Showing posts with label Poligami. Show all posts
Showing posts with label Poligami. Show all posts

09 July 2019

POLIGAMI

ANTARA BENCI DAN INGIN.. 😂

Pertanyaan tentang poligami ini sering menghantui saya sejak umur 5 tahun, dan sering saya tanyakan ke Ibu.

Pertanyaan saya waktu itu, "Mak, kalo poligami boleh..?"
Dan Ibu cuma menjawab, "Dalam keluarga kita tidak ada yang berpoligami."

Dan waktu pun berjalan, sampai akhirnya saya pribadi berkeyakinan bahwa Poligami itu TIDAK BOLEH (khusus saya pribadi), meski banyak juga yang menyetujui poligami dengan bersandar atas nama dalil dan (katanya) Sunnah.

Ijtihad saya terkait hal ini ada tiga pertimbangan, yaitu :

1. Rasulullah SAW berpoligami setelah istrinya (Khadija rah.) meninggal.

2. Setelah istri tercintanya meninggal, banyak yang belum tahu bahwa Rasulullah berpoligami untuk menyelesaikan persoalan sosial waktu itu, dimana kebanyakan dari istri-istri Nabi adalah janda (tua) yang ditinggal mati syahid suaminya, beranak banyak lagi.

3. Ada Hadist ini :

Rasulullah SAW marah ketika mendengar kabar bahwa putrinya (Fatima rah.) akan dipoligami 'Ali bin Abi Thalib kw. Rasulullah pun langsung menuju masjid dan naik mimbar, lalu berseru,

"Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan 'Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan kecuali 'Ali bin Abi Thalib menceraikan Putriku, kupersilahkan mengawini putri mereka. Ketahuilah. Putriku itu bagian dariku, apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga." (Jami' al-Ushul, juz XII, 162, No. 9026)

Jadi keywords-nya kenapa (bagi saya) TIDAK BOLEH adalah :

- Mengganggu perasaan (istri).
- Menyakiti hati (istri).

Dan kedua hal ini selaras dengan esensi serta hasil dalam beragama, yaitu Kemanusiaan.

Nah.. ini mah buat saya pribadi, jadi jangan ditiru ataupun ikut-ikutan eaa.. 😂


Semoga..
#ombad #poligami

17 February 2018

EMPAT ISTRI

Ada seorang pria saudagar kaya raya yg mempunyai 4 istri. Seluruh istri sangat dia cintai, tapi yg ke-4 lah yg ia manjakan dengan harta dan kesenangan. Istrinya ini memang tercantik di antara ketiga istri lainnya.

Saudagar ini pun mencintai istrinya yg ke-3. Dia sangat bangga dengan sang istri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita cantik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu khawatir, jika istrinya nanti lari dengan pria lain.

Begitupun kepada istri ke-2. Si saudagar sangat menyukainya karena ia istri yg sabar dan penuh pengertian. Ketika dia mendapat masalah, ia selalu minta pertimbangan istri ke-2-nya ini, yg selalu menolong dan mendampinginya melewati masa-masa tersulit.

Dan istri pertama. Ia adalah pasangan yg sangat setia dan selalu membawa kebaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini yg merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisnis sang suami. Akan tetapi, sang pedagang kurang mencintainya meski istri pertama ini begitu sayang kepadanya.

Singkat cerita si saudagar jatuh sakit dan menyadari bahwa ajal makin dekat. Di tengah sakitnya yg parah, dia mencoba tentang semua keindahan yg diperolehnya dan berkata dalam hati, “Saat ini aku punya 4 istri. Namun akankah aku sendiri saat aku meninggal nanti. Betapa menyedihkan.”

Lalu saudagar itu memanggil semua istrinya dan bertanya pada istri yg ke-4, “Engkaulah yg paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan indah. Nah, sekarang aku akan mati. Maukah kamu mendampingi dan menemaniku..?”

Sang isteri terdiam….
“Tentu saja tidak..!” Jawab isteri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan-akan ada pisau terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Saudagar itu sedih lalu bertanya pada istri ke-3, “Aku pun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku dan menemani akhir hayatku..?”

“Hidup begitu indah di sini, Aku akan menikah lagi jika kau mati.” Jawab istrinya seakan tak peduli.

Bagai disambar petir di siang bolong, si saudagar sangat terpukul dengan jawaban tersebut. Badannya terasa demam.

Kemudian ia memanggil istri ke-2, “Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dan kau selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku memerlukan sekali bantuanmu. Kalau aku mati, maukah engkau mendampingiku..?”

“Maafkan aku kali ini aku tak dapat menolongmu. Aku hanya dapat menghantarmu hingga ke liang kubur. Nanti akan kubuatkan makam yg indah untukmu.” Jawab si isteri lembut.

Saudagar ini sangat putus asa. Dalam keadaan kecewa itu, tiba-tiba terdengar suara, “Aku akan tinggal bersamamu dan menemanimu kemana pun kau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu.”

Pria itu lalu menoleh ke samping, dan mendapati isteri pertamanya di sana. Ia tampak begitu kurus. Badannya seperti orang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja aku dapat merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kubiarkan engkau kurus seperti ini, istriku.”

**

Sayang sekali, ini bukan tentang Poligami.. :D

- Istri ke-4 adalah TUBUH kita. Seberapa banyak waktu dan biaya yg dikeluarkan untuk tubuh supaya tampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam suatu batas waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yg tersisa saat kita menghadap kepada-Nya.

- Istri ke-3, STATUS SOSIAL DAN KEKAYAAN. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yg lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yg pernah memilikinya. Sebesar apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan sebanyak apapun harta kita, semua itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejap ketika kita tiada.

- Istri ke-2, yakni KERABAT DAN TEMAN. Seberapa dekat hubungan kita dengan mereka, kita tak akan dapat terus bersama mereka. Hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita.

- Dan Istri Pertama adalah JIWA DAN AMAL SHALIH. Sebenarnya hanya jiwa dan amal shalih saja yg mampu untuk terus setia mendampingi ke mana pun kita melangkah. Hanya amal saja yg mampu menolong kita nanti di akhirat. 


Semoga...
#ombad #tasawuf

07 October 2017

SABUN POLIGAMI

Suatu ketika Simbah Kyai Hamid kedatangan tamu, kebetulan di waktu tersebut ada dua rombongan tamu, yg pertama adalah seorang lelaki dari kota Pasuruan yg datang sendirian dengan tujuan untuk meminta pendapat bagaiman kalau ia menikah lagi.

Sedangkan yg lain adalah rombongan dari luar kota dan kedatangan rombongan tersebut hanya untuk bersilaturrahim.

“Oh, sampean tah iku mau… tak kiro sopo. Sek yo sampean enteni diluk aku tak nemoni sing akeh disek, sak aken teko adoh.” Ujar kyai Hamid.
(Oh, kamu to iku… Saya kira siapa tadi, sebentar ya, saya menemui rombongan tamu dulu, kasihan datang dari jauh).

“Enggeh kyai”.

Akhirnya kyai Hamid pun menemui tamu rombongan tadi. Kyai Hamid terlihat sangat akrab sekali sewaktu mengobrol dengan para tamu yg datang dari jauh tersebut. Seakan-akan beliau sedang mengobrol dengan teman yg telah lama tak pernah bertemu. Sedangkan tamu yang datang sendirian itu menunggu kyai Hamid tepat di sebelah pintu.

Setelah sekitar 20 menit laki-laki itu menunggu, akhirnya rombongan tamu itu meminta undur diri dan kyai Hamid pun mengantarkan para rombongan tersebut hingga di depan gerbang pesantren. Setelah itu beliau langsung kembali ke rumah dan menemui lelaki itu.

“Sek yo aku tak nang mburi diluk entenono… sing sabar.” Ujar kyai Hamid.
(sebentar ya, saya mau ke belakang dulu… yg sabar ya)

Lelaki itu pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Akhinya tak lama kemudian kyai Hamid keluar dengan membawa sebungkus sabun mandi baru.

“Wes, sabun iki sampean gowo moleh gawien ados dino iki sampek entek, Mene sampean mbali’o mane yo..!”
(Sudah, sabun ini kamu bawa pulang, buat mandi hari ini sampai sabunnya habis. Besok kembali lagi..!). Kata kyai Hamid sembari menyodorkan sabun tersebut kepada lelaki itu.

“Enggeh, mator nuwon kyai… tapi…” (terimakasih kyai… tapi..) Jawab lelaki itu tercekat seakan mau meneruskan pembicaraan tapi gak jadi.

“Tapi opo…?! Wes moleho sek, sa’aken bojomu ngenteni neng omah, mene balik rene maneh yo.” Tegas kyai Hamid.
(tapi apa..?! Sudah pulang dulu ya, kasihan istrimu menunggu di rumah, besok kembali lagi ya)

Akhirnya lelaki itu pun pulang. Setibanya di rumah, lelaki itu langsung mandi menggunakan sabun yang dikasih oleh kyai Hamid.

Lelaki tersebut mandi sangat lama sekali. Ia menjalankan perintah kyai hamid agar menghabiskan sabun mandi itu.

Lama-kelamaan lelaki tersebut merasa badannya menggigil kedinginan dan tak kuat lagi, sedangkan sabun yang diberi oleh kyai Hamid itu juga tak kunjung habis ketika digosokkan di seluruh tubuhnya.

Keesokan harinya Lelaki itu kembali datang dengan membawa sabun yg diberi oleh kyai Hamid. Ketika sudah memasuki kawasan Pon-Pes Salafiyah, lelaki itu melihat kyai Hamid sedang berada diteras rumahnya.

Lelaki itu pun langsung menghampiri kyai Hamid.

“Lah, iki.. aku ngenteni sampean.. yok op owes entek sabune..?” Tanya kyai Hamid.
(lah, ini… saya tunggu kamu… bagaimana sabunnya sudah habis..?)

“Niki kyai… sepuntene dereng telas…” Jawab lelaki tersebut.
(Ini kyai.. Sabunnya… ma’af belum habis).

“Anggepen ae sabon iku mau bojomu, wong siji ae gak entek-entek, ngono kate kawin maneh.” Tegas kyai Hamid.
(sabun itu ibarat istrimu, satu saja tidak habis kenapa harus kawin lagi).

Ternyata lelaki tersebut sejak kemarin belum mengutarakan isi hatinya, tapi sekarang langsung dijawab dengan tegas oleh Kyai Hamid.

Semoga...

#ombad #hikmah