Showing posts with label Ibn Taimiyah. Show all posts
Showing posts with label Ibn Taimiyah. Show all posts

09 May 2019

BUGHAT (MAKAR, PEMBERONTAK)

BUGHAT adalah sekelompok umat Islam yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin yang sah yang diangkat oleh kelompok mayoritas umat Islam. Mereka menolak menunaikan kewajibannya. Mereka memerangi umat Islam berdasar suatu pemahaman hukum yang bertentangan dengan yang disepakati umat Islam. Mereka mengklaim kebenaran dan kekuasaan adalah milik mereka." (Syeikh Mustafa Dib Al-Bugha, Al-Tadzhib Fi Adillah Matn Ghayah Wa Taqrib)

"Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu memberontak, maka perangilah golongan yang memberontak itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah." (QS. Al-Hujurat: 9)
 
Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang keluar dari ketaatan --kepada Imam atau Kepada Negara-- dan memisahkan diri dari jamaah kemudian mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah ra.)

Banyak cara agar para penduduk ikut Makar, salah satunya adalah slogan-slogan Fitnah atau Hoax. Ajakan ini terlihat indah di awalnya, banyak menipu orang-orang bodoh karena memakai slogan-slogan yg indah bahkan bisa atas nama Amar Ma'ruf Nahi Munkar.

Dalam Shahih Bukhari bahwa Sufyan bin Uyainah berkata dari Kholaf bin Hausyab; Dahulu mereka suka membawakan sya'ir ini di saat terjadi fitnah:

الحرب أول ما تكون فتية
تسعى بزينتها لكل جهول
حتى إذا استعلت وشب ضرامها
ولت عجوزا غير ذات حليل
شمطاء ينكر لونها وتغيرت
مكروهة للشم والتقبيل

"Perang (revolusi) itu di awalnya bagaikan gadis, yang memperlihatkan kecantikannya bagi orang yang bodoh, sehingga ketika fitnah telah menyala dan menjadi besar, ia berubah menjadi janda yang tua, rambutnya memutih dan warna kulitnya berubah, baunya tak enak dan tidak enak dicium."

Fitnah juga bisa menghilangkan akal seseorang yang cerdas. Slogan-slogan fitnah akan memukau emosi, perasaan dan psikologinya, sehingga Crocbrainnya menjadi lebih berperan.

"Aku mengkhawatirkan fitnah atas kalian bagaikan asap. Hati seseorang mati padanya sebagaimana mati badannya." (Abdullah bin Mas'ud ra., Kitab Fitan)

Dan daya rusak akibat fitnah/hoax ini sangat besar, penyebarannya amat cepat menjadi besar, sehingga sulit dipadamkan.

"Fitnah apabila telah menyala membuat lemah orang-orang yang berakal untuk mencegah orang-orang yang lemah akalnya."  (Ibn Taimiyah ra., Minhajus Sunnah)

Dan sejarah telah membuktikannya.

Semoga..
#ombad #bughat #makar

MUSLIM AL-WASATH VIA PUASA

Islam itu agama Pertengahan (al-Wasath). Ukuran "pertengahan" ini dasarnya adalah mengambil contoh perbandingan kedua agama pendahulunya, yaitu Yahudi dan Nasrani.

Islam mengandung ajaran hukum dengan orientasi pada masalah perilaku manusia secara Lahiriah seperti pada agama Yahudi, tetapi mengandung juga ajaran keruhanian yang mendalam seperti pada agama Nasrani.

Bahkan antara keduanya tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan. Ketika seorang Muslim dituntut untuk tunduk terhadap suatu hukum perilaku lahiriah, maka diharapkan dan diharuskan, ia juga bisa menerima dengan tulus dan ikhlas dari lubuk hatinya. Seorang Muslim pun harus bisa merasakan bahwa aturan hukum lahiriah itu sebagai sesuatu yg berakar dalam komitmen batin atau spiritualnya.

Kenyataan ini tercermin dalam susunan kitab-kitab fiqh, dimana bab pensucian (Thaharah) lahir selalu jadi bab awal, dan aturan ini pun sebagai awal untuk pensucian batin.

Dalam konteks al-Wasath ini, Ibn Taimiyyah ra. berkata :

"Syari'ah Taurat didominasi oleh KETEGASAN (KERAS), dan Syari'ah Injil didominasi oleh KELEMBUTAN, sedangkan Syari'ah al-Qur'an menengahi dan meliputi keduanya itu."

Jadi, kalau seorang Muslim dominasi dalam urusan hukumnya masih keras dan galak (takfiri, kopar-kapir, susat-sesat, dsb) kepada orang lain, itu lebih mirip siapa..? 😛
Terus, kenapa donk Kelembutannya tidak muncul..? 

Puasa itu sehat dan menyehatkan, dalam arti, berpuasa akan melatih Kekuatan tubuh supaya lebih sehat, atau dengan kata lain, lewat puasa itu bisa memperbaiki aspek "power" tubuh, seperti Kekuatan, Ketegasan, Disiplin, Konsekuen, dsb.

Sementara dari rasa haus dan lapar akibat puasa, seharusnya bisa melatih rasa atau aspek "sensitivitas" tubuh, seperti Kestabilan Emosi, Penurunan Ego, Empati, Kelembutan, dsb.

Jika sifat urat batu atau keras kepalanya masih besar, maka perbanyaklah berlapar-lapar puasa sampai terlewati puncak ego, emosi ataupun marahnya, lalu muncul rasa sabar saat lapar, dan selanjutnya bersiaplah Kelembutan hatinya muncul. Kelembutan ini semakin lama akan dikuatkan dengan rasa Empati dan Kasih Sayang kepada sesama makhluk.

Jadi, puasa bisa menyeimbangkan kedua sisi (Ketegasan dan Kelembutan), atau dengan kata lain, pembentukan karakter al-Wasath bagi seorang Muslim bisa dilatih lewat puasa.


Semoga..
#ombad 04 #ramadhan 1440 H.

21 July 2018

YADRI WA LAA YADRI

Terkait ilmu, Imam al-Ghazali ra. dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin, menukil perkataannya Khalil bin Ahmad ra. yg membagi empat golongan manusia, yaitu:


1. "Rajulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri". 

Orang yang tahu (mengerti) tapi tidak tahu bahwa ia tahu (mengerti). Itulah orang yang Lalai, maka peringatkanlah ia. 

Kaum sufi mengibaratkan orang semacam ini adalah orang yang tertidur. Maka ia harus dibangunkan dan disadarkan akan kelebihannya yang bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain.


2. "Rajulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri". 

Orang yang tidak tahu (mengerti) dan ia tahu bahwa ia tidak tahu (mengerti). Itulah orang yang Sadar Diri, maka ajarkanlah ia. 

Inilah orang bodoh sederhana (jahil basith) yang mudah diobati, yaitu dengan pengajaran dan pendidikan. 


3. "Rajulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri". 

Orang yang tahu (mengerti) dan tahu bahwa ia tahu (mengerti). Itulah orang 'Alim, maka ikutilah ia. 

Orang ini tergolong kaum bijaksana (al-Hukama’), yang harus diikuti dan dimintai pendapat dan wawasannya.


4. "Rajulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri". 

Orang yang tidak tahu (mengerti) dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu (mengerti), itulah orang yang Mati (dungu), maka tinggalkanlah ia.

 

Jadi jenis manusia yg paling buruk adalah "Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri", manusia yg Tidak Tahu (tidak berilmu) dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu. Jenis manusia yg selalu merasa paling mengerti, selalu merasa paling tahu, selalu merasa paling memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. 

 

Orang macam inilah yang disebut “bodoh kuadrat” (Ahmaq), karena selain bodoh juga tidak tahu akan kebodohannya sendiri. Kita bisa bayangkan betapa sulitnya mengobati kebodohan orang seperti itu. Pangkal penyakitnya ialah tidak tahu diri.

Dan repotnya, manusia jenis ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa lebih tahu atau merasa paling tahu. 

Jadi menghadapi tipikal manusia seperti ini, ya biarkan saja. Karena orang yg ilmunya sedikit saja seringkali merasa lebih Pandai, makanya gak usah heran jika orang bodoh pun akan merasa jenius.. :D 


Dari Ali ibn Musa ar-Ridha, Nabi Isa as bersabda :


“Sungguh aku telah mengobati orang-orang yang sakit, dan aku sembuhkan mereka dengan izin Allah; juga aku sembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra dengan izin Allah; juga aku obati orang-orang mati dan aku hidupkan kembali mereka dengan izin Allah; kemudian aku obati orang dungu namun aku tidak mampu menyembuhkannya..!” 

Maka beliau pun ditanya, “Wahai ruh Allah, siapa orang dungu itu..?”

Beliau menjawab, “Yaitu orang yang kagum kepada pendapatnya sendiri dan dirinya sendiri, yang memandang semua keunggulan ada padanya dan tidak melihat beban (cacat) baginya; yang memastikan semua kebenaran untuk dirinya sendiri. Itulah orang-orang dungu yang tidak ada jalan untuk mengobatinya.”

Jadi anggap wajar aja jika pada suatu ketika menemukan tipikal manusia seperti itu.

Iya, memang suatu kewajaran, karena dalam setiap hal selalu ada pasangannya. Apalagi jika berhubungan dengan masalah ilmu yg lingkupnya tak terbatas, baik dari sisi Dzahir (nampak, jelas) maupun dari sisi Khafi (samar, tersembunyi). 

Hal ini pun diterangkan Ibn Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa, bahwa para ulama pun mengklasifikasikan syariat Islam menjadi dua, yaitu: Dzahir (nampak, jelas) dan Khafi (samar, tersembunyi).

Salahkah mereka..? Tidak sich, tidak salah.. :D..  walau bikin enek.

Imam Abu Hanifah ra. pun mengatakan,

"Tidak ada udzur bagi orang yg jahil (bodoh, tidak tahu) dalam hal Ma’rifatullah (mengenal Allah). Karena mengenal Rabb serta mengesakan-Nya adalah kewajiban setiap hamba. Adapun dalam kewajiban² (yg lain), maka orang yg bodoh/jahil atau belum sampai ilmu kepadanya dianggap belum tegak hujjah atasnya."

**

Abu ‘Abd ar-Rahman Al-Khalil ibn Ahmad ibn ‘Amr ibn Tamim Al-Farahidi Al-Azdi lahir di Basrah pada tahun 100 H dan tinggal di sana hingga wafat tahun 170 H, atau tahun 175 H menurut sebagian pendapat. Ayah beliau adalah orang yg pertama kali menggunakan nama Ahmad setelah Rasulullah SAW.

Khalil bin Ahmad, sejak kecil mengikuti kajian-kajian ilmu mulai dari hadits, fiqih, dan juga bahasa. Gurunya yg paling berpengaruh adalah ‘Isa ibn ‘Amr dan Abu ‘Amr ibn al-’Ala’.

Semoga...
#ombad #tasawuf

07 July 2018

IBN TAIMIYAH ITU BERTHARIQAH

Banyak orang/kelompok yg anti tasawuf (thariqah) 'menyerang' tasawuf bahkan sampai membid'ahkan dan mengkafirkan dengan memakai ucapan-ucapannya Ibn Taimiyah ra. terutama cuplikan dari kitab-kitab awalnya.. :D

Mereka belum tau, atau kurang baca kitab-kitab Beliau yg lainnya, khususnya kitab-kitab tentang tasawuf, semisal Majmu al-Fatawa.

Sebetulnya, Ibn Taimiyah itu adalah pengamal tarekat, dan tarekatnya adalah Qadiriyah (Syeikh Abdul Qadir Jailani).

Ini perkataan Beliau :

"Tarekat yang paling agung (ajall al-thuruq) adalah tarekat majikanku (sayyidî) ‘Abdul Qâdir al-Jîli (al-Jîlâni), semoga Allah memberikan rahmat kepadanya.

Aku mengenakan khirqah (mantel sufi) yang diberkati dari ‘Abdul Qâdir, antara beliau denganku ada dua syekh (labist al-khirqat al-mubârakata li al-syaikh ‘Abd al-Qâdir wa bainî wa bainahû itsnâni)."

Dan termasuk jg muridnya Ibn Taimiyah yaitu Ibn Qayyim al-Jawziyyah.

Ini silsilah (sanad) tarekatnya:

1. ‘Abd al-Qâdir al-Jîlâni (w. 561H)
2. Abu `Umar Ibn Qudâmah (w. 607H) & Muwaffaq al-Dîn Ibn Qudâmah (w. 620H)
3. Ibn Abi `Umar Ibn Qudâmah (w. 682H)
4. Ibn Taymîyah (w. 728H)
5. Ibn Qayyîm al-Jawziyyah (w. 751H)
6. Ibn Rajab (w. 795H)


Semoga...
#ombad #tasawuf

24 June 2018

TAKFIRI ITU KUFUR DALAM DIRINYA

Yang biasa teriak, "Sate... sate... sate...!" ya Tukang Sate, dimana si Tukang Sate itu sedang membawa Sate dan mempunyai Sate.

Yang biasa teriak, "Sayur... sayur... sayur...!" ya Tukang Sayur, dimana si Tukang Sayur itu sedang membawa Sayur dan mempunyai Sayur.

Jadi kalau yg biasa teriak, "Bid'ah... Bid'ah.. Bid'ah...!", itu artinya...?

Terus kalau yg biasa teriak, "Munafik... Munafik.. Munafik...!", itu artinya...?

Dan kalau yg biasa teriak, "Kafir... Kafir.. Kafir...!", itu artinya...?

Itu makanya Rasulullah SAW mewanti-wanti,

"Sesungguhnya yg paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yg telah membaca (menghafal) al-Qur’an, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’an dan dia menjadi PEMBELA ISLAM, dia terlepas dari al-Qur’an, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya Musyrik."
Sahabat Hudzaifah ra. bertanya, "Wahai Nabi Allah, siapakah yg lebih pantas disebut Musyrik, penuduh atau yg dituduh..?"
Beliau SAW menjawab, “Penuduhnya."
(HR. Bukhari)
 
Jadi, jika seseorang belum bisa melihat dan menyadari kesalahan di dalam dirinya, maka ia akan melihat kesalahan di luar dirinya, lalu akan begitu mudah untuk menyalahkan yg di luar dirinya.

Artinya, jika di dalam dirinya masih banyak Kemusyrikan, maka ia akan lebih mudah menghakimi orang lain "Musyrik".

Begitupun, jika di dalam dirinya masih banyak Kekufuran, maka ia akan lebih mudah menghakimi orang lain "Kafir".

Dan jika di dalam dirinya masih banyak Kemunafikan, maka ia akan lebih mudah menghakimi orang lain "Munafik".

Itulah bentuk Kebodohan, Ketololan dan Kepicikan. Bukti dari Ketololan dan Kepicikannya adalah ketika berbeda pendapat, maka mereka ini akan langsung men-cap yg berbeda dengan dirinya sebagai Kafir, Munafik, Liberal, Sesat, dan seabreg caci-maki lainnya.

Mereka itu sebetulnya bukan sedang memurnikan diri, tapi malah sedang mengkerdilkan diri, karena semakin jelas memperlihatkan sempitnya wawasan ilmu dan pemahaman agama.

Jadi di era medsos ini, makin terlihat banyak bermunculan orang-orang Tolol dan Picik dalam beragama. Memang menyedihkan ketika mereka menunjukkan Kebodohannya sendiri, bahkan lama-lama makin menyebalkan dan memuakkan. Dengan mudahnya mereka "memvonis" keimanan yg tersembunyi di dalam batin dan hanya Allah saja yg tahu. Begitupun, dengan mudahnya mereka "berfatwa" tanpa dasar ilmu-ilmu tertentu yg menjadi landasan fatwa.

Jadi, jangan sampai baru memahami satu dua potongan puzzle, tetapi sudah merasa bisa merangkai dan menyimpulkan keseluruhan puzzle, padahal potongan puzzle nya masih tercerai berai, masih terkotak-kotak dan belum bisa terintegrasi.

Berbeda dengan seorang Mukmin, karena luasnya wawasan ilmu dan lebih memahami agama, maka ia akan bersikap WARA' (berhati-hati terhadap yg belum jelas hukumnya atau syubhat), apalagi kalau urusannya adalah Keimanan yg merupakan "pekerjaan" hati atau batin.

Masa masih belum paham bahwa  Rasulullah SAW pun hanya menghukumi sesuatu sesuai apa yg dhahir (nampak), karena hanya Allah yg mengetahui perkara batin (yg tersembunyi).

Dalam Majmu' al-Fatawa, Ibn Taimiyah mengatakan,

"Barangsiapa yg tidak memperhatikan perbedaan antara mengkafirkan secara umum dan ta’yin (vonis perorangan) niscaya dia akan jatuh dalam banyak ketimpangan, dia menyangka bahwa ucapan Salaf: 'Barangsiapa yg mengatakan seperti ini kafir' atau 'Barangsiapa yg melakukan ini maka kafir' mencakup semua orang yg mengatakannya tanpa dia renungi terlebih dahulu, sebab mengkafirkan itu memiliki syarat-syarat dan penghalang pada hukum perorangan, jadi mengkafirkan secara umum tidak mengharuskan mengkafirkan secara individu orang kecuali apabila terpenuhi persyaratannya dan hilang segala penghalangnya."

Semoga..
#ombad #tasawuf

20 June 2018

AKAL DALAM AGAMA

Dalam Islam itu ada dua Dalil, yaitu :

1. Dalil NAQLI (Naskh, Historis) : Naskah masa lalu, Aspek sejarah, tentunya yg sudah dilegalisasi para ahli sehingga: Implikatif (sesuai dengan rumusan perbaikan pada masyarakat), Implementatif (dapat diterapkan), serta Akuratif (rawi, sanad).

2. Dalil AQLI (Aktual), berfungsi sebagai rujukan Konstruktif sehingga bisa Efektif, karena ada metode di masa lalu yg tidak bisa efektif di masa kini, apakah terkait kemajuan jaman ataupun kondisi lingkungan. Semisal, zakat pakai beras ataupun qurban pakai kebo. Jadi selama Dalil Aqli tidak bertentangan dengan Naqli, maka bisa dijadikan dasar hukum.

Jadi, apakah AKAL itu perlu dalam beragama...? Ya iya, pasti perlu. Belajar Quran dan Hadist aja pasti butuh Akal.

Akal merupakan syarat dalam mempelajari semua ilmu. Ia juga syarat untuk menjadikan semua amalan itu baik dan sempurna, dan dengannya ilmu dan amal menjadi lengkap. Namun (untuk mencapai itu semua), akal bukanlah sesuatu yg dapat berdiri sendiri, tapi akal merupakan kemampuan dan kekuatan dalam diri seseorang, sebagaimana kemampuan melihat yg ada pada mata. Maka apabila akal itu terhubung dengan cahaya iman dan al-Qur’an, maka itu ibarat cahaya mata yg terhubung dengan cahaya matahari atau api.” (Ibn Taimiyah, Majmu' al-Fatawa)

Jadi, galilah makna yg tersirat dari ucapannya Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib kw. berikut ini:

"Agama adalah Akal. Tidak Beragama orang yang Tidak Berakal."

Itu makanya semua agama (samawi) punya 4 titik kesamaan, yaitu: Menjaga jiwa, Menjunjung akal, Melestarikan keturunan, dan Menjaga bahwa manusia adalah ciptaan Allah yg paling mulia.

Jadi tidak bisa kita menafikan salah satunya, baik Dalil Aqli apalagi Dalil Naqli. Jika ada yg menafikan salah satunya, ya berarti belum terintegrasi.

Dan di sinilah pentingnya Sanad Keilmuan.. :D

Semoga...
#ombad

30 April 2018

SUDAH BODOH, SOMBONG LAGI

Kebodohan pun bisa memunculkan Kesombongan, dan salah satu Kesombongannya adalah menyalahkan sesuatu yg belum diketahuinya. Orang bodoh yg sombong ini mirip orang miskin yg sombong. :D

Menurut Imam Ghazali ra., jenis ini adalah jenis manusia yg paling buruk. Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri, jenis manusia yg Tidak Tahu (tidak berilmu) dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu. Jenis manusia yg selalu merasa paling mengerti, selalu merasa paling tahu, selalu merasa paling memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa.

Dan repotnya, manusia jenis ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa lebih tahu atau merasa paling tahu.

Jadi menghadapi tipikal manusia seperti ini, ya biarkan saja. Karena orang yg ilmunya sedikit saja seringkali merasa lebih Pandai, makanya gak usah heran jika orang bodoh pun akan merasa jenius. :D

Jadi anggap wajar aja jika pada suatu ketika menemukan tipikal manusia seperti itu. Iya, memang suatu kewajaran, karena dalam setiap hal selalu ada pasangannya. Apalagi jika berhubungan dengan masalah ilmu yg lingkupnya tak terbatas, baik dari sisi Dzahir (nampak, jelas) maupun dari sisi Khafi (samar, tersembunyi). Hal ini pun diterangkan Ibn Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa, bahwa para ulama pun mengklasifikasikan syariat Islam menjadi dua, yaitu: Dzahir (nampak/jelas) dan Khafi (samar/tersembunyi).

Salahkah mereka..? Tidak sich, tidak salah.. :D..  walau bikin enek. Imam Abu Hanifah ra. pun mengatakan,

"Tidak ada udzur bagi orang yg jahil (bodoh, tidak tahu) dalam hal Ma’rifatullah (mengenal Allah). Karena mengenal Rabb serta mengesakan-Nya adalah kewajiban setiap hamba. Adapun dalam kewajiban-kewajiban (yg lain), maka orang yg bodoh/jahil atau belum sampai ilmu kepadanya dianggap belum tegak hujjah atasnya."


Semoga...
#ombad #tasawuf

01 March 2018

AZAS KEADILAN

Seorang teman (CC) menginbox sy...

CC : "OG, sy amati postingan-postingan di FB dari kelompok tertentu, termasuk juga ada yg berpendidikan tinggi/doktor, kok pemikirannya 'dangkal' sekali, kenapa mereka (muslim) selalu merasa dilecehkan, dianiaya, dizolimi..?"

OG : "Karena orientasinya masih Selera dan Ego, bukan objektivitas. Alasannya Ghirah, tapi tidak pada tempatnya. Terus, kalo ada yg selalu merasa dilecehkan, dianiaya atau dizolimi, mungkin ia kelupaan 'merasa tidak salah' padahal tanpa sadar ia sering mendzalimi diri sendiri dan orang lain.

Semua setara dalam aturan syariat, mau non ulama atau Ulama sekalipun kalau melakukan tindakan melawan hukum, ya salah, itu namanya 'mengkriminalisasi dirinya sendiri'.. bahasa agamanya, berbuat dzalim."

CC : "Kenapa mereka merasa diperlakukan tidak adil (perlakuan tebang pilih)..? Kenyataannya, menurut sy dan golongan minoritas lainnya, Islam justru sangat diistimewakan.."

OG : "Itu perasaan 'rendah diri' mereka aja. Merasa diperlakukan tidak adil, tapi di sisi yg lain pun mereka tidak adil kepada yg lain. Efek samping dari merasa sebagai mayoritas tapi banyak yg tertinggal dalam segala bidang kehidupan. Bukankah menyalahkan orang lain lebih mudah daripada ber-introspeksi dan memperbaiki diri..?"

CC : "Apakah Islam harus selalu 'di atas', harus selalu menang, harus selalu memimpin..? Teman-teman Muslim tidak boleh kalah..? Saudara-saudara umat Islam paling berhak tinggal di Indonesia..? Atau yg minoritas harus kalah, harus minggir..?"

OG : "Enggak gitu lah, dalam konteks bernegara, semua punya hak. Hanya kadang masih ada yg "sengaja" mencampur-aduk tidak pada tempatnya, politisasi ayat. Kelemahan di satu sisi (kualitas, manajerial, dsb) seringkali "ditutupi" dengan alasan "unsur agama". Padahal dalam Islam pun ada aturan bahwa segala sesuatu urusan harus diserahkan kepada ahlinya, kecuali ingin kerusakan (kebinasaan).

Yg mesti dipahami, asas Islam itu Keadilan, bukan Dzalim atas dasar 'majority rules'.

Itu makanya Ibn Taimiyah ra. mengatakan:

"Sesungguhnya manusia telah sepakat bahwa akibat (atau efek) sikap Dzalim adalah kebinasaan, dan akibat sikap Adil adalah kemuliaan. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Allah akan menolong negara yg Adil meski ia kafir, dan tidak akan menolong negara yg Dzalim, meski ia Mukmin."

Silahkan, ada masukan lain...?

Semoga....
#ombad #tasawuf

13 February 2018

PEMIKIRAN DANGKAL

Seorang teman (CC) menginbox sy...

CC : "OG, sy amati postingan di FB dari kelompok tertentu, termasuk juga ada yg berpendidikan tinggi/doktor, kok pemikirannya 'dangkal' sekali, kenapa mereka (muslim) selalu merasa dilecehkan, dianiaya, dizolimi..?"

OG : "Karena orientasinya masih Selera dan Ego, bukan objektivitas. Alasannya Ghirah, tapi tidak pada tempatnya. Terus, kalo ada yg selalu merasa dilecehkan, dianiaya atau dizolimi, mungkin ia kelupaan 'merasa tidak salah' padahal tanpa sadar ia sering mendzalimi diri sendiri dan orang lain.

Semua setara dalam aturan syariat, mau non ulama atau Ulama sekalipun kalau melakukan tindakan melawan hukum, ya salah, itu namanya 'mengkriminalisasi dirinya sendiri'.. bahasa agamanya, berbuat dzalim."

CC : "Kenapa mereka merasa diperlakukan tidak adil (perlakuan tebang pilih)..? Kenyataannya, menurut sy dan golongan minoritas lainnya, Islam justru sangat diistimewakan.."

OG : "Itu perasaan 'rendah diri' mereka aja. Merasa diperlakukan tidak adil, tapi di sisi lain pun mereka tidak adil kepada yg lain. Efek samping dari merasa sebagai mayoritas tapi banyak yg tertinggal dalam segala bidang kehidupan. Bukankah menyalahkan orang lain lebih mudah daripada ber-introspeksi dan memperbaiki diri..?"

CC : "Apakah Islam harus selalu 'di atas', harus selalu menang, harus selalu memimpin..? Teman-teman Muslim tidak boleh kalah..? Saudara-saudara umat Islam paling berhak tinggal di Indonesia..? Atau yg minoritas harus kalah, harus minggir..?"

OG : "Enggak gitu lah, dalam konteks bernegara, semua punya hak. Hanya kadang masih ada yg 'sengaja' mencampur-aduk sesuatu yg tidak pada tempatnya, semisal kasus politisasi ayat. Kelemahan di satu sisi (kualitas, manajerial, dsb) seringkali "ditutupi" dengan alasan "unsur agama". Padahal dalam Islam pun ada aturan bahwa segala sesuatu urusan harus diserahkan kepada ahlinya, kecuali ingin kerusakan (kebinasaan).

Yg mesti dipahami, asas Islam itu Keadilan, bukan Dzalim atas dasar 'majority rules'. Itu makanya Ibn Taimiyah ra. mengatakan:

"Sesungguhnya manusia telah sepakat bahwa akibat (atau efek) sikap Dzalim adalah kebinasaan, dan akibat sikap Adil adalah kemuliaan. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Allah akan menolong negara yg Adil meski ia kafir, dan tidak akan menolong negara yg Dzalim, meski ia mukmin."

Silahkan, ada masukan lain...?


Semoga....
#ombad

22 September 2017

TASAWUF SALAH...?

Kalau ilmu baru secuil, ya berlakulah seperti hamba Allah yg baik, yaitu pelajari ilmu yg tidak dikuasainya. Jangan asal sesat menyesatkan sesuatu yg tidak dipahaminya.. kan malu atuh sama ulat yg berada di kepompong.. :D

Masa mau kayak Ibn Taimiyah, dimana waktu mudanya banyak bikin tulisan/buku yg menyalah-nyalahkan Tasawuf, sampai akhirnya diujung umurnya baru paham, lalu Beliau pun ikut bertasawuf, jadi pengamal Tarekat Qadiriyah.. Masih kalah kan urusan keilmuan fiqh/syariat kalau dibanding Ibn Taimiyah...? :D

Atau keilmuannya mau dibandingkan dengan para Imam Madzhab..? Para Imam Madzhab pun adalah para Pengamal Tasawuf. Itu makanya mereka banyak berpendapat tentang Tasawuf, bahkan menulis juga buku-buku tentang Tasawuf dalam hubungannya dengan Fiqih. Dan perkataan para imam madzhab, diantaranya:

Orang yg mengamalkan Tasawuf tanpa mempelajari Fiqih, ia merusak imannya, sedangkan orang yg memahami Fiqih tanpa menjalankan Tasawuf ia merusak dirinya sendiri. Hanya orang yg MEMADUKAN KEDUANYA lah yg menemukan KEBENARAN --man tashawwafa wa lam yatafaqqah fa qad tazandaqa waman tafaqqaha wa lam yatashawwaf faqad tafassaqa wa man jama`a baina humâ fa qad tahaqqaqa--." (Imam Malik ra.)

Berusahalah engkau menjadi seorang yg mempelajari ilmu Fiqih --menjalani Syariat-- dan juga menjalani Tasawuf, dan janganlah engkau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya Demi Allah aku benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yg hanya mempelajari ilmu Fiqih --menjalani syariat-- tapi tidak mau menjalani Tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan taqwa. Sedangkan orang yg hanya menjalani Tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu Fiqih --menjalani Syariat--, maka bagaimana bisa dia menjadi Baik/Ihsan..?” (Imam Syafi’i ra.)

Btw, jadi inget cerita dari seorang teman..

Ada seekor KERA yg baru menemukan beberapa buah manggis yg sudah matang. Lalu si Kera mengambil buah manggis tersebut dan coba menggigitnya satu persatu. Ternyata semua buah manggis yg ia gigit rasanya pahit semua. Akhirnya si Kera berteriak-teriak memberitahu teman-temannya untuk tidak memakan buah manggis, dengan alasan bahwa buah tersebut pahit. Dan setiap kali kera menemukan buah manggis tidak ada yg mau mendekatinya, bahkan kera-kera itu selalu berkata pada teman-temannya,
"Jangan makan buah itu, karena selain hitam, buah itu pun pahit..!"

Masih banyak hal yg belum kita fahami.. Itu makanya seorang Musa as. yg Nabi sekalipun, harus belajar hal-hal lain ke Khidir as...

:D
Semoga....
#ombad #tasawuf