Showing posts with label Tarekat. Show all posts
Showing posts with label Tarekat. Show all posts

27 June 2019

TASAWUF DALAM SEBUTIR KELAPA

Sampai kapanpun Tuhan akan tetap jadi misteri hamba-Nya. Sedemikian misteri/ghaib-Nya maka Tuhan pun seringkali membuat perumpamaan-perumpamaan agar lebih mudah dikenali makhluk-Nya. Bukankah "Tuhan membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Tuhan pun membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia"..? (QS. An-Nuur: 35)

Banyak ciptaan Tuhan yang dijadikan sebagai media perumpamaan-Nya, apakah itu hewan (anjing, lalat, semut, dll), fenomena alam (petir, hujan, batu, tanah, dll), bahkan sampai pohon pun dijadikan perumpamaan (zaitun, kurma, rumput, dll).

Dan karena di daerah gurun, maka pohon/buah kelapa "tidak sempat" dijadikan media perumpamaan.. 😀

Rasulullah SAW bersabda,

"Syariat itu Perkataanku, Tarekat itu Perbuatanku, dan Hakikat itu Kelakuan/karakterku."

Kelapa, seperti halnya agama, bagian buahnya pun berlapis-lapis.

- Sabut (kulit terluar).

Ini diibaratkan Syariat. Kulit kelapa berfungsi untuk melindungi lapisan dalam, melindungi terhadap benturan, seperti halnya syariat yang melindungi dan mengatur batas antara baik dan buruk. Kulit/sabut kelapa juga berfungsi untuk penyebaran buah kelapa, seperti halnya syariat yang selalu dikedepankan dalam penyebaran agama ke seluruh muka bumi. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, "Syariat itu Perkataanku.."

- Batok (tempurung).

Ini diibaratkan Tarekat. Batok kelapa yang keras ini berfungsi untuk melindungi daging kelapa dari gangguan luar, seperti halnya aspek pengamalan dalam tarekat khususnya terkait latihan-latihan jiwa, tadzkiyatun nafs, serta pembersihan diri dari sifat-sifat tercela, dengan tujuan memperkuat keyakinan diri beserta perbaikan kualitasnya.

Menembus batok kelapa yang keras ini seperti halnya riyadhoh dalam tarekat dalam melunakkan kerasnya hati, dimana diperlukan kesungguhan usaha, keistiqamahan, memperbanyak dzikir, suluk, uzlah/khalwat secara batiniah, serta "melatih" keikhlasan sebagai pondasi dasar dalam kemurnian tauhid. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, “Tarekat itu adalah Perbuatanku..”

- Daging kelapa.

Ini diibaratkan Hakikat, yang bisa dirasakan setelah melawati kerasnya riyadhoh, seperti halnya menemukan daging kelapa yang enak dan empuk, setelah bisa melewati kerasnya hijab tempurung hati. Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, "Hakikat itu Kelakuan/karakterku."

- Air (Santan, Minyak) kelapa.

Ini diibaratkan Makrifat. Daging kelapa butuh diproses lagi agar bisa jadi Santan ataupun Minyak Kelapa. Keduanya sangat berbeda karakter, dimana Santan itu berumur pendek (cepat membusuk), seperti halnya kondisi Ahwal yang cepat berubah, dan Minyak Kelapa berumur panjang, lebih "abadi", seperti halnya rahasia keabadian ruhani manusia yang tersimpan dalam maqam ini, Baqa setelah Fana.

Inilah yang dimaksud Rasulullah SAW, “Makrifat itu adalah Rahasiaku..”

Rahasia, karena memang Makrifat itu berada di dalam Hakikat, ibarat minyak tidak akan muncul dengan sendirinya tanpa diproses terlebih dulu. 

Dan dari air kelapa pun bisa jadi cuka bahkan tuak yang sangat berbeda jenisnya dengan cuka, seperti halnya cuka yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh, meski di lain sisi, kadangkala memunculkan tuak yang bisa "memabukkan".. 😀

**

وَعَائِيْنِ مِنَ الْعِلْمِ اَمَّا اَحَدُ هُمَا فَبَشَتْتُهُ لَكُمْ وَاَمَّااْلأَخِرُ فَلَوْبَثَتْتُ شَيْئًا مِنْهُ قَطَعَ هَذَالْعُلُوْمَ يَشِيْرُ اِلَى حَلْقِهِ

"Aku meriwayatkan dari Rasulullah SAW dua wadah ilmu: salah satunya telah kuberikan kepada kalian, adapun yang kedua, seandainya kuberikan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pedang untuk memotong leherku ini --dua wadah itu ialah Syariat dan Hakikat--." (Abu Hurairah ra.)

Menurut Imam Qusyairi (dalam Risalah Qusyairiyah) :

Syariat adalah perintah yang ditetapkan dalam ibadah, sedangkan hakikat adalah kesaksian akan kehadiran peran-serta ketuhanan dalam setiap sisi kehidupan. Kita sering mengenal istilah, Musyahadah Rububiyah, yakni melihat Tuhan dengan hati.

Dikatakan demikian sebab syariat merupakan pengetahuan atau konsep merambah jalan menuju Allah, sedangkan hakikat adalah keabadian melihat-Nya.

Sementara, Thariqah merupakan perjalanan hamba meniti jalan syariat. Artinya, aktualisasi prinsip-prinsip syariat dengan ketentuan hukum yang sah.

Syariat datang dengan beban hukum dari Sang Maha Pencipta, sedangkan Hakikat bersumber dari dominasi kreativitas Al-Haqq.

Syariat merupakan penyembahan makhluk pada Sang Khaliq, sedangkan Hakikat adalah kesaksian makhluk terhadap kehadiran-Nya.

Syariat adalah penegakan apa yang diperintahkan Tuhan, sedangkan Hakikat adalah kesaksian terhadap sesuatu yang telah ditentukan dan ditakdirkan-Nya, serta yang disembunyikan dan yang ditampakkan.

Jadi, Syariat adalah Hakikat dari sisi mana kewajiban diperintahkan, dan Hakikat sebenarnya juga merupakan syariat dari sisi mana kewajiban diperintahkan bagi ahli makrifat.

Semoga..
#ombad #tasawuf #dalam

20 February 2018

NAKAL MEMBAWA BUYAR

Sekitar lima tahun yg lalu, sy mengantarkan terjemahan Tafsir Syeikh Abdul Qadir al-Jailani kepada seorang wakil talqin TQN Suryalaya dari Serawak, yg kebetulan sedang berada di Suryalaya Tasik, yaitu Bpk. Mohamed Trang.

Beliau merupakan salah satu wakil talqin senior karena sejak thn 1978 sudah diangkat menjadi wakil talqinnya Abah Anom.

Tadinya sy mau sebentar saja, hanya mengantar buku tafsir, tetapi ternyata malah ngobrol lama, sampai curhat-curhatan.. :D .. mungkin dari rasa kedekatan, walaupun baru pertama kali ketemu.

Kata Beliau, suatu ketika di tahun 70-an, ia dipanggil Abah Anom dan diberi pinjam sebuah kitab tipis yg langka, yg berisi doa-doa khusus. Syaratnya, silahkan hapalkan sebanyak mungkin selama di dalam ruangan. Sesudah itu, Abah pun keluar karena ada keperluan lain.

Namanya masih berdarah muda, kenakalannya pun muncul... :D.. Karena kesulitan menghapal, akhirnya ia buru-buru keluar lingkungan pesantren dan mencari tempat fotocopy yg memang masih jarang pada waktu itu, hanya ada di kota Tasik. Tidak seperti sekarang, beberapa langkah dari gerbang pesantren pun ada tempat fotocopy.

Dan apa yg terjadi...?
Ternyata hampir semua tempat fotocopy yg ia datangi di kota Tasik tidak bisa memfotocopy...! Eits.. alasannya bukan karena si mesin fotocopynya mendadak ngadat, tapi.... karena waktu itu semuanya sedang mati listrik... :D

Dan ketika balik lagi ke pesantren, kitab langka tsb udah ditunggu pemiliknya... Ah.... nasib katanya.. coba kalau sejak dipinjemin buru-buru dihafal, kan lumayan bisa dapat satu atau dua doa.

Gara-gara nakal semua buyar... :D

Semoga....
#ombad #tasawuf #tqn #suryalaya

29 September 2017

ASYURA (KARBALA)

Dalam kitab al-Ghunyah, karangan Syeikh Abdul Qadir Jailani qs., dikatakan bahwa Asyura itu termasuk 'Asyirul Karomah (hari berkeramat yg ke-10). Peristiwa Asyura ini disejajarkan dengan peristiwa Nuzulul Quran, Lailatul Qadr, Maulidil Rasul, Isra Mi'raj, Yaumil Arafah, Lailatul 'Idain (Idul Fitri dan Idul Adha).

ASYURA ini adalah peringatan terbunuhnya (dipenggal) Sayyidina Husain bin Ali ra. yg terjadi pada tanggal 10 Muharram 61 H. (9 atau 10 Oktober 680 M.) di Karbala, Irak (sekitar 100 km sebelah barat daya Baghdad).

Sayyidina Husein adalah putra kedua pasangan Sayyidina 'Ali dan Fathimah. Setelah dilahirkan (tanggal 3 Sya’ban 4 H.), kakeknya yaitu Rasulullah SAW menamainya Husein (nama "Hasan" dan "Husein" ini tidak pernah ada/dipakai sebelum mereka lahir). Setelah memberikan nama Husein ke cucunya, Rasulullah pun menciumnya dan menangis seraya berkata:

"Musibah besar telah menunggumu. Semoga Allah melaknat pembunuhmu."

Banyak julukan yg diberikan kepada Sayyidina Husein ra., diantaranya:

- Sayyidusy Syuhadaa (Pemimpinnya para Syahid),
- Mishbaahul Hudaa (Pelitanya Petunjuk),
- Safiinatun Najaa (Perahu yg menyelamatkan),
- Abu Abdillah (ayahnya Abdullah ibn Husain), dsb.

Sayyidina Husein hidup bersama Rasulullah selama tujuh tahun. Selama masa itu, Rasulullah sendirilah yg memberi makan, mengajari ilmu dan adab (akhlaq).

Setelah Mu’awiyah bin Abu Sufyan mati, kepemimpinannya pun digantikan anaknya, Yazid, Sayyidina Husein menolak berbai’at dan menentang atas kepemimpinan Yazid yg terkenal seorang pemabuk . Dan akhirnya, pada bulan Muharam 61 H, Husein bersama segenap keluarga dan para pengikutnya yg setia pun dibantai pasukan Yazid di Karbala yg dipimpin oleh ‘Ubaidillah bin Ziyad. Dan Husein pun menjadi syuhada menyusul kakaknya, Sayyidina Hasan yg syahid pada tahun 50 H.
 
Jadi bagi kalangan NU dan Tarekat itu, memperingati peristiwa Karbala itu hal yg lumrah, dan bukan milik kelompok Syiah saja.. meski negatifnya sering dituduh Syiah.. :D

Tapi gak apa-apalah dituduh Syiah juga, wong kata Gusdur juga "NU itu Syiah tanpa Imamah".. :D Dan juga di Tarekat Qodiriyah itu para Imam yg dimuliakan kelompok Syiah adalah para Mursyid silsilah emas Tarekat Qodiriyah (TQN). Asal jangan Rofidhoh dan sejenisnya aja (Khawarij).

Hikmahnya apa..?

Jahatnya politik kekuasaan, apalagi jika sampai mengatasnamakan agama (alirannya), dan siapapun yg jadi "musuh" nya akan dihabisi atas nama agama meski seagama.

Semoga...

#ombad #tasawuf #asyura #karbala