Showing posts with label ITB. Show all posts
Showing posts with label ITB. Show all posts

05 September 2019

MASUK ITB (Part 2)

(Fase Cicadas)

Undangan syukuran masuk ITB akhirnya diberitahu ke rumah-rumah dan tahlilan pun dilakukan sesudah Asar.

Malamnya kami diskusi dan disarankan ikut numpang dulu di rumah adik bungsu Bapak di Cicadas untuk sementara, jangan lama-lama dan harus cari kontrakan (yang murah) tentunya. Tidak lupa menegaskan, "turun di Terminal Cicaheum, lalu naik bis kota Cibeureum, dan minta ke kondektur supaya diturunin di Cicadas".

Hari Sabtu pagi akhirnya berangkat menuju Bandung setelah sebelumnya saya disuruh tidur terlentang sama Emak lalu dilangkahin 3 kali.. Gak tau juga maksudnya apa.

Saya pun berjalan kaki seperti biasanya (30 menit) menuju terminal kecamatan sambil menenteng tas bekas penatarannya Bapak (bukan ransel) yang berisi beberapa helai baju, celana, serta surat/dokumen yang diperlukan.

Akhirnya sampailah di Terminal Cicaheum sekitar jam 13 an, lalu naik Damri Cibeureum, dan berhenti di Cicadas. Secarik kertas alamat bertuliskan "Mang Aip, Gg. Samsi II Cicadas" pun dilihat lagi.

Sambil bertanya-tanya, sampailah di lingkungan terpadat di dunia dan rajinnya bungkuk badan sambil "punten". Jalan putar-putar di gang sempit sambil nanya-nanya "rumahnya Mang Aip asal Garut" sudah hampir satu jam belum juga ketemu.

Saat udah hampir frustasi, keringatan dan lapar.. akhirnya.. pada waktu Asar ada orang memberitahu "ada juga nama AEP yang asalnya dari Garut, rumahnya di sana.." sambil ditunjukin. Dan benar akhirnya ketemu, paman yang tadinya bernama Aip jadi Aep.. duhh.. pantesan susah dicari.. jangan-jangan si bibi pun rubah namanya, waktu di kampung namanya Jeje sesudah di Cicadas berganti jadi Jenny.. mudah-mudahan aja saya gak disuruh manggil dia "tante".. πŸ˜‚

Dan pengalaman baru berada di perumahan kumuh Gg. Samsi II pun teralami. Bagaimana kata "anying" begitu viralnya, dimana 40% kalimat selalu mengandung kata ini.. "Anying sia tΓ©h anying teu balΓ©g anying".. πŸ˜‚
Ya, meskipun hidup di daerah beling, selalu ingat motto bahwa "preman juga manusia punya rasa punya hati jangan samakan dengan pisau belati".. πŸ˜‚

Begitupun, bagaimana rasanya menahan BAB karena harus lama mengantri "WC umum" di atas selokan sambil bawa gayung dan bekal air satu ember.. udah gitu air selokannya pun kadang kering.. gak mengalir. Coba bayangin aja selama buang hajat harus gimana.. udah gitu gimana jika air satu ember gak cukup buat cebok.. Hidup di kampung aja gak gitu-gitu amat.. 😰

Paman Cicadas ini selain buruh pabrik tekstil di Leuwigajah, juga sepulang kerjanya ia dagang berbagai minuman, rokok, dsb pakai gerobak, mulai dari jam 17 - 23 an di depan bioskop misbar Taman Hiburan Cicadas. Saya seringkali diminta bantuin mendorong gerobak sepanjang 2 meter serta nungguin dagangannya.

Dilema.. iya.. sungguh dilema saat sedang menunggu gerobak dagangan ini.  Perasaan was-was dan khawatir pun sering muncul selama jagain dagangan, takut ada orang Garut yang kenal, lalu mereka ngomong di kampung :
"Lho.. cenah kuliah di itébé, ternyata dagang rokok di depan Taman Hiburan Cicadas.." 😰

Busyet deh.. bisa "wirang" nanti.. iya.. soalnya pernah sekali melihat orang sekampung yang kenal, saya pun cepat-cepat tundukan kepala agar terhalangi gerobak dan tak terlihat.. sungguh beruntung dia gak beli.. alhamdulillah.. πŸ˜‚

Dua minggu.. selama kegiatan "100 jam P4" di kampus, kehidupan malam pun dilalui di pemukiman kumuh Cicadas serta di sekitar Taman Hiburan. Sekali-kali beli karcis bioskop misbar Taman Hiburan. Bioskop khusus kasta kelas 3 yang dulunya dibangun oleh J.F.W. de Kort ini sungguh berbau pesing.. ya ditahan aja sambil merokok.. lumayan kan Rp. 300 bisa 2 sampai 3 film lama, meski harus menolak beberapa kali "cewek ber-make up tebal.. dengan rokok di tangan.. menunggu tamunya.. datang", dan menawarkan diri seharga 5.000 rupiah saja.. 😍 

Untunglah.. siksaan lingkungan kumuh akhirnya selesai juga sewaktu di Kantor Pusat ITB ketemu sama teman sekelas SMA yang diterima di Fisika ITB dan memutuskan ngontrak sekamar berdua di Gg. Mesjid belakang pasar Balubur seharga Rp. 240.000.

Dan pengalaman baru lainnya pun menunggu untuk dijalani.

Semoga...
#ombad #itb #cicadas #biografi


03 September 2019

KECANDUAN BACA

Semenjak masuk SD di umur 4.5 tahun, aksara latin adalah aksara kedua yang bisa dibaca setelah aksara arab. Saya pun punya hobby baru yaitu "obrak-abrik" isi "perpustakaan" Bapak.

Awalnya buku-buku ini numpuk di atas plafon dan tanpa sengaja ketemu anaknya yang baik, tidak sombong, murah senyum, cakep, wajahnya bercahaya, matanya berbinar, dsb tetapi suka naik-naik ke atap rumah akibat rasa ingin tahunya yang besar..

"Kok ada lantai dari bambu setinggi 2 meter dari lantai..?" pikirnya.. Ia pun ambil tangga bambu, naik, dan... HARTA KARUN terpampang di depan matanya !. Sampai akhirnya tempat inipun jadi tempat favoritnya buat baca-baca.. istilahnya "nyelegon" lah kalau dalam bahasa sunda mah.. seperti inilah kalau yang nulis paragraf ini adalah Aa Ibong.

Oh iya, waktu masuk SD, Bapak udah jadi Kepsek di SD yang lain.. buku-bukunya kebanyakan terbitan Departemen P & K, serta Balai Pustaka. Jangan-jangan, bokap "belokin" buku jatah sekolah nih.. duit dari mana beli buku sebanyak itu.. 😂
 
Awalnya, buku-buku cerita tipis berbahasa Indonesia dan Sunda. Seiring waktu, kegemaran baca ini pun jadi candu, untungnya hanya sampai tamat SD aja, karena buku-buku "perpustakaan" ini sudah habis dibaca, termasuk buku-buku "aneh" dan tebal-tebal yang disimpan di "para" (atas plafon).

Hasilnya, banyak yang membekas di kepala, termasuk karangan dari luar negeri, tentunya yang udah diterjemahkan.. kan not yet reading english.. mulai dari "Hans Andersen", "Uncle Tom's Cabin", bahkan Moby Dick dan Don Kisot..

Novel yang paling membekas di kepala mah karya-karya Poedjangga Lama, Hamka dan Motinggo Busye, khususnya Perempuan Paris, 1968.. 😊

Nah.. kalau buku tebal, yang begitu membekas di kepala itu adalah buku bersampul putih yang masih ejaan lama berjudul Ilmu Kebidanan & Ginekologi (objin).. suka banget sama gambar ilustrasinya, ada orang tiduran dengan berbagai posisi, kepala bayi nongol, penjepit kepala, dsb. Cuma anehnya karena tanpa pakaian aja.. Seru, rasanya seperti sedang menonton film.. dan buku inipun sudah tamat waktu jaman SD.. sampai sekarang gak paham kenapa Bapak punya buku ini, apa pernah bikin pelatihan paraji (dukun beranak) gitu.. atau malah pernah pacaran sama mahasiswi kedokteran..

Cuma sayang.. ada  jeleknya juga ketika sedang bermain sama temen sebaya di kampung. Saat menerangkan urusan mobil Ford di Amerika bahwa produksi per mobilnya itu lebih cepat dari merebus telor, hanya sekitar 3 menit/mobil.. ehh.. teman-teman pada tidak percaya, malah mereka ngomongnya, "Ah siah, gélo manéh mah...!"
Salah aku dimana coba.. masa dikatain gila meski udah diyakinkan sedemikian rupa pakai data dan fakta..? 😰

Untunglah.. sewaktu SMP dan SMA, kecanduan bacanya berkurang drastis.. kan malu atuh kalau disebut "kutu buku", emang aku cowok apaan..?

Kegiatan harian pun kembali normal, seperti main ke gunung dan pulangnya bawa bambu utuh 2-3 pohon, piknik ke kebon lalu pulangnya bawa jengkol atau alpukat setengah karung, berenang di sungai tanpa pakaian renang, ataupun sepak bola dari siang sampai maghrib.

Sayangnya sewaktu kuliah, mulai semester 3 saat kontrakan di Pelesiran, mulai "menggila" lagi kecanduan bacanya.. sungguh merugikan. Duit bulanan cepat habis sampai cekak.. iya.. sangat merugikan..! Dana buat makan pun habis agar bisa melahap buku-buku sewaan, bahkan tidur dan kuliahpun terganggu.. kadang 2-3 hari gak tidur, kadang juga seminggu gak ke kampus.. tersedot Cersil pertempuran buatan Kho Ping Ho, Khu Lung, Chin Yung, Wang, Gan KL, bahkan SH. Mintardja yang susah tamatnya. Bisa paham kan kenapa IPK di bawah 3.0..?

Alhamdulillah, akhirnya kecanduan baca pun bisa sembuh karena dua alasan; pertama, Cersilnya habis semua dibaca, gak ada lagi yang baru.. Kedua, muncul sesuatu yang baru, yaitu musik alias kecanduan beli kaset, dan satu lemari kaset pun berhasil terkumpul saat lulus kuliah.

Iya.. Tuhan Maha Adil, setidaknya saya paham bedanya Cinta dengan Kecanduan.. kalau Cinta dari mata turun ke hati, sedangkan Kecanduan itu dari mata pindah ke telinga.. dan lebih merugikan.
 

Semoga..
#ombad #biografi

01 September 2019

MASUK ITB

Sewaktu ada PMDK, dengan pede pilih Sipil dan Teknik Industri ITB, maklum.. kan di SMA termasuk satu atau dua besar.. πŸ˜‚

Ehh.. ke laut dua-duanya.. dan stres mulai nongol, apalagi ortu bilang "urus sawah aja kalo gak masuk negeri, gak usah kuliah.." .. Aseeem.. masa top selebritis SD, SMP & SMA gak kuliah.. sementara yang nilainya di bawah, PMDK-nya ada yg masuk ITB, IPB, dll.

Oh iya.. perlu diketahui sejak jaman SD, sy itu bukan tipe "bintang pelajar".. jaman kuliah pun cukup bawa satu buku tulis yg dilipat dan disakuin di celana. Silakan tanya sama anak-anak Mesin yg kenal saya.

Kembali ke tanktop.. mulailah merasakan yang namanya panik. Sementara temen-temen yang status ekonominya bagus, banyak yang ikut bimbel ke Bandung.. iya ke Bandung.. dulu kayaknya belum ada di Garut.. kalaupun ada, tetap aja saya gak bisa ikut bimbel..

Akhirnya sy datangin temen-temen yang ikut bimbel dan fotokopi semua soal-soalnya. Dan selama 2 bulan, pertama kali dalam seumur hidup, saya belajar di kamar, keluar kamar kalau lapar atau isoma saja.

Bapak pun membawa sy ke seorang Kyai langitan, minta doa, dan akhirnya saya dapat PR tambahan.. baca doa tersebut sesudah sholat..

Biar tidak terlalu panjang karena kasihan sama ibu-ibu atau terlalu lebar karena kasihan sama bapak-bapak.. ikutlah UMPTN di Bandung, tempatnya di SMPN yg di Supratman.. dimana pilihan 1 Mesin dan pilihan 2 nya Fisika ITB.. meski sama Bapak disuruh pilih IKIP.. juga tidak mau pilih lagi yg kayak di PMDK.. sebel.

Beberapa minggu sesudahnya, sewaktu pengumuman kelulusan, kebetulan saya pun ada di kampung, Bapak pontang-panting nyari koran, sementara anaknya santai aja di rumah. Namanya juga di pelosok, bayangin aja.. tahun 87 an, udah mah di Garut.. Garutnya pun Garut coret lagi.. koran adalah sesuatu yang sulit.

Akhirnya Bapak datang sambil sumringah karena anak sulungnya yang paling ganteng lulus.. sambil menyerahkan fotokopi koran yang ada nama anaknya.. iya.. FOTOKOPI .. koran dilipat 2 kali lalu difotokopi. Dan ini pertama kalinya saya merokok di depan ortu, tidak sembunyi-sembunyi, sambil nawarin beliau, "rokok Pak.." dan kami berdua pun merokok bersama dengan bahagia.. πŸ˜‚

Untunglah, besoknya saya ke rumah teman di kota.. pas lihat koran yg utuh ternyata ada pengumuman urusan daftar ulang dan P4 di kampus, 3-4 hari ke depan, dimana harus pakai seragam putih-putih.. yaahh.. atuhh.. cepet-cepet pulang dan besoknya datang lagi ke kota.. belanja baju, dsb.

Dan kedua nenek sayapun jadi corong speaker mendatangi setiap pengajian, dengan begitu bangganya ceritakan cucunya yang calon insinyur ITB.. dan berita inipun tersebar hampir di dua kecamatan. Iya.. demi cucu mereka yang akan jadi sarjana pertama dalam sejarah.

Semoga..
#ombad #biografi


29 August 2019

IOTA TAU BETA

Acara tahunan dari tahun 1970 sampai 1990 ini berjudul sangat indah yaitu KESENIAN DAN BAZAAR, serta dilakukan setelah selesai OSPEK jurusannya masing-masing.

Acara BAZAAR dilakukan di sekeliling GSG ITB (Gedung Serba Guna) dimana setiap jurusan buka stand buat jualan barang, makanan, minuman dan kreativitas lainnya, dari pagi sampai sore. Acara Bazaar pun berjalan dengan sangat sukses.

Lalu malamnya acara dilanjutkan dengan pertunjukan SENI di dalam GSG. Setiap jurusan wajib menampilkan kreativitas seninya di panggung pertunjukan, dan Anak Mesin main band, kebetulan saya berperan sebagai vokalis.. 😊

Teman seangkatan pun bahu-membahu dalam menjaga panggung agar pertunjukan seninya bisa berjalan aman dan lancar setelah sebelumnya pintu GSG hancur didobrak oleh para senior yang ingin masuk gedung, sehingga pintu ini harus diganti baru.

Makin lama acara berjalan, ternyata keinginan para senior makin melunjak. Mereka ingin merebut panggung pertunjukan..! Aksi dorong-mendorong, jegal-menjegal, bahkan pukul-memukul pun terjadi. Bau pesing, kotoran, dan segala macam bau lainnya pun bukan hanya tercium tapi sudah menyatu dengan baju, celana, tangan bahkan wajah. Basah di mana-mana, dari mulai lantai, pakaian sampai rambut, bahkan kedua lubang telinga saya pun penuh dengan stempet.

Kondisi seperti ini berlangsung terus menerus, kegaduhan makin memuncak, teriakan, umpatan, sampai suara kesakitan pun makin santer, dan... "dhuaaarrr" suara ledakan mengguncang keras di belakang panggung.. kami semua panik, bengong sesaat.. dan akhirnya meski pagar betis sudah lebih dari 5 lapisan buat barikade pun buyar.. tembus..!!

Panggung pun akhirnya dikuasai para senior, dan anak seni yang berambut gondrong tertawa penuh kemenangan. Dia yang dari awal tangannya selalu di atas sambil memperlihatkan petasan sebesar botol bir..!!

Iya.. Bazaarnya memang indah tetapi pertunjukan SENI malam harinya barbar dan brutal.. Malam Iota Tau Beta.. Iya, bukan acara "Kesenian dan Bazaar", tapi Kekejian dan Bazaar".. 😁


Semoga..
#ombad #sejarah #iotataubeta


17 October 2017

LADY FTMD RUNNER

Setrong ternyata bukan milik cowok-cowok Mesin (+ Material dan Penerbangan) ITB aja, ehh cewek-cewek FTMD pun terbukti setrong..!! Yell boys.. eh, girls eaa... :D 

Sungguh layak ke-16 cewek cantik alumni Teknik Mesin, Material dan Penerbangan ini diberi apresiasi yg setinggi-tingginya, dan sangat layak bagi mereka dipersembahkan lagu kebanggaan Mesin sambil melakukan penghormatan genggam Mesin :

"Union Union Mesin Strong,
Laskar Mesin Perkasa,
Tahan segala cuaca,
Selalu bersemangat..!"

Bagaimana tidak, jarak sejauh 170 km dari Jakarta - Puncak - Bandung telah mereka taklukkan dan ditempuh hanya dalam waktu 30 jam saja.. Apalagi kondisi jalur puncak, yg bisa disebut sebagai trek maut, nanjak terus pun bisa mereka taklukan.. Hebaat..!

Ke-16 Lady FTMD Runner ini pembentukannya dipelopori oleh Dini Indah Martanti, dan Dini pun sekaligus sebagai Ibu Kapitennya.

Inilah para laskar Lady FTMD Runner yg telah membuktikan keperkasaannya : Rukmi Widayanti, Meirina Pane, Indria Herman, Haleyna Arstianti, FiFie Han, Ratna Ayu Wandini, Dewi Yuniartie, Nila Husnayati, Marietta Pangaribuan, Annisa Rachmawati, Atika Mayendra, Arini Syahradzi, dll.

Dan satu lagi yg membanggakan adalah semuanya aman, tidak mengalami cedera ataupun kecelakaan.. Salut.. (y)

Siapa ya Team Pendukungnya..?
So pasti, orang-orang terdekatnya lah. Masa para istrinya cape lari memeras keringat, suaminya leyeh-leyeh tidak mendukung..? Dan terjadilah, "pengorbanan" para istri pun ikut menciprati suami dan anaknya.. Bahkan para suami pun jadi wajib berjibaku menjaga dan mensupport istrinya sampai-sampai banyak yg gak tidur lebih dari 24 jam, termasuk mengawasi pelari yg lain lewat aplikasi. Jika mau tidur pun, mungkin sulit, apalagi kalo si istri minta dipijit karena pegal-pegal.. Cucian dech.. ehh, hebat dech.. Dengan begitu akan semakin menguatkan Kebersamaan dan kasih sayang dalam keluarga. 

Ahh, ternyata kegiatan Ultramarathon bisa menimbulkan kekhawatiran para suami, tetapi di satu sisi menjadi penguat kasih sayang kepada istri.

Dan satu lagi, Orientasi Proses itu lebih bernilai daripada sekedar Orientasi Hasil. 

Nah, enak kan punya istri alumni Mesin.. :D


Semoga....

#ombad #ladyftmd #itbultra #170k

16 October 2017

INSPIRASI MESIN 89

Team lari Ultramarathon 170 km ITB dari Mesin angkatan 89 ini bisa sy sebut Sangat Unik dan Inspiratif. Iya, sangat unik dan inspiratif..!

Coba bayangkan, jika semua peserta lari itu adalah teman-teman satu kelas dan tidak semua suka lari, bahkan banyak yg sukanya lari saat mimpi.. :D

Dalam menghadapi realita seperti ini, tentu sangat dibutuhkan kerja ekstra keras dan motivasi yg sangat tinggi khususnya bagi mereka yg bukan pelari. Butuh persiapan yg betul-betul terukur, matang dan mumpuni. Dan dalam hal ini, Coach & Kapten Team Runner M89 yaitu Ign Krisna Adi Wijaya pasti berjibaku dengan tips dan teknis kilatnya, berpacu dengan waktu buat menyemangati dan memotivasi teman-temannya agar pede berlari 10 km.

Dan tentunya juga menerjunkan semua teman satu kelas yg harus jadi Team Support di sela-sela kesibukan masing-masing. Dan ingat, ini lelaki semua.. gersang dan garing.. :D Dan tentu akan berbeda jika ada wanita di Team Support nya.. karena wanita itu lebih detail secara teknis, hal-hal yg kecil dan sepele (menurut lelaki) pun terperhatikan.. dan pada saat tertentu, ternyata hal yg dianggap "sepele" tersebut sangat penting.. Dalam hal ini, Doddy dan Ifnu sebagai komandan Team Support layak diapresiasi.. (y)

Apa yg bisa menyatukan visi, motivasi dan semangat yg luar biasa ini..? Satu nama, yaitu BORIS.. Iya, Boris. Rasa solidaritas dan kasih sayang mereka semua kepada temannya sekelas, Boris yg bulan Juli kemarin terkena Stroke, sampai sekarang belum bisa berjalan.. Cepat sembuh pren Boris..

Solidaritas pertemanan yg didasari rasa kasih sayang yg begitu kokoh dan erat, dimana saat ini sudah mulai langka ketika berhubungan dengan aspek materi dan jabatan, dimana seorang teman pun bisa disikut dan dikhianati..

Bagaimana rasa solidaritas dan kasih sayang ini yg mendorong Trisandi Hendrawan (Runner #15, Citatah-Cimareme) yg harus berpacu dengan waktu travel dari Padang sampai WS #15 di hari yg sama: Pesawat - bis AKAP Primajasa - ojek.. Salut pren..!

Begitupun dengan yg lain, dengan "pengorbanan" nya masing-masing : Heru, Ananta, Roby, Yana, Taufik, Gun Gun, Agu, Asrul, Wibowo, Akhmad, Patar, Eko Daun, Daniel Agung, dll..  

Btw, sy sebagai M89 (secara de jure) dan juga anggota "M89 kehormatan" sangat terinspirasi dengan solidaritas dan pertemanan seperti ini, itu makanya dari rasa salut yg mendorong membuat tulisan ini. Dan Team Runner M89 ini pun menjadi inspirasi bagi angkatan dan jurusan lain untuk membuat team lari yg pelarinya berasal dari teman-teman yg satu kelas. Tq pren.. (y)

Mesin 89, you are the real winner, running for humanity, solidarity, respect and love.

Semoga...
#ombad #M89RunforBoris #SolidarityForever
#YellBoys #ITBUltraRun170k

GREAT WOWLOOPY TOO ITB87

Akhirnya Team WOWLOOPY TOO ITB87 menjadi Team Tercepat di angkatan yg berangka depan 8.. Pelari etape terakhir dari Team 1, Arif (IF87) berhasil memasuki garis Finish di Kampus ITB pada jam 22.18 WIB, disusul pelari etape terakhir dari Team 2, Ari Swa (MS87) beberapa menit kemudian.. Congratz.. Hebat...!

Dalam ajang Ultramarathon ITB 170 km ini, WOWLOOPY TOO ITB87 menurunkan dua Team terbaiknya, dan para pelari 87 yg tidak masuk Team Pelari otomatis menjadi Team Pendukung.

Kedua Team Pelari 87 ini dikomandani oleh Ari (MS87), Elisa (TI87) dan Bolo (TF87).

Team 1 :
Elisa (TI87), Dudi (SI87), Nyonyo (TI87), Daten (MS87), Aswan (GL87), Wiwid (GD87), Ariyanto (MS87), Feber (SI87), Alham (IF87), Hari (FA87), Slamet (GL87), Singgih (MS87), dan Arif (IF87).

Team 2 :
Boyle (EL87), Sadri (SI87), Uul (MS87), Ira (AS87), Fadjar (EL87), Rona (MS87), Edy (EL87), Obenk (MS87), Cepi (FA87), Utomo (MS87), Bolo (TF87), Jaya (FI87), dan Ari Swa (MS87).

Selain pelarinya yg memang hebat-hebat, Team Pendukung yg dikomandani oleh Elsie (SI87), Ira (AS87) dan Rini (TK87) pun super hebat. Bagaimana mereka mengatur kebutuhan para pelari 87 dari mulai urusan administrasi, jersey dan asesorisnya, makanan, minuman, cemilan, faktor keamanan bagi pelari, pendampingan pelari, monitoring, koordinasi waktu, dsb sampai sedetil-detilnya. Itu makanya, semisal, Kukuh aja sampai gak tidur selama 2x24  jam..! Dan begitu pun yg lainnya, kalau pun tidur, paling sejam dua jam, itu pun di mobil logistik.

Team Pendukung :
Elsie, Rini, Ira, Kukuh, Aris, Nuki, Dharmananda, Gandawijaya, dsb.

Terima kasih buat para pelari WOWLOOPY TOO ITB87 yg penuh motivasi, beserta Team Pendukung yg telah bekerja keras. Semuanya tanpa kenal lelah..

Catatan..
Di ajang ini, Mesin 87 terbanyak menurunkan pelarinya, sebanyak 8 orang, yaitu : Ariyanto, Ari Swa, Daten, Uul, Rona, Obenk, Utomo dan Singgih. Sy gak masuk karena sedang kram otak.. :D

You're great... We proud you guys...!! (y) (y)
In Harmonia progressio..
Solidarity Forever..

Semoga...
#ombad #itbultra #ftmd #itb87 #wowloopytoo

10 October 2017

TASAWUF DALAM LOMBA LARI

Langkah demi langkah tapaki jalan yg panjang membentang tanpa pernah tahu apa yg akan terjadi nanti di depan. Selesai masuk garis finish atau berhenti di tengah jalan ?

Saling berlomba, sambil menjaga langkah-langkah agar selalu teratur dalam ritme, harmonious balance, tanpa harus menyikut atau menghambat pelari lainnya. Semua berupaya mempersembahkan yg terbaik dari dirinya tanpa harus menyinggung dan merusak upaya yg lain. Tidak ada musuh, yg ada adalah teman yg menemani lari dan dijadikan "saingan" pemacu semangat agar bisa mencapai garis akhir perlombaan. Memang sesungguhnya tidak ada musuh karena mereka hanyalah para sahabat yg masing-masing sedang menjalankan tugasnya sebaik dan semaksimal mungkin. Ya, seperti itu seharusnya setiap manusia menjalani hidupnya.

Semua menyadari akan selalu ada hambatan, apakah kondisi terik matahari yg panas ataupun dinginnya air hujan, meski sang bayu kadang membantu menyejukkan tubuh yg panas membara terjemur terik agar merasa nyaman, bahkan seringkali nakal menggoda ketika datang bersama sang hujan. Tapi semua hambatan ini pasti akan berakhir. Ada penghiburan dalam setiap hambatan, ada harapan dalam setiap kekhawatiran, ada kemudahan dalam setiap kesulitan. Ada akhir dari setiap awal. Badai pun pasti berlalu. Ya, seperti itu seharusnya setiap manusia dalam melihat setiap hambatan dalam menjalani kehidupannya.

Semua saling bantu-membantu dan menyemangati, baik antar sesama peserta lomba, maupun para penonton, agar para peserta tetap berada dalam jalurnya, tidak kehausan dan kekeringan, serta bisa tetap sehat dan selamat. Para teman yg jago lari pun selalu menyemangati, mensupport dan memberi kiat serta nasehat kepada temannya yg belum baik larinya. Semua akan senang dan bahagia jika para peserta lomba jika mencapai finish. Ya, seperti itu seharusnya setiap manusia dalam memandang dan memperlakukan sesamanya, baik sebagai Pelaku atau Pengamat.

Capek, iya memang capek. Napas megap-megap, paru-paru panas membara, betis dan paha pegal-pegal, kulit kotor berdebu, serta air keringat pun mengalir deras. Dan seperti itu pun diri kita dalam mencapai sesuatu dalam hidup ini, penuh pengorbanan. Termasuk juga dalam mendekati Tuhannya, saling berlomba sebaik dan semaksimal mungkin, serta penuh totalitas. Ya, seperti itulah hidup dan kehidupan.

Mudah-mudahan capeknya setiap pengorbanan hidup ini menjadi pahala seperti halnya tubuh menjadi sehat ketika rajin berlari, dan menjadi pembuang/penghilang dosa seperti halnya terbuangnya air keringat ketika sedang berlari. Terpurifikasi. Dan kita semua bisa berakhir selamat dan mencapai Kebahagiaan ketika kembali (wushul) kepada Tuhan, seperti halnya kebahagiaan yg dirasakan ketika berhasil mencapai garis finish. Dan tubuh fisik sehat pun akan menjadi suatu keniscayaan, seperti halnya sehatnya mental dan spiritual orang-orang yg telah wushul kepada Tuhannya. 

Dan semua pun dalam Kemenangan..

Semoga....

#ombad #tasawuf #170km #FTMD #ITB

Ket. Foto :
"Tetap Senyum" nya pren Arilari (Ariyanto M87 ITB) setelah lari menempuh jarak berkilo-kilo meter.