22 October 2020
TASAWUF DALAM SEBUNGKUS CAKALANG ASAP
02 October 2020
TASAWUF DALAM SEEKOR ELANG
12 May 2020
TASAWUF DALAM SEMARAK PUASA
27 March 2020
TASAWUF DALAM WABAH COVID-19
02 January 2020
TASAWUF DALAM KAPAL NABI NUH
19 November 2019
TASAWUF DALAM SINKRONISASI GELOMBANG OTAK
18 September 2019
TASAWUF DALAM SECOBEK SAMBAL
Sambal itu satu tetapi bermacam-macam jenis, nama dan rasanya. Menyatukan semua rasa, apakah itu asin, kecut, masam, gurih, manis ataupun pedas. Begitupun manusia, meski komposisi organ-organ tubuhnya sama tetapi bisa berbeda karakter, pemikiran dan sifatnya.
Saat garam, gula merah dan cabe bisa menyatu, mereka akan meleburkan dirinya masing-masing. Mereka akan saling berkoordinasi serta bekerjasama dalam kebersamaan, sampai akhirnya semuanya pun ikhlas saat dinamai Sambal.
Mereka tetap tawadhu dengan menghindar dari jebakan ego masing-masing saat bersama. Tidak ada itu sambal garam, sambal gula, ataupun sambal cabe. Bahkan mereka akan mempersilakan siapapun yang ingin berkolaborasi. Terasi datang, silakan dinamai Sambal Terasi. Mangga ikut, monggo kalaupun dinamakan Sambal Mangga. Bahkan pete yang bau ikut pun akan dinamakan Sambal Pete. Kenapa..? Karena bagi mereka yang lebih penting itu adalah membawa pesan kenikmatan dalam hal rasa bagi lidah manusia.
Jika saja manusia bisa meniru sambal dalam ketawadhuannya, maka jiwa-jiwa manusia pun akan mendapat kebahagiaan, serta spiritualnya pun akan terpuaskan. Saat ego-egonya bisa saling melebur dan bisa bekerja sama secara harmoni, maka tujuan hidup pun akan tampak jelas. Sang diri akan menjadi sumber kebahagiaan, dimana ia akan bahagia saat bisa melayani dirinya, keluarganya, orang lain serta lingkungan sekitarnya.. seperti halnya secobek sambal yang menawarkan kenikmatan. Iya, kepuasan, kenikmatan dan kebahagiaan.
Hidup dan menikmati hidup itu sebaiknya seperti menikmati sambal. Tidak hanya melihat cabenya saja yang pedas, lalu segala sesuatu yang terjadi dianggap membuat buas. Tidak hanya melihat garamnya saja yang asin, lalu segala sesuatu yang terjadi dianggap toksin. Tidak hanya melihat gulanya saja yang manis, lalu segala sesuatu yang terjadi dianggap bisnis. Tidak hanya melihat tomatnya saja yang masam, lalu segala sesuatu yang terjadi dianggap dendam. Bahkan tidak hanya melihat terasinya saja yang bau, dan segala sesuatu yang terjadi dianggap bikin malu.
Kejadian yang awalnya dianggap buruk dan merugikan dalam pandangan sang diri, siapa tahu itu baik dan menguntungkan menurut Tuhan. Bukankah Tuhan selalu memberi yang terbaik, meski manusia seringkali menganggap sebaliknya. Seperti halnya orang-orang tersenyum saat melihat tangisan seorang bayi yang lahir ke dunia, ataupun orang-orang bersedih saat melihat anggota keluarganya meninggal meskipun meninggalnya dalam kebahagiaan.
"Jika kau menginginkan kesenangan,
Sepenuhnya lepaskan semua kemelekatan.
Dengan melepaskan semua kemelekatan,
Kesenangan paling sempurna ditemukan.
Selama kau mengikuti kemelekatan,
Kepuasan tidak akan pernah ditemukan.
Siapapun menjauhi kemelekatan,
Dengan kebijaksanaan mencapai kepuasan.." (Sidharta Gautama)
Nikmat itu akan datang ketika kejadian-kejadian yang teralami dengan bermacam-ragam efeknya tersebut bisa diterima dengan ikhlas. Dan keikhlasan ini yang akan membuka pikiran dan hati untuk membuka lembaran petunjuk dan hikmah dari langit.
Kesimpulan yang terburu-buru diambil terhadap sebuah kejadian yang tidak sesuai ekspektasi seringkali mengurangi bahkan menghilangkan rasa syukur dan kebahagiaan.. seperti halnya menghakimi pedasnya setiap sambal dengan tergesa-gesa, padahal sambal non-pedas yang enak pun ada.
Ahh.. dan nikmat pedasnya sambal pun menanti rangkulan helai-helai daun muda.
Semoga...
#ombad #tasawuf #dalam
09 September 2019
TASAWUF DALAM KECEMBURUAN
Ahh... memang cemburumu itu lahir dari cinta, karena takut ikatan cintaku melemah dan hilang, seperti halnya ketakutan jika ada yang lain menempati ruang-ruang hati sang Kekasih.
Ohh... kadang kau putuskan setiap tali yang akan mengikatku untuk menjauhimu. Kau putuskan tali yang satu ke tali yang lain dan aku hanya bisa terdiam pasrah, seperti halnya tubuh yang terus-menerus terdesak mundur dan akhirnya punggung pun menempel dinding batu, terpepet dalam kepasrahan.
Kuingat... seringkali kaupaksa agar ketidak-patuhanku kepadamu berujung ambruk dalam keheningan.
Kuakui... seringkali rasa sukamu menggiringku agar tunduk serendah-rendahnya sampai air mata tak dapat kubendung seperti halnya kepatuhan awan untuk menyirami tanah gersang.
Kupaham... seringkali pikiranku dalam kebingungan yang memuncak ketika mempertimbangkan rasa cemburumu dan aku tidak bisa mengelak akibat dari rasa cintamu.
Kurasa... seringkali kaudatang tiba-tiba dengan penuh hasrat dan ketika kupandang cermin, keindahan wajahmu dalam cermin telah menawan diriku, serasa aku mencintai diriku sendiri. Ahh, di cermin itu yang ada hanya gambaran wajahmu.
Kusadar... aku dari bawah ke atas, Engkau dari atas ke bawah. Mendekatimu yang Sendiri, tidak bisa dengan sendiri.
Ahh, Cinta... kecintaanmu kebutuhanku tetapi keinginanku kecemburuanmu. Kecintaanmu kesendirianku tetapi keramaianku kecemburuanmu. Kecintaanmu kelemahanku tetapi kekuatanku kecemburuanmu. Kecintaanmu kebisuanku tetapi perkataanku kecemburuanmu. Kecintaanmu kepasrahanku tetapi tanda-tanyaku kecemburuanmu.
Iya... Engkau memang Pencemburu seperti kata utusanmu.
Dan aku tetap menyelam dalam keheningan mutiara serta kedalaman permata dengan iringan kepakan sayap-sayap rajawali.
**
Aku : "Mengapa aku tidak pernah mendengar suara Tuhan..? Padahal aku sangat rajin berdoa."
Diri : "Karena kamu terlalu sibuk bicara dan tidak memberikan kesempatan Tuhan bicara."
Aku : "Bagaimana mendengar suara Tuhan..?"
Diri : "Tutup kedua telinga, kedua mata dan mulutmu, lalu bukalah pintu hatimu."
"Allah itu pencemburu dan orang beriman juga pencemburu. Cemburu-Nya adalah sifat yang muncul bilamana seorang hamba yang beriman melakukan apa yang telah dilarang-Nya." (HR. Bukhari, Muslim & Tirmidzi, dari Abu Hurairah ra.)
Semoga...
#ombad #tasawuf #dalam
12 August 2019
TASAWUF DALAM TITIK KESETIMBANGAN
Titik Kesetimbangan dari setiap individu itu bisa berbeda-beda seperti halnya frekuensi natural tubuhnya.
Di satu sisi manusia itu dibekali dengan aspek paradoks dalam dirinya, tetapi di sisi lain Tuhan menyuruh manusia untuk berproses sampai mencapai "titik kesetimbangan" dirinya, sehingga bisa "centering" dalam dirinya serta bisa "harmonious balance" dengan sekitarnya.
Sulitnya mencapai Titik Kesetimbangan ini sesulit mencapai Daim atau Wustha dalam shalat, serta sesulit mendiamkan pikiran agar bisa diam di Pineal, sehingga nanti bisa "jelas" dalam merasakan "pembatas" antara tubuh bagian kiri dengan bagian kanan, ataupun "pembatas" antara pikiran bagian kiri dengan bagian kanan.
Butuh waktu dalam memproses hal-hal yang saling berlawanan, saling meniadakan, saling bermusuhan. Masing-masing akan berusaha agar bisa menang dalam menghadapi rivalnya. Perbedaan antar masing-masing kutub awalnya sangat ekstrim, sangat besar selisihnya, sehingga menyebabkan konflik dalam diri. Lalu Tuhan pun memberi "keyword" Pasrah, Ikhlas dan Ridha, dan seiring waktu perbedaannya makin "kecil" sampai mencapai "garis" Kesetimbangan diri, atau bisa disebut kondisi "flat" ataupun nol.
Kedua hal yang berlawanan --fisik-nonfisik, lahiriah-batiniah, eksplisit-implisit, tersurat-tersirat, logika-rasa, otak kiri (IQ)-otak kanan (EQ), transedental-horizontal, hablum minallaah-hablum minannaas, dsb-- ini setiap saat berada dalam sebuah timbangan yang idealnya diam di tengah-tengah.
Kesetimbangan diri harus bisa berada di titik tengah dari dua hal yang ekstrim. Analoginya, Hemat adalah titik tengah dari Boros dan Pelit, ataupun Pemberani adalah titik tengah dari Nekad dan Pengecut.
“Dan demikian (pula) Kami menjadikan kamu ummatan Wasathan (umat yg adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan manusia) dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. al-Baqarah: 143)
Islam itu al-Wasathan, yang artinya Seimbang (balance), Moderat, Equilibrium. Apakah itu antara sisi material dan spiritual, dunia dan akhirat, bahkan juga dalam sikap. Bukankah sebaik-baiknya suatu perkara adalah yang di pertengahan..? Pada setiap manusia pun yang paling enak kan yang di tengah-tengah ya.. 😍
Ada dua sifat utama yg melekat pada ummatan Wasathan, yaitu:
1. Al-Khairiyyah, selalu berorientasi kepada yg terbaik, keutamaan dan adil.
2. Al-Bainiyyah, pertengahan, moderat, tidak ekstrim kanan ataupun ekstrim kiri.
Tetapi, kadang ada orang yang menetapkan titik Keseimbangan menurut ukuran/kadar yang hanya diyakini sebagai kebenarannya sendiri, menetapkan secara membabi-buta seakan kebenaran dirinya adalah yang paling absolut, paling benar. Mereka menetapkan titik keseimbangannya tersebut dengan sangat kaku, lalu memaksakan dirinya dan orang-orang di sekitarnya untuk mengikuti dan meyakininya, menolak habis dan secara total kadar/ukuran dari yang lain jika berbeda dengan dirinya atau kelompoknya.
Jika hal seperti ini keukeuh dilakukan maka selain menghasilkan konflik internal, akan memunculkan konflik eksternal juga. Inilah penyakit mental dan hati, karena jiwanya tetap terkungkung dalam pembenaran, penyangkalan dan kegalauan diri sendiri.
Itulah kenapa masih banyak manusia yang memperebutkan Merasa Tahu dan bukan Pengetahuan, serta masih banyak yang memperebutkan Pembenaran, dan bukan Kebenaran.
Artinya, Kepandaian itu berhubungan dengan Tahu Batas, dan Kebijakan itu berhubungan Waktu serta Prioritas. Jika selalu merasa lebih besar dan lebih benar maka itu namanya sombong, seindah apapun dituangkan dalam ucapan dan kata-kata.
Jadi berusahalah menjadi pribadi yang Wasathan (khairiyah bainiyah) agar selalu bisa bersikap terbuka dan objektif.
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
08 August 2019
TASAWUF DALAM PADUAN (ALLOY)
Logam yang merupakan material kiriman dari langit ini sudah akrab dalam kehidupan manusia sejak jaman perunggu. Seiring perkembangan ilmu dan teknologi, paduan logam pun semakin bervariasi dan penggunaannya pun disesuaikan dengan kebutuhan, baik dalam fungsi alat bantu (tools), fungsi status sosial (harta, perhiasan), bahkan transplantasi organ (biomaterials).
Besi (Fe) beserta paduannya adalah material yang paling banyak digunakan manusia sejak dulu. Tuhan pun mengabadikannya menjadi nama salah satu surah dalam Al-Quran, yaitu Surah Al-Hadid. Perlu diketahui, Fe-57 ini adalah salah satu isotop besi yang stabil, satu-satunya yang memiliki “nuclear spin”, dan mempunyai massa atom sebesar 56,9354 ---dibulatkan 57-- yang kebetulan sama dengan nomor surah Al-Hadid yaitu nomor 57.
Paduan berbahan dasar Besi ini menghasilkan bermacam-macam jenis material baru yang berbeda sifat fisik dan mekaniknya. Berbeda kan kualitas besi beton dengan besi rel KA..? Dan begitu juga yang terjadi pada manusia, dimana ia akan berbeda-beda karakter bahkan berbeda-beda kualitas ketaqwaannya, tergantung proses hidupnya.
Jika dicampur Karbon, maka Besi (iron) pun berubah menjadi Baja (steel) yang bermacam-macam jenisnya serta berbeda-beda sifatnya. Jika dicampur dengan Chromium (dengan kadar minimal 11 %), Nikel dan Molybdenum, maka Besi pun akan menjadi Stainless Steel yang lebih ulet dan mempunyai ketahanan terhadap korosi. Bukankah manusia yang awalnya bermental buruk, kaku dan tidak tahan banting, setelah mengalami berbagai masalah dan ujian yang dibarengi dengan sikap sabar, syukur, qana'ah, dsb, ia akan berubah menjadi seorang yang bermental kuat, punya positive mental attitude, fleksibel dan bijak.
Kesempurnaan manusia itu terjadi karena adanya Perpaduan (Sintesa, jam’iyyah), Pencakupan dan Totalitas (majmu’). Al-Haqq akan "memanggil" seluruh hakikat yg tercerai-berai dalam alam dan menghimpunnya dalam sosok manusia, seperti halnya besi tunggal yang kemudian dipadukan dengan material lain yang berbeda jenis (karbon, mangan, nikel, tembaga, vanadium, molybdenum, chromium, tungsten, dll) dalam tanur peleburan, bahkan mengalami proses lanjutan, apakah itu pemanasan sampai temperatur tertentu, ataupun pendinginan dalam periode waktu tertentu (quenching, tempering).
Perpaduan pada manusia ini terjadi pada dua sisi (nuskhatain), yaitu sisi Eksoteris (nuskhah dzahirah) dan sisi Esoteris (nuskhah batinah). Kondisi ini pun mirip dengan proses yang terjadi pada paduan besi dimana akan terjadi perubahan sifat fisiknya, terjadi perubahan komposisi molekul di bagian dalamnya, dan juga terjadi perubahan fase di dalam struktur mikronya, bisa Austenit, Ferit, ataupun Martensit.
Jadi ada suatu proses menuju "kelengkapan" dan "kesetimbangan" secara fisik, kimia, mekanik, komposisi maupun struktur mikronya. Ada proses baik secara Lahiriah maupun Batiniah.
Modal awal manusia yg berupa "Kelengkapan" unsur/elemen ini harus diupayakan sampai terintegrasi sehingga bisa holistik baik dari segi ilmu, pemahaman dan "pandangan"..
"Dalam bentuk, engkau adalah Mikrokosmos (alam kecil, as-saghir), tetapi pada hakikatnya engkau adalah Makrokosmos (alam besar, al-kabir). Buah itu nampaknya berasal dari ranting, tetapi sebenarnya ranting dan seluruh pohon itu berasal dari sang Buah." (Maulana Rumi ra.)
Dan akhirnya, segala sesuatu di alam ini akan menuju kondisi optimumnya, sebutlah jika paduan logam maka ia akan menuju kondisi idealnya yaitu "kesempurnaan" paduan, dan begitu juga manusia, ia akan terus-menerus ditempa dalam tanur peleburan jiwa, spiritual dan hatinya sampai bisa menuju kualitas idealnya, kualitas Insan Kamil.
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
05 August 2019
TASAWUF DALAM THE MATRIX
Masih ingat gak saat Neo dan Morpheus ngobrol di dalam lift yang menuju ruangan The Oracle..?
Neo: “Apakah Oracle ini adalah Oracle penubuwwah..?”
Morpheus: “Ya, dia sangat tua. Dia sudah mengiringi kita sejak awal perlawanan.”
Neo: “Apa yang dia tahu? Segalanya..?”
Morpheus: “Dia akan berkata, bahwa dia hanya mengetahui secukupnya.”
Neo: “Dan dia tak pernah salah..?”
Morpheus: “Cobalah untuk tidak berpikir benar atau salah. Dia seorang pembimbing, Neo. Dia membantu kita untuk menemukan.”
Neo: “Dia menolongmu..?”
Morpheus: “Ya..”
Neo: “Apa yang dikatakannya padamu..?”
Morpheus: “Bahwa aku akan menemukan The One..”
**
The Oracle dalam film The Matrix itu bagai seorang Mursyid dalam sebuah Thariqah (tarekat, jalan, metode).
Seorang Mursyid ini mempunyai metode khusus yang sesuai Sanad (bersambung sampai Rasulullah SAW), dan metode khusus ini dipakai oleh para Murid (dan Murad) dalam menapaki tahapan-tahapan spiritual (maqamat) sebagai seorang salik. "… ia memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.." (QS. al-Ahqaf: 30), karena "sesungguhnya orang-orang kafir dan dzalim, Allah tidak mengampuni dan menunjukkan jalan kepada mereka" (QS. an-Nisa: 168). Bahkan Syeikh Abdul Qadir Jailani qs. dalam Tafsir al-Jailani mentafsirkan bahwa "jalan yang lurus" (shiratal mustaqim) itu adalah "puncak tauhid" (ahadiyah).
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Tasawuf itu merupakan buah dari ber-Thariqah (tarekat), dan Thariqah itu buah dari ber-Syariat. Semuanya saling menyatu dan saling menguatkan, tidak saling melemahkan dan meniadakan. Jadi, tiada Thariqah tanpa Syariat, serta tiada Tasawuf tanpa Thariqah dan Syariat.
Itu makanya dalam kitab Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah disebutkan, “Jenis fitnah itu banyak sekali. Diantara yang banyak merusak seorang hamba adalah pengakuan seseorang menjadi Guru Tarekat dan Wali, bahkan sampai mengaku dirinya Wali Quthb, dan Imam Mahdi, padahal mereka bukan Ahli Syariat.”
Begitupun terkait kemursyidan, banyak yang mengaku-ngaku, abal-abal, bahkan banyak yang merasa sudah "terbebas" dari Syariat, dan akhirnya meninggalkan syariat. Para calon salik pun banyak yang tertipu dengan bungkus, meyakini yang salah karena bungkusnya terlihat sedemikian bagus, dan sebaliknya, yang sejati tetap tersembunyi, bisa "nyumput di nu caang" (sembunyi dalam terang), dengan maksud tertentu, misalnya ia atau muridnya tidak ingin terjebak dalam kesombongan yang samar, ataupun karena berusaha tetap dalam koridor "manusia biasa" yang tidak punya keistimewaan atau diistimewakan. Dan sering membuat orang ragu bahkan salah sangka, seperti halnya Neo sebagai seorang "salik" yang awalnya pun ragu saat melihat penampilan "mursyid" nya, The Oracle.
Oracle: “Kamu tahu mengapa Morpheus membawamu ke sini..? Jadi apa yang kamu pikirkan.. kamu pikir kamulah The One..?"
Neo: “Sejujurnya, saya tidak tau..”
Oracle: “Aku akan beritahumu suatu rahasia. Menjadi The One adalah seperti jatuh cinta. Tak ada yang bisa memberitahumu, melainkan kamu sendiri yang tahu. Jadi, kamu udah siap mengetahuinya.”
Neo: “Mengetahui apa..?”
Oracle: “Bahwa aku tidak akan memberitahumu..”
Neo: “Bahwa saya bukanlah The One.”
Begitulah seorang Mursyid, ia tahu dan paham apa yang terbaik buat Murid, Murad atau Saliknya. Seperti halnya Oracle yang memahami bahwa Neo yang masih terbelenggu jiwanya karena merasa sebagai calon The One, sehingga tanpa sadar dirinya merasa sangat spesial, atau dengan kata lain, kesombongan Neo pun muncul ketika banyak informasi yang mengatakan bahwa ia adalah calon The One.
Dan Neo pun akhirnya bisa menemukan kesejatian jati dirinya, setelah bisa menghancurkan hambatan-hambatan jiwa dan pikirannya akibat dari pandangan dan sikap orang lain.
Neo, ia yang menyelami dirinya diantara dunia realita dan matrix, serta akhirnya bisa mengoptimalkan mind (brainpower) dan jiwanya, dan mengalami pencapaian nilai maksimum kendali kekuatan akal pikirannya, sementara yang lain masih "terhambat" dalam penjara-penjara pikiran alam sadar yang hanya 12%.
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
03 August 2019
TASAWUF DALAM SEEKOR BABI
BABI, sebagai sumber pangan protein di dunia ini sudah diternakkan sejak 3.500-4.000 tahun yang lalu. Begitupun di Nusantara, khususnya masyarakat Jawa Kuno yang telah terbiasa beternak babi, bahkan beberapa jenis babi purba diketahui telah ada di Nusantara sejak ratusan ribu tahun lalu.
Popularitas daging babi di Jawa pun surut saat Islam datang dan mengharamkannya. Selanjutnya bermunculan lah "upaya" meyakinkan buruknya daging babi dengan berbagai alasannya, meski banyak tidak benarnya.
"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang --ketika disembelih-- disebut --nama-- selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan TERPAKSA (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan TIDAK (pula) MELAMPAUI BATAS, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 172-173)
Kedua ayat di atas pemahamannya jangan dipotong (dipisah), tentu ada hikmah yang tersembunyi terkait kata "keadaan terpaksa" dan "tidak berlebihan", termasuk jangan suka memaksa dan bertindak berlebihan kepada yang makan daging babi ataupun jualan daging babi.
Terlalu ekstrim kan jika pemahaman "bangkai" ditakwilkan Kebusukan pikiran, jiwa dan hati; "darah" ditakwilkan Mengorbankan hak, jiwa dan nyawa orang lain; "babi" ditakwilkan Kerakusan dan nafsu syahwat yang berlebihan; ataupun keharaman dalam mempersembahkan segala sesuatu jika bukan karena Allah.. iya, terlalu ekstrim.. 😊
Jadi kalau tinjauannya perintah dan keyakinan, ya wajib diikuti meski belum paham kenapa diharamkan, jadi yakin saja bahwa :
"Dihalalkan bagi mereka yang baik‑baik dan diharamkan yang buruk‑buruk.." (QS. Al-A'raf, 7: 157)
Satu hal yang amat penting adalah jangan sampai di satu sisi mematuhi aturan agama, tetapi di sisi lain malah melanggar dan merusak aturan agama dalam lingkup Muamalah khususnya yang terkait dengan rejeki orang lain. Kan tidak lucu jika prinsip akidah "bagimu agamamu, bagiku agamaku" dirubah menjadi "bagimu agamaku, bagiku agamaku"..
Bukankah karena rahmat (kasih sayang) Allah maka babi diciptakan, terus kenapa orang yang suka ataupun dagang daging babi harus dimusuhi bahkan dipaksa tutup pintu rejekinya..?
Dan bukankah jika Babi, anjing atau apapun bisa ada dan bisa hidup di dunia ini merupakan bentuk rahmat dan keridlaan Allah dan bisa dijadikan hikmah bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.. para Ulul Albab.
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
30 July 2019
TASAWUF DALAM SEPIRING CAPCAY
Awal yang indah itu akhirnya tergeletak kotor di tanah bercampur lumpur. Mereka pun diikat bahkan ada yang dikarungin untuk menuju lokasi selanjutnya. Ada yang disukai serta dipilih untuk dibawa, ada juga yang tidak disukai, menjadi makanan para binatang, bahkan ada yang dibiarkan membusuk menjadi sampah.
Mereka yang terpilih pun siap untuk diproses, dicuci, dibilas, dikupas, dipotong-potong bahkan diiris-iris pisau. Dan selanjutnya dipanaskan dengan api yang berkobar di bawah wajan berminyak, dan semakin panas.
Terlihat, para buncis, wortel, kol, brokoli, dan temannya yang lain saling bercampur dalam gerah dan panas. Sebiji buncis yang sedang direbus di atas api pun meronta dan terus melompat hingga hampir melampaui bibir wajan.
“Kenapa kau lakukan ini padaku..?” protes sang buncis.
“Jangan coba-coba melompat ke luar.. kau kira aku sedang menyiksamu..? Aku sedang memberimu cita rasa terbaik..! Sehingga kau layak bersanding dengan rempah dan nasi untuk menjadi gelora kehidupan dalam diri seseorang. Ingatlah saat-saat kau nikmati regukan air hujan di kebun. Saat itu ada untuk saat ini..!” jawab sang Juru Masak sambil menolak sang buncis dan mengembalikannya kembali ke atas wajan yang panas.
Begitupun saat sekerat wortel bertanya, saat brokoli protes, ataupun saat kol marah merajuk pun, jawaban dari sang Juru Masak selalu sama, ya.. untuk cita rasa. Cita rasa akan Keindahan, lalu cita rasa untuk Kenikmatan.
Waktu tetap berjalan, dan akhirnya timbullah sesuatu yang baru dalam diri mereka. Meski melewati saat-saat yang begitu menyiksa, mereka makin lama makin yakin bahwa ini semua terjadi untuk terciptanya kehidupan yang baru, untuk sebuah kenikmatan dari kehidupan, dan untuk memperpanjang kehidupan. Sampai bisa membuat orang-orang pun bersyukur.
Sampai akhirnya, sang buncis bersama para wortel, brokoli dan kol pun berkata pada Sang Juru Masak dengan penuh rasa syukur,
“Rebuslah aku lagi.. hajar aku dengan sendok masakmu, karena aku tak bisa melakukannya sendirian. Engkaulah yang membuatku masak, mematangkanku, engkaulah pawangku, dan engkaulah jalanku menuju cita rasa kesejatian, cita rasa kesempurnaan. Dan aku suka caramu membuat masakan.
Aku tidak ingin seperti binatang yang melamun dan berkhayal tentang di hutan-hutan indahnya yang dulu ditinggalkan. Dan akupun tidak mau tersesat, menjadi sampah, dan menuju tempat sampah karena tidak memperhatikan dan mengikuti arahan dan jalanmu.."
Sambil mematikan api, sang Juru Masak pun berkata,
Ya, dulu aku pun seperti engkau, masih hijau dari atas tanah. Lalu aku direbus matang dalam lamanya waktu, direbus matang dalam jasad. Direbus dalam dua rebusan yang dahsyat.
Jiwa binatang dalam diriku tumbuh kuat, mengikatku bahkan merusak dan mengoyak-ngoyak benih kebaikanku. Kukendalikan dia dengan latihan, lalu aku direbus lagi, dan direbus lagi. Pada satu titik aku melampaui itu semua, dan menjadi gurumu.
Ya, aku sadar, dulu..
AKU MENTAH,
AKU DIMASAK,
AKU TERBAKAR, dan
AKU DALAM KENIKMATAN.
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
21 July 2019
TASAWUF DALAM KETIDAKPASTIAN HEISENBERG
Banyak yang berbicara sesuatu meski pembicaraan tersebut tidak dipahaminya. Sebutlah sesuatu ini hanya baru diketahui, tetapi belum dipahami, apalagi sampai dialami. Sesuatu ini masih berupa misteri bagi dirinya. Misteri-misteri seperti ini seringkali dijelaskan dalam ceramahnya seorang ustadz, meski ia sendiri tidak menguasainya. Begitupun hal seperti ini bisa muncul dalam khotbahnya seorang pendeta, bahkan para saintis, fisikawan, dll pun bisa melakukan hal yang sama.
Memang betul seperti yang dikatakan Heisenberg tentang asas Ketidakpastian, bahwa adanya keterbatasan manusia baik dalam melihat, mendengar ataupun merasa, termasuk keterbatasan dalam pemikiran dan pemahaman, maka akan terbatas juga dalam memberi konfirmasi yang lebih meyakinkan tentang segala sesuatu.
Seperti halnya indera penglihatan manusia yang hanya mampu melihat dalam batas spektrum kasat mata (visible spectrum), dalam batas gelombang cahaya tampak, spektrum elektromagnetik dengan panjang gelombang antara 400–700 nm.
Ada sesuatu yang tak terbatas dan sulit untuk diketahui serta dibuktikan dengan keterbatasan alat-alat pengukur atau pengamatan. Dan sang waktu tetap menunggu keberhasilan upaya dalam "menerobos" dunia mikrokosmos yang lebih dalam, seiring dengan perkembangan alat-alat pengukuran.
Dan keterbatasan ini tetap akan menyisakan suatu misteri. Sayangnya, misteri ini seringkali ditafsirkan seenaknya sendiri oleh mereka yang susah untuk mengakui bahwa mereka itu sebenarnya tidak paham, dan hanya menebak-nebak saja disesuaikan dengan pikirannya.
“Hikmah itu --perbendaharaan-- yang hilang dari kaum Mukmin. Di mana pun ia ditemukan, ia berhak --diambil-- untuk itu.” (HR. Turmudzi & Ibn Majah, dari Abu Hurairah ra.)
Itulah, betapa sulitnya untuk berlaku Jujur dan Adil meski dalam pemikiran. Seperti halnya terjebak dalam samarnya Kesombongan yang selalu mengaku sebagai suatu Keikhlasan.
"Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan." (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 1975)
Ya gimana lagi, ketika kita melihat atau mendengar yang seperti itu, jika belum bisa cuek, ya berusaha "menerima" saja meskipun terasa janggal, karena mereka hanya melontarkan bungkusnya dan bukan isinya. Bukankah nada-nada dalam alat musik pun akan terdengar sumbang jika yang memainkannya tidak kompeten. Begitupun, lagu yang indah pun akan terasa memuakkan jika penyanyinya buruk.
Akhirnya, berusahalah untuk tetap tersenyum, dan ikuti saja seperti yang dikatakan sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. :
"Perhatikan apa ucapannya, bukan siapa yang mengucapkan."
Dan tetaplah teliti karena gradasi intelektual pun makin bertebaran di bumi fallacy.
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
14 July 2019
TASAWUF DALAM UNTAIAN DOA
Doa awalnya merupakan pemenuhan Keinginan, lalu menjadi Kebutuhan, dan akhirnya bisa menjadi suatu bentuk Keakraban saat berkomunikasi. Seperti halnya seorang ART dalam sebuah keluarga dimana awalnya sekedar hubungan kerja, lalu memunculkan suatu hubungan ketergantungan yang menjadi kebutuhan, dan ujungnya menjadi bagian dari keluarga, dianggap saudara.
Tetapi ketidak-pahaman diri membuat ego makin melunjak, seakan sang diri adalah majikannya Tuhan, dan Tuhan pun harus mengabulkan "doa" sang diri.
Meski banyak keterangan tentang hubungan waktu atau tempat dengan terkabulnya doa, seperti doa di sepertiga malam, doa antara adzan-iqomat, doa diantara dua khutbah, doa di depan Ka'bah, doa di Multajam, doa di Raudhah, dsb.. tetapi si pelaku kadang sering lupa bahwa tempat dan ruang-ruang dalam dirinya penuh dengan segala sesuatu yang berlawanan dengan Tuhannya, sebutlah hawa nafsu dalam dirinya tetap jadi hijab dengan Tuhannya. Berusaha menghinakan diri di depan Tuhan tetapi tetap menutup erat-erat rasa kebanggaan di lubuk hatinya dan siap-siap dibuka lagi saat berhadapan dengan sesamanya.
Itulah kenapa doa orang yang teraniaya ataupun terdzolimi yang akan lebih cepat sampai meski mereka sedang berada di tempat yang kotor dan jauh dari hingar-bingar ritual ibadah.
Ya, karena orang-orang seperti ini sebelum berdoa pun sudah merasa hina dan faqir di depan Tuhannya, tanpa harus dibuat-buat hina, faqir ataupun merasa butuh.
Seakan Tuhan tersenyum saat membuka hijab-hijab hatinya, kedok ego serta topeng kebanggaannya melalui tangan orang-orang yang menganiaya dan mendzaliminya. Dan meyakinkan hamba-Nya bahwa itulah bentuk kecintaan-Nya.
Sementara yang belum menemukan Keakraban (qurbah) tetap berkutat dalam upaya "menampakan" kebutuhan yg sangat di hadapan Tuhannya meski dalam balutan keinginan nafsunya, pengungkapan pengakuan terhadap kuasa Tuhannya meski kebanggaan dirinya makin meninggi, penampakan sepenuh jiwa dan khusyuk tanpa pernah muhasabah dan menggali jiwanya, serta berdoa sendiri di tempat-tempat sunyi tanpa pernah menyelami kedalaman hatinya menuju kesunyian dan kesendirian di hadapan Tuhannya.
Dan "doa adalah inti ibadah" seperti yang dikatakan Rasulullah SAW pun hanya menjadi pelampiasan bentuk keinginan, bukannya proses untuk keakraban dan komunikasi.
Ya, tentu lebih baik ikuti "sebaik-baik doa adalah Istighfar" seperti yang pernah Rasulullah katakan, dan biarlah Tuhan memilihkan jalan dan solusi terbaiknya, sehingga sang diripun lebih berkutat dalam menyiapkan wadah-wadah penerimaan dalam keikhlasan. Wadah-wadah yang dibatasi antara Khauf (takut) dan Roja' (harap).
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
02 July 2019
TASAWUF DALAM SEEKOR ANJING
Anjing, selain sama-sama merupakan makhluk sosial, pola perilaku anjing pun mirip dengan manusia. Kedekatan pola perilaku ini menyebabkan anjing bisa dilatih, diajak bermain, tinggal bersama manusia, dan bisa diajak bersosialiasi.
Kesetiaan dan Pengabdian anjing seakan mengajarkan manusia untuk tetap setia dan mengabdi kepada Tuhannya. Predikat anjing sebagai "teman baik manusia" pun seakan mengajarkan bahwa manusia pun harus menjadi "teman baik" Tuhannya, dalam arti, qalbu atau batinnya selalu dekat dengan Tuhannya.
Dari anjing pun, manusia bisa belajar sifat-sifat yang baik lainnya. Apakah itu terkait daya tahan tubuhnya khususnya kekuatan dalam menanggung rasa lapar; Sedikit tidur di waktu malam seperti para Muhibbin; Tidak meninggalkan tuannya sekalipun kasar terhadapnya seperti halnya para Muridin; Rela berada di mana saja berada; dan jika dipukul/dikerasin lalu diberi sesuatu maka ia akan kembali tanpa ada rasa dendam; dan banyak sifat baik lainnya.
Seperti itulah "Kebaikan" dan "Pengabdian" seekor anjing.
Tetapi, banyak manusia yang memilih menjadi Bal’am bin Bauro, seorang murid Nabi Musa as. yang tergiur dengan nikmat duniawi sampai akhirnya tidak lagi memperdulikan halal atau haram, melepaskan ayat-ayat Allah dan menukarnya dengan keduniawian, seperti yang telah Tuhan firmankan, "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga.." (QS. Al-A'raf : 176).
Bukankah Anjing yang menjulurkan lidah dan meneteskan air liur itu menunjukkan hasrat anjing terhadap sesuatu..? Dan bukankah banyak manusia juga yang memiliki sifat seperti itu, yang hanya berorientasi materi duniawi dan kesenangan syahwat saja..?
Anjing yang cerdik pun tetap menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat, seperti halnya para penjilat di kalangan manusia yang lebih mementingkan syahwat dirinya sendiri, meski mereka bukan orang bodoh dan tidak pula berkedudukan rendah. Sayangnya para Penjilat ini tetap menghinakan dirinya daripada memilih untuk tetap terhormat dan terjaga kehormatannya.
Mereka ini yang disebut Imam Ghazali ra. sebagai Bahimiyyah (manusia hewan) yang derajatnya itu lebih sesat dan lebih hina dari hewan itu sendiri, karena hawa nafsunya telah memenuhi jiwa, sehingga pengetahuan, akal, hati dan keimanan pun akan dikalahkan oleh perutnya.
Dan seperti itulah "najis" nya seekor anjing yang harus bisa dihindari dan dibersihkan.
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
27 June 2019
TASAWUF DALAM SEBUTIR KELAPA
Sampai kapanpun Tuhan akan tetap jadi misteri hamba-Nya. Sedemikian misteri/ghaib-Nya maka Tuhan pun seringkali membuat perumpamaan-perumpamaan agar lebih mudah dikenali makhluk-Nya. Bukankah "Tuhan membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Tuhan pun membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia"..? (QS. An-Nuur: 35)
Banyak ciptaan Tuhan yang dijadikan sebagai media perumpamaan-Nya, apakah itu hewan (anjing, lalat, semut, dll), fenomena alam (petir, hujan, batu, tanah, dll), bahkan sampai pohon pun dijadikan perumpamaan (zaitun, kurma, rumput, dll).
Dan karena di daerah gurun, maka pohon/buah kelapa "tidak sempat" dijadikan media perumpamaan.. 😀
Rasulullah SAW bersabda,
"Syariat itu Perkataanku, Tarekat itu Perbuatanku, dan Hakikat itu Kelakuan/karakterku."
Kelapa, seperti halnya agama, bagian buahnya pun berlapis-lapis.
- Sabut (kulit terluar).
Ini diibaratkan Syariat. Kulit kelapa berfungsi untuk melindungi lapisan dalam, melindungi terhadap benturan, seperti halnya syariat yang melindungi dan mengatur batas antara baik dan buruk. Kulit/sabut kelapa juga berfungsi untuk penyebaran buah kelapa, seperti halnya syariat yang selalu dikedepankan dalam penyebaran agama ke seluruh muka bumi. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, "Syariat itu Perkataanku.."
- Batok (tempurung).
Ini diibaratkan Tarekat. Batok kelapa yang keras ini berfungsi untuk melindungi daging kelapa dari gangguan luar, seperti halnya aspek pengamalan dalam tarekat khususnya terkait latihan-latihan jiwa, tadzkiyatun nafs, serta pembersihan diri dari sifat-sifat tercela, dengan tujuan memperkuat keyakinan diri beserta perbaikan kualitasnya.
Menembus batok kelapa yang keras ini seperti halnya riyadhoh dalam tarekat dalam melunakkan kerasnya hati, dimana diperlukan kesungguhan usaha, keistiqamahan, memperbanyak dzikir, suluk, uzlah/khalwat secara batiniah, serta "melatih" keikhlasan sebagai pondasi dasar dalam kemurnian tauhid. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, “Tarekat itu adalah Perbuatanku..”
- Daging kelapa.
Ini diibaratkan Hakikat, yang bisa dirasakan setelah melawati kerasnya riyadhoh, seperti halnya menemukan daging kelapa yang enak dan empuk, setelah bisa melewati kerasnya hijab tempurung hati. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, "Hakikat itu Kelakuan/karakterku."
- Air (Santan, Minyak) kelapa.
Ini diibaratkan Makrifat. Daging kelapa butuh diproses lagi agar bisa jadi Santan ataupun Minyak Kelapa. Keduanya sangat berbeda karakter, dimana Santan itu berumur pendek (cepat membusuk), seperti halnya kondisi Ahwal yang cepat berubah, dan Minyak Kelapa berumur panjang, lebih "abadi", seperti halnya rahasia keabadian ruhani manusia yang tersimpan dalam maqam ini, Baqa setelah Fana.
Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, “Makrifat itu adalah Rahasiaku..”
Rahasia, karena memang Makrifat itu berada di dalam Hakikat, ibarat minyak tidak akan muncul dengan sendirinya tanpa diproses terlebih dulu.
Dan dari air kelapa pun bisa jadi cuka bahkan tuak yang sangat berbeda jenisnya dengan cuka, seperti halnya cuka yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh, meski di lain sisi, kadangkala memunculkan tuak yang bisa "memabukkan".. 😀
**
وَعَائِيْنِ مِنَ الْعِلْمِ اَمَّا اَحَدُ هُمَا فَبَشَتْتُهُ لَكُمْ وَاَمَّااْلأَخِرُ فَلَوْبَثَتْتُ شَيْئًا مِنْهُ قَطَعَ هَذَالْعُلُوْمَ يَشِيْرُ اِلَى حَلْقِهِ
"Aku meriwayatkan dari Rasulullah SAW dua wadah ilmu: salah satunya telah kuberikan kepada kalian, adapun yang kedua, seandainya kuberikan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pedang untuk memotong leherku ini --dua wadah itu ialah Syariat dan Hakikat--." (Abu Hurairah ra.)
Menurut Imam Qusyairi (dalam Risalah Qusyairiyah) :
Syariat adalah perintah yang ditetapkan dalam ibadah, sedangkan hakikat adalah kesaksian akan kehadiran peran-serta ketuhanan dalam setiap sisi kehidupan. Kita sering mengenal istilah, Musyahadah Rububiyah, yakni melihat Tuhan dengan hati.
Dikatakan demikian sebab syariat merupakan pengetahuan atau konsep merambah jalan menuju Allah, sedangkan hakikat adalah keabadian melihat-Nya.
Sementara, Thariqah merupakan perjalanan hamba meniti jalan syariat. Artinya, aktualisasi prinsip-prinsip syariat dengan ketentuan hukum yang sah.
Syariat datang dengan beban hukum dari Sang Maha Pencipta, sedangkan Hakikat bersumber dari dominasi kreativitas Al-Haqq.
Syariat merupakan penyembahan makhluk pada Sang Khaliq, sedangkan Hakikat adalah kesaksian makhluk terhadap kehadiran-Nya.
Syariat adalah penegakan apa yang diperintahkan Tuhan, sedangkan Hakikat adalah kesaksian terhadap sesuatu yang telah ditentukan dan ditakdirkan-Nya, serta yang disembunyikan dan yang ditampakkan.
Jadi, Syariat adalah Hakikat dari sisi mana kewajiban diperintahkan, dan Hakikat sebenarnya juga merupakan syariat dari sisi mana kewajiban diperintahkan bagi ahli makrifat.
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam
01 June 2019
TASAWUF DALAM MUDIK LEBARAN
MUDIK akan diinginkan oleh semua orang karena fitrah manusia itu mencintai sumbernya atau asal-usulnya. Manusia akan berusaha untuk mengingat perjalanan hidupnya, dan selanjutnya bisa berterima kasih dan mensyukuri segala sesuatu yang berhubungan dengan sumber "hidup" nya.
Ibu adalah sumber pertama, dimana rahimnya itu jadi tempat tinggal pertama, air ketubannya jadi teman bermain pertama, bahkan darahnya pun jadi teman pertamanya yang mengantar ke alam dunia.
Dan selanjutnya pengisian memori pikiran awal dalam pembentukan pribadi pun dimulai, apakah itu terkait manusia (orang tua, saudara, teman, dsb); terkait sifat (kedekatan, ketergantungan, dsb); terkait lingkungan (tempat tinggal, tempat main, dsb); dan juga terkait ilmu/pengetahuan (sekolah, ngaji, dsb).
Ingatan adalah bagian dari Akal yang "ditanam" dalam Fitrah. Dan "ingatan" inipun yang mendorong para pemudik melakukan perjalanan, sejauh dan seberat apapun.
Begitupun dalam hubungan makhluk dengan Tuhannya, meskipun "ingatan" pertemuan di Awal Penciptaan sewaktu di alam lahut (alam ruh) "ditutup", tetapi fitrahnya akan selalu "mendorong" untuk mendekati dan mengenali Tuhannya. Dalam hal ini agama menjadi salah satu sarananya.
Tuhan menyuruh makhluk-Nya sebagai seorang "salik" untuk "napak tilas" ke Awal Penciptaannya (wushul, kembali). Makhluk-Nya diwajibkan memenuhi janjinya ketika di alam lahut untuk menemui-Nya kembali dalam kondisi terbaiknya yaitu ruh qudsi-nya. "Bukankah Aku ini Tuhanmu..? Mereka menjawab: 'Betul, Engkau Tuhan kami, kami menjadi Saksi'." (Alastu bi Rabbikum.. Bala Syahidna - QS. al-A'raf 172).
Perjanjian di Awal Penciptaan ini merupakan kewajiban makhluk-Nya supaya bisa menemui-Nya dan mengenal-Nya kembali selama perjalanan hidupnya di dunia, yang tanpa disadari semakin memperbanyak hijab atau penutupnya.
Itu makanya Imam Syafi'i ra. dalam kitabnya al-Fiqh al-Akbar, Bab Mukaddimah, mengatakan :
"Setiap Mukallaf itu diperintahkan untuk Ma'rifat kepada Allah. Arti Ma'rifat adalah mengetahui apa yang ingin diketahui dalam wujud yang sebenar-benarnya, tanpa ada sesuatu pun diantara sifat-sifat dari sesuatu yang ingin diketahui itu yang tersembunyi baginya. Hanya dengan perkiraan atau taklid saja, pengetahuan dan Ma'rifat seperti itu tak mungkin bisa diperoleh. Sebab, perkiraan berarti menerima kemungkinan adanya dua hal, sedangkan arti taklid adalah menerima pendapat orang lain tanpa mengetahui sumber pendapat itu, dan yang demikian itu tentu saja tidak bisa disebut dengan mengetahui."
Seperti halnya perjalanan mudik lebaran yang membutuhkan kondisi tubuh sehat, kendaraan prima, rute yang baik dan bekal yang cukup, begitupun perjalanan wushul dalam mengenal-Nya, akan membutuhkan niat/riyadhoh yang kuat, waliyyam muryida yang ridha, "jalan" yang baik/lurus, dan dzikir yang banyak. Keselamatan lahir batin adalah segalanya. Dan seperti itulah Mudik yang hakiki.
Ya, itulah "mudik" yang sesungguhnya, yaitu Wushul (kembali) ke sumber (asal), "mudik" yg sampai ke puncaknya, yaitu Puncak Tauhid (shirath al-mustaqim), al-Ahadiyah.. Rabbul 'Alamin.
Mudik yg diupayakan agar tetap dalam Nyaman (damai, Islam), Aman (Iman) dan Selamat sampai tujuan (Ahadiyah), serta tidak tersesat (adh-Dhaalliin) dan tidak celaka (al-Maghdub).
“Mengapa dikatakan 'id (kembali)..? Karena perayaan itu kembali setiap tahunnya dengan beragam Kebahagiaan yang baru." (Muhyiddin Ibn Arabi ra.)
Selamat mudik, lahir maupun batin. Ttdj.. 😍
Semoga..
#ombad 27 #ramadhan 1440 H.
#tasawuf #imamsyafii #ibnarabi
20 May 2019
TASAWUF DALAM SABUNG AYAM
AYAM YANG DITINGGALKAN
Kerumunan dan sorak sorai manusia di salah satu sudut desa nampak kontras dengan ketenangan alam di sekitarnya.
Puluhan aki-aki, anak muda bahkan emak-emak terlihat ramai mengikuti pertarungan ayam-ayam jantan yang berukuran besar. Teriakan-teriakan saling bersahutan, teriakan kemenangan bercampur dengan teriakan kekalahan, teriakan kegembiraan pun saling bersahutan dengan ungkapan kekecewaan. Masing-masing tidak mau kalah, saling berteriak menyemangati ayam jagoannya.
Tiba-tiba di tengah pertarungan ada seseorang berteriak “Polisi.. Poliisii..!!” sambil berlari menjauhi tempat pertandingan. Pistol diacungkan ke udara, dor.. terdengar suara letusan senjata. Kerumunan bubar seketika..! Kepanikan bercampur ketakutan dengan cepat menyergap mereka.
Para pemilik ayam dan para pendukungnya segera lari serabutan, lari dengan sigapnya.. mengambil langkah seribu.. kabur menjauh.. semua berebutan menyelamatkan dirinya masing-masing. Tak peduli kawan maupun lawan lagi karena yang paling penting adalah dirinya bisa selamat.
Dan mereka pun saling berlomba mengeluarkan kemampuan terbaiknya agar bisa segera menjauhi lokasi sabung ayam.. sungguh sukar dipercaya, para aki-aki serta emak-emak pun sangat cekatan gerakan jurus kaki seribunya untuk seumuran mereka.
Lihat, dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya, lapangan pertandingan pun langsung sunyi sepi seperti kuburan, padahal beberapa detik sebelumnya sedemikian hingar bingarnya seperti pasar malam.
Lapangan kosong begitu lengangnya dan yang tersisa hanyalah ayam-ayam yang ditinggalkan para pemiliknya, yang selanjutnya.. ayam-ayam pun ditangkapin polisi..!
Itulah Ayam, meski ayam-ayam ini terbiasa ikhlas, terbukti mereka nrimo, gak pernah protes sama sapi ketika telornya diceplok disebutin sebagai telor mata sapi, tetapi seringnya mereka tidak menyadari bahwa ada sebagian manusia yg ingin mengadu domba.. ehh adu ayam.. dan pada kondisi tertentu mereka akan dibiarkan, ditinggalkan serta tidak ada yg menolongnya saat mereka bermasalah.
Para penonton, pendukung dan pemilk pun semuanya akan cuci tangan, bahkan kalau perlu, para pemiliknya pun tidak akan mengakui ayam miliknya lagi. Para pemilik yang sebelumnya rajin merawat ayamnya dan sudah menghabiskan banyak biaya, tiba-tiba berubah menjadi seorang Pengecut yang tidak mau lagi mengakui kepunyaannya. Akan tiba waktunya saat masing-masing diri berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing.
Seperti halnya kejadian kiamat dimana,
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)
Dan sekarang yang tersisa hanyalah ayam-ayam yang kebingungan, ditangkapin dan dikandangin.
Hiks.. 😰
**
Moral of The Story..
Jangan mau jadi Ayam..!
Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam #moral #thestory
08 May 2019
TASAWUF DALAM SEPAKBOLA
Melihat pertandingan sebelumnya (leg 1), mungkin Barcelona udah besar hati dan merasa akan menang menuju final, sampai-sampai Messi mengatakan,
"Champions League will come back to the Camp Nou."
Tetapi realitanya, Liverpool bikin kejutan lagi dan membalik keadaan pada pertandingan leg 2 di kandang. Barcelona pun gagal ke final setelah kalah agregat 4-3.
Untungnya Barcelona gak terkena delusi atau waham meski sangat kuat keinginan untuk menang. Barca tidak sampai menuduh Liverpool, Wasit dan UEFA bermain curang.. apalagi kalau Barca harus sampai melakukan deklarasi kemenangan sendiri.. no way.. kan gak lucu jika Messi melakukan sujud syukur di tengah lapangan Anfield setelah dibantai 4-0 .. mosok kalah njengking..?!
Para pemain Barca pun legowo dengan kekalahannya, seperti yg dikatakan pemain midfielder, Sergio Busquets :
"They have been better than us. I apologise.. Liverpool have been smarter than us, they were faster. I think we had chances to score the goal we needed, but it wasn’t meant to be today.”
Itulah.. kadang para pemain sepak bola itu bisa lebih dewasa dibanding para politikus, karena olahraga, seperti halnya sepakbola, mengajarkan nilai-nilai Sportivitas, Kejujuran dan Lapang Dada. Gesekan di lapangan ya wajar saja, tapi mereka tetap menjunjung tinggi sportivitas.
Sportivitas dan Kejujuran inilah yg membentuk Positive Mental Attitude para pemain kelas dunia, sehingga mereka bisa tetap rendah hati, tanpa harus merendahkan Harga Diri.
Dan Sportivitas juga yang menjaga seseorang untuk tetap bisa ber-husnudzon (prasangka baik) karena "menuduh curang tanpa bukti adalah bentuk dari sebuah kecurangan", serta "menuduh tidak jujur tanpa bukti adalah bentuk dari ketidak-jujuran".
"Kebenaran terbesar adalah kejujuran, dan kepalsuan terbesar adalah ketidakjujuran." (Abu Bakar Shiddiq ra.)
Jika Menang, ya terima dengan kegembiraan, tapi jika Kalah pun bisa menerima kekalahan dengan lapang dada, meski pediiiihh, periiihh.. masa gak tau malu dengan menuduh curang kepada bola, wasit atau penonton.. malu donk.. ntar diketawain penduduk se-alam semesta, baik jin dan manusia. Emang siapa yang menjamin Barca harus menang.. kok sotoy..?!
Akui aja, kalah itu karena salah strategi, pihak lawan lebih bagus dalam pertandingan, dan lebih kuat dalam tekadnya. Boleh jugalah karena supporternya lebih banyak dan lebih dalam segalanya. Man jadda wa jada. Bukankah demikian dalam sebuah permainan (perlombaan, pertandingan) di dunia yang fana ini, ada yang "beruntung", dan sebaliknya, ada yang "belum beruntung".
"Dan barangsiapa berusaha, maka sesungguhnya usahanya itu untuk dirinya sendiri.” (QS. Al-Ankabut : 6)
"Wahai Anak Adam, engkau lah yang mengisi (buku catatan amalmu) dan Aku yang mencatatnya." (Hadist Qudsi)
Dan untunglah sepakbola ini tidak membawa-bawa atas nama agama, serta tidak mempolitisasi agama ataupun ulama.. 😀
Semoga...
#ombad #tasawuf #dalam