dalam tarekat dalam melunakkan kerasnya hati, dimana diperlukan kesungguhan usaha, keistiqamahan, memperbanyak dzikir, suluk, uzlah/khalwat secara batiniah, serta "melatih" keikhlasan sebagai pondasi dasar dalam kemurnian tauhid. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, “Tarekat itu adalah Perbuatanku..”

- Daging kelapa.

Ini diibaratkan Hakikat, yang bisa dirasakan setelah melawati kerasnya riyadhoh, seperti halnya menemukan daging kelapa yang enak dan empuk, setelah bisa melewati kerasnya hijab tempurung hati. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, "Hakikat itu Kelakuan/karakterku."

- Air (Santan, Minyak) kelapa.

Ini diibaratkan Makrifat. Daging kelapa butuh diproses lagi agar bisa jadi Santan ataupun Minyak Kelapa. Keduanya sangat berbeda karakter, dimana Santan itu berumur pendek (cepat membusuk), seperti halnya kondisi Ahwal yang cepat berubah, dan Minyak Kelapa berumur panjang, lebih "abadi", seperti halnya rahasia keabadian ruhani manusia yang tersimpan dalam maqam ini, Baqa setelah Fana.

Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, “Makrifat itu adalah Rahasiaku..”

Rahasia, karena memang Makrifat itu berada di dalam Hakikat, ibarat minyak tidak akan muncul dengan sendirinya tanpa diproses terlebih dulu. 

Dan dari air kelapa pun bisa jadi cuka bahkan tuak yang sangat berbeda jenisnya dengan cuka, seperti halnya cuka yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh, meski di lain sisi, kadangkala memunculkan tuak yang bisa "memabukkan".. 😀

**

وَعَائِيْنِ مِنَ الْعِلْمِ اَمَّا اَحَدُ هُمَا فَبَشَتْتُهُ لَكُمْ وَاَمَّااْلأَخِرُ فَلَوْبَثَتْتُ شَيْئًا مِنْهُ قَطَعَ هَذَالْعُلُوْمَ يَشِيْرُ اِلَى حَلْقِهِ

"Aku meriwayatkan dari Rasulullah SAW dua wadah ilmu: salah satunya telah kuberikan kepada kalian, adapun yang kedua, seandainya kuberikan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pedang untuk memotong leherku ini --dua wadah itu ialah Syariat dan Hakikat--." (Abu Hurairah ra.)

Menurut Imam Qusyairi (dalam Risalah Qusyairiyah) :

Syariat adalah perintah yang ditetapkan dalam ibadah, sedangkan hakikat adalah kesaksian akan kehadiran peran-serta ketuhanan dalam setiap sisi kehidupan. Kita sering mengenal istilah, Musyahadah Rububiyah, yakni melihat Tuhan dengan hati.

Dikatakan demikian sebab syariat merupakan pengetahuan atau konsep merambah jalan menuju Allah, sedangkan hakikat adalah keabadian melihat-Nya.

Sementara, Thariqah merupakan perjalanan hamba meniti jalan syariat. Artinya, aktualisasi prinsip-prinsip syariat dengan ketentuan hukum yang sah.

Syariat datang dengan beban hukum dari Sang Maha Pencipta, sedangkan Hakikat bersumber dari dominasi kreativitas Al-Haqq.

Syariat merupakan penyembahan makhluk pada Sang Khaliq, sedangkan Hakikat adalah kesaksian makhluk terhadap kehadiran-Nya.

Syariat adalah penegakan apa yang diperintahkan Tuhan, sedangkan Hakikat adalah kesaksian terhadap sesuatu yang telah ditentukan dan ditakdirkan-Nya, serta yang disembunyikan dan yang ditampakkan.

Jadi, Syariat adalah Hakikat dari sisi mana kewajiban diperintahkan, dan Hakikat sebenarnya juga merupakan syariat dari sisi mana kewajiban diperintahkan bagi ahli makrifat.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

23 June 2019

TAHAPAN IMAN DAN MUKASYAFAH

Ada tiga tahapan dalam Keimanan, yaitu:

1. 'ILMUL YAQIN. Keyakinan yg muncul karena tahu (termasuk membaca, mendengar), atau disebut juga PERCAYA. Tahap yg pertama ini adalah tahapan PENGETAHUAN karena mempercayai apa yg dia ketahui.

2. 'AINUL YAQIN. Keyakinan yg muncul karena tahu dan melihat/merasa, atau biasa disebut KEYAKINAN. Tahapan ini sudah memasuki tahapan PEMAHAMAN, karena pengetahuan yg dia percayai dibantu/ditambah dengan sesuatu bukti.

3. HAQQUL YAQIN. Keyakinan yg muncul karena tahu, melihat/merasa dan mengalami, ini disebut sebagai KEBENARAN (Hakikat).

Apakah ketiga hal di atas saling bertabrakan? Tentu tidak. Secara normal, hampir semua dimulai dari poin pertama. Artinya ketika poin kedua dialami, semestinya akan makin memperkuat poin pertama, begitupun dengan pengalaman di poin ketiga, akan semakin meneguhkan dua poin sebelumnya. Karena nash yg sudah tertulis, yaitu al-Quran & Sunnah Rasul-Nya telah dijamin kebenarannya oleh Allah SWT. Ini berguna selain untuk memperteguh keyakinan sendiri (rusukh) dan bisa memahami diri sendiri, juga selanjutnya agar bisa memahami orang lain. 

HAQQUL YAQIN adalah hilangnya keraguan karena  telah ridha terhadap apapun yang diberikan Allah kepadanya. Hati nuraninya tetap teguh dengan makna-makna hakikat yg ia dapatkan lewat Musyahadah (penyaksian batin).

Musyahadahnya terhadap hakikat-hakikat keyakinan akan menghilangkan berbagai alasan, keraguan dan dugaan. Kebeningan dan Kejernihan qalbunya akan selalu memunculkan perasaan optimis, positive thinking, ridha, syukur, kebahagiaan dan kecintaan dalam setiap kejadian yg dialaminya. 

Hati nuraninya selalu memutus semua sebab yg menghalangi antara dirinya dengan Allah SWT, dimana ia akan lebih mengutamakan Allah daripada yang lain. Sementara bertambahnya keyakinan sejati tidak pernah mencapai titik akhir. Setiap kali berusaha memahami dan mendalami agama mereka bertambah yakin dan semakin yakin.

Salah satu bentuk dari Haqqul Yaqin adalah MUKASYAFAH (tersingkapnya apa yang ghaib). Mukasyafah ini dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :

1. MUKASYAFAH 'AYAN (tersingkapnya 'tutup' mata) sehingga di hari Kiamat nanti ia melihat dengan mata kepala.

2. MUKASYAFAH QULUB (tersingkapnya 'tutup' hati) untuk memahami hakikat-hakikat keimanan secara langsung dengan yakin, yg tidak bisa dibayangkan dengan cara apa dan bagaimana serta tidak bisa ditentukan.

3. MUKASYAFAH AYAT (tersingkapnya tanda-tanda Kebesaran-Nya), seperti halnya ditampakkannya Kekuasaan Allah kepada para Nabi dengan mukjizat. Dan untuk selain para Nabi dengan karamah (kemuliaan) dan dikabulkannya doa.

"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (Kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda." (QS. al-Hijr: 75)

"Dan dibumi terdapat Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin." (QS. adz-Dzariyat: 20)


Semoga..
#ombad #tasawuf

22 June 2019

AGAMA DAMAI

Semua agama yang ada di muka bumi ini mengajarkan Kebaikan dan Kedamaian hidup manusia. Buddha mengajarkan kesederhanaan, Kristen mengajarkan cinta kasih, Konfusianisme mengajarkan kebijaksanaan, dan Islam mengajarkan kasih sayang bagi seluruh alam.

Islam, dilihat dari segi namanya saja merupakan agama yang unik, karena ia berarti “Keselamatan”, “Kedamaian”, atau “Penyerahan diri secara total kepada Tuhan". Inilah sesungguhnya makna firman Allah, "Inna diina indallaahil Islam" --Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam-- (QS. Ali Imran: 19). Jika "Islam" diterjemahkan menjadi “Perdamaian”, maka terjemahan ayat tersebut menjadi : “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Agama Damai".

Dengan demikian, seorang Muslim adalah orang yang menganut Agama Damai kepada seluruh umat manusia. Para Nabi sejak Nabi Adam as. sampai Nabi Muhammad SAW menganut agama damai itu. Pernyataan Nabi Ibrahim misalnya “La syarika lahu wabi dzalika umirtu wa ana awwalul muslimin“ --Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikian itu diperintahkan kepadaku dan aku adalah golongan orang-orang pertama yang menganut agama damai-- (QS. Al-An'am: 163).

Dalam menyebarkan ajaran agama, para Nabi itu menyebarkannya secara damai, kecuali bila sangat terpaksa, mempertahankan diri dari sifat ofensif, pedang dilawan dengan pedang. Namun demikian, meskipun terjadi peperangan, karakter Islam sebagai agama damai tidak hilang, Islam tetap merupakan agama damai yang mengajarkan kasih sayang bagi segenap alam, "Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil 'alamin"  --Dan tidaklah Aku utus Engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi  rahmat/kasih sayang bagi segenap alam-- (QS. Al-Anbiya: 108). 

Artinya tujuan luhur manusia atau kemanusiaan itu selaras dengan tujuan ajaran semua agama yaitu Kedamaian dan Anti-Kekerasan. Tidak ada dalam lingkup Kemanusiaan yang menginginkan ancaman, permusuhan, perang, pertumpahan darah dan pembantaian, apalagi terhadap anak-anak dan wanita.

Rasulullah SAW bersabda,

"Rekreasi dan bermainlah..! Aku tidak suka agama kalian dilihat sebagai agama yang Kaku dan Garang.."

Bukankah sesudah Ahlus Sunnah pun harus wal Jama'ah..?

Semoga..
#ombad #tasawuf